catatan-catatan kecil di sini tidak lebih dari percik pemikiran yang sempat tertuang ke dalam bentuk tulisan. kalaupun isinya tidak tertata baik ataupun tidak berkenan pada anda, demikianlah adanya kenyataan diri saya pada saat itu. setidak-tidaknya, ini semua adalah sebagian ungkapan kejujuran yang saya ingin berbagi dengan anda.
Jus segar dan enak sebagai sajian
bagi para peserta turnamen golf
di Damai Indah Golf, Bumi Serpong Damai
Seminggu menjelang pelaksanaan turnamen golf yang diselenggarakan oleh alumni
83 ITB, Renny Tamba, kawan panitia yang bertanggung jawab atas konsumsi
menyampaikan,
"Lof, kita perlu jus nih buat para golfer."
"Berapa banyak?"
"600 botol ukuran 200 ml."
"Sebentar ya, saya cari dulu."
Alih-alih membuka aplikasi toko daring (online), saya memilih
bersilancar di Facebook Group (FBG) AIGL mencari
hestek #ngelapakday dan kata kunci "jus". Entah kenapa saya
memprioritaskan membeli dari teman ketimbang toko 😊
Ketemulah posting lama Mbak Tantry Widiyanarti yang mempromosikan jus botolan
dari buah segar, tanpa pengawet, yang keuntungan dari penjualannya
disumbangkan bagi orang tak mampu. Hmm, sungguh menarik. Baiklah saya coba.
Langsung saya kontak Mbak Tantry. Ternyata produsennya adalah tetangga Mbak
Tantry yang beliau arahkan membuat jus ketika masa pandemi. Sayang sekali saat
ini tidak lagi berproduksi karena banyak pembeli yang pembayarannya macet 😔
"Kalau mau beli banyak kyknya bisa dikondisikan 😅", sambung Mbak Tantry
membuka peluang.
Ketika saya sampaikan kebutuhan 600 botol, maka terjadilah transaksi yang
ditindaklanjuti oleh kawan saya. Deal!
Di hari pelaksanaan turnamen pada tanggal 8 Oktober 2022 di Damai Indah Golf
BSD, itulah saat pertama saya menyicipi jus tersebut. Ada 4 varian yang kami
pesan: jambu, mangga, jeruk, strawberry. Ah, dicoba saja semua 😊
Jusnya kental dan sangat terasa buahnya, bukan seperti jus imitasi. Rasa
manisnya pun pas. Enak dan sungguh segar.
Di shelter tempat para pemain golf beristirahat sejenak, saya mencoba
menggali testimoni para usher, kawan-kawan panitia, maupun para pemain
golf mengenai jus ini. Semua bilang enak. Malah usher dan staf lapangan
golf menanyakan bagaimana cara memesan jus ini karena di label botol tidak
tercantum nomor kontak produsennya.
Siangnya, saat para pemain golf berkumpul untuk makan dan mengikuti acara,
terlihat masih banyak botol jus di tempat minuman. Tapi saya amati, banyak
pemain yang bolak-balik mengambil beberapa botol sekaligus untuk dibawa ke
mejanya.
Seorang kawan pemain golf mengatakan, "Saya tidak makan nasi nih. Sudah cukup
minum jus. Enak dan segar."
Di penghujung acara, hanya tersisa sekitar selusin botol jus yang kemudian
kami nikmati sambil berdiskusi. Dan 2 botol terakhir dibawa pulang oleh kawan
panitia. Habis ludes tandas!
Sempat ada pemain golf dari pihak sponsor yang sengaja mendatangi meja kami
hanya untuk menanyakan bagaimana mendapatkan jus itu. Tentu saja dengan senang
hati kami memberikan nomor telepon produsennya.
Mbak Tantry, tolong sampaikan pada tetangga yang membuat jus ini agar
mempertahankan kualitas produksinya sehingga tidak mengecewakan ekspektasi
mereka yang sudah mencicipi kenikmatannya kemarin. Siapa tahu berawal dari 600
botol kemarin bisa bergulir pesanan melimpah. Amin 🙏
Pada stiker label yang ditempel pada botol sebaiknya dicantumkan nomor kontak.
Sebenarnya sih sampai sekarang saya masih tak begitu paham makna dan batasan
jelas "once upon a time" dalam celeng ini. Apakah kejadian di masa
puluhan tahun lalu ataukah bisa juga yang terjadi beberapa menit yang lalu?
Apa pun itu, kisah berikut adalah "suatu momen dalam waktu" yang memberi
kesan dan pesan sangat dalam bagi saya. Namanya juga subjektif, ya bebaslah
mengartikannya 😁
Beberapa minggu belakangan ini terasa sekali kejenuhan kian kejam merangsek ke
seluruh aspek keseharian saya. Biasanya kondisi seperti ini bisa sedikit
dinetralkan dengan ngopi 🍵 [atau lainnya, seperti 🍻 🍷 🥃 😉] bersama kawan,
yang tentunya dalam situasi hangat disertai perbincangan menggembirakan hati
(bukan harus lucu melainkan yang membuat rasa dan pikiran menggeliat hidup).
Ya, tepat sekali, energi pemulihan kerap saya peroleh dari kebersamaan dengan
kawan-kawan.
1
Entah semesta mendengar keluh hati saya, tiba-tiba saja pada tanggal 9
September 2022 pukul 21:53 Bang Andrew Simbolon berkabar melalui WhatsApp
Group (WAG) bahwa dia akan berada di Bandung dari tanggal 15 sampai 17 nanti.
Walau sesama anak Mesin, selisih 15 angkatan tentunya mereduksi habis peluang
kami bertemu di kampus. Begitu pula dari sisi profesional maupun personal, tak
ada alasan yang mempertautkan relasi kami.
Semua ini semata-mata karena AIGL yang menjumpakan kami pertama kali di BSD,
23 Februari 2020, atas prakarsa Mas Eko Jatmiko Utomo. (Di sini juga pertama
kali saya berjumpa Evi Eleanora Oscar, Mesin 1999.)
Saya periksa agenda, ternyata tak ada acara khusus di 15 September. Maka, saya
pun menyanggupi untuk ke Bandung.
2
Tak dinyana, 4 hari kemudian di WAG Kelas 3B5 SMAN 3 Bandung muncul ajakan
berjumpa di Bandung sehubungan dengan mudiknya Dian Hadi dari Bristol,
Inggris.
Dian adalah salah satu dari sedikit murid perempuan di kelas kami saat itu.
Semenjak wisuda SMA, tak pernah saya berjumpa dengannya. Gilanya lagi, saat
saya menjadi Ketua Panitia Reuni 30 Tahun ITB Angkatan 1983, baru saya tahu
bahwa Dian adalah alumni Teknik Arsitektur '83 di ITB. Tepok jidat banget deh
atas kealpaan saya yang fatal ini 🤦♂️
3
Bertepatan saya ada keperluan terkait beberapa prinsip dasar pendidikan
tinggi, teringatlah pada Mas Ahmad Syamil Full, kawan sekelas di Mesin 83 dan
pendekar silat Perisai Diri (colek Mas Chandrasa Sedyaleksana) yang menjadi
Dekan di BINUS. Maka saya pun mengontak Mas Syamil pada tanggal 14 September
guna meminta waktu audiensi.
Ndilalah Mas Syamil berkabar bahwa dia sekarang bertugas di BINUS
Bandung. Permohonan saya disambut cukup antusias, bahkan diatur waktunya pas
jam makan siang.
Sebenarnya sudah sangat lama pula saya tak berjumpa dengannya. Semenjak lulus
ITB, Mas Syamil melanjutkan sekolah ke Amerika Serikat hingga Doktor dan
kemudian melanglang seantero Negeri Paman Sam sebagai Profesor pengajar di
berbagai universitas ternama.
4
Rabu sore saya ada jadwal bertemu dengan Mas Gembong Primajaya di Sekretariat
IA-ITB. Sehabis diskusi (sebagaimana lazimnya berlangsung akrab dan intens
dengan berbagai perspektif), Mas Gembong bilang bahwa besok pagi dia akan ke
Bandung.
Ketika saya katakan bahwa saya pun akan ke Bandung, serta merta Mas Gembong
mengajak barengan. Persis pula waktunya pagi hari sesuai rencana saya.
***
Tampak benar semesta demikian peduli. Jika bisa dibilang sebagai keajaiban,
mungkin ini salah satunya. Semua pihak seakan bersekongkol memberi kesempatan
untuk menuntaskan berbagai rencana pada hari yang sama.
Kamis pagi tanggal 15 September saya pun berangkat ke Bandung berdua Mas
Gembong. Tak sampai 2 jam perjalanan, kami tiba di rumahnya di Kota Baru
Parahyangan. (Berkendara dengannya menimbulkan sensasi ala
Fast and Furious 😁).
Mas Gembong mengajak saya sarapan dulu. Tetapi tak lama setelah kami turun
dari mobil, Ale, putera Mas Gembong berpamitan mau ke Bandung untuk kuliah.
Saya putuskan untuk ikut Ale saja agar bisa segera bertemu kawan-kawan SMA
yang menjadwalkan pertemuan jam 10 pagi. Walau agak sedikit lapar, urusan
sarapan bisa diaturlah nanti di Bandung ...
Sepanjang perjalanan, kami ngobrol santai.
Ale ternyata kuliah di Jurusan Material di Fakultas Teknik Mesin dan
Dirgantara (FTMD) ITB, sementara saya dan ayahnya adalah alumni Lab
Metalurgi. Sontak muncul pertautan rasa akrab walau usia terpaut cukup jauh.
Bisa jadi molekul logam dalam diri kami langsung bergetar dan
berinterferensi harmonis 😊
Barangkali itu pula sebabnya Ale tak sungkan menanyakan bagaimana kiprah
ayahnya selama kuliah. Hahahaha ... Ini situasi yang membuat saya kagok 🤣
Dengan singkat saya jawab bahwa ayahnya sama normalnya dengan kawan lain
pada zamannya, yakni bangor dan gaul selain tetap melaksanakan
kewajiban belajar 🤣 Saya bilang juga ada hal luar biasa pada diri ayahnya
yang ternyata sangat berguna di masa sekarang, yakni solidaritas tanpa
pamrih dan keluasan jejaring pertemanan tanpa batas. Ale tertawa-tawa
mendengar penuturan saya.
