Minggu, 18 September 2022

Saat Semesta Turut Campur Menghibahkan Energi

Saat Semesta Turut Campur Menghibahkan Energi

#aiglOnceUponATime

Sebenarnya sih sampai sekarang saya masih tak begitu paham makna dan batasan jelas "once upon a time" dalam celeng ini. Apakah kejadian di masa puluhan tahun lalu ataukah bisa juga yang terjadi beberapa menit yang lalu?

Apapun itu, kisah berikut adalah "suatu momen dalam waktu" yang memberi kesan dan pesan sangat dalam bagi saya. Namanya juga subjektif, ya bebaslah mengartikannya 😁

Beberapa minggu belakangan ini terasa sekali kejenuhan kian kejam merangsek ke seluruh aspek keseharian saya. Biasanya kondisi seperti ini bisa sedikit dinetralkan dengan ngopi 🍵 [atau lainnya, seperti 🍻 🍷 🥃 😉] bersama kawan, yang tentunya dalam situasi hangat disertai perbincangan menggembirakan hati (bukan harus lucu melainkan yang membuat rasa dan pikiran menggeliat hidup).

Ya, tepat sekali, energi pemulihan kerap saya peroleh dari kebersamaan dengan kawan-kawan.

1

Entah semesta mendengar keluh hati saya, tiba-tiba saja pada tanggal 9 September 2022 pukul 21:53 Bang Andrew Simbolon berkabar melalui WhatsApp Group (WAG) bahwa dia akan berada di Bandung dari tanggal 15 sampai 17 nanti.

Walau sesama anak Mesin, selisih 15 angkatan tentunya mereduksi habis peluang kami bertemu di kampus. Begitu pula dari sisi profesional maupun personal, tak ada alasan yang mempertautkan relasi kami.

Semua ini semata-mata karena AIGL yang menjumpakan kami pertama kali di BSD, 23 Februari 2020, atas prakarsa Mas Eko Jatmiko Utomo. (Di sini juga pertama kali saya berjumpa Evi Eleanora Oscar, Mesin 1999.)

Saya periksa agenda, ternyata tak ada acara khusus di 15 September. Maka, saya pun menyanggupi untuk ke Bandung.

2

Tak dinyana, 4 hari kemudian di WAG Kelas 3B5 SMAN 3 Bandung muncul ajakan berjumpa di Bandung sehubungan dengan mudiknya Dian Hadi dari Bristol, Inggris.

Dian adalah salah satu dari sedikit murid perempuan di kelas kami saat itu. Semenjak wisuda SMA, tak pernah saya berjumpa dengannya. Gilanya lagi, saat saya menjadi Ketua Panitia Reuni 30 Tahun ITB Angkatan 1983, baru saya tahu bahwa Dian adalah alumni Teknik Arsitektur '83 di ITB. Tepok jidat banget deh atas kealpaan saya yang fatal ini 🤦‍♂️

3

Bertepatan saya ada keperluan terkait beberapa prinsip dasar pendidikan tinggi, teringatlah pada Mas Ahmad Syamil Full, kawan sekelas di Mesin 83 dan pendekar silat Perisai Diri (colek Mas Chandrasa Sedyaleksana) yang menjadi Dekan di BINUS. Maka saya pun mengontak Mas Syamil pada tanggal 14 September guna meminta waktu audiensi.

Ndilalah Mas Syamil berkabar bahwa dia sekarang bertugas di BINUS Bandung. Permohonan saya disambut cukup antusias, bahkan diatur waktunya pas jam makan siang.

Sebenarnya sudah sangat lama pula saya tak berjumpa dengannya. Semenjak lulus ITB, Mas Syamil melanjutkan sekolah ke Amerika Serikat hingga Doktor dan kemudian melanglang seantero Negeri Paman Sam sebagai Profesor pengajar di berbagai universitas ternama.

4

Rabu sore saya ada jadwal bertemu dengan Mas Gembong Primajaya di Sekretariat IA-ITB. Sehabis diskusi (sebagaimana lazimnya berlangsung akrab dan intens dengan berbagai perspektif), Mas Gembong bilang bahwa besok pagi dia akan ke Bandung.

Ketika saya katakan bahwa saya pun akan ke Bandung, serta merta Mas Gembong mengajak barengan. Persis pula waktunya pagi hari sesuai rencana saya.

