Malam masih teramat muda tatkala perempuan itu duduk di sofa di hadapanku
berseberang meja. Kutoleh sekejap lalu meneruskan membaca email melalui PDA.
Apa peduliku? Setiap orang berhak duduk di kursi mana pun yang disukainya.
"Boleh minta rokok sebatang?" tanyanya mengoyak keasikanku.
Kuangkat wajahku dari ketertundukan. "Silakan," sahutku sambil menyorongkan
bungkus rokok yang tergeletak di meja diapit pemantik api Zippo dan asbak
keramik berisi dua puntung padam.
Perempuan itu mencabut sebatang rokok. Alih-alih menyalakan pemantik api a-la
gentleman dalam film, aku hanya mendorong Zippo ke arahnya.
"Terimakasih," katanya sambil menghembuskan asap lewat mulut dengan tiupan
kuat.
Pasti aku sudah melupakan kehadirannya jika dia tidak bicara tepat setelah
kutuntaskan membaca dan membalas beberapa email.
"Tidak main?" tanyanya.
Aku menggeleng sambil mematikan PDA. "Tidak suka," kataku menegaskan.
Keningku berkerut. Untuk apa menanyakan alasan kehadiran seseorang di tempat
yang boleh dikunjungi siapa pun termasuk yang tidak punya alasan?
"Mengawani sepupu," tukasku datar dengan gerakan dagu menunjuk Ronny yang
beberapa bulan ini amat gandrung boling.
"Satu klub dengan temanku," sahutnya seraya menunjuk lelaki yang bermain di
jalur lain. Kukenali Ishak yang belasan tahun lebih tua dibanding Ronny yang
seumuranku. Sedangkan perempuan itu kutaksir tak kurang sepuluh tahun lebih
muda dariku. Entah bagaimana cara pertemanan dua insan berbeda jenis kelamin
yang terpaut duapuluhan tahun. Ah, bukan urusanku!
"Kamu tidak main?" tanyaku kemudian. Entah kenapa aku jadi tergoda
berbasa-basi. Biasanya aku amat canggung pada perempuan, apalagi di tempat
umum, sehingga kerap diolok bahwa padananku adalah perempuan "rumahan" atau
"sekolahan". Peranku dalam berbagai kesempatan adalah menjadi manusia
periferal di tepi kerumunan sebagai figuran yang luput dari hitungan.
"Sedang malas," katanya sambil mematikan rokok di asbak.
"Seminggu sekali. Lain hari, di Kuningan atau Ancol."
"Kalau hadiahnya menarik," jawabnya sambil tersenyum.
Kudorong bungkus rokok dan Zippo sekalian ke dekatnya. Rokok dia selipkan di
bibir. Tangan kanannya yang menggenggam Zippo melakukan dua gerakan tanpa
jeda: ibu jari mengungkit terbuka tutup Zippo dengan denting khas, lalu
berbalik memutar roda gigi penggesek batu api menyalakan sumbu. Setelah ujung
rokok membara, tangannya menyentak ke kiri sehingga Zippo menutup memadamkan
api. Kendati hanya style dasar, belum pernah kulihat seorang perempuan
memakai Zippo dengan bergaya.
"Perokok profesional juga rupanya," komentarku.
"Belasan tahun mencumbu nikotin," dia tersenyum.
Baru kusadari matanya pun memancarkan senyum di balik bulu mata yang --juga
baru kusadari-- amat lentik. Entah asli atau palsu, tampak pantas hadir di
sana. Telanjur memandang, kuteruskan menelusur kening, hidung, pipi, bibir,
dan dagunya. Tanpa bedak, hanya saputan samar gincu merah pucat di bibir.
Walau tidak cantik seturut kriteriaku, semua tertata serasi. Bekas luka kecil
di tepi kelopak mata kirinya bahkan menjadi aksen pemanis. Ya, manis adalah
istilah yang cocok. Hitam manis, tepatnya. Eksotis.
"Ada yang aneh di mukaku?" tanyanya memergoki.
Aku menggeleng. Lambaian Ronny di depan meja kasir menyelamatkanku dari
kekikukan.
"Ronny sudah selesai. Aku duluan," kataku sambil bangkit.
"Thanks rokoknya."
Aku mengangguk kecil sambil menjajari Ronny ke pintu keluar.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Ronny setelah kami duduk di mobil.
"Siapa?"
"Kamu dan perempuan tadi, Julia."
"Tidak ada. Hanya minta rokok."
"Hati-hati."
