catatan-catatan kecil di sini tidak lebih dari percik pemikiran yang sempat tertuang ke dalam bentuk tulisan. kalaupun isinya tidak tertata baik ataupun tidak berkenan pada anda, demikianlah adanya kenyataan diri saya pada saat itu. setidak-tidaknya, ini semua adalah sebagian ungkapan kejujuran yang saya ingin berbagi dengan anda.
Warna "pink" yang juga dikenal sebagai "merah jambu" kerap diidentikkan dengan
perempuan/feminin, sehingga sebagian orang menganggap janggal jika lelaki
menggunakan pakaian dengan warna tersebut.
Sebagai orang yang tidak terlalu peduli dengan mode [maupun komentar orang],
saya tidak ambil pusing dengan generalisasi itu. Malah, ketika masih SD, saya
pernah minta dibuatkan rompi rajutan berwarna pink pada ibu saya.
Selain warna pink, saya pernah memiliki dan menggunakan kemeja merah marun,
biru terang, hijau tosca, kuning, dll tanpa risau. Namun saat ini di lemari
pakaian tidak ada baju berwarna pink (belum saya cek container pakaian
cadangan). Sehingga, ketika muncul celeng pink di AIGL, tak terpikir oleh saya
untuk ikut.
Tahu-tahu, sekitar 2 minggu lalu, ketika mencari kaos yang hendak saya pakai
untuk sebuah acara, tersingkaplah sebuah kaos berwarna pink yang saya peroleh
ketika membantu kawan-kawan ITB 81 menyelenggarakan Festival II Geopark
Belitong tahun 2017 (Om Wahyu Indra Sakti Saidi yang pegang komando lapangan).
Terkait promosi, jelas ada logo Kementerian Pariwisata berikut slogan
Wonderful Indonesia. (Selain kaos pink, saya dapat juga yang warna ungu dan
hijau).
Berhubung saya ada beberapa urusan yang tidak mensyaratkan pakaian tertentu,
saya pakailah kaos berwarna pink itu seharian. Ke Pasar Gembrong untuk belanja
beberapa barang serta mampir melihat kios-kios pasar seni di situ, ke Bakmi
Abun di Kelapa Gading (karena masih kurang pede mau ke Pasar Baru), ke ITC
Kuningan membeli beberapa aksesori gawai, ke Mal Ambasador.
O ya, sore hingga agak malam di hari itu, sempat juga saya menambah
perbendaharaan nyanyian di Smule dengan kaos pink 🤣
Inilah beberapa foto tepat di hari ulangtahun Pramuka 14 Agustus 2020.
Apa sih arti sebuah logo sehingga proses pemilihannya menjadi riak-riak hangat
penuh kejenakaan di AIGL?
Pada dasarnya logo adalah sebuah ringkasan identitas. Entah itu negara,
organisasi kelas dunia, desa, lembaga pendidikan, ormas, parpol, satuan
militer, instansi pemerintah, entitas bisnis, LSM, bahkan restoran, warung
makan kecil, hingga pribadi. Semuanya tidak diharamkan punya logo. Dari logo,
orang tahu siapa kita.
Pada saat logo digunakan maka atribut individu/tim pun luruh sebagai sebuah
citra khusus. Dia/mereka mewakili nilai-nilai dasar entitas yang sedang
diwakili.
Hal ini pun berlaku terhadap AIGL yang kini sedang memilih logo.
Maka kita punya pertanyaan fundamental:
apakah logo kita mampu mewakili citra dan nilai-nilai AIGL maupun diri kita
sebagai warga AIGL?
Jawabannya gampang-gampang susah. Karena sebelum menjawabnya, kita perlu tahu
apa itu AIGL. Tepatnya,
citra AIGL seperti apa yang kita harapkan orang kenali?
1. AIGL adalah komunitas Alumni ITB
Apakah logo kita mampu memperlihatkan ke-ITB-an kita? Aspek apanya yang bisa
merepresentasikan "in harmonia progressio"?
2. Ciri AIGL sesuai namanya adalah Garis Lucu
Sudah mampukah logo kita menampilkan nilai lucu? Mohon diingat bahwa lucu
tidak sama dengan konyol, bloon, atau apa pun yang sifatnya menjadi tertawaan.
