πŸ“Œ Jumat, 01 Mei 2026 🌐

Sebuah Hari Tanpa Alasan Mengeluh

Sebuah Hari Tanpa Alasan Mengeluh

Today is May, But Not A Mayday

[ 1 ]

Memandikan Baba

Memandikan Baba

Sudah hampir tengah hari. Saya lihat Baba, anjing kami, duduk di ruang tengah tak memakai rompi sebagaimana biasa.

"Kok gak pakai baju?"

"Mau dimandikan," sahut Riris.

"Sini, biar saya yang mandikan," kata saya sambil menggendong Baba ke kamar mandi sementara Riris menyiapkan shampoo dan handuk Baba.

Usai memandikan dan mengeringkan Baba, giliran saya mandi.

Awalnya saya berencana ikut acara pemilihan Ketua Umum Perkumpulan Gaja Toba Semesta (PGTS, sebuah wadah gerakan sosial para alumni ITB beragama Kristen yang keturunan Batak) yang diselenggarakan siang ini. Seusai acara, saya akan lanjut ke rumah Lisna[1], adik saya yang tinggal di Bogor, untuk mengantarkan barang pesanan yang kemarin sudah tiba dari toko daring (online).

Tetapi karena tak kunjung menerima kode untuk mengikuti pemilihan, saya pun batal datang ke lokasi acara.

Sehabis mandi, leyeh-leyeh sejenak sambil membaca pesan di WhatsApp.

Melihat saya masih berselonjor santai, Riris meminta saya membantunya membersihkan lemari es. Mumpung tak ada agenda mendesak, saya pun mengiyakan.

Usai mencuci rak-rak akrilik lemari es sehingga tampak bening kinclong, saya bereskan tas kecil yang akan dibawa dengan sedikit bergegas karena langit sudah mulai mendung dan guntur sesekali memproklamasikan kehadirannya setengah malu-malu.

[ 2 ]

Dengan ojek motor saya berangkat menuju stasiun Tebet. Warna kelabu masih menggantung di langit.

Tak lama menunggu, kereta jurusan Bogor tiba. Gerbong agak penuh tapi tak sampai berdesakan seperti sarden. Karena tak ada kursi kosong, saya pun berdiri tanpa mengeluh.

Tepat di depan saya berdiri sepasang lelaki dan perempuan, entah pasangan suami istri atau masih berpacaran. Si perempuan setengah bergantung melingkarkan kedua tangannya di leher sang lelaki. Sambil mereka mengobrol, kadang si lelaki mengusap wajah atau kening si perempuan. Mesra sekali.

Setengah perjalanan, hujan turun. Semakin lama semakin deras. Wah, gawat nih kalau hujan tak berhenti. Apalagi Bogor kan pelanggan setia hujan.

Stasiun Bogor

Stasiun Bogor

Benar saja. Sesampai di Stasiun Bogor, hujan turun dengan penuh semangat. Di beberapa lokasi tampak ember mulai penuh menampung air bocor dari atap. Kelihatannya sih bukan kebocoran baru tapi entah kenapa belum juga diperbaiki. Selain tak elok dipandang, juga berbahaya karena membuat lantai semakin licin. (Jangan pula ada yang komen, "Terminal 3 bandara internasional Soekarno - Hatta saja bocor." πŸ™ˆ)

Biasanya begitu keluar dari stasiun saya langsung naik jembatan penyeberangan orang (JPO) lalu berjalan sedikit hingga depan toko Eiger. Dari situ barulah memesan transportasi daring. Ternyata jembatan ditutup dengan pagar besi. Tampak permanen.

Menurut petugas di stasiun, orang harus menyeberang jalan raya menerobos kepadatan lalulintas. "Jembatan sudah lama rusak," tambahnya. Aneh sekali keputusan pemerintah yang mengelola Kota Bogor ini. Alih-alih memperbaiki jembatan yang sungguh diperlukan manusia, kok malah menutupnya πŸ˜•

Jadi repot juga menentukan titik jemput jika memesan transportasi daring. Selain akan membingungkan karena penumpang dan pengemudi harus saling mencari untuk menemukan satu sama lain, juga berpotensi menambah kemacetan lalulintas di derasnya hujan. Apalagi pintu keluar stasiun yang hanya satu-satunya itu langsung berhadapan dengan jalur angkot yang super padat dan macet. Makin ribet dah ...

[ 3 ]

Setelah bertanya pada pedagang di stasiun, saya sangat bersyukur karena angkot yang mangkal di pintu stasiun ternyata rutenya melewati Jalan Suryakencana yang dekat dengan rumah adik saya. Maka, dengan langkah cepat sejarak 3 meter saja saya pun sudah masuk angkot. Memang agak basah sedikit terguyur hujan.

Tak lama menunggu, seorang penumpang terakhir naik sehingga angkot pun berjalan.

Sepanjang perjalanan, saya merenung. Berulang kali saya selamat sampai tujuan tanpa kehujanan. Bahkan tadi malam pun saya beruntung hujan berhenti saat hendak pulang ke rumah. Lantas, haruskah mengeluh ketika kali ini mengalami kehujanan di tengah jalan? Ah, sungguh tak sepadan. Nikmati saja ...

[ 4 ]

Angkot tiba di mulut Gang Aut, Jalan Suryakencana. Saatnya turun.

Rasa lapar tiba-tiba muncul. Mungkin dingin akibat hujan membuatnya makin terasa. Maka saya masuk ke rumah makan Ngohiang yang dulu cukup sering saya mampiri karena menyediakan es pala (yang mengingatkan pada masa kecil ketika sering jajan es pala di depan pagar sekolah).

Ngohiang

Ngohiang

Usai menghabiskan seporsi ngohiang panas dan meneguk habis segelas es pala, saya ke kasir untuk bayar.

"Bisa pakai QRIS?" tanya saya.

"Hanya bisa cash," jawab kasir.

"Walah ... Apa kalian masih hidup di zaman batu? Pedagang ketoprak dengan kereta dorong saja sudah pakai QRIS," ujar saya setengah heran hampir mengeluh.

Bukannya tanpa alasan, melainkan saya sudah sangat jarang mengisi dompet agak banyak karena sudah kebiasaan bertransaksi secara daring. Semoga masih ada uang yang cukup untuk membayar makanan dan minuman yang telanjur disantap.

Beruntung masih ada beberapa lembar sepuluh ribuan yang jumlahnya pas dengan tagihan. Puji Tuhan! Kenangan indah masa kecil mengenai manisnya es pala tak berubah jadi tawar akibat keluhan πŸ™

Di luar hujan sudah mulai reda walau masih menyisakan gerimis.

[ 5 ]

Dengan berjalan kaki saya menuju rumah Lisna dan tiba di sana dalam beberapa menit. Lisna dan Patrick, anak sulungnya yang baru lulus SMA, menyambut. Peter, suami Lisna, sedang tak di rumah karena ada tugas ke luar kota.

Kami duduk di sofa ruang tamu. Setelah menyerahkan barang yang menjadi alasan saya ke Bogor, kami pun ngobrol ini-itu dengan hangat. Patrick membuatkan saya kopi pahit panas yang saya teguk dengan nikmat.

Kelihatannya hujan memang berefek luar biasa pada rasa lapar. Baru sekitar 1 jam ngobrol, perut sudah minta diisi lagi. Patrick pun memesan makanan secara daring untuk diantar ke rumah. Mereka sudah tahu bahwa kesukaan saya adalah mie goreng.

Tak lama kemudian lauk-pauk pesanan tiba. Tapi saya tunda sejenak proses alamiah penanggulangan lapar demi menunggu Clara, anak kedua sekaligus bungsu, yang sedang dalam perjalanan pulang dari kegiatan sekolah.

Makan malam di Bogor

Makan malam

Setelah Clara tiba, kami pun duduk bersama mengelilingi meja makan bundar.

Patrik mengisi piring Lisna dengan nasi serta lauk-pauk. Saya memperhatikan dengan sedikit haru. Adik saya yang sudah sangat minim daya penglihatannya memiliki ketergantungan dalam banyak hal pada orang-orang di sekitarnya.

