Entah disadari atau tidak, pertanyaan-pertanyaan di atas memiliki tautan
benang merah yang bermuara pada "gugatan" terhadap keberadaan Adam dan Hawa
sebagai satu-satunya pasangan manusia ketika bumi ini bermula (diciptakan
Tuhan). Dan secara tidak kentara, pertanyaan-pertanyaan itu pun akan
menggiring kita ke persoalan yang lebih gaduh, yakni pertarungan panjang
[namun saya yakini tidak akan abadi] antara
teori evolusi (yang dianggap sebagai sangkur ilmu pengetahuan) dengan
doktrin kreasi (yang dianggap sebagai perisai iman).
Sayangnya, hingga kini belum ada satu pun bukti ilmiah yang mampu memberi
sokongan kuat bagi keyakinan kaum kreasionis yang menyatakan bahwa seluruh
umat manusia yang ada hingga sekarang di bumi ini adalah keturunan Adam-Hawa
kecuali kisah yang dituturkan guru Sekolah Minggu pada kanak-kanak ??.
Sebaliknya dengan teori evolusi yang kian hari kian bertambah bukti
pendukungnya.
Diskusi semacam ini dapat dikatakan sudah menjadi menu klasik alias selalu
berulang di berbagai milis, yang intinya sama saja:
iman versus akal-budi (ilmu pengetahuan).
Sebelum memasuki padang pertarungan penuh onak dan jerat tersebut, ada baiknya
jika kita terlebih dahulu memperbandingkan informasi yang ada perihal masa
keberadaan mahluk yang disebut manusia di bumi ini.
Dengan demikian, keberadaan manusia di bumi sejak Adam sampai dengan lahirnya
Abram/Abraham menurut Alkitab adalah 1.946 tahun.
Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham.
- Abraham memperanakkan Ishak,
- Ishak memperanakkan Yakub,
- Yakub memperanakkan Yehuda dan saudara-saudaranya,
- Yehuda memperanakkan Peres dan Zerah dari Tamar,
- Peres memperanakkan Hezron,
- Hezron memperanakkan Ram,
- Ram memperanakkan Aminadab,
- Aminadab memperanakkan Nahason,
- Nahason memperanakkan Salmon,
- Salmon memperanakkan Boas dari Rahab,
- Boas memperanakkan Obed dari Rut,
- Obed memperanakkan Isai,
- Isai memperanakkan raja Daud.
- Daud memperanakkan Salomo dari isteri Uria,
- Salomo memperanakkan Rehabeam,
- Rehabeam memperanakkan Abia,
- Abia memperanakkan Asa,
- Asa memperanakkan Yosafat,
- Yosafat memperanakkan Yoram,
- Yoram memperanakkan Uzia,
- Uzia memperanakkan Yotam,
- Yotam memperanakkan Ahas,
- Ahas memperanakkan Hizkia,
- Hizkia memperanakkan Manasye,
- Manasye memperanakkan Amon,
- Amon memperanakkan Yosia,
-
Yosia memperanakkan Yekhonya dan saudara-saudaranya pada waktu
pembuangan ke Babel.
- Sesudah pembuangan ke Babel, Yekhonya memperanakkan Sealtiel,
- Sealtiel memperanakkan Zerubabel,
- Zerubabel memperanakkan Abihud,
- Abihud memperanakkan Elyakim,
- Elyakim memperanakkan Azor,
- Azor memperanakkan Zadok,
- Zadok memperanakkan Akhim,
- Akhim memperanakkan Eliud,
- Eliud memperanakkan Eleazar,
- Eleazar memperanakkan Matan,
- Matan memperanakkan Yakub,
-
Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang
disebut Kristus.
Jadi seluruhnya ada: empat belas keturunan dari Abraham sampai Daud, empat
belas keturunan dari Daud sampai pembuangan ke Babel, dan empat belas
keturunan dari pembuangan ke Babel sampai Kristus.
Dengan demikian terdapat 42 generasi dari Abraham hingga Yesus. (Jangan
tanya saya saat ini mengapa angka di atas bukan 14 + 14 + 14 melainkan 13 +
14 + 12 ??.)
