catatan-catatan kecil di sini tidak lebih dari percik pemikiran yang sempat tertuang ke dalam bentuk tulisan. kalaupun isinya tidak tertata baik ataupun tidak berkenan pada anda, demikianlah adanya kenyataan diri saya pada saat itu. setidak-tidaknya, ini semua adalah sebagian ungkapan kejujuran yang saya ingin berbagi dengan anda.
Usai donor darah, mampir sejenak ke St*rb*cks untuk ngopi. Baru kali ini
petugas di bagian pemesanan bisa menangkap jelas nama yang saya sebutkan
tanpa harus mengulang. Padahal saya pakai masker. Mungkin nama saya memang
pasaran, sehingga tidak salah tulis 😄
Bang Toha eh Bang Togap Siagian keknya perlu ganti nama deh ... 😁
Terpikir mau memesan kopi ala Bu Nenden's Special tapi khawatir mereka
bingung meraciknya. Ya sudah, apa adanya sajalah sesuai yang tertera dalam
menu.
"Berangkaaaat," menyeruak teks di WhatsApp. Tertera nama Siesca Roselinda
dan angka 05:12 pada tanggal 29 Agustus 2021.
London Eye
[ ALOF :>>
Siang ini saya menunaikan janji kencan segitiga dengan Neng Siesca yang
datang dari Bandung karena ada urusan ke Jakarta serta dengan Ito Lucianna
Tobing yang terkena jadwal piket ngantor setengah hari. Cilandak Town
Square alias Citos disepakati secara aklamasi sebagai
rendezvous selewat tengah hari.
Sekitar jam 13 saya masuk area mal terlaris di kawasan Jakarta Selatan
setelah hampir gagal memindai QR code PeduliLindungi.id.
Nyaris berbarengan, Ito Luci tiba. Setelah berbasa-basi sejenak, kami
berkeliling mencari tempat paling nyaman untuk makan dan ngobrol (dan
tentunya harus aman karena beberapa topik bahasan tergolong rahasia kelas
A1 😜). Akhirnya pilihan jatuh pada resto Sate Senayan di lantai 2 yang
agak memencil.
Ini adalah pertemuan ketiga kami. Pertama, saat kopdar perdana AIGL di
Janji Jiwa (Cibubur, 21 September 2019). Saat itu saya belum berani
bertegur sapa dengannya. Maklumlah, saya kan pemalu dan pendiam, sedangkan
Ito Luci sedang moncer reputasinya sebagai selebritas papan atas
AIGL.
Pertemuan kedua, ketika dijamu makan siang di rumah Mbak Jane dan Mas
Gapit (Alam Sutra, 16 Agustus 2020), yang juga dihebohkan oleh rombongan
Lae Ecko, Bang Nelson, Ito Mei, serta Mbak Arik, di bawah asuhan Mamak
Lindes.
Pembawaan Ito Luci yang supel membuat saya nyaman berbincang tanpa repot
menata kata. Apalagi dia tipe blak-blakan sehingga kami kian tak sungkan
mengulas rinci berbagai hal, mulai dari dinamika yang terpapar di AIGL
sampai pernak-pernik kehidupan yang menyentuh ruang privat.
[ LUCI :>>
Bang alof nih kalau nanya gak pakai tedeng aling-aling banget sih? Main
tembak aja kayak sedang interogasi maling jemuran. Yang ditanyain sih
emang wajar kalau antara kawan akrab. Lha, kita kan baru kenal dan baru
sekarang ngobrol dekat. Tapi emang sih kayak sudah akrab.
Mudah-mudahan aja dia gak ember. Ngakunya sih lupaan. Sekarang diceritain,
besok juga sudah gak ingat. Ya udah, anggap aman aja deh 🤲
[ ALOF :>>
Kurang-lebih 15 menit baku tukar cerita, Neng Siesca pun muncul. Inilah
perjumpaan pertama kami dengannya.
Ternyata bawaannya 11-12 dengan Ito Luci. Meriah, ceria, dan penuh canda.
