catatan-catatan kecil di sini tidak lebih dari percik pemikiran yang sempat tertuang ke dalam bentuk tulisan. kalaupun isinya tidak tertata baik ataupun tidak berkenan pada anda, demikianlah adanya kenyataan diri saya pada saat itu. setidak-tidaknya, ini semua adalah sebagian ungkapan kejujuran yang saya ingin berbagi dengan anda.
Perempuan dan cermin adalah keseharian yang amat biasa. Terlalu biasa. Nyaris
tak ada keistimewaan atas perilaku rutin ini.
Cermin itu sendiri sekadar memantulkan citra yang mampu dicerna mata, sejauh
diperkenankan oleh sang perempuan.
Namun perempuan di balik cermin adalah cerita tersendiri yang kerap tak
terjangkau mata bahkan mata hati orang lain.
Di balik cermin, seorang perempuan hadir utuh dan telanjang, memperlihatkan
keping-keping perjalanannya. Ada luka, letih, kecewa, keringat, air mata,
darah, nanah, dan trauma. Namun di situ juga ada bangga, suka cita, harapan,
hingga berbagai gumpal rasa tersembunyi yang tak terurai oleh kata.
Di tiap kepingnya tergurat epos kecil upaya menggapai kepenuhan diri yang
kerap harus mengalami penghancuran. Berulang dan berulang. Menyerpih.
Hanya karena asa masih berpijar maka kepingan-kepingan ini direkat kembali
dengan perjuangan amat keras agar tiap kisah yang dibawanya tak sia-sia.
Berbekal kerelaan mengakui ketidaksempurnaan, perempuan itu merangkai kembali
semua keping terserak dengan bingkai rekatan emas kerendahhatian.
Walau masih tersisa lubang hitam di sana-sini, kelahiran kembali sosoknya
sebagai perempuan baru melahirkan keindahan dalam kisah tersendiri. Sebuah
optimisme paripurna dalam mosaik menggentarkan.
Sungguh, perjalanan belum selesai. Sedangkan waktu bagai singa mengintai yang
siap menerkam tiap saat.
Namun senyum tersungging di bibir retak menyampaikan tekad bergeming, "Saya
baik-baik saja meski kau tak tahu betapa nyaris sebuah kehidupan pupus dalam
kesuraman makna."
Lima tahun dalam penantian, akhirnya Pasukan Perang Darat (PPD) bangkit
kembali ketika negara memanggil. Jika dahulu militansinya diperuntukkan bagi
Joko Widodo (Jokowi), kali ini mereka tampil demi Ganjar Pranowo.
Kinerja Jokowi yang dipandang baik sehingga meraih tingkat kepuasan sampai 82%
(survei LSI April 2023) menjadi konsiderans penting bahwa kemajuan dan arah
perjalanan bangsa ini berada di koridor yang tepat sehingga perlu
dipertahankan bahkan ditingkatkan.
Mengingat konstitusi negara Republik Indonesia yang membatasi masa jabatan
presiden maksimal 2 kali, maka perjalanan Jokowi pun harus berakhir di 2024.
Oleh sebab itu, menjadi sangat penting untuk memastikan bahwa penggantinya
adalah orang yang tepat untuk menindaklanjuti pencapaian yang sudah diraih.
Dari 3 sosok yang digadang-gadang sebagai calon presiden, pilihan pun jatuh
pada Ganjar Pranowo. Demikian banyak aspek pada diri beliau yang suai dengan
kriteria. Selain kinerja yang teruji, juga kepribadiannya yang merakyat,
sederhana, humoris, melayani, cepat tanggap, gesit, stamina tangguh, rekam
jejak bersih, mengayomi semua kalangan, berjiwa muda, kesatria, tidak
ketinggalan zaman, serta sederet karakter
servant leader lainnya. Tidak lupa, dia juga adalah seorang suami dan
ayah yang baik.