Menggunakan umur rata-rata manusia ketika memperanakkan generasi berikutnya,
kita bisa memperkirakan jumlah totalnya. Agar tidak tanggung-tanggung, kita
gunakan saja pengandaian yang sangat ekstrem bahwa seorang manusia baru
memperanakkan generasi berikutnya pada akhir hayatnya, yakni usia 120 tahun
(bdk. Kejadian 6:3). Maka, jarak yang terbentang dari Abraham hingga Yesus
adalah 42 x 120 tahun =
5.040 tahun.
Ditambah dengan masa keberadaan manusia sejak Adam hingga lahirnya Abraham,
jumlahnya menjadi 5.040 + 1.946 = 6.986 tahun.
Dengan memberi kelonggaran toleransi yang cukup ugal-ugalan hingga 30%, kita
peroleh angka 6.986 x 1,3 = 9.081,8 tahun.
Ditambah jarak antara tahun kelahiran Yesus (diasumsikan pada tahun 0 yang
imajiner itu!) terhadap saat ini, maka keberadaan manusia di bumi adalah
9.081,8 + 2.003 = 11.084,8 tahun.
Agar tidak memboroskan memori otak, kita bulatkan saja angka tersebut secara
moderat ke atas menjadi 12.000 tahun. Pembulatan yang sudah sangat
longgar tersebut rasanya cukup adil untuk mengabaikan selisih 6 hari yang
terentang antara saat penciptaan bumi dengan saat penciptaan manusia. Dengan
demikian, angka 12.000 tahun tersebut dapat kita perlakukan sebagai umur
bumi juga.
Ada cukup banyak variasi angka yang diajukan perihal umur bumi. Misalnya
Ussher [4004], Yahudi [3760], Septuaginta [5270], Josephus [5555], Kepler
[3993], Melanchton [3964], Martin Luther [3961], Lightfoot [3960], Hales
[5402], Playfair [4008], Lipman [3916], dan lain-lain. (The Genesis Record,
H.M. Morris, halaman 45, Baker Book House, Grand Rapids, Michigan, U.S.A.,
1990).
# Ilmu Pengetahuan
Di sisi lain, temuan arkeologi-paleontologi tentang fosil-fosil manusia
purba dan tahun kehadirannya di bumi yang saya sadur dari tulisan Zhao Yun
pada tanggal 4 Mei 2000 di milis
proletar@yahoogroups.com
memberikan informasi sebagai berikut:
- Ardipithecus Ramidus (± 4,4 juta tahun)
- Australopithecus Anamensis (± 3,9 juta tahun)
- Australopithecus Afarensis (± 3 juta tahun)
- Australopithecus Africanus (± 2 juta tahun)
- Australopithecus Garhi (± 2,5 juta tahun)
- Australopithecus Aethiopus (± 2,3 juta tahun)
- Australopithecus Robustus (± 2 s/d 1,5 juta tahun)
- Australopithecus Boisei (± 2 s/d 1,1 juta tahun)
-
Homo Habilis (handy man, sudah mengenal peralatan, ± 2 s/d 1,5
juta tahun)
- Homo Erectus (± 1,8 juta tahun s/d 300.000 tahun)
- Homo Sapiens (± 500.000 tahun)
- Homo Sapiens Neandherthalis (± 230.000 s/d 30.000 tahun)
- Homo Sapiens Sapiens (manusia modern, ± 120.000 tahun)
"Loncatan" besar pertama terjadi pada Homo Habilis dengan munculnya
hominid yang mampu menggunakan peralatan. Diperkirakan Homo Habilis
ini adalah kelanjutan dari genus Australopithecan karena banyak kesamaan
antara keduanya.
"Loncatan" kedua terjadi pada Homo Erectus. Diperkirakan Homo Erectus ini
sudah menggunakan api dan peralatan sederhana yang terbuat dari batu.
Penyebaran situs penemuan menunjukkan bahwa semua Homo Habilis dan
Australopithecan ditemukan di benua Afrika, tetapi Homo Erectus ditemukan
di seluruh dunia (dari Jawa, Afrika, Peking sampai Eropa).
"Loncatan" ketiga terjadi pada Homo Sapiens Sapiens (manusia modern).
Penyelidikan pada kultur Cro-Magnon --yang termasuk manusia modern--
menunjukkan bahwa spesies ini bisa berbahasa dan punya kebudayaan
civilization cukup tinggi (lukisan, ukiran, bahkan musik
sederhana).
