Tampilkan postingan dengan label perempuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perempuan. Tampilkan semua postingan

📌 Minggu, 31 Mei 2026 🌐

Perempuan di Titik Nol

Perempuan di Titik Nol

"Tak bisakah Abang tidak mengritik saya?" tanyanya.

Sangat tak kusangka mendapat respon seketus itu. Padahal tak sedikit pun niat menggugat keputusan yang diambilnya. Kalaupun pandanganku cukup sering berbeda dengan jalan pikirannya, tak lain dari upaya mengajaknya lebih realistis menyikapi situasi yang berlangsung.

Dia baru saja mengakhiri kebersamaan rumah tangganya tanpa pegangan memadai, konon pula jaminan untuk hari-hari mendatang. Sementara dia tak punya penghasilan pribadi yang ajeg selama sekian tahun terakhir.

Di satu sisi, ada sedikit suka cita menampak eforia seorang pejuang yang berhasil mematahkan belenggu tua. Namun di sisi lain, dia ibarat seekor burung kecil yang ingin pulang saat senja namun sarangnya telah musnah bersama hangusnya hutan. Ketegangan antara keduanya acap membuatku gamang.

Segalanya harus mulai dari nol, yang diakuinya merupakan kegentaran tersendiri yang sering muncul sebagai hantu penyemai kesangsian atas keputusan yang sudah telanjur diambil.

"Bisakah saya mengejar mereka yang sudah melangkah jauh selama saya terjebak belasan tahun dalam kerangkeng kenihilan?" untuk kesekian kali dia ungkap keraguan berbalut kepedihan, mengingat di masa lalu justru dia yang biasanya terdepan dalam berbagai hal dibanding kawan-kawannya.

"Kamu pernah bikin acara besar dan heboh yang idenya mendadak muncul, sedangkan waktunya tinggal beberapa hari. Dengan kemampuan meyakinkan kawan-kawan yang setia dibarengi ketekunan kamu dalam komitmen, nyatanya berhasil," kucoba menggiring ingatannya dengan mencuplik satu peristiwa dari untaian panjang kisah masa lalu yang pernah dia ceritakan. Sengaja kuambil episode yang berbeda dari yang sudah pernah kugunakan agar dia tidak membantah dengan alasan yang sama 😜

"Itu kan dulu waktu masih mahasiswa, gak ada beban kalaupun gagal. Sekarang adalah soal kehidupan nyata yang entah tersisa berapa lama lagi, yang saya tak mau membingkainya dengan kegagalan kesekian kali." Ternyata dia masih punya amunisi perlawanan.

"Kamu belum kehilangan sentuhan ajaib kamu," putusku.

"Ah, Abang sok tahu," rajuknya.

Aku hanya bisa meringis agak kecut mencoba menepis keraguanku sendiri.

"Belasan tahun kamu mampu bertahan dalam kenyataan yang amat bertolak belakang dengan mimpi maupun kemampuan kamu," balasku setengah menohok sikap tak berdayanya demi mengusik egonya.

"Maksudnya?"

"Kamu bisa menabahkan diri menggenggam harapan walau kepastian hadirnya berkas cahaya nyaris nol andai tetap tinggal dalam terowongan. Kamu berhasil menjaga api jiwa kamu tetap bernyala."

"Mungkin karena saya bodoh dan hanya berilusi," keluhnya. Gaya merendahkan diri yang sering kubilang menyebalkan.

"Itu adalah masa yang tak semua orang mampu melaluinya dengan istimewa," kali ini aku mencoba bersikap lunak.

Sekian lama dia tak punya penjelasan mengapa bisa terhanyut untuk menekan harga diri hingga ke titik nadir. Entah demi apa. Seperti tersihir. Tak pernah mencoba mencari alasan meninggalkan jalan yang sudah dipilih, yang kemudian dia sadari tak membanggakan apalagi membahagiakan.

"Abang membuat saya berani mengakhiri ilusi itu meski tak ada kepastian apapun setelah keputusan itu. Malah saya gak punya apa-apa."

Semua memang berlangsung cepat. Sikap pasrah bermetamorfosis menjadi tekad yang kian membesar secara eksponensial hanya beberapa bulan sejak kami saling kenal. Padahal yang kulakukan selama itu tak lebih dari mereproduksi album masa mudanya yang penuh warna dengan memberikan catatan kaki perihal potensinya yang masih relevan untuk masa kini tatkala usia tak lagi muda.

"Keberanian ini yang dulu membuat kamu menorehkan kemenangan dan kenangan. Saya percaya keberanian ini masih menyertai kamu untuk membangun kisah baru."

"Mungkin keberanian konyol," gumamnya datar.

Aku hanya mengangkat sebelah alis, enggan menyimpulkan apa-apa.

"Menurut Abang saya bisa melalui semua ini?" keraguannya membuncah lagi namun sekaligus menjadi isyarat adanya upaya meraih pegangan lebih kokoh.

"Hanya jika kamu komit pada semua janji kamu."

"Kalau Abang percaya, cobalah untuk tidak mengritik apa yang saya lakukan," tembaknya ulang.

"Saya hanya berpikir yang terbaik bagi kamu," sahutku setelah diam beberapa saat.

"Tapi kan saya yang menjalaninya, bukan Abang."

"Saya khawatir."

"Soal apa?"

"Kamu sendirian."

"Saya tahu. Dan itu memang menakutkan. Tapi biarkan saya menikmati hari-hari berdasarkan keputusan saya, baik senang maupun susah, setelah sekian lama bahkan tak punya hak atas kata-kata saya sendiri."

Sudah agak lama kusadari bahwa pertemanan kami merupakan kesempatan baginya memacu proses kembalinya kepercayaan diri untuk bersikap setelah sekian lama terbiasa menempatkan diri sebagai alas kaki yang selalu salah dalam setiap persoalan. Kini dia sedang membiasakan diri menata argumen dan rasionalitas perlawanannya sendiri dengan aku sebagai mitra latih.

Aku pun tersenyum. Pantaslah sikapnya amat kontras dengan sebelumnya.

Kuharap apapun yang terjadi nanti adalah konsekuensi terukur yang akan memandunya ke kedewasaan, menggantikan tahun-tahun gelap yang demikian ganas mengikis kemandiriannya. Semoga hakikat diri yang pernah hadir di masa mudanya segera terbangkitkan untuk sigap mengenali tanda-tanda hari sehingga kesalahan sekalipun tak mudah menyurukkan ke sudut fatal.

"Berjanjilah," pintaku pelan.

"Janji apa?"

"Ketika keraguan bahkan penyesalan mulai mengusik, ingatlah bahwa saya selalu bersamamu meski pada saat kita tak bersama."

Matanya memandangku. Lapis bening perlahan mulai menggenang.

"Bermurahhatilah sejenak pada saya, Bang," bisiknya.

Aku pun maklum bahwa janji itu tak perlu diucapkan.

📌 Minggu, 31 Mei 2026 18:45 🌐 Kopi Temu

📌 Minggu, 19 April 2026 🌐

Kuntum Hening Abadi

Kuntum Hening Abadi

"Kamu di rumah?" langsung begitu suara pertama yang terdengar ketika panggilan ponsel kuterima. Sungguh tanpa basa-basi.

Dia satu-satunya orang yang kadang memanggil dengan sapaan "Abang", kadang bertukar dengan kata ganti orang kedua, "kamu". Sekena rasa hatinya saat itu. Bukan karena sedang tak suka.

"Iya," sahutku.

Hari masih pagi. Namun jalan di depan rumah sudah cukup bising dengan lalu-lalang orang yang hendak pergi bekerja, sekolah, ataupun mengurus persoalan masing-masing. Tukang cakwe di pinggir jalan pun masih belum tuntas membenahi tendanya.

"Bisa keluar sebentar?"

"Ada apa?"

"Ada yang mau saya berikan."

Aku pun beringsut bangkit dari sofa dan beranjak ke luar rumah.

Dia menanti di pinggir jalan sambil duduk di sadel sepedanya. Helm serta kacamata balap tentu saja melengkapi jersey dan celana pendek sport. Dan sebagaimana kebiasaannya, ransel selalu bertengger di punggung.

"Kapan balik?" tanyaku karena tahu dia kemarin pergi naik gunung bersama beberapa kawannya di grup pecinta alam.

"Tadi malam," sahutnya.

Tanpa banyak bicara dia ulurkan seikat kecil bunga terbungkus plastik berlilit pita keemasan.

"Edelweis," gumamku.

Dia tersenyum kecil memperlihatkan gigi gingsulnya.

"Saya petik kemarin sore. Teringat Abang."

Agak kikuk kuraih bunga itu sambil berharap orang lewat tak terusik dan mengernyitkan kening atas adegan kontraversi ini karena biasanya pihak lelakilah yang memberikan bunga.

"Kamu tahu makna bunga sederhana ini?" tanyaku.

"Apa saya sebodoh itu menurut Abang?"

Aku hanya meringis. Sudah pasti dia tak bodoh untuk paham arti simbolis bunga Edelweis. Sehingga, pastinya dia juga tak bodoh memaknai pemberian ini padaku.

Berlangsung sepagi ini, di kesempatan pertama yang bisa dia lakukan. Tentu sesuatu yang sangat berarti. Bukan ketergesaan, lebih merupakan gejolak rasa yang tak sanggup dihalau.

"Ada lagi," katanya.

Dia membuka kantung luar ranselnya dan mengeluarkan sebentuk gelang anyaman benang 4 warna.

"Ini tak sengaja ketemu waktu kemarin membereskan laci. Saya buat sudah lama sekali, saat mengisi hari dan hati yang kosong. Waktu itu tak terpikir untuk siapa. Kini saya tahu kenapa dulu membuatnya," katanya sambil melonggarkan simpul gelang itu.

Kuulurkan lengan dan dia pasangkan di pergelangan tangan kananku.

"Rasanya seperti dilamar," gurauku menggoda.

"Kenapa? Gak suka?"

Ketus seperti biasa dan aku tak pernah punya hasrat untuk tersinggung padanya.

"Kalau saja ..." gumamku lirih sambil berlindung di balik kamuflase seringai lebar.

"Ya ..." sambungnya sepaham.

Aku memandangi wajahnya. Mencoba menembus tabir jiwa melalui bola matanya. Dalam hening yang amat rapuh. Begitu pun dia. Tanpa sentuhan. Sepenuhnya hanya diam saling pandang.

Sampai akhirnya dia sunggingkan senyum khasnya. Tak ada perih dan sesal.

"Saya jalan dulu ya," pamitnya.

Aku mengangguk kecil. Berat. Terasa sangat tak berdaya. Sekejap bisa kurasakan betapa dingin serpih keabadian yang tak pernah sanggup mewujud menembus dinding mimpi.

Hingga beberapa jenak aku masih berdiri tepekur di pinggir jalan. Nyaris tak berkedip memandangi dia mengayuh sepedanya dengan pelan, semakin jauh, hingga akhirnya hilang di kelokan jalan. Seperti perpisahan tanpa lambaian.

Orang kian banyak berlalu-lalang di sekitarku. Namun tak kudengar suara. Sunyi sempurna. Amat lama.

📌 Minggu, 19 April 2026 00:55 🌐 Bandung

📌 Minggu, 12 April 2026 🌐

Senjakala Cahaya Bening

Senjakala Cahaya Bening

— Artefak Hadirmu

Senjakala Cahaya Bening

Senjakala Cahaya Bening

Kita duduk bersisian menghadap ke jalan lengang tanpa saling pandang. Satu dua orang lewat di kejauhan terpaut jeda waktu lumayan panjang.

Kurasa sudah kelewat lama keheningan membelenggu. Hingga akhirnya mulutku tak tahan mendesiskan bisikan pelan, nyaris seperti keluhan yang sangat berhati-hati.

"Ada yang berubah."

Kamu diam.

Aku menyambung, "Tanpa penjelasan, kamu abaikan semua pesan saya di WhatsApp. Seperti ada yang kamu hindari. Berhari, minggu, hingga bulan."

Masih diam. Sekarang wajahmu sedikit menunduk menatap ujung sepatumu.

"Apa yang salah? Kalaupun ada, kan kamu bisa tegur langsung seperti yang sudah-sudah. Dan kamu tahu persis, tak sekali pun saya pernah mempersoalkan protes bahkan marahmu."

Tetap diam.

Kunyalakan sebatang rokok kretek dan membiarkannya membara tanpa dihisap di antara jari telunjuk dan tengah. Menunggu kamu bicara. Terbakar hingga setengahnya secara percuma.

Bergeming. Tak jua ada reaksi.

Rerumputan tempat kita duduk terasa kian dingin. Senja pun seperti enggan mengalirkan angin. Terasa agak menyesakkan.

Dan keheningan ini sangatlah menyebalkan.

