📌 Minggu, 19 April 2026 🌐

Kuntum Hening Abadi

Kuntum Hening Abadi

"Kamu di rumah?" langsung begitu suara pertama yang terdengar ketika panggilan ponsel kuterima. Sungguh tanpa basa-basi.

Dia satu-satunya orang yang kadang memanggil dengan sapaan "Abang", kadang bertukar dengan kata ganti orang kedua, "kamu". Sekena rasa hatinya saat itu. Bukan karena sedang tak suka.

"Iya," sahutku.

Hari masih pagi. Namun jalan di depan rumah sudah cukup bising dengan lalu-lalang orang yang hendak pergi bekerja, sekolah, ataupun mengurus persoalan masing-masing. Tukang cakwe di pinggir jalan pun masih belum tuntas membenahi tendanya.

"Bisa keluar sebentar?"

"Ada apa?"

"Ada yang mau saya berikan."

Aku pun beringsut bangkit dari sofa dan beranjak ke luar rumah.

Dia menanti di pinggir jalan sambil duduk di sadel sepedanya. Helm serta kacamata balap tentu saja melengkapi jersey dan celana pendek sport. Dan sebagaimana kebiasaannya, ransel selalu bertengger di punggung.

"Kapan balik?" tanyaku karena tahu dia kemarin pergi naik gunung bersama beberapa kawannya di grup pecinta alam.

"Tadi malam," sahutnya.

Tanpa banyak bicara dia ulurkan seikat kecil bunga terbungkus plastik berlilit pita keemasan.

"Edelweis," gumamku.

Dia tersenyum kecil memperlihatkan gigi gingsulnya.

"Saya petik kemarin sore. Teringat Abang."

Agak kikuk kuraih bunga itu sambil berharap orang lewat tak terusik dan mengernyitkan kening atas adegan kontraversi ini karena biasanya pihak lelakilah yang memberikan bunga.

"Kamu tahu makna bunga sederhana ini?" tanyaku.

"Apa saya sebodoh itu menurut Abang?"

Aku hanya meringis. Sudah pasti dia tak bodoh untuk paham arti simbolis bunga Edelweis. Sehingga, pastinya dia juga tak bodoh memaknai pemberian ini padaku.

Berlangsung sepagi ini, di kesempatan pertama yang bisa dia lakukan. Tentu sesuatu yang sangat berarti. Bukan ketergesaan, lebih merupakan gejolak rasa yang tak sanggup dihalau.

"Ada lagi," katanya.

Dia membuka kantung luar ranselnya dan mengeluarkan sebentuk gelang anyaman benang 4 warna.

"Ini tak sengaja ketemu waktu kemarin membereskan laci. Saya buat sudah lama sekali, saat mengisi hari dan hati yang kosong. Waktu itu tak terpikir untuk siapa. Kini saya tahu kenapa dulu membuatnya," katanya sambil melonggarkan simpul gelang itu.

Kuulurkan lengan dan dia pasangkan di pergelangan tangan kananku.

"Rasanya seperti dilamar," gurauku menggoda.

"Kenapa? Gak suka?"

Ketus seperti biasa dan aku tak pernah punya hasrat untuk tersinggung padanya.

"Kalau saja ..." gumamku lirih sambil berlindung di balik kamuflase seringai lebar.

"Ya ..." sambungnya sepaham.

Aku memandangi wajahnya. Mencoba menembus tabir jiwa melalui bola matanya. Dalam hening yang amat rapuh. Begitu pun dia. Tanpa sentuhan. Sepenuhnya hanya diam saling pandang.

Sampai akhirnya dia sunggingkan senyum khasnya. Tak ada perih dan sesal.

"Saya jalan dulu ya," pamitnya.

Aku mengangguk kecil. Berat. Terasa sangat tak berdaya. Sekejap bisa kurasakan betapa dingin serpih keabadian yang tak pernah sanggup mewujud menembus dinding mimpi.

Hingga beberapa jenak aku masih berdiri tepekur di pinggir jalan. Nyaris tak berkedip memandangi dia mengayuh sepedanya dengan pelan, semakin jauh, hingga akhirnya hilang di kelokan jalan. Seperti perpisahan tanpa lambaian.