Ale menurunkan saya di kafe Hummingbird di Jalan Progo. Tepat berbarengan
dengan tibanya kawan-kawan lain, termasuk Dian. Langsung kami terlibat dalam
perbincangan seru. Apalagi kalau bukan nostalgia semasa SMA berikut
bunga-bunga kenakalan masa remaja 😁
Sekian puluh tahun tak jumpa mereka (kecuali dalam reuni besar yang sangat
jarang) tidak membuat kami kikuk. Namun kealpaan saya menjalin tali
silaturahmi tak menjadi pengurang keakraban. Malah suasana jadi seru karena
saling mengingatkan drama-drama di kelas dahulu. Orang Jawa bilang,
gayeng. Beruntung pula saya tak menjadi sasaran tembak sebagai
satu-satunya lelaki di antara para perempuan ...
Tak lama kemudian, Neng Nurul 'uyuy' Akriliyati bergabung. Uyuy adalah
sahabat Dian saat di Inggris. Tentu saja hal ini menjadi kejutan yang
menyenangkan bagi kawan-kawan karena kami berbeda 8 angkatan di SMA. Namun
hal itu sama sekali bukan hambatan dalam membangun suasana cair dan hangat.
Sekitar pukul 12.30 saya berpamitan untuk menemui Mas Syamil di BINUS.
Dengan menggunakan Go-Jek saya bisa tiba di kawasan Pasir Kaliki dengan
cepat.
Tak lama kemudian saya dan Mas Syamil sudah duduk menyantap sop dan sate
kambing sambil berbincang-bincang. Begitu banyak informasi yang
disampaikannya mengenai pernak-pernik perjalanan hidupnya sebagai tenaga
pendidik yang membuat saya cukup tercengang kagum. Malah akhirnya tujuan
awal saya menemuinya jadi tergusur karena lebih asyik menyimak penuturannya
(sesuai dengan sifat saya yang pendiam dan pemalu serta pendengar yang baik
namun pelupa) 🤣
Sekitar jam 15 kami pun berpisah. Saya bergegas menuju kafe Dakken di Jalan
Riau untuk memenuhi janji berjumpa dengan Bang Andrew. O ya, agar tidak
mengundang kecurigaan bahwa antara kami ada hubungan yang tak lazim,
pertemuan ini pun akan disaksikan oleh Neng Siesca Roselinda 😊
Bang Andrew dan Neng Siesca berkabar bahwa mereka baru bisa datang lebih
sore dari rencana. Tak masalah. Saya sedang dalam mood yang sangat
bagus. Energi saya cukup memadai karena baru di-charge
dari 2 perjumpaan yang menyenangkan.
Sekitar pukul 17 lewat, Bang Andrew tiba di TKP dengan wajah sangat segar
berseri-seri. Tampaknya semua urusan dan rapat mendadaknya siang tadi
berlangsung baik. Syukurlah ... 🙏
Kami pun langsung berbincang sambil mengudap. Lucu memang AIGL ini, semua
berlangsung lancar tanpa hambatan kesungkanan. Persis kawan lama saja (yang
tentunya tetap mengindahkan tata krama sewajarnya).
Tak berapa lama kemudian, Neng Siesca tiba. Makin seru jadinya. Namun tak
perlulah diuraikan di sini apa topik obrolan kami. Nanti tulisan yang sudah
panjang ini jadi semakin panjang.
Sekitar jam 21 kami terpaksa angkat kaki karena restoran mau tutup. Saya dan
Neng Siesca diantar oleh Bang Andrew ke pool CitiTrans di Dipati Ukur
karena Siesca mau mengirim paket.
Semula saya berencana mau langsung pulang ke Jakarta. Tetapi sore tadi
seorang kawan berusul untuk haha-hihi keesokan hari. Nanggung juga sudah di
Bandung, sekalian saja menginap supaya besok bisa dapat tambahan asupan
energi lagi.
Sehabis berpisah dengan Neng Siesca, saya pindai data di HP untuk mencari
kawan yang bisa diajak mengisi waktu sambil menantikan munculnya rasa
kantuk. Maka berjumpalah saya dengan kawan semasa SMA untuk bernostalgia
gembira sambil menikmati sajian malam yang berlimpah di seputaran Jalan
Dipati Ukur.
Sekitar pukul 3, kantuk mulai merongrong. Dengan menggunakan aplikasi di HP,
saya memesan hotel di kawasan Dago. (Drama tentang hotel ini saya lewatkan
saja karena perlu posting tersendiri 😁).
Tidur sekitar 4 jam sudahlah cukup. Jam 8 pagi lewat sedikit, saya sudah
siap jalan. Janji bertemu kawan di Bandung Trade Center Jalan Dr. Djundjunan
pun bisa terpenuhi.
Tanpa banyak cakap, kami pun berangkat ke kawasan Bandung Selatan. Tak saya
sangka bahwa daerah ini berkembang pesat dalam bidang pariwisata (bisa jadi
bukan pesat tapi karena saya sudah sangat lama tak melihat perkembangan di
sana). Akses yang bagus ditambah ketersediaan jalan tol, tempat kuliner yang
tersebar di mana-mana, dan tentunya objek wisata yang bagus serta punya
keunikan.
Dan yang cukup mengejutkan saya adalah adanya tempat penangkaran rusa. Tidak
pernah terpikir ada tempat seperti ini sehingga tak pernah berhasrat main ke
daerah ini. Rupanya Bandung Selatan tak kalah dibanding Bandung Utara
(Lembang dan sekitarnya). Sungguh mengagumkan. Hebat!
Pak Aep yang menjadi penjaga tempat penangkaran rusa bercerita bahwa
populasi rusa yang asalnya hanya 2 sampai 4 ekor, kini sudah menjadi
puluhan. Kalau tak salah 90-an, dengan jumlah betina lebih banyak. Artinya,
kian besar peluang meningkatnya jumlah rusa.
Pak Aep juga menyampaikan bahwa di kawasan situ masih ada macan kumbang dan
macan tutul. Wah, sebuah kabar yang menggembirakan bahwa spesies langka ini
masih belum punah.
Usai bermain dengan rusa yang jinak namun agak jahil, kami mampir sejenak di
Kafe Bahtera yang kerap disebut Pinisi. Sejauh pandang terlihat kabut turun
perlahan menyelimuti hutan dan jalan. Begitu indah sekaligus mistis. Terasa
dingin. Tapi perbincangan kami sedemikian hangat ditingkah kopi, wedang
ronde, dan pisang bakar keju.
Sekitar jam 16 saya diantar ke pangkalan travel di Pasteur untuk
kembali ke Jakarta. Terasa sekali kantung energi saya melimpah sehingga
sanggup melunturkan tumpukan kejenuhan yang mendera belakangan ini.
***
Amat nyata terbukti bahwa pertemanan polos tanpa agenda tersembunyi akan
sedemikian kuat mendukung ketahanan mental. Begitu pula kehendak yang kuat
dibalut kepasrahan, akan merintis jalan bagi semesta untuk turut campur.
Sungguh, saya sangat bersyukur memiliki kawan-kawan seperti ini. Mengalir
saja seturut hati. Tanpa mereka sadari, 2 hari di Bandung merupakan momen
yang sangat berarti bagi saya. Menjadi proses penyembuhan yang luar biasa
ampuhnya. Istilah zaman now, healing.
To all of you, my dear friends, I can only say thank you and I love you 💕
#aiglOnceUponATime
📌 Minggu, 2 menit menjelang berakhirnya tanggal 18 September 2022 🌐
Tak sekejap pun diangkatnya wajah untuk menatapku yang duduk tak sampai 1
meter di depannya meski beberapa kali kulambaikan tangan sebagai isyarat
memohon perhatian. Matanya tanpa jeda tertuju pada layar laptop di hadapannya
yang tampak sedemikian penting tinimbang keberadaanku.
Masih sanggup untuk kutahankan
Meski telah kau lumatkan hati ini
Kau sayat luka baru di atas luka lama
Coba bayangkan betapa sakitnya
Nyaris seperempat hari penuh aku terhenyak laksana pengidap kusta atau mungkin
seonggok nista yang tak layak dipandang sebagai manusia. Perbincangan
pendek-pendek yang terasa amat dipaksakan pun hanya meruapkan dalih keengganan
menyimak, konon pula menjelaskan. Belum pernah sebelumnya dalam hidup kualami
penihilan setelak ini. Hampa mutlak. Kehilangan segala.
Hanya Tuhanlah yang tahu pasti
Apa gerangan yang bakal terjadi lagi
Begitu buruk telah kau perlakukan aku
Ibu menangislah demi anakmu
Bertimbun kisah yang ingin kututurkan gamblang. Tentang ikhtiar dan kegagalan
yang mendera belakangan ini, yang memantik anggapannya bahwa aku berubah. Tak
diketahuinya liku petaka yang meluluh lantakkan sebentuk mimpi di mana dirinya
tertahbis sebagai episentrum ruang benderang setelah kukibas ragam janji dan
pesona yang kutengarai bisa menggerus arti hadirnya.
Sementara aku tengah bangganya
Mampu tetap setia meski banyak godaan
Begitu tulusnya kubuka tanganku
Langit mendung gelap malam untukku
Genap satu purnama aku dihempas ke nadir ngarai gulita. Tak kusua secercah pun
petunjuk untuk memahami amarahnya bahwa aku tak lagi seperti yang dulu, yang
tak pernah palingkan pandang darinya, sehingga dibulatkannya tekad hengkang
membawa luka menganga tanpa menyisakan peluang bagiku mengurai kebuntuan yang
dirangkainya.
