📌 Senin, 08 Desember 2008 🌐

Satu Minggu di Bulan Desember #2

Satu Minggu di Bulan Desember #2

— Quinn the Queen

Father, Mother and Child
artcameroon.com

Sabtu, 6 Desember 2008

Sekitar jam 16, pesawat yang membawa kami dari Jakarta pun mendarat di bandar udara Abdurahman Saleh, Malang, milik TNI Angkatan Udara. Setelah turun dari pesawat dan berjalan menuju gerbang keluar, saya melihat Tidy beserta Jhoni, suaminya, sudah menanti di pinggir landasan dibatasi oleh pagar kawat. Quinn yang baru berusia 6 bulan pun turut menjemput kami walau dia baru bisa merapat di pelukan ibunya. Ah, anak itu cepat sekali tumbuh. Sudah barang tentu jauh lebih besar dibanding keadaannya 6 bulan yang lalu ketika kami pertamakali menyambut kehadirannya di dunia ini 😞

Tanpa harus dikomando ataupun diskenariokan, kami semua langsung menampakkan semangat untuk "berkenalan" dengan Quinn yang ternyata amat murah senyum dengan sepasang lesung pipinya. Apalagi dia tidak terlalu takut pada orang baru, sehingga kami bisa puas mempertontonkan wajah kami yang menjadi jelek karena dimonyong-monyongkan.

Ternyata, anak itu berkulit putih. Semula saya menyangka Quinn berkulit gelap mewarisi gen ayahnya (bukan gelap dalam pengertian hitam, tetapi tidak putih) gara-gara foto Quinn kelihatan gelap. Saat menerima foto yang dikirim Tidy beberapa bulan lalu melalui telepon seluler itu spontan saya berkomentar, "Seperti anak Ambon". Terlebih-lebih karena dalam foto itu rambut Quinn sangat tebal dan agak ikal.

Tidak saya duga bahwa komentar pendek semacam itu ternyata agak memukul perasaan Tidy sehingga dia "mengadu" pada Lisna (adik bungsu saya yang tinggal di Bogor yang kebetulan melahirkan Patrick sehari lebih awal dari Quinn). Padahal saya sama sekali tidak bermaksud mengatakan anaknya jelek. Sama sekali tidak ada hubungan antara Ambon dengan jelek. Lagipula, siapa yang bilang anak Ambon jelek? Sebaliknya, malah banyak anak Ambon nan manise. I can prove it 😞

Kasih anak sepanjang galah, kasih ibu sepanjang jalan. Demikian bunyi peribahasa yang dulu saya kenal di masa kanak-kanak. Seorang ibu tidak akan putus mengasihi anak-anaknya, tidak peduli bagaimanapun jeleknya ataupun jahatnya sang anak, bahkan meski sang anak telah sangat menyakiti hati dan tidak mengasihi ibunya lagi. Mungkin hanya di legenda Malin Kundang saja seorang ibu tega mengutuk anaknya.

Dari situ saya belajar untuk tidak berkomentar spontan tanpa pikir panjang (meskipun hal ini sangat sulit buat saya 😞). Apalagi tentang seorang anak kecil. Bisa-bisa kena terjang, bagai diserang induk ayam yang selalu siap bertarung demi menjaga anak-anaknya.

Setelah sekian tahun, saya baru sadar bahwa tulisan ini belum selesai. Malah lupa mau menulis apa lagi ... 😵

📌 Senin, 8 Desember 2008 23:29 🌐 Malang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar