catatan-catatan kecil di sini tidak lebih dari percik pemikiran yang sempat tertuang ke dalam bentuk tulisan. kalaupun isinya tidak tertata baik ataupun tidak berkenan pada anda, demikianlah adanya kenyataan diri saya pada saat itu. setidak-tidaknya, ini semua adalah sebagian ungkapan kejujuran yang saya ingin berbagi dengan anda.
Bisa jadi dahulu ada 5 sapi yang entah apa pula cerita tersohornya hingga
tempat terpencil di kawasan Samosir itu dinamai Silimalombu. Desa ini mungkin
tak akan pernah jadi topik andai hanya melangkah dalam pakem biasa-biasa saja.
Hingga seorang perempuan bernama Ratnauli Gultom mengubah takdirnya. Mangga
Toba difermentasi jadi minuman (mango wine), berbagai flora dan fauna
dipanen dari sekitar untuk diolah jadi hidangan dan produk lokal, hingga gaya
hidup berwawasan lingkungan nirlimbah (zero waste).
Sebagaimana biasa, keunikan sebuah tempat lebih dulu diketahui dan dicintai
wisatawan mancanegara. Bahkan hingga sekarang pun lebih banyak orang asing
yang menjadi tamu menginap di homestay Silimalombu. Agak ironis, namun
demikianlah adanya.
Saat berkunjung sekian tahun lalu, saya berjumpa dengan satu keluarga
Skotlandia (ayah, ibu, puteri berusia 6 tahun) yang sudah 2 bulan tinggal di
sana. Sehari-hari mereka mengikuti kegiatan Ratna mengambil ikan dan udang di
danau Toba, memetik sayuran, memanen jagung, ubi, buah, dsb yang dilanjutkan
dengan mengolah dan menikmatinya.
Mango wine
Amat pantas jika Silimalombu melabel diri sebagai ecovillage dan
menjadi destinasi yang wajib diperhitungkan sehingga pernah khusus dikunjungi
oleh Raja Belanda Willem Alexander dan Ratu Maxima Zorreguieta Cerruti pada
tahun 2020.
Setiap tempat dan waktu akan melahirkan legendanya sendiri.
Menjadi pengayom, pelindung, pelayan, dan penegak hukum bagi masyarakat
bukanlah pekerjaan mudah. Tak jarang malah terasa sebagai beban yang amat
berat. Kalau gak percaya, coba saja tanya pada POLRI yang menurut ceritanya
adalah institusi yang mengemban tupoksi tersebut 😊
26 Oktober 2013
9 Maret 2016
Setelah menerima estafet dari Kal El alias Clark Kent di tahun 2013
untuk mengamankan acara Pulang Kampung Ikatan Alumni Mesin (IAM) di
Aula Barat ITB dan terus berlanjut secara intens hingga terdampar di menara
doyong Pisa tahun 2016, akhirnya saya putuskan berhenti.
Capek kali pun keluyuran ke sana ke mari padahal saya paling hobi rebahan.
Enough is enough!
Dani El 7 Juli 2022
Beruntung ada seorang anak muda dari Jurusan Teknik Mesin ITB yang ternyata
punya passion yang sama. Apalagi dia ternyata amat lincah dan
enjoy lelarian ke segala penjuru. Maka logo keramat pun diemban oleh
Dani El alias Daniel Agung yang dari segala aspek tentunya lebih pas
sebagai Superman 👍
Saya yakin tak seorang pun bisa membantah fakta ini walau tidak bisa
dibuktikan CCTV.
BTW, siapa lagi yang punya kaos dengan logo S legendaris ini?
Malam sebelum berangkat, paket kiriman dari Om Jenggo yang berisi kaos spesial
mengenang Bang Patar Nababan tiba di rumah. Alhasil, kaos dengan gambar karya
Mbak Jane Kurnadi ini saya bawa saat kunjungan ke Danau Toba dan dipakai di
sana. Setidaknya, di Bona Pasogit, tanah leluhur, saya sempat mengenang dan
mendoakan Bang Patar yang sudah lebih dahulu pulang ke keabadian 🙏
Dan siang tadi di Samosir, saya bersama Malaikat Kiri, Bang Nelson Napitupulu,
sempat praktik sebagai eksekutor hukum pancung di Huta Siallagan.
