"Kamu di rumah?" langsung begitu suara pertama yang terdengar ketika panggilan ponsel kuterima. Sungguh tanpa basa-basi.
Dia satu-satunya orang yang kadang memanggil dengan sapaan "Abang", kadang dengan kata ganti orang kedua,"kamu". Sekena rasa hatinya saat itu. Bukan karena sedang tak suka.
"Iya," sahutku.
Hari masih pagi. Namun jalan di depan rumah sudah cukup bising dengan lalu-lalang orang yang hendak pergi bekerja, sekolah, ataupun mengurus persoalan masing-masing. Tukang cakwe di pinggir jalan pun masih belum tuntas membenahi tendanya.
"Bisa keluar sebentar?"
"Ada apa?"
"Ada yang mau saya berikan."
Aku pun beringsut bangkit dari sofa dan beranjak ke luar rumah.
Dia menanti di pinggir jalan sambil duduk di sadel sepedanya. Helm serta kacamata balap tentu saja melengkapi jersey dan celana pendek sport. Dan sebagaimana kebiasaannya, ransel selalu bertengger di punggung.
"Kapan balik?" tanyaku karena tahu dia kemarin pergi naik gunung bersama beberapa kawannya di grup pecinta alam.
"Tadi malam," sahutnya.
Tanpa banyak bicara dia ulurkan seikat kecil bunga terbungkus plastik berlilit pita keemasan.
"Edelweis," gumamku.
Dia tersenyum kecil memperlihatkan gigi gingsulnya.
"Saya petik kemarin sore. Teringat Abang."
Agak kikuk kuraih bunga itu sambil berharap orang lewat tak terusik dan mengernyitkan kening atas adegan kontraversi ini (harusnya pihak lelaki yang memberikan bunga).
"Kamu tahu makna bunga sederhana ini?" tanyaku.
"Apa saya sebodoh itu menurut Abang?"
Aku hanya meringis. Sudah pasti dia tak bodoh untuk paham arti simbolis bunga Edelweis. Sehingga, pastinya dia juga tak bodoh memaknai pemberian ini padaku.
Berlangsung sepagi ini, di kesempatan pertama yang bisa dia lakukan. Tentu sesuatu yang sangat berarti. Bukan ketergesaan, lebih merupakan gejolak rasa yang tak sanggup dihalau.
"Ada lagi," katanya.
Dia membuka kantung luar ranselnya dan mengeluarkan sebentuk gelang anyaman benang 4 warna.
"Ini tak sengaja ketemu waktu kemarin membereskan laci. Saya buat sudah lama sekali, saat mengisi hari dan hati yang kosong. Waktu itu tak terpikir untuk siapa. Kini saya tahu kenapa dulu membuatnya," katanya sambil melonggarkan simpul gelang itu.
Kuulurkan lengan dan dia pasangkan di pergelangan tangan kananku.
"Rasanya seperti dilamar," gurauku menggoda.
"Kenapa? Gak suka?"
Ketus seperti biasa dan saya tak pernah punya hasrat untuk tersinggung padanya.
"Andai ..." gumamku lirih sambil berlindung di balik kamuflase seringai lebar.
"Ya ..." sambungnya sepaham.
Aku memandangi wajahnya. Mencoba menembus tabir jiwa melalui bola matanya. Dalam hening yang amat rapuh. Begitu pun dia. Tanpa sentuhan. Sepenuhnya hanya diam saling pandang.
Sampai akhirnya dia sunggingkan senyum khasnya. Tak ada perih dan sesal.
"Saya jalan dulu ya," pamitnya.
Aku mengangguk kecil. Berat. Terasa sangat tak berdaya. Sekejap bisa kurasakan betapa dingin serpih keabadian yang tak pernah sanggup mewujud menembus dinding mimpi.
Hingga beberapa jenak aku masih berdiri tepekur di pinggir jalan. Nyaris tak berkedip memandangi dia mengayuh sepedanya dengan pelan, semakin jauh, hingga akhirnya hilang di kelokan jalan. Seperti perpisahan tanpa lambaian.
Orang kian banyak berlalu-lalang di sekitarku. Namun tak kudengar suara. Sunyi sempurna.
📌 Minggu, 19 April 2026 00:55 🌐 Bandung