Keseruan ngobrol pun meningkat kian hangat. Tak sampai bermenit-menit,
kami sudah lancar berhaha-hihi membahas berbagai topik yang sedang
trend maupun yang sudah basi tapi bisa didaur ulang 😊
Sebagai anak Mesin/FTI 83 yang terkenal pemalu dan pendiam, amatlah
mustahil membayangkan bisa berkarib dengan Ito Luci (Arsitektur/FTSP 92)
apalagi Neng Siesca (Kimia/FMIPA 97). Telak berbeda jurusan dan fakultas,
serta lumayan jauh selisih angkatannya (tak perlu dipertegas bahwa hal ini
berkorelasi langsung dengan usia 😝).
Terhadap Ito Luci terpaut nyaris 1 dekade, sedangkan dengan Neng Siesca
hampir 2 windu. Artinya, saat saya sudah pegang KTP untuk nonton film
dewasa, Ito Luci sedang seru-serunya main congklak dan Neng Siesca masih
rewel bawel sebagai batita 🤣
Namun, nyatanya, komunikasi meluncur mulus. Kami bisa ketawa-ketiwi, mikir
serius maupun bengong bersama tanpa ragu. Asalkan bukan soal drakor atau
grup BTS, saya masih bisa nimbrung.
Patut saya menjura takzim atas kesaktian AIGL yang dengan sekali kibas
mampu meluruhkan berbagai sekat dan tingkat sehingga keakraban para
anggotanya sangat mudah terjalin walau belum pernah bertemu sebelumnya.
Salut!
[ LUCI :>>
Unik juga konektivitas ala AIGL. Gak pernah ketemu di kampus Ganesha saat
kuliah tapi tetap aja ada bahan yang bikin obrolan nyambung.
[ ALOF :>>
Sambil menyantap makanan, saya ceritakan "gangguan" yang saya alami
selama menyepi sendiri di sebuah rumah besar yang kosong dalam rangka
berkonsentrasi menyunting buku. Serta-merta topik pun beralih ke kawasan
mistis yang mencekam.
[ SIESCA :>>
Menurut sense gue sih memang ada yang ganggu Bang alof. Apalagi
dia kerjanya sering malam banget sampai pagi. Dan yang di-edit
adalah buku tentang eksorsis alias pengusiran setan.
Tapi ya gak sampai gimana-gimana juga sih. Paling banter denger suara
gedebak-gedebuk di loteng atau suara air ngucur di belakang tempat
duduknya.
Lebih seru pengalaman gue dong berurusan dengan tokoh sakti Borneo 🙏
[ LUCI :>>
Idih, sedang gak mood banget deh bahas horor. Mending gue alihkan
ke soal lain aja.
"Nih ada banana cake buat Bang alof dan Neng Siesca. Bikinan
Abel, anak gue. Enak banget lho."
Boleh dong sekali-sekali promosi hasil karya anak. Doain ya bisnisnya
berkembang karena passion-nya memang di situ.
[ SIESCA :>>
Waduh, gak kerasa udah hampir jam 16. Kudu balik ke Bandung euy supaya
gak kemalaman sampai rumah. Kasihan Mimil ditinggal seharian. Gue mau
pesan travel dulu ya. Duh, padahal masih asyik pisan ngobrolnya.
[ ALOF :>>
Perjumpaan yang semula dicadangkan hanya 2 sampai 3 jam terasa amat
cekak. Meski baru pertama tapi serasa reuni antar sahabat lama yang
tahunan pisah. Masih banyak yang antre ingin dicurahkan.
Mungkin sedang dihinggapi aura baik Malaikat Kanan yang murah hati, saya
pun menoleh pada Ito Luci sambil nyeletuk tanpa mikir, "Apa kita ke
Bandung aja?"
[ LUCI :>>
Weits ... Tantangan Bang alof kayaknya seru juga. Sering banget kan
acara yang pakai plan malah gak jadi. Mendingan spontan eksekusi
aja dah.
Langsung gue nyahut, "Ayo! Siapa takut?"
Lagian hari ini gue sedang hepi karena tugas ngedandanin kantor sudah
rampung dengan mengerahkan para staf.
[ ALOF :>>
Akhirnya kami pun sepakat mengantar Neng Siesca pulang ke Bandung. Walau
hati kecil agak menyesal juga sih melempar ide ini karena pulangnya
pasti sangat telat. Maklumlah, Mama bilang anak baik gak boleh pulang
kemalaman, nanti digigit nyamuk. Tapi telanjur ajukan penawaran, pantang
ditarik balik.