Di depan gereja legendaris Santa Croce.
Sayangnya tidak bisa masuk dan mengaku dosa
karena sudah malam 😊
Setelah berkelana ke berbagai kota, akhirnya kami pun berlabuh sejenak di kota
yang memiliki beberapa cara penyebutan: Florence (Inggris), Firenze (Italia),
Florenz (Jerman), Florencia (Spanyol), dan dulu kala saat berdiri disebut
Florentia (Latin).
Ini adalah sebuah kota yang tenang, jauh dari hingar-bingar kemodernan.
Mungkin kebetulan saat kami datang di bulan Maret sedang tidak ramai
pelancong. Entah pula memang demikian sehari-harinya.
Padahal saya yakin kota ini dulunya sangat ramai, mengingat di sinilah lahir
rennaisance yang menggerakkan kebangkitan seni dan budaya Italia serta
Eropa. Tercatat sastrawan besar asal Firenze seperti Dante, Boccaccio, dan
Petrarch yang menulis dalam dialek Toscana yang kemudian berkembang menjadi
bahasa Italia modern. Di masa jayanya, kota ini menjadi pusat budaya, ekonomi,
dan keuangan yang sangat penting di Eropa sehingga dijuluki "Athena di Barat".
Terlepas dari itu semua, kami sangat gembira karena bisa menikmati berbagai
hal dengan tenang. Dan sebagaimana biasa, penjelajahan kota merupakan agenda
utama.
Enaknya di negara maju, kendaraan umum sangat dapat diandalkan. Tentu yang
dimaksud bukanlah angkot, melainkan bis atau kereta/trem/metro, dengan
terlebih dahulu membeli tiket di vending machine untuk divalidasi
(tap) saat melewati gerbang atau masuk kendaraan.
Suatu pagi, kami berenam naik bis. Ternyata tak ada orang lain di dalamnya
kecuali sopir. Ini bis beneran atau bis jadi-jadian sih? Tapi hal itu tak
membuat kami gentar, karena hari masih terang dan rasanya sih di kota ini
tidak ada legenda bis hantu 👻
Dasar iseng, melihat situasi sangat sepi begitu, saya berbisik pada seorang
kawan yang punya kelakuan rada preman.
"Kalau kita gak nge-tap tiket, kan gak ada yang tahu. Jadi kita bisa
irit buat perjalanan berikutnya."
"Iye, iye ... Bener," teman saya langsung setuju.
Padahal ada keterangan tertempel di situ yang menyatakan kecurangan naik bis
tanpa validasi tiket akan dikenai sanksi € 60 (kalau tidak salah ingat)
padahal untuk sekali jalan dibebani € 1.5 saja. Sadis memang hukuman terhadap
para pelanggar aturan. Tapi bisa dipahami juga sih, sudah diberi kemudahan dan
keringanan kok malah mencuri. Beda mentalitas 😜
Maka saya dan dia pun berlagak pilon dengan tidak memvalidasi tiket.
Seorang kawan yang punya hobi mengunjungi gereja mengingatkan kami untuk
melakukan validasi. Kawan saya yang preman itu berbisik kepadanya tentang
skenario yang sedang kami jalankan. Sontak wajah si pelancong gereja menjadi
masam.
"Kita ini sedang di negara orang. Sebaiknya patuh pada aturan. Kalau ada
apa-apa, kita sendiri yang repot. Jangan menodai berkat yang sudah kita
terima."
Njir ... Religius pisan euy 🙏
"Tiket € 1.5 saja kalian curangi, padahal risikonya puluhan Euro kalau
ketahuan," imbuhnya lagi.
"Kan gak ada yang lihat. Hanya Tuhan yang tahu. Dan Dia baik serta Maha
Pengampun," kawan preman berargumen dengan gaya sok religius pula.
Demikianlah kami berdebat dengan bisik-bisik di atas bis hingga sampai di
tujuan dan turun. Perdebatan masih terus berlangsung di trotoar. Alhasil, si
pelancong gereja pun dengan jengkel berjalan duluan meninggalkan kami. Marah
bener dia, kayaknya.
Saya dan kawan preman saling pandang. Gak enak nih kalau kita jadi diem-dieman
begini. Padahal tujuan pesiar ini kan untuk senang-senang bersama. Kami juga
tidak tahu kenapa si pelancong gereja mendadak serius banget urusan remeh
begini, padahal biasanya dia toleran pada kelakuan kawan, sebangsat apa pun.
Memang sih kalau sampai ketahuan, pasti bakal ribet urusannya. Lebih
menyesakkan dada dan dompet dibandingkan harga
Steak di Vatikan.
Akhirnya saya berseru memanggil si kawan pelancong gereja itu agar menunggu
kami. Setelah berkumpul lagi, saya bilang kepadanya dengan wajah tulus, "Iya,
kami salah. Besok kami bayar dobel deh."
Wajah masam si pelancong gereja sejenak membeku. Dan tiba-tiba dia
terkekeh-kekeh. "Emangnya bayar tiket bus kayak rapel sarapan dengan makan
siang?"
Dengan niat melunakkan hatinya, kami pun berjanji akan mengaku dosa ke gereja.
Ampunilah saya, Bapa, karena saya telah berdosa. Mea culpa. Mea culpa.
Keluyuran malam, menyeberangi Sungai Arno yang membelah kota Florence.
Sempat tersesat saat mencari patung David yang terkenal.
Di bukit dengan latar belakang hamparan kota Florence yang tenang di
malam hari.
Selewat tengah malam akhirnya berhasil juga tiba di Piazalle
Michaelangelo yang memasang replika patung David karya sang maestro
Michaelangelo.
Keisengan warga kota memberi aksen pada rambu dilarang masuk 😁
Ternyata ada juga toko soto di Florence. Hanya saja tak menjual
makanan 🍲 melainkan tas 👜
Berhubung ini adalah celeng liburan,
saya sertakan foto bersama celeng
yang nekad berlibur di kota Munich 😊
Siang itu kami tiba di hotel yang sudah dipesan jauh-jauh hari saat masih di
Jakarta. Sesampai di sana, ternyata pesanan atas nama seorang kawan tidak
tersedia. Maka, sibuklah kawan ini berbicara dengan petugas hotel. Sementara
kami duduk di sofa dekat meja resepsionis menanti kejujuran eh kepastian.
Kurang jelas apa yang mereka bahas, perbincangan yang semula santai untuk
menanyakan alasan hotel tidak memenuhi janjinya, lama-lama kian memanas.
Padahal udara terasa makin dingin dan salju mulai bertaburan di luar.
Kawan yang satu ini memang agak temperamental. Saya ingat dia pernah
berteriak-teriak keras dalam bahasa Mandarin di pasar Ben Thanh, Ho Chi Minh
City, Vietnam, karena merasa sang pedagang tidak memperlakukannya secara
layak. Barangkali ada sekitar 1/17 pengunjung pasar yang terkaget-kaget
mendengar teriakannya (sebenarnya sih saya gak sempat menghitung, ini
perkiraan saja karena saya yang berada beberapa belas meter dari tempatnya pun
kaget mengira ada kerusuhan).
Dan saat di hotel Munich ini, sedikit demi sedikit amplitudo suaranya pun kian
bertambah sehingga sebagian tamu di lobby sempat menoleh. Tak lupa, tangannya
menunjuk-nunjuk petugas hotel sehingga sang petugas dengan agak keras
menegurnya agar jangan mengacung-acungkan jari ke mukanya. Untung saja kawan
ini tidak menggunakan jari tengah 😜
Sang petugas berusaha keras menjelaskan dan menyabarkannya seraya menyampaikan
bahwa mereka sudah memesankan kamar di hotel lain tanpa biaya tambahan. Tentu
saja kawan ini tidak senang. Begitu juga kami agak kurang bahagia, yang kami
sampaikan dengan ekspresi muka merengut. Wong kami ingin selalu bersama-sama,
kok malah dipisah. Lagipula, kawan inilah yang membawa rice cooker dan
beras yang menjadi andalan ransum selama perjalanan (sila cek kisah
steak di pekarangan suci
Vatikan 😁)
Agar keadaan tidak semakin rusuh, kami menahan diri tidak ikut-ikutan
mengeroyok petugas hotel. Kami bersiaga saja sambil menyimak dialog mereka
dalam mencari solusi.