Ternyata mengagungkan cinta
Harus ditebus dengan duka lara
Tetapi akan tetap kuhayati
Hikmah sakit hati ini
Telah sempurnakan kekejamanmu
Setiap kata yang kuutarakan senantiasa ditepis ujar menggentarkan, "Tidak
perlu dibahas lagi!". Membuatku gagap bagai seorang pandir minim kosa kata.
Serta-merta kusadari tak guna berupaya menata ulang ruang yang telanjur retak.
Dan sejurus kemudian aku sudah tercenung di tepi jalan dengan terawang kosong.
Petir menyambar hujan pun turun
Di tengah jalan sempat aku merenung
Masih adakah cinta yang disebutkan cinta
Bila kasih sayang kehilangan makna
Kendati demikian, sebentuk rasaku padanya, yang kubopong cermat sejak tengah
malam tadi, kukuh bergeming. Tak satu serpih pun kikis walau kini berlumur
jelaga dan sayatan teramat perih. Kepasrahan menerima segala risiko telah
bangkitkan keteguhan, "Akan kurawat ruang benderang di relung hatiku walau
kini kosong tanpa dirinya bertahta di mahligainya." Entah satu masa nanti
tatkala kearifan ataupun nestapa meraja secara paripurna.
Ternyata mengagungkan cinta
Harus ditebus dengan duka lara
Tetapi akan tetap kuhayati
Hikmah sakit hati ini
Telah sempurnakan kekejamanmu
Sekarang aku hanya ingin pulang ke titik perdana di mana dapat kuresapi
segenap nada subtil perbincangan selewat tengah malam, tempat bayangnya
melintasi kenang dalam hening setajam belati.
Dahulu sempat populer suatu proses kreatif yang dinamai "musikalisasi puisi"
dengan Ebiet G. Ade sebagai salah satu tokohnya. Di sini saya coba terapkan
pembalikannya menjadi "prosaisasi lagu" 😄
Usai donor darah, mampir sejenak ke St*rb*cks untuk ngopi. Baru kali ini
petugas di bagian pemesanan bisa menangkap jelas nama yang saya sebutkan tanpa
harus mengulang. Padahal saya pakai masker. Mungkin nama saya memang pasaran,
sehingga tidak salah tulis 😄
Bang Toha eh Bang Togap Siagian keknya perlu ganti nama deh ... 😁
Terpikir mau memesan kopi ala Bu Nenden's Special tapi khawatir mereka bingung
meraciknya. Ya sudah, apa adanya sajalah sesuai yang tertera dalam menu.
"Berangkaaaat," menyeruak teks di WhatsApp. Tertera nama Siesca Roselinda dan
angka 05:12 pada tanggal 29 Agustus 2021.
[ ALOF :>>
Siang ini saya menunaikan janji kencan segitiga dengan Neng Siesca yang datang
dari Bandung karena ada urusan ke Jakarta serta dengan Ito Lucianna Tobing
yang terkena jadwal piket ngantor setengah hari. Cilandak Town Square alias
Citos disepakati secara aklamasi sebagai
rendezvous selewat tengah hari.
Sekitar jam 13 saya masuk area mal terlaris di kawasan Jakarta Selatan setelah
hampir gagal memindai QR code PeduliLindungi.id.
Nyaris berbarengan, Ito Luci tiba. Setelah berbasa-basi sejenak, kami
berkeliling mencari tempat paling nyaman untuk makan dan ngobrol (dan tentunya
harus aman karena beberapa topik bahasan tergolong rahasia kelas A1 😜).
Akhirnya pilihan jatuh pada resto Sate Senayan di lantai 2 yang agak memencil.
Ini adalah pertemuan ketiga kami. Pertama, saat kopdar perdana AIGL di Janji
Jiwa (Cibubur, 21 September 2019). Saat itu saya belum berani bertegur sapa
dengannya. Maklumlah, saya kan pemalu dan pendiam, sedangkan Ito Luci sedang
moncer reputasinya sebagai selebritas papan atas AIGL.
Pertemuan kedua, ketika dijamu makan siang di rumah Mbak Jane dan Mas Gapit
(Alam Sutra, 16 Agustus 2020), yang juga dihebohkan oleh rombongan Lae Ecko,
Bang Nelson, Ito Mei, serta Mbak Arik, di bawah asuhan Mamak Lindes.
Pembawaan Ito Luci yang supel membuat saya nyaman berbincang tanpa repot
menata kata. Apalagi dia tipe blak-blakan sehingga kami kian tak sungkan
mengulas rinci berbagai hal, mulai dari dinamika yang terpapar di AIGL sampai
pernak-pernik kehidupan yang menyentuh ruang privat.
[ LUCI :>>
Bang alof nih kalau nanya gak pakai tedeng aling-aling banget sih? Main tembak
aja kayak sedang interogasi maling jemuran. Yang ditanyain sih emang wajar
kalau antara kawan akrab. Lha, kita kan baru kenal dan baru sekarang ngobrol
dekat. Tapi emang sih kayak sudah akrab.
Mudah-mudahan aja dia gak ember. Ngakunya sih lupaan. Sekarang diceritain,
besok juga sudah gak ingat. Ya udah, anggap aman aja deh 🤲
[ ALOF :>>
Kurang-lebih 15 menit baku tukar cerita, Neng Siesca pun muncul. Inilah
perjumpaan pertama kami dengannya.
Ternyata bawaannya 11-12 dengan Ito Luci. Meriah, ceria, dan penuh canda.
Keseruan ngobrol pun meningkat kian hangat. Tak sampai bermenit-menit, kami
sudah lancar berhaha-hihi membahas berbagai topik yang sedang
trend maupun yang sudah basi tapi bisa didaur ulang 😊
Sebagai anak Mesin/FTI 83 yang terkenal pemalu dan pendiam, amatlah mustahil
membayangkan bisa berkarib dengan Ito Luci (Arsitektur/FTSP 92) apalagi Neng
Siesca (Kimia/FMIPA 97). Telak berbeda jurusan dan fakultas, serta lumayan
jauh selisih angkatannya (tak perlu dipertegas bahwa hal ini berkorelasi
langsung dengan usia 😝).
Terhadap Ito Luci terpaut nyaris 1 dekade, sedangkan dengan Neng Siesca hampir
2 windu. Artinya, saat saya sudah pegang KTP untuk nonton film dewasa, Ito
Luci sedang seru-serunya main congklak dan Neng Siesca masih rewel bawel
sebagai batita 🤣
Namun, nyatanya, komunikasi meluncur mulus. Kami bisa ketawa-ketiwi, mikir
serius maupun bengong bersama tanpa ragu. Asalkan bukan soal drakor atau grup
BTS, saya masih bisa nimbrung.
Patut saya menjura takzim atas kesaktian AIGL yang dengan sekali kibas mampu
meluruhkan berbagai sekat dan tingkat sehingga keakraban para anggotanya
sangat mudah terjalin walau belum pernah bertemu sebelumnya. Salut!
[ LUCI :>>
Unik juga konektivitas ala AIGL. Gak pernah ketemu di kampus Ganesha saat
kuliah tapi tetap aja ada bahan yang bikin obrolan nyambung.
[ ALOF :>>
Sambil menyantap makanan, saya ceritakan "gangguan" yang saya alami selama
menyepi sendiri di sebuah rumah besar yang kosong dalam rangka
berkonsentrasi menyunting buku. Serta-merta topik pun beralih ke kawasan
mistis yang mencekam.
[ SIESCA :>>
Menurut sense gue sih memang ada yang ganggu Bang alof. Apalagi dia
kerjanya sering malam banget sampai pagi. Dan yang di-edit
adalah buku tentang eksorsis alias pengusiran setan.
Tapi ya gak sampai gimana-gimana juga sih. Paling banter denger suara
gedebak-gedebuk di loteng atau suara air ngucur di belakang tempat duduknya.
Lebih seru pengalaman gue dong berurusan dengan tokoh sakti Borneo 🙏
[ LUCI :>>
Idih, sedang gak mood banget deh bahas horor. Mending gue alihkan ke
soal lain aja.
"Nih ada banana cake buat Bang alof dan Neng Siesca. Bikinan Abel,
anak gue. Enak banget lho."
Boleh dong sekali-sekali promosi hasil karya anak. Doain ya bisnisnya
berkembang karena passion-nya memang di situ.
[ SIESCA :>>
Waduh, gak kerasa udah hampir jam 16. Kudu balik ke Bandung euy supaya gak
kemalaman sampai rumah. Kasihan Mimil ditinggal seharian. Gue mau pesan
travel dulu ya. Duh, padahal masih asyik pisan ngobrolnya.
[ ALOF :>>
Perjumpaan yang semula dicadangkan hanya 2 sampai 3 jam terasa amat cekak.
Meski baru pertama tapi serasa reuni antar sahabat lama yang tahunan pisah.
Masih banyak yang antre ingin dicurahkan.
Mungkin sedang dihinggapi aura baik Malaikat Kanan yang murah hati, saya pun
menoleh pada Ito Luci sambil nyeletuk tanpa mikir, "Apa kita ke Bandung
aja?"
[ LUCI :>>
Weits ... Tantangan Bang alof kayaknya seru juga. Sering banget kan acara
yang pakai plan malah gak jadi. Mendingan spontan eksekusi aja dah.
Langsung gue nyahut, "Ayo! Siapa takut?"
Lagian hari ini gue sedang hepi karena tugas ngedandanin kantor sudah
rampung dengan mengerahkan para staf.
[ ALOF :>>
Akhirnya kami pun sepakat mengantar Neng Siesca pulang ke Bandung. Walau
hati kecil agak menyesal juga sih melempar ide ini karena pulangnya pasti
sangat telat. Maklumlah, Mama bilang anak baik gak boleh pulang kemalaman,
nanti digigit nyamuk. Tapi telanjur ajukan penawaran, pantang ditarik balik.
Di kisaran jam 18 kami hengkang dari Citos. Berhubung begadang malam
sebelumnya, saya minta izin tidur sekitar 15 menit di jok belakang. Jadilah
Ito Luci yang mengemudi.
