Selasa, 30 Agustus 2022

Vantage Point [1]

<i><i>Vantage Point</i></i>

— Exactly A Year Ago: 20210829

"Berangkaaaat," menyeruak teks di WhatsApp. Tertera nama Siesca Roselinda dan angka 05:12 pada tanggal 29 Agustus 2021.

ALOF:

Siang ini saya menunaikan janji kencan segitiga dengan Neng Siesca yang datang dari Bandung karena ada urusan ke Jakarta serta dengan Ito Lucianna Tobing yang terkena jadwal piket ngantor setengah hari. Cilandak Town Square alias Citos disepakati secara aklamasi sebagai rendezvous selewat tengah hari.

Sekitar jam 13 saya masuk area mal terlaris di kawasan Jakarta Selatan setelah hampir gagal memindai QR code PeduliLindungi.id.

Nyaris berbarengan, Ito Luci tiba. Setelah berbasa-basi sejenak, kami berkeliling mencari tempat paling nyaman untuk makan dan ngobrol (dan tentunya harus aman karena beberapa topik bahasan tergolong rahasia kelas A1 😜). Akhirnya pilihan jatuh pada resto Sate Senayan di lantai 2 yang agak memencil.

Ini adalah pertemuan ketiga kami. Pertama, saat kopdar perdana AIGL di Janji Jiwa (Cibubur, 21 September 2019). Saat itu saya belum berani bertegur sapa dengannya. Maklumlah, saya kan pemalu dan pendiam, sedangkan Ito Luci sedang moncer reputasinya sebagai selebritas papan atas AIGL.

Pertemuan kedua, ketika dijamu makan siang di rumah Mbak Jane Kurnadi dan Mas Gapit Agapitus Rustriwidodo (Alam Sutra, 16 Agustus 2020), yang juga dihebohkan oleh rombongan Lae Ecko Manalu, Bang Nelson Napitupulu, Ito Meirina Pane, serta Mbak Arik Hari Sutji Murwani, di bawah asuhan Mamak Lindes Dumaria Gultom.

Pembawaan Ito Luci yang supel membuat saya nyaman berbincang tanpa repot menata kata. Apalagi dia tipe blak-blakan sehingga kami kian tak sungkan mengulas rinci berbagai hal, mulai dari dinamika yang terpapar di AIGL sampai pernak-pernik kehidupan yang menyentuh ruang privat.

LUCI:

Bang alof nih kalau nanya gak pakai tedeng aling-aling banget sih? Main tembak aja kayak sedang interogasi maling jemuran. Yang ditanyain sih emang wajar kalau antara kawan akrab. Lha, kita kan baru kenal dan baru sekarang ngobrol dekat. Tapi emang sih kayak sudah akrab.

Mudah-mudahan aja dia gak ember. Ngakunya sih lupaan. Sekarang diceritain, besok juga sudah gak ingat. Ya udah, anggap aman aja deh 🤲

ALOF:

Kurang-lebih 15 menit baku tukar cerita, Neng Siesca pun muncul. Inilah perjumpaan pertama kami dengannya.

Ternyata bawaannya 11-12 dengan Ito Luci. Meriah, ceria, dan penuh canda. Keseruan ngobrol pun meningkat kian hangat. Tak sampai bermenit-menit, kami sudah lancar berhaha-hihi membahas berbagai topik yang sedang 𝘵𝘳𝘦𝘯𝘥 maupun yang sudah basi tapi bisa didaur ulang 😊

Sebagai anak Mesin/FTI 83 yang terkenal pemalu dan pendiam, amatlah mustahil membayangkan bisa berkarib dengan Ito Luci (Arsitektur/FTSP 92) apalagi Neng Siesca (Kimia/FMIPA 97). Telak berbeda jurusan dan fakultas, serta lumayan selisih angkatannya (tak perlu dipertegas bahwa hal ini berkorelasi langsung dengan usia 😝).