Merasa mendapat dukungan dari kami, kawan ini semakin pede dan suaranya kian
menggelegar. Bicaranya pun semakin merepet.
Ketika sang petugas masuk ke dalam untuk mengurus sesuatu, kawan ini berbalik
menghadap kami seraya bertanya dengan suara pelan namun serius, "Bahasa
Inggris gue udah bener kan?"
Sontak kami saling pandang dan ngakak bareng. Marah ni yeee ... 😂
Ketika kami mengantarkan ke hotel yang dipesankan untuknya, ternyata kamarnya
malah lebih bagus dibanding yang kami inapi.
Walau tak semujur Bang Toni Toni dalam urusan hotel, kawan ini termasuk
beruntung juga akibat kengototannya. Masih bagus kami tidak melakukan aksi
mendengkur bareng di sofa lobby hotel ala Bang Toni 🤣
Dan sebagai hiburan usai ketegangan di hotel tadi, tentu saja kami habiskan
waktu penuh bahagia dengan pesiar keliling kota. Karena memang itu tujuan kami
yang sebenarnya singgah ke kota ini.
Ternyata banyak juga hal unik yang bahkan membuat geli sepanjang perjalanan,
seperti yang terlihat dalam foto-foto di bawah ini.
Paulaner di Jakarta tergolong restoran besar dan cukup mahal. Sedangkan
di sini mungil saja ala kios.
Resto Uyghur bernama unik. Entah maksudnya "tak lah makan" (kesannya
malah melarang makan) atau "tak lama, kan" (cocok untuk resto cepat
saji).
Saya curiga resto ini milik orang Sunda. Namanya ditulis sok gaya jadi
"LeboQ". Padahal mah tulis aja "Lebok" yang artinya makan (bahasa
kasar). Jangan-jangan memang punya Mang Kabayan 😁
Belum sempat bertanya apakah pemilik hotel ini berasal dari
Malang.
Kisah yang sebenarnya teramat ingin dilupakan namun tak juga terkubur. Siapa
tahu bisa menyublim menjadi uap jika diceritakan.
Ritual teriakan menyeberangi sungai
Alkisah, saya dan 5 kawan berkesempatan menyambangi kota Roma nan legendaris
seantero jagad. Sesuai pemeo "banyak jalan menuju Roma", entah apa pun kiatnya
(yang berbalut beberapa tragedi pula) akhirnya kami sampai juga ke sana.
Hallelujah!.
Berbekal tiket terusan bis wisata hop-on hop-off berikut petanya, kami
pun berpuas berkeliling menikmati berbagai lokasi wisata di Roma, seperti
Colosseum, air mancur Trevi yang dasar kolamnya penuh koin permintaan, Spanish
Step, Pantheon yang semula adalah kuil pemujaan para dewa-dewi Romawi, dsb.
sambil tak lupa mengumbar foto serta menikmati es krim asli Italia yang bukan
keluaran Ragusa.
Telanjur sudah di Roma, walau kami bukanlah pemeluk agama yang saleh, malah
tak semuanya beragama Katolik, tentu saja tak ada salahnya berkunjung ke
negara mini Vatikan yang merupakan episentrum agama Katolik sedunia. Wong
tempat ini sudah menjadi salah satu destinasi wisata. Lagipula jaraknya hanya
sepelemparan serabi kinca dari kota Roma.
Tengah hari, sampailah kami di perbatasan kota Vatikan. Sambil menyeberangi
Sungai Tiber (kalau tidak salah) kami pun melakukan ritual berteriak bersama
di atas jembatan, macam orang gila yang baru saja kena sosor angsa.