Studi perbandingan temuan-temuan fosil pada masa Paleolitikum (± 30.000
tahun) dan Mesolitikum (± 10.000 tahun) menunjukkan bahwa bentuk wajah,
dagu, dan susunan geligi mengalami perubahan yang makin "modern" pada
fosil yang makin muda. Ini menunjukkan adanya perubahan diet makanan dan
kondisi alamiah yang makin ber-"budaya".
Studi persamaan gen menunjukkan bahwa Australopithecus Robustus,
Australopithecus Boisei dan Australopithecus Aethiopicus
bukanlah nenek moyang manusia modern. Artinya mereka adalah spesies
yang berbeda dari garis nenek moyang manusia modern.
Homo Neandherthalis juga bukanlah nenek moyang manusia modern.
Studi perbandingan genetik menunjukkan bahwa manusia Neandherthal ini
mempunyai struktur DNA yang berbeda dari manusia modern.
Teori terbaru tentang penyebaran manusia modern adalah
Out of Africa yang menduga bahwa Homo Sapiens Sapiens ini
berkembang di Afrika dan menyebar ke seluruh dunia serta mendesak Homo
Neandherthalis yang sudah lebih dahulu bermukim di Eropa hingga punah.
Anda bisa klik di
http://www.sciam.com/1999/0899issue/0899infocus.html
jika tertarik pada analisis terbaru tentang teori ini.
Sedang apakah ada "perkawinan" silang antara Homo Sapiens Sapiens
(Cro-Magnon) dengan manusia Neandherthal, masih merupakan debat yang belum
konklusif.
Ringkasnya, ilmu pengetahuan mengajukan temuan fosil Ardipithecus Ramidus
sebagai manusia tertua yang pernah/sudah ditemukan yang sudah hadir di bumi
ini sekitar 4,4 juta tahun yang lalu. Dan fosil manusia modern yang
dinamakan Homo Sapiens Sapiens berasal dari masa sekitar
120.000 tahun yang lalu. Hal ini berarti bahwa umur bumi jauh lebih
tua lagi.
2. Narasi Alkitab
Kini, mari kita simak Alkitab yang menjadi pemicu munculnya dua pertanyaan
yang mengawali topik bahasan ini.
Alkitab menuturkan bahwa Adam-Hawa adalah sepasang manusia pertama di dunia,
yang diciptakan Tuhan di Taman Eden. Akibat melanggar larangan Tuhan, mereka
diusir keluar dari Taman Eden ke dunia luas. Mereka kemudian memiliki anak:
Kain dan Habel. Karena Kain membunuh Habel, maka Tuhan menghukum Kain dengan
mengusirnya dari tanah tempat Adam-Hawa bermukim di luar Taman Eden.
Amatlah menarik membaca fragmen Alkitab yang mengisahkan protes Kain atas
hukuman yang dijatuhkan Tuhan:
Kata Kain kepada TUHAN: "Hukumanku itu lebih besar dari pada yang dapat
kutanggung. Engkau menghalau aku sekarang dari tanah ini dan aku akan
tersembunyi dari hadapan-Mu, seorang pelarian dan pengembara di bumi; maka
barangsiapa yang akan bertemu dengan aku, tentulah akan membunuh aku."
Firman TUHAN kepadanya: "Sekali-kali tidak! Barangsiapa yang membunuh Kain
akan dibalaskan kepadanya tujuh kali lipat." Kemudian TUHAN menaruh tanda
pada Kain, supaya ia jangan dibunuh oleh barangsiapapun yang bertemu
dengan dia.
Lalu Kain pergi dari hadapan TUHAN dan ia menetap di tanah Nod, di sebelah
timur Eden.
-- Kejadian 4:13-16
# Calon Pembunuh Kain
Dari ayat-ayat di atas, terbaca jelas bahwa Kain khawatir dibunuh oleh
orang lain yang akan ditemuinya dalam pengembaraan setelah
meninggalkan kawasan kediaman Adam-Hawa di luar Taman Eden. Siapakah orang
lain yang ditakutinya? Tentunya bukan Adam-Hawa. Lalu siapa?
Berbasiskan asumsi bahwa manusia ciptaan Tuhan hanyalah Adam-Hawa, maka
orang yang ditakuti Kain tersebut sudahlah pasti keluarga kandungnya
sendiri, baik yang dilahirkan dari Adam-Hawa (yakni Set dan adik-adiknya)
ataupun keturunan mereka.