Terhadap Ito Luci terpaut nyaris 1 dekade, sedangkan dengan Neng Siesca hampir 2 windu. Artinya, saat saya sudah pegang KTP untuk nonton film dewasa, Ito Luci sedang seru-serunya main congklak dan Neng Siesca masih rewel bawel sebagai batita 🤣

Namun, nyatanya, komunikasi meluncur mulus. Kami bisa ketawa-ketiwi, mikir serius maupun bengong bersama tanpa ragu. Asalkan bukan soal drakor atau grup BTS, saya masih bisa nimbrung.

Patut saya menjura takzim atas kesaktian AIGL yang dengan sekali kibas mampu meluruhkan berbagai sekat dan tingkat sehingga keakraban para anggotanya sangat mudah terjalin walau belum pernah bertemu sebelumnya. Salut!

LUCI:

Unik juga konektivitas ala AIGL. Gak pernah ketemu di kampus Ganesha saat kuliah tapi tetap aja ada bahan yang bikin obrolan nyambung.

ALOF:

Sambil menyantap makanan, saya ceritakan "gangguan" yang saya alami selama menyepi sendiri di sebuah rumah besar yang kosong dalam rangka berkonsentrasi menyunting buku. Serta-merta topik pun beralih ke kawasan mistis yang mencekam.

SIESCA:

Menurut sense gue sih memang ada yang ganggu Bang alof. Apalagi dia kerjanya sering malam banget sampai pagi. Dan yang di-edit adalah buku tentang eksorsis alias pengusiran setan.

Tapi ya gak sampai gimana-gimana juga sih. Paling banter denger suara gedebak-gedebuk di loteng atau suara air ngucur di belakang tempat duduknya.

Lebih seru pengalaman gue dong berurusan dengan tokoh sakti Borneo 🙏

LUCI:

Idih, sedang gak mood banget deh bahas horor. Mending gue alihkan ke soal lain aja.

"Nih ada banana cake buat Bang alof dan Neng Siesca. Bikinan Abel, anak gue. Enak banget lho."

Boleh dong sekali-sekali promosi hasil karya anak. Doain ya bisnisnya berkembang karena passion-nya memang di situ.

SIESCA:

Waduh, gak kerasa udah hampir jam 16. Kudu balik ke Bandung euy supaya gak kemalaman sampai rumah. Kasihan Mimil ditinggal seharian. Gue mau pesan 𝘵𝘳𝘢𝘷𝘦𝘭 dulu ya. Duh, padahal masih asyik pisan ngobrolnya.

ALOF:

Perjumpaan yang semula dicadangkan hanya 2 sampai 3 jam terasa amat cekak. Meski baru pertama tapi serasa reuni antar sahabat lama yang tahunan pisah. Masih banyak yang antre ingin dicurahkan.

Mungkin sedang dihinggapi Malaikat Kanan yang murah hati, saya pun menoleh pada Ito Luci sambil nyeletuk tanpa mikir, "Apa kita ke Bandung aja?"

LUCI:

Weits... Tantangan Bang alof kayaknya seru juga. Sering banget kan acara yang pakai plan malah gak jadi. Mendingan spontan eksekusi aja dah.

Langsung gue nyahut, "Ayo! Siapa takut?"

Lagian hari ini gue sedang hepi karena tugas ngedandanin kantor sudah rampung dengan mengerahkan para staf.

ALOF:

Akhirnya kami pun sepakat mengantar Neng Siesca pulang ke Bandung. Walau hati kecil agak menyesal juga melempar ide ini karena pulangnya pasti sangat telat. Maklumlah, Mama bilang anak baik gak boleh kemalaman, nanti digigit nyamuk. Tapi telanjur ajukan penawaran, pantang ditarik balik.

Di kisaran jam 18 kami hengkang dari Citos. Berhubung begadang malam sebelumnya, saya minta izin tidur sekitar 15 menit di jok belakang. Jadilah Ito Luci yang mengemudi.

LUCI:

Bang alof payah ah... Masak keluar dari Citos dia salah kasih arahan. Bukannya ke Bandung, eh malah menuju Depok. Kali emang ngantuk banget dia, jadi rada kusut memorinya. Lah, gue kan warga Bekesyong, mana hapal jalan di Jaksel.

Terpaksa muter dah. Dan setelah yakin berada di jalan yang benar menuju Cipularang, Bang alof langsung bobok di jok belakang. Untung aja gak pakai ngorok kayak Bang Toni P Sianipar di lobby hotel di DC.

SIESCA:

Bisa-bisanya gue punya temen-temen rada sableng gini... Baru pertama ketemu, main nekad nganter balik ke Bandung. Gue sih seneng aja ditemenin. Daripada gue dihipnotis sama penumpang lain di travel terus diculik. Kasihan Mimil atuh. Iya, kan?

ALOF:

Niat merem beberapa menit ternyata gagal total karena saya tak kuasa mengabaikan obrolan seru kedua perempuan yang duduk di depan. Diam-diam saya simak dan resapkan walau sadar sekali bahwa besok pun sudah lupa apa yang mereka bahas.

Setelah singgah sejenak di rest area terdekat, giliran saya mengambil alih kemudi. Sepanjang jalan, proses tukar menukar informasi dan analisis terus berlangsung. Dan memang menakjubkan rupanya warna-warni kehidupan ini 🤣

Puji Tuhan! Haleluya! Perjalanan santai berlangsung amat lancar. Dalam tempo kurang dari 3 jam, roda mobil sudah menjejak kota Bandung.

"Mau ke mana nih kita? Lapar lagi euy."

SIESCA:

Iya juga ya, kerasa lapar. Kayaknya kalori terkuras deras akibat kegairahan berdiskusi tak putus selama beberapa jam. Mana Bandung sedang dingin pula. Enak nih makan yang hangat-hangat.

"Gimana kalau ke sate Hadori?"

Gak pakai banyak cingcong, semua setuju.

Tapi ternyata sate Hadori tutup karena dagangannya sudah ludes. Untung aja di sebelahnya ada sate Sineureut yang kata orang malah lebih enak. Kami pun melipir ke situ.

LUCI:

Emang enak nih satenya. Tapi ogah nambah. Malu euy..

Selesai makan, lanjut deh kita nganter Neng Siesca ke rumahnya.

Mari nikmati sejuk Bandung di malam hari, serasa bernostalgia saat kuliah dulu. Tentu saja sambil melanjutkan obrolan kelas A1.

Bang alof nyetirnya selow amat. Kayaknya kekenyangan. Mudah-mudahan aja dia gak ngantuk. Mungkin perlu dikasih asupan kopi.

SIESCA:

Lucu deh jadinya. Kan dari Bandung gue bawain kue Soes Merdeka buat mereka. Eh sekarang malah ikutan balik tuh kuenya ke Bandung 😁

Anyway, thanks berat ya, friends. Kalian baik banget mau repot nganter gue pulkam. Bahagia rasanya hari ini.

LUCI:

Unik. Baru juga kenal sama Neng Siesca tapi serasa udah sohib lama, kayak adik sendiri. Gak tega ngelepas dia balik sendirian. Ada untungnya juga Bang alof mau jadi supir kelas AKAP.

Such a wonderful day ...

ALOF:

Sehabis mengantar Neng Siesca, kami langsung putar arah kembali ke Jakarta. Nonstop tanpa mampir. Perjalanan juga selancar berangkat tadi. Dan sepanjang jalan ada saja bahan obrolan yang manjur untuk mengusir kantuk dan rasa sepi. Dan akhirnya kami tiba di Jakarta sekitar jam 1 dini hari.

Selamat ulang tahun yang pertama.

Semoga selalu sehat, bahagia, dan penuh cinta 🙏

Pernah tayang film berjudul Vantage Point tentang penembakan terhadap Presiden Amerika Serikat yang ditinjau dari sudut pandang beberapa saksi. Cara bercerita seperti ini disebut Rashomon Effect, karena pertamakali diterapkan oleh sutradara kreatif legendaris Akira Kurosawa dalam film Rashomon.

Walau kisah fiksi ini amat jauh kelasnya dibanding kedua film di atas, bolehlah saya contek modusnya dengan sedikit modifikasi. Sila menikmati sebisanya.

<< ini baru preambul yang akan disambung jika ada mood 😁 >>

#aiglOnceUponATime #friendship

📌 Selasa, 30 Agustus 2022 00:56 🌐

Tidak ada komentar:

Posting Komentar