catatan-catatan kecil di sini tidak lebih dari percik pemikiran yang sempat tertuang ke dalam bentuk tulisan. kalaupun isinya tidak tertata baik ataupun tidak berkenan pada anda, demikianlah adanya kenyataan diri saya pada saat itu. setidak-tidaknya, ini semua adalah sebagian ungkapan kejujuran yang saya ingin berbagi dengan anda.
Sekitar jam 16, pesawat yang membawa kami dari Jakarta pun mendarat di bandar
udara Abdurahman Saleh, Malang, milik TNI Angkatan Udara. Setelah turun dari
pesawat dan berjalan menuju gerbang keluar, saya melihat Tidy beserta Jhoni,
suaminya, sudah menanti di pinggir landasan dibatasi oleh pagar kawat. Quinn
yang baru berusia 6 bulan pun turut menjemput kami walau dia baru bisa merapat
di pelukan ibunya. Ah, anak itu cepat sekali tumbuh. Sudah barang tentu jauh
lebih besar dibanding keadaannya 6 bulan yang lalu ketika kami pertamakali
menyambut kehadirannya di dunia ini 😞
Tanpa harus dikomando ataupun diskenariokan, kami semua langsung menampakkan
semangat untuk "berkenalan" dengan Quinn yang ternyata amat murah senyum
dengan sepasang lesung pipinya. Apalagi dia tidak terlalu takut pada orang
baru, sehingga kami bisa puas mempertontonkan wajah kami yang menjadi jelek
karena dimonyong-monyongkan.
Ternyata, anak itu berkulit putih. Semula saya menyangka Quinn berkulit gelap
mewarisi gen ayahnya (bukan gelap dalam pengertian hitam, tetapi tidak putih)
gara-gara foto Quinn kelihatan gelap. Saat menerima foto yang dikirim Tidy
beberapa bulan lalu melalui telepon seluler itu spontan saya berkomentar,
"Seperti anak Ambon". Terlebih-lebih karena dalam foto itu rambut Quinn sangat
tebal dan agak ikal.
Tidak saya duga bahwa komentar pendek semacam itu ternyata agak memukul
perasaan Tidy sehingga dia "mengadu" pada Lisna (adik bungsu saya yang tinggal
di Bogor yang kebetulan melahirkan Patrick sehari lebih awal dari Quinn).
Padahal saya sama sekali tidak bermaksud mengatakan anaknya jelek. Sama sekali
tidak ada hubungan antara Ambon dengan jelek. Lagipula, siapa yang bilang anak
Ambon jelek? Sebaliknya, malah banyak anak Ambon nan manise.
I can prove it 😞
Kasih anak sepanjang galah, kasih ibu sepanjang jalan. Demikian bunyi
peribahasa yang dulu saya kenal di masa kanak-kanak. Seorang ibu tidak akan
putus mengasihi anak-anaknya, tidak peduli bagaimanapun jeleknya ataupun
jahatnya sang anak, bahkan meski sang anak telah sangat menyakiti hati dan
tidak mengasihi ibunya lagi. Mungkin hanya di legenda Malin Kundang saja
seorang ibu tega mengutuk anaknya.
Dari situ saya belajar untuk tidak berkomentar spontan tanpa pikir panjang
(meskipun hal ini sangat sulit buat saya 😞). Apalagi tentang seorang anak
kecil. Bisa-bisa kena terjang, bagai diserang induk ayam yang selalu siap
bertarung demi menjaga anak-anaknya.
Setelah sekian tahun, saya baru sadar bahwa tulisan ini belum selesai. Malah
lupa mau menulis apa lagi ... 😵
Adik saya, Michael, menelpon sekitar jam 21 bahwa dia sedang menuju rumah
tempat tinggal saya. Katanya, supaya sopirnya --yang esok hari akan menjemput
dan mengantar saya ke bandara-- tahu jalan. Saya, Mami, Yosephine (kakak
saya), dan Clarissa (anak bungsu Kak Yose) akan ke Malang esok hari guna
menghadiri pembaptisan Quinn (anak Tidy, adik saya) pada hari Minggu yang akan
datang.
Semula saya pikir Michael datang dari rumahnya di Cibubur sehingga saya
memberikan ancar-ancar lokasi berdasarkan perkiraan tersebut dengan
menggunakan kampus UKI di Cawang dan Jalan Casablanca sebagai patokan.
Ternyata dia datang dari bandara langsung setelah mendarat dari perjalanan
dinasnya. Akibatnya, dia dan sopirnya pun salah mengambil belokan di
Casablanca dan terpaksa berputar-putar sejenak di kawasan
by-pass Jatinegara. Walau sudah dipandu melalui telepon seluler, tetap
saja diperlukan waktu hampir 2 jam untuk tiba di tempat tinggal saya sejak
saat pertamakali Michael menelpon saya.
Asumsi dan penyimpulan adalah 2 hal yang perlu dilakukan secara cermat.
Kelengkapan dan ketepatan informasi merupakan modal yang sangat penting
dalam menghubungkan kedua titik tersebut. Melalaikan peran dan porsi
masing-masing akan menyebabkan pemborosan bahkan kegagalan.
Di sisi lain, kemauan untuk melakukan uji coba merupakan langkah yang sangat
diperlukan tatkala sesuatu diperkirakan memiliki risiko. Daripada tersesat
keesokan harinya, yang dapat mengakibatkan kerugian lebih besar akibat
terlambat tiba di bandara, lebih baik menyediakan upaya ekstra untuk
menjamin tingkat keberhasilan pada saat pelaksanaan.
Latihan adalah kata lainnya. Practice makes perfect, kata orang
Inggris. Atau dalam peribahasa kita, alah bisa karena biasa.
Sabtu, 6 Desember 2008
Saya sudah bersiap-siap sejak pukul 8 pagi. Menurut rencana, sopir adik saya
berangkat dari Cibubur sekitar jam 8.30 dengan membawa Mami, Kak Yose, dan
Clarissa yang sudah tiba di rumah Michael sejak kemarin sore. Berdasarkan
perkiraan dari pengalaman sehari-hari, perjalanan dari Cibubur ke tempat saya
memakan waktu sekitar 1 jam sampai 1,5 jam. Sedangkan ke bandara, biasanya
dicadangkan waktu 2 jam.
Ternyata, jalanan amat lengang (tentu ada hubungannya dengan libur Idul Adha
yang jatuh pada hari Senin). Jarum jam belum menunjukkan pukul 9 ketika mereka
tiba. Terlalu dini untuk berangkat ke bandara sebab pesawat baru akan
berangkat pukul 13.30. Maka, waktu sekitar 1 jam pun dimanfaatkan untuk
ngobrol-ngobrol di rumah bersama dengan Riris, Roberto (adik bungsu Riris),
dan ibunda Riris (artinya, ya mertua saya 😞).
Kadang-kadang kemudahan dan kelancaran yang kita terima malah melahirkan
kebingungan. Kita tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika sesuatu
berlebih. Orang lebih bersiap menghadapi kekurangan tinimbang kelebihan.
Kelebihan waktu bisa membuat kesal karena sama artinya dengan menunggu,
sedangkan waktu tersebut tidak bisa kita sedekahkan atau tukar dengan barang
lain. Membunuh waktu kerapkali menuntut kreativitas yang tidak sederhana,
apalagi jika dilakukan bersama-sama dengan orang lain yang berbeda minat.
Beruntung manusia memiliki kemampuan untuk berbincang-bincang dengan
sesamanya.
Kebetulan, sehari sebelumnya, Clarissa tepat berusia 4 tahun. Riris --yang
memang jauh lebih perhatian pada keponakan-keponakan saya dibanding saya
sendiri-- menghadiahi Clarissa baju hangat dan baju terusan. Sebagaimana
lazimnya perilaku anak kecil terhadap barang baru, baju hangat itu pun
langsung dipakainya.
Meskipun kakak Clarissa tidak berulangtahun (dan saat itu pun tidak ikut
karena sedang mengikuti ulangan umum kelas 4 SD), dia pun mendapat hadiah.
Ulangtahun seorang anak ternyata bukan hanya sekali dalam setahun. Dia pun
wajib mendapat hadiah jika saudaranya mendapat hadiah. Bagi anak seusia itu,
keistimewaan ulangtahun belum merupakan suatu hal yang bisa dimengerti.
Keadilan adalah sebuah konsep yang penerapannya sangat kontekstual, tidak
bisa digebyah-uyah (jeneralisasi). Pengertian/pemahaman mengenai keadilan
adalah hal pokok yang perlu dimiliki oleh semua pihak yang terlibat.
Perbedaan pengertian/pemahaman mengenai keadilan maupun pengejawantahannya
merupakan sebuah keniscayaan yang sangat manusiawi. Dalam hal ini,
toleransi merupakan jawabannya. Namun, banyak yang lupa bahwa toleransi
merupakan kewajiban pihak yang lebih kuat (kuasa, jumlah), bukan kewajiban
pihak yang lebih lemah. Toleransi bukanlah sebuah belaskasihan, melainkan
kelapangan hati manusia yang memiliki kedewasaan dan kearifan.
Hal lain yang membuat kami "harus" melakukan hal itu adalah karena rasa
setiakawan kedua kakak-beradik keponakan saya. Jika yang satu diberi
sesuatu, maka dia akan bertanya apakah saudaranya juga akan memperolehnya.
Hampir selalu mereka akan menolak pemberian tersebut jika tahu bahwa
saudaranya tidak mendapatkan. Entah dari mana mereka mempelajari dan
menghayati solidaritas sekental itu.
Wajarkah jika seseorang atau sekelompok orang berkorban menolak "rejeki"
ketika dia/mereka tahu bahwa sesamanya tidak mendapatkan bagian?
Memikirkan kepentingan dan kesejahteraan pihak lain bukanlah sebuah
karakter yang mudah dibentuk. Apalagi jika terdapat perbedaan kepentingan
yang bisa berujung pada perselisihan. Bukannya jarang, kebutuhan (ataukah
keinginan?) menyebabkan seseorang tidak peduli pada orang lain, meski
orang lain itu jauh lebih membutuhkan. Bahkan, tidak mustahil pula
seseorang tega merebut milik orang lain. Jika perlu, secara paksa.
Ah, betapa benar ucapan seorang bijak yang mengatakan bahwa kanak-kanak
adalah yang empunya Kerajaan Allah. Mereka jauh lebih toleran dan solider
dibanding kebanyakan orang dewasa, tanpa harus berkoar-koar tentang
keadilan.
Sebenarnya siang hari ini ada acara kopdar (kopi darat) para anggota milis
(mailing list)
hkbp
di Yakoma PGI. Ingin rasanya saya bergabung dengan rekan-rekan milis,
apalagi kopdar kali ini dihadiri oleh Padre Joas Adiprasetya yang baru saja
menuntaskan proses belajarnya dan meraih gelar Doktor Teologi dari Boston
University. Namun saya tidak bisa mengarang alasan untuk tidak berangkat
hari ini ke Malang. Pembaptisan keponakan saya esok hari lebih membutuhkan
kehadiran saya selaku Tulangnya (dan juga kepala keluarga setelah kematian
Bapak) tinimbang kopdar milis yang bertaburan banyak bintang. Saya pikir
saya lebih diharapkan berada di Malang daripada di Cempaka Putih.
Rupanya memilih antara 2 pilihan yang enak sama tidak menyenangkannya dengan
memilih antara 2 pilihan yang tidak enak. Tetapi pilihan harus dibuat.
Keuntungan (kenikmatan, kegembiraan) kadangkala harus dilupakan tatkala
tanggung jawab masuk dalam variabel pertimbangan.