"Berkali-kali kita janji ketemu hanya untuk makan siang di berbagai tempat yang menurutmu layak didatangi. Kemudian ngopi sepanjang sore dengan perbincangan yang kadang tak berbobot namun kerap juga menuntut perenungan mendalam hingga kita berdebat. Lalu kita berpisah kala matahari kian redam dalam kelam, saat saya antar kamu ke mobil atau stasiun kereta atau suamimu menjemput."

Tak sabar, aku lanjutkan.

"Kamu tentu masih ingat, pernah kita habiskan hari sejak pagi sekali di rumah kacamu. Lantas kita genapi sore di kawasan suaka Selatan kota. Hari terbaik kita, menurut saya."

Kuhisap dalam-dalam rokok yang terbakar percuma itu lalu memadamkan puntungnya di tanah.

"Saat itu tabir kabut yang turun membaur dengan ruap kopi panas di cangkir yang kita genggam erat karena udara teramat dingin. Dan saya bertanya, 'Sampai kapan kita bisa terus seperti ini?'. Kamu jawab, 'Selama Abang tak membawaku paksa ke tempat yang tak kuinginkan'."

Kamu, perempuan yang biasanya energik bertabur aura suka cita, kini hanya tepekur di sampingku dengan pandangan lurus menatap ujung sepatu putihmu.

"Saya tidak pernah memperlakukan kamu tak senonoh. Menyentuhmu pun sebatas wajarnya antarsahabat. Paling banter menggandeng, cium pipi saat jumpa dan berpisah," sambungku dengan canda mencoba menyibak kekakuan.

Ujung bibirmu sedikit tertarik dalam makna sangat sumir antara senyum dan perih.

"Bicaralah," pintaku penuh harap kamu tak membatalkan niat.

Lalu mulutmu mendesirkan kalimat singkat yang sangat pelan, nyaris seperti kepedihan yang amat rentan.

"Abang tak sayang aku."

"Kok gitu?" tanyaku kaget.

"Setelah sekian lama ..."

Jeda sejenak.

Lalu kamu lanjutkan dengan desir yang tetap pelan.

"... Abang tak pernah menciumku."

Sontak kepedihan itu melompat pindah ke ulu hatiku.

Kelu.

📌 Minggu, 12 April 2026 23:03 🌐 Melak

📌 Minggu, 18 Agustus 2024 🌐

Kearifan Silimalombu

Kearifan Silimalombu

— Sumut Punya Cerita

Nyonya rumah dan tamu di Silimalombu

Bisa jadi dahulu ada 5 sapi yang entah apa pula cerita tersohornya hingga tempat terpencil di kawasan Samosir itu dinamai Silimalombu. Desa ini mungkin tak akan pernah jadi topik andai hanya melangkah dalam pakem biasa-biasa saja.

Hingga seorang perempuan bernama Ratnauli Gultom mengubah takdirnya. Mangga Toba difermentasi jadi minuman (mango wine), berbagai flora dan fauna dipanen dari sekitar untuk diolah jadi hidangan dan produk lokal, hingga gaya hidup berwawasan lingkungan nirlimbah (zero waste).

Sebagaimana biasa, keunikan sebuah tempat lebih dulu diketahui dan dicintai wisatawan mancanegara. Bahkan hingga sekarang pun lebih banyak orang asing yang menjadi tamu menginap di homestay Silimalombu. Agak ironis, namun demikianlah adanya.

Saat berkunjung sekian tahun lalu, saya berjumpa dengan satu keluarga Skotlandia (ayah, ibu, puteri berusia 6 tahun) yang sudah 2 bulan tinggal di sana. Sehari-hari mereka mengikuti kegiatan Ratna mengambil ikan dan udang di danau Toba, memetik sayuran, memanen jagung, ubi, buah, dsb yang dilanjutkan dengan mengolah dan menikmatinya.

Mango wine

Amat pantas jika Silimalombu melabel diri sebagai ecovillage dan menjadi destinasi yang wajib diperhitungkan sehingga pernah khusus dikunjungi oleh Raja Belanda Willem Alexander dan Ratu Maxima Zorreguieta Cerruti pada tahun 2020.

Setiap tempat dan waktu akan melahirkan legendanya sendiri.

Lisoi! Lisoi! Lisoi!🥂

#latepost #Samosir #Sumut #NorthSumatera #wine #ecoliving #nirlimbah #zerowaste #pariwisata #tourism

📌 Minggu, 18 Agustus 2024 01:49 🌐 Medan

📌 Rabu, 23 Agustus 2023 🌐

Perempuan dalam Cermin

Perempuan dalam Cermin

Perempuan dan cermin adalah keseharian yang amat biasa. Terlalu biasa. Nyaris tak ada keistimewaan atas perilaku rutin ini.

Cermin itu sendiri sekadar memantulkan citra yang mampu dicerna mata, sejauh diperkenankan oleh sang perempuan.

Namun perempuan di balik cermin adalah cerita tersendiri yang kerap tak terjangkau mata bahkan mata hati orang lain.

Di balik cermin, seorang perempuan hadir utuh dan telanjang, memperlihatkan keping-keping perjalanannya. Ada luka, letih, kecewa, keringat, air mata, darah, nanah, dan trauma. Namun di situ juga ada bangga, suka cita, harapan, hingga berbagai gumpal rasa tersembunyi yang tak terurai oleh kata.

Di tiap kepingnya tergurat epos kecil upaya menggapai kepenuhan diri yang kerap harus mengalami penghancuran. Berulang dan berulang. Menyerpih.

Hanya karena asa masih berpijar maka kepingan-kepingan ini direkat kembali dengan perjuangan amat keras agar tiap kisah yang dibawanya tak sia-sia. Berbekal kerelaan mengakui ketidaksempurnaan, perempuan itu merangkai kembali semua keping terserak dengan bingkai rekatan emas kerendahhatian.

Walau masih tersisa lubang hitam di sana-sini, kelahiran kembali sosoknya sebagai perempuan baru melahirkan keindahan dalam kisah tersendiri. Sebuah optimisme paripurna dalam mosaik menggentarkan.

Sungguh, perjalanan belum selesai. Sedangkan waktu bagai singa mengintai yang siap menerkam tiap saat.

Namun senyum tersungging di bibir retak menyampaikan tekad bergeming, "Saya baik-baik saja meski kau tak tahu betapa nyaris sebuah kehidupan pupus dalam kesuraman makna."

📌 Rabu, 23 Agustus 2023 01:48 🌐

📌 Sabtu, 03 September 2022 🌐

Hikayat Tujuh Purnama

Hikayat Tujuh Purnama

Tak sekejap pun diangkatnya wajah untuk menatapku yang duduk tak sampai 1 meter di depannya meski beberapa kali kulambaikan tangan sebagai isyarat memohon perhatian. Matanya tanpa jeda tertuju pada layar laptop di hadapannya yang tampak sedemikian penting tinimbang keberadaanku.

Masih sanggup untuk kutahankan
Meski telah kau lumatkan hati ini
Kau sayat luka baru di atas luka lama
Coba bayangkan betapa sakitnya

Nyaris seperempat hari penuh aku terhenyak laksana pengidap kusta atau mungkin seonggok nista yang tak layak dipandang sebagai manusia. Perbincangan pendek-pendek yang terasa amat dipaksakan pun hanya meruapkan dalih keengganan menyimak, konon pula menjelaskan. Belum pernah sebelumnya dalam hidup kualami penihilan setelak ini. Hampa mutlak. Kehilangan segala.

Hanya Tuhanlah yang tahu pasti
Apa gerangan yang bakal terjadi lagi
Begitu buruk telah kau perlakukan aku
Ibu menangislah demi anakmu

Bertimbun kisah yang ingin kututurkan gamblang. Tentang ikhtiar dan kegagalan yang mendera belakangan ini, yang memantik anggapannya bahwa aku berubah. Tak diketahuinya liku petaka yang meluluh lantakkan sebentuk mimpi di mana dirinya tertahbis sebagai episentrum ruang benderang setelah kukibas ragam janji dan pesona yang kutengarai bisa menggerus arti hadirnya.

Sementara aku tengah bangganya
Mampu tetap setia meski banyak godaan
Begitu tulusnya kubuka tanganku
Langit mendung gelap malam untukku

Genap satu purnama aku dihempas ke nadir ngarai gulita. Tak kusua secercah pun petunjuk untuk memahami amarahnya bahwa aku tak lagi seperti yang dulu, yang tak pernah palingkan pandang darinya, sehingga dibulatkannya tekad hengkang membawa luka menganga tanpa menyisakan peluang bagiku mengurai kebuntuan yang dirangkainya.

Ternyata mengagungkan cinta
Harus ditebus dengan duka lara
Tetapi akan tetap kuhayati
Hikmah sakit hati ini
Telah sempurnakan kekejamanmu

Setiap kata yang kuutarakan senantiasa ditepis ujar menggentarkan, "Tidak perlu dibahas lagi!". Membuatku gagap bagai seorang pandir minim kosa kata. Serta-merta kusadari tak guna berupaya menata ulang ruang yang telanjur retak. Dan sejurus kemudian aku sudah tercenung di tepi jalan dengan terawang kosong.

Petir menyambar hujan pun turun
Di tengah jalan sempat aku merenung
Masih adakah cinta yang disebutkan cinta
Bila kasih sayang kehilangan makna

Kendati demikian, sebentuk rasaku padanya, yang kubopong cermat sejak tengah malam tadi, kukuh bergeming. Tak satu serpih pun kikis walau kini berlumur jelaga dan sayatan teramat perih. Kepasrahan menerima segala risiko telah bangkitkan keteguhan, "Akan kurawat ruang benderang di relung hatiku walau kini kosong tanpa dirinya bertahta di mahligainya." Entah satu masa nanti tatkala kearifan ataupun nestapa meraja secara paripurna.

Ternyata mengagungkan cinta
Harus ditebus dengan duka lara
Tetapi akan tetap kuhayati
Hikmah sakit hati ini
Telah sempurnakan kekejamanmu

Sekarang aku hanya ingin pulang ke titik perdana di mana dapat kuresapi segenap nada subtil perbincangan selewat tengah malam, tempat bayangnya melintasi kenang dalam hening setajam belati.

ilham dari lagu Seberkas Cinta yang Sirna — Ebiet G. Ade

Dahulu sempat populer suatu proses kreatif yang dinamai "musikalisasi puisi" dengan Ebiet G. Ade sebagai salah satu tokohnya. Di sini saya coba terapkan pembalikannya menjadi "prosaisasi lagu" 😄

#aiglOnceUponATime

📌 Sabtu, 03 September 2022 21:58 🌐

📌 Sabtu, 11 Juni 2022 🌐

Pengayom Suku Laut

Pengayom Suku Laut

Tadi siang saya mendampingi Ketua Umum Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IA-ITB) menemui Ibu Sri Soedarsono yang sudah sejak lama menaruh kepedulian serta melakukan berbagai kegiatan guna meningkatkan kualitas hidup Suku Laut di kawasan Kepulauan Riau, khususnya Pulau Bertam.

Ternyata beliaulah yang menginisiasi proses "mendaratkan" Suku Laut yang selama ini hidup 24 jam di atas sampan sehingga mau mukim di daratan. Tujuannya adalah memberi kesempatan pada anak-anak Suku Laut mengenyam pendidikan, selain juga fasilitas lainnya seperti kesehatan. Sekolah dibangun, fasilitas kesehatan dilayankan dengan Klinik Terapung.

Sejak tahun 1985 Ibu Soedarsono melakukan kegiatan ini dengan dukungan berbagai pihak, seperti yayasan dari Belanda, tim dari Jurusan Arsitektur ITB, dll sehingga terbentuklah masterplan bagi hunian masyarakat di Pulau Bertam.

Seiring berjalannya waktu, sejak tahun 1996 program ini dilimpahkan ke pihak pemerintah, namun tidak menunjukkan kemajuan berarti.

Kehadiran IA-ITB dengan program baru yang bertujuan memajukan kawasan pulau tersebut (dalam artian meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya dalam berbagai aspek) melalui sektor pariwisata membuat semangat kembali berkobar. Ibu Soedarsono sangat gembira dan terbuka untuk berbagi tentang berbagai hal yang dapat membantu IA-ITB mewujudkan rencana besar ini.

Hari Senin lusa beliau akan ke Batam hingga tanggal 20 Juni. Barangkali kita bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk menggali data/informasi serta wawasan mengenai sejarah, karakter, kebiasaan, dll yang dapat kita gunakan sebagai acuan dalam studi/survei serta menyusun rencana kerja. Dengan menelaah dokumen dan masterplan yang sudah ada, siapa tahu ada yang bisa kita lakukan tanpa harus mengulang dari nol.

Demikian laporan hari ini dari perbincangan dengan Ibu Soedarsono maupun diskusi dengan Ketum.

