Tak sekejap pun diangkatnya wajah untuk menatapku yang duduk tak sampai 1 meter di depannya meski beberapa kali kulambaikan tangan sebagai isyarat memohon perhatian. Matanya tanpa jeda tertuju pada layar laptop di hadapannya yang tampak sedemikian penting tinimbang keberadaanku.
Masih sanggup untuk kutahankan
Meski telah kau lumatkan hati ini
Kau sayat luka baru di atas luka lama
Coba bayangkan betapa sakitnya
Nyaris seperempat hari penuh aku terhenyak laksana pengidap kusta atau mungkin seonggok nista yang tak layak dipandang sebagai manusia. Perbincangan pendek-pendek yang terasa amat dipaksakan pun hanya meruapkan dalih keengganan menyimak, konon pula menjelaskan. Belum pernah sebelumnya dalam hidup kualami penihilan setelak ini. Hampa mutlak. Kehilangan segala.
Hanya Tuhanlah yang tahu pasti
Apa gerangan yang bakal terjadi lagi
Begitu buruk telah kau perlakukan aku
Ibu menangislah demi anakmu
Bertimbun kisah yang ingin kututurkan gamblang. Tentang ikhtiar dan kegagalan yang mendera belakangan ini, yang memantik anggapannya bahwa aku berubah. Tak diketahuinya liku petaka yang meluluh lantakkan sebentuk mimpi di mana dirinya tertahbis sebagai episentrum ruang benderang setelah kukibas ragam janji dan pesona yang kutengarai bisa menggerus arti hadirnya.
Sementara aku tengah bangganya
Mampu tetap setia meski banyak godaan
Begitu tulusnya kubuka tanganku
Langit mendung gelap malam untukku
Genap satu purnama aku dihempas ke nadir ngarai gulita. Tak kusua secercah pun petunjuk untuk memahami amarahnya bahwa aku tak lagi seperti yang dulu, yang tak pernah palingkan pandang darinya, sehingga dibulatkannya tekad hengkang membawa luka menganga tanpa menyisakan peluang bagiku mengurai kebuntuan yang dirangkainya.
Ternyata mengagungkan cinta
Harus ditebus dengan duka lara
Tetapi akan tetap kuhayati
Hikmah sakit hati ini
Telah sempurnakan kekejamanmu
Setiap kata yang kuutarakan senantiasa ditepis ujar menggentarkan, "Tidak perlu dibahas lagi!". Membuatku gagap bagai seorang pandir minim kosa kata. Serta-merta kusadari tak guna berupaya menata ulang ruang yang telanjur retak. Dan sejurus kemudian aku sudah tercenung di tepi jalan dengan terawang kosong.
Petir menyambar hujan pun turun
Di tengah jalan sempat aku merenung
Masih adakah cinta yang disebutkan cinta
Bila kasih sayang kehilangan makna
Kendati demikian, sebentuk rasaku padanya, yang kubopong cermat sejak tengah malam tadi, kukuh bergeming. Tak satu serpih pun kikis walau kini berlumur jelaga dan sayatan teramat perih. Kepasrahan menerima segala risiko telah bangkitkan keteguhan, "Akan kurawat ruang benderang di relung hatiku walau kini kosong tanpa dirinya bertahta di mahligainya." Entah satu masa nanti tatkala kearifan ataupun nestapa meraja secara paripurna.
Ternyata mengagungkan cinta
Harus ditebus dengan duka lara
Tetapi akan tetap kuhayati
Hikmah sakit hati ini
Telah sempurnakan kekejamanmu
Sekarang aku hanya ingin pulang ke titik perdana di mana dapat kuresapi segenap nada subtil perbincangan selewat tengah malam, tempat bayangnya melintasi kenang dalam hening setajam belati.
ilham dari lagu Seberkas Cinta yang Sirna — Ebiet G. Ade
Dahulu sempat populer suatu proses kreatif yang dinamai "musikalisasi puisi" dengan Ebiet G. Ade sebagai salah satu tokohnya. Di sini saya coba terapkan pembalikannya menjadi "prosaisasi lagu" ??
#aiglOnceUponATime
📌 Sabtu, 3 September 2022 21:58 🌐

Tidak ada komentar:
Posting Komentar