Di bandara, saya sempatkan membuka email dari milis hkbp. Ada kabar bahwa
beberapa rekan lain ternyata tidak bisa hadir sesuai rencana. Efron "Mbah
Dukun Sesat" Dwi Poyo yang sejak semula ngotot agar acara kopdar tersebut
tetap dilangsungkan pada tanggal 6 Desember ternyata harus berangkat ke
Tabang (entah di mana pula lokasinya di Kalimantan Timur). Begitu pula
Erwinthon "The Architect" Napitupulu, sang pemilik milis, batal datang dari
rancanya di Lembang karena mobilnya bermasalah. Juga Muna "The Blade"
Panggabean yang sejak beberapa hari sebelumnya sudah woro-woro tidak
bisa hadir demi mengurus rencana pembuatan film yang didasarkan pada 4
cerita pendek hasil lomba di milis hkbp dan
cyber-gki.
Dasar sirik, diam-diam saya berharap Padre Joas dan Padre Calvin van
Pamulang juga berhalangan hadir. Ternyata, dari kabar yang saya baca
kemudian, mereka berdua malah datang bersama-sama. Sebaliknya, malah Padre
Daniel Taruli Asi Harahap yang tidak muncul tanpa kabar berita. Wah, kopdar
milis hkbp malah dihadiri oleh 2 pendeta GKI tanpa seorang pun pendeta HKBP
😞
Saya jadi teringat pada gugatan MDS tentang bersyukuryang tidak
jarang merupakan manipulasi dan kamuflase seseorang yang bergembira [dan
memuji Tuhan] tatkala kemalangan tidak menimpa dirinya melainkan orang
lain. Atau kemalangan yang dialaminya tidak seberat orang lain. Syukur
menjadi sebuah perbandingan perolehan.
Ternyata moral saya masih payah, sebab tidak rela orang bergembira, malah
berharap mereka tidak beruntung 😞
Semula saya berencana menelpon seseorang yang hadir di Yakoma PGI sekitar
jam 13 untuk menyampaikan salam bagi semua rekan yang hadir. Gara-gara asik
membuka Facebook (yang entah mengapa, tampaknya banyak orang yang sedang
dilanda kemurungan), lupalah saya pada niat tersebut. Ah, walau terlambat,
kiranya masih bolehlah jika saat ini saya sampaikan secara nonfisikal,
"selamat bergembira, wahai kawan-kawan".
Jam 14. Pesawat yang akan membawa kami ke Malang sudah siap di landasan.
Kami pun bergegas masuk pesawat, lalu tinggal landas menyeruak langit
Jakarta menuju Malang.
Berbincang dengan Roberto, adik ipar saya yang adalah adik bungsu Riris,
bukanlah pekerjaan yang mudah. Salah satu sifatnya yang senang menggali (atau
menguji?) daya nalar lawan bicara, tidak jarang membuat orang menjadi jengkel
sehingga memilih untuk menghindari perbincangan yang "berat" dengannya.
Kalaupun tidak bisa menghindar, ya memilih tidak menanggapi alias bungkam.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengannya. Hanya saja, dia amat senang
mengelastiskan berbagai topik perbincangan --bahkan yang sangat sederhana
sekalipun-- ke ruang pembahasan yang tidak pernah diduga. Utamanya adalah
filosofi dan spiritual (bukan agama!). Entah apa sebabnya dia gemar menelisik
hakikat dari satu fenomena yang --jika kita tinjau secara sambil lalu--
tampaknya amat sederhana. Tidak banyak orang yang punya ketahanan ekstra untuk
mendengar apalagi menanggapi pandangan-pandangannya yang kerap kontroversial.
Barangkali saya adalah salah satu orang dari sedikit orang yang cukup sering
diajaknya membincangkan pemikiran-pemikirannya. Bukan karena saya seorang yang
sabar ataupun seorang pendengar yang baik, malah sebaliknya 😞, melainkan
karena kebetulan saya pun memiliki sedikit kegairahan untuk mencoba memandang
sesuatu lebih dari sekedar bentuk dan penampakan visualnya.
Jujur saya akui bahwa letupan-letupan pemikirannya yang liar tersebut lebih
sering menggugah neuron-neuron otak saya dan menggugat pemahaman-pemahaman
konvensional yang saya pegang tinimbang meresahkan emosi. Perbincangan
dengannya nyaris selalu berhasil membuat saya mengkaji ulang sulaman
pengertian yang sudah tercetak lama dalam wawasan saya. Saya rasa tidaklah
berlebihan jika saya katakan bahwa Roberto adalah salah satu dari sedikit
orang yang mampu mengetuk jendela-jendela pencerahan saya. Sehingga, ada
kalanya justru saya yang mengajaknya berdiskusi. Mungkin [dan semoga] dia pun
merasakan hal yang sama saat berbincang dengan saya.
Sebenarnya ada cukup banyak perbincangan dengannya yang saya pikir cukup baik
untuk dibagikan. Sayangnya, saya bukan seorang yang cukup tekun untuk
menuliskan semua itu, sedangkan Roberto sendiri tampaknya agak mengalami
kesulitan untuk menyampaikan gagasan-gagasannya secara runtut agar mudah
dicerna orang lain 😞
Kali ini, saya akan menyampaikan sebuah topik sederhana yang bermetamorfosis
menjadi renungan panjang ketika hal itu sampai di pemikirannya.
Sore itu saya baru pulang kantor. Entah mengapa, tiba-tiba terbit keinginan
saya untuk makan nasi goreng petai di Pegambiran, Rawamangun. Saat tiba di
rumah dan melihat motornya ada di garasi, saya langsung menghubunginya lewat
ponsel untuk mengajaknya makan (saya malas masuk rumah untuk naik ke kamarnya
di lantai dua). Dia langsung mengiyakan. Roberto memang nyaris tidak pernah
menolak ajakan atau permintaan saya. (Salah satu perilaku yang membuat orang
suka berkawan dengannya adalah rasa setiakawan yang luar biasa serta sifat
ringan-tangannya yang tanpa pamrih walau membuatnya repot.)
Di perjalanan menuju rumah makan Bakmi Pegambiran itulah kami
berbincang-bincang. Biasanya selalu diawali dengan topik sederhana yang
diungkit secara sambil lalu. Kebetulan hari itu adalah saat-saat menjelang
eksekusi mati Amrozi dan kawan-kawannya. Kami membincangkan peran media,
khususnya televisi, yang kelihatannya memiliki peran luar biasa dalam
menyampaikan informasi sekaligus menunggangbalikkan nilai-nilai informasi itu
sendiri.
Saya mengeluhkan cara-cara televisi menyoroti suatu peristiwa yang kerap tidak
proporsional serta tidak cover both side. Dalam pandangang saya,
televisi sudah bertindak tidak adil. Betapa tingginya porsi pemberitaan serta
kesempatan yang diberikan bagi --dalam hal ini-- trio Amrozi dan kawan-kawan
untuk menyampaikan pendapat-pendapat mereka kepada khalayak luas. Seakan-akan
meminta masyarakat untuk memahami pembenaran-pembenaran yang mereka ambil.
Padahal, di sisi lain, ada ratusan orang yang juga terlibat dalam aksi mereka,
yakni para korban bom Bali. Amatlah kecil porsi pemberitaan yang disediakan
bagi mereka. Sungguh tidak berimbang.
"Televisi telah menjadikan mereka sebagai pesohor bahkan pahlawan", gerutu
saya.
Roberto, yang menekuni dunia pertelevisian di bangku perkuliahan Institut
Kesenian Jakarta, tidak membantah kecaman saya. Bahkan, bukan hanya satu-dua
kali dia mengeluhkan tergerusnya idealisme orang-orang televisi akibat
terjangan komersialisme dan persaingan memburu peringkat (rating).
Pendapat sebagian orang mengenai penyalahgunaan televisi dari sarana
penyebaran informasi menjadi perangkat pembodohan dan cuci-otak bukanlah
suatu hal yang membuat kening mengernyit.
Kelebihan televisi untuk menampilkan sesuatu secara audio-visual telah
menumpulkan daya kritis masyarakat. Jika orang hanya disodori berbagai hal
yang bisa dilihat secara kasat mata melalui layar televisi, barangkali masih
bisa ditoleransi. Tetapi, tidak jarang hal tersebut dibungkus dengan opini
sang penyampai berita yang menggiring pemirsa ke satu sudut pandang.
Menyitir ucapan dosennya, Roberto mengulas soal hegemoni wacana dan
pergeseran norma masyarakat sipil (civil society) secara sistemis dan
sistematis.
Bagi sebagian orang, barangkali perbincangan akan dicukupkan sampai di situ.
Tetapi Roberto tidak termasuk dalam kelompok "sebagian orang" tersebut.
Sebagaimana biasa, kegemarannya mengelastiskan topik pembicaraan langsung
terbangkitkan.
Menurutnya, bukan hanya daya kritis masyarakat yang ditumpulkan oleh media
nir-idealisme tersebut, melainkan juga nilai-nilai kebajikan dan kebijakan.
Entah disadari atau tidak, pengangkatan suatu topik berita yang dilakukan
secara berlebihan [plus opini tidak berimbang] tersebut telah menjadi pedang
bermata banyak bagi masyarakat. Antara lain:
Positifnya, masyarakat kian mengetahui duduk perkara secara lebih
multicakup (komprehensif).
Negatifnya, masyarakat dicekoki dengan pembenaran-pembenaran yang
dikemukakan oleh salah satu pihak sehingga perlahan-lahan jadi enggan
menguji kebenarannya atau membenturkannya dengan kebenaran yang dipegang
pihak lain. Bahkan, bukannya tidak mungkin malah menjadi simpati pada sang
pelanggar hukum dan kurang peduli pada para korban.
Lebih negatif lagi, masyarakat jadi saling curiga pada sesamanya.
Jauh lebih negatif lagi, sebagian orang menganggap diri mereka sudah dan
lebih baik dibanding tokoh-tokoh yang ditayangkan televisi.
"Televisi kita saat ini terjebak dalam tiga pusaran utama yang menjadi
ciri-ciri masyarakat yang sakit: gosip artis (terutama urusan kawin-cerai,
perselingkuhan), kriminalitas yang mengekspos rincian tindak kejahatan
bahkan pada jam tayang yang dinikmati oleh anak-anak, dan sinetron
enteng-cengeng-dongeng-absurd maupun hantu-hantu.
Tiga pusaran komersial masyarakat yang sakit itu membuat orang menganggap
dirinya sudah dan lebih baik. Karena tidak kawin-cerai dan berselingkuh,
orang menganggap dirinya sudah baik secara moral dan etis. Karena tidak
terlibat kejahatan, orang merasa dirinya sudah baik secara norma dan hukum.
Karena tidak terpengaruh pada dongeng-cengeng-absud maupun horor hantu,
orang merasa dirinya sudah baik secara sosial dan spiritual.
Bertolakbelakang dengan godaan kepemilikan materi (termasuk di dalamnya
kekuasaan) yang tidak akan pernah kunjung terpuaskan sehingga menjerat orang
ke dalam ketamakan, maka kebajikan dan kebijakan akan berkurang daya
dorongnya ketika orang merasa merasa sudah bajik dan bijak. Materialisme itu
ibarat air asin yang diminum di padang gurun. Semakin diteguk, semakin haus
orang yang meminumnya. Sedangkan kebajikan dan kebijakan kerap membuat orang
terlena seperti sehabis makan siang. Nyaris tidak ada manusia yang selalu
haus bahkan tamak untuk terus berbuat bajik dan bijak."
Komentar Roberto membuat saya tercenung. Itukah sebabnya semangat
kesetiakawanan sosial pelan-pelan menghilang dari kultur masyarakat kita?
Itukah yang membuat orang merasa dirinya lebih suci dibanding orang lain
sehingga beranggapan bahwa nilai-nilai yang mereka anut harus diterapkan
juga pada dan bagi orang lain? Atau, paling sedikit, menghindari orang-orang
yang dipandang hanya akan mencemarkan kesucian mereka.