📌 Sabtu, 11 Juni 2022 21:07 🌐

📌 Sabtu, 31 Juli 2021 🌐

Pertunangan April

Pertunangan April

Kolam Mesin yang legendaris

Kebetulan tadi sore saya menemukan album lama di tumpukan barang. Tak sengaja pandangan saya terhenti pada beberapa halaman berisi beberapa foto. Sontak pikiran menerawang ke masa lalu yang akhirnya mengingatkan pada tempat keramat (sacred place) saat kuliah di Jurusan Teknik Mesin ITB.

Bicara soal sacred place di ITB, bukanlah sebuah kejanggalan --bahkan merupakan kenormalan-- jika anak Yell Boys alias jaket biru strip 3 memasukkan "Kolam Mesin" sebagai salah satunya. Kolam yang sebenarnya merupakan penampungan air pendingin mesin-mesin di laboratorium itu sudah barang tentu amat rendah tingkat higienitasnya dibanding air kolam renang berkaporit. Warna kehijauan yang butek sudah bisa menjadi indikatornya secara kasat mata.

Kolam Mesin yang berjumlah 3 buah ini sama saja kondisinya satu sama lain. Entah kenapa pula jumlahnya harus 3. Mungkin demi konsistensi menjunjung 3 nilai utama Study, Society, Solidarity yang menjadi jargon abadi anak Mesin 😁

Selama menjadi mahasiswa, seorang anak Mesin pernah mandi dalam kolam itu minimal sebanyak 2 kali.

1: saat dilantik menjadi anggota Himpunan Mahasiswa Mesin (HMM) sehabis menjalani orientasi pengenalan kampus (OSPEK).

1.5: saat menjadi panitia wisuda sarjana baru Mesin. Hanya saja, tak semua beruntung mengalami hal ini jika bisa menyelamatkan diri dari tangkapan kawan-kawan sesama panitia maupun wisudawan.

2: saat diwisuda sebagai sarjana.

Tambahan lainnya adalah bonus kalau sedang mengerjakan sesuatu di area Jurusan Mesin lalu iseng saling menceburkan kawan.

Yang harus diingat baik-baik, bahwa mandi di kolam Mesin selalu dilakukan secara bersama alias ramai-ramai.

Mungkin dalam sejarah Kolam Mesin, saya adalah salah satu (jika bukan satu-satunya) orang yang pernah diceburkan secara solo.

Lho, kok bisa? Bagaimana ceritanya?

Agak panjang sih ceritanya. Sila baca ringkasan di bawah jika masih belum bosan. Detail tak dituliskan karena bersifat privat 😜

Alkisah (lupa tahun berapa), saya dan beberapa kawan sedang belajar bersama dalam rangka persiapan ujian mata kuliah Perpindahan Panas (Perpan) di rumah kawan di Geger Kalong. Dengan tekun kami membaca buku teks dan mengerjakan contoh soal sejak siang sampai malam. Biasanya kami menginap, sekalian numpang makan dan mandi, lalu keesokan harinya pergi bersama ke kampus untuk ujian.

Pelajaran yang susah-susah gampang menghitung kalor entalpi, entropi, dsb tersebut memang acap bikin kepala butek dan berasap (apalagi kalau simbol P, F, V dilafalkan oleh kawan yang Sunda banget, sehingga kacau banget deh semua hitungan 😞).

Namun, sebagaimana lazimnya anak Mesin yang selalu ceria dan kreatif, ada saja hal yang membuat kami bisa refreshing. Dan biasanya, obrolan atau gagasan yang mencuat saat rehat belajar adalah sesuatu yang gila dan konyol.

Saat itu bulan Maret. Entah kenapa, terpikir oleh saya untuk membuat kejutan April Mop pada tanggal 1 April. Bikin apa ya yang heboh?

Ngobrol punya ngobrol selewat tengah malam, muncullah ide gila membuat hoax bahwa saya bertunangan. Segera ide ini disambut kawan-kawan. Mulailah kami merancang program kerja. Mencari tempat pelaksanaan acara, orang-orang yang akan diundang, properti, konsumsi, dll.

Esoknya kami semua bergerak. Saya merancang undangan resepsi (maklumlah, urusan desain dan sablon-menyablon sudah menjadi tugas saya saat di HMM). Kawan-kawan lain berbagi tugas. Ada yang mencari cincin tunangan, memesan makanan ala kadarnya (gak ada makan besar, hanya cemilan dan sirup), membereskan rumah yang dipinjam di kawasan Sukajadi.

Dari semua persiapan itu, unsur utama atraksi menjadi sangat penting: siapa yang akan menjadi tunangan saya?

Setelah sibuk mendata dan menyeleksi sekian kandidat, tersisir salah seorang kawan di Geger Kalong yang cukup akrab dengan kami. Anak Psikologi UNPAD yang friendly dan easy going banget. Sebutlah namanya Melati Jayagiri (ada alasan kenapa menggunakan nama ini, ikuti saja terus kisahnya).

Akhirnya, kami pun mengunjungi Melati. Mendengar rencana yang kami beberkan, Melati tertawa geli. Dan sesuai harapan, dia bersedia menjadi leading lady dalam drama ini. Kapan lagi ngerjain anak ITB? Mesin pulak! 😜

Kelar semua persiapan.

Dengan segera undangan pun disebarkan kepada kawan-kawan. Rencananya sih hanya kepada kawan sekelas/seangkatan. Ndilalah, ada yang iseng menempelkan undangan tersebut di papan pengumuman HMM. Alhasil, hebohlah sejurusan, bahkan hingga dosen 🙈

O ya, guna menjaga rahasia, saya terlebih dahulu memberikan taklimat (briefing) pada adik kandung saya yang juga kuliah di Mesin agar memberikan konfirmasi jika ada yang menanyakan kebenaran pertunangan saya. Malah, demi kesuksesan operasi, keluarga saya di Sukabumi pun saya ajak kompak. Siapa tahu ada yang penasaran dan nekad menelepon ke sana.

Aman semua.

Maka, selama beberapa hari, saya pun agak sibuk menerima ucapan selamat dari kawan-kawan Mesin, baik yang seangkatan maupun beda angkatan. Agak tersipu juga saya saat itu. Namanya juga belum pernah tunangan 😊

Akhirnya, tibalah hari-H.

Rumah yang dipinjam sudah dibereskan, kursi sudah ditata rapi, makanan kecil dan minuman tinggal disajikan. Beres semua.

Tinggal menjemput tunangan.

Maka saya pun berangkat ke rumah Melati. Sampai di sana, saya terkejut setengah mati karena Melati masih duduk-duduk santai di serambi pakai kaos rumahan dan celana pendek. Boro-boro mandi. Lho?

Dengan tenang Melati bilang bahwa dia baru pulang dari naik gunung (nah ini alasan kenapa namanya jadi Melati Jayagiri). Yaoloh ... Gawat nian punya tunangan seperti ini 😜 Tapi dia mengatakan akan siap sebentar lagi. Maka saya pun menunggu di teras sambil ngopi dan ngudut.

Tak berapa lama kemudian Melati sudah siap dengan dandanan bersahaja. Memang anak ini gak pernah berlebihan. Secukupnya saja.

"Jalan kita, Mel?"

"Ayo. Tapi agak pegal dan sakit nih kaki. Tadi sempat kepleset."

"Lah, kamu sih pakai mendaki gunung segala. Sudah tahu hari ini kita tunangan," sahut saya setengah ngedumel.

Melati hanya tertawa kecil dengan lengkung bibirnya yang tak bisa saya lupa.

"Ini cincinnya," kata saya sambil memasukkan cincin tersebut ke jari manisnya. Begitu saja tanpa adegan tambahan.

Dan berangkatlah kami ke tempat acara.

Selewat maghrib, kawan-kawan Mesin mulai berdatangan. Yang membuat saya agak senewen, ternyata Ketua HMM juga hadir. Begitu juga seorang dosen muda Jurusan Mesin. Matilah awak! 😱

Jika tak salah ingat, ada sekitar 40-an anak Mesin yang datang. Campur-campur dari berbagai angkatan.

Foto saat acara.
Sudah mulai pudar dan buram.

Acara pun saya buka selaku yang empunya hajat. Sempat juga kami pamerkan cincin kembar di jari manis kami. Melati senyum-senyum saja.

Setelah itu, Ketua HMM memberikan sambutan. Dikatakannya bahwa ini adalah contoh yang baik ... bla, bla, bla ... yang membuat saya merasa seperempat berdosa.

Beberapa kawan juga memberikan sambutan dan selamat. Termasuk seorang sohib yang secara khusus berkemeja batik malam itu.

Lanjut ngobrol sambil nyemil (sorry ya, friends, berhubung kami hanya mahasiswa anak kos, gak cukup modal untuk menyediakan kambing guling 🙏)

Singkat kata, acara berlangsung sukses. Setelah semua undangan pulang, saya dan kawan-kawan tak henti tertawa geli menikmati adegan-adegan tadi. O ya, sebelum acara kenduri berakhir, Melati saya antar pulang karena letih.

Selama berhari-hari, semua berlangsung biasa. Dengan setia saya memakai cincin pertunangan setiap hari. Kadang saya masih menerima ucapan selamat dari kawan-kawan, termasuk dari jurusan lain bahkan kampus lain. Life goes as usual.

Andai semua terhenti sampai sini ...

Hingga akhirnya, sekitar seminggu setelah resepsi tersebut, terbitlah buletin HMM TRANSMISI yang saya komandani. Salah satu isinya adalah tulisan saya yang dengan rinci membeberkan fakta perihal pertunangan saya.

Saya tidak tahu bagaimana reaksi kawan-kawan atas rilisnya cerita tersebut karena pada hari itu kebetulan saya tidak ke kampus. Dan bisa jadi ini adalah kesalahan saya sehingga mereka akhirnya punya kesempatan berkomplot.

Esok siangnya, saya datang ke kampus dengan biasa. Ada kuliah sore.

Saat berjalan menuju ruang kuliah di sebelah Kolam Mesin, seorang kawan dengan sangat manis menawarkan membawakan tas selempang saya. Tentu saja saya heran. Tumben amat kawan ini sangat baik.

Tapi belum sempat saya berpikir jauh, sekitar 10 orang sekonyong-konyong mengerubuti dan serempak melepas jaket yang saya pakai, memegang tangan dan kaki saya, menggotong saya ke arah Kolam Mesin, dan dengan gegap-gempita melemparkan saya ke dalamnya.

Setengah bersungut-sungut saya naik dari kolam dalam kondisi basah kuyup. Namun kawan-kawan tak peduli. Mereka bersukacita memuaskan hasrat dendam atas penipuan yang sukses itu.

Sementara itu, komplotan saya tentu saja langsung menjauhi area pembantaian. Dan selama beberapa hari berikutnya, mereka selalu waspada jangan sampai mengalami nasib seperti saya. Huh!

Sorenya, tentu sehabis pulang mandi dan berganti pakaian, saya berkunjung ke rumah Melati dan menceritakan apa yang saya alami. Melati terpingkal-pingkal mendengarnya. Tentu saja dengan lengkung bibirnya yang khas.

Dengan mimik serius saya katakan padanya bahwa kawan-kawan Mesin mau balas dendam pada Melati sebagai salah satu pendukung penipuan massal. Agak shocked juga dia mendengarnya.

Dengan gemas saya ucek-ucek rambutnya sambil berkata, "Gak lah. Gak mungkin mereka ke sini menculik kamu dan menceburkan ke Kolam Mesin."

Sampai sekian bulan kemudian saya masih berinteraksi dengan Melati, bahkan hingga saya sudah merantau ke pedalaman Riau. Setiap pulang ke Bandung, selalu saya sempatkan mampir ke rumahnya.

Sangat disayangkan, sampai lulus kuliah saya belum memenuhi ajakannya main ke Fakfak, Papua. Dan setelah tak lagi berkomunikasi, saya dengar kabar dia sudah menikah kemudian tinggal di Lembang. Mudah-mudahan satu saat saya bisa berjumpa lagi.

Demikianlah kisah salah satu sacred place saya di ITB.

Kadang saat berkunjung ke Jurusan Mesin dan memandangi trio kolam di situ, kilasan masa lalu berkelebat seperti film yang diputar dengan kecepatan tinggi. Namun, seperti didendangkan dalam lagu Hotel California, "some dance to remember, some dance to forget".

Demikianlah.

Tenggat waktu celeng tak memungkinkan saya yang mengidap prokrastinasi ini menuliskan kisah di tempat lainnya, seperti LFM hingga lorong bawah tanah penghubung kampus ITB dengan lapangan Saraga. Maybe next time.

Haturnuhun ah, sadayana ... 🙏

Wisuda sarjana Teknik Mesin ITB

Pembaptisan di Kolam Mesin setelah resmi diwisuda

#aiglMostSacredPlace #aiglMostSacredPlaceChallenge

📌 Sabtu, 31 Juli 2021 21:52 🌐

📌 Rabu, 10 Maret 2021 🌐

Siapakah Perempuan?

