Tampilkan postingan dengan label kelana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kelana. Tampilkan semua postingan

📌 Minggu, 18 Agustus 2024 🌐

Kearifan Silimalombu

Kearifan Silimalombu

— Sumut Punya Cerita

Nyonya rumah dan tamu di Silimalombu

Bisa jadi dahulu ada 5 sapi yang entah apa pula cerita tersohornya hingga tempat terpencil di kawasan Samosir itu dinamai Silimalombu. Desa ini mungkin tak akan pernah jadi topik andai hanya melangkah dalam pakem biasa-biasa saja.

Hingga seorang perempuan bernama Ratnauli Gultom mengubah takdirnya. Mangga Toba difermentasi jadi minuman (mango wine), berbagai flora dan fauna dipanen dari sekitar untuk diolah jadi hidangan dan produk lokal, hingga gaya hidup berwawasan lingkungan nirlimbah (zero waste).

Sebagaimana biasa, keunikan sebuah tempat lebih dulu diketahui dan dicintai wisatawan mancanegara. Bahkan hingga sekarang pun lebih banyak orang asing yang menjadi tamu menginap di homestay Silimalombu. Agak ironis, namun demikianlah adanya.

Saat berkunjung sekian tahun lalu, saya berjumpa dengan satu keluarga Skotlandia (ayah, ibu, puteri berusia 6 tahun) yang sudah 2 bulan tinggal di sana. Sehari-hari mereka mengikuti kegiatan Ratna mengambil ikan dan udang di danau Toba, memetik sayuran, memanen jagung, ubi, buah, dsb yang dilanjutkan dengan mengolah dan menikmatinya.

Mango wine

Amat pantas jika Silimalombu melabel diri sebagai ecovillage dan menjadi destinasi yang wajib diperhitungkan sehingga pernah khusus dikunjungi oleh Raja Belanda Willem Alexander dan Ratu Maxima Zorreguieta Cerruti pada tahun 2020.

Setiap tempat dan waktu akan melahirkan legendanya sendiri.

Lisoi! Lisoi! Lisoi!🥂

#latepost #Samosir #Sumut #NorthSumatera #wine #ecoliving #nirlimbah #zerowaste #pariwisata #tourism

📌 Minggu, 18 Agustus 2024 01:49 🌐 Medan

📌 Sabtu, 13 Agustus 2022 🌐

Superman is NOT Dead!

Superman is NOT Dead!

The Legend Continues

Broken Superman

Menjadi pengayom, pelindung, pelayan, dan penegak hukum bagi masyarakat bukanlah pekerjaan mudah. Tak jarang malah terasa sebagai beban yang amat berat. Kalau gak percaya, coba saja tanya pada POLRI yang menurut ceritanya adalah institusi yang mengemban tupoksi tersebut 😊

26 Oktober 2013

9 Maret 2016

Setelah menerima estafet dari Kal El alias Clark Kent di tahun 2013 untuk mengamankan acara Pulang Kampung Ikatan Alumni Mesin (IAM) di Aula Barat ITB dan terus berlanjut secara intens hingga terdampar di menara doyong Pisa tahun 2016, akhirnya saya putuskan berhenti.

Capek kali pun keluyuran ke sana ke mari padahal saya paling hobi rebahan.

Enough is enough!

Dani El
7 Juli 2022

Beruntung ada seorang anak muda dari Jurusan Teknik Mesin ITB yang ternyata punya passion yang sama. Apalagi dia ternyata amat lincah dan enjoy lelarian ke segala penjuru. Maka logo keramat pun diemban oleh Dani El alias Daniel Agung yang dari segala aspek tentunya lebih pas sebagai Superman 👍

Saya yakin tak seorang pun bisa membantah fakta ini walau tidak bisa dibuktikan CCTV.

BTW, siapa lagi yang punya kaos dengan logo S legendaris ini?

#aiglOnceUponATime

📌 Sabtu, 13 Agustus 2022 21:57 🌐

📌 Sabtu, 19 Februari 2022 🌐

Huta Siallagan

Huta Siallagan

Malam sebelum berangkat, paket kiriman dari Om Jenggo yang berisi kaos spesial mengenang Bang Patar Nababan tiba di rumah. Alhasil, kaos dengan gambar karya Mbak Jane Kurnadi ini saya bawa saat kunjungan ke Danau Toba dan dipakai di sana. Setidaknya, di Bona Pasogit, tanah leluhur, saya sempat mengenang dan mendoakan Bang Patar yang sudah lebih dahulu pulang ke keabadian 🙏

Dan siang tadi di Samosir, saya bersama Malaikat Kiri, Bang Nelson Napitupulu, sempat praktik sebagai eksekutor hukum pancung di Huta Siallagan.