Sungguh saya sangat bersyukur, sepanjang yang saya tahu dan lihat, tak pernah seorang pun anggota keluarga Lisna mengeluhkan kondisi yang mereka jalani ini selama sekian tahun. Kiranya kami semua dijauhkan dari dukacita seperti itu πŸ™

Kami pun makan dengan suka cita setelah doa yang dipimpin Clara. Usai makan, kembali ke ruang tengah untuk melanjutkan ngobrol sambil menuntaskan kopi.

[ 6 ]

Sekitar jam 20, artinya sudah sekitar 4 jam di sana, saya pun berpamitan. Hujan sudah berhenti, maka cukup aman untuk menggunakan jasa transportasi motor menuju stasiun.

Setiba di Stasiun Bogor, kereta sudah tersedia. Sekejap kemudian kereta pun melaju menuju Jakarta. Kali ini tak ada yang istimewa. Tampaknya semua orang sedang asyik ataupun terjebak dengan pikiran masing-masing.

Saya turun di Stasiun Tebet dan melanjutkan perjalanan ke rumah dengan ojek motor.

Sesampai di rumah, Baba sudah menanti di depan pintu. Bermain sebentar dengan Baba, lalu mandi.

Sambil mengaduk kopi, saya buka laptop untuk menuliskan kisah hari ini. Kisah tentang sebuah hari yang berhias beberapa aksen dinamis namun tanpa satu pun keluhan. Sungguh karunia yang teramat indah.

[1] Kisah tentang Lisna ada di Les MisΓ©rables #1 dan Les MisΓ©rables #2.

πŸ“Œ Jumat, 01 Mei 2026 22:26 🌐

πŸ“Œ Minggu, 19 April 2026 🌐

Kuntum Hening Abadi

Kuntum Hening Abadi

"Kamu di rumah?" langsung begitu suara pertama yang terdengar ketika panggilan ponsel kuterima. Sungguh tanpa basa-basi.

Dia satu-satunya orang yang kadang memanggil dengan sapaan "Abang", kadang dengan kata ganti orang kedua,"kamu". Sekena rasa hatinya saat itu. Bukan karena sedang tak suka.

"Iya," sahutku.

Hari masih pagi. Namun jalan di depan rumah sudah cukup bising dengan lalu-lalang orang yang hendak pergi bekerja, sekolah, ataupun mengurus persoalan masing-masing. Tukang cakwe di pinggir jalan pun masih belum tuntas membenahi tendanya.

"Bisa keluar sebentar?"

"Ada apa?"

"Ada yang mau saya berikan."

Aku pun beringsut bangkit dari sofa dan beranjak ke luar rumah.

Dia menanti di pinggir jalan sambil duduk di sadel sepedanya. Helm serta kacamata balap tentu saja melengkapi jersey dan celana pendek sport. Dan sebagaimana kebiasaannya, ransel selalu bertengger di punggung.

"Kapan balik?" tanyaku karena tahu dia kemarin pergi naik gunung bersama beberapa kawannya di grup pecinta alam.

"Tadi malam," sahutnya.

Tanpa banyak bicara dia ulurkan seikat kecil bunga terbungkus plastik berlilit pita keemasan.

"Edelweis," gumamku.

Dia tersenyum kecil memperlihatkan gigi gingsulnya.

"Saya petik kemarin sore. Teringat Abang."

Agak kikuk kuraih bunga itu sambil berharap orang lewat tak terusik dan mengernyitkan kening atas adegan kontraversi ini (harusnya pihak lelaki yang memberikan bunga).

"Kamu tahu makna bunga sederhana ini?" tanyaku.

"Apa saya sebodoh itu menurut Abang?"

Aku hanya meringis. Sudah pasti dia tak bodoh untuk paham arti simbolis bunga Edelweis. Sehingga, pastinya dia juga tak bodoh memaknai pemberian ini padaku.

Berlangsung sepagi ini, di kesempatan pertama yang bisa dia lakukan. Tentu sesuatu yang sangat berarti. Bukan ketergesaan melainkan gejolak rasa yang tak sanggup dihalau.