Siapakah Perempuan?

Hedy Lamarr

Ada banyak sisi yang bisa dipakai sebagai acuan: Biologis? Struktur sosial? Keluarga? Bahkan agama.

Sedemikian penting peran perempuan dalam kehidupan sehingga berbagai istilah yang megah pun berasosiasi perempuan/feminin. Ibu Pertiwi, Mother Earth, Motherland, Ibukota, nama-nama topan badai, dsb.

Perempuan secara harafiah adalah gender atau jenis kelamin yang bersifat takdir yang tak dapat ditawar. Namun dalam perkembangan sejarah, gender kerap dijadikan sebagai faktor pembeda derajat. (Padahal di dunia serangga justru ratu yang derajatnya paling tinggi sehingga menjadi pusat kehidupan dan pelayanan.)

Kesetaraan Gender adalah Kesetaraan Peluang

Perkembangan masa kini ternyata mensyaratkan kesetaraan gender. Seluruh manusia menjadi setara tanpa melihat gendernya. Inilah yang dulu kita kenal sebagai gerakan emansipasi perempuan.

Hanya saja kesetaraan gender atau emansipasi perempuan kadang jatuh ke dalam 2 ekstrem:

  1. Perang gender (battle of sexes) di mana perempuan bertarung dengan lelaki dengan menggaungkan jargon seperti "woman leads, now is our turn", dsb. Atau,
  2. Belas kasihan pada kaum perempuan dengan memberikan posisi/kuota tertentu dalam beberapa aspek.

Yang seharusnya menjadi perhatian kita adalah membuka kesempatan yang setara sesuai kebutuhan bidang tersebut dan kemampuan masing-masing, terlepas dari kodratnya sebagai lelaki atau perempuan.

Kini banyak perempuan yang menduduki posisi penting di berbagai bidang. Bisnis, pemerintahan, politik, sosial, pendidikan, dsb. Semua itu diraih melalui asesmen yang berlandaskan kesetaraan peluang. Siapa saja berhak mendapat akses sesuai kompetensinya. Dan bukannya tidak mungkin dalam aspek tertentu perempuan memiliki keunggulan dibanding lelaki.

Embracing The Role of Women

Peran perempuan semakin merambah ke berbagai bidang kehidupan. Ini adalah fakta dan tuntutan zaman yang harus disikapi dengan bijaksana sesuai konsep kesetaraan peluang.

Setidaknya ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian:

  • akses ekonomi
  • akses pendidikan
  • akses lapangan kerja/karir
  • akses hukum
  • akses politik

Bahkan ada data yang menyebutkan bahwa lebih dari 90% UMKM digerakkan oleh perempuan.

Inilah kesempatan bagi para perempuan berkiprah tanpa harus mengedepankan jargon "sekarang giliran kami", melainkan secara sungguh-sungguh mengedepankan kekhasan 4B yang tak bisa dipungkiri, Brain - Beauty - Behavior - Brave.

Perempuan bukan hanya pajangan penghias, bukan juga individu yang terjebak dalam konsep domestikasi (canda: dapur, sumur, kasur), bukan juga subordinat dalam konsep patriarki, apalagi sebagai komoditas eksploitasi. Semua perempuan harus berani dan bisa tampil dalam kapasitas terbaiknya.

Perempuan sebagai Dirinya

Bagaimana perempuan bisa berkiprah secara optimal?

Tidak lain dan tidak bukan adalah ketika perempuan berhasil membentuk jatidirinya. Nyaman dengan pribadi apa adanya (termasuk wajah, tubuh, dll yang kadang membuat perempuan minder) maupun kapasitasnya tanpa harus menjadi pengekor.

Ketika 4B hadir dalam dirinya secara otentik, maka seorang perempuan akan sangat berkarakter dan menawan. Charming. Dan semua akses kesetaraan peluang pun terbuka luas baginya.

A charming woman doesn't follow the crowd, she is herself
— Loretta Young

📌 Rabu, 10 Maret 2021 18:45 🌐

📌 Minggu, 20 Desember 2020 🌐

Lady will Surely Comeback Someday

<i>Lady will Surely Comeback Someday</i>

Prolog

Lady in The Mist
creator.nightcafe.studio

Ada banyak impian yang pernah menyembul dalam tahun-tahun perjalanan hidup saya, baik tentang diri maupun dunia. Sangat banyak yang tak terwujud dengan berbagai alasan logis, namun ada juga yang menjadi kenyataan dengan sedikit kegemilangan [walau sebagian dibarengi sentuhan mukjizat].

Memilih salah satu cerita dari sekian impian untuk disampaikan ke forum AIGL nan ceria namun kritis ini ternyata bukanlah hal mudah. Apalagi jika tak ada makna yang bisa dibagi. Itu sebabnya saya mengalami kesulitan mengikuti celeng kali ini.

Namun ada satu hal yang sore tadi sekonyong-konyong menyeruak dalam pikiran ketika Téh Nenden menagih keikutsertaan saya. Entahlah, apa bisa ini dianggap sebuah testimoni. I wish.

15 Juli 2020

Sekonyong-konyong terbetik kabar bahwa seseorang yang sudah lama saya kagumi ternyata telah meninggalkan ruang kebersamaan kami. Serentak ada torehan nestapa dalam dada yang tak kuasa saya tolak. Seperti rumah kehilangan suara kanak-kanak.

Berusaha memendamnya ternyata percuma. Sehingga, tanpa terkendali, jemari yang sudah belasan tahun kelu tak mampu merangkai kata tiba-tiba bergerak menautkan huruf demi huruf menyuarakan rasa yang terus ingkar untuk mengaku.

Agustus 2020 tak jelas tanggal berapa

Suatu sore, saat mengisi waktu dengan bernyanyi di Smule, entah kenapa teringat sebuah lagu tentang harapan kembalinya seseorang dari masa lalu. Tanpa perlu bimbel (istilah kawan-kawan ITBSmuleanS untuk latihan) dan tak perlu retake, jadilah rekaman itu.

Menyadari suara yang sangat pas-pasan di garis batas memprihatinkan serta mengandalkan keberanian menanggung malu semata, tak pernah saya memublikasikan apa pun ke luar aplikasi Smule itu sendiri. Termasuk lagu ini.

20 Oktober 2020

Dia kembali hadir ke tengah kebersamaan seakan tak pernah ada angin gersang yang meranggaskan dedaunan. Dan sebagaimana galibnya roda musim, kemarau pun berganti dengan kesegaran yang sedemikian melimpah.

Epilog

Masih banyak yang sebenarnya bisa saya ceritakan, hanya saja tenggat waktu tinggal 2 menit.

Demikianlah.

Appendix

Lagu ini aslinya berjudul Julie, yang diciptakan dan dipopulerkan oleh Julio Bernardo Euson pada tahun 1972. Dalam kisah ini, nama Julie diubah menjadi Lady.

Lady, oh Lady
Life is not the same anymore
There's not a thing that we're living for
Now that you've gone away

Lady, Lady
Why couldn't you have stay
I remember the days
That we spent together
Happiness knowing no bound
At the time we have pledged
It would last forever
From this cloud that was just no way down

But it seems that it all had to end
And I'm left here alone, not a friend
No one to cheer me and no one to say
Lady will surely come back, some day

No one to cheer me and no one to say
Lady will surely come back someday

Lady, darling Lady
How come you're not thinking of me
How come you don't care to recall how it was
I wish for that it always will be

Lady, Lady
Why don't you come back to me
I remember the days
That we spent together
Happiness knowing no bound
At the time we have pledged
It would last forever
From this cloud that was just no way down

But it seems that it all had to end
And I'm left here alone, not a friend
No one to cheer me and no one to say
Lady will surely come back, some day

Yes it seems that it all had to end
And I'm left here alone, not a friend
No one to cheer me and no one to say
Lady will surely come back, some day

Lady is coming back to me, some day
Lady, I say, Lady
You have better come to me at home
'Cause I want you
Oh yeah, I want Lady ...

#aiglMyWishStory

📌 Minggu, 20 Desember 2020 03:00 🌐

📌 Senin, 02 November 2020 🌐

Soulmate

<i>Soulmate</i>

Shadows woman holding flower
img.freepik.com

Sekitar 30 menit menuju tenggat waktu berakhirnya celeng #aiglsoulmatestorychallenge, saya masih kesulitan memutuskan kisah yang mau diangkat. Lha, saya sendiri tidak tahu persis definisi soulmate yang paling suai dengan forum garis lucu ini.

Apakah soulmate itu harus pasangan? Kawan dekat seiring-sejalan dalam jatuh dan bangun? Selalu kompak? Pasti bahagia? Hingga seumur hidup?

Pertanyaan yang sulit dijawab namun sekaligus akan melahirkan bertimbun jawaban yang kian membingungkan.

Lalu, apa namanya kisah antara seorang lelaki dengan seorang perempuan yang ternyata lebih memilih pria lain yang nota bene adalah sahabat sang lelaki? Dan kemudian lelaki tak terpilih itu menjadi kawan bicara pasangan tersebut bahkan hingga belasan tahun setelah keduanya menikah ...

Ataukah soulmate adalah sebentuk pemuliaan bagi tindakan bodoh penuh derita atas nama cinta? Entahlah ...

Saat ini saya hanya bisa mengirimkan puisi lawas yang tentu saja tak punya intensi sebagai jawaban atas pertanyaan abadi tersebut.

Sayap yang Terkoyak

: love is a many-splendoured thing

Sekiranya pun tiada lagi rasa cinta itu kini dalam hatimu,
aku berharap
setidaknya kau masih bisa memandangku
sebagai seorang sahabat
yang bahunya selalu kausandari

saat kaututurkan kisah-kisah jinggamu,

yang lengannya kerap memelukmu erat

tatkala merekatkan kembali duniamu berkeping-keping,

yang telinganya senantiasa bersabar

menyimak nada sendumu tentang hari berhujan,

yang hatinya menjadi cawan

menyimpan tetes demi tetes airmatamu,

dan yang mulutnya tidak henti mengaku

betapa akan berbedanya dia tanpamu.


Dulu pernah kau bertanya:

"Bagaimana kauputuskan
aku sebagai kekasih,
yang akan menjadi ibu dari anak-anakmu,
sedangkan kau belum lagi mengenalku?"

Aku tidak bisa merekayasa jawaban
yang dapat membuat hatimu menggelepar,
sehingga aku hanya bisa berkata lirih:

"Telah kuputuskan
akan kugunakan setiap saat dalam sisa hidupku
untuk mengenalmu".

Dan saat itu engkau terkesima.

Mestinya aku punya lebih dari satu alasan
untuk berhenti mempertimbangkanmu
sebagai belahan jiwa,
pasangan berbagi cerita,
karena telah sedemikian dalam jurang yang kaugali

antara bahasaku dan bahasamu
yang mustahil kuseberangi
dengan sayap yang terkoyak,

karena telah sedemikian tinggi bukit yang kautimbun,

lara di atas luka,
yang tak mungkin kudaki
tanpa uluran jemari belas kasihmu,

karena telah sedemikian jauh jalan yang kautempuh

yang membuatku tak lagi bisa jernih membedakan
antara khilaf dan pengkhianatan.

Walau kesesakan kerap berkelebat
bahwa aku telah gagal mengenalmu,
aku tidak mungkin berbalik.
Walau demikian letih kuseret langkahku
beringsut menggapai bayang-bayangmu yang kian samar,
aku tidak mungkin berhenti.
Karena telah lama kutanggalkan semua mimpi dan kecewa
sejak kusampaikan ikrar di altar
dalam sakramen sekali untuk selamanya.

Mungkin tak seharusnya aku bertanya lagi
tentang cincin yang kusam dan retak,
karena telah kupahami kini
bahwa cinta tak pernah gagal
... untuk memberi.
Sampai maut memisahkan kita.

— Beth, 3 Oktober 2005 04:50

Puisi yang diilhami judul sebuah novel, "A Many-splendoured Thing", karya Han Suyin alias Elisabeth Comber (nama gadis: Elizabeth Kuanghu Chow/Zhou Guanghu) ini sesungguhnya merupakan sebuah permintaan dari seorang kawan diskusi di internet yang "kebetulan" memiliki nama panggilan Suyin. Dan saya perlu waktu tepat 5 bulan untuk membuatnya karena tidak punya gagasan tentang apa yang ingin saya tuliskan 😞

Di bawah ini adalah lirik lagu yang menjadi lagu tema film berjudul sama yang kisahnya diangkat dari novel tersebut.

** Love Is A Many-Splendored Thing **
(Music: Sammy Fain, Lyrics: Paul F. Webster, 1955)

I walked along the streets of Hong Kong town,
up and down, up and down.
I met a little girl in Hong Kong town
And I said can you tell me please,
Where's that love I've never found.