Ngeri kali pun! 🤣

📌 Sabtu, 19 Februari 2022 23:30 🌐

📌 Senin, 04 Oktober 2021 🌐

Urusan Tiket Bis Sampai ke Surga

Urusan Tiket Bis Sampai ke Surga

— Florence, 8 Maret 2016

Di depan gereja legendaris Santa Croce.
Sayangnya tidak bisa masuk dan mengaku dosa
karena sudah malam 😊

Setelah berkelana ke berbagai kota, akhirnya kami pun berlabuh sejenak di kota yang memiliki beberapa cara penyebutan: Florence (Inggris), Firenze (Italia), Florenz (Jerman), Florencia (Spanyol), dan dulu kala saat berdiri disebut Florentia (Latin).

Ini adalah sebuah kota yang tenang, jauh dari hingar-bingar kemodernan. Mungkin kebetulan saat kami datang di bulan Maret sedang tidak ramai pelancong. Entah pula memang demikian sehari-harinya.

Padahal saya yakin kota ini dulunya sangat ramai, mengingat di sinilah lahir rennaisance yang menggerakkan kebangkitan seni dan budaya Italia serta Eropa. Tercatat sastrawan besar asal Firenze seperti Dante, Boccaccio, dan Petrarch yang menulis dalam dialek Toscana yang kemudian berkembang menjadi bahasa Italia modern. Di masa jayanya, kota ini menjadi pusat budaya, ekonomi, dan keuangan yang sangat penting di Eropa sehingga dijuluki "Athena di Barat".

Terlepas dari itu semua, kami sangat gembira karena bisa menikmati berbagai hal dengan tenang. Dan sebagaimana biasa, penjelajahan kota merupakan agenda utama.

Enaknya di negara maju, kendaraan umum sangat dapat diandalkan. Tentu yang dimaksud bukanlah angkot, melainkan bis atau kereta/trem/metro, dengan terlebih dahulu membeli tiket di vending machine untuk divalidasi (tap) saat melewati gerbang atau masuk kendaraan.

Suatu pagi, kami berenam naik bis. Ternyata tak ada orang lain di dalamnya kecuali sopir. Ini bis beneran atau bis jadi-jadian sih? Tapi hal itu tak membuat kami gentar, karena hari masih terang dan rasanya sih di kota ini tidak ada legenda bis hantu 👻

Dasar iseng, melihat situasi sangat sepi begitu, saya berbisik pada seorang kawan yang punya kelakuan rada preman.

"Kalau kita gak nge-tap tiket, kan gak ada yang tahu. Jadi kita bisa irit buat perjalanan berikutnya."

"Iye, iye ... Bener," teman saya langsung setuju.

Padahal ada keterangan tertempel di situ yang menyatakan kecurangan naik bis tanpa validasi tiket akan dikenai sanksi € 60 (kalau tidak salah ingat) padahal untuk sekali jalan dibebani € 1.5 saja. Sadis memang hukuman terhadap para pelanggar aturan. Tapi bisa dipahami juga sih, sudah diberi kemudahan dan keringanan kok malah mencuri. Beda mentalitas 😜

Maka saya dan dia pun berlagak pilon dengan tidak memvalidasi tiket. Seorang kawan yang punya hobi mengunjungi gereja mengingatkan kami untuk melakukan validasi. Kawan saya yang preman itu berbisik kepadanya tentang skenario yang sedang kami jalankan. Sontak wajah si pelancong gereja menjadi masam.

"Kita ini sedang di negara orang. Sebaiknya patuh pada aturan. Kalau ada apa-apa, kita sendiri yang repot. Jangan menodai berkat yang sudah kita terima."

Njir ... Religius pisan euy 🙏

"Tiket € 1.5 saja kalian curangi, padahal risikonya puluhan Euro kalau ketahuan," imbuhnya lagi.

"Kan gak ada yang lihat. Hanya Tuhan yang tahu. Dan Dia baik serta Maha Pengampun," kawan preman berargumen dengan gaya sok religius pula.