"Kenapa?"
"Bukan perempuan rumahan dan sekolahan."
"Karena bersama Ishak si hidung belang?"
Ronny hanya berdehem.
Aku tak berminat meneruskan. Bergunjing bukanlah kegemaranku. Lagipula,
siapakah Julia sampai perlu kubicarakan? Hanya seorang perempuan yang
sejenak lewat di satu malam yang sangat biasa untuk menumpang menghirup dan
mengepulkan kabut nikotin dua batang rokokku.
Ternyata, masih berkali-kali kujumpa Julia. Setelah kali kesekian, dia tak
lagi sungkan duduk di hadapan atau sampingku. Malah sepertinya sengaja
mencari. Dan, laksana ritual, aku pun langsung menyodorinya rokok berikut
Zippo.
Kadang, tak satu pun kata terucap sampai aku pulang, hanya menambah tebal
asap yang berlomba menggapai langit-langit. Atau bergurau mengomentari
tingkah para pemula yang tersipu malu melihat bolanya menyusur parit tepi
lintasan. Namun, adakalanya kami berbincang serius setelah tak lagi peduli
pada kata-kata minus polesan. Atau saling meledek tanpa sakit hati.
Kecerdasan dan kejenakaannya membuatku nyaman.
"Pasti kamu punya pikiran jelek tentang aku," satu kali dia berkata
tiba-tiba.
"Kenapa? Karena orang yang kamu temani?" aku menebak.
Julia mengangguk, tak lepas menatapku dengan sorot mata kanak-kanak yang
menuntut jawaban paling jujur.
"Bukan jelek, hanya buram," elakku bergurau. Kuhirup rokok dalam-dalam lalu
mengepulkan asapnya ke atas membentuk lingkaran tebal berpilin.
"Kamu baik. Tak pernah hunjamkan pandang merendahkan," katanya lagi.
"Kenapa harus begitu? Pilihan dan kemauan tidaklah sama ukurannya bagi tiap
orang."
"Jika pilihan itu bukan dari kemauan orang itu sendiri tapi pilihan dan
kemauan orang lain?"
"Apa yang kamu harapkan? Belaskasihan? Jangankan airmata, darah pun tak ada
harganya. Kita sendiri yang tentukan siapa kita di dunia yang tidak adil ini
dengan apa pun yang kita miliki kini."
"Termasuk menjadi sepertiku?"
"Lihat, kamulah yang menilai rendah dirimu sendiri! Tahu apa aku tentang
kenyataan yang terjadi pada diri kamu sehingga berhak menilai pembenaran
yang kamu ambil? Tidak ada."
"Kalau kamu tahu ... ?" tanyanya menggantung.
"Jangan paksa aku jadi orang suci."
Julia terdiam sejenak. Asap rokok di jemarinya mendaki atmosfer pelan-pelan.
Aku sengaja menunggu.
Sambil mematikan rokok dia berkata, "Aku anak sulung dari tiga bersaudara,
perempuan semua, dari keluarga biasa. Kaya tidak, miskin tidak, terkenal pun
tidak. Hanya jambon krislam seperti banyak orang lain."
"Jambon krislam?" aku tak paham.
"Bapak Jawa, ibu Ambon. Ibu Kristen, bapak Islam," dia tertawa senang
melihat kerut keningku. Matanya ikut tertawa. Aku memencongkan mulut.
"Sore itu kami bertiga sedang pulang melalui jalan yang setiap hari kami
lalui ketika sekelompok lelaki menyergap dan menyeret kami ke dalam hutan.
Kepalaku diselubungi kain, tak bisa melihat apa yang terjadi pada kedua
adikku. Hanya jeritan mereka yang kudengar ditingkah suara pukulan, makian
dan tawa lelaki, serta kain koyak. Kian keras mereka menjerit, kian kerap
pukulan kudengar, hingga akhirnya jeritan mereka melemah dan lenyap. Aku
tahu, yang mereka alami sama seperti yang kualami, dianiaya dan diperkosa."
Telinga kupaksa menepis suara gaduh hantaman bola boling. Wajah eksotisnya
bagai petang yang sekonyong-konyong diringkus malam.
"Apa yang mereka incar dari seorang novis** berkawan dua perempuan kecil
berseragam sekolah lanjutan pertama? Keluarga kami bukan tokoh masyarakat,
bukan penggiat gereja atau mesjid, bukan pula anggota laskar. Kenapa kami?"