Jika orang itu adalah saudara kandung Kain, maka kisah di atas tidaklah
memberikan pemahaman yang melegakan, karena kita akan dihadapkan pada
beberapa persoalan.
-
Set dan adik-adiknya lahir setelah Kain sekian lama pergi. Bagaimana Kain
bisa tahu pada saat itu bahwa Adam-Hawa akan memiliki anak lagi? Hal ini
patut kita cermati, karena bukan Tuhan yang memberitahu Kain mengenai masa
depan, melainkan Kainlah yang pertamakali menengarai keberadaan orang
tersebut pada waktu itu. Dalam hal ini, Kain mengkhawatirkan
ancaman tersebut akan terjadi sejak awal pengembaraannya, bukan pada masa
yang akan datang --yang entah kapan-- setelah Set dan adik-adiknya lahir.
-
Jika orang itu adalah saudara kandung Kain, kemungkinan besar dia tinggal
bersama-sama Adam-Hawa, bukan akan bertemu Kain di perjalanan. Mengapa dia
harus keluar dari tanah tempat Adam-Hawa bermukim?
-
Sebagai anak Adam-Hawa, tentulah orang itu mengetahui bahwa Kain adalah
saudara kandungnya sendiri. Lalu, mengapa Tuhan memandang perlu memberi
tanda khusus pada kening Kain yang menimbulkan kesan bahwa orang itu sama
sekali tidak mengenal Kain? Kain, Set, dan adik-adiknya yang lain pastilah
amat bodoh sehingga dalam pikiran mereka tidak pernah terbersit gagasan
bahwa manusia lain selain dirinya pastilah saudaranya sekandung dari
Adam-Hawa, bapak-ibu mereka.
(Jika Adam-Hawa tidak pernah bercerita tentang Kain-Habel maupun
kedudukan mereka sebagai satu-satunya manusia ciptaan Tuhan, darimanakah
datangnya narasi Adam-Hawa dan keturunannya sebagaimana tercantum dalam
Alkitab?)
-
Kalaupun Adam-Hawa tidak pernah bercerita mengenai Kain-Habel pada Set dan
adik-adiknya, tidaklah berlebihan jika kita mengasumsikan Kain mengetahui
bahwa manusia yang lain pastilah saudara kandungnya sendiri. Tetapi,
anehnya, Kain menyebutnya sebagai "orang lain
yang ditemuinya di perjalanan" yang menyiratkan keasingan.
Walhasil, cukup sukar untuk menerima kemungkinan bahwa orang yang dimaksud
adalah saudara kandung Kain. Kesulitan yang sama juga berlaku bagi para
keturunan Set dan saudara-saudaranya.
Dengan memperhatikan secara seksama kata-kata Kain ("barangsiapa yang
bertemu dengan aku") dan sabda Tuhan ("barangsiapa yang membunuh
Kain"), mencuat isyarat penunjukan pada siapa pun manusia yang belum
teridentifikasi secara pribadi. Jika saat itu hanya ada Adam-Hawa-Kain
setelah Habel mati, mengapa Kain dan Tuhan menunjuk pada sosok yang
tidak/belum dikenal namun dianggap sudah eksis sebelum Kain menetap di Nod?
Tanpa kegegapgempitaan, hal ini merupakan sebuah tanda kecil tentang sudah
adanya manusia lain selain keluarga Adam-Hawa.
# Istri Kain
Pada ayat selanjutnya dari kisah Kain dalam Alkitab tercantum:
Kain bersetubuh dengan isterinya dan mengandunglah perempuan itu, lalu
melahirkan Henokh; kemudian Kain mendirikan suatu kota dan dinamainya kota
itu Henokh, menurut nama anaknya.
-- Kejadian 4:17
Siapakah perempuan yang dikawini Kain saat menetap di tanah Nod setelah
diusir dari kediaman Adam-Hawa? Jika manusia yang ada saat itu hanyalah
Adam-Hawa dan keturunannya saja, maka hanya merekalah kemungkinannya.