Unravel me this riddle.
What is love, what can it be.
And in her eyes were butterflies
As she replied to me,
Love is a many-splendored thing.

It's the April rose that only grows
In the early spring.
Love is nature's way of giving
A reason to be living--
The golden crown that makes a man a king.

Once on a high and windy hill
In the morning mist two lovers kissed
And the world stood still.
Then your fingers touched my silent heart
And taught it how to sing!
Yes, true love's a many-splendored thing.

💖

📌 Senin, 02 November 2020 21:55 🌐

📌 Minggu, 10 Agustus 2008 🌐

Les Misérables #2

Les Misérables #2

— Hati Berlimpah Rela dan Cinta

Coming from The Heart

Coming from The Heart
universalchurchofmetaphysics

Kehidupan sebagai pelatih bersama komunitas Bangau Putih di Bogor tentu saja tidak memberikan janji masa depan mapan sebagaimana yang mungkin diraih oleh kebanyakan sarjana yang beroleh kesempatan memiliki pekerjaan tetap. Walau orang yang dilatihnya banyak yang tergolong berkecukupan serta juga pesohor, berapalah honor yang diperoleh Lis sebagai pelatih? Boleh dikatakan bahwa yang dilakukannya cenderung merupakan pengabdian tinimbang pekerjaan. Walau begitu, tidak pernah dia mengeluhkan keterbatasan pilihan yang tersedia baginya.

"Dijalani saja, Bang," katanya tanpa kehilangan senyum dan tawa yang jauh dari kesan terpaksa.

Betapa lapang hati seorang manusia yang harus menjalani keterbatasan yang tidak dapat ditolaknya. Entah dari mana datangnya kerelaan sebesar itu.

Ketabahan Lis menjalani hidup kerap membuat saya iri dan sekaligus tidak mampu menahan torehan perih yang membuncah di dalam hati ketika suatu siang saya mengunjunginya.

"Bagaimana makanmu, Lis?" tanya saya dengan perasaan sangat berdosa lantaran kentara berbasa-basi. Jelas saya bisa melihat kardus mie instan setengah kosong di pojok kamarnya.

"Begitulah, Bang, sama-sama dengan teman-teman yang tinggal di sini," sahutnya tanpa memberikan rincian penjelasan. Walau tidak pernah mengalami, saya cukup mengerti bagaimana cara makan beramai-ramai a-la asrama.

Kemudian saya mengajaknya makan siang keluar. Saya tidak tahu sudah berapa lama dia tidak merasakan gurih dan renyahnya ikan gurame goreng olahan rumah makan Sunda. Makanan yang biasanya saya santap dengan nikmat itu jadi amat sulit melewati tenggorokan.

Dalam perjalanan pulang, tidak bisa saya tahan keluarnya airmata. Bukan hanya karena haru, tetapi juga malu. Kondisi keuangan saya yang nyaris selalu pas-pasan akibat prinsip angkuh tidak sudi mengejar materi dan diperbudak uang membuat saya tidak bisa menggenggamkan uang lebih dari 500.000 rupiah ke dalam tangannya ketika berpamitan. Saya memang tidak memerlukan banyak uang untuk keperluan pribadi saya, tetapi saya kerap lupa ada orang lain yang membutuhkannya, yang seharusnya saya bisa menjadi sarana penyalurannya. Lis adalah salah satunya.

Apabila keadaan keuangan saya agak longgar, saya mengirimkan sebagian kepadanya melalui ATM. Situasi istimewa yang tidak sering terjadi ini biasanya berlangsung sekitar hari raya. Dengan bergurau saya katakan bahwa itu adalah THR (Tunjangan Hari Raya) baginya sekedar untuk membeli kue Nastar. Adakalanya pula saya mengarang alasan ingin dikirimi kue Nastar. Dan jika Lis mengatakan bahwa uang yang saya kirim terlalu banyak untuk satu stoples Nastar yang saya pesan, dengan menahan getir saya berkata, "Sisanya untuk menambah uang jajan kamu, supaya tidak makan mie instan terus."

Menurut penuturan Bapak dan Mami, Lis pernah menjalankan usaha kecil-kecilan menjual perangkat bekal makan serta perlengkapan belajar anak sekolah. Dia juga pernah menjadi guru honorer di sebuah sekolah swasta maupun menjadi guru les privat untuk beberapa anak sekolah dasar. Tetapi semua itu tidak berlangsung cukup lama, konon pula langgeng sebagai sumber mata pencaharian ataupun sekedar sampingan. Kondisi matanya mengakibatkan gerak dan kemampuannya sangat terbatas. Membaca buku saja sudah semakin sulit. Walhasil, terhentilah satu demi satu usaha yang dia coba lakoni itu, hingga akhirnya hanya kehidupan bersama komunitas Bangau Putih yang tersisa baginya.

Kendati demikian, Lis tidak ingin dikasihani, malah berusaha berusaha memberikan kinerja terbaik yang tidak kalah dibandingkan rekan lain di komunitasnya yang tidak memiliki keterbatasan. Keteguhan hati dan kegigihan upayanya melahirkan kekaguman rekan-rekan maupun peserta-latihnya (saya mendengar pengakuan ini secara langsung dari seorang Afro-American yang sengaja pensiun dari pekerjaannya sebagai profesor di Taiwan guna menimba ilmu di Bogor selama beberapa waktu).

Lis pun bersikeras tampil sebagaimana layaknya anak normal yang bertekad menunjukkan bakti dan terimakasih kepada orangtua serta cinta kepada seluruh anggota keluarga dengan seluruh kemampuannya.

Jika ada kegiatan ekstra yang mengganjarnya dengan tambahan uang, maka Lis akan membawakan oleh-oleh bagi kedua anak kakak tertua kami saat dia pulang ke Sukabumi untuk menengok Bapak dan Mami. Ada saja yang dibawanya. Entah baju, tas, pita, buku, ataupun pernak-pernik lain. Meski bukan barang mahal, amat terasa betapa mewah dan berlimpahnya rasa cinta yang terkandung di dalamnya.

Bapak dan Mami pun beberapa kali mendapat kejutan darinya. Pernah Lis membawakan DVD player, juicer, ataupun beberapa peralatan lain yang menurutnya baik jika ada di rumah Sukabumi. Tentu saja hal ini membuat Bapak dan Mami jadi rikuh sekaligus trenyuh sehingga menyarankan Lis menyimpan uangnya untuk kebutuhannya. Tetapi Lis punya pendapat sendiri.

Suatu hari Lis berkunjung ke Sukabumi. Kebetulan hari itu adalah hari pernikahan Bapak dan Mami. Tidak ada kejutan khusus yang dibawanya selain ciuman bagi kedua orangtua kami. Semuanya berlangsung biasa-biasa. Setelah meninggalkan rumah untuk kembali ke Bogor, Lis menelpon dari jalan, "Bapak, Mami, coba deh periksa di bawah bantal. Ada sesuatu," katanya agak misterius.

Bapak dan Mami menemukan amplop kecil di bawah bantal masing-masing. Di dalamnya ada uang sebesar 200.000 rupiah. Betapa tidak teriris hati mereka dan menangis. Padahal Bapak dan Mami tidaklah hidup dalam keadaan berkekurangan. Uang pensiun mereka berdua setiap bulannya saja lebih dari cukup, sehingga dapat dikatakan tidak ada kebutuhan mereka yang memerlukan sokongan berkala dari kami. Tetapi begitulah cara Lis mengungkapkan perhatian dan kasih sayangnya.

Satu kali saya mengiriminya uang lewat ATM, lalu mengabarinya lewat SMS. Tidak lama kemudian dia membalas dengan SMS yang membuat saya terpaku cukup lama (saya kutip seutuhnya termasuk kesalahan ketik yang sering terjadi akibat keterbatasan penglihatannya),

Halo, Bang, aku udah trm smsnya. Tks byk, ya. Biar Tuhan yg berkati dan memberi yg lbh kpd Abang n Gawei. Aku seneng krn Abang inget aku, tp jg sedih, krn Abang selalu inget, walau mgkn Abbng cuma dpt sdkt, tp diksh ke aku. Tks byk ya, Bang.

Oya, inget ga wkt Abang ksh aku uang dr jual mbl? Kan bbrp hr sblmnya, aku lht photo kt wkt kcl yg berlima. Photonya aku simpen di HP. Disitu kt duduk, trus aku digendong Abang. Trus aku kok pgn ada yg ksh duit, ga tau knp, pdhl sih ga utk apa2, cm pgn aja. Trus aku mkr, ah, ga mgkn Abang ngasih, krn thn lalu Abang kan ksh aku wkt mau Lebaran, smtr wkt itu msh jauh dr Lebaran. Udah tuh sampe situ ga mkrin lg. Eh, ga taunya Abang ksh aku uang bbrp hr kmdn.

Aku sng, tp jg sdh, krn Abang srgnya sk mikirin dan merhatiin org lain, tp kdg Abang aja ga punya. Tp kiranya itu dpt menjadi berkat melimpah dlm stp kerjaan dan jg harapan2 Abang, ya, kiranya dpt terwujud. Amin.

Sent 13:28:51 15/11/2006

Dari cerita Mami kemudian, barulah saya ketahui bahwa uang yang saya kirim untuknya pun tidak jarang dia sisihkan sebagian untuk dibagi dengan anggota keluarga yang lain. Sekecil apa pun rejeki yang diperolehnya, Lis mengupayakan untuk berbagi dengan orang-orang yang dicintai dan mencintainya. Apalagi pada momen-momen spesial seperti ulang tahun kelahiran maupun pernikahan anggota keluarga kami yang tidak pernah luput dari catatannya (bahkan dialah yang selalu rajin berkirim pesan mengingatkan kami semua agar tidak lupa memberikan selamat).

Bagaimana saya tidak menyesali kebebalan yang membuat saya enggan melempar jauh-jauh prinsip omong-kosong yang selama ini saya anut tentang mengejar materi?!

Dengan kenormalan, kemampuan, dan kesempatan yang saya miliki, bukankah saya seharusnya bisa berbuat dan berbagi kasih lebih dari yang saya lakukan saat ini? Bukankah sesuatu yang kecil dan kurang berarti bagi saya sangat boleh jadi memiliki arti yang sangat besar buat orang lain?

Apakah sebenarnya saya tidak rela meneteskan keringat yang bukan demi diri sendiri? Ataukah saya terlalu malas berbelarasa dan enggan mengemban kehormatan sebagai penyalur berkat bagi sesama? Atau ... jangan-jangan hati saya sedemikian kecil sehingga tak tersedia cukup ruang bagi kasih, yang membuat saya khawatir tidak memiliki cukup cadangan bagi diri sendiri ... 😞

📌 Minggu, 10 Agustus 2008 03:10 🌐 Beth

📌 Minggu, 03 Agustus 2008 🌐

Panta Rhei*

Panta Rhei

— Nyanyi Sepi Segara Lara

Satu lagi tulisan yang menjadi peserta perlombaan yang dibatalkan itu 😞
Song of Self

Song of Self
by henrykfantazos.us

Malam masih teramat muda tatkala perempuan itu duduk di sofa di hadapanku berseberang meja. Kutoleh sekejap lalu meneruskan membaca email melalui PDA. Apa peduliku? Setiap orang berhak duduk di kursi mana pun yang disukainya.

"Boleh minta rokok sebatang?" tanyanya mengoyak keasikanku.

Kuangkat wajahku dari ketertundukan. "Silakan," sahutku sambil menyorongkan bungkus rokok yang tergeletak di meja diapit pemantik api Zippo dan asbak keramik berisi dua puntung padam.

Perempuan itu mencabut sebatang rokok. Alih-alih menyalakan pemantik api a-la gentleman dalam film, aku hanya mendorong Zippo ke arahnya.

"Terimakasih," katanya sambil menghembuskan asap lewat mulut dengan tiupan kuat.

"Kembali," sahutku sepintas tanpa menghentikan gerak stylus di layar sentuh PDA. Tak terlintas hasrat bercakap-cakap meski sekedar basa-basi. Bukan kebiasaanku berkenalan dengan sembarang orang di sembarang tempat dan waktu. Apalagi di arena boling, tempat bermacam manusia boleh datang dan pergi sesuka hati tanpa wajib kenal-mengenal.

Pasti aku sudah melupakan kehadirannya jika dia tidak bicara tepat setelah kutuntaskan membaca dan membalas beberapa email.

"Tidak main?" tanyanya.

Aku menggeleng sambil mematikan PDA. "Tidak suka," kataku menegaskan.

"Terus, ngapain ke sini?"

Keningku berkerut. Untuk apa menanyakan alasan kehadiran seseorang di tempat yang boleh dikunjungi siapa pun termasuk yang tidak punya alasan?