Kita tidak bisa memungkiri kenyataan menurunnya semangat memberikan dan
berbuat lebih baik. Etos kerja yang dahulu dipicu oleh rasa malu belum
berhasil memberikan yang terbaik kini tergeser oleh rasa bangga sudah
menjadi manusia yang lebih baik dibanding orang-orang bermasalah yang
ditampilkan televisi. Kesadaran etis dan citarasa estetis yang dahulu
menjadi ciri para leluhur telah lenyap bertukar egosentris dan pragmatis.
"Saya sudah menjadi orang baik. Cukup sekian urusan saya dengan orang-orang
lain yang tidak baik itu."
Paling banter, kebajikan yang masih dilakukan tidak lebih dari derma atau
iuran RT yang wajib dilakukan agar tidak mengurangi citra kelebihbaikan yang
sudah disandang saat ini.
Begitu pula halnya yang terjadi pada orang-orang yang beragama. Panggilan
untuk melayani sesama yang didorong semangat cintakasih, belarasa, serta
ketundukan pilu menyadari ketidaklayakan di hadapan Tuhan telah ditaklukkan
oleh rasa bangga sudah menjadi orang baik. Seluruh karunia belaskasih Tuhan
dianggap sudah dibayar lunas, sehingga menganggap diri lebih pantas dekat
dengan Tuhan tinimbang para artis kawin-cerai-selingkuh maupun para kriminal
dan teroris.
Padahal, kebajikan itu ibarat garam yang menjadi salah satu kebutuhan utama
urusan kuliner tanpa menonjolkan diri di deretan bumbu. Orang tidak lagi
mencari garam dalam hidangan yang tersaji. Kebijakan itu ibarat terang yang
membantu memberikan keluasan pandang bagi ruang sekitarnya tanpa menuntut
jadi pusat perhatian. Orang tidak menyalakan pelita untuk mengamati pelita
itu sendiri.
Lamat-lamat saya kian paham filosofi kata-kata bijak yang pernah
didengungkan dua milenium lampau, "Jika garam itu menjadi tawar, dengan
apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak
orang. Orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang,
melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah
itu."
Teringat pula saya pada pemeo klasik yang menyatakan, "seseorang berhenti
menjadi santo saat dia menyadari dirinya adalah santo". Pada saat itulah dia
berhenti menjadi garam dan terang bagi lingkungannya. Tidak ada gunanya.
Televisi yang tengah kehilangan idealisme itu sudah menunggangbalikkan semua
nilai-nilai tersebut. Membuat kebajikan dan kebijakan jadi tawar,
menetralisasi otak dan hati dari kegundahan bahwa semua yang kita berikan
dan lakukan bagi sesama dan lingkungan belum dan tidak akan pernah cukup,
membuat kita puas menatap diri sendiri lalu bergumam senang bahwa semua
sudah oke.
Berbincang dengan Roberto memang bukan pekerjaan mudah, tapi bukannya tidak
menggairahkan. Sebab bukan cuma mulut dan otak yang harus bekerja keras.
Hati akan digedor dengan pertanyaan menikam, rasa bangga dan rasa puas pun
harus ditelan sebagai pil pahit memuakkan.
Saya tidak tahu apakah Roberto juga menyadari hal itu. Saya hanya berharap
dia tidak tersiksa akibat ketidaklelahannya memandang dan menelisik sesuatu
lebih dari sekedar yang bisa ditampak secara visual seturut kaidah-kaidah
optis. Sebab kehidupan yang bermakna sesungguhnya memang lebih dari sekedar
itu.
Saya tidak tahu apakah saya sedang menuju gila ataukah sedang melangkah di
titik nadir lorong kehidupan ataukah sedang dilanda melankoli yang
amat-sangat, sehingga selama beberapa waktu belakangan ini benak saya kerap
ditelikung oleh pikiran-pikiran tentang kematian. Yang jelas, hal ini tidak
ada hubungannya sama sekali dengan peringatan hari arwah yang diperingati oleh
umat Katolik pada tanggal 2 Nopember kemarin 😞
Kematian bukanlah hal yang cukup akrab bagi saya. Dalam lingkaran keluarga
kandung, baru satu kematian yang kami alami, yakni bapak saya yang berpulang
pada tanggal 9 Agustus 2007. Agak keluar sedikit, masih dalam lingkup saudara
dekat, memang sudah ada beberapa peristiwa kematian. Peristiwa tertua yang
saya ingat adalah kematian Ompung Naboru, ibunda Mami. Saat itu saya masih
kecil sehingga tidak tahu apa yang harus saya lakukan ketika berdiri di
samping tempat tidur pembaringan jenasahnya.
Setelah saya bekerja, Ompung Dalahi, ayah Bapak, meninggal di kampung. Saya
tidak sempat melihat jenasahnya karena sudah dimakamkan ketika saya menyusul
Bapak dan Mami ke sana. Kemudian kakak tertua Mami meninggal di Jakarta tanpa
sempat saya hadiri pemakamannya. Lalu abang tertua Mami meninggal di kampung,
dan juga tidak bisa saya hadiri pemakamannya. Demikian pula saat abang kedua
Mami meninggal.
Saya memang tidak pernah suka datang ke pemakaman maupun acara-acara yang
berkaitan dengan kematian 😞
Di luar keluarga kandung, memang ada cukup banyak yang saya ingat dan hadiri
prosesi penghormatan terakhirnya (melayat). Misalnya ketika ayah Riris --yang
saat itu belum menjadi istri saya-- meninggal di Bandung. Lalu abang ayahnya
(saat itu pun saya masih belum menjadi suami Riris) yang disusul oleh istrinya
beberapa tahun kemudian saat saya dan Riris sudah berstatus sebagai
suami-istri.
Lebih keluar lagi, dalam lingkup kekerabatan yang didasari oleh hubungan
keluarga orangtua saya maupun marga serta kekerabatan dari pihak keluarga
Riris, ada lebih banyak lagi peristiwa kematian. Kebanyakan dari mereka tidak
saya kenal dekat sehingga nyaris tidak ada perasaan tertentu yang menggigit di
dalam hati.
Di lingkung perkawanan, saya masih ingat kematian tragis seorang kawan
perempuan di SMP. Lantaran bergurau dengan kawan-kawannya, dia terdorong ke
jalan sehingga disambar kendaraan angkutan kota yang melaju cepat. Ketika
kuliah, seorang sahabat sejak SMA meninggal akibat stroke. Saat itu
saya tidak percaya bahwa orang semuda dia bisa terkena "penyakit" yang saya
anggap sebagai keniscayaan orang sudah tua yang banyak pikiran. Sama sekali
tidak terbayang betapa berat beban pikirannya sebagai seorang "mantan orang
kaya". Setelah lulus, beberapa kawan sekelas saat perkuliahan meninggal tanpa
sempat saya layat akibat perbedaan lokasi tinggal atau terlambatnya berita.
Beberapa diantaranya akibat kanker.
Bagi kebanyakan orang seperti saya, kematian bukanlah suatu hal yang cepat
diakrabi. Walau berita kematian di koran selalu ada setiap hari, kebanyakan
dari mereka bukanlah orang-orang yang kita kenal dalam keseharian sehingga
kita membacanya hanya sambil lalu atau bahkan tidak pernah membacanya.
Saat masih kecil, saya berpandangan bahwa kematian adalah "jatah" para orang
tua sebagai sebuah mekanisme yang eksak bagi keuzurannya. Setelah agak besar
sedikit, barulah saya sadar bahwa kematian adalah suatu peristiwa acak, dalam
pengertian tidak bisa ditentukan dan dipastikan. Ke-mati-muda-an sahabat sejak
SMA itu sempat membuat saya tercenung. Tidak ada yang bisa menentukan siapa
yang akan mati lebih dulu. Tidak ada aturan urutannya. Apalagi jika kematian
itu diakibatkan oleh hal-hal yang di luar perkiraan, entah karena sakit atau
kecelakaan atau bencana. Tidak ada yang bisa menerka jadwal kedatangannya.
Seperti sebuah putaran undian kesialan.
Menyimak peristiwa-peristiwa kematian yang sudah terjadi di sekitar saya, saya
menampak satu pola berbentuk spiral yang bergerak dari luar menuju pusat,
yakni diri saya. Kematian itu tidak melesat langsung ke hadapan saya mencabut
napas saya melainkan mengambil jalan memutar sambil menjemput orang-orang di
sekitar saya, mulai dari yang paling tidak saya kenali akrab hingga yang
sangat dekat secara hubungan darah. Aksinya seperti burung elang yang
berputar-putar di angkasa menantikan kelengahan sang korban. Tanpa ketentuan
namun penuh kepastian, hingga satu saat saya pun akan bermuka-muka langsung
dengannya satu lawan satu. Dan dalam hitungan keumuman selaku manusia biasa,
sudah pasti saya akan kalah digelandangnya sebab saya bukan manusia
immortal semacam tokoh fiksi highlander.
Saya tidak mengerti kenapa pikiran-pikiran mengenai kematian datang
menghantui akhir-akhir ini. Saya bukan seorang tua yang renta, tidak pula
sedang sakit ataupun mengidap penyakit mematikan (persoalan yang satu ini
tidak bisa saya jamin karena saya selalu menolak memeriksakan diri ke dokter
walau sakit 😞). Juga bukan seorang yang sedang dilanda depresi dahsyat
sehingga menganggap kematian sebagai satu-satunya jalan terbaik untuk keluar
dari kemelut tak tertanggung.
Saya tidak mau menebak-nebak ataupun mencari jawaban dari para penyusup ke
masa depan. Kalau memang sudah tiba masanya, apa pula yang harus saya
takuti?
Namun demikian, ada yang cukup mengganggu pikiran saya saat ini: Apa yang
akan saya tinggalkan sebagai bukti di masa depan bahwa seorang ~alof pernah
hadir di dunia ini? Ataukah saya memang disuratkan untuk menjadi seorang
manusia yang datang hanya untuk pergi?
Pertanyaan itu kian menggedor benak tatkala beberapa hari yang lalu saya
mewawancarai seorang pejabat yang bekerja di salah satu lembaga negara yang
mengemban tugas menangani pelaksanaan kebijakan enerji nasional di bidang
minyak dan gas (migas). Wawancara yang semula dilangsungkan dalam kisi-kisi
profesional itu akhirnya berbumbu perbincangan akrab yang menghabiskan waktu
makan siang (ini salah satu "sifat jelek" saya sehingga urusan yang semula
murni bisnis akhirnya menjadi interpersonal). Barangkali lantaran
terjalinnya kecocokan sebagai sesama mantan pekerja perusahaan multinasional
yang memilih keluar karena lebih suka berdiri di bawah kibaran Merah-Putih
walau harus memerosotkan perolehan pendapatan 😞
Salah satu topik perbincangan menarik (selain urusan Kilang Tangguh yang
sempat menghebohkan itu 😞) adalah mengenai sejarah berlakunya sistem
Production Sharing Contract yang merupakan inovasi cemerlang orang
Indonesia. Mekanisme yang dirumuskan pada masa kepemimpinan Ibnu Soetowo
tersebut diterapkan akibat keterbatasan teknologi, pengetahuan, maupun
sumber daya manusia yang kompeten dalam bidang eksplorasi dan eksploitasi
migas. Tujuan mulia di balik itu adalah mempersiapkan manusia Indonesia agar
sekian tahun kemudian bisa menangani sendiri kekayaan alamnya.
Apa lacur, mekanisme tersebut malah membuat orang-orang di lembaga yang
pernah dipandang sebagai institusi terkaya itu malah terlena dalam
kenikmatan memperoleh kucuran uang tanpa harus berkeringat di hutan maupun
lautan. Biar saja orang asing yang berpikir, bekerja, dan memodalinya; kita
tinggal menunggu jatah bagian keuntungan setelah dipotong ongkos produksi.
(Saya yakin bahwa mereka juga tahu --bahkan lebih dibanding saya-- bahwa
tidak sedikit dari perusahaan asing itu yang sebenarnya adalah perampok dan
perompak.)