Mulutku terkunci. Layar di benakku mengilaskan tragedi kelam yang melanda
kepulauan rempah-rempah bertahun silam.
"Sia-sia meronta. Bertubi pukulan ke badan dan kepala membuatku tak mampu
bertahan tetap sadar. Saat siuman, kutemukan diriku terkapar telanjang
berkubang lumpur. Perih luka dan memar melumpuhkan seluruh sendi. Kepala tak
lagi berselubung. Langit di atas amat gelap. Hutan begitu senyap.
Kuseru nama kedua adikku sekuat tenaga, tapi hanya bisik berludah darah yang
terucap. Berulangkali kucoba, tiada bersahut. Aku melata sambil meraba-raba
hingga akhirnya menyentuh benda lunak hangat. Adik bungsuku. Kukenali dari
parut di lengan kirinya. Telanjang berlumur lumpur, leher mengangakan luka,
kepala terkulai nyaris terpisah dari tubuhnya. Gerimis di gelap malam jadi
ganti tangis yang tak sanggup kulakukan."
"Tidak usah diteruskan jika membuatmu tak nyaman," bisikku agak serak saat
dia tersuruk dalam diam. Halimun kelabu bergulung-gulung di telaga gelap
tanpa airmata.
"Enggankah kamu jadi pendengar cerita tak indah?" todongnya.
"Haruskah bercerita kepadaku yang hanya seorang asing bagimu?" balasku.
"Kamu Aldo. Aku Julia," katanya sambil menganjurkan tangan kanannya. Kami
bersalaman seperti baru berkenalan. "Nah, sekarang kita bukan lagi orang
asing satu sama lain," sambungnya menirukan dialog dari film yang kulupa
judulnya. Aku menyeringai sepat.
Belum sempat dia lanjutkan kisahnya, kulihat Ronny melambai dari depan meja
kasir. Kukedipkan mata pada Julia memberi isyarat aku harus pulang. Dia
mengangguk tanpa kecewa.
"Besok ada waktu?" tanyanya sebelum aku beranjak.
Biasanya tak ada kegiatanku hari Sabtu. "Kuhubungi besok," kataku sambil
mengeluarkan PDA hendak mencatat nomor ponselnya.
"Tidak usah. Aku akan ada di sini," elaknya halus.
Kuhampiri Ronny. Sepanjang jalan, aku hanya diam. Ronny pun tak berselera
bicara. Mungkin kesal karena kalah dalam permainan.
From: jdf83@...
Date: Wednesday, 30 July 2008 21:34
dear aldo,
sebentar lagi burung besi gemuk itu membawaku melintas laut dan benua, ke
tempat yang belum pernah kubayangkan sekalipun dalam khayal. sebuah negeri
yang tiruan saljunya dulu kerap kulihat di dedaunan cemara natal. kata
orang, di sana semua mimpi tak lagi mustahil. sayangnya aku tak berani
bermimpi, hanya bersedia diri mendada hari sekuat badan dan jiwa, apa pun
taruhannya.
banyak yang sudah dan akan kamu dengar dari ronny ataupun orang lain. tak
akan kusangkal meski bukan itu kesejatian yang erat meringkuk di pojok
paling rahasia diriku. kamu pun tak sepenuhnya tahu biarpun kamu
satu-satunya orang yang kututuri perihalku. apa pun kata mereka, janganlah
turut menjadi hakimku, sebagaimana aku pun tak akan mengutuk noktah
hidupku sebagai dosa orang lain.
julia namaku. dari nama bulan pertama paruh kedua tahun.
aku tak percaya takdir, melainkan pada pilihan dan kemauan. kuingin
langkahku kini jadi pijakan pertama merengkuh kesempatan kedua dari
pilihan yang kutetapkan sendiri.
harapkan aku tak patah dan kalah. doakan aku jika kamu masih percaya doa.
penuh sayang,
julia
Malam mendaki remaja.
***
Langit Sabtu berundung awan. Julia menawan seluruh petang dan setengah
malamku lewat kisahnya.
Dia peluki jasad adik bungsunya dalam hujan, tak henti membisikkan namanya
sepanjang malam hingga fajar menyeruak dari balik pepohonan sagu. Beberapa
orang kampung yang lewat lantas menolongnya. Adik keduanya tak pernah
ditemukan.
Saat pulang, cuma arang membara dan puing berasap yang dia dapatkan. Genap
sudah kemusnahan seketika. Tak sesuatu dan seorang pun tersisa sebagai
alasan tetap tinggal. Hampa hari menuntun galaunya ke pelabuhan. Ingin dia
luruhkan segalanya ke buih ombak yang menyerpih diiris lunas kapal yang
membawanya ke Surabaya.
