catatan-catatan kecil di sini tidak lebih dari percik pemikiran yang sempat tertuang ke dalam bentuk tulisan. kalaupun isinya tidak tertata baik ataupun tidak berkenan pada anda, demikianlah adanya kenyataan diri saya pada saat itu. setidak-tidaknya, ini semua adalah sebagian ungkapan kejujuran yang saya ingin berbagi dengan anda.
Seseorang bersilaturahmi ke Buya HAMKA dan berkata, “Pelacur di Arab itu
memakai cadar dan hijab”.
Jawaban Buya HAMKA sungguh tak terduga. “Oh ya? Saya barusan dari Los
Angeles dan New York. Masya Allah, ternyata di sana tidak ada pelacur.”
“Ah, mana mungkin, Buya. Di Makkah saja ada kok, apalagi di Amerika, pasti
banyak lagi,” kata tamunya itu.
Maka kata Buya HAMKA, “Kita ini memang hanya akan dipertemukan dengan
apa-apa yang kita cari.
Meskipun kita ke Mekkah, tetapi jika yang diburu oleh hati adalah hal-hal
yang buruk, maka setan dari golongan jin dan manusia akan berusaha membantu
kita untuk mendapatkannya.
Tetapi sebaliknya, sejauh perjalanan ke New York, Los Angeles, bila yang
dicari adalah kebajikan dan kebaikan, maka segala kejelekan akan enggan dan
bersembunyi,” pungkasnya.
Apa yang dipikirkan dan dicari, apalagi sempat dialami secara berkesan, kerap
bisa menjadi penanda terhadap sesuatu. Itu sebabnya pengalaman pertama menjadi
penting dan sulit dilupakan. Bisa merupakan kenangan indah ataupun traumatis.
Begitu pula dengan tempat.
Kunjungan saya ke beberapa lokasi kerap menyimpan imaji khusus. Surabaya,
misalnya. Kota ini dahulu terkenal panas dan gersang sehingga sebagian orang
sulit percaya bahwa kini banyak pepohonan hijau di seantero kota. Di sisi
lain, karena pengalaman saya di kota ini sekian puluh tahun lalu demikian
indah, maka kota ini tetap indah, entah dia gersang ataupun menghijau.
Bandung yang sejuk semasa saya berkuliah di sana membuat saya selalu membawa
jaket walau saat ini temperatur kota sudah meningkat. Kalimantan yang beberapa
kali saya kunjungi, bahkan hingga harus naik
speedboat ataupun perahu ke pedalaman, menapakkan kenangan tentang
keasrian alam dan keramah-tamahan masyarakatnya.
Sumatera Utara yang katanya keras, tetap menjanjikan kenikmatan tiada tara
dari kuliner maupun alamnya serta suara merdu penyeling kerja keras
penduduknya. Lalu Nusa Tenggara yang punya banyak pesona tersembunyi di
berbagai pelosoknya. Apalagi Papua.
Begitu pula halnya dengan tempat-tempat lainnya. Demikian kaya keragaman
Nusantara.
Saya bukannya menutup mata akan kekumuhan ataupun hal lain yang merupakan
realita kehidupan. Namun apa guna menjadikan sebuah perjalanan sebagai
pengalaman buruk? Rugi banget atuh 😊 Malah sebisa mungkin saya
upayakan menemukan sesuatu yang membuat label bagi tempat tersebut layak untuk
diceritakan sebagai daya tarik. Itulah pengalaman pertama yang ingin saya
kecap dan simpan dalam memori.
Seperti diujarkan orang bijak di masa lalu, "Carilah, maka akan kau dapatkan."
Seek and ye' shall find. Dan dari situ, seperti istilah lawas saat
aplikasi pengolah kata (word processor) mulai canggih, berlakulah
konsep WYSIWYG (What You See Is What You Get).
Hanya saja, tak setiap orang suka memikirkan, mencari, dan menemukan hal-hal
yang membuat sukacita. Ada yang lebih senang berjumpa dan mengenang monyet,
jin, kuntilanak, dsb sehingga semua itulah yang ada di kepalanya saat
membicarakan suatu tempat, entah apa pun konteksnya.
