📌 Minggu, 12 April 2026 🌐

Senjakala Cahaya Bening

Senjakala Cahaya Bening

— Artefak Hadirmu

Senjakala Cahaya Bening

Senjakala Cahaya Bening

Kita duduk bersisian menghadap ke jalan lengang tanpa saling pandang. Satu dua orang lewat di kejauhan terpaut jeda waktu lumayan panjang.

Kurasa sudah kelewat lama keheningan membelenggu. Hingga akhirnya mulutku tak tahan mendesiskan bisikan pelan, nyaris seperti keluhan yang sangat berhati-hati.

"Ada yang berubah."

Kamu diam.

Aku menyambung, "Tanpa penjelasan, kamu abaikan semua pesan saya di WhatsApp. Seperti ada yang kamu hindari. Berhari, minggu, hingga bulan."

Masih diam. Sekarang wajahmu sedikit menunduk menatap ujung sepatumu.

"Apa yang salah? Kalaupun ada, kan kamu bisa tegur langsung seperti yang sudah-sudah. Dan kamu tahu persis, tak sekali pun saya pernah mempersoalkan protes bahkan marahmu."

Tetap diam.

Kunyalakan sebatang rokok kretek dan membiarkannya membara tanpa dihisap di antara jari telunjuk dan tengah. Menunggu kamu bicara. Terbakar hingga setengahnya secara percuma.

Bergeming. Tak jua ada reaksi.

Rerumputan tempat kita duduk terasa kian dingin. Senja pun seperti enggan mengalirkan angin. Terasa agak menyesakkan.

Dan keheningan ini sangatlah menyebalkan.

"Berkali-kali kita janji ketemu hanya untuk makan siang di berbagai tempat yang menurutmu layak didatangi. Kemudian ngopi sepanjang sore dengan perbincangan yang kadang tak berbobot namun kerap juga menuntut perenungan mendalam hingga kita berdebat. Lalu kita berpisah kala matahari kian redam dalam kelam, saat saya antar kamu ke mobil atau stasiun kereta atau suamimu menjemput."

Tak sabar, aku lanjutkan.

"Kamu tentu masih ingat, pernah kita habiskan hari sejak pagi sekali di rumah kacamu. Lantas kita genapi sore di kawasan suaka Selatan kota. Hari terbaik kita, menurut saya."

Kuhisap dalam-dalam rokok yang terbakar percuma itu lalu memadamkan puntungnya di tanah.

"Saat itu tabir kabut yang turun membaur dengan ruap kopi panas di cangkir yang kita genggam erat karena udara teramat dingin. Dan saya bertanya, 'Sampai kapan kita bisa terus seperti ini?'. Kamu jawab, 'Selama Abang tak membawaku paksa ke tempat yang tak kuinginkan'."

Kamu, perempuan yang biasanya energik bertabur aura suka cita, kini hanya tepekur di sampingku dengan pandangan lurus menatap ujung sepatu putihmu.

"Saya tidak pernah memperlakukan kamu tak senonoh. Menyentuhmu pun sebatas wajarnya antarsahabat. Paling banter menggandeng, cium pipi saat jumpa dan berpisah," sambungku dengan canda mencoba menyibak kekakuan.

Ujung bibirmu sedikit tertarik dalam makna sangat sumir antara senyum dan perih.

"Bicaralah," pintaku penuh harap kamu tak membatalkan niat.

Lalu mulutmu mendesirkan kalimat singkat yang sangat pelan, nyaris seperti kepedihan yang amat rentan.

"Abang tak sayang aku."

"Kok gitu?" tanyaku kaget.

"Setelah sekian lama ..."

Jeda sejenak.

Lalu kamu lanjutkan dengan desir yang tetap pelan.

"... Abang tak pernah menciumku."

Sontak kepedihan itu melompat pindah ke ulu hatiku.

Kelu.

📌 Minggu, 12 April 2026 23:03 🌐 Melak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar