catatan-catatan kecil di sini tidak lebih dari percik pemikiran yang sempat tertuang ke dalam bentuk tulisan. kalaupun isinya tidak tertata baik ataupun tidak berkenan pada anda, demikianlah adanya kenyataan diri saya pada saat itu. setidak-tidaknya, ini semua adalah sebagian ungkapan kejujuran yang saya ingin berbagi dengan anda.
Ada pegiat musik di kalangan alumni ITB yang bilang tidak pernah bertemu
Gembong di Sekretariat IA-ITB sehingga memutuskan tidak memilih Gembong.
Dia mungkin tidak tahu bahwa ketika proposal dana kegiatan musik masuk ke
IA-ITB, sementara IA-ITB tidak punya sumberdaya, maka Gembong yang
menuntaskannya.
Tapi Gembong tak cerita.
Ada pengurus IA-ITB yang mengatakan Gembong tidak melakukan apa-apa selama
jadi Sekjen, sedangkan dia sendiri nyaris tidak pernah kelihatan
aktivitasnya. Dia memilih untuk tidak mendukung Gembong.
Di sisi lain, ada pengurus yang sangat aktif dalam berbagai kegiatan
IA-ITB yang bercerita bagaimana Gembong memfasilitasi banyak hal sehingga
kegiatan IA-ITB berjalan sukses. Dan dia dengan suka hati menyatakan
Gembong adalah pilihan terbaik sebagai Ketua Umum IA-ITB berikutnya.
Tapi Gembong tak pernah cerita.
Ada anggota Persatuan Sepakbola IA-ITB (PSIA) yang merasa Gembong tak
layak jadi Ketua IA-ITB sambil tidak sungkan merendahkan Gembong
Di sisi lain, ada pengurus aktif PSIA yang mengakui mereka bisa berlatih
di lapangan yang layak karena Gembong membantu urusan sewa lapangan. Dia
juga tahu persis bagaimana Gembong mengusahakan dana agar tim PSIA bisa
tur ke Eropa dan para pemain mendapat subsidi sangat besar.
Gembong pun tak pernah cerita.
Ada kawan lama yang menjadi anggota Steering Committee Kongres X IA-ITB
atas rekomendasi Gembong. Karena Gembong tak pernah cerita padanya, dia
mengira orang lain yang memasukkannya. Kawan lama ini memilih Caketum
lain.
Sayang sekali Gembong tak pernah cerita.
Ada juga seorang kawan lama yang dahulu mengalami kesulitan finansial dan
dibantu oleh Gembong. Entah apa sebabnya dia memutuskan menjadi pendukung
Caketum lain sambil menebarkan kabar buruk tentang Gembong.
Gembong memilih untuk tidak cerita.
Ketika saya bertanya pada Gembong mengapa tidak bicara, Gembong hanya
diam. Dan entah kenapa justru saya merasa teramat luka di dalam.
Kekuranganmu, kawan, engkau terlalu enggan menceritakan perbuatanmu yang
tak pernah meninggalkan seorang pun.
Namun saya masih sangat percaya bahwa Tuhan tidak tidur π
Para calon Ketua Umum Ikatan Alumni ITB (IA-ITB) periode 2021 - 2025
Masa kampanye Pemilihan Ketua Umum (Pilketum) IA-ITB ibarat sebuah etalase di
mana berbagai busana dipajang. Di sinilah para Calon Ketua Umum (Caketum)
menampilkan visi-misi dan program kerjanya untuk ditaksir oleh para calon
pembeli, yakni sekitar 130.000-an alumni ITB.
Di etalase ini poster, label, tata letak, dan pencahayaan dipadukan dengan
cermat guna memukau pada pandangan pertama.
Sebagian orang langsung memutuskan membeli busana tersebut karena terkesan
melihat model dan warna yang dianggap keren. Soal kepantasan tampilan,
bagaimana nanti sajalah π
Sebagian lain berminat mengetahui lebih jauh sehingga masuk ke dalam toko. Di
dalamnya ternyata ada catwalk di mana para Caketum tampil langsung
sebagai modelnya.
Inilah tahap di mana orang menikmati keserasian sang model dengan produknya.
Bentuk badan, gemulai lenggok, bahkan mimik wajah wajiblah suai dengan
busananya. Amatlah tak elok melihat model dengan busana kedodoran atau terlalu
sempit sampai semua lekuk dan tonjolan diobral tak semestinya π
Ada yang terpesona pada kerupawanan sang model sehingga memutuskan membeli
busana yang diperagakannya. Seperti pembeli di tahap etalase, kepantasan
tampilan mah kumaha engke lah π
Meski analoginya tak persis sama dengan peragaan busana, sesungguhnya ini
adalah moment of truth bagi sang model. Calon pembeli membandingkan
lenggok rekam jejak (track record) Caketum dengan materi kampanyenya.
Sejalankah karakter dan kiprah sang Caketum di masa lalu dengan program indah
yang dijajakannya? Ataukah semua ini hanya lips service agar
dagangannya laku?
Mari kita telisik beberapa rincian (yang kalau semuanya dipaparkan, akan
membuat tulisan ini sangat panjang).
Dari yang disampaikan dalam programnya, bisa kita bayangkan betapa ekstrem
perombakan organisasi yang dicanangkan oleh beberapa Caketum. Sayangnya,
mereka justru tak memiliki pengalaman mengelola organisasi nirlaba semacam
IA-ITB. Bahkan menjadi pengurus atau anggota organisasi sejenis pun tidak.