Maka di Kalimantan Timur, mau dapat patin bakar, bisa. Mau dapat mandau
terbang pun bisa. Pilihan ada pada masing-masing orang.
Tiga vampir terbangun saat tengah malam karena merasa haus dan ingin minum
darah.
Vampir 1: "Ayo terbang mencari manusia untuk kita hirup darahnya
sebanyak-banyaknya."
Vampir 2: "Hmm ... Boleh juga."
Vampir 3: "Kita kan warga baru di sini. Lagian, di luar gelap banget dan kita
gak tahu arah. Mendingan nunggu sampai ada vampir lain yang mau cari darah
juga."
Vampir 1: "Kita tidak butuh mereka. Kita pasti bisa menemukan darah di suatu
tempat."
Vampir 2: "Ayo tanding siapa yang paling buas menghisap darah!"
Tanpa menunggu jawaban, vampir 1 melesat terbang dengan kecepatan tinggi.
Lima menit kemudian dia kembali dengan mulut berlumuran darah. "Lihat desa di
sana?" tanya dia sombong. "Semua penduduknya sudah habis gua hisap darahnya!"
Vampir 2 tidak mau kalah. Dia terbang lebih cepat lagi.
Sepuluh menit kemudian dia kembali dengan seluruh wajah penuh darah. "Lihat
kota di bawah sana?" katanya. "Satu stadion bola pingsan semua karena darahnya
gua hisap!"
Vampir 3 merasa tertantang. Dia terbang secepat kilat sampai menimbulkan suara
desingan angin.
Tapi baru satu menit dia sudah kembali dengan kondisi mengerikan. Wajah
bonyok, hidung pesek, gigi ompong, dan darah mengucur deras dari kepala
membasahi sekujur tubuhnya.
Dua vampir lainnya kaget dan bertanya, "Wah, gileee ... Belum satu menit,
tubuhmu sudah penuh darah. Gimana ceritanya?"
Vampir 3 menjawab sambil meringis, "Kalian lihat tiang listrik di depan sana
nggak?"
Merupakan satu kebanggaan sekaligus kehormatan bagi saya bisa menjadi
bagian dari ibadah dan perayaan Natal Bersama 2021 Ikatan Alumni Institut
Teknologi Bandung (IA-ITB) walau sebenarnya saya lebih banyak berperan
sebagai penduduk alias duduk-duduk saja 😊
Kepanitiaan yang baru terbit SK-nya pada tanggal 30 Desember 2021 ternyata
berisi orang-orang tangguh, trengginas, penuh energi, dan
determinasi luar biasa. Begitu WhatsApp Group panitia dibentuk, tak perlu
pakai pemanasan, semua langsung gaspol. Mesin dipacu dengan entropi
tinggi. Tektokan berlangsung gencar di forum maupun japri.
Kalau dipikir-pikir setelah acara ini berakhir tadi, rasanya banyak hal
berlangsung di luar kenormalan.
Mulai dari pertanyaan siapa yang bisa mewakili dan jadi penghubung ke
berbagai komunitas Kristen alumni ITB, muncul usulan nama-nama yang segera
ditindaklanjuti. Dan ternyata mereka adalah pilihan tepat. Tak ada yang
sia-sia. Seperti pasukan komando yang penuh inisiatif, gerak cepat,
berdedikasi, dan tak banyak berdebat. Juga gesit menerapkan
getok tular mengajak kawan lain yang tak kalah mutunya. Dengan
segera formasi kepanitiaan pun komplet dan penuh daya. Melibatkan berbagai
jurusan dan angkatan, dari senior hingga alumni muda milenial/gen-Z.
Begitu deras usulan muncul, sekejap pula solusinya hadir. Beberapa malah
tak kentara manuvernya, tahu-tahu melapor bahwa hal tersebut sudah tuntas
dieksekusi. Seingat saya, tak ada keluhan yang mencuat di WAG panitia.