Juga, bukan sebaliknya, arogansi kita menertawakan orang lain.
Apa lagi?
Sejak awal didengung-dengungkan bahwa AIGL adalah forum yang terbuka bagi
semua alumni ITB tanpa mempersoalkan atribut-atribut pribadinya. Mau orang
mana, jurusan mana, angkatan berapa, kerjanya apa, sepopuler apa, agama,
aliran politik, dsb bukanlah parameter untuk menguji kelayakan seseorang
menjadi anggota. Syaratnya hanyalah alumni ITB. Titik. Bahkan tingkat
kelucuannya pun tidak diukur ... 😊
Dalam idealisasi saya, AIGL adalah sebuah
melting pot to connect the dots (anjrit, aing gaya pisan euy iinggrisan
😁). Di sinilah semua orang bertemu dan terhubung. AIGL adalah sebuah medium
yang sangat cair namun penuh dinamika yang dilandasi rasa humor.
Nah, di sinilah kita bersua dengan tantangan yang mengasyikkan.
Alumni ITB yang sebagian adalah orang penting di instansinya, sekarang jadi
larut dalam canda bahkan kadang konyol di AIGL, yang bisa jadi
amat jauh dari keangkeran dan wibawa yang wajib ditampilkannya sehari-hari.
Anak ITB yang sehari-harinya serius berkutat dengan perhitungan ketat
bertoleransi rendah kini harus mengendurkan syaraf eksaknya hingga mampu
menerima celaan dari kawan yang bahkan belum dikenalnya.
Anak ITB yang terbiasa dengan kompetisi sehingga tidak sungkan berbeda
pendapat secara keras, kini harus mengelus dada sendiri (jangan elus dada
orang lain, apalagi yang berbeda jender) sambil cengengesan bahkan memberikan
tanda jempol (like) pada pihak yang mengritiknya.
Citra keras dan superior anak ITB dijungkir-balikkan di AIGL. Di sini bukan
siapa kita yang menjadi ukuran melainkan bagaimana kita "bermanusia" dengan
orang lain. Anak ITB memasuki perkuliahan baru di AIGL.
Ini gila, kan? Agak mustahil, kan? Tapi faktanya hal ini sudah menjadi
kenyataan di AIGL, kan?
Dengan demikian, sudahlah jelas bahwa logo AIGL sangat perlu menampilkan sisi
lain yang unik sekaligus luar biasa ini, yakni
anak ITB yang mustahil alias di luar persangkaan/stereotip.
Dari perenungan ini akhirnya saya memilih ORIN si gajah oranye yang
menari. Kenapa?
Mana ada gajah oranye?!
Mana ada gajah menari?!
Justru itu. Dialah ekspresi paling pas tentang kemustahilan (bahkan
kemustahilan berganda) yang menjadi nyata dalam kelucuannya yang harmonis dan
selalu dinamis.
Setelah para warga bubar tunggang-langgang kembali ke dukuh, Ki Ageng Manik
(KAM) tepekur sejenak di halaman. Seperti ada yang mengganggu pikirannya.
Dengan menghela napas panjang, KAM berbalik menuju pondoknya dan langsung
masuk ke dalam tanpa menghiraukan Raden Mas Tomi yang masih bersila di
beranda.
--- Waktu sudah terlalu sempit untuk menuntaskan tulisan, sementara mata sudah
mulai berat. Dengan sangat terpaksa ceritanya ditunda hingga batas waktu yang
belum ditentukan. Mohon maklum. ---
Munculnya 3 gajah idola baru di Dukuh Alit Galu tentu saja membuat warga
bahagia tak alang kepalang. Praktis, setiap hari mereka mengunjungi ketiga
gajah yang masih dalam pengawasan Kebayan baru.
Namun, kegalauan segera merebak tatkala mereka sadar bahwa maskot dukuh
hanyalah 1. Artinya, warga harus memilih 1 dari antara 3. Padahal, mereka
sudah telanjur sayang pada ketiganya. Akibatnya, mau-tak-mau, terbentuklah 3
kubu di antara warga.