"Mengawani sepupu," tukasku datar dengan gerakan dagu menunjuk Ronny yang beberapa bulan ini amat gandrung boling.

"O, Pak Ronny."

"Kenal?"

"Satu klub dengan temanku," sahutnya seraya menunjuk lelaki yang bermain di jalur lain. Kukenali Ishak yang belasan tahun lebih tua dibanding Ronny yang seumuranku. Sedangkan perempuan itu kutaksir tak kurang sepuluh tahun lebih muda dariku. Entah bagaimana cara pertemanan dua insan berbeda jenis kelamin yang terpaut duapuluhan tahun. Ah, bukan urusanku!

"Kamu tidak main?" tanyaku kemudian. Entah kenapa aku jadi tergoda berbasa-basi. Biasanya aku amat canggung pada perempuan, apalagi di tempat umum, sehingga kerap diolok bahwa padananku adalah perempuan "rumahan" atau "sekolahan". Peranku dalam berbagai kesempatan adalah menjadi manusia periferal di tepi kerumunan sebagai figuran yang luput dari hitungan.

"Sedang malas," katanya sambil mematikan rokok di asbak.

"Biasa main di sini?"

"Seminggu sekali. Lain hari, di Kuningan atau Ancol."

"Minimal tiga kali seminggu, jago dong."

"Ah, biasa saja."

"Suka ikut turnamen?"

"Kalau hadiahnya menarik," jawabnya sambil tersenyum.

Kudorong bungkus rokok dan Zippo sekalian ke dekatnya. Rokok dia selipkan di bibir. Tangan kanannya yang menggenggam Zippo melakukan dua gerakan tanpa jeda: ibu jari mengungkit terbuka tutup Zippo dengan denting khas, lalu berbalik memutar roda gigi penggesek batu api menyalakan sumbu. Setelah ujung rokok membara, tangannya menyentak ke kiri sehingga Zippo menutup memadamkan api. Kendati hanya style dasar, belum pernah kulihat seorang perempuan memakai Zippo dengan bergaya.

"Perokok profesional juga rupanya," komentarku.

"Belasan tahun mencumbu nikotin," dia tersenyum.

Baru kusadari matanya pun memancarkan senyum di balik bulu mata yang --juga baru kusadari-- amat lentik. Entah asli atau palsu, tampak pantas hadir di sana. Telanjur memandang, kuteruskan menelusur kening, hidung, pipi, bibir, dan dagunya. Tanpa bedak, hanya saputan samar gincu merah pucat di bibir. Walau tidak cantik seturut kriteriaku, semua tertata serasi. Bekas luka kecil di tepi kelopak mata kirinya bahkan menjadi aksen pemanis. Ya, manis adalah istilah yang cocok. Hitam manis, tepatnya. Eksotis.

"Ada yang aneh di mukaku?" tanyanya memergoki.

Aku menggeleng. Lambaian Ronny di depan meja kasir menyelamatkanku dari kekikukan.

"Ronny sudah selesai. Aku duluan," kataku sambil bangkit.

"Thanks rokoknya."

Aku mengangguk kecil sambil menjajari Ronny ke pintu keluar.

"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Ronny setelah kami duduk di mobil.

"Siapa?"

"Kamu dan perempuan tadi, Julia."

"Tidak ada. Hanya minta rokok."

"Hati-hati."

"Kenapa?"

"Bukan perempuan rumahan dan sekolahan."

"Karena bersama Ishak si hidung belang?"

Ronny hanya berdehem.

Aku tak berminat meneruskan. Bergunjing bukanlah kegemaranku. Lagipula, siapakah Julia sampai perlu kubicarakan? Hanya seorang perempuan yang sejenak lewat di satu malam yang sangat biasa untuk menumpang menghirup dan mengepulkan kabut nikotin dua batang rokokku.

Flying Lessons
by henrykfantazos.us

Ternyata, masih berkali-kali kujumpa Julia. Setelah kali kesekian, dia tak lagi sungkan duduk di hadapan atau sampingku. Malah sepertinya sengaja mencari. Dan, laksana ritual, aku pun langsung menyodorinya rokok berikut Zippo.

Kadang, tak satu pun kata terucap sampai aku pulang, hanya menambah tebal asap yang berlomba menggapai langit-langit. Atau bergurau mengomentari tingkah para pemula yang tersipu malu melihat bolanya menyusur parit tepi lintasan. Namun, adakalanya kami berbincang serius setelah tak lagi peduli pada kata-kata minus polesan. Atau saling meledek tanpa sakit hati. Kecerdasan dan kejenakaannya membuatku nyaman.

"Pasti kamu punya pikiran jelek tentang aku," satu kali dia berkata tiba-tiba.

"Kenapa? Karena orang yang kamu temani?" aku menebak.

Julia mengangguk, tak lepas menatapku dengan sorot mata kanak-kanak yang menuntut jawaban paling jujur.

"Bukan jelek, hanya buram," elakku bergurau. Kuhirup rokok dalam-dalam lalu mengepulkan asapnya ke atas membentuk lingkaran tebal berpilin.

"Kamu baik. Tak pernah hunjamkan pandang merendahkan," katanya lagi.

"Kenapa harus begitu? Pilihan dan kemauan tidaklah sama ukurannya bagi tiap orang."

"Jika pilihan itu bukan dari kemauan orang itu sendiri tapi pilihan dan kemauan orang lain?"

"Apa yang kamu harapkan? Belaskasihan? Jangankan airmata, darah pun tak ada harganya. Kita sendiri yang tentukan siapa kita di dunia yang tidak adil ini dengan apa pun yang kita miliki kini."

"Termasuk menjadi sepertiku?"

"Lihat, kamulah yang menilai rendah dirimu sendiri! Tahu apa aku tentang kenyataan yang terjadi pada diri kamu sehingga berhak menilai pembenaran yang kamu ambil? Tidak ada."

"Kalau kamu tahu ... ?" tanyanya menggantung.

"Jangan paksa aku jadi orang suci."

Julia terdiam sejenak. Asap rokok di jemarinya mendaki atmosfer pelan-pelan. Aku sengaja menunggu.

Sambil mematikan rokok dia berkata, "Aku anak sulung dari tiga bersaudara, perempuan semua, dari keluarga biasa. Kaya tidak, miskin tidak, terkenal pun tidak. Hanya jambon krislam seperti banyak orang lain."

"Jambon krislam?" aku tak paham.

"Bapak Jawa, ibu Ambon. Ibu Kristen, bapak Islam," dia tertawa senang melihat kerut keningku. Matanya ikut tertawa. Aku memencongkan mulut.

"Sore itu kami bertiga sedang pulang melalui jalan yang setiap hari kami lalui ketika sekelompok lelaki menyergap dan menyeret kami ke dalam hutan. Kepalaku diselubungi kain, tak bisa melihat apa yang terjadi pada kedua adikku. Hanya jeritan mereka yang kudengar ditingkah suara pukulan, makian dan tawa lelaki, serta kain koyak. Kian keras mereka menjerit, kian kerap pukulan kudengar, hingga akhirnya jeritan mereka melemah dan lenyap. Aku tahu, yang mereka alami sama seperti yang kualami, dianiaya dan diperkosa."

Telinga kupaksa menepis suara gaduh hantaman bola boling. Wajah eksotisnya bagai petang yang sekonyong-konyong diringkus malam.

"Apa yang mereka incar dari seorang novis** berkawan dua perempuan kecil berseragam sekolah lanjutan pertama? Keluarga kami bukan tokoh masyarakat, bukan penggiat gereja atau mesjid, bukan pula anggota laskar. Kenapa kami?"

Mulutku terkunci. Layar di benakku mengilaskan tragedi kelam yang melanda kepulauan rempah-rempah bertahun silam.

"Sia-sia meronta. Bertubi pukulan ke badan dan kepala membuatku tak mampu bertahan tetap sadar. Saat siuman, kutemukan diriku terkapar telanjang berkubang lumpur. Perih luka dan memar melumpuhkan seluruh sendi. Kepala tak lagi berselubung. Langit di atas amat gelap. Hutan begitu senyap.

Kuseru nama kedua adikku sekuat tenaga, tapi hanya bisik berludah darah yang terucap. Berulangkali kucoba, tiada bersahut. Aku melata sambil meraba-raba hingga akhirnya menyentuh benda lunak hangat. Adik bungsuku. Kukenali dari parut di lengan kirinya. Telanjang berlumur lumpur, leher mengangakan luka, kepala terkulai nyaris terpisah dari tubuhnya. Gerimis di gelap malam jadi ganti tangis yang tak sanggup kulakukan."

"Tidak usah diteruskan jika membuatmu tak nyaman," bisikku agak serak saat dia tersuruk dalam diam. Halimun kelabu bergulung-gulung di telaga gelap tanpa airmata.

"Enggankah kamu jadi pendengar cerita tak indah?" todongnya.

"Haruskah bercerita kepadaku yang hanya seorang asing bagimu?" balasku.

"Kamu Aldo. Aku Julia," katanya sambil menganjurkan tangan kanannya. Kami bersalaman seperti baru berkenalan. "Nah, sekarang kita bukan lagi orang asing satu sama lain," sambungnya menirukan dialog dari film yang kulupa judulnya. Aku menyeringai sepat.

Belum sempat dia lanjutkan kisahnya, kulihat Ronny melambai dari depan meja kasir. Kukedipkan mata pada Julia memberi isyarat aku harus pulang. Dia mengangguk tanpa kecewa.

"Besok ada waktu?" tanyanya sebelum aku beranjak.

Biasanya tak ada kegiatanku hari Sabtu. "Kuhubungi besok," kataku sambil mengeluarkan PDA hendak mencatat nomor ponselnya.

"Tidak usah. Aku akan ada di sini," elaknya halus.

Kuhampiri Ronny. Sepanjang jalan, aku hanya diam. Ronny pun tak berselera bicara. Mungkin kesal karena kalah dalam permainan.

From: jdf83@...
Date: Wednesday, 30 July 2008 21:34

dear aldo,

sebentar lagi burung besi gemuk itu membawaku melintas laut dan benua, ke tempat yang belum pernah kubayangkan sekalipun dalam khayal. sebuah negeri yang tiruan saljunya dulu kerap kulihat di dedaunan cemara natal. kata orang, di sana semua mimpi tak lagi mustahil. sayangnya aku tak berani bermimpi, hanya bersedia diri mendada hari sekuat badan dan jiwa, apa pun taruhannya.

banyak yang sudah dan akan kamu dengar dari ronny ataupun orang lain. tak akan kusangkal meski bukan itu kesejatian yang erat meringkuk di pojok paling rahasia diriku. kamu pun tak sepenuhnya tahu biarpun kamu satu-satunya orang yang kututuri perihalku. apa pun kata mereka, janganlah turut menjadi hakimku, sebagaimana aku pun tak akan mengutuk noktah hidupku sebagai dosa orang lain.

julia namaku. dari nama bulan pertama paruh kedua tahun.

aku tak percaya takdir, melainkan pada pilihan dan kemauan. kuingin langkahku kini jadi pijakan pertama merengkuh kesempatan kedua dari pilihan yang kutetapkan sendiri.

harapkan aku tak patah dan kalah. doakan aku jika kamu masih percaya doa.

penuh sayang,
julia

Malam mendaki remaja.

***

Langit Sabtu berundung awan. Julia menawan seluruh petang dan setengah malamku lewat kisahnya.

Dia peluki jasad adik bungsunya dalam hujan, tak henti membisikkan namanya sepanjang malam hingga fajar menyeruak dari balik pepohonan sagu. Beberapa orang kampung yang lewat lantas menolongnya. Adik keduanya tak pernah ditemukan.

Saat pulang, cuma arang membara dan puing berasap yang dia dapatkan. Genap sudah kemusnahan seketika. Tak sesuatu dan seorang pun tersisa sebagai alasan tetap tinggal. Hampa hari menuntun galaunya ke pelabuhan. Ingin dia luruhkan segalanya ke buih ombak yang menyerpih diiris lunas kapal yang membawanya ke Surabaya.

Namun, malam pekat berhujan di hutan sagu bersikeras memburu lewat ingatan maupun mimpi-mimpi yang senantiasa memaksanya terjaga bersimbah peluh. Tidur jadi sangat menakutkan. Dia larikan dirinya mengejar malam tanpa kegelapan. Profesi pemandu lagu karaoke menyeretnya ke keping waktu padat rahasia. Cengkeraman pelik kemilau semu malam mendesaknya ke sisi paling muram seorang perempuan.

"Setelah semua direnggut paksa, masih haruskah kenajisan diludahkan pada perempuan yang memakai tubuhnya, satu-satunya milik yang tersisa, untuk bertahan? Seks tak lagi berurusan dengan kesakralan maupun rajut terhalus perasaan manusia, melainkan transaksi menunda lapar. Dan, bagiku, sebagai senjata perlawanan. Mereka memujanya, aku menistanya. Kucibir mereka yang terkapar kalah di hadapan seks yang mereka kejar," tutur Julia tanpa nada berapi-api.

