catatan-catatan kecil di sini tidak lebih dari percik pemikiran yang sempat tertuang ke dalam bentuk tulisan. kalaupun isinya tidak tertata baik ataupun tidak berkenan pada anda, demikianlah adanya kenyataan diri saya pada saat itu. setidak-tidaknya, ini semua adalah sebagian ungkapan kejujuran yang saya ingin berbagi dengan anda.
Kata ini sering dianggap sebagai mantera ajaib yang bisa menyelesaikan
berbagai hal terkait sebuah tim. Bahkan sering dianggap given sebagai
sesuatu yang otomatis terbentuk dengan adanya anggota, jabatan, tugas, juga
target.
"Tak semudah itu, Jose!"
Bekerjanya sebuah tim mencapai target tak bisa dilepaskan dari kerja internal
yang disebut team building yang justru merupakan tugas pertama
yang wajib dilakukan sebelum kerja-kerja lain bisa berlangsung.
Sesuai namanya, building, artinya proses membangun dan membentuk secara
tanpa henti selama orang-orang dalam tim masih memiliki hasrat untuk hidup,
tumbuh, dan berkembang bersama.
Sayangnya, semua itu mustahil dicapai semudah membalik telapak tangan. Bahkan
sebuah tim super bertabur bintang yang dianggap mampu mengatasi berbagai
tantangan pun bisa berantakan dalam semalam hanya karena masalah sepele.
Lalu apa syarat agar sebuah tim bisa tetap eksis bahkan sukses? BANYAK!
Dari banyak syarat tersebut, izinkan saya berbagi cerita yang saya alami dalam
pelatihan Leadership Series: Teamwork yang diselenggarakan oleh Komite
Global Leadership Team (GLT) Lions Indonesia Distrik 307-A1 pada tanggal 19
September 2026.
Dari sekian belas peserta dan panitia yang hadir dalam acara tadi, tak lebih
dari 4 orang yang saya kenal. Sisanya, orang yang asing bagi saya. Situasi ini
tentu saja membuat kikuk saya yang pada dasarnya pemalu dan pendiam 🙈
Walau demikian, saya mencoba untuk sepenuhnya mengikuti sesi yang
dilangsungkan, yang hampir semuanya dalam bentuk permainan. Mau tidak mau,
saya harus berinteraksi dengan sesama peserta.
Permainan-permainan yang berlangsung membangun interaksi yang kian
akrab. Saya yang semula merasa kikuk dalam suatu kumpulan yang asing akhirnya
merasa kian nyaman.
Satu yang berkesan adalah permainan mendiktekan gambar. Dua orang duduk saling
membelakangi, yang satu memegang sebuah gambar lalu memberi arahan secara
lisan kepada rekan di belakangnya untuk membuat gambar serupa tanpa boleh
bertanya. Sudah dapat dibayangkan hasilnya tentu tidak akan persis sama,
bahkan bisa meleset jauh 😁
Mengapa? Karena sebuah instruksi tidak mungkin memberikan pencapaian sempurna
jika pemberi instruksi hanya memeriksa hasil akhirnya. Sebuah
proses memerlukan keterlibatan dan kerja sama yang terus
menerus dibarengi komunikasi dua arah yang jelas.
Di atas semua itu, sebuah hasil dari upaya bersama patutlah
dihargai bahkan dirayakan sehingga usaha terbaik yang sudah
dilakukan oleh semua orang tidak menjadi kesia-siaan ataupun kekecewaan.
Itulah yang disampaikan oleh rekan saya ketika kami membandingkan hasilnya.
"Wah, 90% sama!" komentarnya. Tentu saja saya pun bersuka cita karena merasa
kami sudah bisa berinteraksi dengan baik untuk menyukseskan sebuah misi tim
walau sama-sama baru kenal.
"Tak bisakah Abang tidak mengritik saya?" tanyanya.
Sangat tak kusangka mendapat respon seketus itu. Padahal tak sedikit pun niat
menggugat keputusan yang diambilnya. Kalaupun pandanganku cukup sering berbeda
dengan jalan pikirannya, tak lain dari upaya mengajaknya lebih realistis
menyikapi situasi yang berlangsung.
Dia baru saja mengakhiri kebersamaan rumah tangganya tanpa pegangan memadai,
konon pula jaminan untuk hari-hari mendatang. Sementara dia tak punya
penghasilan pribadi yang ajeg selama sekian tahun terakhir.
