"Tak bisakah Abang tidak mengritik yang saya lakukan?" tanyanya dengan nada cukup ketus.
Sangat tak kusangka mendapat respon sekeras itu. Padahal tak sedikit pun niat menggugat keputusan yang dia ambil. Kalaupun pandanganku cukup sering berbeda dengan jalan pikirannya, tak lain dari upaya mengajaknya lebih realistis menyikapi situasi yang berlangsung.
Dia baru saja bercerai tanpa sedikit pun pegangan. Tak ada kesepakatan gono-gini, konon pula jaminan untuk hari-hari mendatang. Sementara sekian tahun terakhir dia tak punya sumber penghasilan pribadi yang ajeg. Di satu sisi, aku melihat eforia seorang pejuang yang berhasil mematahkan belenggu tua. Namun di sisi lain, dia ibarat seekor burung kecil yang ingin pulang di saat senja namun sarangnya telah musnah bersama hangusnya hutan. Inilah situasi yang acap membuatku khawatir.
Segalanya harus mulai dari nol, yang diakuinya sebagai ketakutan tersendiri mengingat ketertinggalan yang amat sangat.
"Bisakah saya mengejar mereka yang sudah belasan tahun lebih dulu melangkah?" berulang kali dia menyampaikan keraguan sekaligus kepedihan mengingat di masa lalu justru dia yang biasanya terdepan dalam berbagai hal dari antara kawan-kawannya.
"Kamu pernah bikin acara besar dan heboh yang idenya mendadak muncul sedangkan waktunya tinggal beberapa hari. Dengan kemampuan meyakinkan kawan-kawan yang setia dibarengi ketekunan kamu dalam komitmen, nyatanya berhasil," kucoba menggiring ingatannya dengan satu peristiwa dari untaian kisah yang pernah dia ceritakan. Sengaja kuambil episode yang berbeda dari sudah pernah kugunakan sebelumnya agar dia tidak membantah dengan alasan yang sama 😜
"Itu kan dulu waktu masih mahasiswa, gak ada beban kalaupun gagal. Sekarang adalah soal kehidupan nyata yang entah tersisa berapa lama lagi, yang saya tak mau membingkainya dengan kegagalan kesekian kali." Ternyata dia masih punya amunisi perlawanan.
"Kamu belum kehilangan sentuhan ajaib kamu," putusku.
"Ah, Abang sok tahu ..."
Aku hanya bisa meringis agak kecut mencoba menepis keraguanku sendiri.
"Belasan tahun kamu mampu bertahan dalam kenyataan yang amat berbeda dari mimpi kamu."
"Maksudnya?"
"Kamu masih bisa meyakinkan diri kamu sendiri masih ada harapan walau tanpa kepastian hadirnya berkas cahaya di ujung terowongan gelap. Kamu berhasil menjaga api jiwa kamu tetap bernyala."
"Mungkin karena saya bodoh dan hanya berilusi," keluhnya.
"Itu adalah masa yang tak semua orang mampu melaluinya dengan istimewa."
Sekian lama dia tak punya penjelasan mengapa harus menekan harga diri hingga ke titik nadir. Entah demi apa. Seperti tersihir. Tak pernah mencoba mencari alasan meninggalkan jalan yang sudah dipilih, yang kemudian dia sadari tak membanggakan apalagi membahagiakan.
"Abang membuat saya berani menghabisi ilusi itu meski tak ada kepastian apapun setelah keputusan itu. Malah saya gak punya apa-apa."
Semua memang berlangsung cepat bahkan termasuk mendadak. Dalam sekejap melahirkan tekad tak goyah hanya beberapa bulan sejak kami saling kenal. Padahal selama ini aku tak lebih dari mengulangi ceritanya sendiri tentang masa muda yang penuh warna dengan menggarisbawahi potensinya yang masih relevan untuk masa kini tatkala usia tak lagi muda.
"Keberanian ini yang dulu membuat kamu menorehkan kemenangan dan kenangan. Saya percaya keberanian ini masih ada bersama kamu untuk membangun kisah baru."
"Mungkin keberanian konyol," gumamnya datar.
Aku hanya mengangkat sebelah alis, enggan menyimpulkan apa-apa.
"Menurut Abang saya bisa melalui semua ini?" keraguannya membuncah lagi yang sekaligus seperti mencoba meraih pegangan lebih kokoh.
"Hanya jika kamu komit pada semua janji kamu."
"Kalau Abang percaya, cobalah untuk tidak mengritik apa yang saya lakukan," tembaknya ulang.
"Saya hanya berpikir yang terbaik bagi kamu," sahutku setelah diam beberapa saat.
"Tapi kan saya yang menjalaninya, bukan Abang."
"Saya khawatir."
"Soal apa?"
"Kamu sendirian."
"Saya tahu. Dan itu memang menakutkan. Tapi biarkan saya menikmati hari-hari berdasarkan keputusan saya, baik senang maupun susah, setelah sekian lama bahkan tak punya hak atas kata-kata saya sendiri."
Aku terdiam. Tanpa sengaja, pertemanan kami justru sedang memberinya kesempatan membangun kepercayaan diri untuk berpendapat setelah sekian tahun hanya boleh menempatkan diri sebagai pihak yang selalu salah dalam setiap persoalan. Kini dia sedang membiasakan diri membangun argumen dan rasionalitasnya sendiri dengan aku sebagai mitra latih. Aku pun tersenyum.
Kuharap apapun yang terjadi nanti adalah konsekuensi terukur yang akan memandunya ke kedewasaan, menggantikan tahun-tahun gelap yang demikian ganas mengikis kemandiriannya. Tanpa sadar kugumamkan pinta agar kesejatian diri yang pernah hadir di masa mudanya segera terbangkitkan untuk sigap mengenali tanda-tanda hari sehingga kesalahan sekalipun tak akan mudah menyurukkan ke sudut fatal.
"Berjanjilah," pintaku dengan pelan.
"Janji apa?"
"Ketika keraguan bahkan penyesalan mulai mengusik, ingatlah bahwa saya selalu bersamamu meski pada saat kita tak bersama."
Matanya memandangku. Perlahan lapis bening mulai menggenang.
"Bermurahhatilah sejenak pada saya, Bang," bisiknya.
Aku pun maklum bahwa janji itu tak perlu diucapkan.
📌 Minggu, 31 Mei 2026 18:45 🌐
