catatan-catatan kecil di sini tidak lebih dari percik pemikiran yang sempat tertuang ke dalam bentuk tulisan. kalaupun isinya tidak tertata baik ataupun tidak berkenan pada anda, demikianlah adanya kenyataan diri saya pada saat itu. setidak-tidaknya, ini semua adalah sebagian ungkapan kejujuran yang saya ingin berbagi dengan anda.
Bagaimana pun ceritanya, kita tidak berhak menghakimi jalan hidup dan pilihan
seseorang karena kita tidak tahu seberat apa perjuangan seseorang dalam
menjalaninya.
Orang bisa saja mengatakan itu salah, memalukan, cemen, dsb. Biarkan.
Janganlah dijadikan beban. Toh semua sudah tak bisa diubah.
Jangan biarkan diri kita larut dalam kondisi yang melahirkan perasaan-perasaan
menyesal. Apa pun yang sudah terjadi, seharusnya memberi makna bagi hidup
kita, membuat kita lebih baik. Kita ambil sisi positif bahwa kita justru akan
lebih baik setelah mengalaminya walau mungkin saat ini dianggap/terasa salah
dan menyakitkan.
Hanya dengan demikian maka semua itu tidak menjadi kesia-siaan.
Para sahabat, kontributor, dan pecinta olahraga golf yang saya hormati,
Pertama-tama, atas nama panitia turnamen serta warga alumni ITB 83, izinkan
saya menyampaikan terimakasih pada bapak/ibu atas partisipasinya dalam
kegiatan Turnamen Golf Mari Berbagi 2019 yang diselenggarakan oleh
Yayasan G83, suatu wadah para alumni ITB angkatan 83 berkegiatan sosial
bagi civitas academica maupun masyarakat umum.
Merupakan sebuah kehormatan sekaligus tanggungjawab besar bagi kami
melangsungkan turnamen ini dalam rangka menggalang dana bagi kelangsungan
program STEAM (science, technology, engineering, arts, mathematics), yakni media pelatihan para guru guna menyelenggarakan proses pembelajaran
yang memanfaatkan pengetahuan interdisiplin serta pendekatan aplikatif sesuai
konteks lokalnya.
Berdasarkan tanggapan dan laporan penerapan metode STEAM oleh para guru di
sekolah masing-masing, kami optimis program yang sudah kami laksanakan selama
sekian tahun ini dapat menjadi sumbangsih bagi generasi emas Indonesia
menyongsong 100 tahun Indonesia.
Kami sangat sadar bahwa harapan maupun pencapaian tersebut tidak lepas dari
partisipasi banyak pihak, khususnya bapak/ibu yang telah berkenan mendukung
turnamen golf ini, sebagai kepedulian kita untuk berbagi, terutama pada
saudara-saudara sebangsa-setanahair yang lebih membutuhkan.
Akhirnya, perkenankan saya meminta maaf apabila dalam penyelenggaraan acara
ini masih ada pelayanan kami yang dianggap kurang berkenan.
Peluncuran "Hari Baru" di Indonesianisme Summit Jakarta Convention
Center
Kemarin malam, sengaja saya menyisihkan waktu untuk bertemu Mas Rizal, Mas
Anton, Mas Rois, dan Mbak Audist Subekti, panitia acara
Indonesianisme Summit 2019 yang diselenggarakan pada tanggal 13 dan 14
Agustus 2019 di Jakarta Convention Center. Adapun tujuan saya
sowan pada mereka adalah dalam rangka mengenal lebih dalam tentang
Indonesianisme serta menyesuaikan sinergi karya kawan-kawan
Komunitas Musik ITB (KMI) yang dituangkan dalam bentuk video lagu.
Dari perbincangan santai selama beberapa saat di
Soma Coffee GBK akuatik, saya menangkap beberapa poin penting yang menurut saya sungguh luar biasa.
Indonesianisme Summit bukanlah sekadar ajang seminar, bukan pula pameran
semata-mata. Di sinilah kita memberikan apresiasi atas pencapaian yang sudah
dapat dinikmati manfaatnya oleh masyarakat dan sekaligus menjadi wadah
motivasi atas inovasi para perusahaan rintisan (start up). Bahkan,
lebih dalam lagi, di sinilah para pelaku teknopreneur berdialog dalam proses
pembelajaran yang tak kenal henti.