Di satu sisi, ada sedikit suka cita menampak eforia seorang pejuang yang
berhasil mematahkan belenggu tua. Namun di sisi lain, dia ibarat seekor burung
kecil yang ingin pulang saat senja namun sarangnya telah musnah bersama
hangusnya hutan. Ketegangan antara keduanya acap membuatku gamang.
Segalanya harus mulai dari nol, yang diakuinya merupakan kegentaran tersendiri
yang sering muncul sebagai hantu penyemai kesangsian atas keputusan yang sudah
telanjur diambil.
"Bisakah saya mengejar mereka yang sudah melangkah jauh selama saya terjebak
belasan tahun dalam kerangkeng kenihilan?" untuk kesekian kali dia ungkap
keraguan berbalut kepedihan, mengingat di masa lalu justru dia yang biasanya
terdepan dalam berbagai hal dibanding kawan-kawannya.
"Kamu pernah bikin acara besar dan heboh yang idenya mendadak muncul,
sedangkan waktunya tinggal beberapa hari. Dengan kemampuan meyakinkan
kawan-kawan yang setia dibarengi ketekunan kamu dalam komitmen, nyatanya
berhasil," kucoba menggiring ingatannya dengan mencuplik satu peristiwa dari
untaian panjang kisah masa lalu yang pernah dia ceritakan. Sengaja kuambil
episode yang berbeda dari yang sudah pernah kugunakan agar dia tidak membantah
dengan alasan yang sama 😜
"Itu kan dulu waktu masih mahasiswa, gak ada beban kalaupun gagal. Sekarang
adalah soal kehidupan nyata yang entah tersisa berapa lama lagi, yang saya tak
mau membingkainya dengan kegagalan kesekian kali." Ternyata dia masih punya
amunisi perlawanan.
"Kamu belum kehilangan sentuhan ajaib kamu," putusku.
"Ah, Abang sok tahu," rajuknya.
Aku hanya bisa meringis agak kecut mencoba menepis keraguanku sendiri.
"Belasan tahun kamu mampu bertahan dalam kenyataan yang amat bertolak belakang
dengan mimpi maupun kemampuan kamu," balasku setengah menohok sikap tak
berdayanya demi mengusik egonya.
"Maksudnya?"
"Kamu bisa menabahkan diri menggenggam harapan walau kepastian hadirnya berkas
cahaya nyaris nol andai tetap tinggal dalam terowongan. Kamu berhasil menjaga
api jiwa kamu tetap bernyala."
"Mungkin karena saya bodoh dan hanya berilusi," keluhnya. Gaya merendahkan
diri yang sering kubilang menyebalkan.
"Itu adalah masa yang tak semua orang mampu melaluinya dengan istimewa," kali
ini aku mencoba bersikap lunak.
Sekian lama dia tak punya penjelasan mengapa bisa terhanyut untuk menekan
harga diri hingga ke titik nadir. Entah demi apa. Seperti tersihir. Tak pernah
mencoba mencari alasan meninggalkan jalan yang sudah dipilih, yang kemudian
dia sadari tak membanggakan apalagi membahagiakan.
"Abang membuat saya berani mengakhiri ilusi itu meski tak ada kepastian apapun
setelah keputusan itu. Malah saya gak punya apa-apa."
Semua memang berlangsung cepat. Sikap pasrah bermetamorfosis menjadi tekad
yang kian membesar secara eksponensial hanya beberapa bulan sejak kami saling
kenal. Padahal yang kulakukan selama itu tak lebih dari mereproduksi album
masa mudanya yang penuh warna dengan memberikan catatan kaki perihal
potensinya yang masih relevan untuk masa kini tatkala usia tak lagi muda.
"Keberanian ini yang dulu membuat kamu menorehkan kemenangan dan kenangan.
Saya percaya keberanian ini masih menyertai kamu untuk membangun kisah baru."
"Mungkin keberanian konyol," gumamnya datar.
Aku hanya mengangkat sebelah alis, enggan menyimpulkan apa-apa.
"Menurut Abang saya bisa melalui semua ini?" keraguannya membuncah lagi namun
sekaligus menjadi isyarat adanya upaya meraih pegangan lebih kokoh.
"Hanya jika kamu komit pada semua janji kamu."
"Kalau Abang percaya, cobalah untuk tidak mengritik apa yang saya lakukan,"
tembaknya ulang.
"Saya hanya berpikir yang terbaik bagi kamu," sahutku setelah diam beberapa
saat.
"Tapi kan saya yang menjalaninya, bukan Abang."
"Saya khawatir."
"Soal apa?"
"Kamu sendirian."
"Saya tahu. Dan itu memang menakutkan. Tapi biarkan saya menikmati hari-hari
berdasarkan keputusan saya, baik senang maupun susah, setelah sekian lama
bahkan tak punya hak atas kata-kata saya sendiri."