Orang kian banyak berlalu-lalang di sekitarku. Namun tak kudengar suara. Sunyi sempurna. Amat lama.

📌 Minggu, 19 April 2026 00:55 🌐 Bandung

📌 Minggu, 12 April 2026 🌐

Senjakala Cahaya Bening

Senjakala Cahaya Bening

— Artefak Hadirmu

Senjakala Cahaya Bening

Senjakala Cahaya Bening

Kita duduk bersisian menghadap ke jalan lengang tanpa saling pandang. Satu dua orang lewat di kejauhan terpaut jeda waktu lumayan panjang.

Kurasa sudah kelewat lama keheningan membelenggu. Hingga akhirnya mulutku tak tahan mendesiskan bisikan pelan, nyaris seperti keluhan yang sangat berhati-hati.

"Ada yang berubah."

Kamu diam.

Aku menyambung, "Tanpa penjelasan, kamu abaikan semua pesan saya di WhatsApp. Seperti ada yang kamu hindari. Berhari, minggu, hingga bulan."

Masih diam. Sekarang wajahmu sedikit menunduk menatap ujung sepatumu.

"Apa yang salah? Kalaupun ada, kan kamu bisa tegur langsung seperti yang sudah-sudah. Dan kamu tahu persis, tak sekali pun saya pernah mempersoalkan protes bahkan marahmu."

Tetap diam.

Kunyalakan sebatang rokok kretek dan membiarkannya membara tanpa dihisap di antara jari telunjuk dan tengah. Menunggu kamu bicara. Terbakar hingga setengahnya secara percuma.

Bergeming. Tak jua ada reaksi.

Rerumputan tempat kita duduk terasa kian dingin. Senja pun seperti enggan mengalirkan angin. Terasa agak menyesakkan.

Dan keheningan ini sangatlah menyebalkan.

"Berkali-kali kita janji ketemu hanya untuk makan siang di berbagai tempat yang menurutmu layak didatangi. Kemudian ngopi sepanjang sore dengan perbincangan yang kadang tak berbobot namun kerap juga menuntut perenungan mendalam hingga kita berdebat. Lalu kita berpisah kala matahari kian redam dalam kelam, saat saya antar kamu ke mobil atau stasiun kereta atau suamimu menjemput."

Tak sabar, aku lanjutkan.

"Kamu tentu masih ingat, pernah kita habiskan hari sejak pagi sekali di rumah kacamu. Lantas kita genapi sore di kawasan suaka Selatan kota. Hari terbaik kita, menurut saya."

Kuhisap dalam-dalam rokok yang terbakar percuma itu lalu memadamkan puntungnya di tanah.

"Saat itu tabir kabut yang turun membaur dengan ruap kopi panas di cangkir yang kita genggam erat karena udara teramat dingin. Dan saya bertanya, 'Sampai kapan kita bisa terus seperti ini?'. Kamu jawab, 'Selama Abang tak membawaku paksa ke tempat yang tak kuinginkan'."

Kamu, perempuan yang biasanya energik bertabur aura suka cita, kini hanya tepekur di sampingku dengan pandangan lurus menatap ujung sepatu putihmu.

"Saya tidak pernah memperlakukan kamu tak senonoh. Menyentuhmu pun sebatas wajarnya antarsahabat. Paling banter menggandeng, cium pipi saat jumpa dan berpisah," sambungku dengan canda mencoba menyibak kekakuan.

Ujung bibirmu sedikit tertarik dalam makna sangat sumir antara senyum dan perih.

"Bicaralah," pintaku penuh harap kamu tak membatalkan niat.

Lalu mulutmu mendesirkan kalimat singkat yang sangat pelan, nyaris seperti kepedihan yang amat rentan.

"Abang tak sayang aku."

"Kok gitu?" tanyaku kaget.

"Setelah sekian lama ..."

Jeda sejenak.

Lalu kamu lanjutkan dengan desir yang tetap pelan.

"... Abang tak pernah menciumku."

Sontak kepedihan itu melompat pindah ke ulu hatiku.

Kelu.

📌 Minggu, 12 April 2026 23:03 🌐 Melak