Misi besar Indonesianisme adalah memberi ruang yang layak bagi kreativitas dan
upaya anak bangsa berkiprah di tanah airnya sendiri, memberikan sumbangsih
pada bangsa dan negara, melalui kompetensi di bidang teknologi dan industri.
Menurut hemat saya, semua ini hanya bisa diwujudkan apabila segenap potensi
bangsa disinergikan. Melimpahnya sumber daya alam Indonesia bisa memberi
manfaat sebesar-besarnya sesuai amanat konstitusi apabila dikelola secara
optimal oleh sumber daya manusianya. Dalam hal ini, kebanggaan sebagai pembuat
dan pelaku industri menjadi sangat penting.
Itu sebabnya forum ini dinamakan Indonesianisme.
(Jadi teringat diskursus yang berlangsung sekian tahun lalu, ketika acara ini
hendak diluncurkan untuk pertamakali. Saya menjadi salah satu pendukung
penggunaan istilah ini dengan melafalkannya sebagai
Indonesian is Me 😜)
Berbagai potensi perlu dicurahkan dan dipadukan dalam semangat baru ini. Tidak
terbatas pada kemampuan di bidang teknik saja melainkan juga budaya. Terutama
budaya kerja, optimis, dan gotong-royong. Itulah modal besar bangsa kita yang
sudah teruji sejak dulu.
Sebagai perwujudan dukungan budaya pada Indonesianisme, kawan-kawan dari KMI
mempersembahkan kolaborasi musik yang mereka namakan
Panggilan Negeri: Hari Baru. Melalui lagu ini, kita semua diingatkan
bahwa sesungguhnya kejayaan negeri ini ada di tangan kita semua. Bahwa harapan
bisa menjadi kenyataan ketika kita bangga sebagai bangsa Indonesia.
INDONESIAN IS ME!
Inilah video kolaborasi mereka dalam menyemarakkan semangat Indonesia.
Kamis yll (23/5) aku mentekadkan niat project ini di depan teman2
Non-Skill. Teman2 langsung soor. Menkan, kata mereka.
Menkan. Itu bukan tekad main2 mengingat yang di menkan ini adalah dalam 6
hari mengkompose lagu, membuat musik dan merekamnya dengan pelibatan puluhan
orang dan ... Kamis depannya (30/5) sudah dijadwakan shooting.
Belum lagi tantangan buat Non-Skill untuk mengumpulkan support
teman2, untuk ikut shooting dan terebih ngumpulin dananya.
Selama dua hari (Jumat dan Sabtu) aku udah bekutat bikin satu lagu dari satu
tema. Cukup bagus, tinggal pengembangannya. Masih diselingi dengan bbrp
pre-production meeting dengan para producer (Non-Skill) dan team
produksi Video, hari Minggu saat ditanya teman2 aku jawab “udah hampir jadi,
sedikit lagi, sabar ya ..."
Ternyata jalannya lain.
Minggu malam (tepatnya Senen pagi banget, jam 2) aku terbangun dan tiba2
dapat tema baru. Simple, mudah buat sing-a-long. Langsung bangun dan mainkan
gitar yang ada di sebelah tempat tidur. Corat-coret, rekam di HP, dalam 1,5
jam lagu “Ini hari yang baru” langsung jadi, lagu dan syairnya.
< 5/31, 09:47 >
Kemarin mungkin suram, banyak hal yang kita sesali
Iri, dengki dan benci, entah mengapa terjadi begitu saja.
Bisakah kita tinggalkan semua, yang lalu, walau mungkin masih ada luka
Dan janganlah biarkan itu, ganggu langkah kita, O o o o ...
Karena di pagi ini, fajar yang datang ceria berwarna-warni
Seakan janji Yang Kuasa, keindahan kan datang didepan kita.
Reff:
Ini hari yang baru, harapan baru, Ooh, Ooh
(Untuk kau dan aku)
Ayun langkah hidupmu, dalam semangat baru Ooh, Ooh.
(Sambut masa depanmu)
Tak lagi resah bersengketa, ucap kan kata, nyanyikan madah cinta
Nada kata berpadu, dalam harmoni
Jadi simfoni semesta
Karena di pagi ini, fajar yang datang ceria berwarna-warni
Seakan janji Yang Kuasa, keindahan kan datang didepan kita.