Demikianlah kami berdebat dengan bisik-bisik di atas bis hingga sampai di tujuan dan turun. Perdebatan masih terus berlangsung di trotoar. Alhasil, si pelancong gereja pun dengan jengkel berjalan duluan meninggalkan kami. Marah bener dia, kayaknya.

Saya dan kawan preman saling pandang. Gak enak nih kalau kita jadi diem-dieman begini. Padahal tujuan pesiar ini kan untuk senang-senang bersama. Kami juga tidak tahu kenapa si pelancong gereja mendadak serius banget urusan remeh begini, padahal biasanya dia toleran pada kelakuan kawan, sebangsat apa pun. Memang sih kalau sampai ketahuan, pasti bakal ribet urusannya. Lebih menyesakkan dada dan dompet dibandingkan harga Steak di Vatikan.

Akhirnya saya berseru memanggil si kawan pelancong gereja itu agar menunggu kami. Setelah berkumpul lagi, saya bilang kepadanya dengan wajah tulus, "Iya, kami salah. Besok kami bayar dobel deh."

Wajah masam si pelancong gereja sejenak membeku. Dan tiba-tiba dia terkekeh-kekeh. "Emangnya bayar tiket bus kayak rapel sarapan dengan makan siang?"

Dengan niat melunakkan hatinya, kami pun berjanji akan mengaku dosa ke gereja.

Ampunilah saya, Bapa, karena saya telah berdosa.
Mea culpa. Mea culpa.

Keluyuran malam, menyeberangi Sungai Arno yang membelah kota Florence. Sempat tersesat saat mencari patung David yang terkenal.

Di bukit dengan latar belakang hamparan kota Florence yang tenang di malam hari.

Selewat tengah malam akhirnya berhasil juga tiba di Piazalle Michaelangelo yang memasang replika patung David karya sang maestro Michaelangelo.

Keisengan warga kota memberi aksen pada rambu dilarang masuk 😁

Ternyata ada juga toko soto di Florence. Hanya saja tak menjual makanan 🍲 melainkan tas 👜

#aiglCeritaLiburan

📌 Senin, 04 Oktober 2021 21:42 🌐

📌 Minggu, 03 Oktober 2021 🌐

Saat Hotel Bikin Naik Pitam

Saat Hotel Bikin Naik Pitam

— Munich, 15 Maret 2016

Berhubung ini adalah celeng liburan,
saya sertakan foto bersama celeng
yang nekad berlibur di kota Munich 😊

Siang itu kami tiba di hotel yang sudah dipesan jauh-jauh hari saat masih di Jakarta. Sesampai di sana, ternyata pesanan atas nama seorang kawan tidak tersedia. Maka, sibuklah kawan ini berbicara dengan petugas hotel. Sementara kami duduk di sofa dekat meja resepsionis menanti kejujuran eh kepastian.

Kurang jelas apa yang mereka bahas, perbincangan yang semula santai untuk menanyakan alasan hotel tidak memenuhi janjinya, lama-lama kian memanas. Padahal udara terasa makin dingin dan salju mulai bertaburan di luar.

Kawan yang satu ini memang agak temperamental. Saya ingat dia pernah berteriak-teriak keras dalam bahasa Mandarin di pasar Ben Thanh, Ho Chi Minh City, Vietnam, karena merasa sang pedagang tidak memperlakukannya secara layak. Barangkali ada sekitar 1/17 pengunjung pasar yang terkaget-kaget mendengar teriakannya (sebenarnya sih saya gak sempat menghitung, ini perkiraan saja karena saya yang berada beberapa belas meter dari tempatnya pun kaget mengira ada kerusuhan).

Dan saat di hotel Munich ini, sedikit demi sedikit amplitudo suaranya pun kian bertambah sehingga sebagian tamu di lobby sempat menoleh. Tak lupa, tangannya menunjuk-nunjuk petugas hotel sehingga sang petugas dengan agak keras menegurnya agar jangan mengacung-acungkan jari ke mukanya. Untung saja kawan ini tidak menggunakan jari tengah 😜

Sang petugas berusaha keras menjelaskan dan menyabarkannya seraya menyampaikan bahwa mereka sudah memesankan kamar di hotel lain tanpa biaya tambahan. Tentu saja kawan ini tidak senang. Begitu juga kami agak kurang bahagia, yang kami sampaikan dengan ekspresi muka merengut. Wong kami ingin selalu bersama-sama, kok malah dipisah. Lagipula, kawan inilah yang membawa rice cooker dan beras yang menjadi andalan ransum selama perjalanan (sila cek kisah steak di pekarangan suci Vatikan 😁)

Agar keadaan tidak semakin rusuh, kami menahan diri tidak ikut-ikutan mengeroyok petugas hotel. Kami bersiaga saja sambil menyimak dialog mereka dalam mencari solusi.