Sudah agak lama kusadari bahwa pertemanan kami merupakan kesempatan baginya
memacu proses kembalinya kepercayaan diri untuk bersikap setelah sekian lama
terbiasa menempatkan diri sebagai alas kaki yang selalu salah dalam setiap
persoalan. Kini dia sedang membiasakan diri menata argumen dan rasionalitas
perlawanannya sendiri dengan aku sebagai mitra latih.
Aku pun tersenyum. Pantaslah sikapnya amat kontras dengan sebelumnya.
Kuharap apapun yang terjadi nanti adalah konsekuensi terukur yang akan
memandunya ke kedewasaan, menggantikan tahun-tahun gelap yang demikian ganas
mengikis kemandiriannya. Semoga hakikat diri yang pernah hadir di masa mudanya
segera terbangkitkan untuk sigap mengenali tanda-tanda hari sehingga kesalahan
sekalipun tak mudah menyurukkan ke sudut fatal.
"Berjanjilah," pintaku pelan.
"Janji apa?"
"Ketika keraguan bahkan penyesalan mulai mengusik, ingatlah bahwa saya selalu
bersamamu meski pada saat kita tak bersama."
Matanya memandangku. Lapis bening perlahan mulai menggenang.
"Bermurahhatilah sejenak pada saya, Bang," bisiknya.
Aku pun maklum bahwa janji itu tak perlu diucapkan.
Usai sudah perhelatan akbar
Perkumpulan Lions Indonesia Distrik 307 (Indonesia) bertajuk
Konvensi Tahunan Ke-50 yang diselenggarakan di Kota Bandung dan
sekaligus dipadukan dengan Konvensi Tahunan Ke-15 Distrik 307-A1.
Semua peserta sudah kembali ke tempat masing-masing dengan membawa pesan,
kesan, kenangan, dan nilai yang semakin melebarkan perspektifnya mengenai
Perkumpulan Lions secara luas hingga peran personalnya dalam kelompok
terkecil, yakni club.
Dari rentetan kegiatan yang cukup padat sejak pagi sampai malam selama tanggal
7 hingga 10 Mei 2026, ada 2 mata acara yang --menurut pendapat dan minat
saya-- sangat krusial bagi organisasi, yakni :
Mosi untuk perubahan beberapa bagian dari AD/ART, dan
Pemilihan pucuk pimpinan Distrik 307; yakni District Governor (DG), First
Vice District Governor (FVDG), dan Second Vice District Governor (SVDG).
Yang pertama merupakan panduan dan koridor penyelenggaraan organisasi,
sedangkan yang kedua adalah tim pimpinan tertinggi yang akan memandu arah
organisasi agar bertumbuh-kembang dalam koridor tadi.
Untuk urusan AD/ART, nanti sajalah bahasannya. Tak banyak yang tertarik urusan
detail dan njlimet begini 😁 Saat ini saya ingin cerita soal pemilihan
SVDG yang kebetulan diikuti oleh 2 orang kandidat.
Let's start ...
Pengetahuan saya amatlah minim terkait siapa dan apa rencana para kandidat
bagi organisasi. Saya hanya berkesempatan mengikuti kampanye secara tak
langsung melalui WhatsApp Group. Adapun informasi tambahan, apalagi yang
behind the scene, saya peroleh dari Presiden saya di Starlight
(maklumlah, namanya juga orang baru, jadi masih culun 😁).
Kartu Delegasi berwarna merah sudah saya pegang, sehingga saya punya kewajiban
moral untuk memilih alias TIDAK GOLPUT!.
Kok gitu? Gimana penjelasannya?
Menurut kacamata saya, Lions memiliki mekanisme penjaringan dan penyaringan
yang harusnya sih tidak perlu dipertanyakan lagi mutunya. Reputasi dan
kompetensi para kandidat telah teruji serta terpuji di bidang
masing-masing dalam kurun waktu memadai sehingga dianggap layak untuk jabatan
tersebut. Intinya, mereka semua adalah yang terbaik dalam berbagai aspek
organisasi menurut versi Lions.
Maka tidaklah mudah bagi saya membandingkan kiprah keduanya secara matematis
(not apple to apple). Di sisi lain, kekuatan masing-masing kandidat
--sekali lagi menurut pendapat saya-- amat dibutuhkan oleh organisasi dalam
memacu kemajuan dan perkembangan.
Jadi, terus terang, saya masih belum menentukan pilihan final hingga saat-saat
terakhir. (Sampai diomelin Presiden saya. Hapunten, Pres 🙏)
Masalahnya, saya harus memilih siapa?
