Apa sih arti sebuah logo sehingga proses pemilihannya menjadi riak-riak hangat penuh kejenakaan di AIGL?
Pada dasarnya logo adalah sebuah ringkasan identitas. Entah itu negara, organisasi kelas dunia, desa, lembaga pendidikan, ormas, parpol, satuan militer, instansi pemerintah, entitas bisnis, LSM, bahkan restoran, warung makan kecil, hingga pribadi. Semuanya tidak diharamkan punya logo. Dari logo, orang tahu siapa kita.
Pada saat logo digunakan maka atribut individu/tim pun luruh sebagai sebuah citra khusus. Dia/mereka mewakili nilai-nilai dasar entitas yang sedang diwakili.
Hal ini pun berlaku terhadap AIGL yang kini sedang memilih logo.
Maka kita punya pertanyaan fundamental: apakah logo kita mampu mewakili citra dan nilai-nilai AIGL maupun diri kita sebagai warga AIGL?
Jawabannya gampang-gampang susah. Karena sebelum menjawabnya, kita perlu tahu apa itu AIGL. Tepatnya, citra AIGL seperti apa yang kita harapkan orang kenali?
1. AIGL adalah komunitas alumni ITB
Apakah logo kita mampu memperlihatkan ke-ITB-an kita? Aspek apanya yang bisa merepresentasikan "in harmonia progressio"?
2. Ciri AIGL Sesuai Namanya adalah Lucu
Sudah mampukah logo kita menampilkan nilai lucu? Mohon diingat bahwa lucu tidak sama dengan konyol, bloon, atau apapun yang sifatnya menjadi tertawaan. Juga, bukan sebaliknya, arogansi kita menertawakan orang lain.
Apa lagi?
Sejak awal didengung-dengungkan bahwa AIGL adalah forum yang terbuka bagi semua alumni ITB tanpa mempersoalkan atribut-atribut pribadinya. Mau orang mana, jurusan mana, angkatan berapa, kerjanya apa, sepopuler apa, agama, aliran politik, dsb bukanlah parameter untuk menguji kelayakan seseorang menjadi anggota. Syaratnya hanyalah alumni ITB. Titik. Bahkan tingkat kelucuannya pun tidak diukur ... 😊
Dalam idealisasi saya, AIGL adalah sebuah melting pot to connect the dots (anjrit, aing gaya pisan euy iinggrisan 😁). Di sinilah semua orang bertemu dan terhubung. AIGL adalah sebuah medium yang sangat cair namun penuh dinamika yang dilandasi rasa humor.
Nah, di sinilah kita bersua dengan tantangan yang mengasyikkan.
Alumni ITB yang sebagian adalah orang penting di instansinya, sekarang jadi larut dalam canda bahkan kadang konyol di AIGL, yang bisa jadi amat jauh dari keangkeran dan wibawa yang wajib ditampilkannya sehari-hari.
Anak ITB yang sehari-harinya serius berkutat dengan perhitungan ketat bertoleransi rendah kini harus mengendurkan syaraf eksaknya hingga mampu menerima celaan dari kawan yang bahkan belum dikenalnya.
Anak ITB yang terbiasa dengan kompetisi sehingga tidak sungkan berbeda pendapat secara keras, kini harus mengelus dada sendiri (jangan elus dada orang lain, apalagi yang berbeda jender) sambil cengengesan bahkan memberikan tanda jempol (like) pada pihak yang mengritiknya.
Citra keras dan superior anak ITB dijungkir-balikkan di AIGL. Di sini bukan siapa kita yang menjadi ukuran melainkan bagaimana kita "bermanusia" dengan orang lain. Anak ITB memasuki perkuliahan baru di AIGL.
Ini gila, kan? Agak mustahil, kan? Tapi faktanya hal ini sudah menjadi kenyataan di AIGL, kan?
Dengan demikian, sudahlah jelas bahwa logo AIGL sangat perlu menampilkan sisi lain yang unik sekaligus luarbiasa ini, yakni anak ITB yang mustahil alias di luar persangkaan/stereotip.
Dari perenungan ini akhirnya saya memilih ORIN si gajah oranye yang menari. Kenapa?
Mana ada gajah oranye?!
Mana ada gajah menari?!
Justru itu. Dialah ekspresi paling pas tentang kemustahilan (bahkan kemustahilan berganda) yang menjadi nyata dalam kelucuannya yang harmonis dan selalu dinamis.
Segitu saja.
Sesederhana itu.
Selamat memilih.
VIVA ORIN!
OJO LALI BAHAGIA.
With love,
📌 Minggu, 2 Agustus 2020 21:03 🌐

Tidak ada komentar:
Posting Komentar