Today is May, But Not A Mayday
[ 1 ]
Sudah hampir tengah hari. Saya lihat Baba, anjing kami, duduk di ruang tengah tak memakai rompi sebagaimana biasa.
"Kok gak pakai baju?"
"Mau dimandikan," sahut Riris.
"Ya sudah, biar saya yang mandikan," kata saya sambil menggendong Baba ke kamar mandi sementara Riris menyiapkan shampoo dan handuk Baba.
Usai memandikan dan mengeringkan Baba, giliran saya mandi.
Awalnya saya berencana ikut acara pemilihan Ketua Umum Perkumpulan Gaja Toba Semesta (PGTS, sebuah wadah gerakan sosial para alumni ITB beragama Kristen yang keturunan Batak) yang diselenggarakan siang ini. Seusai acara, saya akan lanjut ke rumah Lisna[1], adik saya yang tinggal di Bogor, untuk mengantarkan barang pesanan yang kemarin sudah tiba dari toko daring.
Tetapi karena tak kunjung menerima kode untuk mengikuti pemilihan, saya pun batal datang ke lokasi acara.
Sehabis mandi, leyeh-leyeh sejenak sambil membaca pesan di WhatsApp.
Melihat saya masih berselonjor santai, Riris meminta saya membantunya membersihkan lemari es. Mumpung tak ada agenda mendesak, saya pun mengiyakan.
Usai mencuci rak-rak akrilik lemari es sehingga tampak bening kinclong, saya bereskan tas kecil yang akan dibawa. Dengan sedikit bergegas karena langit sudah mulai mendung dan guntur sesekali memproklamasikan kehadirannya setengah malu-malu.
[ 2 ]
Dengan ojek motor saya berangkat menuju stasiun Tebet. Warna kelabu masih menggantung di langit.
Tak lama menunggu, kereta jurusan Bogor tiba. Gerbong agak penuh tapi tak sampai berdesakan seperti sarden. Karena tak ada kursi kosong, saya pun berdiri tanpa mengeluh.
Tepat di depan saya berdiri sepasang lelaki dan perempuan, entah pasangan suami istri atau masih berpacaran. Si perempuan setengah bergantung melingkarkan kedua tangannya di leher sang lelaki. Sambil mereka mengobrol, kadang si lelaki mengusap wajah atau kening si perempuan. Mesra sekali.
Setengah perjalanan, hujan turun. Semakin lama semakin deras. Wah, gawat nih kalau hujan tak berhenti. Apalagi Bogor kan pelanggan setia hujan.
Benar saja. Sesampai di Stasiun Bogor, hujan turun dengan penuh semangat. Di beberapa lokasi tampak ember mulai penuh menampung air bocor dari atap. Kelihatannya sih bukan kebocoran baru tapi entah kenapa tidak diperbaiki. Selain tak elok dipandang, juga berbahaya karena membuat lantai semakin licin. (Jangan pula ada yang komen, "Terminal 3 bandara internasional Soekarno - Hatta saja bocor.")
Biasanya begitu keluar dari stasiun saya langsung naik jembatan penyeberangan orang (JPO) lalu berjalan sedikit hingga depan toko Eiger. Dari situ barulah memesan transportasi daring (online). Ternyata jembatan ditutup dengan pagar besi. Tampak permanen.
Menurut petugas di stasiun, orang harus menyeberang jalan raya menerobos kepadatan lalulintas. "Jembatan sudah lama rusak," tambahnya. Aneh sekali keputusan pemerintah yang mengelola Kota Bogor ini. Alih-alih memperbaiki jembatan yang sungguh diperlukan manusia, kok malah menutupnya 😕
Jadi repot juga menentukan titik jemput jika memesan transportasi daring. Selain akan membingungkan karena penumpang dan pengemudi harus saling mencari menemukan satu sama lain, juga berpotensi menambah kemacetan lalulintas di derasnya hujan. Apalagi pintu keluar stasiun yang hanya satu-satunya itu langsung berhadapan dengan jalur angkot. Makin ribet dah ...
[ 3 ]
Setelah bertanya pada pedagang di stasiun, saya sangat bersyukur karena angkot yang mangkal di pintu stasiun ternyata rutenya melewati Jalan Suryakencana dekat rumah adik saya. Maka, dengan langkah cepat sejarak 3 meter saja saya pun sudah masuk angkot. Memang agak basah sedikit terguyur hujan.