Paparan oleh Sekondan mengenai kandidat yang didukungnya serta pidato para
Kandidat menjelang saat pencoblosan adalah kesempatan terakhir bagi
mereka maupun pemegang suara untuk memantapkan pilihan.
Sudah dapat diduga bahwa 3 menit paparan Sekondan maupun pidato para kandidat
selama 5 menit cenderung normatif mengenai pribadi, potensi, kinerja,
prestasi, dedikasi, dan bla bla bla lainnya. Kendati demikian, saya yakin
pasti ada yang unik di sela template pidato. Itu yang saya cari!
Maka saya menyimak dan mencatat dengan penuh perhatian apa yang mereka
sampaikan (hingga dicolek kawan semeja yang melihat saya orat-oret di
buku catatan 😁). Apa boleh buat, saya mengemban 1 suara mewakili Club
Starlight yang harus saya pertanggungjawabkan secara moral dan rasional.
Saya berdehem kecil ketika seorang kandidat menegaskan prinsip bahwa yang
lebih penting baginya "bukanlah siapa saya, melainkan untuk apa saya".
Walau belum cukup jelas bagaimana detail implementasinya, kelihatannya Sang
Kandidat lebih berfokus pada peran dan proses fungsional ke masa depan
tinimbang terjebak eforia pencapaian yang sudah menjadi masa lalu.
Kemudian Sang Kandidat memproklamasikan komitmennya untuk bekerjasama dan
mendukung DG terpilih (halmana merupakan komitmen semua kandidat, termasuk
FVDG). Namun tidak berhenti sampai di situ. Sang Kandidat mengimbuhi
pernyataan tersebut dengan frasa tegas "akan loyal dalam berbagai situasi".
Di sini saya berdehem untuk yang keduakali.
Memilih pimpinan tertinggi yang tak sepaket dengan wakilnya (dipilih
sendiri-sendiri) mengandung konsekuensi yang cukup riskan. Masing-masing
berangkat dengan visi dan rencana aksi sendiri, masing-masing punya basis
massa pendukung. Perlu sinkronisasi dan harmonisasi yang tak semudah
omon-omon. Jika mereka gagal sejalan, runyamlah urusan organisasi di
masa depan. (IMHO, harusnya sih urusan kayak gini gak mungkin terjadi
di Lions lantaran bukan ormas politik ataupun bisnis.)
Saya tidak akan berpanjang-lebar lagi membahas kemungkinan ini-itu dengan
mengkhayalkan bakal begini-begitu di masa depan. Kedua deheman tadi sudah
cukup menjadi petunjuk bagi saya untuk mencoblos siapa pada kartu suara
berwarna biru.
Mengapa demikian?
Simpel aja sih. Karena saya ingin kepemimpinan DG terpilih, Solida Adby
Ramly, di periode 2026 - 2027 sukses gemilang dan membanggakan. Menjadi pelari
terakhir dalam estafet Mission 1.5* bukanlah peran ringan,
sehingga butuh tim solid yang sehati dan sepemahaman dalam satu derap tanpa
terdistrak berbagai hambatan apalagi friksi berbasis ego.
Demikianlah.
* 1.5 mission adalah target tercapainya jumlah anggota Lions sebanyak
1,5 juta orang di seluruh dunia pada tahun 2027.
Apakah kisah sudah selesai seiring usainya pemilihan? Ternyata belum,
sodara-sodara ... 😁
Sudah hampir tengah hari. Saya lihat Baba, anjing kami, duduk di ruang tengah
tak memakai rompi sebagaimana biasa.
"Kok gak pakai baju?"
"Mau dimandikan," sahut Riris.
"Sini, biar saya yang mandikan," kata saya sambil menggendong Baba ke kamar
mandi sementara Riris menyiapkan shampoo dan handuk Baba.
Usai memandikan dan mengeringkan Baba, giliran saya mandi.
Awalnya saya berencana ikut acara pemilihan Ketua Umum
Perkumpulan Gaja Toba Semesta
(PGTS, sebuah wadah gerakan sosial para alumni ITB beragama Kristen yang
keturunan Batak) yang diselenggarakan siang ini. Seusai acara, saya akan
lanjut ke rumah Lisna[1], adik saya yang tinggal di Bogor, untuk
mengantarkan barang pesanan yang kemarin sudah tiba dari toko daring
(online).
Tetapi karena tak kunjung menerima kode untuk mengikuti pemilihan, saya pun
batal datang ke lokasi acara.