Lantas, kenapa PPD harus turun gunung jika Ganjar Pranowo dipandang sudah
memenuhi kriteria sebagai sosok terbaik yang layak menjadi Presiden? Bukankah
dia akan mudah memenangi kursi kepresidenan?
Semesta kiprahnya yang selama ini terbatas di Provinsi Jawa Tengah membuat
semua prestasi dan kebaikannya belum membahana ke seantero negeri. Sederet
keberhasilan yang dibangunnya di jenjang provinsi perlu diprojeksikan ke
tingkat nasional. Kemajuan Jawa Tengah merupakan bukti nyata sekaligus
cikal-bakal kemajuan menuju Indonesia Gemilang.
Inilah tugas para relawan. Inilah amanah yang diemban oleh PPD. Merupakan
sebuah kehormatan untuk memberitakan kabar baik ini ke seluruh penjuru kota
dan desa, di jalan-jalan, pasar, pertokoan, stasiun, perumahan, dan semua
tempat di mana ada mata dan telinga. Terlebih, pada mereka yang masih memiliki
hati terbuka serta cinta tulus pada negeri serta generasi masa depan.
Sebab, sejatinya, PPD adalah suara hati anak bangsa.
Menyimak kisah sendu Bang Andrew Simbolon tentang dunianya yang fana [1],
ingatan langsung menerawang ke cita-cita masa silam. Kalau Bang Andrew
kepingin jadi penyanyi rock setelah kuliah, saya pernah kesengsem jadi pesohor
tarik urat leher ketika masih bersekolah dengan celana pendek alias SMP.
Saat itu nama Ebiet G. Ade sangat fenomenal sebagai penyair yang bernyanyi.
Walau suaranya disebut-sebut mirip Jose Feliciano, sang penyanyi kondang
tunanetra, syair lagunya sungguh menggoda karena bersahaja namun puitis. Konon
pula dia menggunakan puisi-puisi karya Presiden Malioboro, Umbu Landu
Paranggi, yang berkiprah di kawasan Yogyakarta bersama para tokoh sastra
lainnya seperti Korie Layun Rampan, Emha Ainun Najib, Linus Suryadi AG.
Begitu pula ketika Guruh Soekarnoputra dan Eros Djarot menggetarkan blantika
musik Indonesia dengan karya-karya monumental mereka yang mengusung kosa kata
ajaib dalam lirik-liriknya, makin terbakar gairah menulis lagu berbekal kamus
bahasa kuno.
Sayang disayang, saya harus jujur mengakui bahwa musikalitas saya rupanya tak
sedahsyat hasrat. Bahkan suara pun amat jauh dari kategori merdu, halmana
menyalahi kodrat sebagai orang Batak ð Mau daftar ikutan
vocal group sekolah saja rasanya tak ada nyali, apalagi masuk paduan
suara seperti Mak Lindes Dumaria Gultom. Konon pula seperti Bang Toni P
Sianipar yang bergabung di Elfa's Singers.
Walau ada beberapa lagu yang tercipta (atau sebagai penulis lirik untuk lagu
karya kawan), dengan lapang dada saya kuburkan impian menjadi penyair yang
bernyanyi. Baibay ð
Ndilalah saat kuliah saya sempat beberapa kali didapuk menjadi vokalis
band. Itu pun saya yakini bukanlah karena suara yang keren atau aksi panggung
nan memesona melainkan karena tak ada kawan lain yang bersedia menanggung malu
di atas panggung. Sesederhana itu.
Kendati demikian, kecintaan pada musik membuat saya tak ragu terlibat aktif
bersama kawan-kawan untuk menyelenggarakan Festival Musik Solidaritas sebagai
ajang kompetisi band antar angkatan di Himpunan Mahasiswa Mesin (HMM) ITB.