Apa yang diketahuinya tentang dinamika dan persoalan yang dihadapi IA-ITB?
Tidakkah dia tahu bahwa IA-ITB sesungguhnya terdiri dari banyak komunitas
mandiri (Pengurus Daerah/Pengda, Pengurus Jurusan/Pengjur, dan Pengurus
Komisariat/Pengkom) yang rata-rata sudah menemukan eksistensi dan sumberdaya
sendiri sesuai minat maupun kemampuan masing-masing?
Apa yang mau dirombak?
Sudah sejak lama saya berpendapat bahwa Ketum IA-ITB sebenarnya tidak perlu
berlagak merancang program baru yang kelihatan dahsyat seakan-akan IA-ITB
adalah kertas kosong di titik nol. Ketum hanya perlu menjalin berbagai titik
potensi tersebut sehingga berintegrasi dan bersinergi guna menghasilkan
resultante besar bagi komunitas mandiri tersebut maupun IA-ITB sendiri berikut
stake holder secara keseluruhan.
Tokoh besar Steve Jobs menyebutnya sebagai Connecting the Dots/CtD.
***
Ada juga Caketum yang trengginas menyatakan siap mendukung alumni yang tengah
berkutat dengan kesulitan pendanaan ataupun jejaring bisnis, namun ternyata
tak pernah punya sejarah memberikan solusi.
Kalaupun mau dilakukan, dari mana dananya? Wong biaya operasional
IA-ITB per tahun yang mencapai Rp 5M s/d Rp 7M pun diperoleh dengan susah
payah melalui donasi ataupun penyelenggaraan acara berbayar. IA-ITB tidak
memiliki pendapatan tetap karena tidak punya bisnis. Jadi, jangan
membayangkan di laci meja Ketum tersedia banyak gepokan uang atau kartu ATM
π
Namun, bersyukurnya, ada beberapa Caketum yang sudah sejak lama melakukan
hal ini dengan merogoh koceknya sendiri ataupun membuka hubungan dengan
alumni lain yang memiliki kelonggaran dana serta gairah (passion)
berbagi.
Menindaklanjuti program CtD yang berfungsi menautkan berbagai potensi
alumni, dibentuklah mekanisme pemberdayaan, di mana alumni yang kuat
mendanai dan mendampingi alumni yang membutuhkan.
Melalui mekanisme yang dinamakan Alumni Finance Alumni/AFA ini,
alumni yang masih berjuang membangun bisnis maupun profesionalismenya
melalui usaha rintisan (startup), Usaha Mikro - Kecil - Menengah
(UMKM), pendanaan projek, maupun sertifikasi profesi pun memiliki peluang
untuk berhasil.
Pada gilirannya, ketika mereka sudah membuahkan produk/jasa yang dapat
diandalkan, disediakanlah etalase dalam pentas
IndonesianIsMe yang mempertemukan pembuat, pembeli, peneliti, dan
juga pendana sehingga terjalin kerjasama yang mutualistis.
***
Ada pula Caketum yang dengan bangga mengklaim peduli pada masyarakat, namun
ternyata belum pernah punya kiprah melakukan aksi sosial di luar
kewajibannya menyalurkan dana CSR perusahaan yang [tentu saja] bukan
miliknya.
Namun di masa kampanye, yakni di etalase toko, Caketum tidak merasa sungkan
membuat projek dadakan yang sangat disangsikan akan terus berlanjut, baik
jika dia berhasil menjadi Ketum apalagi tidak.
Atau, yang paling dekat, adalah masyarakat almamater Kampus Ganesha sendiri,
yakni mahasiswa ITB. Ada sekian banyak mahasiswa yang mengalami kesulitan
membiayai kuliahnya, yang total tunggakannya berkisar di Rp 2M.
Atas inisiatif Badan Pengelola Usaha dan Dana Lestari (BPUDL) ITB, dibuatlah
acara di mana para Caketum yang nota bene adalah figur terbaik (par excellence) dan saripati (crème de la crème) pengejawantahan nilai-nilai kealumnian
diminta mengisi pundi-pundi beasiswa sebagai teladan (role model)
bagi alumni lain. Ternyata, dari 8 Caketum hanya 5 yang menyatakan
kesanggupan membantu.
Terlepas dari berapa nominal yang dijanjikan, pembuktian niat merupakan
ujian nyata bagi mereka dalam menerapkan salah satu bentuk kepedulian yang
langsung terasa pada masyarakat.
***
Sekitar 2 bulan para alumni ITB disajikan pemandangan bagus di etalase para
Caketum dan menikmati lenggok mereka di catwalk. Kini saatnya kita
masuk ke ruang ganti untuk mencoba busana yang mereka peragakan.
Di depan cermin kita akan melihat seberapa pantas busana itu pada diri kita.
Sebab, sesungguhnya, para Caketum yang menjadi model adalah sosok yang akan
menjadi sokoguru dari semua program yang dia kampanyekan dan kita semua
adalah titik-titik yang berhimpun dalam organisasi IA-ITB. Bersama-sama,
kita semua menjadi kumpulan penuh warna.
Akan datang masanya orang di luar memandang kagum melihat keserasian kita
ataupun mencibir geli melihat kejanggalan kita dengan busana
pabaliut.
Selamat memilih busana yang pantas.
Demi Tuhan, Bangsa, dan Almamater π
CtD, AFA, dan IndonesianIsMe adalah program-program yang diusung oleh
kandidat #3, Gembong Primadjaja.