Jika Kain mengawini saudara perempuannya sekandung dari Adam-Hawa secara
incest, maka kita akan dihadapkan pada beberapa argumentasi bantahan
sebagai berikut:
-
Saat diusir dari tanah kediaman Adam-Hawa, Kain tidak memiliki saudara
lain. Set baru lahir saat Adam berusia 130 tahun, entah berapa tahun
setelah Kain pergi ke tanah Nod. Entah kapan pula anak-anak perempuan
Adam-Hawa dilahirkan. Bahkan, bukannya tidak mungkin mereka dilahirkan
setelah Kain mati 😞
-
Jika dirunut berdasarkan urutan ayatnya (yang berarti membaca Alkitab
secara harafiah sebagaimana lazim dilakukan oleh kaum
kreasionis-literalis!), maka perkawinan Kain dengan seorang perempuan
tersebut sudah lebih dulu terjadi dibanding lahirnya Set maupun anak-anak
perempuan Adam lainnya.
-
Tidak ada petunjuk dalam Alkitab yang memberi gambaran tentang anak-anak
perempuan Adam-Hawa maupun keturunannya yang lain yang menyusul Kain dan
kemudian dikawini oleh Kain setelah kepergiannya dari kediaman Adam-Hawa.
Mungkinkah Kain mengawini anak perempuan Set alias mengawini keponakannya
sendiri yang lahir entah berapa puluh atau ratus tahun setelah Kain? Jika
memang demikian, patut disangsikan bahwa keturunan Adam-Hawa tidak mengenal
Kain. Otomatis, langsung gugur pulalah peluang mereka sebagai calon pembunuh
Kain. Amatlah janggal (dan sekaligus merendahkan kecerdasan 😒) jika kita
beranggapan bahwa mereka tidak mengenali paman sekaligus ipar mereka
sendiri, konon pula membunuhnya.
Agaknya, tidaklah terlalu berlebihan jika kita mengandaikan sudah ada
manusia lain selain keluarga Adam-Hawa-Kain.
# Lawan Lamekh
Lebih lanjut lagi, Alkitab bertutur:
Bagi Henokh lahirlah Irad, dan Irad itu memperanakkan Mehuyael dan
Mehuyael memperanakkan Metusael, dan Metusael memperanakkan Lamekh.
Lamekh mengambil isteri dua orang; yang satu namanya Ada, yang lain Zila.
Ada itu melahirkan Yabal; dialah yang menjadi bapa orang yang diam dalam
kemah dan memelihara ternak. Nama adiknya ialah Yubal; dialah yang menjadi
bapa semua orang yang memainkan kecapi dan suling.
Zila juga melahirkan anak, yakni Tubal-Kain, bapa semua tukang tembaga dan
tukang besi. Adik perempuan Tubal-Kain ialah Naama.
Berkatalah Lamekh kepada kedua isterinya itu: "Ada dan Zila, dengarkanlah
suaraku: hai isteri-isteri Lamekh, pasanglah telingamu kepada perkataanku
ini: Aku telah membunuh seorang laki-laki karena ia melukai aku, membunuh
seorang muda karena ia memukul aku sampai bengkak; sebab jika Kain harus
dibalaskan tujuh kali lipat, maka Lamekh tujuh puluh tujuh kali lipat.
-- Kejadian 4:18-24
Siapa pulakah seorang laki-laki muda yang dibunuh oleh Lamekh? Apakah
kerabatnya sendiri? Jika benar demikian, mengapa Lamekh tidak memberikan
gambaran yang cukup jelas, bahkan mengesankan bahwa orang itu sama sekali
tidak dikenal? Ataukah orang itu sama sekali tidak ada hubungan darah dengan
Lamekh?
Menurut hemat saya, bukanlah merupakan sebuah kejumawaan jika kita mencoba
mengisi "lubang" yang disisakan oleh Alkitab dengan kemungkinan telah adanya
manusia [jenis] lain selain yang berasal dari jalur Adam-Hawa-Kain. Dengan
membuka diri terhadap kemungkinan-kemungkinan tersebut, tampaknya pertanyaan
awal tentang "orang yang ditakuti Kain akan membunuhnya jika bertemu" maupun
"istri Kain" mulai menemukan titik terangnya.
Namun persoalan masih jauh dari selesai 😞.
Waiting
source unknown
Berbagai pertanyaan, paparan, dan kemungkinan yang terlontar sepanjang
pembahasan ini kerap menjadi bayang-bayang horor yang menempatkan iman dan
akal-budi di sisi yang berbeda, bahkan bertentangan secara diametral.
