Dari Ketidakhadiranmu
Kami duduk bersisian menghadap ke jalan lengang tanpa saling pandang. Satu dua orang lewat terpaut jeda waktu lumayan panjang.
Kurasa sudah kelewat lama keheningan membelenggu hingga akhirnya mulutku meluncurkan bisikan pelan, nyaris seperti keluhan yang sangat hati-hati.
"Apa yang membuat kamu berubah?"
Dia diam.
Aku menyambung, "Tanpa penjelasan, kamu abaikan semua pesan saya di WhatsApp. Seperti ada yang kamu hindari. Berhari, minggu, hingga bulan. Ghosting"
Masih diam. Sekarang wajahnya sedikit menunduk menatap ujung sepatunya.
"Ada kesalahan yang saya buat? Kalaupun ada, kan kamu bisa tegur langsung seperti yang sudah-sudah. Dan kamu tahu banget, tak sekali pun saya pernah mempersoalkan protes bahkan marahmu."
Tetap diam.
Kunyalakan sebatang rokok kretek dan membiarkannya terbakar hingga setengah di antara jari tengah dan telunjuk sambil menunggu.
Bergeming. Tak jua ada reaksi.
Rerumputan tempat kami duduk di terasa kian dingin. Senja pun seperti enggan mengalirkan angin. Terasa agak menyesakkan.
Dan keheningan ini sangatlah menyebalkan.
"Berkali-kali kita makan siang di berbagai tempat kuliner yang konon legendaris, kemudian ngopi sepanjang sore dengan perbincangan yang kadang tak berbobot namun kerap juga menuntut perenungan mendalam hingga kita berdebat. Lalu kita berpisah kala matahari diredam kelam, saat saya antar kamu ke mobil atau halte kereta atau suamimu menjemput."
Tak sabar, aku lanjutkan.
"Kamu tentu masih ingat, pernah kita habiskan hari sejak pagi sekali di kebunmu dan genapi sore dengan pelesir ke Selatan kota. Saat itu tabir kabut yang turun membaur dengan ruap kopi panas di cangkir kita. Hari terbaik kita, menurut saya. "
Perempuan yang biasanya energik bertabur aura suka cita itu kini hanya tepekur di sampingku dengan pandangan lurus menatap ujung sepatu putihnya.
"Saya tidak pernah memperlakukan kamu tak senonoh. Menyentuhmu pun sebatas wajarnya antarsahabat. Paling banter merangkul dan cipika-cipiki," sambungku dengan canda mencoba menyibak kekakuan.
Ujung bibirnya sedikit tertarik antara senyum dan perih.
"Bicaralah," kataku memohon agar dia tak membatalkan niatnya.
Lalu mulutnya mendesirkan kalimat singkat yang sangat pelan, nyaris seperti kepedihan yang amat rentan.
"Abang tak sayang aku."
"Kok gitu?" tanyaku kaget.
"Setelah sekian lama ..."
Jeda sejenak.
Lalu dia lanjutkan dengan desir yang tetap pelan.
"... Abang tak pernah menciumku."
Sontak kepedihan itu terasa melompat pindah ke ulu hatiku.
📌 Minggu, 12 April 2026 23:03 🌐 Melak