Jebret, jebret, jadi. Bungkus! (Entah kalau di japrian ternyata rusuh 😁)
Semua urusan dikebut ala blitzkrieg panzer Jerman. Hanya sekitar 2
minggu semua harus klaar, karena tanggal pelaksanaan sudah dipatok
22 Januari 2022.
Tak perlu bertele-tele memastikan daftar pengisi acara. Entah jurus apa
yang dimainkan, tahu-tahu Bang
Erwin Badudu
berikut personal dan peralatan langsung berkemas menjadi band pengiring
acara ibadah dan perayaan. Kak
Pita Loppies
pun segera menyesuaikan agenda agar bisa berpartisipasi. (Tolong dicatat
ya, Mas Titus Wahjoe Dewanto: Moluccas, bukan Mollusca. Beda barang itu!
😂)
Komunitas alumni ITB dari berbagai penjuru dunia bersicepat merekam video
lagu untuk ditayangkan di acara. Beberapa petinggi negara dan almamater
pun tak luput menyampaikan ucapan dan harapannya.
Pengurus Daerah IA-ITB Papua dinobatkan sebagai pembuka perayaan dengan
Tarian Perdamaian yang dinamis dan punya makna amat suai dengan narasi
kelahiran Kristus. Anak-anak alumni tak kalah semangat mengisi acara
sebagai Gajah Junior. Begitu juga dukungan lainnya, termasuk sponsor.
Lucunya, entah bagaimana jalannya, lokasi yang dipilih untuk
penyelenggaraan acara pun ternyata cukup mumpuni memenuhi kebutuhan tanpa
harus bekerja keras dari nol. Apalagi dekor dan ornamen Natal gereja belum
dibongkar sehingga bisa langsung dimanfaatkan. Lumayan irit biaya 😁
Di sini perlu digarisbawahi peran Mas Bubi Sutomo yang berkenan melakukan
appraisal peralatan tata suara dan multimedia sehingga IA-ITB
mendapat kehormatan menggunakan gedung
Gereja HKBP Tebet.
Tapi ada juga dampak sampingnya nih ... Tak dinyana, gara-gara
posting sambil-lalunya di Facebook tentang persiapan acara perayaan
Natal HKBP Tebet, maka Bang Ecko Manalu pun langsung diciduk masuk
kepanitiaan serta memberikan sumbangsih tak ternilai. (Bahkan demi acara
ini, sore tadi memaksakan diri pulang dari tugasnya di Sumatera Utara
walau belum waktunya. Mauliate godang, Bang 🙏)
Gilanya, selama berproses, ternyata tak sedikit anggota panitia yang
sebelumnya tak saling kenal. Bahkan Bang Himmel Sihombing sebagai Ketua
Panitia pun baru berjumpa untuk pertamakali dengan Bang Togap Siagian sang
Koordinator Acara di lokasi saat pelaksanaan acara 😁
Seru, kan?
Akhirnya, sekitar 3 minggu sejak terbitnya SK, acara pun dihelat Sabtu
sore kemarin.
Boleh dibilang semua rencana berlangsung baik tanpa kendala berarti. 4 jam
nonstop.
Di balik segala kerepotan dan tunggang-langgang panitia, Romo Johannes
Hariyanto, SJ seolah bisa menerawang dinamika di belakang layar sehingga
kotbahnya pun jitu mengulas orang-orang pilihan yang mau mendengarkan
suara Tuhan.
Mengikuti tayangan acara via Youtube, seorang sahabat baik, Mas Suluh T.
Rahardjo, meringkas kotbah tersebut dengan mengimbuhkan lagu legendaris
"Stairway to Heaven" sebagai berikut:
"Berani mendengarkan suara Tuhan!"
And if you listen very hard
The tune will come to you at last
When all is one and one is all
To be a rock and not to roll, oh yeah ...
Tiga tantangan orang-orang "terpilih" dan memiliki kesempatan:
1. Terus memelihara persaudaraan kebangsaan
2. Menjaga bersikap adil
3. Selalu berlaku profesional.
(Sabtu, 22 Januari 2022)
Lebih lanjut, Pendeta Yoseph Situmeang yang menjadi Pembawa Pesan Natal
menandaskan bahwa standar yang dibuat oleh panitia kali ini sudah tinggi.