Dalam situasi senang bercampur galau seperti itu, mereka pun kasak-kusuk
mencari pedoman. Beberapa diantaranya menemui Dayu Ida Ayu Suci Levi yang
tersohor sebagai pakar simbol (seperti Robert Langdon itu lho, simbolog dari
Harvard dalam novel-novel Dan Brown).
Di pendoponya yang sejuk dan asri, ditingkah lirih senandung burung, Dayu Levi
menjelaskan pandangannya dengan bijak-bestari namun penuh wibawa, sebagaimana
dicatat dalam lontar
Pitutur Dayu Levi
Hadirin manggut-manggut menyimak. Nyaris tidak bersuara, bahkan tarikan napas
pun seperti ditahan. Mungkin tak rela mengganggu suara Dayu Levi yang jernih
dan welas asih.
Dengan penuh sukacita mereka kembali ke rumah masing-masing sambil membawa
keyakinan atas pilihan terbaiknya.
Sementara itu, beberapa orang lain, secara diam-diam menemui Ki Ageng Manik
(KAM) yang tinggal menyepi di lereng bukit. Berdesak-desak mereka duduk di
lantai kayu serambi pondok yang kecil.
Tanpa banyak basa-basi, mereka langsung menyampaikan kegundahan hati mereka.
KAM: "Lah, kenapa musti bingung? Kalian pilih saja yang kalian suka. Tidak ada
yang salah ataupun benar. Wong ini soal selera dan persepsi. Gitu aja
kok repot?"
Warga: "Kami khawatir jika berbeda pilihan dengan para tetua dukuh, apalagi
dengan Kebayan, nanti kami dikucilkan. Apa itu istilahnya?
Diemut ngadimin ya?" (sambil menoleh ke kiri dan ke kanan mencari
dukungan)
Sambil terkekeh, KAM berkata: "Kalian ini aneh-aneh saja. Tetua yang sekarang
bukanlah orang-orang gila hormat dan suka ngemut. Kalau tidak belajar dari
prahara kemarin, pandir banget lah mereka itu.
Kalian sangsi pada Denmas Fadjar Hari Mardiansjah, Om Badru Salam, Chief Ize
Hawkeye, Mbakyu Ratih Christyaningsih, Jeng Riani Perdanasari, Pakde Darmadji
Darmaputra, Kak Betty Simarmata? Semprul tenan koen!
Warga: "Kami hanya ingin harmonis dengan para tetua."
KAM (rada ngambek): "Bahlul banget ente! Yang harusnya harmonis ya
kalian sesama warga. Para tetua bukanlah majikan kalian. Mereka ada di sana
karena dipandang mampu membantu kalian hidup selaras dengan sesama dan
lingkungan. Itu saja tugas mereka."
Nyali mereka langsung ciut kena semprot KAM. Pakai kuah pula semprotannya 😅
Seseorang mengacungkan tangan.
Warga (suara agak tegas): "Permisi, Ki Ageng. Nama saya Manalu. Mohon ijin
bicara, Ki Ageng."
KAM: "Ijin diberikan. Speak freely."
Warga: "Siap, Ki Ageng! Mohon dimaklumi jika sahaya dianggap
ngeyel. Tapi sahaya ingin tahu, ke mana sebenarnya arah pilihan para
tetua. Sebagai pengayom dukuh, tentunya mereka lebih waskita dibanding
kami yang rakyat biasa. Apalagi sahaya yang terbiasa taat pada perintah
atasan."
KAM (mencoba memaklumi): "Hmm ... (sambil mengelus dagu yang tak berjenggot).
Coba kamu jelaskan masing-masing gajah keramat itu."
1. LUTU
LUTU karya Jonathan M.
Warga: "Empu Jonathan M adalah yang pertama membawa gajah dari Taman
Sriwedari. Gajah itu lucunya ampun-ampunan. Lutuna tu de Maxx. Memang
lucu banget, Ki."
KAM: "Centil banget sih kamu! Oke, kita sebut saja namanya si
LUTU. Selanjutnya!"