Reff:
Ini hari yang baru, harapan baru, Ooh, Ooh
(Untuk kau dan aku)
Ayun langkah hidupmu, dalam semangat baru Ooh, Ooh.
(Sambut masa depannu)
Ini hari yang baru, harapan baru, Ooh, Ooh
(Untuk kau dan aku)
Bersama kita maju, sambut tanganku, Ooh, Ooh
(Ini hari yang baru)
Bridge2:
Dengan tekad, cinta dan doa tulus
Bila teguh bersatu
Kita pasti jaya
Indonesia pasti Jaya!!!
Reff:
Ini hari yang baru, harapan baru, Ooh, Ooh
dst ...
< 5/31, 10:57 >
Lanjutan dongeng:
Senen dinihari lagu jadi, paginya langsung ketemu Erwin Badudu di studionya
untuk brief pembuatan musik. Dimulai dengan musik dasar. Langsung aku mainin
gitar, dan lanjut isian drum dan keyb oleh Erwin. Malamnya musik dasar sudah
keliatan bentuknya. Namun malam itu aku sambil minta maaf masih kasih bbrp
tambahan dan koreksi. Hmmm ☺
Selasa, jadwal pengisian vocal akan dimulai tengah hari. Namun teteup
paginya masih ada perubahan tempo lagu dari aku. Rubah tempo loh!!
Hahhahaha.... Maaf mas Erwiiin...
Musik dasarpun siap siang itu dan pengisian vocal dimulai.
Tak kurang dari 20 orang digilir mengisi vocal. Mulai dari Candil, Ferina,
LTD, The Last Eighties, Paul, Henry dan geng Non Skill ikut mengisi main
vocal. Sementara geng Deadliners keroyokan mengisi choir nya. 👍👍👍👍.
Hari Rabu bbrp vocalist masih ngantri ngisi vocal. Lalu sorenya sentuhan
akhir yang ditunggu2 pun bisa dilakukan: pengisian gitar oleh Iyoes.
Langsung beda! Gitar yang tadinya diisi oleh saya, sekedar “guide”, kini
semua track diganti oleh Iyoes.
Hasilnya, Shimmering!!! Nyawanya lengkap deh itu lagu.
Sekedar info, lagu yang diciptakan oleh gitaris biasanya kentara. Pilihan
chordnya “ketauan” dari chord gitar. Dan biasanya, lagu ciptaan gitaris
“nyawanya” ada di isian2 gitarnya. Makanya pengisian gitar, rythm dan lead
itu bagaikan hembusan nyawa yang penting.
Rabu malam mas Erwin kirim hasil mixing sementara, untuk kepentingan
shooting Kamis. Komentarnya: Ton, ini keren bangeeet!!!
Demikianlah pesan dari Bang Toni Sianipar ke grup.
Terus-terang, saya takjub pada kerjaan kali ini. Bukan karena saya terlibat
lalu memuji. Wong peran saya kecik kalipun ... 😊
Yang bikin takjub adalah keterlibatan semua pihak, terkhusus para
performer vokal dan musik, yang menurut saya sangat pas mengisi semua
ruang. Seperti puzzle yang tepat di tempatnya.
Begitu juga animo kawan-kawan yang berpartisipasi memeriahkan rekaman.
Antusiasme yang tak terduga dan sungguh membuat riang hati.
Konon, kebetulan atau keajaiban itu hanya datang 1x. Ternyata kita mengalami
berkali-kali dalam minggu ini. Sungguh Tuhan sayang sama kita ... 🙏
10 hari terakhir bulan ramadhan ini benar-benar menjadi berkat. Dari Ganesha
untuk Indonesia ...
Seniman menyadarkan bahwa ada sesuatu di sini saat ini.
Membuka ruang bagi interpretasi, dialektika, dan dialog untuk menentukan
takdir sendiri.
Entah apa pasal, tanggal 24 Mei sore, tiba-tiba di WhatsApp Group (WAG)
Musicology'83 muncul undangan untuk berpartisipasi dalam pembuatan
video klip lagu yang bertema Indonesia. Tak jelas siapa penggagas acara ini.
Tapi sudah terbayang bahwa ini pasti kerjaan oknum
Komunitas Musik ITB alias KMI.