Panitia tahun depan perlu kerja lebih keras nih ... (Wow! Padahal ini
kerja 3 minggu. Bagaimana kalau 3 bulan? 😁)
Laksana mendengar canang yang dipukul bertalu-talu di dekat gendang
telinga, sesore hingga malam tadi saya lebih banyak tepekur di bangku umat
bagai ayam terkena tetelo. Sungguhlah benar yang tertulis dalam
Alkitab, "Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan
sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah". Dan ketika kita sungguh melakukannya demi kemuliaan Allah, mukjizat
itu sungguh nyata. Terbukti!
Sukacita usai acara
Terimakasih ya, Tuhan Allahku.
Terimakasih,
Triumvirat Pengurus Pusat IA-ITB: Mas Gembong Primadjaja (Ketua Umum),
Bang Arya Sinulingga (Sekretaris Jenderal), serta Bang Batara Purba
(Bendahara Umum) yang konsisten mendorong serta mendukung penuh
berlangsungnya acara ini. Demikian pula para pengurus IA-ITB yang
sudah membantu kelancaran secara langsung maupun tidak langsung.
Panitia Natal Bersama 2021 IA-ITB yang membikin decak kagum serta
bangga. Membuat saya teringat film tentang seorang kadet perempuan
pertama yang mendapat wejangan (kutipan bebas dari saya), "Jangan
sampai gagal. Karena setelah kamu, akan banyak orang lain menyusuri
jalan yang kamu rintis."
Pengurus Gereja HKBP Tebet serta tim peliputan dan teknis lainnya yang
membuat beban panitia menjadi sangat ringan.
Para pengisi acara maupun para alumni yang berpartisipasi di lokasi
maupun daring.
Para sponsor yang tak berkeberatan disodori proposal dalam waktu
singkat.
Serta berbagai pihak yang tak dapat disebutkan satu per satu.
Kiranya kita semua diberkati dan dikaruniai kesanggupan untuk menjadi
garam dan terang di mana pun kita berada.
Amin 🙏
O ya, sebagai catatan: Mas Gembong, Mas Bubi, dan Mas Suluh adalah muslim
🙏
Minimal 3 karakter tersebut melekat kuat pada diri seorang Roberto Barus
yang sudah menyentuh banyak orang, melampaui perbedaan jurusan dan
angkatan. Hal-hal tersebut jugalah yang diharapkan darinya saat diminta
menjadi pengurus
Pengurus Pusat Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IA-ITB).
Namun, belum sempat Roberto berkiprah secara optimal bagi kepengurusan,
Tuhan telah memanggilnya untuk selamanya pada tanggal 25 Desember 2021
lalu.
Berbagai rencana yang tertunda dapat segera dicarikan solusi pengganti.
Tetapi peran dan tanggung jawab Roberto sebagai sokoguru keluarga tak
tergantikan. Dan tentunya merupakan pukulan yang sangat berat bagi
sang isteri (ibu rumah tangga) dan seorang akan perempuan berusia 5
tahun.
Roberto sudah pergi. Namun kehidupan harus terus berjalan bagi keduanya.
Demikian pula kita, kawan-kawan alumni ITB, yang merupakan sebuah keluarga
besar.
Dalam rasa prihatin dan solidaritas, perkenankan kami mengetuk kemurahan
hati kawan-kawan untuk meringankan beban Laura (Ola) dan
Sasa agar mereka punya kesempatan menata kehidupan yang baru tanpa
Roberto.
Untuk itu, kami telah menyiapkan rekening:
Bank Mandiri
norek xxx.xxx.xxxx.xxx
a/n. Xxxxxxx Xxxxxxx
yang akan dibuka s/d tanggal 31 Januari 2022.
Catatan:
Demi kemudahan verifikasi, mohon menyantumkan angka 91 di akhir jumlah
donasi.
Sila informasikan bukti transfer via japri ke WhatsApp
https://wa.me/6281xxxxxxx.
Atas perhatiannya, kami ucapkan terimakasih. Semoga Tuhan membalas semua
kebaikan kawan-kawan 🙏🏼❤
Ttd, Kawan-kawan yang mengasihi Roberto 💚
🌺🍀 Kiranya berkenan meneruskan pesan ini ke kawan-kawan lain yang
mengenal almarhum.