[ LUCI :>>
Bang alof payah ah ... Masak keluar dari Citos dia salah kasih arahan.
Bukannya ke Bandung, eh malah menuju Depok. Kali emang ngantuk banget dia,
jadi rada kusut memorinya. Lah, gue kan warga Bekesyong, mana hapal jalan di
Jaksel.
Terpaksa muter dah. Dan setelah yakin berada di jalan yang benar menuju
Cipularang, Bang alof langsung bobok di jok belakang. Untung aja gak pakai
ngorok kayak Bang Toni P Sianipar di lobby hotel di DC.
[ SIESCA :>>
Bisa-bisanya gue punya temen-temen rada sableng gini ... Baru pertama
ketemu, main nekad nganter balik ke Bandung. Gue sih seneng aja ditemenin.
Daripada gue dihipnotis sama penumpang lain di
travel terus diculik. Kasihan Mimil atuh. Iya, kan?
[ ALOF :>>
Niat merem beberapa menit ternyata gagal total karena saya tak kuasa
mengabaikan obrolan seru kedua perempuan yang duduk di depan. Diam-diam saya
simak dan resapkan walau sadar sekali bahwa besok pun sudah lupa apa yang
mereka bahas.
Setelah singgah sejenak di rest area terdekat, giliran saya mengambil
alih kemudi. Sepanjang jalan, proses tukar menukar informasi dan analisis
terus berlangsung. Dan memang menakjubkan rupanya warna-warni kehidupan ini
🤣
Puji Tuhan! Haleluya! Perjalanan santai berlangsung amat lancar. Dalam tempo
kurang dari 3 jam, roda mobil sudah menjejak kota Bandung.
"Mau ke mana nih kita? Lapar lagi euy."
[ SIESCA :>>
Iya juga ya, kerasa lapar. Kayaknya kalori terkuras deras akibat kegairahan
berdiskusi tak putus selama beberapa jam. Mana Bandung sedang dingin pula.
Enak nih makan yang hangat-hangat.
"Gimana kalau ke sate Hadori?"
Gak pakai banyak cingcong, semua setuju.
Tapi ternyata sate Hadori tutup karena dagangannya sudah ludes. Untung aja
di sebelahnya ada sate Sineureut yang kata orang malah lebih enak. Kami pun
melipir ke situ.
[ LUCI :>>
Emang enak nih satenya. Tapi ogah nambah. Malu euy ...
Selesai makan, lanjut deh kita nganter Neng Siesca ke rumahnya.
Mari nikmati sejuk Bandung di malam hari, serasa bernostalgia saat kuliah
dulu. Tentu saja sambil melanjutkan obrolan kelas A1.
Bang alof nyetirnya selow amat. Kayaknya kekenyangan. Mudah-mudahan aja dia
gak ngantuk. Mungkin perlu dikasih asupan kopi.
[ SIESCA :>>
Lucu deh jadinya. Kan dari Bandung gue bawain kue Soes Merdeka buat mereka.
Eh sekarang malah ikutan balik tuh kuenya ke Bandung 😁
Anyway, thanks berat ya, friends. Kalian baik banget mau repot
nganter gue pulkam. Bahagia rasanya hari ini.
[ LUCI :>>
Unik. Baru juga kenal sama Neng Siesca tapi serasa udah sohib lama, kayak
adik sendiri. Gak tega ngelepas dia balik sendirian. Ada untungnya juga Bang
alof mau jadi supir kelas AKAP.
Such a wonderful day ...
[ ALOF :>>
Sehabis mengantar Neng Siesca, kami langsung putar arah kembali ke Jakarta.
Nonstop tanpa mampir. Perjalanan juga selancar berangkat tadi. Dan sepanjang
jalan ada saja bahan obrolan yang manjur untuk mengusir kantuk dan rasa
sepi. Dan akhirnya kami tiba di Jakarta sekitar jam 1 dini hari.
Selamat ulang tahun yang pertama.
Semoga selalu sehat, bahagia, dan penuh cinta 🙏
Pernah tayang film berjudul Vantage Point tentang penembakan terhadap
Presiden Amerika Serikat yang ditinjau dari sudut pandang beberapa saksi.
Cara bercerita seperti ini disebut Rashomon Effect, karena
pertamakali diterapkan oleh sutradara kreatif legendaris Akira Kurosawa
dalam film Rashomon.
Walau kisah fiksi ini amat jauh kelasnya dibanding kedua film di atas,
bolehlah saya contek modusnya dengan sedikit modifikasi. Sila menikmati
sebisanya.
ini baru preambul yang akan disambung jika ada mood 😁
Menjadi pengayom, pelindung, pelayan, dan penegak hukum bagi masyarakat
bukanlah pekerjaan mudah. Tak jarang malah terasa sebagai beban yang amat
berat. Kalau gak percaya, coba saja tanya pada POLRI yang menurut ceritanya
adalah institusi yang mengemban tupoksi tersebut 😊
26 Oktober 2013
9 Maret 2016
Setelah menerima estafet dari Kal El alias Clark Kent di tahun 2013
untuk mengamankan acara Pulang Kampung Ikatan Alumni Mesin (IAM) di
Aula Barat ITB dan terus berlanjut secara intens hingga terdampar di menara
doyong Pisa tahun 2016, akhirnya saya putuskan berhenti.
Capek kali pun keluyuran ke sana ke mari padahal saya paling hobi rebahan.
Enough is enough!
Dani El 7 Juli 2022
Beruntung ada seorang anak muda dari Jurusan Teknik Mesin ITB yang ternyata
punya passion yang sama. Apalagi dia ternyata amat lincah dan
enjoy lelarian ke segala penjuru. Maka logo keramat pun diemban oleh
Dani El alias Daniel Agung yang dari segala aspek tentunya lebih pas
sebagai Superman 👍
Saya yakin tak seorang pun bisa membantah fakta ini walau tidak bisa
dibuktikan CCTV.
BTW, siapa lagi yang punya kaos dengan logo S legendaris ini?
Gawai Blackberry Bold (BB) seri 9900 Dakota yang saya miliki ini senantiasa
menemani sejak rilis di Indonesia pada penghujung tahun 2011 dengan fenomena
antrean pembeli. Walau beralih ke iPhone ataupun Android, saya tetap
mengantungi mahakarya dari Canada (yang sayangnya gagal mempertahankan tahta
di kerajaan ponsel cerdas). Minimal, benda ini bisa saya fungsikan sebagai
alarm wekker, pencatat waktu, ataupun kalender 😁
Gara-gara fungsi istimewanya ini, dia mendapat gelar jam BB dari
kalangan kawan-kawan Komunitas Musik ITB (KMI).
Apa hubungannya dengan musik?
Karena BB ini kerap menjadi alat bantu penghasil bukti dokumentasi betapa
rajinnya kami berlatih musik dalam band Dark of Musicology (band ITB 83
non-festival alias untuk bergembira dan meluapkan ekspresi) hingga lewat
tengah malam bahkan subuh (tradisi bulan puasa yang kami namai
sahur on the rock 🎵🎹🎤😎).
11 Juni 2017
Tepat jam 00:00 WIB tanggal 1 Juni 2018
Kini BB kebanggaan yang setia tersebut sudah pensiun karena perangkat lunaknya
error sedangkan saya sudah tak bersemangat melakukan
install ulang.
Apakah anda pernah memiliki nasib sebagai salah satu pengguna BB?
4 Juni 2019
13 Agustus 2022 setelah pensiun
Saya baru sadar, hanya 1 foto (terakhir) yang tidak diambil pada bulan Juni 😲
Suatu masa, ada sepasang suami istri di suatu desa di Pulau Bali yang belum
dikaruniai anak setelah bertahun-tahun menikah. Setiap hari mereka berdoa,
hingga akhirnya sang istri mengandung dan melahirkan seorang bayi laki-laki.
Bayi itu bertumbuh sangat cepat dengan nafsu makan luar biasa. Semakin hari ia
semakin besar hingga tubuhnya melebihi orang dewasa. Orang-orang memanggilnya
Kebo Iwa yang berarti “paman kerbau.”
Nafsu makan Kebo Iwa membuat kedua orang tuanya kewalahan. Mereka terpaksa
meminta bantuan warga desa sehingga kebutuhan pangan Kebo Iwa turut ditanggung
seluruh penduduk.
Kebo Iwa juga terkenal pemarah. Jika keinginannya tak terpenuhi, dia akan
merusak. Menghancurkan rumah warga, bahkan tak segan merusak pura. Tentu saja
hal ini amat meresahkan.
Meski begitu, karena tenaganya besar, Kebo Iwa kerap dimintai pertolongan
untuk mengangkut batu, meratakan tanah, memindahkan bangunan, membendung
sungai, menggali sumur, dsb. Semua dikerjakan dengan imbalan makanan
berlimpah.
Ketika musim kering tiba, warga desa mengkhawatirkan cadangan pangan mereka.
Bagaimana memenuhi kebutuhan Kebo Iwa sedangkan persediaan terbatas?
Betapa takut mereka membayangkan amarah Kebo Iwa. Mereka berpikir keras hingga
akhirnya menemukan siasat menyingkirkan Kebo Iwa.
Suatu hari, warga menemui Kebo Iwa dan mengeluhkan banyaknya rumah yang rusak
akibat amukannya. Kebo Iwa berdalih bahwa itu adalah kesalahan mereka yang
tidak memberinya cukup makanan.
Warga beralasan mereka gagal panen akibat kurangnya air. Mereka berjanji akan
menyediakan makanan berlimpah jika Kebo Iwa membuatkan sumur untuk mengairi
sawah dan lahan pertanian.
Kebo Iwa pun setuju. Dia membangun kembali rumah-rumah yang rusak lalu
menggali sumur di tempat yang sudah ditentukan. Pada saat bersamaan, warga
mengumpulkan batu-batu kapur di sekitar tempat galian.
