📌 Minggu, 03 Oktober 2021 🌐

Saat Hotel Bikin Naik Pitam

Saat Hotel Bikin Naik Pitam

— Munich, 15 Maret 2016

Berhubung ini adalah celeng liburan,
saya sertakan foto bersama celeng
yang nekad berlibur di kota Munich 😊

Siang itu kami tiba di hotel yang sudah dipesan jauh-jauh hari saat masih di Jakarta. Sesampai di sana, ternyata pesanan atas nama seorang kawan tidak tersedia. Maka, sibuklah kawan ini berbicara dengan petugas hotel. Sementara kami duduk di sofa dekat meja resepsionis menanti kejujuran eh kepastian.

Kurang jelas apa yang mereka bahas, perbincangan yang semula santai untuk menanyakan alasan hotel tidak memenuhi janjinya, lama-lama kian memanas. Padahal udara terasa makin dingin dan salju mulai bertaburan di luar.

Kawan yang satu ini memang agak temperamental. Saya ingat dia pernah berteriak-teriak keras dalam bahasa Mandarin di pasar Ben Thanh, Ho Chi Minh City, Vietnam, karena merasa sang pedagang tidak memperlakukannya secara layak. Barangkali ada sekitar 1/17 pengunjung pasar yang terkaget-kaget mendengar teriakannya (sebenarnya sih saya gak sempat menghitung, ini perkiraan saja karena saya yang berada beberapa belas meter dari tempatnya pun kaget mengira ada kerusuhan).

Dan saat di hotel Munich ini, sedikit demi sedikit amplitudo suaranya pun kian bertambah sehingga sebagian tamu di lobby sempat menoleh. Tak lupa, tangannya menunjuk-nunjuk petugas hotel sehingga sang petugas dengan agak keras menegurnya agar jangan mengacung-acungkan jari ke mukanya. Untung saja kawan ini tidak menggunakan jari tengah 😜

Sang petugas berusaha keras menjelaskan dan menyabarkannya seraya menyampaikan bahwa mereka sudah memesankan kamar di hotel lain tanpa biaya tambahan. Tentu saja kawan ini tidak senang. Begitu juga kami agak kurang bahagia, yang kami sampaikan dengan ekspresi muka merengut. Wong kami ingin selalu bersama-sama, kok malah dipisah. Lagipula, kawan inilah yang membawa rice cooker dan beras yang menjadi andalan ransum selama perjalanan (sila cek kisah steak di pekarangan suci Vatikan 😁)

Agar keadaan tidak semakin rusuh, kami menahan diri tidak ikut-ikutan mengeroyok petugas hotel. Kami bersiaga saja sambil menyimak dialog mereka dalam mencari solusi.

Merasa mendapat dukungan dari kami, kawan ini semakin pede dan suaranya kian menggelegar. Bicaranya pun semakin merepet.

Ketika sang petugas masuk ke dalam untuk mengurus sesuatu, kawan ini berbalik menghadap kami seraya bertanya dengan suara pelan namun serius, "Bahasa Inggris gue udah bener kan?"

Sontak kami saling pandang dan ngakak bareng. Marah ni yeee ... 😂

Ketika kami mengantarkan ke hotel yang dipesankan untuknya, ternyata kamarnya malah lebih bagus dibanding yang kami inapi.

Walau tak semujur Bang Toni Toni dalam urusan hotel, kawan ini termasuk beruntung juga akibat kengototannya. Masih bagus kami tidak melakukan aksi mendengkur bareng di sofa lobby hotel ala Bang Toni 🤣

Dan sebagai hiburan usai ketegangan di hotel tadi, tentu saja kami habiskan waktu penuh bahagia dengan pesiar keliling kota. Karena memang itu tujuan kami yang sebenarnya singgah ke kota ini.

Ternyata banyak juga hal unik yang bahkan membuat geli sepanjang perjalanan, seperti yang terlihat dalam foto-foto di bawah ini.

Paulaner di Jakarta tergolong restoran besar dan cukup mahal. Sedangkan di sini mungil saja ala kios.

Resto Uyghur bernama unik. Entah maksudnya "tak lah makan" (kesannya malah melarang makan) atau "tak lama, kan" (cocok untuk resto cepat saji).

Saya curiga resto ini milik orang Sunda. Namanya ditulis sok gaya jadi "LeboQ". Padahal mah tulis aja "Lebok" yang artinya makan (bahasa kasar). Jangan-jangan memang punya Mang Kabayan 😁

Belum sempat bertanya
apakah pemilik hotel ini
berasal dari Malang.

Kondisi Munich saat malam kembali ke hotel.

#aiglCeritaLiburan

📌 Minggu, 03 Oktober 2021 16:17🌐

Tidak ada komentar:

Posting Komentar