Merasa mendapat dukungan dari kami, kawan ini semakin pede dan suaranya kian menggelegar. Bicaranya pun semakin merepet.

Ketika sang petugas masuk ke dalam untuk mengurus sesuatu, kawan ini berbalik menghadap kami seraya bertanya dengan suara pelan namun serius, "Bahasa Inggris gue udah bener kan?"

Sontak kami saling pandang dan ngakak bareng. Marah ni yeee ... 😂

Ketika kami mengantarkan ke hotel yang dipesankan untuknya, ternyata kamarnya malah lebih bagus dibanding yang kami inapi.

Walau tak semujur Bang Toni Toni dalam urusan hotel, kawan ini termasuk beruntung juga akibat kengototannya. Masih bagus kami tidak melakukan aksi mendengkur bareng di sofa lobby hotel ala Bang Toni 🤣

Dan sebagai hiburan usai ketegangan di hotel tadi, tentu saja kami habiskan waktu penuh bahagia dengan pesiar keliling kota. Karena memang itu tujuan kami yang sebenarnya singgah ke kota ini.

Ternyata banyak juga hal unik yang bahkan membuat geli sepanjang perjalanan, seperti yang terlihat dalam foto-foto di bawah ini.

Paulaner di Jakarta tergolong restoran besar dan cukup mahal. Sedangkan di sini mungil saja ala kios.

Resto Uyghur bernama unik. Entah maksudnya "tak lah makan" (kesannya malah melarang makan) atau "tak lama, kan" (cocok untuk resto cepat saji).

Saya curiga resto ini milik orang Sunda. Namanya ditulis sok gaya jadi "LeboQ". Padahal mah tulis aja "Lebok" yang artinya makan (bahasa kasar). Jangan-jangan memang punya Mang Kabayan 😁

Belum sempat bertanya
apakah pemilik hotel ini
berasal dari Malang.

Kondisi Munich saat malam kembali ke hotel.

#aiglCeritaLiburan

📌 Minggu, 03 Oktober 2021 16:17🌐

📌 Kamis, 30 September 2021 🌐

Steak di Pekarangan Suci

<i>Steak</i> di Pekarangan Suci

— Vatikan, 7 Maret 2016

Kisah yang sebenarnya teramat ingin dilupakan namun tak juga terkubur. Siapa tahu bisa menyublim menjadi uap jika diceritakan.

Ritual teriakan menyeberangi sungai

Alkisah, saya dan 5 kawan berkesempatan menyambangi kota Roma nan legendaris seantero jagad. Sesuai pemeo "banyak jalan menuju Roma", entah apa pun kiatnya (yang berbalut beberapa tragedi pula) akhirnya kami sampai juga ke sana. Hallelujah!.

Berbekal tiket terusan bis wisata hop-on hop-off berikut petanya, kami pun berpuas berkeliling menikmati berbagai lokasi wisata di Roma, seperti Colosseum, air mancur Trevi yang dasar kolamnya penuh koin permintaan, Spanish Step, Pantheon yang semula adalah kuil pemujaan para dewa-dewi Romawi, dsb. sambil tak lupa mengumbar foto serta menikmati es krim asli Italia yang bukan keluaran Ragusa.

Telanjur sudah di Roma, walau kami bukanlah pemeluk agama yang saleh, malah tak semuanya beragama Katolik, tentu saja tak ada salahnya berkunjung ke negara mini Vatikan yang merupakan episentrum agama Katolik sedunia. Wong tempat ini sudah menjadi salah satu destinasi wisata. Lagipula jaraknya hanya sepelemparan serabi kinca dari kota Roma.

Tengah hari, sampailah kami di perbatasan kota Vatikan. Sambil menyeberangi Sungai Tiber (kalau tidak salah) kami pun melakukan ritual berteriak bersama di atas jembatan, macam orang gila yang baru saja kena sosor angsa.

Dari kejauhan, kubah Basilika Santo Petrus sudah tampak. Berkilau disiram cahaya lembut mentari. Tiang obelix yang tegak menjulang di tengah lapangan pun seperti melambai-lambai riang menyambut kedatangan kami. Rasanya tak sabar untuk segera menelusuri seluruh pelosok kota yang penuh karya para maestro ini.

Tapi perut sudah menagih diisi. Selayaknya lokasi wisata, tentu saja restoran ataupun gerobak penjaja makanan (juga cenderamata) bertebaran di sekitar situ.

Saya sih tidak masalah dengan makanan apa saja. Mau European atau Asian, oke saja. Dengan catatan: tidak pedas!!!. Maklumlah, perut sudah tidak seperkasa masa muda. Sedangkan beberapa kawan kurang sreg dengan makanan Eropa sehingga kami kerap berusaha mencari sajian Asia seperti Chinese atau Vietnamese yang lebih suai dengan selera mereka.

Ternyata di seputaran Vatikan tak ada restoran Asia. Alternatifnya adalah makanan yang sudah diakrabi, semisal burger atau pizza. Walau rasanya tentu tidak senikmat di tanah air. Kebanyakan makanan di sana tergolong hambar seperti kekurangan bumbu. Pantas saja dulu orang Eropa gigih banget mencari rempah-rempah hingga Nusantara.

Kebetulan ada sebuah restoran kecil yang menjual burger. Mampirlah kami ke sana. Kalau tidak salah, € 4 sebuah. Bolehlah. Sekadar mengganjal perut hingga sore.

Saat sedang memilih burger yang kira-kira cocok di lidah, seorang kawan mengatakan bahwa resto itu sedang promosi 𝘴𝘵𝘦𝘢𝘬 komplet. Hanya € 7, katanya. Wah, tentu saja kabar ini kami sambut penuh sukacita. Kami pun segera masuk ke resto dan duduk sekeliling meja makan.

O ya, resto di Eropa umumnya agak belagu setengah tak berperikemanusiaan. Kalau kita hanya membeli minuman atau makanan ringan, biasanya tidak boleh duduk. Silakan berdiri di trotoar atau bawa pergi. Jangankan duduk, numpang pipis saja kadang tidak boleh kalau tidak belanja. Atau harus bayar antara € 0.5 hingga € 2 per sekali setor.

Begitu kami duduk, pelayan menanyakan pesanan. Dengan penuh ketegasan kami memesan steak promo tadi. Pelayan bertanya, berapa porsi? Satu per orang, kata kami. Melihat gambar steak berikut kentang dan sayurnya, pastilah memadai untuk bertahan sampai makan malam nanti.

Setelah berdiskusi dengan sang pelayan, seorang kawan kemudian mengatakan bahwa kami ditawari paket yang menggabungkan 6 porsi tadi menjadi 1 loyang besar. Oke sajalah, sahut kami tidak berkeberatan.

Sambil menunggu, kami pun melepas dahaga dengan air bening yang disediakan di meja. Entah kenapa, sang pelayan melarang kami menuangkan sendiri air dari teko ke gelas. Dialah yang melakukannya dengan sangat ramah dan sopan. Dan saat minta ijin menggunakan WC, dengan sigap sang pelayan mengambilkan kunci pintu WC seraya menunjukkan jalannya ke lantai bawah. Bergiliran kami buang air kecil.

Setelah itu, sang pelayan dengan setia berdiri di dekat meja selama kami di situ, seakan bersiaga andai ada yang kami perlukan. Wah, sungguh luar biasa memang perilaku orang-orang di sekitar kota suci ini, komentar saya. Bintang lima nih ⭐⭐⭐⭐⭐

Steak empuk, gurih, banyak

Tak berapa lama, datanglah pesanan kami. Satu loyang besar daging matang yang sudah dipotong-potong dan masih panas. Ruap wanginya sungguh membangkitkan selera. Dengan penuh semangat kami melahap hidangan yang memang sangat empuk dan gurih.

"Enak bener nih daging. Banyak pula. Kenyang bahagia deh kita siang ini," komentar salah seorang kawan dengan sumringah.

Usai menggasak makanan semampu perut menampung, kami berpesan pada pelayan untuk membungkuskan sisa steak. Masih dapat 1 kotak kecil. Lumayan ...

Setelah leyeh-leyeh sejenak memberi kesempatan bagi usus mencerna makanan, kawan yang bertugas sebagai bendahara menuju kasir untuk menuntaskan pembayaran. Sesaat kemudian, dia kembali dengan wajah tegang setengah pucat seperti lirik lagu, "That her face at first just ghostly, turned a whiter shade of pale."