Kebo Iwa bertanya, “Untuk apa batu-batu kapur besar itu?” Mereka menjawab,
batu-batu itu disiapkan untuk rumah Kebo Iwa.
Ia pun semakin semangat menggali hingga air mulai memancar. Kebo Iwa mengira
pekerjaannya sudah selesai, namun Kepala desa mengatakan sumur masih belum
mencukupi sebagai sumber air satu desa. Maka Kebo Iwa terus menggali sumur
semakin besar dan dalam.
Kebo Iwa akhirnya kelelahan. Dia pun beristirahat dan langsung menyantap habis
makanan yang disiapkan warga. Kekenyangan, Kebo Iwa sangat mengantuk dan
tertidur pulas dalam lubang galiannya.
Inilah saat yang ditunggu-tunggu. Kepala desa memerintahkan warga untuk
melempar batu-batu kapur ke dalam sumur. Kebo Iwa sontak terbangun dan sangat
terkejut. Namun sudah terlambat. Rasa kenyang ditambah air dan bebatuan yang
memenuhi lubang galian membuatnya tidak sanggup keluar untuk menyelamatkan
diri. Dia akhirnya terkubur dalam sumur galiannya sendiri.
Celakanya, air sumur terus meluap membanjiri desa dan area sekitar. Akibatnya,
warga terburu-buru mengungsi ke tempat yang lebih tinggi tanpa dapat
menyelamatkan banyak barang. Mereka kehilangan harta benda, sawah, ladang,
ternak, dan rumah.
Beberapa desa yang tenggelam itu membentuk sebuah danau besar yang kini
dikenal sebagai Danau Batur. Sedangkan timbunan tanah hasil galian Kebo Iwa
membentuk gunung yang dinamai Gunung Batur.
Moral Cerita
Sifat serakah, egois, tamak, serta hanya memikirkan kepentingan pribadi
akhirnya akan merugikan diri sendiri dan sekitar. Meski hebat dan kuat
sebagai individu, jika tidak memiliki rasa kasih, maka lingkungan dan sesama
pun tidak akan menerima. Dengan kelebihan maupun kekurangan, harus tetap
rendah hati dalam memberi maupun menerima bantuan sesama.
Tiga tahun usia komunitas Alumni ITB Garis Lucu (AIGL) di tahun 2022. Kendati
masih teramat muda menurut jangka historis, namun menyediakan keleluasaan
tempo yang lumayan cukup bagi para anggotanya untuk berdialektika membentuk
jati diri sebagai keluarga dalam sebuah rumah besar yang nyaman bagi semua.
Sebagaimana lazimnya sebuah keluarga, maka kebersamaan merupakan tulang
punggung eksistensinya. Kekurangan seseorang tak menjadi alasan untuk
meninggalkan. Kemelut yang dialami seseorang bukanlah faktor pembenar untuk
mengabaikan. Demikian pula kelebihan dan keberuntungan tak lantas memberi hak
bermegah diri merasa lebih berderajat.
Ada banyak cara yang bisa dan biasa dilakukan anggota AIGL untuk saling
menopang, mendorong, menarik, mengangkat, bahkan menggendong sesamanya. Salah
satunya adalah melalui media bernyanyi yang tidak mensyaratkan suara semerdu
buluh perindu. Yang penting, suaranya bisa ditarik dan jangan ancur-ancur kali
lah 🤣
Beberapa sayembara (dikenal sebagai "celeng", dari kata challenge)
pernah diselenggarakan dengan cara bernyanyi. Dan tentunya adab AIGL tidak
menjadikan kualitas suara sebagai kriteria dominan. Keberanian tampil jujur
dan berbeda juga diperhitungkan dan amat layak diapresiasi. Mau norak, konyol,
bodor, sedih, bahkan horor pun monggo.
Di sisi seriusnya, AIGL sudah memproduksi beberapa klip video yang berpuncak
pada perayaan Hari Pahlawan 10 November 2020 lalu. Video kolosal yang
melibatkan lebih dari 100 orang alumni ITB ini sekaligus sebagai tanda
sukacita perayaan
100 Tahun Pendidikan Tinggi Teknik di Indonesia yang direpresentasikan
oleh Institut Teknologi Bandung [1920].
Sila tengok videonya yang tak kalah profesional di:
Di ulang tahun ketiga AIGL tahun 2022 ini, Papa Jenggo Radjawali dan puteri
berbakatnya, Lula, berkenan mempersembahkan lagu kreasi mereka yang berjudul
Yakinlah Kawan. Lagunya sangat enak didengar, mudah dinyanyikan, dengan
lirik bersahaja namun sangat pas bagi siapa saja.
Lagu ini secara jitu menyasar suasana kebatinan yang khas AIGL. Tak heran jika
Ketua Umum IA-ITB, Mas Gembong Primadjaja, pun tak sungkan turut menggelorakan
semangat ini bersama AIGL Chapter Bandung 👍✊
Maréndé ma hita. Let's sing! Mari nyanyikan bersama 🎶
Yakinlah, Kawan
(Jingle AIGL)
Hidup ini hanya sekejap.
Tak terasa waktu berlalu, kita semakin tua.
Mari pilih jalan yang bahagia.
Melangkah dengan senyuman, tertawakan dunia.
[Bridge]
Bahagia itu sederhana.
Bukan tentang harta dan martabat.
Untuk apa wajahmu rupawan jika hatimu berawan?
[Reff]
Yakinlah, Kawan, langit akan terang terkena sinarmu.
Yakinlah, Kawan, malam akan hangat berkat hadirmu.
Yakinlah, Kawan, berbagi cerita luaskan hatimu.
Yakinlah, Kawan, hari esok akan indah bersamamu.
Kejenuhan mengikuti perdebatan yang kerap tak berujung dan tak produktif
(bahkan ada yang menyebabkan pertengkaran, terutama yang terkait politik) di
berbagai grup media sosial melahirkan kesepakatan membentuk ruang baru yang
menawarkan atmosfer persahabatan, kegembiraan, kesahajaan, apa adanya, boleh
sedikit ngaco asalkan tak melahirkan hoax dan debat kusir 🤣 Intinya,
sebuah tempat di mana semua orang dihargai selaku manusia dan kawan
seperjalanan terlepas dari berbagai atribut yang disandangnya.
Maka, pada tanggal 7 Juli 2019 berdirilah sebuah grup baru di Facebook
yang bernama
Alumni ITB Garis Lucu
alias AIGL.
Dengan adanya ruang baru ini, diharapkan para anggota bebas mengekspresikan
jati dirinya tanpa tekanan untuk tampil bergaya ilmiah dengan segudang
argumentasi sebagaimana sering dilabelkan pada alumni kampus Ganesha 10
Bandung. Bahkan di sini semua topeng dan jubah ditanggalkan. Hanya tinggal
sosok manusia dengan pribadi hakikinya yang ternyata amat beragam.
Rupanya yang disebut lucu tidaklah terbatas pada hal yang membangkitkan rasa
geli melainkan juga gairah menemukan sisi lain dari berbagai nasib yang
dikisahkan seseorang. Ya, definisi lucu ternyata demikian lebar spektrumnya.
Hal serius sekalipun bisa meledakkan tawa ketika ada komentar yang amat jauh
dari persangkaan ataupun yang berlagak polos. Kisah menyeramkan bisa langsung
melorot jadi dagelan. Hal menyedihkan malah berubah jadi pembangkit
semangat dan penghiburan yang bukan sekadar basa-basi. Konon pula cerita yang
masuk ke soal domestik dan privat. Makin bikin ngakak.
Tak ada kata-kata yang bertujuan menjatuhkan melainkan permainan bahasa dengan
hasrat membangun keakraban. Dan yang jauh lebih keren adalah kesanggupan
menertawakan diri sendiri. Sangat boleh jadi inilah makna
sense of humor paling tulen, yang merupakan cerminan optimisme bahwa
semua akan baik-baik saja ketika sadar bahwa kita tidaklah sendirian. Derita
akan berkurang saat dibagi, sementara sukacita yang dibagi justru akan semakin
besar.
Maka, jangan heran jika ada yang mengaku sering tersenyum bahkan mendadak
tertawa sendiri saat membuka grup AIGL (sehingga kerap menjadi tertawaan
keluarga ataupun orang lain). Ada yang sampai lupa turun di halte tujuan
karena keasyikan membaca dan mengomentari posting. Jangan tanya pula
yang terpaksa menambah jam kerja di kantor akibat tergoda menyimak tuntas
keseruan di AIGL.
Keterbukaan inilah yang membuat para warga di AIGL "saling mengenal" karakter
satu sama lain walau belum pernah bertemu (apalagi yang berbeda jurusan dan
angkatan di kampus). Akibatnya, ketika sungguhan ketemu secara fisikal, semua
bisa langsung cair dengan saling berbalas cerita bahkan olok-olok tanpa
sungkan dan sakit hati. Ibarat sobat yang dipertemukan kembali setelah
berpisah sekian lama.
Dalam 3 tahun perjalanan berikut berbagai dinamikanya, sungguhlah terasa bahwa
AIGL adalah tempat di mana semua tangan terbuka menyambut kehadiran siapa
saja. Tempat semua orang saling kenal dan sapa. Tempat senyaman haribaan yang
kita akrabi sejak kecil.
Tadi siang saya mendampingi Ketua Umum Ikatan Alumni Institut Teknologi
Bandung (IA-ITB) menemui Ibu Sri Soedarsono yang sudah sejak lama menaruh
kepedulian serta melakukan berbagai kegiatan guna meningkatkan kualitas hidup
Suku Laut di kawasan Kepulauan Riau, khususnya Pulau Bertam.
Ternyata beliaulah yang menginisiasi proses "mendaratkan" Suku Laut yang
selama ini hidup 24 jam di atas sampan sehingga mau mukim di daratan.
Tujuannya adalah memberi kesempatan pada anak-anak Suku Laut mengenyam
pendidikan, selain juga fasilitas lainnya seperti kesehatan. Sekolah dibangun,
fasilitas kesehatan dilayankan dengan Klinik Terapung.