Di kisaran jam 18 kami hengkang dari Citos. Berhubung begadang malam
sebelumnya, saya minta izin tidur sekitar 15 menit di jok belakang.
Jadilah Ito Luci yang mengemudi.
[ LUCI :>>
Bang alof payah ah ... Masak keluar dari Citos dia salah kasih arahan.
Bukannya ke Bandung, eh malah menuju Depok. Kali emang ngantuk banget
dia, jadi rada kusut memorinya. Lah, gue kan warga Bekesyong, mana hapal
jalan di Jaksel.
Terpaksa muter dah. Dan setelah yakin berada di jalan yang benar menuju
Cipularang, Bang alof langsung bobok di jok belakang. Untung aja gak
pakai ngorok kayak Bang Toni P Sianipar di lobby hotel di DC.
[ SIESCA :>>
Bisa-bisanya gue punya temen-temen rada sableng gini ... Baru pertama
ketemu, main nekad nganter balik ke Bandung. Gue sih seneng aja
ditemenin. Daripada gue dihipnotis sama penumpang lain di
travel terus diculik. Kasihan Mimil atuh. Iya, kan?
[ ALOF :>>
Niat merem beberapa menit ternyata gagal total karena saya tak kuasa
mengabaikan obrolan seru kedua perempuan yang duduk di depan. Diam-diam
saya simak dan resapkan walau sadar sekali bahwa besok pun sudah lupa
apa yang mereka bahas.
Setelah singgah sejenak di rest area terdekat, giliran saya
mengambil alih kemudi. Sepanjang jalan, proses tukar menukar informasi
dan analisis terus berlangsung. Dan memang menakjubkan rupanya
warna-warni kehidupan ini 🤣
Puji Tuhan! Haleluya! Perjalanan santai berlangsung amat lancar. Dalam
tempo kurang dari 3 jam, roda mobil sudah menjejak kota Bandung.
"Mau ke mana nih kita? Lapar lagi euy."
[ SIESCA :>>
Iya juga ya, kerasa lapar. Kayaknya kalori terkuras deras akibat
kegairahan berdiskusi tak putus selama beberapa jam. Mana Bandung sedang
dingin pula. Enak nih makan yang hangat-hangat.
"Gimana kalau ke sate Hadori?"
Gak pakai banyak cingcong, semua setuju.
Tapi ternyata sate Hadori tutup karena dagangannya sudah ludes. Untung
aja di sebelahnya ada sate Sineureut yang kata orang malah lebih enak.
Kami pun melipir ke situ.
[ LUCI :>>
Emang enak nih satenya. Tapi ogah nambah. Malu euy ...
Selesai makan, lanjut deh kita nganter Neng Siesca ke rumahnya.
Mari nikmati sejuk Bandung di malam hari, serasa bernostalgia saat
kuliah dulu. Tentu saja sambil melanjutkan obrolan kelas A1.
Bang alof nyetirnya selow amat. Kayaknya kekenyangan. Mudah-mudahan aja
dia gak ngantuk. Mungkin perlu dikasih asupan kopi.
[ SIESCA :>>
Lucu deh jadinya. Kan dari Bandung gue bawain kue Soes Merdeka buat
mereka. Eh sekarang malah ikutan balik tuh kuenya ke Bandung 😁
Anyway, thanks berat ya, friends. Kalian baik banget mau
repot nganter gue pulkam. Bahagia rasanya hari ini.
[ LUCI :>>
Unik. Baru juga kenal sama Neng Siesca tapi serasa udah sohib lama,
kayak adik sendiri. Gak tega ngelepas dia balik sendirian. Ada untungnya
juga Bang alof mau jadi supir kelas AKAP.
Such a wonderful day ...
[ ALOF :>>
Sehabis mengantar Neng Siesca, kami langsung putar arah kembali ke
Jakarta. Nonstop tanpa mampir. Perjalanan juga selancar berangkat tadi.
Dan sepanjang jalan ada saja bahan obrolan yang manjur untuk mengusir
kantuk dan rasa sepi. Dan akhirnya kami tiba di Jakarta sekitar jam 1
dini hari.