2. UNO
UNO karya Dody Sagir
Warga: "Empu Dody Sagir mendatangkan gajah imut, lucu, menggemaskan, dan
rada jahil. Namanya UNO yang artinya ..."
KAM (langsung nyolot dengan agak sengit): "Sudah tahu! Gak usah
ngajari saya! Wong waktu muda dulu saya pernah kencan di tukang es krim
Itali kayak Gus Yudhi Azfandiari, jadi tahu bahwa Uno itu artinya satu. Mau
sok ngajari ya, kamu?"
Warga (suara agak lembut, tidak setegas sebelumnya): "Selain itu, UNO juga
bermakna unofficial, karena gajah dukuh sebelah katanya sudah dikasih
stempel official."
KAM: "Dasar wong gemblung! Kalian pernah lihat gajah oranye? Pernah
lihat gajah menari balet?"
Warga (masih sedikit keder): "Belum pernah, Ki ..."
KAM: "Tahu artinya apa?"
Tidak ada yang berani menyahut.
KAM: "Itu tanda KEMUSTAHILAN! Ngerti koen? Mustahil ada gajah
oranye. Mustahil gajah menari balet. Makin dobel mustahilnya. Tetapi pada
kenyataannya Empu Dantje berhasil menghadirkannya di Dukuh kita. Paham
artinya?"
Warga saling tatap tanpa menjawab.
KAM: "Itulah kamu, kamu, kamu, kamu ...! (seru KAM sambil menunjuk jidat
satu per satu orang di depannya). Kalian itu adalah contoh
par excellent kemustahilan.
Kalian itu rupa-rupa. Ada yang berasal dari kampung antah berantah, ada yang
dari metropolitan, ada yang dari keluarga kelas saudagar, perwira, darah
biru, ada yang kere, ada yang ngomong saja belepotan dengan logat
nenek-moyangnya, dsb, dll, dst. Belum lagi masalah usia yang jomplang.
Acak-adut kabeh.
Tapi kalian semua sekarang bisa guyub di Dukuh Alit Galu ini. Saling canda,
saling ejek, saling hibur, saling dukung. Rukun.
Banyak yang bilang semua itu mustahil. Dan memang faktanya di dukuh lain
hil itu memang mustahal. Baru di dukuh kita kemustahilan itu
menjadi kenyataan. Seperti datangnya gajah oranye menari balet itu.
Kita kasih nama si ORIN. Karena itulah aslinya kalian. Original.
Tulen. Apa adanya tanpa penyedap buatan. Bukan kaleng-kaleng. Gak pakai
topeng."
Warga (masih setengah bingung): "Jadi bagaimana, Ki?"
KAM (berdiri sambil meledak): "Apanya yang gimana?
Gemblung kabeh! Tandanya sudah jelas cetho welo-welo! Masih
belum paham juga? Ya amplop! Apa harus saya cambuk pantat kalian? Sana,
sana, bubar!!!" (sambil berdiri dan mengambil cambuk yang tergantung di
tiang beranda)
Warga terbirit-birit berhamburan melarikan diri dari pondok Ki Ageng Manik.
Hanya tinggal satu anak muda yang masih duduk dengan takzim di lantai kayu
beranda. Namanya Raden Mas Tomi Highfinger, yang pernah menjadi Pangeran
Utama di Kerajaan Mechanix.
Hanya satu malam menjelang peringatan setahun berdirinya Dukuh Alit Galu,
warga digemparkan dengan raibnya gajah kesayangan yang selama ini menjadi
maskot. Walau tak ada yang sempat memberinya nama, namun semua sudah tahu
apa/siapa yang dimaksud jika ada yang menyebut "gajah". Sebenarnya sih ada
julukan generik baginya, yakni Logo saja.
Usut punya usut, ternyata Kebayan[2] dukuh punya peranan dalam kehebohan ini.
Pada malam naas itu, diam-diam Kebayan membuka kandang Logo dan membawanya ke
perdikan kosong yang baru saja dirambah. Di sanalah si Logo ditambatkan dan
dikawal para petinggi dukuh yang memutuskan bermigrasi ke tempat baru.