Namun, malam pekat berhujan di hutan sagu bersikeras memburu lewat ingatan
maupun mimpi-mimpi yang senantiasa memaksanya terjaga bersimbah peluh. Tidur
jadi sangat menakutkan. Dia larikan dirinya mengejar malam tanpa kegelapan.
Profesi pemandu lagu karaoke menyeretnya ke keping waktu padat rahasia.
Cengkeraman pelik kemilau semu malam mendesaknya ke sisi paling muram
seorang perempuan.
"Setelah semua direnggut paksa, masih haruskah kenajisan diludahkan pada
perempuan yang memakai tubuhnya, satu-satunya milik yang tersisa, untuk
bertahan? Seks tak lagi berurusan dengan kesakralan maupun rajut terhalus
perasaan manusia, melainkan transaksi menunda lapar. Dan, bagiku, sebagai
senjata perlawanan. Mereka memujanya, aku menistanya. Kucibir mereka yang
terkapar kalah di hadapan seks yang mereka kejar," tutur Julia tanpa nada
berapi-api.
Jeda sejenak sebelum dia menyambung, "Tapi, adalah munafik jika kukatakan
tak pernah sekali pun menikmatinya. Seperti orang lain, aku pun punya
birahi. Dan tak bisa kubunuh angan untuk merasainya sepenuh-jiwa
sepenuh-tubuh bersama lelaki yang sanggup berdamai dengan keberadaanku."
"Seperti film Pretty Woman?" cetusku mencoba mengikis getir.
"Begitulah," timpalnya ringan. "Nyaris aku terbebas dari jerat kemenduaan
itu saat kujumpa Ronny."
Serta-merta tenggorokanku tercekat. Alis mata kananku terangkat. Ronny?
Anggukan Julia menjadi konfirmasi.
"Tapi aku tidak terlalu bodoh untuk memahami siapa diriku dan siapa Ronny.
Pretty Woman adalah senandung orang yang mampu bersegera selaraskan diri
seturut perkembangan keberadaan orang lain. Sedangkan kita masih selalu
memperhitungkan masa lalu sebagai ukuran martabat."
"Tapi, Ronny ..."
"Setidaknya, dia menyadarkanku bahwa kubangan pun ada tingkatannya," potong
Julia tertawa, "yang tidak mustahil ditembus di Jakarta ini."
Lidahku kelu. Meski kutahu Ronny jauh dari alim, tak pernah kuharap menyua
sosok fragmen masa lalunya.
"Tak usah dipusingkan. Aku saja tidak kenapa-napa, malah kamu yang loyo
seperti baru dilabrak debt collector," gurau Julia membuyarkan
kecamuk pikiranku.
"Aku jadi curiga kamu mendekatiku karena Ronny," gumamku murung.
Julia menampar pelan pipiku sambil mencibir. Bukan marah, sebab kulihat
senyum menari di matanya.
"Paranoid! Kamu kira aku anak kencur yang ingin pacarnya cemburu?"
"Lalu kenapa?"
"Sebab aku suka kamu," bisiknya tanpa menundukkan pandang.
Gubraaaak! Mungkin itulah seruan remaja zaman sekarang yang jitu
memerikan perasaanku. Melongo adalah satu-satunya ekspresi yang bisa
kutampilkan.
"Jangan pasang tampang bloon gitu, ah!" tegur Julia sambil
menggoyang-goyangkan daguku.
Aku masih belum bisa bereaksi.
"Terlarangkah bagiku untuk menyukaimu? Terlalu tinggikah kamu untuk
kusukai?" desaknya membelalak. Senyum masih menari di matanya.
Julia, aku hanyalah seorang lelaki periferal. Pengakuan seperti itu bukanlah
hal biasa buatku.
"Jika demikian, kenapa aku repot-repot ke sini?" elakku melepaskan diri dari
debar.
"Entah. Mungkin mengharap seks ...," sahutnya acuh tak acuh.
"Dasar otak kotor, mulut juga kotor!" geramku sambil menuding mulutnya.
"Memangnya tidak pernah terpikir? Ayo, ngaku!" ganti dia menuding pelipisku.
Telanjur masuk gelanggang, sekalian sajalah bertarung. "Sangkamu aku lelaki
buta tuna imajinasi?"