Sehabis mandi, leyeh-leyeh sejenak sambil membaca pesan di WhatsApp.
Melihat saya masih berselonjor santai, Riris meminta saya membantunya
membersihkan lemari es. Mumpung tak ada agenda mendesak, saya pun mengiyakan.
Usai mencuci rak-rak akrilik lemari es sehingga tampak bening
kinclong, saya bereskan tas kecil yang akan dibawa dengan sedikit
bergegas karena langit sudah mulai mendung dan guntur sesekali
memproklamasikan kehadirannya setengah malu-malu.
[ 2 ]
Dengan ojek motor saya berangkat menuju stasiun Tebet. Warna kelabu masih
menggantung di langit.
Tak lama menunggu, kereta jurusan Bogor tiba. Gerbong agak penuh tapi tak
sampai berdesakan seperti sarden. Karena tak ada kursi kosong, saya pun
berdiri tanpa mengeluh.
Tepat di depan saya berdiri sepasang lelaki dan perempuan, entah pasangan
suami istri atau masih berpacaran. Si perempuan setengah bergantung
melingkarkan kedua tangannya di leher sang lelaki. Sambil mereka mengobrol,
kadang si lelaki mengusap wajah atau kening si perempuan. Mesra sekali.
Setengah perjalanan, hujan turun. Semakin lama semakin deras. Wah, gawat nih
kalau hujan tak berhenti. Apalagi Bogor kan pelanggan setia hujan.
Stasiun Bogor
Benar saja. Sesampai di Stasiun Bogor, hujan turun dengan penuh semangat. Di
beberapa lokasi tampak ember mulai penuh menampung air bocor dari atap.
Kelihatannya sih bukan kebocoran baru tapi entah kenapa belum juga diperbaiki.
Selain tak elok dipandang, juga berbahaya karena membuat lantai semakin licin.
(Jangan pula ada yang komen, "Terminal 3 bandara internasional Soekarno -
Hatta saja bocor." 🙈)
Biasanya begitu keluar dari stasiun saya langsung naik jembatan penyeberangan
orang (JPO) lalu berjalan sedikit hingga depan toko Eiger. Dari situ barulah
memesan transportasi daring. Ternyata jembatan ditutup dengan pagar besi.
Tampak permanen.
Menurut petugas di stasiun, orang harus menyeberang jalan raya menerobos
kepadatan lalulintas. "Jembatan sudah lama rusak," tambahnya. Aneh sekali
keputusan pemerintah yang mengelola Kota Bogor ini. Alih-alih memperbaiki
jembatan yang sungguh diperlukan manusia, kok malah menutupnya 😕
Jadi repot juga menentukan titik jemput jika memesan transportasi daring.
Selain akan membingungkan karena penumpang dan pengemudi harus saling mencari
untuk menemukan satu sama lain, juga berpotensi menambah kemacetan lalulintas
di derasnya hujan. Apalagi pintu keluar stasiun yang hanya satu-satunya itu
langsung berhadapan dengan jalur angkot yang super padat dan macet.
Makin ribet dah ...
[ 3 ]
Setelah bertanya pada pedagang di stasiun, saya sangat bersyukur karena
angkot yang mangkal di pintu stasiun ternyata rutenya melewati Jalan
Suryakencana yang dekat dengan rumah adik saya. Maka, dengan langkah cepat
sejarak 3 meter saja saya pun sudah masuk angkot. Memang agak basah sedikit
terguyur hujan.
Tak lama menunggu, seorang penumpang terakhir naik sehingga angkot pun
berjalan.
Sepanjang perjalanan, saya merenung. Berulang kali saya selamat sampai
tujuan tanpa kehujanan. Bahkan tadi malam pun saya beruntung hujan berhenti
saat hendak pulang ke rumah. Lantas, haruskah mengeluh ketika kali ini
mengalami kehujanan di tengah jalan? Ah, sungguh tak sepadan. Nikmati saja
...
[ 4 ]
Angkot tiba di mulut Gang Aut, Jalan Suryakencana. Saatnya turun.
Rasa lapar tiba-tiba muncul. Mungkin dingin akibat hujan membuatnya makin
terasa. Maka saya masuk ke rumah makan
Ngohiang
yang dulu cukup sering saya mampiri karena menyediakan es pala (yang
mengingatkan pada masa kecil ketika sering jajan es pala di depan pagar
sekolah).
Ngohiang
Usai menghabiskan seporsi ngohiang panas dan meneguk habis segelas es
pala, saya ke kasir untuk bayar.
"Bisa pakai QRIS?" tanya saya.
"Hanya bisa cash," jawab kasir.