Jeda sejenak sebelum dia menyambung, "Tapi, adalah munafik jika kukatakan tak pernah sekali pun menikmatinya. Seperti orang lain, aku pun punya birahi. Dan tak bisa kubunuh angan untuk merasainya sepenuh-jiwa sepenuh-tubuh bersama lelaki yang sanggup berdamai dengan keberadaanku."

"Seperti film Pretty Woman?" cetusku mencoba mengikis getir.

"Begitulah," timpalnya ringan. "Nyaris aku terbebas dari jerat kemenduaan itu saat kujumpa Ronny."

Serta-merta tenggorokanku tercekat. Alis mata kananku terangkat. Ronny? Anggukan Julia menjadi konfirmasi.

"Tapi aku tidak terlalu bodoh untuk memahami siapa diriku dan siapa Ronny. Pretty Woman adalah senandung orang yang mampu bersegera selaraskan diri seturut perkembangan keberadaan orang lain. Sedangkan kita masih selalu memperhitungkan masa lalu sebagai ukuran martabat."

"Tapi, Ronny ..."

"Setidaknya, dia menyadarkanku bahwa kubangan pun ada tingkatannya," potong Julia tertawa, "yang tidak mustahil ditembus di Jakarta ini."

Lidahku kelu. Meski kutahu Ronny jauh dari alim, tak pernah kuharap menyua sosok fragmen masa lalunya.

"Tak usah dipusingkan. Aku saja tidak kenapa-napa, malah kamu yang loyo seperti baru dilabrak debt collector," gurau Julia membuyarkan kecamuk pikiranku.

"Aku jadi curiga kamu mendekatiku karena Ronny," gumamku murung.

Julia menampar pelan pipiku sambil mencibir. Bukan marah, sebab kulihat senyum menari di matanya.

"Paranoid! Kamu kira aku anak kencur yang ingin pacarnya cemburu?"

"Lalu kenapa?"

"Sebab aku suka kamu," bisiknya tanpa menundukkan pandang.

Gubraaaak! Mungkin itulah seruan remaja zaman sekarang yang jitu memerikan perasaanku. Melongo adalah satu-satunya ekspresi yang bisa kutampilkan.

"Jangan pasang tampang bloon gitu, ah!" tegur Julia sambil menggoyang-goyangkan daguku.

Aku masih belum bisa bereaksi.

"Terlarangkah bagiku untuk menyukaimu? Terlalu tinggikah kamu untuk kusukai?" desaknya membelalak. Senyum masih menari di matanya.

Julia, aku hanyalah seorang lelaki periferal. Pengakuan seperti itu bukanlah hal biasa buatku.

"Jika demikian, kenapa aku repot-repot ke sini?" elakku melepaskan diri dari debar.

"Entah. Mungkin mengharap seks ...," sahutnya acuh tak acuh.

"Dasar otak kotor, mulut juga kotor!" geramku sambil menuding mulutnya.

"Memangnya tidak pernah terpikir? Ayo, ngaku!" ganti dia menuding pelipisku.

Telanjur masuk gelanggang, sekalian sajalah bertarung. "Sangkamu aku lelaki buta tuna imajinasi?"

Julia menatap mataku seakan hendak menerobos ke dalam. Dengan lembut diraihnya kepalaku mendekat ke arahnya. Sekilas bibirnya singgah di pelipisku.

Di luar, gerimis turun malu-malu dalam lagu.

From: jdf83@...
Date: Friday, 1 August 2008 07:47

dear aldo,

aku baru tiba di negeri yang bekunya masih belum bisa kuakrabi. kutulis email ini di café sambil menunggu kereta. secangkir cappuccino hangat dan zippo tuamu mengawaniku. tapi aku masih sanggup bertahan tidak menyalakan rokok.

sabtu sore itu, nyaris tak luput kutatapi pintu, berharap kamu segera tiba walau kamu tak pernah janji. senyum pasti menari di mataku (begitu istilahmu) saat hadirmu memupus 5 jam penantian paling meresahkan.

itulah kali terakhir pertemuan kita. kamu terkejut saat kukatakan bahwa kamu satu-satunya orang yang kupamiti. memang tak ada siapa-siapa yang bukan orang asing bagiku. tidak pak ishak, tidak ronny, atau siapa pun yang bahkan pernah berbagi selimut denganku. hanya kamu, yang sebatas berbagi rokok, waktu, dan kata. toh tak semua percintaan bermeterai persebadanan, katamu.

diniary namaku. dari "dini hari".

aku percaya janji mentari yang selalu berjuang datang saat subuh menjelang. kuingin hari tersulit yang kusongsong kini jadi fajar pemupus pekat meski harus merangkak lambat.

dear aldo, keretaku sudah tiba. belum sepadan terimakasihku atas semua perjumpaan kita yang membuatku tak putus berharap ada pagi di ujung lorong dan semua akan baik-baik saja.

dengan cinta,
diniary

Malam kian meranum dewasa.

***

Aku tidak mengawani Ronny ke tempat boling. Batuk dan pilek menyerangku membabi-buta. Bunyi komputer tanda datangnya email memaksaku turun dari ranjang.

From: jdf83@...
Date: Saturday, 2 August 2008 04:23

dear aldo,

fajar baru saja bangkit menciumi embun di balik kaca jendela. satu malam berlalu lagi, satu perjalanan pun usai sudah. namun untaian tualang sejati temukan tempat dan makna, baru saja bermula, di hamparan lenan putih yang menantiku melangkah.

aku percaya segala sesuatu mengalir. kini aku pun akan mengalir. ke atas, melampaui lapis teratas kubangan. kuharap kota kecil yang namanya mungkin belum pernah kamu dengar ini tak menuntut daya lompat sedahsyat jakarta. setidaknya, tak ada yang mengukuriku lewat teropong masa lalu.

fitria namaku. dari "fitri".

kuingin lahir kembali seperti bayi yang tak berbeban dosa kala menyapa dunia dengan ketelanjangan dan tangisan.

ya, aku telanjang saat ini, aldo. kumau memasuki dan dirasuki sejarah baru dengan kepolosan paling hakiki. kuingin menyapamu seutuh diri tanpa selubung, hanya berbatas udara yang dulu kerap kita gambari dengan asap.

aku juga menangis, aldo. bukan bersebabkan ketelanjangan-luka-memar berlumur lumpur di hutan sagu ataupun ranjang masai berkeringat, melainkan dari rasa paling purba yang telah kulabuhkan kekal di satu sabtu, menyimpul tuntas geligi masa lalu yang dengannya aku telah berdamai.

dear aldo, dentang lonceng doa pagi memanggil. aku harus bergegas. maklum, aku belum cukup mahir memasang tudung kepala 😉

dalam kasih,
fitria

ps. alamat ini akan kututup setelah email ini terkirim. tak usah kita rindukan masa datang. biarlah semua mengalir.

Ada yang diam-diam menyelinap lolos dari pusat diriku. Rasa kehilangan yang teramat sangat. Seorang perempuan bukan rumahan dan bukan sekolahan. Bukan kriteria idamanku. Namun satu-satunya yang pernah menghelaku dari sisi periferal menjadi orang pertama bahkan satu-satunya.

Adieu, Julia Diniary Fitria. Panta rhei.

Malam kian menyuruk renta. Hari esok mematri janji kisah berbeda.

[*] panta rhei (Gerika) = segala sesuatu ada dan berubah dalam aliran.

[**] novis = pelajar sekolah calon biarawati.

📌 Minggu, 03 Agustus 2008 04:01 🌐

📌 Kamis, 10 Juli 2008 🌐

Di Timur Luar Sebuah Taman*

Di Timur Luar Sebuah Taman
Satu tulisan yang menjadi peserta sebuah perlombaan yang dibatalkan 😞

Adam and Eve
by Stan Mullins

Mega tembaga bergayut di langit muram. Bongkahan awan-awan kecil berarak pelan merapat, lalu menyatu seakan bersepakat menaungi satu noktah yang nyaris tak nampak dari ketinggian: segunduk tanah bercampur lempung kuning yang diapit sepasang perempuan dan lelaki berhadap-hadapan.

"Marahkah engkau?" si perempuan mengoyak senyap tanpa mengalihkan pandang dari gundukan tanah.

Lelaki itu tidak menjawab. Tangannya menoreh-noreh tanah dengan pangkal ranting zaitun yang masih berdaun, lalu menancapkannya di salah satu ujung gundukan. Dia mendongak sejenak menatap mega tembaga yang kian padat menggumpal di langit sebelum menyahut lirih, "Tak ada alasan bagiku marah pada daging dari dagingku dan tulang dari tulangku. Engkau adalah aku, aku adalah engkau [1]. Perihalmu adalah perihalku. Murka dan nestapa yang kautanggung, pula sukacita dan rahasia, adalah karunia untuk kita saling berbagi, meski tak bisa sepenuhnya kita kecap bersama."

"Aku tahu. Tapi hatiku masih saja resah."

"Mengenai kekinian kita di sini akibat pilihan kita sendiri? Kalaupun semua ini adalah kesalahan, setidaknya kita masih punya alasan untuk menjalaninya bersama."

"Meski kita telah kehilangan banyak?"

"Walau kehilangan segalanya."

Burung gagak di pucuk pohon ara kering memiringkan kepalanya bagai ingin menyimak cermat percakapan mereka. Seekor kupu-kupu bersayap kuning berbintik ungu hinggap di ranting zaitun. Sayapnya mengepak perlahan mengirim isyarat aman bagi seekor kupu-kupu lain agar hinggap di sisinya. Dengan santun keduanya melarutkan diri dalam hening.

"Mengapa kaubiarkan aku jadi jurubicara atas sesuatu yang tak pernah diserahkan untuk kutanggungjawabi?" tanya perempuan itu setelah cukup lama terperangkap dalam diam. Dia tolehkan wajahnya menatap lelaki yang masih tepekur di seberang gundukan.

"Aku tak membiarkanmu. Aku bersamamu," sahut si lelaki masih dengan suara lirih.

"Kau tak melarangku beradujawab dengan si ular tua!"

"Manalah bisa aku melarang setelah aku lebih dulu kehabisan kata menghadapinya? Kaulah pembelaku, benteng pamungkas diriku sepenuh, penyambung lidahku kelu, pengurai kebuntuan pemberangus benakku. Justru karenamu aku urung kehilangan martabat kemanusiaanku di hadapan seluruh mahluk yang menjadi saksi perjumpaan kita dengan si ular tua. Seluruh diriku, semua yang terbaik dariku, ada padamu. Walau pada akhirnya takluk, masih ada harga diri tak terenggutkan yang membuat kepala kita tetap tegak saat terusir."

"Kau bermanis kata menghiburku dan menghibur dirimu sendiri," si perempuan merajuk.

"Beginilah cara kita berbagi saat berbagai beban mendera. Begini pula keturunan kita kelak menyatakan kesejatian kebersamaan mereka. Walau tak langsung katupkan nganga luka, setidaknya ada peluang tak tersungkur sebatangkara."

"Kau bersungguh-sungguh dengan kata-katamu?" selidik si perempuan sambil melirik tajam.

Lelaki itu mengangkat wajahnya. Matanya menghunjam tajam langsung ke bola mata si perempuan.

"Bukannya aku tak punya pilihan meninggalkanmu. Namun, ikrar telah kutorehkan jauh sebelum namamu disebut. Kepada namamu, jiwaku tak kuasa ingkar dan berdusta. Dan atas nama ikrar itu, janji-janji baru jadi memuakkan."

Sinar mata perempuan itu melembut. Tangannya, yang tak sehalus dulu, membenahi ranting zaitun yang agak miring.

"Begitukah cara keturunan kita kelak menautkan janji antarmereka?" tanyanya lagi.

"Ya. Hanya diperlukan satu ikrar demi seluruh hidup mereka, hingga kisah tergenapkan."

"Kau yakin tentang masa depan?"

"Semula, hanya pengetahuan tentang masa kini yang kumiliki, yang dengannya semua mahluk kuberi nama. Dengan kehadiranmu, aku menjadi lengkap. Sebagian masa depan kini dapat kuhampiri dalam penglihatan."

"Seperti penglihatan yang kadang melintas sekejap di ruang pandangku selama ini?"

"Ya, sebuah terawang yang muncul saat kita bersehati penuh dengan semesta. Itu adalah karunia bagi setiap insan. Namun, tak semua sedia memelihara kepekaan berselaras dalam harmoni alam guna merengkuh sebersit kearifan membaca sasmita [2]."

"Termasuk anak kita sehingga bangkit amarahnya pada saudara sedarahnya sendiri?"