Julia menatap mataku seakan hendak menerobos ke dalam. Dengan lembut
diraihnya kepalaku mendekat ke arahnya. Sekilas bibirnya singgah di
pelipisku.
Di luar, gerimis turun malu-malu dalam lagu.
From: jdf83@...
Date: Friday, 1 August 2008 07:47
dear aldo,
aku baru tiba di negeri yang bekunya masih belum bisa kuakrabi. kutulis
email ini di café sambil menunggu kereta. secangkir cappuccino hangat dan
zippo tuamu mengawaniku. tapi aku masih sanggup bertahan tidak menyalakan
rokok.
sabtu sore itu, nyaris tak luput kutatapi pintu, berharap kamu segera tiba
walau kamu tak pernah janji. senyum pasti menari di mataku (begitu
istilahmu) saat hadirmu memupus 5 jam penantian paling meresahkan.
itulah kali terakhir pertemuan kita. kamu terkejut saat kukatakan bahwa
kamu satu-satunya orang yang kupamiti. memang tak ada siapa-siapa yang
bukan orang asing bagiku. tidak pak ishak, tidak ronny, atau siapa pun
yang bahkan pernah berbagi selimut denganku. hanya kamu, yang sebatas
berbagi rokok, waktu, dan kata. toh tak semua percintaan bermeterai
persebadanan, katamu.
diniary namaku. dari "dini hari".
aku percaya janji mentari yang selalu berjuang datang saat subuh
menjelang. kuingin hari tersulit yang kusongsong kini jadi fajar pemupus
pekat meski harus merangkak lambat.
dear aldo, keretaku sudah tiba. belum sepadan terimakasihku atas semua
perjumpaan kita yang membuatku tak putus berharap ada pagi di ujung lorong
dan semua akan baik-baik saja.
dengan cinta,
diniary
Malam kian meranum dewasa.
***
Aku tidak mengawani Ronny ke tempat boling. Batuk dan pilek menyerangku
membabi-buta. Bunyi komputer tanda datangnya email memaksaku turun dari
ranjang.
From: jdf83@...
Date: Saturday, 2 August 2008 04:23
dear aldo,
fajar baru saja bangkit menciumi embun di balik kaca jendela. satu malam
berlalu lagi, satu perjalanan pun usai sudah. namun untaian tualang sejati
temukan tempat dan makna, baru saja bermula, di hamparan lenan putih yang
menantiku melangkah.
aku percaya segala sesuatu mengalir. kini aku pun akan mengalir. ke atas,
melampaui lapis teratas kubangan. kuharap kota kecil yang namanya mungkin
belum pernah kamu dengar ini tak menuntut daya lompat sedahsyat jakarta.
setidaknya, tak ada yang mengukuriku lewat teropong masa lalu.
fitria namaku. dari "fitri".
kuingin lahir kembali seperti bayi yang tak berbeban dosa kala menyapa
dunia dengan ketelanjangan dan tangisan.
ya, aku telanjang saat ini, aldo. kumau memasuki dan dirasuki sejarah baru
dengan kepolosan paling hakiki. kuingin menyapamu seutuh diri tanpa
selubung, hanya berbatas udara yang dulu kerap kita gambari dengan asap.
aku juga menangis, aldo. bukan bersebabkan ketelanjangan-luka-memar
berlumur lumpur di hutan sagu ataupun ranjang masai berkeringat, melainkan
dari rasa paling purba yang telah kulabuhkan kekal di satu sabtu,
menyimpul tuntas geligi masa lalu yang dengannya aku telah berdamai.
dear aldo, dentang lonceng doa pagi memanggil. aku harus bergegas. maklum,
aku belum cukup mahir memasang tudung kepala 😉
dalam kasih,
fitria
ps. alamat ini akan kututup setelah email ini terkirim. tak usah kita
rindukan masa datang. biarlah semua mengalir.
Ada yang diam-diam menyelinap lolos dari pusat diriku. Rasa kehilangan yang
teramat sangat. Seorang perempuan bukan rumahan dan bukan sekolahan. Bukan
kriteria idamanku. Namun satu-satunya yang pernah menghelaku dari sisi
periferal menjadi orang pertama bahkan satu-satunya.
Adieu, Julia Diniary Fitria. Panta rhei.
Malam kian menyuruk renta. Hari esok mematri janji kisah berbeda.
[*] panta rhei (Gerika) = segala sesuatu ada dan berubah dalam aliran.
[**] novis = pelajar sekolah calon biarawati.
📌 Minggu, 03 Agustus 2008 04:01 🌐