Sejak tahun 1985 Ibu Soedarsono melakukan kegiatan ini dengan dukungan
berbagai pihak, seperti yayasan dari Belanda, tim dari Jurusan Arsitektur ITB,
dll sehingga terbentuklah masterplan bagi hunian masyarakat di Pulau
Bertam.
Seiring berjalannya waktu, sejak tahun 1996 program ini dilimpahkan ke pihak
pemerintah, namun tidak menunjukkan kemajuan berarti.
Kehadiran IA-ITB dengan program baru yang bertujuan memajukan kawasan pulau
tersebut (dalam artian meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya dalam
berbagai aspek) melalui sektor pariwisata membuat semangat kembali berkobar.
Ibu Soedarsono sangat gembira dan terbuka untuk berbagi tentang berbagai hal
yang dapat membantu IA-ITB mewujudkan rencana besar ini.
Hari Senin lusa beliau akan ke Batam hingga tanggal 20 Juni. Barangkali kita
bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk menggali data/informasi serta wawasan
mengenai sejarah, karakter, kebiasaan, dll yang dapat kita gunakan sebagai
acuan dalam studi/survei serta menyusun rencana kerja. Dengan menelaah dokumen
dan masterplan yang sudah ada, siapa tahu ada yang bisa kita lakukan
tanpa harus mengulang dari nol.
Demikian laporan hari ini dari perbincangan dengan Ibu Soedarsono maupun
diskusi dengan Ketum.
Dank je wel, Meneer Bram yang sudah mengirimkan bingkisan spesial yang
akhirnya tiba setelah menempuh berbagai jalur.
Setelah dititipkan di bagasi ananda Ma'e Nenden, akhirnya tiba dengan selamat
tanpa cidera di Bintaro. Lalu dibawa oleh Pak Sam secara hati-hati serta
waspada, untuk kemudian saya yang saat itu sedang asyik nongkrong di bengkel
pun bergegas menjemput benda keramat ini.
Sungguh mendebarkan cara berkelana tabung ungu ini dari Breda, Belanda, hingga
Tebet. Apalagi sudah muncul desas-desus akan terjadi kudeta yang
dikonspirasikan oleh beberapa oknum (terindikasi nama Mak Lindes dan Mbak
anneke, serta agitator ulung berkedok dandang Bang Fernando). Ngeriiiii ...
Sekarang sedang saya pertimbangkan secara saksama bagaimana caranya supaya Om
Ipung bisa ikut icip-icip supaya gak ngedumel terus seperti kasus kotak
hitam itu 🤣
Roberto Meisa Barus hanyalah seorang manusia biasa. Jika hidup ini diibaratkan
sebagai sebuah film, dia bukanlah pemeran utama yang namanya dituliskan
pertama. Namun dia adalah sosok yang kerap muncul sebagai aksen ikonik dalam
berbagai adegan.
Dengan cara yang sangat biasa dia hadir dalam berbagai fragmen kehidupan
banyak orang, terutama di masa-masa berat dan muram. Masing-masing mendapat
sentuhan di sisi dan cara berbeda, sehingga amat beragam cerita yang terserak.
KEHADIRANNYA yang senantiasa membawa pencerahan, sukacita, dan solusi
adalah cara Roberto mensyukuri serta menyalurkan karunia Tuhan yang baginya
amat cukup. Your Grace is Enough, demikian dia deklarasikan dalam statusnya di Whatsapp maupun Facebook.
KEPERGIANNYA membuat banyak orang saling berjumpa [kembali] dan berbagi
kisah. Maka jadilah buku kecil ini sebagai upaya merangkai keping-keping
terserak tersebut menjadi mosaik dari seorang manusia biasa bernama Roberto
Meisa Barus. Tentu saja buku ini tak mungkin mengungkap dirinya secara utuh.
Selalu ada bidang kosong yang hanya bisa dilengkapi oleh setiap orang dengan
warna dan kisahnya sendiri.
KETIADAANNYA bukanlah akhir eksistensi Roberto karena tak sedikit orang
yang akan terus mengenang bahkan melanjutkan warisan yang sudah dirintis dan
diteladankannya, yakni berbagi berkat kebaikan dan keluhuran budi yang sangat
bisa dilakoni oleh semua orang biasa.
Demikianlah buku ini dipersembahkan bagi para manusia biasa, termasuk yang
tidak mengenalnya.
Roberto hanyalah seorang manusia biasa. Jika hidup ini adalah sebuah film, dia
bukanlah pemeran utama yang namanya dituliskan pertama. Kalaupun harus
beranalogi, kemungkinan dia akan menjadi consiglieri, sang penasihat
dan negosiator ulung dalam kisah The Godfather. Atau The Face, sang spesialis
yang pesonanya terkonversi menjadi berbagai fasilitas The A-Team dalam operasi
ala militer guna membantu pihak teraniaya.
Kepergiannya terasa sangat mendadak. Bukan karena prosesnya yang cepat
melainkan karena ketidaksiapan menerima kenyataan bahwa seorang yang masih
cukup muda dan penuh semangat harus meninggalkan kami semua yang merasa masih
belum cukup puas menikmati perannya dalam kehidupan kami.
Ketika muncul gagasan menyusun bunga rampai testimoni mengenai dirinya,
tulisan-tulisan pun mengalir deras dari berbagai kalangan. Beragam kesaksian
menguak sisi-sisi kehidupan Roberto yang mungkin
Hal ini sangat tampak dari respons banyak orang yang bersaksi tentang
kehidupannya sebagaimana tertuang dalam buku kecil ini.
Roberto bukan superman. Dia hanya manusia biasa. Oleh sebab itulah kita
sebagai manusia biasa sangatlah bisa meneladani apa yang sudah dilakukannya
bagi sesama.
Demikianlah buku ini dipersembahkan bagi para manusia biasa, termasuk yang
tidak mengenalnya.
Wahai engkau, anak manusia
tak lelahkah melangkah
dengan kaki rekah dan lutut pecah
menyusuri lorong keniscayaan dan asa?
PROLOG
Dulu kala, seorang bijak pernah berkata, "Dan siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah
bersama dia sejauh dua mil." Konon, dari situ muncul frasa go the extra mile yang kurang-lebih
menandaskan totalitas yang rela melakukan/memberi lebih dari yang diharapkan.
To make more effort than is expected of you.
SCENE 1
Satu masa, seseorang (sebutlah KUTU) mengalami kesulitan finansial yang
diperlukannya untuk modal kerja. Setelah KUTU berjumpa BB, bergegas BB mencari
kawan di jejaringnya yang berpeluang membantu. Atas dasar rasa percaya,
seorang kawan (sebutlah LILIN) meminjamkan dana yang tergolong cukup besar
guna memenuhi kebutuhan KUTU, dengan harapan projeknya dapat bergulir.
Seiring berjalannya waktu, ternyata KUTU tidak bisa memenuhi janji
pengembalian pinjaman, bahkan tak lagi merespons saat dihubungi. Merasa
bertanggungjawab pada LILIN, maka BB melunasi hutang tersebut dengan cara
menyicil dari kocek pribadi selama beberapa bulan.
Tuntas dengan LILIN, BB pun tidak pernah mengungkit soal itu lagi.
SCENE 2
Kondisi kesehatan BB sangat turun sehingga bolak-balik menjalani pengobatan,
bahkan akhirnya harus rawat inap.
Satu hari, BB mendengar perbincangan keluarga pasien lain yang tampak
mengalami kesulitan melunasi biaya rumah-sakit.
Dengan santun BB menyapa, "Mohon maaf, saya tadi tak sengaja mendengar
kesulitan yang kalian alami. Jika diperkenankan, saya ingin membantu sebagian
biaya dari gaji yang baru saya terima."
Sebenarnya BB belum sebulan menjabat sebagai komisaris di sebuah perusahaan
sehingga gaji yang diterima pun tak penuh. Dana itulah yang dia bagi dengan
pasien lain yang tak dikenalnya.
NARATOR
Bagi sebagian orang, mungkin BB dipandang amat polos bahkan bodoh. Tetapi
mereka yang kenal BB amat tahu bahwa dia sesungguhnya seorang yang sangat
cerdas dan cermat tanpa dinodai prasangka.
Dia lakukan semua itu bukan karena berharap mendapat pujian (dan kisah-kisah
ini pun bukan dia yang menyampaikannya), melainkan karena memang demikianlah
tabiatnya.
BB tak bisa tenang jika tahu ada orang, apalagi kawan, yang sedang kesusahan
sementara dia [merasa] punya kesempatan meringankan beban tersebut walau harus
dengan mengetuk pintu kawan-kawan lain.
Begitulah peran BB di antara banyak orang, yakni menjadi penghubung antara
mereka yang membutuhkan dengan yang memiliki keluangan. Integritas dan
ketulusannya ibarat paspor yang berterima di pintu mana pun. Tak pandang
senior maupun junior, semua menaruh respek yang tinggi padanya.
Dan dalam melakukan panggilan tugas ini, kerapkali BB mendahulukan
kepentingan orang lain daripada dirinya sendiri. Bahkan di penghujung hayat,
dalam dera rasa sakit tak terperi, acap dia yang lebih dahulu menyapa
menanyakan kabar para kawannya.
EPILOG
Di mata saya, BB bukan sekadar menemani berjalan sepanjang 2 mil,
melainkan rela menggendong orang tersebut walau dia sendiri sebenarnya
sedang kepayahan.
Tak ada keterikatannya pada materi duniawi (padahal BB bukan seorang yang
berlimpah kekayaan) maupun keterbatasan fisik (dalam kondisi sakit sekalipun)
yang mampu menjebaknya dalam dilema batin saat berhadapan dengan panggilan
pertemanan.
Buku-buku jari tangannya kapalan akibat mengetuk banyak pintu. Pipinya kebas
menerima tolakan. Jiwanya tangguh teruji dalam empati penuh tekad.
Apa istilah yang cocok untuk perilaku seperti ini?
Saya tak tahu pasti.
