Mencari dan Menemukan. Pengalaman dan Ingatan.
#Indonesia #pluralism #peace ♥🇮🇩
Seseorang bersilaturahmi ke Buya HAMKA dan berkata, “Pelacur di Arab itu memakai cadar dan hijab”.
Jawaban Buya HAMKA sungguh tak terduga. “Oh ya? Saya barusan dari Los Angeles dan New York. Masya Allah, ternyata di sana tidak ada pelacur.”
“Ah, mana mungkin, Buya. Di Makkah saja ada kok, apalagi di Amerika, pasti banyak lagi,” kata tamunya itu.
Maka kata Buya HAMKA, “Kita ini memang hanya akan dipertemukan dengan apa-apa yang kita cari.
Meskipun kita ke Mekkah, tetapi jika yang diburu oleh hati adalah hal-hal yang buruk, maka setan dari golongan jin dan manusia akan berusaha membantu kita untuk mendapatkannya.
Tetapi sebaliknya, sejauh perjalanan ke New York, Los Angeles, bila yang dicari adalah kebajikan dan kebaikan, maka segala kejelekan akan enggan dan bersembunyi,” pungkasnya.
Apa yang dipikirkan dan dicari, apalagi sempat dialami secara berkesan, kerap bisa menjadi penanda terhadap sesuatu. Itu sebabnya pengalaman pertama menjadi penting dan sulit dilupakan. Bisa merupakan kenangan indah ataupun traumatis.
Begitu pula dengan tempat.
Kunjungan saya ke beberapa lokasi kerap menyimpan imaji khusus. Surabaya, misalnya. Kota ini dahulu terkenal panas dan gersang sehingga sebagian orang sulit percaya bahwa kini banyak pepohonan hijau di seantero kota. Di sisi lain, karena pengalaman saya di kota ini sekian puluh tahun lalu demikian indah, maka kota ini tetap indah, entah dia gersang ataupun menghijau.
Bandung yang sejuk semasa saya berkuliah di sana membuat saya selalu membawa jaket walau saat ini temperatur kota sudah meningkat. Kalimantan yang beberapa kali saya kunjungi, bahkan hingga harus naik speedboat ataupun perahu ke pedalaman, menapakkan kenangan tentang keasrian alam dan keramah-tamahan masyarakatnya.
Sumatera Utara yang katanya keras, tetap menjanjikan kenikmatan dari kuliner maupun alamnya serta suara merdu penyeling kerja keras penduduknya. Lalu Nusa Tenggara yang punya banyak pesona tersembunyi di berbagai pelosoknya. Apalagi Papua.
Dan tempat-tempat lainnya. Demikian kaya keragaman Nusantara.
Saya bukannya menutup mata akan kekumuhan ataupun hal lain yang merupakan realita kehidupan, namun apa guna menjadikan sebuah perjalanan sebagai pengalaman buruk? Rugi banget atuh 😊 Malah sebisa mungkin saya upayakan menemukan sesuatu yang membuat label bagi tempat tersebut layak untuk diceritakan sebagai daya tarik. Itulah pengalaman pertama yang ingin saya kecap dan tertanam dalam memori.
Seperti diujarkan orang bijak di masa lalu, "Carilah, maka akan kau dapatkan". Seek and ye' shall find. Dan dari situ, seperti istilah lawas saat aplikasi pengolah kata (word processor) mulai canggih, berlakulah 𝗪𝗬𝗦𝗜𝗪𝗬𝗚. What You See Is What You Get.
Hanya saja, tak setiap orang suka memikirkan, mencari, dan menemukan hal-hal yang membuat sukacita. Ada yang lebih senang berjumpa dan mengenang monyet, jin, kuntilanak, dsb sehingga semua itulah yang ada di kepalanya saat membicarakan suatu tempat, entah apapun konteksnya.
Maka di Kalimantan Timur, mau dapat patin bakar, bisa. Mau dapat mandau terbang pun bisa. Pilihan ada pada masing-masing orang.
Saya sih pilih patin bakar saja. Maknyus.. 😋
empangqq.com
bernadusnana.wordpress.com
PinAng: Rabu, 26 Januari 2022 03:34 WIB