"Walah ... Apa kalian masih hidup di zaman batu? Pedagang ketoprak dengan
kereta dorong saja sudah pakai QRIS," ujar saya setengah heran hampir
mengeluh.
Bukannya tanpa alasan, melainkan saya sudah sangat jarang mengisi dompet
agak banyak karena sudah kebiasaan bertransaksi secara daring. Semoga masih
ada uang yang cukup untuk membayar makanan dan minuman yang telanjur
disantap.
Beruntung masih ada beberapa lembar sepuluh ribuan yang jumlahnya pas dengan
tagihan. Puji Tuhan! Kenangan indah masa kecil mengenai manisnya es pala tak
berubah jadi tawar akibat keluhan 🙏
Di luar hujan sudah mulai reda walau masih menyisakan gerimis.
[ 5 ]
Dengan berjalan kaki saya menuju rumah Lisna dan tiba di sana dalam beberapa
menit. Lisna dan Patrick, anak sulungnya yang baru lulus SMA, menyambut.
Peter, suami Lisna, sedang tak di rumah karena ada tugas ke luar kota.
Kami duduk di sofa ruang tamu. Setelah menyerahkan barang yang menjadi
alasan saya ke Bogor, kami pun ngobrol ini-itu dengan hangat. Patrick
membuatkan saya kopi pahit panas yang saya teguk dengan nikmat.
Kelihatannya hujan memang berefek luar biasa pada rasa lapar. Baru sekitar 1
jam ngobrol, perut sudah minta diisi lagi. Patrick pun memesan makanan
secara daring untuk diantar ke rumah. Mereka sudah tahu bahwa kesukaan saya
adalah mie goreng.
Tak lama kemudian lauk-pauk pesanan tiba. Tapi saya tunda sejenak proses
alamiah penanggulangan lapar demi menunggu Clara, anak kedua sekaligus
bungsu, yang sedang dalam perjalanan pulang dari kegiatan sekolah.
Makan malam
Setelah Clara tiba, kami pun duduk bersama mengelilingi meja makan bundar.
Patrik mengisi piring Lisna dengan nasi serta lauk-pauk. Saya memperhatikan
dengan sedikit haru. Adik saya yang sudah sangat minim daya penglihatannya
memiliki ketergantungan dalam banyak hal pada orang-orang di sekitarnya.
Sungguh saya sangat bersyukur, sepanjang yang saya tahu dan lihat, tak
pernah seorang pun anggota keluarga Lisna mengeluhkan kondisi yang mereka
jalani ini selama sekian tahun. Kiranya kami semua dijauhkan dari dukacita
seperti itu 🙏
Kami pun makan dengan suka cita setelah doa yang dipimpin Clara. Usai makan,
kembali ke ruang tengah untuk melanjutkan ngobrol sambil menuntaskan kopi.
[ 6 ]
Sekitar jam 20, artinya sudah sekitar 4 jam di sana, saya pun berpamitan.
Hujan sudah berhenti, maka cukup aman untuk menggunakan jasa transportasi
motor menuju stasiun.
Setiba di Stasiun Bogor, kereta sudah tersedia. Sekejap kemudian kereta pun
melaju menuju Jakarta. Kali ini tak ada yang istimewa. Tampaknya semua orang
sedang asyik ataupun terjebak dengan pikiran masing-masing.
Saya turun di Stasiun Tebet dan melanjutkan perjalanan ke rumah dengan ojek
motor.
Sesampai di rumah, Baba sudah menanti di depan pintu. Bermain sebentar
dengan Baba, lalu mandi.
Sambil mengaduk kopi, saya buka laptop untuk menuliskan kisah hari ini.
Kisah tentang sebuah hari yang berhias beberapa aksen dinamis namun tanpa
satu pun keluhan. Sungguh karunia yang teramat indah.
"Kamu di rumah?" langsung begitu suara pertama yang terdengar ketika panggilan
ponsel kuterima. Sungguh tanpa basa-basi.
Dia satu-satunya orang yang kadang memanggil dengan sapaan "Abang", kadang
bertukar dengan kata ganti orang kedua, "kamu". Sekena rasa hatinya saat itu.
Bukan karena sedang tak suka.
"Iya," sahutku.
Hari masih pagi. Namun jalan di depan rumah sudah cukup bising dengan
lalu-lalang orang yang hendak pergi bekerja, sekolah, ataupun mengurus
persoalan masing-masing. Tukang cakwe di pinggir jalan pun masih belum tuntas
membenahi gerobaknya.
"Bisa keluar sebentar?"
"Ada apa?"