* * *

Tampak benar semesta demikian peduli. Jika bisa dibilang sebagai keajaiban, mungkin ini salah satunya. Semua pihak seakan bersekongkol memberi kesempatan untuk menuntaskan berbagai rencana pada hari yang sama.

Kamis pagi tanggal 15 September saya pun berangkat ke Bandung berdua Mas Gembong. Tak sampai 2 jam perjalanan, kami tiba di rumahnya di Kota Baru Parahyangan. (Berkendara dengannya menimbulkan sensasi ala Fast and Furious 😁).

Mas Gembong mengajak saya sarapan dulu. Tetapi tak lama setelah kami turun dari mobil, Ale, putera Mas Gembong berpamitan mau ke Bandung untuk kuliah. Saya putuskan untuk ikut Ale saja agar bisa segera bertemu kawan-kawan SMA yang menjadwalkan pertemuan jam 10 pagi.

Sepanjang perjalanan, kami ngobrol santai.

Ale ternyata kuliah di Jurusan Material di FTMD ITB, sementara saya dan ayahnya adalah alumni Lab Metalurgi. Sontak muncul pertautan rasa akrab walau usia terpaut cukup jauh. Bisa jadi molekul logam dalam diri kami langsung bergetar dan berinterferensi harmonis 😊

Barangkali itu pula sebabnya Ale tak sungkan menanyakan bagaimana kiprah ayahnya selama kuliah. Hahahaha.. Ini situasi yang membuat saya kagok 🤣

Dengan singkat saya jawab bahwa ayahnya sama normalnya dengan kawan lain pada zamannya, yakni bangor dan gaul selain tetap melaksanakan kewajiban belajar 🤣 Saya bilang juga ada hal luar biasa pada diri ayahnya yang ternyata sangat berguna di masa sekarang, yakni solidaritas tanpa pamrih dan keluasan jejaring pertemanan tanpa batas. Ale tertawa-tawa mendengar penuturan saya.

Ale menurunkan saya di Hummingbird di Jalan Progo. Tepat berbarengan dengan tibanya kawan-kawan lain, termasuk Dian. Langsung kami terlibat dalam perbincangan seru. Apalagi kalau bukan nostalgia semasa SMA berikut bunga-bunga kenakalan masa remaja 😁

Sekian puluh tahun tak jumpa mereka (kecuali dalam reuni besar yang sangat jarang) tidak membuat kami kikuk. Kealpaan saya menjalin tali silaturahmi tak menjadi pengurang keakraban. Malah suasana jadi seru karena saling mengingatkan drama-drama di kelas dahulu. Orang Jawa bilang, gayeng Beruntung pula saya tak menjadi sasaran tembak karena satu-satunya lelaki di antara para perempuan..

Tak lama kemudian, Neng Nurul 'uyuy' Akriliyati bergabung. Uyuy adalah sahabat Dian saat di Inggris. Tentu saja hal ini menjadi kejutan yang menyenangkan bagi kawan-kawan karena kami berbeda 8 angkatan di SMA. Namun hal itu sama sekali bukan hambatan dalam membangun suasana cair dan hangat.

Sekitar pukul 12.30 saya berpamitan untuk menemui Mas Syamil di BINUS. Dengan menggunakan Go-Jek saya bisa tiba di kawasan Pasir Kaliki dengan cepat.

Tak lama kemudian saya dan Mas Syamil sudah duduk menyantap sop dan sate kambing sambil berbincang-bincang. Begitu banyak informasi yang disampaikannya mengenai pernak-pernik perjalanan hidupnya sebagai tenaga pendidik yang membuat saya cukup tercengang kagum. Malah akhirnya tujuan awal saya menemuinya jadi tergusur karena lebih asyik menyimak penuturannya (sesuai dengan sifat saya yang pendiam dan pemalu serta pendengar yang baik namun pelupa) 🤣

Sekitar jam 15 kami pun berpisah. Saya bergegas menuju Dakken di Jalan Riau, untuk memenuhi janji berjumpa dengan Bang Andrew. O ya, agar tidak mengundang kecurigaan bahwa antara kami ada hubungan yang tak lazim, pertemuan ini pun akan disaksikan oleh Neng Siesca Roselinda 😊

Bang Andrew dan Neng Siesca berkabar bahwa mereka baru bisa datang lebih sore dari rencana. Tak masalah. Saya sedang dalam 𝘮𝘰𝘰𝘥 yang sangat bagus. Energi saya cukup memadai karena baru di-charge dari 2 perjumpaan yang menyenangkan.