Selamat ulang tahun yang pertama.
Semoga selalu sehat, bahagia, dan penuh cinta 🙏
Pernah tayang film berjudul Vantage Point tentang penembakan
terhadap Presiden Amerika Serikat yang ditinjau dari sudut pandang
beberapa saksi. Cara bercerita seperti ini disebut
Rashomon Effect, karena pertamakali diterapkan oleh sutradara
kreatif legendaris Akira Kurosawa dalam film Rashomon.
Walau kisah fiksi ini amat jauh kelasnya dibanding kedua film di atas,
bolehlah saya contek modusnya dengan sedikit modifikasi. Sila menikmati
sebisanya.
ini baru preambul yang akan disambung jika ada mood 😁
Menjadi pengayom, pelindung, pelayan, dan penegak hukum bagi masyarakat
bukanlah pekerjaan mudah. Tak jarang malah terasa sebagai beban yang amat
berat. Kalau gak percaya, coba saja tanya pada POLRI yang menurut
ceritanya adalah institusi yang mengemban tupoksi tersebut 😊
26 Oktober 2013
9 Maret 2016
Setelah menerima estafet dari Kal El alias Clark Kent di tahun 2013
untuk mengamankan acara Pulang Kampung Ikatan Alumni Mesin (IAM) di
Aula Barat ITB dan terus berlanjut secara intens hingga terdampar di
menara doyong Pisa tahun 2016, akhirnya saya putuskan berhenti.
Capek kali pun keluyuran ke sana ke mari padahal saya paling hobi rebahan.
Enough is enough!
Dani El 7 Juli 2022
Beruntung ada seorang anak muda dari Jurusan Teknik Mesin ITB yang
ternyata punya passion yang sama. Apalagi dia ternyata amat lincah
dan enjoy lelarian ke segala penjuru. Maka logo keramat pun diemban
oleh Dani El alias Daniel Agung yang dari segala aspek tentunya
lebih pas sebagai Superman 👍
Saya yakin tak seorang pun bisa membantah fakta ini walau tidak bisa
dibuktikan CCTV.
BTW, siapa lagi yang punya kaos dengan logo S legendaris ini?
Gawai Blackberry Bold (BB) seri 9900 Dakota yang saya miliki ini
senantiasa menemani sejak rilis di Indonesia pada penghujung tahun 2011
dengan fenomena antrean pembeli. Walau beralih ke iPhone ataupun Android,
saya tetap mengantungi mahakarya dari Canada (yang sayangnya gagal
mempertahankan tahta di kerajaan ponsel cerdas). Minimal, benda ini bisa
saya fungsikan sebagai alarm wekker, pencatat waktu, ataupun
kalender 😁
Gara-gara fungsi istimewanya ini, dia mendapat gelar jam BB dari
kalangan kawan-kawan Komunitas Musik ITB (KMI).
Apa hubungannya dengan musik?
Karena BB ini kerap menjadi alat bantu penghasil bukti dokumentasi betapa
rajinnya kami berlatih musik dalam band Dark of Musicology (band
ITB 83 non-festival alias untuk bergembira dan meluapkan ekspresi) hingga
lewat tengah malam bahkan subuh (tradisi bulan puasa yang kami namai
sahur on the rock 🎵🎹🎤😎).
11 Juni 2017
Tepat jam 00:00 WIB tanggal 1 Juni 2018
Kini BB kebanggaan yang setia tersebut sudah pensiun karena perangkat
lunaknya error sedangkan saya sudah tak bersemangat melakukan
install ulang.
Apakah anda pernah memiliki nasib sebagai salah satu pengguna BB?
4 Juni 2019
13 Agustus 2022 setelah pensiun
Saya baru sadar, hanya 1 foto (terakhir) yang tidak diambil pada bulan
Juni 😲
Suatu masa, ada sepasang suami istri di suatu desa di Pulau Bali yang
belum dikaruniai anak setelah bertahun-tahun menikah. Setiap hari mereka
berdoa, hingga akhirnya sang istri mengandung dan melahirkan seorang bayi
laki-laki.