Dari kejauhan, kubah Basilika Santo Petrus sudah tampak. Berkilau disiram
cahaya lembut mentari. Tiang obelix yang tegak menjulang di tengah lapangan
pun seperti melambai-lambai riang menyambut kedatangan kami. Rasanya tak sabar
untuk segera menelusuri seluruh pelosok kota yang penuh karya para maestro
ini.
Tapi perut sudah menagih diisi. Selayaknya lokasi wisata, tentu saja restoran
ataupun gerobak penjaja makanan (juga cenderamata) bertebaran di sekitar situ.
Saya sih tidak masalah dengan makanan apa saja. Mau European atau Asian, oke
saja. Dengan catatan: tidak pedas!!!. Maklumlah, perut sudah tidak
seperkasa masa muda. Sedangkan beberapa kawan kurang sreg dengan makanan Eropa
sehingga kami kerap berusaha mencari sajian Asia seperti Chinese atau
Vietnamese yang lebih suai dengan selera mereka.
Ternyata di seputaran Vatikan tak ada restoran Asia. Alternatifnya adalah
makanan yang sudah diakrabi, semisal burger atau pizza. Walau rasanya tentu
tidak senikmat di tanah air. Kebanyakan makanan di sana tergolong hambar
seperti kekurangan bumbu. Pantas saja dulu orang Eropa gigih banget mencari
rempah-rempah hingga Nusantara.
Kebetulan ada sebuah restoran kecil yang menjual burger. Mampirlah kami ke
sana. Kalau tidak salah, € 4 sebuah. Bolehlah. Sekadar mengganjal perut hingga
sore.
Saat sedang memilih burger yang kira-kira cocok di lidah, seorang kawan
mengatakan bahwa resto itu sedang promosi 𝘴𝘵𝘦𝘢𝘬 komplet. Hanya € 7, katanya.
Wah, tentu saja kabar ini kami sambut penuh sukacita. Kami pun segera masuk ke
resto dan duduk sekeliling meja makan.
O ya, resto di Eropa umumnya agak belagu setengah tak berperikemanusiaan.
Kalau kita hanya membeli minuman atau makanan ringan, biasanya tidak boleh
duduk. Silakan berdiri di trotoar atau bawa pergi. Jangankan duduk, numpang
pipis saja kadang tidak boleh kalau tidak belanja. Atau harus bayar antara €
0.5 hingga € 2 per sekali setor.
Begitu kami duduk, pelayan menanyakan pesanan. Dengan penuh ketegasan kami
memesan steak promo tadi. Pelayan bertanya, berapa porsi? Satu per
orang, kata kami. Melihat gambar steak berikut kentang dan sayurnya,
pastilah memadai untuk bertahan sampai makan malam nanti.
Setelah berdiskusi dengan sang pelayan, seorang kawan kemudian mengatakan
bahwa kami ditawari paket yang menggabungkan 6 porsi tadi menjadi 1 loyang
besar. Oke sajalah, sahut kami tidak berkeberatan.
Sambil menunggu, kami pun melepas dahaga dengan air bening yang disediakan di
meja. Entah kenapa, sang pelayan melarang kami menuangkan sendiri air dari
teko ke gelas. Dialah yang melakukannya dengan sangat ramah dan sopan. Dan
saat minta ijin menggunakan WC, dengan sigap sang pelayan mengambilkan kunci
pintu WC seraya menunjukkan jalannya ke lantai bawah. Bergiliran kami buang
air kecil.
Setelah itu, sang pelayan dengan setia berdiri di dekat meja selama kami di
situ, seakan bersiaga andai ada yang kami perlukan. Wah, sungguh luar biasa
memang perilaku orang-orang di sekitar kota suci ini, komentar saya. Bintang
lima nih ⭐⭐⭐⭐⭐
Steak empuk, gurih, banyak
Tak berapa lama, datanglah pesanan kami. Satu loyang besar daging matang
yang sudah dipotong-potong dan masih panas. Ruap wanginya sungguh
membangkitkan selera. Dengan penuh semangat kami melahap hidangan yang
memang sangat empuk dan gurih.
"Enak bener nih daging. Banyak pula. Kenyang bahagia deh kita siang ini,"
komentar salah seorang kawan dengan sumringah.
