Perempuan dan cermin adalah keseharian yang amat biasa. Terlalu biasa. Nyaris tak ada keistimewaan atas perilaku rutin ini.
Cermin itu sendiri sekadar memantulkan citra yang mampu dicerna mata, sejauh diperkenankan oleh sang perempuan.
Namun perempuan di balik cermin adalah cerita tersendiri yang kerap tak terjangkau mata bahkan mata hati orang lain.
Di balik cermin, seorang perempuan hadir utuh dan telanjang, memperlihatkan keping-keping perjalanannya. Ada luka, letih, kecewa, keringat, air mata, darah, nanah, dan trauma. Namun di situ juga ada bangga, suka cita, harapan, hingga berbagai gumpal rasa tersembunyi yang tak terurai oleh kata.
Di tiap kepingnya tergurat epos kecil upaya menggapai kepenuhan diri yang kerap harus mengalami penghancuran. Berulang dan berulang. Menyerpih.
Hanya karena asa masih berpijar maka kepingan-kepingan ini direkat kembali dengan perjuangan amat keras agar tiap kisah yang dibawanya tak sia-sia. Berbekal kerelaan mengakui ketidaksempurnaan, perempuan itu merangkai kembali semua keping terserak dengan bingkai rekatan emas kerendahhatian.
Walau masih tersisa lubang hitam di sana-sini, kelahiran kembali sosoknya sebagai perempuan baru melahirkan keindahan dalam kisah tersendiri. Sebuah optimisme paripurna dalam mosaik menggentarkan.
Sungguh, perjalanan belum selesai. Sedangkan waktu bagai singa mengintai yang siap menerkam tiap saat.
Namun senyum tersungging di bibir retak menyampaikan tekad bergeming, "Saya baik-baik saja meski kau tak tahu betapa nyaris sebuah kehidupan pupus dalam kesuraman makna."
📌 Rabu, 23 Agustus 2023 01:48 🌐