Mungkin juga seperti dikatakan orang bijak yang sama dulu kala, "Tidak ada
kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk
sahabat-sahabatnya."
Di lubuk hati terdalam, saya cukup yakin hanya orang-orang berjiwa luhur yang
mampu melakoninya.
Demikianlah.
CODA
Wahai engkau, anak manusia,
buku-buku jarimu yang kapalan
adalah saksi hati dan jiwa
yang melampaui segala nalar.
Hikmat!
NOTA BENE
O ya, saya hampir lupa mengatakan bahwa BB adalah seorang bernama panggilan
Boret alias Roberto Meisa Barus yang telah menghadap Sang Maha Empunya Napas
sekitar 7 menit menjelang akhir hari Natal 2021.
Beberapa hari ini ada saja hal-hal yang membuat saya harus mengelus dada
sendiri (gak berani ke dada orang lain, apalagi yang berbulu lebat 🙈).
Yang paling sepele adalah memberi makan anjing saya. Entah kenapa, sejak dulu
dia susah sekali makan. Setiap kami siapkan makanan, dia akan lari menghindar
atau sembunyi. Terpaksa dia dipojokkan. Maksudnya, benar-benar diarahkan ke
pojok ruangan di depan mangkuk makanannya sambil dijaga agar tidak pergi, lalu
disuapi agar terbit seleranya. Dan ini berlangsung setiap hari.
Biasanya dia mau makan juga setelah beberapa lama dirayu. Namun, kadang usaha
ini tetap sulit berhasil.
Entah kenapa, kemarin tampaknya dia sedang sangat sewot. Ketika saya mencoba
menyuapinya, dia menggeram dan menggigit sehingga kelingking tangan kanan saya
luka. Sangat sakit dan mengucurkan banyak darah. Padahal saat itu saya sudah
mau berangkat bertemu klien. Sungguh merepotkan. Tentu saja jari yang berdarah
membuat saya sulit mengelus dada tanpa mengotori pakaian.
Esok paginya, kelingking saya bengkak. Pernah dulu saya digigit sampai luka
tapi tidak bengkak. Waduh, jangan-jangan kena rabies nih ... 😔
Hujan yang turun siang itu membuat semangat kian lesu. Apalagi grup WhatsApp
yang membahas sebuah projek sosial persahabatan amat sepi dari perbincangan.
Entah sedang pada sibuk atau cuek. Terngiang petuah bijak bestari,
"Tetap putus asa, jangan semangat!" Dan seperti biasa, terpaksa saya mengelus
dada sendiri lagi deh ...
Tahu-tahu masuk telepon dari nomor tak dikenal. Berkabar ada paket. Padahal
hari itu saya belum memesan barang atau makanan dari toko daring
(online). Berarti kiriman dari seseorang nih. Apaan ya ...? Rupanya
sebuah kotak kardus elegan yang terasa dingin. Setelah saya buka ......
Tadaaaaaa!!! Berbaris 9 botol gelato Ziato dengan 9 rasa berbeda. Sila cek
sendiri label yang tertera di botol.
Wow! Mendadak hari menjadi indah dan enak. Seperti ada pelangi 9 warna
menembus mendung. Apalagi anjing saya sudah kembali mau bermanja-manja dan
seperti menyesal membuat kelingking saya bengkak.
Haturnuhun kepada Ma'e Nenden yang sudah memupus mendung.
Absolutely udara dingin di luar tak mampu membekukan rasa hangat di
dalam dada walau tanpa dielus.
Malam sebelum berangkat, paket kiriman dari Om Jenggo yang berisi kaos spesial
mengenang Bang Patar Nababan tiba di rumah. Alhasil, kaos dengan gambar karya
Mbak Jane Kurnadi ini saya bawa saat kunjungan ke Danau Toba dan dipakai di
sana. Setidaknya, di Bona Pasogit, tanah leluhur, saya sempat mengenang dan
mendoakan Bang Patar yang sudah lebih dahulu pulang ke keabadian 🙏
Dan siang tadi di Samosir, saya bersama Malaikat Kiri, Bang Nelson Napitupulu,
sempat praktik sebagai eksekutor hukum pancung di Huta Siallagan.
Seseorang bersilaturahmi ke Buya HAMKA dan berkata, “Pelacur di Arab itu
memakai cadar dan hijab”.
Jawaban Buya HAMKA sungguh tak terduga. “Oh ya? Saya barusan dari Los
Angeles dan New York. Masya Allah, ternyata di sana tidak ada pelacur.”
“Ah, mana mungkin, Buya. Di Makkah saja ada kok, apalagi di Amerika, pasti
banyak lagi,” kata tamunya itu.
Maka kata Buya HAMKA, “Kita ini memang hanya akan dipertemukan dengan
apa-apa yang kita cari.
Meskipun kita ke Mekkah, tetapi jika yang diburu oleh hati adalah hal-hal
yang buruk, maka setan dari golongan jin dan manusia akan berusaha membantu
kita untuk mendapatkannya.
Tetapi sebaliknya, sejauh perjalanan ke New York, Los Angeles, bila yang
dicari adalah kebajikan dan kebaikan, maka segala kejelekan akan enggan dan
bersembunyi,” pungkasnya.
Apa yang dipikirkan dan dicari, apalagi sempat dialami secara berkesan, kerap
bisa menjadi penanda terhadap sesuatu. Itu sebabnya pengalaman pertama menjadi
penting dan sulit dilupakan. Bisa merupakan kenangan indah ataupun traumatis.
Begitu pula dengan tempat.
Kunjungan saya ke beberapa lokasi kerap menyimpan imaji khusus. Surabaya,
misalnya. Kota ini dahulu terkenal panas dan gersang sehingga sebagian orang
sulit percaya bahwa kini banyak pepohonan hijau di seantero kota. Di sisi
lain, karena pengalaman saya di kota ini sekian puluh tahun lalu demikian
indah, maka kota ini tetap indah, entah dia gersang ataupun menghijau.
Bandung yang sejuk semasa saya berkuliah di sana membuat saya selalu membawa
jaket walau saat ini temperatur kota sudah meningkat. Kalimantan yang beberapa
kali saya kunjungi, bahkan hingga harus naik
speedboat ataupun perahu ke pedalaman, menapakkan kenangan tentang
keasrian alam dan keramah-tamahan masyarakatnya.
Sumatera Utara yang katanya keras, tetap menjanjikan kenikmatan tiada tara
dari kuliner maupun alamnya serta suara merdu penyeling kerja keras
penduduknya. Lalu Nusa Tenggara yang punya banyak pesona tersembunyi di
berbagai pelosoknya. Apalagi Papua.
Begitu pula halnya dengan tempat-tempat lainnya. Demikian kaya keragaman
Nusantara.
Saya bukannya menutup mata akan kekumuhan ataupun hal lain yang merupakan
realita kehidupan. Namun apa guna menjadikan sebuah perjalanan sebagai
pengalaman buruk? Rugi banget atuh 😊 Malah sebisa mungkin saya
upayakan menemukan sesuatu yang membuat label bagi tempat tersebut layak untuk
diceritakan sebagai daya tarik. Itulah pengalaman pertama yang ingin saya
kecap dan simpan dalam memori.
Seperti diujarkan orang bijak di masa lalu, "Carilah, maka akan kau dapatkan."
Seek and ye' shall find. Dan dari situ, seperti istilah lawas saat
aplikasi pengolah kata (word processor) mulai canggih, berlakulah
konsep WYSIWYG (What You See Is What You Get).
Hanya saja, tak setiap orang suka memikirkan, mencari, dan menemukan hal-hal
yang membuat sukacita. Ada yang lebih senang berjumpa dan mengenang monyet,
jin, kuntilanak, dsb sehingga semua itulah yang ada di kepalanya saat
membicarakan suatu tempat, entah apa pun konteksnya.
Maka di Kalimantan Timur, mau dapat patin bakar, bisa. Mau dapat mandau
terbang pun bisa. Pilihan ada pada masing-masing orang.
Tiga vampir terbangun saat tengah malam karena merasa haus dan ingin minum
darah.
Vampir 1: "Ayo terbang mencari manusia untuk kita hirup darahnya
sebanyak-banyaknya."
Vampir 2: "Hmm ... Boleh juga."
Vampir 3: "Kita kan warga baru di sini. Lagian, di luar gelap banget dan kita
gak tahu arah. Mendingan nunggu sampai ada vampir lain yang mau cari darah
juga."
Vampir 1: "Kita tidak butuh mereka. Kita pasti bisa menemukan darah di suatu
tempat."
Vampir 2: "Ayo tanding siapa yang paling buas menghisap darah!"
Tanpa menunggu jawaban, vampir 1 melesat terbang dengan kecepatan tinggi.
Lima menit kemudian dia kembali dengan mulut berlumuran darah. "Lihat desa di
sana?" tanya dia sombong. "Semua penduduknya sudah habis gua hisap darahnya!"
Vampir 2 tidak mau kalah. Dia terbang lebih cepat lagi.
Sepuluh menit kemudian dia kembali dengan seluruh wajah penuh darah. "Lihat
kota di bawah sana?" katanya. "Satu stadion bola pingsan semua karena darahnya
gua hisap!"
Vampir 3 merasa tertantang. Dia terbang secepat kilat sampai menimbulkan suara
desingan angin.
Tapi baru satu menit dia sudah kembali dengan kondisi mengerikan. Wajah
bonyok, hidung pesek, gigi ompong, dan darah mengucur deras dari kepala
membasahi sekujur tubuhnya.
Dua vampir lainnya kaget dan bertanya, "Wah, gileee ... Belum satu menit,
tubuhmu sudah penuh darah. Gimana ceritanya?"
Vampir 3 menjawab sambil meringis, "Kalian lihat tiang listrik di depan sana
nggak?"