"Ada lagi," katanya.

Dia membuka kantung luar ranselnya dan mengeluarkan sebentuk gelang anyaman benang 3 warna.

"Ini tak sengaja ketemu waktu kemarin membereskan laci. Saya buat sudah lama sekali, saat mengisi hari dan hati yang kosong. Waktu itu tak terpikir untuk siapa. Kini saya tahu kenapa dulu membuatnya," katanya sambil melonggarkan simpul gelang itu.

Kuulurkan lengan dan dia pasangkan di pergelangan tangan kananku.

"Rasanya seperti dilamar," gurauku menggoda.

"Kenapa? Gak suka?"

Ketus seperti biasa dan saya tak pernah punya hasrat untuk tersinggung padanya.

"Andai ..." gumamku lirih sambil berlindung di balik kamuflase seringai lebar.

"Ya ..." sambungnya sepaham.

Aku memandangi wajahnya. Mencoba menembus tabir jiwa melalui bola matanya. Dalam hening yang amat rapuh. Begitu pun dia. Tanpa sentuhan. Sepenuhnya hanya diam saling pandang.

Sampai akhirnya dia sunggingkan senyum khasnya. Tak ada perih dan sesal.

"Saya jalan dulu ya," pamitnya.

Aku mengangguk kecil. Berat. Terasa sangat tak berdaya. Sekejap bisa kurasakan betapa dingin serpih keabadian yang tak pernah sanggup mewujud menembus dinding mimpi.

Hingga beberapa jenak aku masih berdiri tepekur di pinggir jalan. Nyaris tak berkedip memandangi dia mengayuh sepedanya dengan pelan, semakin jauh, hingga akhirnya hilang di kelokan jalan. Seperti perpisahan tanpa lambaian.

Orang kian banyak berlalu-lalang di sekitarku. Namun tak kudengar suara. Sunyi sempurna.

πŸ“Œ Minggu, 19 April 2026 00:55 🌐 Bandung

πŸ“Œ Minggu, 12 April 2026 🌐

Senjakala Cahaya Bening

Senjakala Cahaya Bening

— Jejak Kehadiranmu

Senjakala Cahaya Bening

Senjakala Cahaya Bening

Kami duduk bersisian menghadap ke jalan lengang tanpa saling pandang. Satu dua orang lewat terpaut jeda waktu lumayan panjang.

Kurasa sudah kelewat lama keheningan membelenggu. Hingga akhirnya mulutku tak tahan mendesiskan bisikan pelan, nyaris seperti keluhan yang sangat berhati-hati.

"Kamu berubah."

Dia diam.

Aku menyambung, "Tanpa penjelasan, kamu abaikan semua pesan saya di WhatsApp. Seperti ada yang kamu hindari. Berhari, minggu, hingga bulan. Ghosting."

Masih diam. Sekarang wajahnya sedikit menunduk menatap ujung sepatunya.

"Ada kesalahan saya? Kalaupun ada, kan kamu bisa tegur langsung seperti yang sudah-sudah. Dan kamu tahu banget, tak sekali pun saya pernah mempersoalkan protes bahkan marahmu."

Tetap diam.

Kunyalakan sebatang rokok kretek dan membiarkannya membara di antara jari telunjuk dan tengah tanpa dihisap. Menunggu dia bicara. Terbakar hingga setengahnya secara percuma.

Bergeming. Tak jua ada reaksi.

Rerumputan tempat kami duduk terasa kian dingin. Senja pun seperti enggan mengalirkan angin. Terasa agak menyesakkan.

Dan keheningan ini sangatlah menyebalkan.

"Berkali-kali kita janji ketemu hanya untuk makan siang di berbagai tempat yang menurutmu layak didatangi. Kemudian ngopi sepanjang sore dengan perbincangan yang kadang tak berbobot namun kerap juga menuntut perenungan mendalam hingga kita berdebat. Lalu kita berpisah kala matahari kian redam dalam kelam, saat saya antar kamu ke mobil atau stasiun kereta atau suamimu menjemput."

Tak sabar, aku lanjutkan.