"Ada yang mau saya
berikan."
Aku pun beringsut bangkit dari sofa dan beranjak ke luar rumah.
Dia menanti di pinggir jalan sambil duduk di sadel sepedanya. Helm serta
kacamata balap tentu saja melengkapi jersey dan celana pendek
sport. Dan sebagaimana kebiasaannya, ransel selalu bertengger di
punggung.
"Kapan balik?" tanyaku karena tahu dia kemarin pergi naik gunung bersama
beberapa kawannya di grup pecinta alam.
"Tadi malam," sahutnya.
Tanpa banyak bicara dia ulurkan seikat kecil bunga terbungkus plastik berlilit
pita keemasan.
"Edelweis," gumamku.
Dia tersenyum kecil memperlihatkan gigi gingsulnya.
"Saya petik kemarin sore. Teringat Abang."
Agak kikuk kuraih bunga itu sambil berharap orang lewat tak terusik dan
mengernyitkan kening atas adegan kontraversi ini karena biasanya pihak
lelakilah yang memberikan bunga.
"Kamu tahu makna bunga sederhana ini?" tanyaku.
"Apa saya sebodoh itu menurut Abang?"
Aku hanya meringis. Sudah pasti dia tak bodoh untuk paham arti simbolis bunga
Edelweis. Sehingga, pastinya dia juga tak bodoh memaknai pemberian ini padaku.
Berlangsung sepagi ini, di kesempatan pertama yang bisa dia lakukan. Tentu
sesuatu yang sangat berarti. Bukan ketergesaan, lebih merupakan gejolak rasa
yang tak sanggup dihalau.
"Ada lagi," katanya.
Dia membuka kantung luar ranselnya dan mengeluarkan sebentuk gelang anyaman
benang 4 warna.
"Ini tak sengaja ketemu waktu kemarin membereskan laci. Saya buat sudah lama
sekali, saat mengisi hari dan hati yang kosong. Waktu itu tak terpikir untuk
siapa. Kini saya tahu kenapa dulu membuatnya," katanya sambil melonggarkan
simpul gelang itu.
Kuulurkan lengan dan dia pasangkan di pergelangan tangan kananku.
"Rasanya seperti dilamar," gurauku menggoda.
"Kenapa? Gak suka?"
Ketus seperti biasa dan aku tak pernah punya hasrat untuk tersinggung padanya.
"Kalau saja ..." gumamku lirih sambil berlindung di balik kamuflase seringai
lebar.
"Ya ..." sambungnya sepaham.
Aku memandangi wajahnya. Mencoba menembus tabir jiwa melalui bola matanya.
Dalam hening yang amat rapuh. Begitu pun dia. Tanpa sentuhan. Sepenuhnya hanya
diam saling pandang.
Sampai akhirnya dia sunggingkan senyum khasnya. Tak ada perih dan sesal.
"Saya jalan dulu ya," pamitnya.
Aku mengangguk kecil. Berat. Terasa sangat tak berdaya. Sekejap bisa kurasakan
betapa dingin serpih keabadian yang tak pernah sanggup mewujud menembus
dinding mimpi.
Hingga beberapa jenak aku masih berdiri tepekur di pinggir jalan. Nyaris tak
berkedip memandangi dia mengayuh sepedanya dengan pelan, semakin jauh, hingga
akhirnya hilang di kelokan jalan. Seperti perpisahan tanpa lambaian.
Orang kian banyak berlalu-lalang di sekitarku. Namun tak kudengar suara. Sunyi
sempurna. Amat lama.
Kita duduk bersisian menghadap ke jalan lengang tanpa saling pandang. Satu dua
orang lewat di kejauhan terpaut jeda waktu lumayan panjang.
Kurasa sudah kelewat lama keheningan membelenggu. Hingga akhirnya mulutku tak
tahan mendesiskan bisikan pelan, nyaris seperti keluhan yang sangat
berhati-hati.
"Ada yang berubah."
Kamu diam.
Aku menyambung, "Tanpa penjelasan, kamu abaikan semua pesan saya di WhatsApp.
Seperti ada yang kamu hindari. Berhari, minggu, hingga bulan."
Masih diam. Sekarang wajahmu sedikit menunduk menatap ujung sepatumu.
"Apa yang salah? Kalaupun ada, kan kamu bisa tegur langsung seperti yang
sudah-sudah. Dan kamu tahu persis, tak sekali pun saya pernah mempersoalkan
protes bahkan marahmu."
Tetap diam.
Kunyalakan sebatang rokok kretek dan membiarkannya membara tanpa dihisap di
antara jari telunjuk dan tengah. Menunggu kamu bicara. Terbakar hingga
setengahnya secara percuma.