Merupakan satu kebanggaan sekaligus kehormatan bagi saya bisa menjadi bagian
dari ibadah dan perayaan Natal Bersama 2021 Ikatan Alumni Institut Teknologi
Bandung (IA-ITB) walau sebenarnya saya lebih banyak berperan sebagai penduduk
alias duduk-duduk saja 😊
Kepanitiaan yang baru terbit SK-nya pada tanggal 30 Desember 2021 ternyata
berisi orang-orang tangguh, trengginas, penuh energi, dan determinasi
luar biasa. Begitu WhatsApp Group panitia dibentuk, tak perlu pakai pemanasan,
semua langsung gaspol. Mesin dipacu dengan entropi tinggi.
Tektokan berlangsung gencar di forum maupun japri.
Kalau dipikir-pikir setelah acara ini berakhir tadi, rasanya banyak hal
berlangsung di luar kenormalan.
Mulai dari pertanyaan siapa yang bisa mewakili dan jadi penghubung ke berbagai
komunitas Kristen alumni ITB, muncul usulan nama-nama yang segera
ditindaklanjuti. Dan ternyata mereka adalah pilihan tepat. Tak ada yang
sia-sia. Seperti pasukan komando yang penuh inisiatif, gerak cepat,
berdedikasi, dan tak banyak berdebat. Juga gesit menerapkan
getok tular mengajak kawan lain yang tak kalah mutunya. Dengan segera
formasi kepanitiaan pun komplet dan penuh daya. Melibatkan berbagai jurusan
dan angkatan, dari senior hingga alumni muda milenial/gen-Z.
Begitu deras usulan muncul, sekejap pula solusinya hadir. Beberapa malah tak
kentara manuvernya, tahu-tahu melapor bahwa hal tersebut sudah tuntas
dieksekusi. Seingat saya, tak ada keluhan yang mencuat di WAG panitia. Jebret,
jebret, jadi. Bungkus! (Entah kalau di japrian ternyata rusuh 😁)
Semua urusan dikebut ala blitzkrieg panzer Jerman. Hanya sekitar 2
minggu semua harus klaar, karena tanggal pelaksanaan sudah dipatok 22
Januari 2022.
Tak perlu bertele-tele memastikan daftar pengisi acara. Entah jurus apa yang
dimainkan, tahu-tahu Bang
Erwin Badudu
berikut personal dan peralatan langsung berkemas menjadi band pengiring acara
ibadah dan perayaan. Kak
Pita Loppies
pun segera menyesuaikan agenda agar bisa berpartisipasi. (Tolong dicatat ya,
Mas Titus Wahjoe Dewanto: Moluccas, bukan Mollusca. Beda barang itu! 😂)
Komunitas alumni ITB dari berbagai penjuru dunia bersicepat merekam video lagu
untuk ditayangkan di acara. Beberapa petinggi negara dan almamater pun tak
luput menyampaikan ucapan dan harapannya.
Pengurus Daerah IA-ITB Papua dinobatkan sebagai pembuka perayaan dengan Tarian
Perdamaian yang dinamis dan punya makna amat suai dengan narasi kelahiran
Kristus. Anak-anak alumni tak kalah semangat mengisi acara sebagai Gajah
Junior. Begitu juga dukungan lainnya, termasuk sponsor.
Lucunya, entah bagaimana jalannya, lokasi yang dipilih untuk penyelenggaraan
acara pun ternyata cukup mumpuni memenuhi kebutuhan tanpa harus bekerja keras
dari nol. Apalagi dekor dan ornamen Natal gereja belum dibongkar sehingga bisa
langsung dimanfaatkan. Lumayan irit biaya 😁
Di sini perlu digarisbawahi peran Mas Bubi Sutomo yang berkenan melakukan
appraisal peralatan tata suara dan multimedia sehingga IA-ITB mendapat
kehormatan menggunakan gedung
Gereja HKBP Tebet.
Tapi ada juga dampak sampingnya nih ... Tak dinyana, gara-gara
posting sambil-lalunya di Facebook tentang persiapan acara perayaan
Natal HKBP Tebet, maka Bang Ecko Manalu pun langsung diciduk masuk kepanitiaan
serta memberikan sumbangsih tak ternilai. (Bahkan demi acara ini, sore tadi
memaksakan diri pulang dari tugasnya di Sumatera Utara walau belum waktunya.
Mauliate godang, Bang 🙏)
Gilanya, selama berproses, ternyata tak sedikit anggota panitia yang
sebelumnya tak saling kenal. Bahkan Bang Himmel Sihombing sebagai Ketua
Panitia pun baru berjumpa untuk pertamakali dengan Bang Togap Siagian sang
Koordinator Acara di lokasi saat pelaksanaan acara 😁
Seru, kan?
Akhirnya, sekitar 3 minggu sejak terbitnya SK, acara pun dihelat Sabtu sore
kemarin.
Boleh dibilang semua rencana berlangsung baik tanpa kendala berarti. 4 jam
nonstop.
Di balik segala kerepotan dan tunggang-langgang panitia, Romo Johannes
Hariyanto, SJ seolah bisa menerawang dinamika di belakang layar sehingga
kotbahnya pun jitu mengulas orang-orang pilihan yang mau mendengarkan suara
Tuhan.
Mengikuti tayangan acara via Youtube, seorang sahabat baik, Mas Suluh T.
Rahardjo, meringkas kotbah tersebut dengan mengimbuhkan lagu legendaris
"Stairway to Heaven" sebagai berikut:
"Berani mendengarkan suara Tuhan!"
And if you listen very hard
The tune will come to you at last
When all is one and one is all
To be a rock and not to roll, oh yeah ...
Tiga tantangan orang-orang "terpilih" dan memiliki kesempatan:
1. Terus memelihara persaudaraan kebangsaan
2. Menjaga bersikap adil
3. Selalu berlaku profesional.
(Sabtu, 22 Januari 2022)
Lebih lanjut, Pendeta Yoseph Situmeang yang menjadi Pembawa Pesan Natal
menandaskan bahwa standar yang dibuat oleh panitia kali ini sudah tinggi.
Panitia tahun depan perlu kerja lebih keras nih ... (Wow! Padahal ini kerja 3
minggu. Bagaimana kalau 3 bulan? 😁)
Laksana mendengar canang yang dipukul bertalu-talu di dekat gendang telinga,
sesore hingga malam tadi saya lebih banyak tepekur di bangku umat bagai ayam
terkena tetelo. Sungguhlah benar yang tertulis dalam Alkitab, "Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan
sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah". Dan ketika kita sungguh melakukannya demi kemuliaan Allah, mukjizat itu
sungguh nyata. Terbukti!
Sukacita usai acara
Terimakasih ya, Tuhan Allahku.
Terimakasih,
Triumvirat Pengurus Pusat IA-ITB: Mas Gembong Primadjaja (Ketua Umum),
Bang Arya Sinulingga (Sekretaris Jenderal), serta Bang Batara Purba
(Bendahara Umum) yang konsisten mendorong serta mendukung penuh
berlangsungnya acara ini. Demikian pula para pengurus IA-ITB yang sudah
membantu kelancaran secara langsung maupun tidak langsung.
Panitia Natal Bersama 2021 IA-ITB yang membikin decak kagum serta bangga.
Membuat saya teringat film tentang seorang kadet perempuan pertama yang
mendapat wejangan (kutipan bebas dari saya), "Jangan sampai gagal. Karena
setelah kamu, akan banyak orang lain menyusuri jalan yang kamu rintis."
Pengurus Gereja HKBP Tebet serta tim peliputan dan teknis lainnya yang
membuat beban panitia menjadi sangat ringan.
Para pengisi acara maupun para alumni yang berpartisipasi di lokasi maupun
daring.
Para sponsor yang tak berkeberatan disodori proposal dalam waktu singkat.
Serta berbagai pihak yang tak dapat disebutkan satu per satu.
Kiranya kita semua diberkati dan dikaruniai kesanggupan untuk menjadi garam
dan terang di mana pun kita berada.
Amin 🙏
O ya, sebagai catatan: Mas Gembong, Mas Bubi, dan Mas Suluh adalah muslim 🙏
Minimal 3 karakter tersebut melekat kuat pada diri seorang Roberto Barus yang
sudah menyentuh banyak orang, melampaui perbedaan jurusan dan angkatan.
Hal-hal tersebut jugalah yang diharapkan darinya saat diminta menjadi pengurus
Pengurus Pusat Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IA-ITB).
Namun, belum sempat Roberto berkiprah secara optimal bagi kepengurusan, Tuhan
telah memanggilnya untuk selamanya pada tanggal 25 Desember 2021 lalu.
Berbagai rencana yang tertunda dapat segera dicarikan solusi pengganti. Tetapi
peran dan tanggung jawab Roberto sebagai sokoguru keluarga tak tergantikan.
Dan tentunya merupakan pukulan yang sangat berat bagi
sang isteri (ibu rumah tangga) dan seorang akan perempuan berusia 5
tahun.
Roberto sudah pergi. Namun kehidupan harus terus berjalan bagi keduanya.
Demikian pula kita, kawan-kawan alumni ITB, yang merupakan sebuah keluarga
besar.
Dalam rasa prihatin dan solidaritas, perkenankan kami mengetuk kemurahan hati
kawan-kawan untuk meringankan beban Laura (Ola) dan Sasa agar
mereka punya kesempatan menata kehidupan yang baru tanpa Roberto.
Untuk itu, kami telah menyiapkan rekening:
Bank Mandiri
norek xxx.xxx.xxxx.xxx
a/n. Xxxxxxx Xxxxxxx
yang akan dibuka s/d tanggal 31 Januari 2022.
Catatan:
Demi kemudahan verifikasi, mohon menyantumkan angka 91 di akhir jumlah
donasi.
Sila informasikan bukti transfer via japri ke WhatsApp
https://wa.me/6281xxxxxxx.
Atas perhatiannya, kami ucapkan terimakasih. Semoga Tuhan membalas semua
kebaikan kawan-kawan 🙏🏼❤
Ttd, Kawan-kawan yang mengasihi Roberto 💚
🌺🍀 Kiranya berkenan meneruskan pesan ini ke kawan-kawan lain yang mengenal
almarhum.