Bagaimanakah pertanggungjawaban iman kita terhadap kebenaran yang disodorkan
ilmu pengetahuan? Bagaimana menyikapi 2 hal yang [kelihatannya] bertentangan
seperti itu sementara berlaku pemeo "truth cannot contradict truth"?
Mana yang harus kita genggam? Atau, lebih lanjut lagi, bagaimana menyikapi
keduanya tanpa harus menjadikan diri kita mendua?
Karena saya tidak memosisikan Alkitab sebagai buku panduan ilmiah sekaligus
beranggapan bahwa iman tidaklah harus bertentangan dengan ilmu pengetahuan,
maka saya patut mempertimbangkan kebenaran yang diajukan oleh bukti ilmiah.
Oleh sebab itu saya harus mencari "ruang" yang disisakan oleh Alkitab bagi
ilmu pengetahuan.
3. Spesies Manusia
Secara genetika, tentunya Adam-Hawa termasuk Homo Sapiens Sapiens juga
seperti kita. Karena usia keberadaan manusia di bumi menurut Alkitab secara
literal tidaklah lebih dari 12.000 tahun, maka terbentanglah kesenjangan
waktu terhadap ilmu pengetahuan sebesar 120.000 - 12.000 =
108.000 tahun. Bukan jarak yang sangat kecil sehingga dapat
diabaikan!
Dari kesenjangan waktu itu, timbul pertanyaan:
-
Fosil Homo Sapiens Sapiens siapakah yang muncul di bumi sekitar 108.000
tahun sebelum Adam itu?
-
Apakah manusia-manusia [purba] selain Homo Sapiens Sapiens itu tidak dapat
dikategorikan sebagai manusia juga? Apakah mereka dianggap sebagai
binatang? Kalau begitu, binatang macam apakah yang cukup tinggi
inteligensia dan citarasanya sehingga ada di antara mereka yang sudah
mengenal peralatan dan peradaban sebagaimana layaknya manusia?
Untuk sementara ini, kita tinggalkan saja dulu pertanyaan nomor 1 untuk
dibahas dalam kesempatan lain 😊
Hasil uji DNA dan perbandingan fosil menunjukkan bahwa jalur geneaologi
manusia bukan berupa garis lurus (tunggal, linier) melainkan
bercabang-cabang. Dalam hal ini, manusia yang lebih purba (lebih dulu eksis)
belum tentu merupakan nenek moyang manusia pada masa berikutnya. Demikian
pula manusia yang hidup pada zaman yang sama (misalnya Homo Sapiens
Neanderthalis dan Homo Sapiens Sapiens yang sama-sama masuk kelompok
"manusia modern") tidaklah menunjukkan bahwa mereka sejenis.
Lalu, siapakah nenek moyang manusia lain yang tidak termasuk golongan Homo
Sapiens Sapiens itu? Siapakah yang menciptakan mereka?
Dengan mempertimbangkan pendakuan Alkitab bahwa seluruh alam semesta ini
tanpa kecuali adalah ciptaan Tuhan, tentulah mereka pun merupakan
ciptaan-Nya.
Jadi, siapakah manusia pertama di bumi ini?
Mengacu pada berbagai hal yang sudah dibahas sebelumnya, maka tindakan
paling masuk akal bagi persoalan ini adalah menerima kenyataan tentang sudah
adanya manusia lain (bahkan jenis lain!) yang hidup di luar kawasan Taman
Eden maupun tempat bermukim keluarga Adam-Hawa setelah diusir dari Taman
Eden.
Jika diasumsikan bahwa Adam-Hawa-Kain adalah spesies tertentu hasil ciptaan
Tuhan di Eden, maka bisa diasumsikan juga bahwa manusia di luar kawasan itu
adalah spesies manusia lain (entah Neanderthal, Cro-Magnon, atau yang lain)
yang salah satunya akhirnya kawin dengan Kain [maupun yang dibunuh oleh
Lamekh].
Pertanyaannya: Mungkinkah terjadi persilangan semacam itu?
Walaupun masih menjadi diskursus yang belum konklusif di kalangan ilmiawan,
hal itu ternyata bukanlah sebuah kemustahilan. Artikel di bawah ini
menguatkan dugaan mengenai kemungkinan pernah terjadinya persilangan manusia
modern Homo Sapiens Sapiens dengan Homo Neanderthal.