"Kamu tentu masih ingat, pernah kita habiskan hari sejak pagi sekali di rumah kacamu. Lantas kita genapi sore di kawasan suaka Selatan kota. Hari terbaik kita, menurut saya."

Kuhisap dalam-dalam rokok yang terbakar percuma itu lalu memadamkan puntungnya di tanah.

"Saat itu tabir kabut yang turun membaur dengan ruap kopi panas di cangkir yang kita genggam erat karena udara teramat dingin. Dan saya bertanya, 'Sampai kapan kita bisa terus seperti ini?'. Kamu jawab, 'Selama Abang tak membawaku paksa ke tempat yang tak kuinginkan'."

Perempuan yang biasanya energik bertabur aura suka cita itu kini hanya tepekur di sampingku dengan pandangan lurus menatap ujung sepatu putihnya.

"Saya tidak pernah memperlakukan kamu tak senonoh. Menyentuhmu pun sebatas wajarnya antarsahabat. Paling banter menggandeng, cium pipi saat jumpa dan berpisah," sambungku dengan canda mencoba menyibak kekakuan.

Ujung bibirnya sedikit tertarik antara senyum dan perih.

"Bicaralah," kataku memohon agar dia tak membatalkan niatnya.

Lalu mulutnya mendesirkan kalimat singkat yang sangat pelan, nyaris seperti kepedihan yang amat rentan.

"Abang tak sayang aku."

"Kok gitu?" tanyaku kaget.

"Setelah sekian lama ..."

Jeda sejenak.

Lalu dia lanjutkan dengan desir yang tetap pelan.

"... Abang tak pernah menciumku."

Sontak kepedihan itu melompat pindah ke ulu hatiku.

Kelu.

πŸ“Œ Minggu, 12 April 2026 23:03 🌐 Melak

πŸ“Œ Kamis, 29 Januari 2026 🌐

Nevermore

<i>Nevermore</i>

— Mahakarya yang Diabaikan

Battle of The Bands: UI vs ITB

Banyak yang bisa menyebutkan lagu-lagu karya Queen, grup band asal Inggris, yang populer seantero jagat. Sebut saja "Bohemian Rhapsody" yang masuk jajaran lagu legendaris sepanjang masa. Juga "Love of My Life", "We are The Champions", "I Want to Break Free", "Crazy Little Thing Called Love", dan sederet lainnya.

Namun, menurut dugaan saya, hanya segelintir yang mengenal lagu "Nevermore" (dari album Queen II, 1974) yang rilis pada masa Freddie Mercury masih asyik dengan lirik bertema dongeng (fairy tales) dibalut kekhasan operatik penuh harmoni.

Di sisi lain, tak sedikit penggemar yang menobatkan lagu ini sebagai mahakarya terbaik yang indah dan intim, mewakili momen kejeniusan yang sempurna dengan arsitektur yang kompleks, berlapis, dan artistik. Hanya saja, lagu ini kerap menjadi permata tersembunyi yang terabaikan (underrated). Bisa jadi karena durasinya yang sangat singkat.

Saya jadi penasaran, apakah band ITB ataupun UI berkenan menyisipkan 79 detik waktu mereka untuk membawakan lagu ini dalam Battle of The Bands pada tanggal 30 Januari 2026 esok di Balai Sarbini.

Sungguh bikin penasaran 😎

There's no living in my life anymore
The seas have gone dry
And the rain stopped falling

Please don't you cry anymore
[ Aah ...]
Can't you see?
Listen to the breeze
Whisper to me, please
Don't send me to the path of Nevermore

Even the valleys below
Where the rays of the sun
Were so warm and tender

Now haven't anything to grow
[ Aah ...]
Can't you see?
Why did you have to leave me?
[ Nevermore, Nevermore]
Why did you deceive me?
[ Nevermore, Nevermore]
Send me to the path of Nevermore
[ Aah ...]
When you say you didn't love me anymore
[ Aah ...]
[ Aah ...]

Nevermore
Nevermore

πŸ“Œ Kamis, 29 Januari 2026 09:52 WITA 🌐 Morowali