Warga dukuh jadi bertanya-tanya apa maksud dari semua ini. Keguyuban dan
sukacita warga sekonyong-konyong berganti dengan kekisruhan dan kemasygulan.
Berbagai spekulasi serta perdebatan terjadi antar sesama warga, hingga sempat
timbul gesekan horisontal.
[beberapa lembar catatan ini dilewatkan saja karena terkait erat dengan bab
sebelumnya yang belum ditulis 😁]
Tanpa maskot, tentu saja warga jadi sedikit bingung. Apalagi menjelang
peringatan hari kemerdekaan ke-75 Negeri Nuswantara, ada banyak pertandingan
antar dukuh. Terpaksa kaos olahraga, panji-panji, peralatan, dll disablon
tanpa gambar maskot. Kosong melompong. Sungguh memprihatinkan.
Namun kebingungan massal ini tak berlangsung lama. Secara tak terduga,
beberapa empu budaya yang sekian lama memilih bungkam kini serentak bangkit
bagai gelombang tsunami. Konon, demikianlah kodrat yang sudah disuratkan sejak
purba, "saat kebuntuan melanda masyarakat, maka para seniman dan filsuf
menjadi yang terdepan membuka jalan".
Dengan mengerahkan ajian sakti mandraguna, para empu ini berhasil memanggil
datang beberapa gajah pilihan dari Taman Sriwedari nan permai. Warga dukuh
menyambut sukacita kehadiran para gajah baru. Ada yang lucu, ada yang jehil,
ada yang lincah, ada malu-malu menggoda, ada yang cantik, ada yang gagah, dsb.
Semua menggemaskan.
Trio Orin - Lutu - Uno (TOLU)
Para gajah ini langsung dibawa ke padepokan utama, tempat para tetua dukuh
bermusyawarah. Di sanalah masing-masing gajah ditelaah secara saksama dari
berbagai gatra, termasuk bobot, bibit, dan bebetnya. Primbon warisan leluhur
ditelaah hingga ke pernik paling rinci. Ensiklopedi dan berbagai rujukan
teknik dibabar di atas meja. Bahkan pakar mekanika teknik pun diundang khusus
untuk menjelaskan aplikasi rumusan "statik tak tentu" yang selalu bikin pusing
banyak orang.
Perdebatan hangat yang berkelas mengalir deras diiringi tawa renyah para
tetua. Analisis keunggulan para gajah dilakukan terhadap kemampuan gajah itu
sendiri dalam berkiprah, bukan dengan mengadu gajah satu dengan yang lain.
Lah, sudah jelas masing-masing punya kekhasan.
Setelah beberapa hari bermusyawarah, para tetua dukuh mengumandangkan hasilnya
ke seantero dukuh, termasuk pada diaspora yang sedang melanglang ke
mancanegara. Intinya adalah tentang 3 gajah yang terpilih sebagai kandidat
maskot dukuh.
Babad Kisah/riwayat/sejarah/chronicle.
Dukuh Desa/dusun.
Alit Galu Konon nama ini merupakan singkatan dari ALumni ITb
GAris LUcu, yakni sebuah komunitas ideal yang sering diceritakan dalam
legenda. Bisa jadi mirip dengan masyarakat Atlantis yang dikisahkan oleh
Plato.
[1] Kalimat sengkalan Seperti pepatah/peribahasa dalam bahasa
Kawi, namun sesungguhnya merupakan sandi yang berfungsi sebagai petunjuk
tahun. Dibaca dari belakang ke depan.
Sirna = 0, hilang Dresthi = 2, ingkar janji
Luhur = 0, mulia Ngabekti = 2, bakti.
"Hilangnya keingkaran memuliakan pengabdian."
0202 dimaknai sebagai tahun 2020. (Tapi pakai tahun Masehi ya, bukan Tahun
Saka. Segini saja saya sudah pening, jangan dituntut lebih 😌)
[2] Kebayan penanggungjawab keamanan desa. Setara Kapolres di
masa kini, meureun. Tapi, belakangan ini sang Kebayan malah
menganalogikan diri sebagai anjing penjaga. Entah kenapa.