"Kenapa?" tanya kami heran.

Dia menyodorkan bon tagihan makanan kepada kami. Tertera angka € 279.40, yang kalau dikurs menjadi Rp 4 juta lebih. Hah?!! Katanya € 7. Dikali 6 orang, paling banter kena € 50 lebih sedikit lah plus tip. Kok jadi ratusan begini?

Tagihan yang bikin lemas

Kawan saya segera memanggil pelayan yang ramah tadi untuk meminta penjelasan. Sementara kami yang baru saja bersyukur atas makan siang yang enak, langsung terkulai lemas di kursi masing-masing. Entah apa penjelasan yang disampaikan oleh pelayan ramah tadi, kami sudah tak menyimak. Ada kemungkinan ketika kami meminta steak promo sebanyak 6 paket, sang pelayan menawarkan paket lain untuk berenam. Berpikir bahwa tawaran ini sekadar menyatukan 6 paket promo menjadi 1 loyang, kami setuju. Ternyata beda barang, Fergusso! 😓

Telanjur makanan sudah masuk perut dan malas berurusan dengan persoalan yang bisa merusak reputasi bangsa (cie, cie, cie ... I love Indonesia 🇮🇩) dengan berat hati digeseklah kartu kredit dengan tagihan sekian ratus Euro untuk sekali makan yang sebenarnya tidak masuk dalam kategori makanan mewah ala restoran eksklusif. Wong ini hanya resto kecil yang nyempil dan biasa-biasa saja.

Keluar dari restoran, agak lunglai langkah kami memasuki pelataran Basilika Santo Petrus. Rencana makan burger € 4 malah keluar duit lebih dari € 46 per orang. Pantas saja pelayan itu demikian menghormati dan melayani kami dengan ekselen. Rupanya, tidak hanya di Indonesia, bahkan orang bule di Eropa pun menganut paham "ada udang di balik bakwan; ada uang, saya servis abang" 😜

Kendati demikian, kami sepakat untuk konsisten ke tujuan awal berpesiar, yakni menikmati objek wisata sepuas-puasnya dan menikmati kebersamaan dengan para sahabat seperjalanan. Alhasil, wajah-wajah kami dalam foto pun tak ada yang merengut selama menjelajahi Vatikan. Wajah ceria dengan senyum maksimal tanpa beban selalu ditampilkan dalam foto kenangan.

Hanya saja, saat sorenya naik bis wisata kembali ke penginapan, raut wajah langsung bertakik-takik seperti patung dipahat kasar tanpa diampelas. Semua diam dan hanyut dalam pikiran masing-masing. Amblas sudah jatah yang kalau dipakai di resto Chinese atau Vietnamese bisa untuk beberapa kali makan 😓

Esok paginya, ketika makan nasi putih yang dimasak sendiri (kawan saya ada yang wajib makan nasi, sehingga dari Indonesia pun dia membawa rice cooker kecil dan bekal beras beberapa kilo 😊 dengan lauk Indomie kuah berikut beberapa potong daging sisa makan siang di pelataran Vatikan, kami tertawa-tawa getir sambil mengunyah dengan sangat khidmat steak termahal yang pernah jadi makan siang kami.

Beginilah kalau komunikasi dengan bahasa Inggris berbalas pantun dengan bahasa Italia tanpa sepenuhnya saling paham. Hikmahnya, kami pun menjadi kian memahami filosofi klasik bahwa rasa lapar bisa membuat orang khilaf dan kalap 😊

Hanyut dalam pikiran masing-masing saat pulang dari Vatikan

#aiglCeritaLiburan

📌 Kamis, 30 September 2021 21:39 🌐

📌 Senin, 06 September 2021 🌐

The Kungfu Joker

The Kungfu Joker

Beladiri Timur yang umumnya lincah dan luwes menjadi populer ke seantero jagad karena seorang putra kelahiran China Town San Francisco bernama Bruce Lee. Boleh dibilang, dialah pelopor film aksi bergenre kung-fu era modern.

Generasi selanjutnya yang mendunia antara lain adalah Jacky Chan yang sarat dengan humor dan Jet Li yang identik dengan gerakan sangkil (efisien) dan mangkus (efektif).

