Hilangnya Gajah Kami. Lenyap 1 Muncul 3.
Sengkalan: Sirna Dresthi Luhur Ngabekti [1]
Hanya satu malam menjelang peringatan setahun berdirinya Dukuh Alit Galu, warga digemparkan dengan raibnya gajah kesayangan yang selama ini menjadi maskot. Walau tak ada yang sempat memberinya nama, namun semua sudah tahu apa/siapa yang dimaksud jika ada yang menyebut "gajah". Sebenarnya sih ada julukan generik baginya, yakni Logo.
Usut punya usut, ternyata Kebayan[2] dukuh punya peranan dalam kehebohan ini. Pada malam naas itu, diam-diam Kebayan membuka kandang Logo dan membawanya ke perdikan kosong yang baru saja dirambah. Di sanalah si Logo ditambatkan dan dikawal para petinggi dukuh yang memutuskan bermigrasi ke tempat baru.
Warga dukuh jadi bertanya-tanya apa maksud dari semua ini. Keguyuban dan sukacita warga sekonyong-konyong berganti dengan kekisruhan dan kemasygulan. Berbagai spekulasi serta perdebatan terjadi antar sesama warga, hingga sempat timbul gesekan horisontal.
[beberapa lembar catatan ini dilewatkan saja karena terkait erat dengan bab sebelumnya yang belum ditulis 😁]
Tanpa maskot, tentu saja warga jadi sedikit bingung. Apalagi menjelang peringatan hari kemerdekaan ke-75 Negeri Nuswantara, ada banyak pertandingan antar dukuh. Terpaksa kaos olahraga, panji-panji, peralatan, dll disablon tanpa gambar maskot. Kosong melompong. Sungguh memprihatinkan.
Namun kebingungan massal ini tak berlangsung lama. Secara tak terduga, beberapa empu budaya yang sekian lama memilih bungkam kini serentak bangkit bagai gelombang tsunami. Konon, demikianlah kodrat yang sudah disuratkan sejak purba, "saat kebuntuan melanda masyarakat, maka para seniman dan filsuf menjadi yang terdepan membuka jalan".
Dengan mengerahkan ajian sakti mandraguna, para empu ini berhasil memanggil datang beberapa gajah pilihan dari Taman Sriwedari nan permai. Warga dukuh menyambut sukacita kehadiran para gajah baru. Ada yang lucu, ada yang jehil, ada yang lincah, ada malu-malu menggoda, ada yang cantik, ada yang gagah, dsb. Semua menggemaskan.
Para gajah ini langsung dibawa ke padepokan utama, tempat para tetua dukuh bermusyawarah. Di sanalah masing-masing gajah ditelaah secara saksama dari berbagai gatra, termasuk bobot, bibit, dan bebetnya. Primbon warisan leluhur ditelaah hingga ke pernik paling rinci. Ensiklopedi dan berbagai rujukan teknik dibabar di atas meja. Bahkan pakar mekanika teknik pun diundang khusus untuk menjelaskan aplikasi rumusan "statik tak tentu" yang selalu bikin pusing banyak orang.
Perdebatan hangat yang berkelas mengalir deras diiringi tawa renyah para tetua. Analisis keunggulan para gajah dilakukan terhadap kemampuan gajah itu sendiri dalam berkiprah, bukan dengan mengadu gajah satu dengan yang lain. Lah, sudah jelas masing-masing punya kekhasan.
Setelah beberapa hari bermusyawarah, para tetua dukuh mengumandangkan hasilnya ke seantero dukuh, termasuk pada diaspora yang sedang melanglang ke mancanegara. Intinya adalah tentang 3 gajah yang terpilih sebagai kandidat maskot dukuh.
Babad
Kisah/riwayat/sejarah/chronicle.
Dukuh
Desa/dusun.
Alit Galu
Konon nama ini merupakan singkatan dari ALumni ITb
GAris LUcu, yakni sebuah komunitas ideal yang sering diceritakan dalam
legenda. Bisa jadi mirip dengan masyarakat Atlantis yang dikisahkan oleh
Plato.
[1] Kalimat sengkalan
Seperti pepatah/peribahasa dalam bahasa
Kawi, namun sesungguhnya merupakan sandi yang berfungsi sebagai petunjuk
tahun. Dibaca dari belakang ke depan.
Sirna = 0, hilang
Dresthi = 2, ingkar janji
Luhur = 0, mulia
Ngabekti = 2, bakti.
"Hilangnya keingkaran memuliakan pengabdian."
0202 dimaknai sebagai tahun 2020. (Tapi pakai tahun Masehi ya, bukan Tahun Saka. Segini saja saya sudah pening, jangan dituntut lebih 😌)
[2] Kebayan
penanggungjawab keamanan desa. Setara Kapolres di
masa kini, meureun. Tapi, belakangan ini sang Kebayan malah
menganalogikan diri sebagai anjing penjaga. Entah kenapa.
PinAng: Sabtu, 1 Agustus 2020


Tidak ada komentar:
Posting Komentar