Hasilnya? Hingga lebih dari setengah abad kemudian, lembaga yang dulu
berlogo bintang dan sepasang kuda laut itu tidak pernah menjadi institusi
yang perkasa. Anda tentu sudah tahu lembaga yang saya maksudkan. Ya,
Pertamina.
Sedangkan Petronas dari Malaysia yang sekian puluh tahu lalu berguru pada
lembaga ini kini menjulang lebih tinggi dan mendunia melampaui gurunya. Logo
Petronas melekat angkuh di badan mobil balap Formula-1. Menara kembarnya
menjulang megah sebagai landmark negeri jiran. Bisnis eksplorasi dan
eksploitasi migas mereka merambah ke seantero jagad. Padahal migas mereka
kalah jauh dibanding kekayaan negeri ini. Apa bukan ironis namanya?
Sebagaimana sama-sama kita ketahui, migas adalah sumber daya alam yang tidak
terbaharui sehingga suatu saat pasti akan habis dan hanya menjadi sejarah
masa lalu. Sehingga, amatlah wajar ketika rekan berbincang saya itu bertanya
miris, "Apa yang akan ditinggalkan oleh Pertamina bagi bangsa dan
negara ini sebagai bukti bahwa Republik Indonesia pernah menjadi penghasil
minyak dan gas?"
Sendok es krim saya sempat terhenti di udara ketika saya merefleksikan
pertanyaan itu ke hidup saya sendiri. "Satu saat saya hanya akan menjadi
masa lalu dalam lintasan waktu. Apa yang akan saya tinggalkan sebagai bukti
bahwa saya pernah ada? Minimal bagi orang-orang yang memiliki kedekatan
hubungan dengan saya."
Blog ini? Bah!
landmark:
kb. 1 (guide) penunjuk. 2 sesuatu yang mudah dilihat atau dikenal.
3 hal yang menonjol. 4 kejadian/peristiwa penting.
Sekian tahun sebelum diserbu komik berseri manga dari Jepang, Indonesia
sempat disodok oleh komik berwarna dalam format besar seukuran majalah yang
berasal dari Amerika dan Eropa. Epideminya di Indonesia --jika saya tidak
keliru-- dirintis oleh sosok wartawan dengan rambut jambul bernama
Tintin (1929,
Prancis-Belgia) dalam kisah-kisah petualangan a-la spion internasional. Sempat
juga saya menikmati lika-liku dunia penerbangan militer melalui kisah dua
pilot pesawat jet Mirage dari Prancis,
Tanguy dan Laverdure
(1959, Prancis-Belgia). Ada juga kisah manusia prasejarah bernama
Toenga
(1963, Belanda) yang kalah pamor dibanding
Conan The Barbarian
(1932, Amerika). Juga kisah jenaka dua karib pahlawan Galia,
Asterix dan Obelix
(1959, Prancis-Belgia), yang mengambil setting masa ekspansi Pax Romana
kekaisaran Romawi. Tentu saja tidak ketinggalan komik pahlawan super Amerika
seperti
Superman (1933),
Batman
(1939), dan
Spiderman
(1962).
Dari sekian banyak pilihan (yang sudah pasti tidak seberlimpah sekarang),
tentu saja tidak bisa dilupakan komik berlatarbelakang situasi klasik khas
Amerika pada masa wild west yang menampilkan tokoh koboi
Lucky Luke (1946,
Prancis-Belgia). Mungkin masih banyak lagi komik dengan berbagai macam
genre yang sudah saya lupa atau tidak sempat saya baca.
Kepopuleran Lucky Luke [dan kisah koboi pada umumnya] merupakan fenomena yang
cukup menarik. Ada cukup banyak orang yang menggemarinya walau keseluruhan
kisahnya boleh dikatakan tidak kena-mengena dengan kultur Indonesia maupun
negara lain di luar Amerika. Uniknya, komik ini pun bukan karya orang Amerika
melainkan seniman Prancis dan Belgia. Sangat boleh jadi kasusnya mirip dengan
kebangkitan film koboi di tangan para sineas Eropa (khususnya Itali, sehingga
film-film tersebut dijuluki
spaghetti western. Salah satunya adalah
Django
(1966) yang demikian populer sehingga banyak orang masa lalu yang menyebut
koboi dengan jenggo. Ciri khas Django yang membawa-bawa peti mati itu
kemudian ditiru oleh Hans Jaladara untuk komik silat Panji Tengkorak yang
muncul pada tahun 1968).
Yang tidak kalah menakjubkan, hampir semua anak Indonesia (tentunya yang tidak
luput dari imbas informasi dan hiburan produk Barat) pernah bermain
koboi-koboian lengkap dengan topi laken, pistol Colt, dan orang Indian, bahkan
pedang dan kuda pasukan kavaleri. Dugaan saya, anak-anak di belahan dunia lain
pun mengalami hal yang sama.
Apa menariknya dunia koboi sehingga Lucky Luke berterima pada banyak orang?
Apa yang menjadi sebab hingga berjilid-jilid buku kisah Winnetou dan Old
Shatterhand karangan Karl May menjadi klasik? Apa yang menjadi daya tarik dan
daya jual sehingga hampir semua aktor besar Hollywood pernah memainkan peran
koboi? Apa keistimewaan orang-orang lusuh jarang mandi yang bertugas mengawal
rombongan ternak sapi yang akibat pekerjaannya itu kemudian disebut
cowboy?
Tentunya bukan gaya urakan dan bohemian dunia peternakan sapi dan padang
rumput yang kurang akrab bagi kebanyakan orang Indonesia apalagi yang hidup di
perkotaan. Tentunya juga bukan karena keasikan menggunakan pistol maupun
senapan yang terlarang bagi masyarakat sipil Indonesia.
Lantas apa?
Jika kita perhatikan berbagai macam komik yang sebagian di antaranya sudah
saya sebut di atas, ternyata ada keserupaan yang cukup kentara antara satu
dengan yang lain, yakni kepahlawanan dan keberpihakan nyata dalam menegakkan
hukum yang melindungi hak-hak manusia biasa/awam walau merisikokan keselamatan
diri sendiri. Dalam hal ini, sosok Lucky Luke lebih dekat pada kenyataan
tinimbang Superman yang berasal dari planet Krypton, atau Batman yang memiliki
teknologi eksklusif hasil dukungan finansial korporasi Wayne, bahkan Asterix
yang dibekali ramuan ajaib superkuat, yang kesemuanya secara gamblang langsung
dimengerti hanya mampu hadir dalam dunia cerita. Lucky Luke adalah seorang
manusia biasa yang memiliki ketrampilan menunggang kuda dan akurat dalam
menembakkan peluru pistol, halmana bukanlah suatu keajaiban atau mukjizat,
karena kemumpunian tersebut bisa dicapai oleh banyak manusia biasa lainnya
berkat ketekunan berlatih.
Hanya saja, sebagaimana galibnya komik kartun, tentu saja hiperbolisme komis
perlu diimbuhkan sebagai petanda bahwa dunia komik tetaplah suatu dunia yang
lain. Maka, diciptakanlah sosok Lucky Luke yang populer ke seluruh penjuru
dunia sebagai orang yang bisa menembak lebih cepat daripada bayangannya
sendiri. Sesuatu yang mustahil menurut kaidah hukum-hukum optik di dunia
nyata. Namun, alih-alih mempersoalkan keilmiahan komik, saya malah hendak
"membesar-besarkan" kemustahilan tersebut ??.
Tidak sedikit komik kartun yang ternyata bukan sekedar bacaan ringan yang
kosong makna. Sebaliknya, kita bisa memetik berbagai pelajaran kehidupan
dari komik. Saya cukup meyakini hal itu sebab saya memiliki pandangan
subjektif yang cukup stereotip bahwa kebanyakan penulis di belahan Barat
sana seakan memiliki kewajiban moral untuk menyampaikan nilai-nilai
kebajikan tertentu walau tidak ditampilkan secara telanjang melalui tulisan
atau ucapan. Komik menjadi karikatur dari dunia nyata.
Lucky Luke adalah sosok koboi lugu yang tidak dihantui berbagai pikiran
canggih. Logikanya lurus-lurus dan sederhana saja. Kalaupun ada pertimbangan
yang menjadi dasar tindakannya, barangkali tidak jauh dari persoalan
penegakan hukum (tentunya yang berlaku saat itu di dunia
wild west) dan ... belas kasih yang juga diberlakukannya pada para
pelanggar hukum (yang merupakan anomali di alam liar yang menuntut hukum
besi). Dua hal inilah yang --menurut pendapat saya-- membuat Lucky Luke jadi
menarik sebab merupakan antitesis bagi arketip koboi jagoan berdarah dingin
seperti yang disodorkan banyak film.
Salah satu ciri lain yang seakan menjadi pola tipikal para pahlawan komik
adalah ketiadaan pamrih. Tiada balas jasa yang mereka dambakan setelah
menunaikan kewajiban mereka selaku hero. Secara komis, hal ini
ditunjukkan oleh Lucky Luke yang segera mencongklang kuda setianya, Jolly
Jumper, berlalu dari lokasi aksi kepahlawanannya menuju matahari terbenam
sambil melantunkan senandung sepi "I'm a poor lonesome cowboy, and a long way from home ..."
Demikianlah dunia komik. Sebuah karikatur terbalik yang menyodok dunia
nyata.
Tapi, apakah dunia komik benar-benar bertolakbelakang dengan kenyataan kita
di sini dan kini serta sekedar utopi khayali? Tidak juga.
Meski tidak populer dalam aksi spektakuler, apalagi yang berkelas dunia,
sesungguhnya kita bisa menyua sosok-sosok seperti Lucky Luke dalam
keseharian. Mereka adalah manusia-manusia biasa yang memiliki kemampuan
tertentu yang melampaui kebanyakan orang karena ketekunannya. Mereka juga
bisa sakit dan terluka [lahir dan batin] seperti kita. Yang membuat
perbedaan adalah keberanian mereka menanggung risiko untuk sendirian saat
mengambil posisi sebagai perambah
jalan yang enggan diambil
oleh kebanyakan orang. Mereka berani tampil beda bukan karena sekedar ingin
berbeda, melainkan karena determinasi yang kuat untuk berdiri di atas
pemahaman yang dinilainya benar walau dia tahu bahwa hal itu akan
membenturkannya dengan keumuman. Mereka memang bukan manusia medioker
(rata-rata, kebanyakan).
Biasanya, orang-orang seperti ini pada awalnya akan menghadapi hambatan
ataupun penolakan dari khalayak di sekelilingnya. Umumnya, hal ini
disebabkan oleh keengganan orang di sekitarnya untuk berubah. Jangankan
untuk berubah, bahkan untuk memikirkan dan mengkajinya pun sudah malas.
Padahal, belum tentu perubahan yang dimaksud adalah memulai sesuatu yang
sama sekali baru, melainkan "sekadar" kembali ke jalur yang selayaknya
diambil. Namun lingkungan kerapkali amat lamban dan lembam untuk bergerak
dari status kemapanan yang dipandang sudah memadai dan baik.
Di sinilah metafora komis Lucky Luke yang "menembak lebih cepat dari
bayangannya sendiri" terejawantahkan. Dan di sini pula berlaku kaidah
alamiah bahwa mereka yang akhirnya terbawa arus perubahan sebagai penikmat
perubahan itu sendiri pada akhirnya hanya akan tinggal sebagai bayang-bayang
dari sang perambah jalan sampai satu saat muncul seorang perambah baru
ketika perubahan tersebut kembali menjadi stagnan.
Barangkali saya termasuk kurang gaul sehingga tidak mengenal cukup banyak
Lucky Luke di dunia nyata. Tetapi, dari sedikit yang saya tahu itu, saya
menampak siluet yang kian nyata pada diri seorang Daniel Taruli Asi Harahap
yang lebih akrab disapa DTA. Sejak mengenalnya melalui tulisan-tulisannya di
mailing list (milis)
hkbp, saya
sudah merasakan aura keberaniannya dalam merambah jalan sepi, yang bahkan
penuh onak dan belukar. Tidak sedikit orang yang menghadang
pandangan-pandangannya dengan berbagai argumen, yang pada umumnya dilambari
sikap curiga "ngapain repot-repot?".
Tidak banyak --saya pikir-- orang yang mau repot secara solo memikirkan dan
menyusun berbagai macam rumusan perbaikan bagi sebuah lembaga sebesar HKBP.
Apalagi dengan posisi yang disebutnya sendiri sebagai "pendeta kecil" yang
jauh dari pusat dan pucuk kekuasaan serta tidak dititipi kuasa apa-apa.
Jangankan menjadi tokoh sentral, bahkan status kependetaannya pun sempat
mengambang tanpa kepastian selama setahun lebih. Sehingga, ketika beliau
menyampaikan rancangan sistematis [dan teologis] perbaikan manajemen
organisasi HKBP menjelang Sinode Godang yang baru lalu, ada saja orang yang
menganggapnya berambisi menjadi petinggi HKBP. Seruannya agar anggota jemaat
mengirimkan SMS untuk menguatkan semangat para pendeta dan perwakilan jemaat
yang hadir ke Sinode pun ditanggapi sebagian orang dengan sinis.
DTA tetap bergeming. Dari rumah dinasnya di salah satu pojok Serpong,
kembali beliau melontarkan himbauan yang sebenarnya sudah menjadi masalah
klasik di berbagai gereja, yakni soal perayaan Natal yang dilangsungkan
sebelum tanggal 25 Desember ketika masa Adven masih berjalan. Terang-jelas
bahwa DTA punya hasrat menata kembali sikap lahir dan batin para anggota
jemaat dalam ibadah (kerja bersama komunitas beriman) dan penghayatan ziarah
iman sebagaimana sudah disusun secara cermat dan penuh pertimbangan dalam
kalender gerejani/liturgi.
Bagi mereka yang sudi menelisik keindahan dan makna liturgi, tentu saja
anjuran itu sangat menggairahkan sekaligus melegakan. Namun bagi mereka yang
tidak mau repot mengoreksi kebiasaan salah-kaprah, tentu saja hal ini jadi
menyebalkan. Berkuranglah kesempatan menghadiri banyak pesta yang diberi
jubah Perayaan Natal. "Mana sempat lagi bernatalan di sana di sini jika
waktunya sempit karena sudah dihadang pesta Tahun Baru?" [yang biasanya
lebih meriah di kalangan orang Batak dibanding Natal apalagi Paska].
"Biarlah semua berjalan sebagaimana adanya sekarang". "Sudah tradisi".
Demikian sebagian tanggapan kontra yang muncul.
Mengapa kita seakan abai pada hakikat minggu-minggu Adven sebagaimana
dimaknai dan dihayati oleh orang-orang beriman sepanjang segala abad?
Padahal kita menyatakan solidaritas kita dengan mereka sebagaimana
disampaikan pada ajakan meneguhkan pengakuan iman setiap hari Minggu.
Tidakkah kita sedia berbelarasa dengan orang-orang yang sebagian besar
hidupnya berkutat dalam suasana "adven", menantikan, mengharapkan,
merindukan jawaban atas doa-doa sederhana bagi hidup sederhana mereka?
Tidakkah terbersit sesal mendalam yang serasa tak berampun sehingga kita
memerlukan pertobatan paling memedihkan dalam khusuk pengharapan agar layak
untuk sekedar menyentuh jubah-Nya? Tidakkah kita cukup sabar merasai
kerinduan yang amat-sangat sehingga terpanggil untuk tekun berbenah diri
menyiapkan palungan hati bagi Firman yang hidup? Ataukah kita demikian
jumawa menilai kepantasan diri sehingga akhirnya memutuskan untuk
mempersingkat masa olah rohani ini? Tidakkah kita ...
Ah, memang tidak mudah memaparkan persoalan ini dengan gamblang 😞 Kendati
demikian, saya amat yakin bahwa hal ini bukanlah suatu kemustahilan.
Nyatanya, tidak kurang juga orang yang mendukung saran DTA sebagaimana
terbaca dalam komentar-komentar di
situsnya. Sebab,
sesungguhnya, yang diajukan DTA bukanlah gagasan yang sama sekali baru
sehingga layak dikuliti habis-habisan. Pergumulan mengenai hal ini sudah
cukup lama berlangsung di banyak tempat (sehingga saya katakan sebagai
persoalan klasik) dan beberapa gereja sudah berhasil menerapkannya walau
harus menyediakan cukup waktu dan kesabaran. Misalnya
Padré Jan Calvin Pindo
yang selama tujuh tahun tidak lelah-lelah "menyadarkan" anggota jemaat GKI
Pamulang tentang kedudukan masa Adven dan perayaan Natal dalam kerangka
siklus ziarah iman. Begitu pula halnya upaya penyadaran yang dilakukan
Padré Joas Adiprasetya
melalui tulisan-tulisannya yang bernas.
Melelahkan? Mungkin. Menjengkelkan? Boleh jadi. Tetapi, manalah pula ada
karya besar yang tidak menuntut ikhtiar dan pengorbanan besar? Sebab kita
bukan Tuhan yang cukup berkata "Jadilah!" ataupun "Kun faya kun!".
Sebagaimana Lucky Luke yang tidak jemu-jemu "menggulung" komplotan Dalton
bersaudara tanpa harus mengirimkan peluru mematikan ke tubuh mereka,
demikian pula saya pikir yang dilakukan oleh DTA maupun beberapa rekan
pendeta di HKBP maupun gereja lain dalam mengajar dan menggembalakan anggota
jemaat agar memahami, mencintai, dan menghayati liturgi yang tidak lain
adalah cerminan ziarah iman/spiritual yang hendaknya terejawantahkan dalam
kehidupan sehari-hari.
Walaupun yang mereka lakukan masih "lebih cepat daripada bayangannya
sendiri", semoga kian banyak orang yang berani memutuskan untuk mengambil
jalan yang enggan dilalui oleh orang kebanyakan itu, sehingga satu saat
nanti jalan setapak berbatu itu pun menjadi rata dan lapang sehingga tidak
melukai lutut lembut kanak-kanak.
Ketika jalan itu mulai dilirik dan disusuri oleh kian banyak orang, bukannya
tidak mungkin nama mereka tidak pernah dicatat dalam buku maupun ingatan,
konon pula dielu-elukan. Sekian tahun ke muka, boleh jadi aksi mengembalikan
gerbong ke relnya tersebut akan dianggap sebagai sesuatu yang tidak pernah
terjadi. Kalaupun demikian yang harus terjadi, patutlah kesahajaan Lucky
Luke menjadi cermin. Segera congklang kuda menuju mentari senja sambil
menyenandungkan lagu-lagu yang tidak mengeringkan tulang.
Tidak berkurang kemuliaan-Nya karena kekurangmampuan kita menyukseskan
perkara, tidak bertambah pula kemuliaan-Nya akibat keberhasilan kita. Sebab
pertanyaannya bukanlah "to be or not to be" melainkan "adilkah kita
dalam memegang hukum dan berbelaskasihkah kita saat menegakkannya?". Di
rentang ketegangan antara keduanyalah ujian sejati menyapa integritas kita
agar kelak dapat kita ajukan jawaban takzim saat ditanyai, "Apakah engkau
mengasihi-Ku?".
Selamat berjuang, Lucky Luke, eh Padré Daniel. Janganlah jemu berikhtiar dan
berupaya. Hanya para pemberani sejatilah yang sanggup melangkah di jalan
setapak nan sepi. Dan bersukacitalah jika kelak berlaksa bayang orang
berseru "Hei, kita berada di jalan yang tepat!" tanpa menyebut-nyebut nama
anda.
Tidak banyak film yang memiliki kekuatan sedemikian hingga mampu memosisikan
diri sebagai legenda yang bertahan sampai sekian masa mendatang, melampaui
kemampuan bertahan fisik maupun kilau ketenaran para pemerannya. Lebih sedikit
lagi film yang karakter tokohnya sedemikian kuat sehingga kerap diasosiasikan
secara langsung dengan pemerannya.
The Godfather (1972) besutan sutradara Francis Ford Coppola yang diangkat dari
novel karya Mario Puzo adalah salah satu contoh terbaik (meski ada sigi yang
menyatakan bahwa film ini adalah legenda nomor dua setelah Citizen Kane).
Dalam hal ini, Marlon Brando adalah sang Godfather. Sehingga, meski sudah
memiliki generasi penerus, tak seorang pun yang sanggup menggeser karisma
Brando yang memerani Don Vito Corleone. Tidak Robert de Niro (Vito Corleone
muda), tidak Al Pacino (Michael Corleone), tidak pula Andy Garcia (Vincent
Mancini, yang diharapkan menjadi suksesor Michael Corleone). Padahal, mereka
semua adalah aktor-aktor besar, bukan aktor kacangan ataupun pendatang baru.
Godfather tetap saja dipandang identik dengan Brando dan demikian pula
sebaliknya.
Sebenarnya bukan soal film yang hendak saya bicarakan saat ini, melainkan soal
istilah Godfather. Bagi kalangan mafia, Godfather adalah sosok bapak dan tuan
yang punya kuasa memberi jaminan perlindungan dan pemeliharaan dalam segala
hal bagi seseorang yang menyerahkan diri, menyatakan kesetiaan penuh, dan taat
mutlak kepada sang penguasa. Hal ini terus berlaku selama orang itu tidak
melanggar sumpahnya dan tidak menciderai hubungan kekeluargaan kelompok
tersebut. Ibarat Faust dalam novel Goethe yang menjalin transaksi dengan
Mephisto sang Iblis, perjanjian dengan sang penguasa dan keluarga besar mafia
tersebut pun akan terus mengikat hingga putus napas.
Orang yang masuk dan diterima oleh keluarga mafia memiliki kewajiban berbakti
pada keluarga mafia tanpa banyak hitungan. Semua yang diperintahkan atasannya,
apalagi jika sang pemimpin sendiri yang menyampaikannya, dipandang sebagai
kewajiban yang tidak boleh dipertanyakan apalagi ditolak. Di sisi lain, sang
pemimpin wajib memfasilitasi kebutuhan hidup orang tersebut berikut
keluarganya. Dalam hal ini, selain yang berurusan dengan persoalan ekonomi,
juga perlindungan dari berbagai ancaman hukum maupun fisik.
Begitulah kontrak idealnya. Tetapi, pada kenyataannya, ada saja anggota yang
berkhianat maupun pemimpin yang tidak menganggap anggotanya lebih berharga
dibanding kepentingan sang pemimpin ataupun keluarga walau orang itu tidak
melanggar perjanjian 😞
Bisa jadi akibat kesuksesan film tersebut maka istilah Godfather jadi melekat
pada dan langsung diasosiasikan dengan pemimpin mafia di Amerika (yang
acapkali disamakan begitu saja dengan gangster). Sementara, sewaktu kecil dan
belum mengenal yang disebut mafia, saya menyangka bahwa Godfather adalah
sebutan untuk Allah Bapa berdasarkan penerjemahan secara literal.
Padahal, istilah tersebut bukan diinisiasi oleh para mafiosi, melainkan
diadopsi dari lingkup Gereja Katolik Roma, yakni sebutan yang diberikan kepada
orang yang menjadi Bapa Baptis (Bapa Serani) seseorang yang menerima baptisan.
Penggunaan istilah ini oleh kalangan mafia bisa dimaklumi jika kita menilik
latarbelakang agama mereka yang bercikal-bakal dari Italia (lebih tepatnya
lagi: kawasan Sisilia).