September 23, 2003
Jawbone Hints at Europe's Earliest Modern Humans
Scientists have uncovered yet another tiny piece of the puzzle of our
origins. Findings published online this week by the Proceedings of the
National Academy of Sciences describe a lower jawbone that they say is the
earliest evidence of anatomically modern humans in Europe.
Three Romanian spelunkers recovered the mandible in February 2002 at a
site in the southwestern Carpathian Mountains known as Pestera cu Oase, or
the "Cave with Bones." The cave also housed other fossils including a
facial skeleton, a temporal bone and a partial braincase that are
currently undergoing examination. Radiocarbon analysis dates the jawbone
to between 34,000 and 36,000 years ago, report Erik Trinkaus of Washington
University and his colleagues.
"The jawbone is the oldest directly dated modern human fossil," Trinkaus
remarks. "Taken together, the material is the first that securely
documents what modern humans looked like when they spread into Europe.
Although we call them 'modern humans,' they were not fully modern in the
sense that we think of living people."
According to the researchers, the jawbone provides perspective on the
emergence of anatomically modern humans in the northwestern Old World,
which is a far from simple story. The two most prominent theories are the
Out of Africa model, which states that Homo sapiens arose in Africa
between 150,000 and 200,000 years ago and went on to replace archaic
hominids such as the Neandertals, and the multiregional evolution model,
which holds that modern humans instead emerged from these archaic
populations across the Old World.
The newly characterized jawbone has many features in common with remains
of other early modern humans found at sites in Africa, the Middle East and
later European locales, but the large face size inferred from the jaw also
hints at the retention of some archaic characteristics. Notes Trinkaus,
"the specimens suggest that there have been clear changes in human anatomy
since then."
In 1999, Trinkaus and his colleagues reported on the discovery of a
25,000-year-old skeleton from Portugal said to share a mix of Neandertal
and modern characteristics. The Pestera cu Oase finds, he adds, "are also
fully compatible with the blending of modern human and Neandertal
populations."
Sarah Graham
http://www.sciam.com/article.cfm?articleID=000DAD6B-8816-1E5E-A98A809EC5880105
Hasil penelitian ilmiah tersebut kian mengokohkan kemungkinan adanya
manusia-manusia lain di luar Taman Eden yang [semula] menjadi tempat mukim
Adam-Hawa. Merekalah yang (1) ditakuti Kain akan membunuhnya, (2) diperistri
oleh Kain, maupun (3) dibunuh oleh Lamekh. Dengan demikian, terjawablah
pertanyaan nomor 2 di atas, bahwa mereka pun pantas disebut manusia. Dus,
Adam-Hawa bukanlah satu-satunya pasangan manusia yang diciptakan oleh Tuhan,
dan juga bukan yang pertama.
Berdasarkan paparan di atas, saya berpendapat bahwa Alkitab sendiri tidak
menutup, bahkan menyodorkan, peluang terhadap kemungkinan tersebut. Dan saya
pun yakin bahwa Alkitab akan terus memberikan pengetahuan baru yang
menjadikan kita lebih rasional dalam beriman. Hanya saja, kita kerap
tidak/belum siap menghadapinya. Padahal pengetahuan baru itu tidak membuat
iman kita jadi kacau-balau, melainkan mendekonstruksi belenggu
doktrin-doktrin kekanak-kanakan yang menjadikan kita robot-robot tanpa
pengertian.
Lalu, bagaimana menyikapi kisah penciptaan alam semesta dan manusia
sebagaimana dituturkan dalam Alkitab?
Kita bahas lain waktu 😊
4. Iman vs Akal-budi atau Tafsir Alkitab vs Ilmu Pengetahuan?
Kian banyak diskusi yang saya ikuti, kian terkristal pula keyakinan saya
bahwa pemahaman Alkitab secara literal perlu dikembalikan pada Alkitab dalam
bentuk pengkajian kritis. Diskusi-diskusi tersebut justru menuntun saya
menemukan pencerahan bahwa Alkitab terbuka pada berbagai pembuktian ilmiah
yang [menurut sebagian orang] dianggap bertentangan dengan Alkitab. Lebih
jauh lagi, Alkitab tidaklah menampik (untuk tidak menggunakan kata
"mendukung") paham evolusi yang ditopang oleh berbagai pembuktian ilmiah.