Menautkan kembali memori sekian perbincangan sambil lalu bersama beberapa
kawan KMI, serta mengkorelasikan dengan barbuk (barang bukti) berupa foto
bertemunya beberapa warga KMI di Citos pada malam sebelumnya, analisis
konspiratif saya langsung memerintahkan untuk mencari konfirmasi kepada salah
satu orang yang ada dalam foto barbuk tersebut. Bang Toni Sianipar.
"Ini projek yang dibahas semalam dengan Tito, Noor, Batara, dan Chika ya?"
tembak saya langsung.
"Yes!!", jawab Bang Toni lugas.
Hehehe ... Karena selama ini kalau japrian dengan Bang Toni biasanya bahasan
kami 83% serius dan to the point, maka jawaban Bang Toni pun tanpa
tedeng aling-aling. Malah tanpa ba-bi-bu saya langsung diundang masuk
ke grup kerja. Jadilah saya mulai ikut bersibuk-ria bersama mereka.
25 Mei sore kami bersua di tempat kami biasa kongkow, Soma Coffee di kawasan
Akuatik GBK. Hadir Bang Toni, Bang Tito, Mas Noor, Mbak Chika, Mbak Audist,
Bang Teddy. Bang Batara menyusul agak malaman dengan membawa upeti duren Ucok
Medan.
Berhubung saya gabung belakangan, maka saya lebih banyak menyimak diskusi
tinimbang nimbrung. Pokoknya saya siap mendapat penugasan. Diskusi berlangsung
intens dan efektif. Pembagian kerja dilangsungkan tanpa banyak cerita dan
komplain.
Sempat saya berpikir, ini orang-orang pada gila, kali ya. Sudah bikin
woro-woro ngajak banyak alumni untuk ikutan rekaman video, padahal
lagunya saja belum jadi. Terus, saya diminta bikin narasi tentang acara ini.
Beneran edan, kan?
Pulang dari pertemuan, saya tidak bisa tidur sampai subuh. Gak dapat ilham
bagaimana menjustifikasi dengan mulus kaitan ITB dan Indonesia dengan musik.
Benang merahnya sih bisa saja dikarang. Pandai-pandai Bang alof sajalah, kata
mereka. Buntu pikiran! Sementara saya sudah sekian tahun berhenti menulis utuh
(sebagai dampak buruk media ngobrol WhatsApp yang biasanya hanya berbentuk
komentar singkat).
Sementara saya dilanda kebingungan bagai ayam kena sakit tetelo,
kawan-kawan sudah bergerak cepat ala blitzkrieg pasukan Jerman. Bang
Tito dan Mas Noor langsung menampilkan pesona diri mereka pada kawan-kawan
Persatuan Golf Ganesha (PGG) untuk mendapatkan dukungan dana. Mbak
Audist dan Mbak Chika menghubungi sana-sini dalam rangka menyiapkan fasilitas
shooting termasuk juga mencari dana. Bang Batara pun tak kalah gesit
mendorong kawan-kawan ITB 86 Master untuk meringankan beban. Woro-woro melalui
WAG Komunitas Musik ITB (KMI) maupun WAG band masing-masing pun jalan,
baik untuk dukungan dana maupun peserta rekaman.
Benarlah dugaan saya. Mereka ini memang orang gila sehingga dalam tempo 1
malam saja sudah terkumpul dana yang memadai untuk melangsungkan perhelatan
ini.
Dan untuk kesekian kalinya, saya yang bukan golfer harus angkat topi
berikut keempat jempol pada kawan-kawan PGG yang tanpa banyak cingcong
langsung membuka kocek sehingga dana yang mereka kontribusikan bahkan
melampaui 2x prediksi Bang Tito. Bang Tito dan Mas Noor selalu bilang bahwa
PGG ini adalah kelompok orang urakan ugal-ugalan tapi punya rasa solidaritas
tinggi, apalagi kalau bicara soal almamater dan kemanusiaan.
Sekelompok orang gila ketemu kelompok gila lain, jadilah sebuah kegilaan
besar. Dan, konon, dunia ini berubah karena ada sebagian orang yang berani
gila mengambil jalan yang berbeda.
Hail, PGG! We salute you!
Bai bai en gutnait, mayfrens.