Di salah satu sudut jalan di San Francisco, tergambar graffiti gambar Bruce Lee. Sementara sebuah restoran di Los Angeles dengan bangga memasang tulisan bahwa tempat itu pernah menjadi tempat shooting film Rush Hour (Jacky Chan dan Chris Tucker).

Di balik kehebohan beraksi bak-bik-buk di hadapan kamera, ternyata mereka pun kerap menyampaikan filosofi kehidupan yang sangat bernas, yang suai dengan manusia manapun, tak harus pendekar.

Kekaguman pada kedua tokoh ini membuat saya tak sungkan bergaya kung-fu walau pasti akan ditertawakan oleh orang yang paham beladiri.

Masabodoh lah. Yang penting, hati senang sehingga hidup tidak terlampau berat untuk dijalani. Demikianlah filosofi malam ini.

Ciaaaaatttt!!!
Gedebuk ...
😳

#aiglSelLoveChallenge #aiglSelfLove

📌 Senin, 06 September 2021 01:44 🌐

📌 Rabu, 04 Agustus 2021 🌐

PERSIB Mengencingi Kandang Tifosi Milan

PERSIB Mengencingi Kandang <i>Tifosi</i>Milan

Ini PERSIB euy!

Jika Fernando Tampubolon dengan bangga membentangkan syal Manchester United di Grindewald, maka saya yang nasionalis-patriotis Merah-Putih sejati memilih menggunakan jersey PERSIB Bandung di Milan 💪

Walau tak seorang pun manusia di kawasan paling ramai, Duomo di Milano (Milan Cathedral), mengenal kesebelasan kebanggaan bobotoh Bandung ini, saya tidak peduli. Yang penting pede aja.

Bahkan, dengan sengaja saya menyambangi San Siro Stadio, tempat para pemain bola idola dari AC Milan dan Inter Milan merumput disemangati oleh para tifosi yang ganteng dan seksi. Ingin rasanya memamerkan jersey kesebelasan yang hingga saat ini belum pernah dikalahkan oleh AC Milan maupun Inter Milan 😜

Bang Ahmad Yani Aksa dan Mas Enri Rasjidin memberikan koreksi bahwa PERSIB pernah menghadiahkan 8 gol bagi kemenangan AC Milan di Jakarta. Tuan rumah yang baik mah kudu gitu. Menyenangkan tamu. Jangan sampai AC Milan menyesal membeli pemain mahal lalu kalah oleh Maung Bandung 😜

Namun, pada hari itu suasana sangat sepi karena sedang tidak ada pertandingan. Gagallah rencana pamer. Telanjur mampir, saya pun mengencingi stadion nan megah ini sebagai penanda kehadiran 🙈

Turut mendampingi kunjungan PERSIB ke San Siro adalah perwakilan dari kesebelasan Arema Malang, Semen Padang, dan PSSI

MERDEKA!!! 🇮🇩

Pojokan tempat pipis 🙈

Perwakilan kesebelasan Arema Malang, Semen Padang, PERSIB, dan PSSI

Senja kian romantis saat meninggalkan stadion legendaris San Siro

#aiglSelfLoveChallenge #aiglSelfLove

📌 Rabu, 04 Agustus 2021 21:47 🌐

Paris Je t'Aime

<i>Paris Je t'Aime</i>

Kawasan Eiffel siang itu tampak lengang

Mereka bilang, Paris kota cinta.

Mereka bilang, "Eiffel I'm in Love".

Hanya saja ketika berkunjung ke menara Eiffel secara bersendiri karena istri merasa sangat letih dan terpaksa beristirahat di hotel, rasanya hati ini nelangsa juga. Imaji tentang Eiffel yang acap dikisahkan dalam novel dan film pun jadi hambar dan terasa picisan kehilangan pagutannya.

Namun, apa boleh buat. Berhubung kaos kebanggaan M83 sudah disiapkan sejak malam sebelumnya, saya pun memenuhi janji menyambangi Eiffel setelah memesankan sarapan untuk istri.

Di periferal menara besi mengangkang yang [tak sengaja] menjadi ikon kota Paris, saya termangu. Sekelebat wawasan menghunjam telak.

Barangkali harus seperti inilah cinta yang bertahan.
Tetap tegar walau tak sempurna.
Dengan berbagai ruang
di mana burung-burung bisa bersarang dan berkicau.

Selamat pagi, cinta ☀🌸

#aiglSelfLove #aiglSelfLoveChallenge

📌 Rabu, 04 Agustus 2021 06:59 🌐