Usai menggasak makanan semampu perut menampung, kami berpesan pada pelayan
untuk membungkuskan sisa steak. Masih dapat 1 kotak kecil. Lumayan
...
Setelah leyeh-leyeh sejenak memberi kesempatan bagi usus mencerna makanan,
kawan yang bertugas sebagai bendahara menuju kasir untuk menuntaskan
pembayaran. Sesaat kemudian, dia kembali dengan wajah tegang setengah pucat
seperti lirik lagu, "That her face at first just ghostly, turned a whiter shade of pale."
"Kenapa?" tanya kami heran.
Dia menyodorkan bon tagihan makanan kepada kami. Tertera angka € 279.40,
yang kalau dikurs menjadi Rp 4 juta lebih. Hah?!! Katanya € 7. Dikali 6
orang, paling banter kena € 50 lebih sedikit lah plus tip. Kok jadi ratusan
begini?
Tagihan yang bikin lemas
Kawan saya segera memanggil pelayan yang ramah tadi untuk meminta
penjelasan. Sementara kami yang baru saja bersyukur atas makan siang yang
enak, langsung terkulai lemas di kursi masing-masing. Entah apa penjelasan
yang disampaikan oleh pelayan ramah tadi, kami sudah tak menyimak. Ada
kemungkinan ketika kami meminta steak promo sebanyak 6 paket, sang
pelayan menawarkan paket lain untuk berenam. Berpikir bahwa tawaran ini
sekadar menyatukan 6 paket promo menjadi 1 loyang, kami setuju. Ternyata
beda barang, Fergusso! 😓
Telanjur makanan sudah masuk perut dan malas berurusan dengan persoalan yang
bisa merusak reputasi bangsa (cie, cie, cie ... I love Indonesia 🇮🇩)
dengan berat hati digeseklah kartu kredit dengan tagihan sekian ratus Euro
untuk sekali makan yang sebenarnya tidak masuk dalam kategori makanan mewah
ala restoran eksklusif. Wong ini hanya resto kecil yang
nyempil dan biasa-biasa saja.
Keluar dari restoran, agak lunglai langkah kami memasuki pelataran Basilika
Santo Petrus. Rencana makan burger € 4 malah keluar duit lebih dari € 46 per
orang. Pantas saja pelayan itu demikian menghormati dan melayani kami dengan
ekselen. Rupanya, tidak hanya di Indonesia, bahkan orang bule di Eropa pun
menganut paham "ada udang di balik bakwan; ada uang, saya servis abang" 😜
Kendati demikian, kami sepakat untuk konsisten ke tujuan awal berpesiar,
yakni menikmati objek wisata sepuas-puasnya dan menikmati kebersamaan dengan
para sahabat seperjalanan. Alhasil, wajah-wajah kami dalam foto pun tak ada
yang merengut selama menjelajahi Vatikan. Wajah ceria dengan senyum maksimal
tanpa beban selalu ditampilkan dalam foto kenangan.
Hanya saja, saat sorenya naik bis wisata kembali ke penginapan, raut wajah
langsung bertakik-takik seperti patung dipahat kasar tanpa diampelas. Semua
diam dan hanyut dalam pikiran masing-masing. Amblas sudah jatah yang kalau
dipakai di resto Chinese atau Vietnamese bisa untuk beberapa kali makan 😓
Esok paginya, ketika makan nasi putih yang dimasak sendiri (kawan saya ada
yang wajib makan nasi, sehingga dari Indonesia pun dia membawa
rice cooker kecil dan bekal beras beberapa kilo 😊 dengan lauk
Indomie kuah berikut beberapa potong daging sisa makan siang di pelataran
Vatikan, kami tertawa-tawa getir sambil mengunyah dengan sangat khidmat
steak termahal yang pernah jadi makan siang kami.
Beginilah kalau komunikasi dengan bahasa Inggris berbalas pantun dengan
bahasa Italia tanpa sepenuhnya saling paham. Hikmahnya, kami pun menjadi
kian memahami filosofi klasik bahwa
rasa lapar bisa membuat orang khilaf dan kalap 😊
Hanyut dalam pikiran masing-masing saat pulang dari Vatikan
Beladiri Timur yang umumnya lincah dan luwes menjadi populer ke seantero jagad
karena seorang putra kelahiran China Town San Francisco bernama Bruce Lee.