Baptis bagi umat Katolik [dan Kristen pada umumnya] merupakan inisiasi
memasuki keluarga Allah dan terikat perjanjian kekal dengan-Nya. Memang mirip
dengan masuknya seseorang ke dalam lingkaran keluarga mafia, yang penyerahan
diri dan sumpah setianya menjadi tanda "pembaptisan" yang dimeteraikan dengan
mencium
cincin sang Don
(mirip dengan umat Katolik yang mencium cincin Uskup atau Paus 😉
Dalam prosesi Sakramen Baptis di Katolik --khususnya yang dilayankan pada anak
kecil-- orangtua sang anak tidak menjalaninya sendirian, melainkan didampingi
pasangan suami-istri yang bertindak sebagai
Orangtua Baptis
(Godparent: Godfather dan Godmother) bagi sang anak (disebut Godchild,
Godson atau Goddaughter). Keberadaan dan status mereka dicatat secara resmi
dalam surat baptis yang diterbitkan oleh gereja.
Saya yakin ada peran khusus bagi mereka yang dipandang penting oleh gereja.
Kalau tidak, untuk apa repot-repot membuat skenario semacam itu? Menurut
penjelasan Bapak saya, sejatinya mereka akan berperan sebagai orangtua
juga bagi sang anak, yang mendampingi orangtua kandungnya dalam banyak
hal, bukan hanya dalam hal-hal yang bersifat kerohanian melainkan juga hingga
ke masalah kebutuhan fisikalnya. Persis seperti orangtua kandung, kecuali
dalam hal-hal yang benar-benar menjadi urusan dan kewenangan khusus keluarga
asli. Maka, Bapak saya menyatakan adalah keterlaluan jika Orangtua Baptis
tidak ingat tanggal lahir Anak Baptisnya.
Pendeknya, Orangtua Baptis berkewajiban memantau dan mengikuti perkembangan
sang anak serta terlibat sebagai mitra orangtua kandung dalam membekali
seorang manusia baru memasuki dunianya sendiri. Secara sepintas terlihat bahwa
hal ini memberikan banyak dukungan positif bagi semua pihak apabila
masing-masing pelaku menjalankan perannya sesuai dengan proporsinya.
Pengandaian itulah yang sempat melintas di benak saya tatkala menghadiri
prosesi pembaptisan anak teman Riris di GKI Kebayoran Baru pagi tadi. Dua
anaknya dibaptis berbarengan. Dan yang membawa mereka maju ke altar hanyalah
ibunya saja sebab ayah mereka sudah meninggal beberapa bulan yang lalu akibat
kanker. Ketika kami memberikan selamat di pintu keluar gereja, sang ibu nyaris
tidak bisa membendung airmata karena terkenang pada almarhum suaminya yang
tidak ada di sisinya pada momen bersejarah tersebut.
Mengapa saya harus berandai-andai? Apakah tanpa Orangtua Baptis maka sang ibu
tidak akan mampu menjaga dan memelihara anak-anaknya? Tidak. Sama sekali
tidak! Bukan itu maksud saya. Ada banyak bukti nyata bahwa orangtua tunggal
tidaklah identik dengan ketidakmampuan mengurus anak dan keluarga. Sebaliknya,
tidak sedikit anak-anak dari keluarga semacam itu yang malah berhasil dalam
hidupnya.
Namun, di sisi lain, merupakan sebuah kewajaran jika seorang manusia
memerlukan orang lain yang bersedia diajak bicara tentang hal-hal yang
sangat pribadi dan peka, yang tidak perlu diketahui orang lain. Itu sebabnya
anak-anak muda umumnya memiliki sobat untuk curhat, suami memiliki istri dan
sebaliknya, yang pada dasarnya memiliki kepentingan yang sama terhadap
persoalan yang dibahas atau memiliki saling ketergantungan satu terhadap
yang lain.
Tetapi, kepada siapakah seorang orangtua tunggal pergi mengadu? Apalagi jika
mereka dihadapkan pada keterbatasan waktu, pengetahuan, kemampuan, biaya,
dan sebagainya. Terlebih-lebih jika keterbatasan-keterbatasan tersebut
justru merupakan faktor yang turut mewarnai persoalan yang timbul antara
sang orangtua dengan anaknya.
Kepada teman atau sahabat? Bisa saja. Sayangnya, mereka pada umumnya tidak
memiliki panggilan moral untuk selalu siap menopang beban hati. Paling
banter, ngobrol sesekali ataupun membantu tanpa harus terlibat secara
pribadi. Bagaimana dengan kakek-nenek sang anak? Selain berbeda "dunia" dan
"bahasa", mereka pun acapkali kurang bisa mengambil jarak objektif terhadap
persoalan yang berlangsung antara anaknya dengan cucunya. Akibatnya, malah
sering memperuncing masalah.
Bagaimana dengan Pastor atau Pendeta? Wah, susah, karena mereka tidak jarang
bersikap normatif dan menggurui [bahkan menghakimi], bukannya sebagai kawan.
Kepada anggota jemaat lain? Walah! Bisa-bisa menimbulkan masalah baru karena
menjadi bahan pergunjingan. Apalagi mereka semua tidak mengetahui secara
cukup rinci proses yang berlangsung.
Kepada Tuhan? Sudahlah pasti. Hanya saja, manusia kerapkali merasa butuh
sosok yang tampak secara visual dan bisa memberikan tanggapan secara
langsung.
Lalu, siapa orang yang secara etis dianggap layak mengemban tanggung jawab
menjaga kerahasiaan keluarga seraya membantu menjernihkan serta
menyelesaikan persoalan yang sangat pribadi semacam itu? Siapa yang mau
bersukarela menempatkan diri di posisi orangtua sebagaimana layaknya
orangtua asli?
Peran itulah yang seyogianya dilakoni oleh para Orangtua Baptis, demikian
Bapak saya kerap menyampaikan pandangannya saat beliau masih cukup sehat
untuk menunaikan kewajibannya selaku seorang Prodiakon. Hanya saja saya
sangsi ada cukup banyak orang yang sungguh-sungguh melakoni peran tersebut
sebagaimana diidealkan Bapak (dan hal ini pun diakui beliau), kecuali mereka
yang juga memiliki hubungan kekeluargaan secara nyata. Tetapi, hubungan
keluarga pun ternyata bukanlah sebuah jaminan. Di dunia nyata ini, tidak
sedikit keluarga yang tidak terpelihara kekerabatannya. Jangan kata diminta
untuk ikut berbagi beban.
Saya pun kurang yakin bahwa mereka yang secara legal-formal-gerejani telah
tercatat sebagai Orangtua Baptis tersebut sebenarnya cukup memahami makna
peran yang diembannya. Ada berapa banyak Orangtua Baptis yang benar-benar
bisa menempatkan diri sebagai bagian dari keluarga Anak Baptisnya berikut
tanggungjawab yang disandangnya? Faktanya, saya sendiri tidak pernah diberi
penjelasan oleh pihak gereja ketika menjadi Orangtua Baptis bagi keponakan
saya, apalagi dimintai konfirmasi mengenai kesanggupan menjadi Orangtua
Baptis. Hanya penjelasan dari Bapak sayalah yang jadi pegangan saya. Itu pun
saya diskusikan terlebih dahulu dengan kedua orangtua si anak.
Saya khawatir, jangan-jangan malah tidak ada orang yang mau menjadi Orangtua
Baptis jika kepadanya disampaikan "beban berat" yang akan dipikulnya.
Walhasil, menurut pandangan saya, peran tersebut di masa kini cenderung
menjadi sebuah formalitas belaka, yang tidak bermakna apa-apa seusai prosesi
pembaptisan.
Membandingkan Godfather kaum mafia dengan Godfather pembaptisan di Katolik,
tampaknya kalangan mafioso sudah lebih berhasil menerjemahkan posisi
Godfather bagi sang anak ke dalam perilaku nyata. Meskipun relasi yang
terbangun antara kedua belah pihak jadi berlebihan, yakni kesetiaan mutlak
kepada kekuasaan tak terbatas sang pemimpin terhadap seluruh hidup dan mati
sang anak, ikatan dan pengejawantahannya dalam kehidupan merupakan sesuatu
yang amat nyata tinimbang sekedar prosesi dan pencatatan di selembar kertas
akta baptis.
Saya tidak tahu apakah pernah terpikirkan tentang pendudukan kembali peran
Godparent dalam sebuah keluarga Katolik. Entahlah. Itu urusan yang jauh dari
kemampuan saya untuk menggelutinya. Yang jelas, saya masih terus
bertanya-tanya tentang siapa orang yang akan mengambil peran sebagai
Godparent (tanpa harus diformalkan) bagi kedua anak teman Riris yang masih
demikian panjang perjalanannya ke masa depan. Tentu saja tanpa mereduksi
bahkan menihilkan posisi orangtua kandung sang anak sebagai Godparent yang
sesungguhnya, sebagaimana de Niro maupun Pacino maupun Garcia yang tidak
akan bisa menggeser kedudukan Brando.
Terutama pada saat dunia ini tampak demikian tidak bersahabat, betapa
melegakan memiliki orang yang bersedia berdiri di samping kita.
Entah kenapa, sepekan ini saya berulangkali memutar lagu
Somewhere over The Rainbow, persis kelakuan orang sedang kasmaran yang
tidak jemu mendendangkan lagu cinta yang sama sampai-sampai orang lain naik
pitam karena bosan 😞 Padahal saya tidak sedang mengalami mood tertentu
yang ada hubungannya dengan pelangi, konon pula dengan rasa kasmaran.
Sudah agak lama saya ingin tahu siapa yang menyanyikan lagu yang terdengar
sederhana. Apalagi penyajiannya hanya diiringi kocokan khas pada ukulele,
sebuah alat musik yang boleh dibilang sama sekali tidak elit dan prestisius
bagi para pesohor musik. Benar-benar lagu yang sederhana.
Beberapa kali saya mendengar lagu itu digunakan sebagai musik ilustrasi film.
Yang masih saya ingat adalah
50 First Dates
yang diperani oleh Adam Sandler dan Drew Barrymore (tentu saja bersama sobat
kental Sandler, Rob Schneider) serta
Meet Joe Blackyang
dibintangi Brad Pitt dan Anthony Hopkins. Juga sebuah film lain yang saya lupa
judul dan ceritanya 😞, hanya ingat adegan akhirnya ketika kamera yang berada
di ketinggian angkasa menyorot sang tokoh yang berdiri di puncak sebuah bukit.
Karena film-film itu bicara tentang nilai indah harapan dan perjuangan serta
penghargaan terhadap kehidupan, terlepas dari tragedi apa pun yang mengiringi
dan menggerogoti, tentu sangat menarik untuk mengetahui mengapa lagu sederhana
itu dipilih. Namun kali ini saya tidak hendak bicara tentang film-film
tersebut walau ada sesuatu yang sangat dalam yang bisa diulas. Lain kali saja.
Satu ketika, Riris membuat sebuah demo iklan untuk media TV yang dihiasi lagu
tersebut. Kontan rasa penasaran saya jadi makin tergugah. Sayangnya, Riris
tidak bisa memberikan informasi banyak tentang lagu tersebut. Bodohnya pula
saya saat itu tidak segera bertanya pada Mr. Google yang mahasakti dalam soal
informasi 😞. Walhasil, rasa ingin tahu itu tetap tinggal sebagai kerikil
samar-samar dalam hati selama sekian lama.
Beberapa hari yang lalu, sewaktu mengunggah (upload) lagu-lagu ke
internet, saya teringat pada lagu yang menurut saya cukup ajaib itu. Kali ini,
tanpa menunda-nunda lagi, saya langsung takzim menghadap Mr. Google. Dalam
hitungan kurang dari 1 detik, ribuan informasi segera membanjiri layar
komputer. Dari sana, saya singgah ke perpustakaan WikiPedia untuk mencari
informasi lebih dalam, serta menyambangi situs YouTube untuk mendapatkan efek
visual. Dan tentu saja tidak lupa memasukkan lagu tersebut ke dalam daftar
lagu untuk blog ini 😞
Baru saya tahu bahwa lagu itu dipopulerkan oleh seorang "raksasa" dari Hawaii
bernama Israel Ka'ano'i Kamakawiwo'ole yang akrab disapa Iz. Kisah hidupnya
cukup menarik. Selain menjadi seniman yang tekun memopulerkan musik khas
Hawaii, Iz juga adalah seorang pejuang yang gigih menyerukan kebebasan dan
hak-hak orang Hawaii.