Begitu pula berbelas tahun setelah menjadi alumni, didaulat menyanyi karena
para pemain band lebih sibuk berkutat dengan chord di instrumen
masing-masing. Ini pun bukan di band delegasi angkatan yang bernama
Musicology, melainkan sekte yang mengambil genre rock bernama
Darkside of Musicology (DOM). Di Musicology sih saya hanya kebagian
peran angkat-angkat alat musik atau jadi supporter Bonekology atau jadi
badut jahil untuk klip video
ð
Ketika pandemi covid merajalela, saya kenal aplikasi bernama Smule. Mulailah
saya punya media melampiaskan suara pas-pasan tanpa harus tersipu kena sorot
spotlight. Dan di sinilah saya tahu bahwa Bang Andrew suaranya memang
keren dan effortless sehingga layak dibanggakan sebagai orang Batak.
Barangkali karena saya lebih senior "sekian bulan" sajalah maka Bang Andrew
sulit berkeberatan ketika saya join di Smule menyanyikan lagu Dream
Theater yang berjudul "The Spirit Carries On" dengan urat leher nyaris putus
ðĪŠ
Demikianlah hikmah di dunia yang fana ini. Walau suara parah sehingga jauh
dari layak sebagai biduan, ternyata lingkar pertemanan justru kian besar. Dan
saya agak percaya bahwa nanti seusai kiprah di dunia fana ini spirit kita
tetap bisa hadir melalui karya dan kenangan. Yekann, guyszz?
Keindahan kehidupan tercermin dari keselarasan dan kepedulian, khususnya
antarmanusia. Berlimpah karunia Tuhan bagi alam semesta yang layak dibagi
kepada semua.
Menjadi sangat luar biasa ketika suka cita kita dalam
Perayaan Natal Bersama Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IA-ITB)
pada tanggal 21 Januari 2023 kemarin diwarnai kehadiran anak-anak berkebutuhan
khusus (ABK) yang berbagi kegembiraan memuliakan Tuhan melalui penampilan
kesenian dan kreativitas. Melalui mereka kita diingatkan menjadi manusia yang
tak henti bersyukur walau dalam segala keterbatasan.
Perayaan kali ini memiliki misi berbagi dengan mereka yang oleh Tuhan
dianugerahi keistimewaan sebagai ABK (Anak Berkebutuhan Khusus). Untuk itu,
IA-ITB membuka pintu dukungan pelayanan bagi mereka melalui rekening donasi:
Bank Mandiri xxxxxxxxxxxxx (a/n IKATAN ALUMNI ITB)
Bank BCA xxxxxxxxxx (a/n IKATAN ALUMNI ITB)
* mohon tambahkan angka 25 pada akhir nominal.
yang akan disampaikan kepada:
Yayasan Bhakti Luhur
Yayasan HOPE
Yayasan Tri Asih
Kiranya suka cita kita menyambut kasih Allah yang terwujud melalui kedatangan
Anak-Nya kian bermakna melalui kepedulian pada mereka yang merindukan cinta
kasih sesama.
Yayasan Bhakti Luhur adalah lembaga sosial swasta yang menangani dan
melayani lebih dari 500 anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) baik fisik maupun
mental, yatim piatu, miskin, dan telantar. Banyak dari mereka yang bahkan tak
tahu lagi keberadaan keluarganya.
Melalui yayasan ini para ABK belajar berbagai keterampilan, seperti membuat
aneka olahan makanan ringan, bercocok tanam, kesenian, dan lain-lain.
Keterbatasan penglihatan (tuna netra), pendengaran (tuna rungu), komunikasi
verbal (tuna wicara), anggota tubuh (tuna daksa), maupun mental (down syndrome, autis) tidak menghalangi mereka untuk memuji Tuhan melalui nyanyian, permainan
angklung, serta tarian.
Bukankah sesungguhnya mereka adalah anak-anak yang sangat istimewa?
Mari bersama kita dukung mereka dalam
Kebaktian dan Perayaan Natal 2022 IA-ITB yang akan diselenggarakan
pada:
ð Sabtu, 21 Januari 2023
ð 10:00 WIB (GMT+7)
ðŦ Gedung Pusat Perfilman H. Usmar Ismail, Karet Kuningan, Jakarta Selatan