Boleh dibilang, dialah pelopor film aksi bergenre kung-fu era modern.
Generasi selanjutnya yang mendunia antara lain adalah Jacky Chan yang sarat
dengan humor dan Jet Li yang identik dengan gerakan sangkil (efisien) dan
mangkus (efektif).
Di salah satu sudut jalan di San Francisco, tergambar graffiti gambar Bruce
Lee. Sementara sebuah restoran di Los Angeles dengan bangga memasang tulisan
bahwa tempat itu pernah menjadi tempat shooting film Rush Hour (Jacky Chan dan
Chris Tucker).
Di balik kehebohan beraksi bak-bik-buk di hadapan kamera, ternyata mereka pun
kerap menyampaikan filosofi kehidupan yang sangat bernas, yang suai dengan
manusia manapun, tak harus pendekar.
Kekaguman pada kedua tokoh ini membuat saya tak sungkan bergaya kung-fu walau
pasti akan ditertawakan oleh orang yang paham beladiri.
Masabodoh lah. Yang penting, hati senang sehingga hidup tidak terlampau berat
untuk dijalani. Demikianlah filosofi malam ini.
Jika Fernando Tampubolon dengan bangga membentangkan syal Manchester United di
Grindewald, maka saya yang nasionalis-patriotis Merah-Putih sejati memilih
menggunakan jersey PERSIB Bandung di Milan 💪
Walau tak seorang pun manusia di kawasan paling ramai, Duomo di Milano (Milan
Cathedral), mengenal kesebelasan kebanggaan bobotoh Bandung ini, saya
tidak peduli. Yang penting pede aja.
Bahkan, dengan sengaja saya menyambangi San Siro Stadio, tempat para pemain
bola idola dari AC Milan dan Inter Milan merumput disemangati oleh para
tifosi yang ganteng dan seksi. Ingin rasanya memamerkan
jersey kesebelasan yang hingga saat ini belum pernah dikalahkan oleh AC
Milan maupun Inter Milan 😜
Bang Ahmad Yani Aksa dan Mas Enri Rasjidin memberikan koreksi bahwa PERSIB
pernah menghadiahkan 8 gol bagi kemenangan AC Milan di Jakarta. Tuan rumah
yang baik mah kudu gitu. Menyenangkan tamu. Jangan sampai AC Milan
menyesal membeli pemain mahal lalu kalah oleh Maung Bandung 😜
Namun, pada hari itu suasana sangat sepi karena sedang tidak ada pertandingan.
Gagallah rencana pamer. Telanjur mampir, saya pun mengencingi stadion nan
megah ini sebagai penanda kehadiran 🙈
Turut mendampingi kunjungan PERSIB ke San Siro adalah perwakilan dari
kesebelasan Arema Malang, Semen Padang, dan PSSI
MERDEKA!!! 🇮🇩
Pojokan tempat pipis 🙈
Perwakilan kesebelasan Arema Malang, Semen Padang, PERSIB, dan PSSI
Senja kian romantis saat meninggalkan stadion legendaris San Siro
Hanya saja ketika berkunjung ke menara Eiffel secara bersendiri karena istri
merasa sangat letih dan terpaksa beristirahat di hotel, rasanya hati ini
nelangsa juga. Imaji tentang Eiffel yang acap dikisahkan dalam novel dan film
pun jadi hambar dan terasa picisan kehilangan pagutannya.
Namun, apa boleh buat. Berhubung kaos kebanggaan M83 sudah disiapkan sejak
malam sebelumnya, saya pun memenuhi janji menyambangi Eiffel setelah
memesankan sarapan untuk istri.
Di periferal menara besi mengangkang yang [tak sengaja] menjadi ikon kota
Paris, saya termangu. Sekelebat wawasan menghunjam telak.
Barangkali harus seperti inilah cinta yang bertahan.
Tetap tegar walau tak sempurna.
Dengan berbagai ruang di mana burung-burung bisa bersarang dan berkicau.