Maunya sih nulis lebih panjang dan seru. Tapi saya harus istirahat dulu,
karena pagi-pagi nanti harus menggotong projektor dan layarnya ke tempat
shooting di Telkom Landmark Tower agar sekitar 200-an peserta rekaman
lancar melafalkan teks lagu yang baru selesai kemarin. Kapan-kapan saya
sambung lagi deh kalau mood.
Tahun depan, 2020, ITB tepat berusia 100 tahun. Seperempat abad kemudian,
Indonesia mencapai usia yang sama setelah kemerdekaan 17 Agustus 1945. Sebuah
rentang waktu yang masih pendek untuk menakar peradaban, namun cukup layak
untuk mengukur langkah kemajuan.
Sebagai sebuah institusi dan komunitas, ITB adalah miniatur Indonesia yang
kaya dengan keanekaragaman latar belakang, disiplin ilmu, pemikiran, upaya,
maupun pencapaian. Peran ITB bagi Indonesia pun kian penting tatkala sains dan
teknologi merupakan ujung tombak kemajuan dunia masa kini.
Namun pertanyaan yang jauh lebih penting bukanlah apa yang sudah diraih dan
diberikan oleh ITB bagi Indonesia selama ini, melainkan kontribusi nyata dalam
menyongsong 100 tahun kemerdekaan Indonesia, bahkan setelahnya.
Begitu pula mengenai keragaman, yang di satu sisi merupakan potensi luar biasa
yang akan menghasilkan karya besar apabila bersinergi. Namun, di sisi lain,
juga memiliki daya gerus yang tak kalah dahsyatnya. Perjalanan bangsa dan
negara kita tak luput dari tarik-menarik kedua kutub kemungkinan ini. Sungguh
kita patut bersyukur Indonesia mampu bertahan, yang tak lepas dari terjaganya
solidaritas dan kesetiaan pada negara anugerah Tuhan ini. Walau dalam beberapa
hal perbedaan itu tampak mengkristal, namun pada dasarnya tetap tersedia ruang
dialog bagi keselarasan hidup bersama.
Pada masa dialog terasa buntu akibat pudarnya makna kata, kebudayaan mengambil
posisi sebagai media yang paling tepat untuk mengembalikan rasa paling
fundamental bagi semua manusia, yakni
memiliki tempat yang nyaman di antara keramaian. Tidak teralienasi.
Salah satunya adalah melalui musik. "When words fail, music speaks", demikian kata pencerita besar Hans Christian Andersen. Dalam musik, setiap
orang mendapat tempat, walau hanya sebagai penikmat atau sekadar bersenandung,
bersorak, dan bertepuk-tangan.
Sebagai tanggapan kesadaran menuju 100 tahun ITB serta tantangan tahun emas
Indonesia, Komunitas Musik ITB (KMI) terpanggil untuk menguak celah
perjumpaan segenap civitas academica ITB dalam memberi kesempatan pada
KATA agar bisa kembali menjadi KITA.
Untuk itu, KMI akan menyelenggarakan sebuah perhelatan rekaman lagu dan video
klip dengan tajuk
Dari Ganesha untuk Indonesia: ”Bila Bersatu, Kita ‘kan Jaya”
Sangat diharapkan peran-serta teman-teman KMI serta
civitas academica ITB untuk menyanyi dan tampil bersama dalam video
klip ini, yang membutuhkan hingga 200 orang penampil.
Proses rekaman vokal akan dimulai awal minggu ini, sementara
shooting video akan diadakan pada:
Hari Kamis, 30 Mei 2019(hari libur)
di
Auditorium Telkom Landmark Tower (TLT) Jl. Jendral Gatot Subroto,
sejak pukul 11 WIB.
Mari berpartisipasi menyukseskan kegiatan ini. Yang tentunya tidak akan
berhenti sampai pembuatan video klip saja. Masih banyak peluang kegiatan lain
yang layak kita dukung dalam rangka menyongsong
100 tahun ITB menuju 100 tahun Indonesia.
Ini gawean kita bersama, mewujudkan karya kita bersama. Yuuk kita
gotong-royong membantu keberhasilan gagasan ini 🙏
Kontribusi dapat disalurkan melalui rekening:
Bank Mandiri ac. xxxxxxxxxxxxx
BCA ac. xxxxxxxxxx a/n. xxxxxx xxxxxxxxxx x
Terima kasih atas partisipasinya.
In harmonia progressio.
Demi Tuhan, bangsa, dan almamater.