Bergeming. Tak jua ada reaksi.
Rerumputan tempat kita duduk terasa kian dingin. Senja pun seperti enggan
mengalirkan angin. Terasa agak menyesakkan.
Dan keheningan ini sangatlah menyebalkan.
"Berkali-kali kita janji ketemu hanya untuk makan siang di berbagai tempat
yang menurutmu layak didatangi. Kemudian ngopi sepanjang sore dengan
perbincangan yang kadang tak berbobot namun kerap juga menuntut perenungan
mendalam hingga kita berdebat. Lalu kita berpisah kala matahari kian redam
dalam kelam, saat saya antar kamu ke mobil atau stasiun kereta atau suamimu
menjemput."
Tak sabar, aku lanjutkan.
"Kamu tentu masih ingat, pernah kita habiskan hari sejak pagi sekali di rumah
kacamu. Lantas kita genapi sore di kawasan suaka Selatan kota. Hari terbaik
kita, menurut saya."
Kuhisap dalam-dalam rokok yang terbakar percuma itu lalu memadamkan puntungnya
di tanah.
"Saat itu tabir kabut yang turun membaur dengan ruap kopi panas di cangkir
yang kita genggam erat karena udara teramat dingin. Dan saya bertanya,
'Sampai kapan kita bisa terus seperti ini?'. Kamu jawab,
'Selama Abang tak membawaku paksa ke tempat yang tak kuinginkan'."
Kamu, perempuan yang biasanya energik bertabur aura suka cita, kini hanya
tepekur di sampingku dengan pandangan lurus menatap ujung sepatu putihmu.
"Saya tidak pernah memperlakukan kamu tak senonoh. Menyentuhmu pun sebatas
wajarnya antarsahabat. Paling banter menggandeng, cium pipi saat jumpa dan
berpisah," sambungku dengan canda mencoba menyibak kekakuan.
Ujung bibirmu sedikit tertarik dalam makna sangat sumir antara senyum dan
perih.
"Bicaralah," pintaku penuh harap kamu tak membatalkan niat.
Lalu mulutmu mendesirkan kalimat singkat yang sangat pelan, nyaris seperti
kepedihan yang amat rentan.
"Abang tak sayang aku."
"Kok gitu?" tanyaku kaget.
"Setelah sekian lama ..."
Jeda sejenak.
Lalu kamu lanjutkan dengan desir yang tetap pelan.
"... Abang tak pernah menciumku."
Sontak kepedihan itu melompat pindah ke ulu hatiku.
Banyak yang bisa menyebutkan lagu-lagu karya Queen, grup band asal
Inggris, yang populer seantero jagat. Sebut saja "Bohemian Rhapsody" yang
masuk jajaran lagu legendaris sepanjang masa. Juga "Love of My Life", "We are
The Champions", "I Want to Break Free", "Crazy Little Thing Called Love", dan
sederet lainnya.
Namun, menurut dugaan saya, hanya segelintir yang mengenal lagu "Nevermore"
(dari album Queen II, 1974) yang rilis pada masa Freddie Mercury masih
asyik dengan lirik bertema dongeng (fairy tales) dibalut kekhasan
operatik penuh harmoni.
Di sisi lain, tak sedikit penggemar yang menobatkan lagu ini sebagai mahakarya
terbaik yang indah dan intim, mewakili momen kejeniusan yang sempurna dengan
arsitektur yang kompleks, berlapis, dan artistik. Hanya saja, lagu ini kerap
menjadi permata tersembunyi yang terabaikan
(underrated). Bisa jadi karena durasinya yang sangat singkat.
Saya jadi penasaran, apakah band ITB ataupun UI berkenan menyisipkan 79 detik
waktu mereka untuk membawakan lagu ini dalam
Battle of The Bands pada tanggal 30 Januari 2026 esok di Balai Sarbini.
Sungguh bikin penasaran 😎
There's no living in my life anymore
The seas have gone dry
And the rain stopped falling
Please don't you cry anymore
[ Aah ...]
Can't you see?
Listen to the breeze
Whisper to me, please
Don't send me to the path of Nevermore
Even the valleys below
Where the rays of the sun
Were so warm and tender
Now haven't anything to grow
[ Aah ...]
Can't you see?
Why did you have to leave me?
[ Nevermore, Nevermore]
Why did you deceive me?
[ Nevermore, Nevermore]
Send me to the path of Nevermore
[ Aah ...]
When you say you didn't love me anymore
[ Aah ...]
[ Aah ...]