Bayi itu bertumbuh sangat cepat dengan nafsu makan luar biasa. Semakin
hari ia semakin besar hingga tubuhnya melebihi orang dewasa. Orang-orang
memanggilnya Kebo Iwa yang berarti “paman kerbau.”
Nafsu makan Kebo Iwa membuat kedua orang tuanya kewalahan. Mereka terpaksa
meminta bantuan warga desa sehingga kebutuhan pangan Kebo Iwa turut
ditanggung seluruh penduduk.
Kebo Iwa juga terkenal pemarah. Jika keinginannya tak terpenuhi, dia akan
merusak. Menghancurkan rumah warga, bahkan tak segan merusak pura. Tentu
saja hal ini amat meresahkan.
Meski begitu, karena tenaganya besar, Kebo Iwa kerap dimintai pertolongan
untuk mengangkut batu, meratakan tanah, memindahkan bangunan, membendung
sungai, menggali sumur, dsb. Semua dikerjakan dengan imbalan makanan
berlimpah.
Ketika musim kering tiba, warga desa mengkhawatirkan cadangan pangan
mereka. Bagaimana memenuhi kebutuhan Kebo Iwa sedangkan persediaan
terbatas?
Betapa takut mereka membayangkan amarah Kebo Iwa. Mereka berpikir keras
hingga akhirnya menemukan siasat menyingkirkan Kebo Iwa.
Suatu hari, warga menemui Kebo Iwa dan mengeluhkan banyaknya rumah yang
rusak akibat amukannya. Kebo Iwa berdalih bahwa itu adalah kesalahan
mereka yang tidak memberinya cukup makanan.
Warga beralasan mereka gagal panen akibat kurangnya air. Mereka berjanji
akan menyediakan makanan berlimpah jika Kebo Iwa membuatkan sumur untuk
mengairi sawah dan lahan pertanian.
Kebo Iwa pun setuju. Dia membangun kembali rumah-rumah yang rusak lalu
menggali sumur di tempat yang sudah ditentukan. Pada saat bersamaan, warga
mengumpulkan batu-batu kapur di sekitar tempat galian.
Kebo Iwa bertanya, “Untuk apa batu-batu kapur besar itu?” Mereka menjawab,
batu-batu itu disiapkan untuk rumah Kebo Iwa.
Ia pun semakin semangat menggali hingga air mulai memancar. Kebo Iwa
mengira pekerjaannya sudah selesai, namun Kepala desa mengatakan sumur
masih belum mencukupi sebagai sumber air satu desa. Maka Kebo Iwa terus
menggali sumur semakin besar dan dalam.
Kebo Iwa akhirnya kelelahan. Dia pun beristirahat dan langsung menyantap
habis makanan yang disiapkan warga. Kekenyangan, Kebo Iwa sangat mengantuk
dan tertidur pulas dalam lubang galiannya.
Inilah saat yang ditunggu-tunggu. Kepala desa memerintahkan warga untuk
melempar batu-batu kapur ke dalam sumur. Kebo Iwa sontak terbangun dan
sangat terkejut. Namun sudah terlambat. Rasa kenyang ditambah air dan
bebatuan yang memenuhi lubang galian membuatnya tidak sanggup keluar untuk
menyelamatkan diri. Dia akhirnya terkubur dalam sumur galiannya sendiri.
Celakanya, air sumur terus meluap membanjiri desa dan area sekitar.
Akibatnya, warga terburu-buru mengungsi ke tempat yang lebih tinggi tanpa
dapat menyelamatkan banyak barang. Mereka kehilangan harta benda, sawah,
ladang, ternak, dan rumah.
Beberapa desa yang tenggelam itu membentuk sebuah danau besar yang kini
dikenal sebagai Danau Batur. Sedangkan timbunan tanah hasil galian Kebo
Iwa membentuk gunung yang dinamai Gunung Batur.
Moral Cerita
Sifat serakah, egois, tamak, serta hanya memikirkan kepentingan pribadi
akhirnya akan merugikan diri sendiri dan sekitar. Meski hebat dan kuat
sebagai individu, jika tidak memiliki rasa kasih, maka lingkungan dan
sesama pun tidak akan menerima. Dengan kelebihan maupun kekurangan,
harus tetap rendah hati dalam memberi maupun menerima bantuan sesama.