Tak lama menunggu, seorang penumpang terakhir naik sehingga angkot pun berjalan.
Sepanjang perjalanan, saya merenung. Berulang kali saya selamat sampai tujuan tanpa kehujanan. Bahkan tadi malam pun saya beruntung hujan berhenti saat hendak pulang ke rumah. Lantas, haruskah mengeluh ketika kali ini mengalami kehujanan di tengah jalan? Tak sepadan. Nikmati saja ...
[ 4 ]
Angkot tiba di mulut Gang Aut, Jalan Suryakencana. Saatnya turun.
Rasa lapar tiba-tiba muncul. Mungkin dingin akibat hujan membuatnya makin terasa. Maka saya masuk ke rumah makan yang dulu cukup sering saya mampiri karena menyediakan es pala (yang mengingatkan pada masa kecil ketika sering jajan es pala di depan pagar sekolah).
Usai makan, saya ke kasir untuk bayar.
"Bisa pakai QRIS?" tanya saya.
"Hanya bisa cash," jawab kasir.
"Walah ... Apa kalian masih hidup di zaman batu? Pedagang ketoprak dengan kereta dorong saja sudah pakai QRIS," ujar saya setengah heran hampir mengeluh.
Bukannya tanpa alasan, melainkan saya sudah sangat jarang mengisi dompet agak banyak karena sudah kebiasaan bertransaksi secara daring. Semoga masih ada uang yang cukup untuk membayar seporsi ngohiang dan segelas es pala. Jangan pula kenangan indah masa kecil mengenai es pala jadi tawar akibat keluhan.
Untung masih ada beberapa lembar sepuluh ribuan yang cukup untuk membayar. Aman ...
Di luar hujan sudah mulai reda walau masih menyisakan gerimis.
[ 5 ]
Dengan berjalan kaki saya menuju rumah Lisna dan tiba di sana dalam beberapa menit saja. Lisna dan Patrick, anak sulungnya yang baru lulus SMA, menyambut. Peter, suami Lisna, sedang tak di rumah karena ada tugas ke luar kota.
Kami duduk di sofa ruang tamu. Setelah menyerahkan barang yang menjadi alasan saya ke Bogor, kami pun ngobrol ini-itu dengan hangat. Patrick membuatkan saya kopi pahit panas yang saya teguk dengan nikmat.
Kelihatannya hujan memang berefek luar biasa pada rasa lapar. Baru sekitar 1 jam ngobrol, perut sudah minta diisi lagi. Patrick pun memesan makanan secara daring untuk diantar ke rumah. Mereka sudah tahu bahwa kesukaan saya adalah mie goreng.
Tak lama kemudian lauk-pauk pesanan tiba. Tapi saya masih kuat menahan lapar demi menunggu Clara, anak kedua sekaligus bungsu, yang katanya sedang dalam perjalanan pulang dari kegiatan sekolah.
Setelah Clara tiba, kami pun makan bersama mengelilingi meja makan bundar.
Patrik mengisi piring Lisna dengan nasi serta lauk-pauk. Saya memperhatikan dengan sedikit haru. Adik saya yang sudah sangat minim daya penglihatannya memiliki ketergantungan dalam banyak hal pada orang-orang di sekitarnya. Sepanjang yang saya tahu dan lihat, tak ada anggota keluarga Lisna yang pernah mengeluh atas kondisi yang mereka jalani ini. Saya bersyukur untuk itu.
Kami pun makan dengan suka cita setelah doa yang dipimpin Clara. Usai makan, kembali ke ruang tengah untuk melanjutkan ngobrol sambil menuntaskan kopi.
[ 6 ]
Sekitar jam 20, artinya sudah sekitar 4 jam saya di sana, saya pun berpamitan. Hujan sudah berhenti, maka cukup aman untuk menggunakan jasa transportasi motor menuju stasiun.
Setiba di Stasiun Bogor, kereta sudah menanti dan sekejap kemudian sudah melaju menuju Jakarta.
Saya turun di Stasiun Tebet dan melanjutkan perjalanan ke rumah dengan ojek motor.
Sesampai di rumah, Baba sudah menanti. Sehabis mandi, saya langsung menulis cerita hari ini. Sebuah hari yang indah, dengan beberapa aksen yang dinamis, dan tanpa satu pun keluhan. Sungguh menyenangkan.
[1] Kisah tentang Lisna ada di Les Misérables #1 dan Les Misérables #2.
📌 Jumat, 01 Mei 2026 22:26 🌐

