Cerita Rakyat Bali
#Bali #CeritaRakyat #GunungBatur #KeboIwa #legenda #egoisme #tamak #kuasa
Suatu masa, ada sepasang suami istri di suatu desa di Pulau Bali yang belum dikaruniai anak setelah bertahun-tahun menikah. Setiap hari mereka berdoa, hingga akhirnya sang istri mengandung dan melahirkan seorang bayi laki-laki.
Bayi itu bertumbuh sangat cepat dengan nafsu makan luar biasa. Semakin hari ia semakin besar hingga tubuhnya melebihi orang dewasa. Orang-orang memanggilnya Kebo Iwa yang berarti “paman kerbau.”
Nafsu makan Kebo Iwa membuat kedua orang tuanya kewalahan. Mereka terpaksa meminta bantuan warga desa sehingga kebutuhan pangan Kebo Iwa turut ditanggung seluruh penduduk.
Kebo Iwa juga terkenal pemarah. Jika keinginannya tak terpenuhi, dia akan merusak. Menghancurkan rumah warga, bahkan tak segan merusak pura. Tentu saja hal ini amat meresahkan.
Meski begitu, karena tenaganya besar, Kebo Iwa kerap dimintai pertolongan untuk mengangkut batu, meratakan tanah, memindahkan bangunan, membendung sungai, menggali sumur, dsb. Semua dikerjakan dengan imbalan makanan berlimpah.
Ketika musim kering tiba, warga desa mengkhawatirkan cadangan pangan mereka. Bagaimana memenuhi kebutuhan Kebo Iwa sedangkan persediaan terbatas?
Betapa takut mereka membayangkan amarah Kebo Iwa. Mereka berpikir keras hingga akhirnya menemukan siasat menyingkirkan Kebo Iwa.
Suatu hari, warga menemui Kebo Iwa dan mengeluhkan banyaknya rumah yang rusak akibat amukannya. Kebo Iwa berdalih bahwa itu adalah kesalahan mereka yang tidak memberinya cukup makanan.
Warga beralasan mereka gagal panen akibat kurangnya air. Mereka berjanji akan menyediakan makanan berlimpah jika Kebo Iwa membuatkan sumur untuk mengairi sawah dan lahan pertanian.
Kebo Iwa pun setuju. Dia membangun kembali rumah-rumah yang rusak lalu menggali sumur di tempat yang sudah ditentukan. Pada saat bersamaan, warga mengumpulkan batu-batu kapur di sekitar tempat galian.
Kebo Iwa bertanya, “Untuk apa batu-batu kapur besar itu?” Mereka menjawab, batu-batu itu disiapkan untuk rumah Kebo Iwa.
Ia pun semakin semangat menggali hingga air mulai memancar. Kebo Iwa mengira pekerjaannya sudah selesai, namun Kepala desa mengatakan sumur masih belum mencukupi sebagai sumber air satu desa. Maka Kebo Iwa terus menggali sumur semakin besar dan dalam.
Kebo Iwa akhirnya kelelahan. Dia pun beristirahat dan langsung menyantap habis makanan yang disiapkan warga. Kekenyangan, Kebo Iwa sangat mengantuk dan tertidur pulas dalam lubang galiannya.
Inilah saat yang ditunggu-tunggu. Kepala desa memerintahkan warga untuk melempar batu-batu kapur ke dalam sumur. Kebo Iwa sontak terbangun dan sangat terkejut. Namun sudah terlambat. Rasa kenyang ditambah air dan bebatuan yang memenuhi lubang galian membuatnya tidak sanggup keluar untuk menyelamatkan diri. Dia akhirnya terkubur dalam sumur galiannya sendiri.
Celakanya, air sumur terus meluap membanjiri desa dan area sekitar. Akibatnya, warga terburu-buru mengungsi ke tempat yang lebih tinggi tanpa dapat menyelamatkan banyak barang. Mereka kehilangan harta benda, sawah, ladang, ternak, dan rumah.
Beberapa desa yang tenggelam itu membentuk sebuah danau besar yang kini dikenal sebagai Danau Batur. Sedangkan timbunan tanah hasil galian Kebo Iwa membentuk gunung yang dinamai Gunung Batur.
Moral Cerita
Sifat serakah, egois, tamak, serta hanya memikirkan kepentingan pribadi akhirnya akan merugikan diri sendiri dan sekitar. Meski hebat dan kuat sebagai individu, jika tidak memiliki rasa kasih, maka lingkungan dan sesama pun tidak akan menerima. Dengan kelebihan maupun kekurangan, harus tetap rendah hati dalam memberi maupun menerima bantuan sesama.
Disadur dari:
Legenda Kebo Iwa dan asal-usul Gunung Batur
PinAng: Jumat, 2 Agustus 2024


Tidak ada komentar:
Posting Komentar