Demikian besar determinasi dan upayanya, sehingga pada akhir hayatnya dia
menjadi orang ketiga (tetapi rakyat biasa pertama) yang jenasahnya mendapat
penghormatan disemayamkan di gedung pusat pemerintahan Honolulu. Bendera
Hawaii pun dikibarkan setengah tiang pada hari pemakamannya. (Jadi ingat Bob
Marley yang juga sering dianggap sebagai pahlawan orang Jamaika.) Selain
raksasa dalam ukuran badan, ternyata Iz juga adalah seorang raksasa dalam
musik serta perjuangan kesetaraan hak-hak sipil orang Hawaii.
Tentang lagu itu sendiri; secara mengagumkan Iz menyisipkan syair lagu "What a
Wonderful World" gubahan Louis Armstrong Jr. di tengah-tengah syair lagunya.
Lagu Armstrong yang berjiwa jazz/blues tersebut masuk dengan mulus dan cantik
ke dalam irama hawaiian yang menjadi karakter lagu Iz. Lagu yang kemudian
kerap dijuduli
Somewhere over The Rainbow/What a Wonderful World
itu pun populer ke seantero dunia. Bahkan hingga saat ini, setelah kematian Iz
sekitar satu dekade lalu. Selain dinyanyikan banyak orang dan
penyanyi sohor
dari berbagai genre musik, juga menjadi lagu latar berbagai film dan
iklan
di berbagai negara.
Sekarang soal pelangi. Sejatinya, tidak satu pun dari kita --kecuali
saudara-saudara yang tunanetra ataupun butawarna-- asing pada pelangi serta
keindahannya. Memang pelangi hanyalah sebuah fenomena optik yang bisa
dijelaskan secara masuk akal oleh ilmu fisika sehingga tidak dianggap sebagai
mukjizat. Namun, sekian masa yang lampau, pelangi dipandang sebagai tanda yang
dilambari sifat keilahian. Bahkan menjadi meterai perjanjian damai antara
Tuhan dan manusia melalui Nuh, demikian Alkitab bertutur perihal fenomena
indah alam yang saat itu belum terjelaskan ilmu pengetahuan.
Maka bisa dipahami mengapa pelangi hampir selalu dikaitkan dengan kebaikan.
Malahan dalam dongeng kanak-kanak, sering digambarkan sebagai busur rejeki
yang di kakinya tergeletak seguci emas ataupun sepeti harta karun. Pada
intinya, nyaris tidak ada metafora yang menggunakan pelangi untuk keburukan.
Paling banter netral-netral saja sebagai kias keragaman ataupun dinamika
asam-garam kehidupan.
Pelangi adalah simbol keindahan-tiada-tara dunia ini. Segala sesuatu
demikian indah dalam harmoni bak sebuah simfoni agung. Maka, rasa haru saya
cukup tergetar saat melihat klip video yang lagunya dilantunkan suara
kanak-kanak
Aselin Debison
(silakan klik
ini
ataupun
ini).
Sialnya, bukan klip video manis tersebut yang pertamakali saya temukan dan
buka di situs YouTube 😞, melainkan video ilustrasi di bawah ini.
Entah siapa yang membuatnya, namun dengan jitu memparodikan 180° seluruh
syair tentang keindahan yang semula nikmat didendangkan. Dan naasnya, justru
itulah kenyataan dunia saat ini! Walhasil, lagu yang semula membuat saya
penasaran itu kini malah membuat saya terjerembab dalam renung kesesakan.
Benarkah dunia ini demikian indah tiada tara? Ataukah semua itu hanya
dongeng pengantar tidur kanak-kanak?
Dan ketika menyimak liriknya, saya terpukau pada frasa pendek yang
disodorkan Iz di akhir syairnya. Begitu singkat sehingga tidak menonjol,
bahkan seperti sambil lalu. Namun, entah kenapa, saya merasa, justru pada
frasa pendek itulah terkristalkan jiwa lagu tersebut.
Adalah sebuah gugatan besar yang mendasar tatkala seseorang mempertanyakan
kenyataan tidak diijinkan memasuki berbagai hal indah dan menyenangkan yang
berani [dan boleh] diimpikan orang lain. Seluruh keindahan yang kerap
dikisahkan orang lain tinggal sebagai dongeng yang bahkan terlarang untuk
dimimpikan, konon pula dinyatakan. Sebagian orang seakan berhadapan dengan
dinding cadas yang membatasinya dari kebebasan dan keutuhan manusia yang
asasi. Dalam hal ini saya bisa memahami maknanya dalam kaitan perjuangan Iz
bagi hak-hak orang-orang asli Hawaii yang terbedakan dengan orang kulit
putih.
Gugatan semacam itu membuat saya resah tatkala merefleksikannya ke dalam
kehidupan di sini dan kini.
Saya percaya bahwa sesungguhnya dunia dan kehidupan ini amatlah indah. Penuh
warna bagai pelangi, yang dalam lagu kanak-kanak dinyatakan sebagai ciptaan
Tuhan. (Bukankah dunia dan hidup ini memang ciptaan Tuhan?) Pelangi adalah
gambaran keragaman berbagai hal yang kita hadapi setiap saat dalam
kehidupan. Kita bisa saja melihat sesuatu yang sama, tetapi belum tentu kita
membaca makna dan memiliki rasa yang sama tentangnya. Demikianlah halnya
semua kenyataan yang berlintasan di hadapan kita. Amat berwarna dan
seharusnya amat menggairahkan. Bahkan setiap orang pun berhak memiliki
pelanginya sendiri, tempat dia menyisipkan harapan dan mimpi-mimpi.
Sayangnya, kerapkali kita sulit menerima keberadaan orang lain yang memiliki
"warna" berbeda dengan yang kita gemari. Entah bagaimana caranya menikmati
keindahan pelangi yang hanya terdiri dari satu warna. Dan entah warna mana
pula yang pantas dihadirkan. Setiap orang akan bertikai mempertahankan kubu
masing-masing.
Pelangi kehidupan memang tidak seindah pelangi alam. Tidak musti selalu
berwarna cerah semarak. Begitulah galibnya kehidupan. Namun, pelangi
kehidupan ini acap berlumur lumpur hitam yang bukannya tidak jarang kita
sendiri yang melaburkannya atau --lebih celaka-- dilakukan satu orang
terhadap lain orang. Tak perlu kita sangkal kenyataan tentang sebagian orang
yang --entah dengan cara bagaimana-- punya kuasa menentukan, menodai, atau
bahkan merebut pelangi orang lain. Di sisi lain, tidak sedikit orang lain
yang sudah tidak tahu lagi bagaimana menghayati pelangi kehidupannya yang
sudah tergadaikan oleh belenggu keseharian. Di antara keduanya terentang
ketegangan tak terdamaikan yang mungkin belum akan berakhir hingga hayat
berpamitan pada raga.
Seandainya saja setiap orang mau berpadan diri dalam harmoni bagai nada-nada
yang terangkai dalam sebuah lagu, niscaya semua akan menjadi pelangi yang
anggun mewarnai kehidupan. Betapa indah dunia ini jika berjuta pelangi
saling bertaut menyumbangkan keindahan masing-masing.
Pelangi memang belum menjadi tanda perdamaian dan kebaikan yang dijanjikan
bagi seluruh insan. Namun kehidupan terus berjalan tanpa henti, tak jemu
menantang orang-orang untuk tidak pernah menyerah hingga mencapai kaki
pelangi. Di baliknyalah barangkali akan ditemukan keindahan sejati, bukannya
kesemuan penuh gincu demi mematut penampilan dan kenikmatan tamak.
Barangkali di sanalah bisa disua kedamaian dalam kesahajaan yang tidak
canggih, tatkala setiap orang sedia berbagi dengan sesamanya, sehingga tak
ada lagi orang yang masih harus berjuang menggugat hak-hak asasinya,
termasuk untuk bermimpi.
Di sanalah mungkin Iz kini berada, bernyanyi riang dengan ukulelenya. Entah
pula jika hal itu berarti telah terpenuhinya janji perdamaian antara Tuhan
dengannya, sehingga pelanginya bukan lagi sekedar sebuah busur cahaya yang
dipendarkan kristal air sebagai sebuah fenomena fisika biasa semata, bukan
pula sebuah angan yang terbelenggu.
Somewhere over the rainbow, dreams really do come true.
Sekarang saya bisa menarik hikmah dari parodi video ilustrasi tersebut
tentang kenyataan dunia yang amat bertolakbelakang dengan keindahan di balik
pelangi. Kendati demikian, bagi saya, lagu legendaris karya Israel Ka'ano'i
Kamakawiwo'ole itu adalah sebuah himne bagi orang-orang yang terbedakan
namun tidak pernah terkalahkan. Itu sebabnya secara intuitif saya langsung
menyukainya sejak awal 😎
Bukanlah satu kebiasaan maupun kebisaan saya untuk bertemu secara nyata dengan
orang-orang yang mulanya saya jumpai di dunia maya internet seperti
mailing list (milis) melalui acara yang lazim disebut
kopi darat (kopdar). Jangankan yang bersifat pribadi satu lawan satu,
bahkan yang dilakukan secara beramai-ramai dengan anggota lain milis pun
sebenarnya tidak sangat menarik minat saya.
Bisa dihitung dengan jari sebelah tangan jumlah kopdar yang pernah saya ikuti.
Satu kali kopdar tidak resmi dengan beberapa anggota milis
APIKatolik
plus
gerejakatolik
setelah misa Jumat pertama yang dilayankan oleh Romo Gani di Chase Plaza, satu
kali dengan milis [yang waktu itu bernama]
gkps di
Laponi Tondongta Jalan Sabang, dua kali dengan milis
hkbp yang
masing-masing berlangsung di Laponi Tondongta Jalan Sabang dan lapo Taman
Mini. Hanya itu. Sedangkan yang sifatnya pribadi pun hanya segelintir. Yang
saya ingat adalah dengan Dea, Debora, Telly, Caroline, Romo Gani, dan Mbah
Dukun Sesat alias Efron.
Sebenarnya kekurangminatan saya itu lebih disebabkan oleh kekhawatiran menjadi
canggung saat bersosialisasi dengan orang-orang yang belum saya kenal.
Acapkali saya mengalami kesulitan mencari topik perbincangan awal yang menarik
bagi kedua belah pihak (terlebih-lebih jika lawan bicara saya adalah kaum
lelaki, males banget dah! 😉
Hal ini amat berbeda dengan dunia pekerjaan, tempat saya tidak menemui
kesulitan saat berjumpa dengan siapa pun dari tingkatan apa pun kendati belum
pernah berkenalan. Dengan mereka, tentu saja topik yang akan dibicarakan sudah
dipahami [dan disepakati] oleh kedua belah pihak, sehingga tidak diperlukan
basa-basi dalam rangka menebak-nebak jenis perbincangan. Semuanya bisa
dilakukan to the point dalam semesta yang tidak terlalu melebar.
Sedangkan kopdar biasanya tidak memiliki agenda pembicaraan khusus. Semuanya
amat cair dan mengalir sehingga bisa melantur ke mana-mana. Di situlah letak
kesulitan saya; menebak-nebak bahan perbincangan yang diminati oleh lawan
bicara. Apalagi jika kopdar tersebut bersifat pribadi tanpa kehadiran orang
ketiga yang bisa menolong mengisi pembicaraan guna mencegah kebekuan. Dan,
celakanya pula, saya termasuk orang yang paling enggan merepotkan diri
menebak-nebak pikiran orang lain.
Sindrom itu pulalah yang menghantui saya tatkala mengarahkan mobil menuju
Sekolah Tinggi Teologia (STT) Jakarta di Jalan Proklamasi pada tanggal 20
Agustus yang lalu.
Sehari sebelumnya, sebuah SMS masuk ke ponsel saya menanyakan apakah saya ada
waktu keesokan harinya sekitar jam 14 untuk bertemu. Kalau saja pengirimnya
bukan orang bernama Joas Adiprasetya, barangkali saya tidak terlalu grogi 😉
Kini nasi sudah menjadi bubur, dan janji tak mungkin lagi ditarik. Sejak
sekian bulan, bahkan tahun, yang lalu, ketika beliau masih "nyantrik" di
Boston University, saya sudah memaksanya mencantumkan nama saya dalam daftar
orang yang ingin "beraudiensi", minimal minum kopi dan merokok bareng. Dan
beliau sudah menyatakan kesediaannya.
Janji itu ditepatinya begitu kembali ke Indonesia. Malah, saya sudah
disediakan waktu bertemu seusai kebaktian pagi di GKI Pondok Indah pada
tanggal 20 Juli 2008, tepat 2 hari setelah tibanya di Jakarta. Sayangnya, pada
tanggal yang dinanti-nantikan tersebut saya batal datang karena Riris (istri
saya) kurang sehat. Walhasil, terjadilah penundaan hingga batas waktu yang
belum dapat ditentukan. Apalagi, jadwal beliau tampaknya cukup padat.
Sebenarnya, hari Minggu itu saya nyaris menjadi orang yang sangat beruntung.
Sampai-sampai Padre Calvin van Pamulang sempat-sempatnya mengemukakan
"kecemburuan" atas keberuntungan saya itu sementara beliau harus berkutat
dengan urusan Sinode di Bandung. Dengan masygul saya balas SMS beliau
mengabarkan batalnya perjumpaan dengan Joas.
Bukanlah sebuah omong-kosong jika saya katakan bahwa Joas adalah salah satu
orang yang membuat saya merasa terhormat jika bisa berjumpa. (Dengan presiden
saja rasanya tidak begini-begini amat karena memang tidak minat 😉) Barangkali
akan terdengar jumawa jika saya katakan tidak banyak orang yang saya segani
dari dunia maya milis. Tapi, memang demikianlah kenyataannya. Dan Joas adalah
salah satu dari sedikit orang tersebut (tidak perlulah saya jelaskan
panjang-lebar alasannya). Meskipun saya tahu bahwa usianya lebih muda
dibanding saya, hal itu sama sekali tidak mengubah pandangan saya terhadapnya
sebagai seorang
locianpwee dunia kangouw yang kepadanya patut saya haturkan
soja.
Maka, bercampurbaurlah perasaan yang bergejolak di dalam hati saat memasuki
areal parkir depan STT Jakarta tepat satu bulan setelah janji yang tertunda.
Saking tidak ingin kehilangan waktu, saya sudah tiba di sana sekitar pukul
12.30. Sampai lupa bahwa saya belum makan siang. Akhirnya, saya makan dulu di
salah satu rumah makan di Megaria yang [konon] pernah menjadi daerah "jajahan"
Joas saat masih menjadi mahasiswa STT. Setelah itu, saya menghabiskan sisa
waktu dengan menjalani lorong-lorong kampus STT dan membaca-baca pengumuman
yang terpampang di sana. Sialnya, entah sejak kapan, kampus itu
mendeklarasikan diri sebagai kampus bebas asap rokok 😞
Tepat 5 menit menjelang pukul 14, saya berkirim SMS, "Mas Joas, saya sudah
tiba di STT." Hanya dalam hitungan kejapan mata, saya melihat seseorang
berperawakan agak gemuk berjalan sambil "celingak-celinguk" di areal parkir
dalam kampus. Aha, itu Joas! Untunglah saya sudah pernah melihat fotonya,
sehingga dengan yakin saya melambaikan tangan. Sedangkan beliau rupanya ragu
bahwa saya adalah orang yang sudah berjanji bertemu dengannya siang itu. Tentu
saja orang yang dicarinya sangat berbeda dengan yang dipikirkannya, karena
saya tidak lagi berambut panjang dan berkuncir. Apalagi saat itu saya
berpenampilan cukup rapi dengan hem dan pantalon dan sepatu kulit layaknya
orang kantoran, tidak lusuh seperti yang dibayangkannya sebagaimana terlihat
dalam foto kopdar milis hkbp di lapo Taman Mini beberapa waktu yang lalu 😉
"Ke mana kita? Saya tidak tahu tempat ngopi di sekitar sini," kata saya
setelah kami saling menyampaikan salam. Saya benar-benar lupa untuk terlebih
dahulu mencari informasi dari adik ipar saya yang berkuliah di Institut
Kesenian Jakarta (IKJ) tentang tempat nongkrong yang nyaman di kawasan
tersebut. Kabarnya, Café Loro Jonggrang di seputaran Cikini menyuguhkan kopi
yang enak (tapi belum pernah saya jajal).
Rupanya Joas pun tidak begitu tahu perkembangan wilayah itu setelah 5 tahun
penuh meninggalkan Indonesia. Akibatnya, mobil pun merambah jalan tanpa
kepastian tujuan. Sambil jalan, kami berbincang-bincang menanyakan kabar dan
keluarga masing-masing sebagaimana lazimnya orang baru berkenalan.
Setelah sampai di Kuningan, barulah saya ingat Starbuck di Tebet. Dan ke
sanalah kami menuju. Padahal, di Setiabudi Building pun ada Starbuck. Inilah
susahnya jika kekikukan masih membayangi. Pikiran jadi butek.
Beruntung Joas bukan orang kikuk seperti saya, malah cukup santai. Sehingga,
tanpa banyak memakan waktu, kami sudah bisa berbincang tanpa jeda yang cukup
berarti. Tapi, tentu saja perbincangannya masih belum beranjak terlalu jauh
dari urusan milis 😉
Setelah beberapa tegukan kopi racikan Starbuck membasahi tenggorokan
diiringi belaian lembut kabut nikotin (A Mild untuk saya, Marlboro merah
untuk Joas), perbincangan pun semakin hangat. Mulai dari soal STT, PGI, GKI,
gereja pada umumnya, pendampingan jemaat, think tank gereja,
keluarga, puisi saya, eksklusivisme-pluralisme-inklusivisme-singularisme
agama, tesis doktoral yang diambilnya, hingga akhirnya sampai ke topik yang
saya nanti-nantikan yaitu tentang apa yang akan dilakukannya di dan bagi
Indonesia setelah menuntaskan penuntutan ilmu di Boston. Hati kecil saya
sangat berharap beliau akan meluangkan waktu dan kemampuannya yang menurut
saya extra-ordinary itu untuk menulis. Tentu saja yang saya maksudkan
adalah menulis artikel dan buku yang dipublikasikan secara resmi dan luas,
bukan sekedar melalui milis.
Joas tertawa ketika harapan saya itu mengingatkannya pada rencana menulis
buku Amor Mundi yang sangat saya nanti-nantikan sejak bertahun silam.
Namun, saya sangat bisa memaklumi ketika beliau mengakui mengalami kesulitan
mewujudkannya. Terlalu banyak gagasan yang berseliweran di kepala sehingga
malah bingung memilih dan memilahnya. Konon, itulah kutukan yang melekat
pada orang yang punya banyak pengetahuan 😉 Belum lagi soal disiplin
meluangkan waktu duduk di hadapan komputer untuk menulis.
Alih-alih memberikan perkiraan penyelesaian buku Amor Mundi, Joas
malah membuat saya sangat terperanjat ketika mengajukan pertanyaan, "Buku
apa yang sebaiknya saya tulis?"
Waduh! Jelas ini bukan pertanyaan sambil lalu. Malah, terasa menjadi tohokan
jitu terhadap alasan saya yang paling hakiki mengapa ingin berjumpa
dengannya. Terang saja saya jadi gelagapan. Apa pula kompetensi saya
sehingga pantas memberikan opsi untuk bidang yang tidak saya kuasai secara
mumpuni?
Namun, di sisi lain pertanyaan itu membuat saya sadar tentang posisi saya
selaku jemaat awam yang tentunya memiliki kebutuhan dan gairah menemukan
pencerahan atas berbagai hal yang selama ini berlaku secara
taken for granted bahkan cenderung menjadi ultimatum
take it or leave it. Juga tentang banyak hal kontekstual dalam
dinamika nyata kehidupan sehari-hari yang nyaris tidak/belum disentuh oleh
gereja. Dalam hal ini, belum tersedia cukup literatur bagi kaum awam yang
tidak akrab dengan bermacam jargon teologi-akademis.
Belum sempat saya mengurai, menautkan, dan merumuskan kecamuk pemikiran,
kembali Joas mengejutkan saya dengan gagasan tentang "tarian" Trinitarian
yang menjadi dasar dari seluruh "tarian" kehidupan kini dan di sini. Entah
bagaimana, beliau seperti bisa membaca apa yang ada dalam pikiran saya
sekaligus menjawabnya dengan jitu tanpa perlu saya katakan. (Itu sebabnya
saya pernah katakan pada Efron bahwa Joas adalah anomali sekaligus jenius
😉)
Menurutnya, hal itu sebenarnya sudah sangat akrab bagi kalangan Kristen di
masa lampau, khususnya di Gereja Timur. Jelas, gagasan itu sangat menarik
bagi saya karena pernah membaca buku yang membahas metafora "tarian" Allah
Trinitarian. Hanya saja saya masih belum mampu mencerna maknanya dengan
baik, sehingga masih amat jauhlah dari pemikiran saya tentang cara
membahasakannya kepada masyarakat Kristen Indonesia yang lebih didominasi
pemahaman teologi Barat.
Kendati demikian, samar-samar saya bisa membayangkan sebuah filosofi yang
bisa menjadi dasar teologis bagi penerimaan, penghormatan, dan perayaan
terhadap keragaman sekaligus landasan membangun kemitraan dengan semua pihak
dalam kerangka pemuliaan manusia. Dalam hal ini, Joas mengatakan bahwa
dengan itu kita bisa bicara banyak hal; ekologi, feminisme, keadilan,
kesejahteraan, harmoni, dan sebagainya. Hanya saja, belum bisa saya
bayangkan bagaimana sesungguhnya uraian tentang tarian Sang Allah
Trinitarian tersebut dan bagaimana pula kisi-kisi pola yang bisa ditawarkan
pada khalayak perihal penerapan praktisnya. Entah bagaimana pula relasinya
dengan global ethics yang dulu pernah menarik minat Joas [dan masih
tetap menarik bagi saya].
Ah, biarlah itu menjadi urusan sang resi.
Tiga jam berbincang dengan Joas ternyata amat jauh dari menjemukan, malah
sangat menggairahkan (walau saya yakin bahwa semua yang kami bicarakan
barulah tepi-tepi dan kembang-kembangnya saja, belum masuk ke inti yang
tentunya tidak sederhana). Sensasinya seperti berjumpa kembali dengan
seorang kawan lama walau baru pertamakali bertemu. Maka, agak berat juga
rasanya ketika saya mengantar beliau kembali ke Jalan Proklamasi. Tugas
kampus sudah menantinya.
"Datanglah ke rumah kalau buku-buku saya sudah sampai dari Amerika," katanya
ketika saya mengarahkan mobil meninggalkan pelataran parkir STT. Saya
mengiyakan sembari membayangkan 3000-an buku yang akan datang menyerbu
rumahnya.
Jarum jam menunjukkan pukul 17 lewat sedikit ketika saya pulang dengan
perasaan lebih penuh, laksana cangkir dituangi kopi wangi yang baru saja
kami nikmati di teras Starbuck.