"Termasuk anak kita," keluh si lelaki.

"Mengapa tak kauajarkan semua ini kepadanya? Kepadaku pun baru kaukatakan sekarang, setelah sekian lama," protes si perempuan agak keras.

"Kearifan bukanlah ujud lain pengetahuan. Dia datang bersama dengan munculnya kerendahhatian setelah pengetahuan lebih dulu menghampirinya. Ketika anak kita menengarai perbedaan ritualnya dengan ritual saudaranya, sesungguhnyalah saat itu kearifan sedang mengetuk hati dan pikirannya. Hanya dia sendiri yang layak memutuskan apakah membukakan pintu bagi kearifan untuk bersemayam dalam dirinya ataukah menutup pintu itu sekali untuk selamanya. Tak ada hakku memilihkan masa depannya. Anak-anak kita bukanlah anak-anak kita, melainkan anak-anak kehidupan yang melesat bagai anak panah ke masa depan yang tidak bisa kita kunjungi [3]."

"Maksudmu, semua peristiwa di masa depan belum tersuratkan sejak purba?"

"Semua yang ada di masa depan bersebabkan semua yang ada di masa lampau serta masa kini."

"Jadi, masa depan adalah konsekuensi atas pilihan-pilihan kita dan bisa berubah jika kita berkehendak?"

"Siapatah yang bisa menggariskan masa depan? Masa depan justru akan sangat menggairahkan ketika meniti di atas ketidakpastian," sahut si lelaki dalam retorika. "Itu sebabnya nasib seseorang tak akan berubah apabila orang itu tak mengubahnya sendiri [4]."

Burung gagak di pucuk pohon ara kering masih memiringkan kepalanya, tak jemu menyimak percakapan maupun keheningan mereka. Dia tidak perlu terlalu lama menanti, sebab perempuan lalu berbicara lagi. Kali ini suaranya amat datar. Matanya menatap lurus seakan sedang mengintai sesuatu di kejauhan.

"Ada banyak orang. Kacau. Hingar. Sebagian mengejar sebagian lain. Mengusir. Mendera. Antara lelaki dengan lelaki. Terhadap anak-anak, perempuan, orang tua. Kudengar jerit dan tangis. Kulihat luka dan kematian. Darah tertumpah. Merah. Api menyala. Membara. Ada yang tersungkur. Meregang nyawa. Seperti yang terjadi pada anak kita. Persis seperti anak kita. Mati. Mati ..." [5]

Setelah beberapa jenak, cahaya kembali ke bola mata perempuan itu. Matanya berkejap-kejap, seperti ada sesuatu yang mengganggu pandangannya. Perlahan dia menyeka matanya. Sebutir air bening menggelantung di ujung jarinya. Dipandanginya lekat-lekat. Pelan-pelan butir air itu pecah dan mengalir membasahi jarinya.

"Sesak kurasa. Perih dalam dada ini sesakit persalinan. Walau air dari mataku ini serupa dengan yang keluar saat kudengar suara pertama anak kita dulu, aku tahu pasti bahwa keduanya menorehkan rasa yang amat berbeda."

"Kelahiran dan kematian adalah simpul-simpul terujung titi kehidupan. Pada keduanya terpatri sukacita paling jujur maupun nestapa paling murni. Di antara kedua simpul itu, sukacita dan nestapa silih berganti menghadirkan bermacam hakikat dan topengnya. Melalui pergiliran keduanyalah kehidupan menjangkarkan makna."

"Lalu, apa hak sah seseorang menghela titi hidup orang lain ke dalam api dan kematian?"

"Orang kerap menyangka bahwa sebutir berlian tafsir kebenaran adalah liontin kebenaran itu sendiri. Padahal, untuk menguntai liontin, tak cukup satu berlian. Dan tak satupun berlian yang sepenuhnya sama dengan yang lain. Di sisi lain, tafsir kebenaran bagaikan seekor naga yang senantiasa gelisah mencari pijakan ajek. Dia tak lelah menggali, membongkar, bahkan menjungkirbalikkan segala sesuatu. Kadang dia ramah pada perbedaan, namun tak jarang teramat bengis terhadap semua yang merintanginya. Semua berpulang pada sang penunggang naga pengetahuan itu."

"Sekeping kebenaran yang diperumit oleh pengetahuan, didaku sebagai kebenaran hakiki."

"Padahal, kebenaran hakiki justru adalah yang paling bersahaja. Sesederhana pengakuan bahwa aku adalah engkau dan engkau adalah aku. Tak ada tuntutan kebenaran yang melampaui itu. Manusialah yang acap mengubahpaksa kebenaran menjadi taring tajam pembedaan sehingga gagal menemukan dirinya yang paling murni dan utuh dalam diri manusia lain. Sebagian orang memaknai hakikat kebenaran sebagai nilai-nilai yang berpihak padanya. Padahal, tak seorang pun yang sanggup merengkuh inti kebenaran itu sendiri."

"Kalau saja mereka paham bahwa kebenaran selalu tampil dengan wajah berbeda akibat perbedaan cermin hati dan akal mereka, tentu tak seorang pun akan angkuh memuliakan tafsir kebenarannya berlaku mutlak bagi semua orang."

"Detak waktu dan bentang jarak kuasa mengikis kesadaran paling purba akan ketidaklengkapan pribadi tanpa kebersamaan. Akibatnya, orang menyangka bahwa dirinya paripurna, sebagai perwujudan ketunggalan adikodrati yang tak memiliki padanan, sekutu, maupun seteru. Mereka merasa berhak --bahkan wajib-- meniadakan semua yang bertentangan dengan kemandirian kemahatunggalannya."

"Mereka tidak lebih dari perampok yang mengangkangi hak memaknai kebenaran!"

"Bagaimanapun, mereka adalah keturunan kita."

"Kau tak merasakan sesak dan sakit yang kurasakan saat menampak masa depan," gerutu si perempuan.

"Bagaimana mungkin aku tak merasakan apa yang dirasakan belahan jiwaku?" balas si lelaki setengah mesra.

Perempuan itu menyunggingkan senyum paling indah yang setara intipan hangat mentari pagi dari balik bukit.

"Mungkinkah semua itu karena kita sudah mencampakkan sebagian pengetahuan mengenai kebenaran di taman yang kita tinggalkan, sehingga pengetahuan mereka perihal kebenaran tidak lengkap, bahkan ternoda?"

"Buah pengetahuan yang kita kupas dan cecap telah membebaskan segala kemungkinan --yang baik maupun buruk-- ke dalam kehidupan. Setimpal dengan hak istimewa kita mengambil putusan berdasarkan kehendak bebas kita, yang bahkan malaikat pun tak berani memintanya."

"Dan, di masa depan, keturunan kita akan menuturkan legenda kotak Pandora," sambut si perempuan sambil tersenyum. "Untunglah kita masih diberi kesempatan membebaskan pengharapan sebelum selubung buah pengetahuan itu ditautkan kembali, sehingga keturunan kita kelak tak kehilangan daya juang, meski pada akhirnya harus tetap bertelut kalah."

"Dan akulah orang pertama yang menikmati pengharapan itu ketika kauhadapi si ular tua," sahut si lelaki setengah meringis.

Keduanya lantas tertawa seakan semua beban sudah terangkat seketika.

"Tidak bolehkah kita menyampaikan kebenaran ini kepada keturunan kita agar mereka tak mengulangi kebodohan yang sama dengan yang dilakukan anak kita?" tanya si perempuan.

"Kita pun bukan manusia sempurna. Kebenaran sempurna macam apakah yang bisa disampaikan oleh manusia tak sempurna?"

"Mereka jauh lebih tak sempurna walau mendaku sempurna!"

"Itu sebabnya di masa depan akan datang banyak utusan yang menguak serta mengajarkan kebenaran, selapis demi selapis, guna mengingatkan manusia akan ketidaksempurnaan mereka jika tanpa kebersamaan."

"Mengapa bertahap? Tidak secara gamblang dan tuntas?"

"Tak seorang pun yang akan sanggup menanggungnya. Kelak, saat seorang penguasa mengajukan pertanyaan ‘Apakah kebenaran itu?’ kepada seorang utusan, jawaban yang diberikan utusan itu hanyalah diam [6]."

"Diam?"

"Ya. Diam. Kebenaran hakiki tidaklah muncul dari keriuhan. Tidak dari gelegar guntur, taufan dahsyat, maupun genderang perang. Tunasnya muncul dalam hening semilir angin tatkala semua atribut --bahkan seluruh tafsir kebenaran-- ditanggalkan. Kebenaran bersedia menyingkapkan diri hanya jika manusia rela membuka diri sepenuhnya dan berlutut dalam pengakuan keterbatasannya. Sebab, jalan kebenaran bukanlah dari luar ke dalam, melainkan dari dalam ke luar. Dari ketelanjangan yang paling asasi."

"Jadi, kebenaran itu sesungguhnya telah ada dalam diri manusia?"

"Itulah warisan paling berharga kita pada keturunan kita."

"Sayangnya, tak sedikit orang yang jumawa mengingkari hak waris tersebut. Betapa pedih melihat banyak keturunan kita yang bercuriga pada kebenaran bersahaja yang tidak gemerlap dan gegap-gempita. Akibatnya, mereka harus menjalani pertikaian paling riuh dan brutal maupun dendam paling senyap dan mengiris."

"Demikianlah perjanjian yang sudah kita buat dengan semesta tatkala kita putuskan memiliki kehendak bebas. Kita sendirilah yang akan menetapkan masa depan kita. Walau keturunan kita banyak yang kerap membuatnya demikian suram."

Lelaki itu terdiam. Perempuan itu terdiam. Betapa menyakitkan memiliki pengetahuan dan sekeping kebenaran.

Langit masih muram. Sepasang kupu-kupu bersayap kuning berbintik ungu melayang bersama. Burung gagak di atas pohon ara kering sudah menghilang sejak tadi. Mega tembaga di langit beringsut sedikit menyisakan sebuah lubang kecil di tengahnya. Sebutir air menetes melaluinya, jatuh tepat di atas sehelai daun zaitun pada ranting yang tertancap di ujung gundukan tanah bercampur lempung kuning, lalu menghunjam tanpa ragu ke tanah. Sepi pun serta-merta menyergap petang. Sepasang lelaki dan perempuan beranjak. Ke Timur. Kian ke luar taman yang tidak lagi berhak mereka tinggali. Menyongsong masa depan yang belum dipastikan.

[*]inspirasi judul dari film "East of Eden" yang dibintangi oleh Julie Harris dan James Dean
http://en.wikipedia.org/wiki/East_of_Eden_(1955_film)

[1] merenungkan filsafat Hindu "Tat Tvam Asi"
http://genpositif.org/Global/Agung Putu/index.html.html

[2] mengingat "The Celestine Prophecy" karya James Redfield
http://www.thecelestineprophecymovie.com/insights.php

[3] mengkaji puisi "On Children" karya Gibran Kahlil Gibran
http://www.katsandogz.com/onchildren.html

Your children are not your children.
They are the sons and daughters of Life's longing for itself.
They come through you but not from you,
And though they are with you yet they belong not to you.

You may give them your love but not your thoughts,
For they have their own thoughts.
You may house their bodies but not their souls,
For their souls dwell in the house of tomorrow,
which you cannot visit, not even in your dreams.
You may strive to be like them,
but seek not to make them like you.
For life goes not backward nor tarries with yesterday.

You are the bows from which your children
as living arrows are sent forth.
The archer sees the mark upon the path of the infinite,
and He bends you with His might
that His arrows may go swift and far.
Let our bending in the archer's hand be for gladness;
For even as He loves the arrow that flies,
so He loves also the bow that is stable.

[4] menyadur al-Qur'an QS ar-Ra’d 13:11

Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.

[5] menyaksikan tragedi Monas 1 Juni 2008
http://www.youtube.com/watch?v=AlMnli0jcp4&feature=related

[6] mengutip Injil Yohanes 18:38a
http://sabdaweb.sabda.org/bible/verse/?b=43&c=18&v=38

Saya mengalami kesulitan besar memangkas dan menautkan kata mengejar batas maksimal 10.000 karakter akibat salah ingat, menyangka 10.000 kata. Membuang cukup banyak alinea ibarat melakukan mutilasi terhadap untaian tema yang telanjur telah dituliskan. Inilah jadinya, sebuah tulisan compang-camping hasil pembantaian dari sebuah prosa liris.

Meski sudah berupaya keras, ternyata hasilnya masih saja melampaui batas maksimal karakter. 12.600 karakter jika catatan kaki dimasukkan, 11.138 karakter tanpa catatan kaki (semuanya tanpa memperhitungkan karakter kosong antarkata). Secara administratif, saya sudah terkena diskualifikasi. Saya tidak sanggup berbuat lebih 😞

📌 Kamis, 10 Juli 2008 22:44 🌐 Beth