Tuhan meminta kita mengasihi-Nya juga dengan
segenap akal-budi selain dengan hati, jiwa, dan kekuatan (bdk. Lukas
10:27). Itulah yang seharusnya kita lakukan, bukannya menganiaya akal-budi
pemberian Tuhan dengan mengimani serta mengamini secara membabi-buta
doktrin-doktrin irrasional. Apalagi jika itu hanya bersandar pada dongeng
yang dituturkan di Sekolah Minggu yang disampaikan seturut tingkat penalaran
kanak-kanak 😞
Namun, hingga kini, kebanyakan gereja [tentu saja] masih enggan mengajarkan
hal-hal yang [dianggap] dapat "mengusik" kepercayaan para anggota jemaatnya
bahwa Tuhan adalah pencipta manusia, dengan Adam-Hawa sebagai manusia
ciptaan-Nya yang pertama. Bisa bubar gereja jika anggota jemaatnya mulai
menyangsikan keabsahan Alkitab tentang penciptaan ??. Pemikiran semacam ini
akan lebih mustahil disampaikan ke hadapan jemaat jika gereja tersebut
(termasuk doktrin, pendeta, teolog, dan sebagainya) merupakan pendukung
aliran kreasionisme.
Sikap pemegang otoritas gereja tentunya bisa dimaklumi jika dikaitkan dengan
kedewasaan dan kesiapan iman para anggota jemaatnya. Jemaat yang masih muda
dan rentan imannya tentu akan mudah terkacaukan jika diperhadapkan pada
pernyataan yang [seakan-akan] bertentangan dengan apa yang tertera dalam
Alkitab. Untuk itulah kita perlu mendewasakan iman kita dan sesama agar siap
menerima sodoran data, fakta, dan argumentasi ilmiah sebagai suatu kenyataan
tanpa harus merongrong iman.
Walau demikian, tidak semua gereja gentar berhadap-hadapan dengan ketajaman
sangkur ilmiah. Paus Yohanes Paulus II melalui pernyataan tertulis dalam
sidang Akademi Ilmu Pengetahuan Kepausan pada tanggal 23 Oktober 1996 di
Vatikan menyatakan bahwa Gereja Katolik Roma tidak menafikan teori evolusi
bahkan mengakui bahwa teori itu lebih dari sekedar teori serta tidak
bertentangan dengan iman Kristen.
Sejatinya iman dan akal-budi bukanlah dua seteru yang memaklumkan perang
abadi sebagaimana pernyataan Martin Luther bahwa "reason is the enemy of faith" melainkan sebagai mitra setia yang saling bersekutu guna menghayati
kekuasaan dan kemuliaan Tuhan dalam ketakjuban khusyuk tak terkatakan. Dan
hal itu memang bukanlah pekerjaan yang mudah, melainkan pergumulan pedih nan
kunjung usai namun sekaligus menggairahkan sebagaimana layaknya sebuah
misteri.
Fides quaerens intellectum. Iman mencari/menantang pengetahuan.
-- Anselmus
Kitab Suci dan dunia alami (kodrati) sama-sama keluar dari Firman ilahi,
yang pertama sebagai yang dititahkan oleh Roh Kudus, yang kedua sebagai
pelaksana sangat setia perintah-perintah Allah.
-- Galileo Galileii, "Surat pada Romo Benedetto Castelli", 21 Desember
1613
Iman kepercayaan dan akal budi menyerupai dua sayap yang menjadi sarana
roh manusia naik untuk mengkontemplasikan kebenaran; dan Allah telah
menaruhkan dalam hati manusia keinginan untuk mengetahui kebenaran
--pendek kata, untuk mengetahui diri-Nya-- supaya, dengan mengetahui dan
mencintai Allah, manusia pria dan wanita juga dapat mencapai kepenuhan dan
kebenaran tentang diri mereka sendiri (lih. Keluaran 33:18; Mazmur 27:8-9;
63:2-3; Yohanes 14:8; 1Yohanes 3:2).
-- Paus Yohanes Paulus II, "Fides et Ratio", Roma, 14 September 1998
Pada akhirnya, Fides et ratio. Iman DAN akal-budi.
📌 Jumat, 12 September 2003 02:46 🌐
[revisi: Selasa, 19 Agustus 2008 06:07]