Sekitar pukul 17 lewat, Bang Andrew tiba di TKP dengan wajah sangat segar berseri-seri. Tampaknya semua urusan dan rapat mendadaknya siang tadi berlangsung baik. Syukurlah.. 🙏

Kami pun langsung berbincang sambil mengudap. Lucu memang AIGL ini, semua berlangsung lancar tanpa hambatan kesungkanan. Persis kawan lama saja (yang tentunya tetap mengindahkan tata krama sewajarnya).

Tak berapa lama kemudian, Neng Siesca tiba. Makin seru jadinya. Namun tak perlulah diuraikan di sini apa topik obrolan kami. Nanti tulisan yang sudah panjang ini akan semakin panjang.

Sekitar jam 21 kami terpaksa angkat kaki karena restoran mau tutup. Saya dan Neng Siesca diantar oleh Bang Andrew ke pool CitiTrans di Dipati Ukur karena Siesca mau mengirim paket.

Semula saya berencana mau langsung pulang ke Jakarta. Tetapi sore tadi seorang kawan berusul untuk haha-hihi keesokan hari. Nanggung juga sudah di Bandung, sekalian saja menginap supaya besok bisa dapat tambahan asupan energi lagi.

Sehabis berpisah dengan Neng Siesca, saya pindai data di HP untuk mencari kawan yang bisa diajak mengisi waktu malam ini hingga muncul rasa kantuk. Maka berjumpalah saya dengan kawan semasa SMA untuk bernostalgia gembira sambil menikmati sajian malam yang berlimpah di seputaran Jalan Dipati Ukur.

Sekitar pukul 3, kantuk mulai merongrong. Dengan menggunakan aplikasi di HP, saya memesan hotel di kawasan Dago. (Drama tentang hotel ini saya lewatkan saja karena perlu posting tersendiri 😁).

Tidur sekitar 4 jam sudahlah cukup. Jam 8 pagi lewat sedikit, saya sudah siap jalan. Janji bertemu kawan di Bandung Trade Center, Jalan Dr. Djundjunan pun bisa terpenuhi.

Tanpa banyak cakap, kami pun berangkat ke kawasan Bandung Selatan. Tak pernah saya sangka bahwa daerah ini sangat berkembang dalam bidang pariwisata. Akses yang bagus ditambah ketersediaan jalan tol, tempat kuliner yang tersebar di mana-mana, dan tentunya objek wisata yang bagus serta punya keunikan.

Dan yang cukup mengejutkan saya adalah adanya tempat penangkaran rusa. Tidak pernah saya bayangkan ada tempat seperti ini sehingga tak pernah berhasrat main ke daerah ini. Rupanya Bandung Selatan tak kalah dibanding Bandung Utara (Lembang dan sekitarnya). Sungguh mengagumkan. Hebat!

Pak Aep yang menjadi penjaga tempat penangkaran rusa bercerita bahwa populasi rusa yang asalnya hanya 2 sampai 4 ekor, kini sudah menjadi puluhan. Kalau tak salah 90-an, dengan jumlah betina lebih banyak. Artinya, kian besar peluang meningkatnya jumlah rusa.

Pak Aep juga menyampaikan bahwa di kawasan situ masih ada macan kumbang dan macan tutul. Wah, ini sebuah kabar yang menggembirakan bahwa spesies langka ini masih belum punah.

Seusai sejenak bermain dengan rusa yang jinak namun agak jahil, kami mampir sejenak di Kafe Bahtera yang kerap disebut Pinisi. Sejauh pandang terlihat kabut turun perlahan menyelimuti hutan dan jalan. Begitu indah sekaligus mistis. Terasa dingin. Tapi perbincangan kami sedemikian hangat ditingkah kopi, wedang ronde, dan pisang bakar keju.

Sekitar jam 16 saya diantar ke pangkalan travel di Pasteur untuk kembali ke Jakarta. Terasa sekali kantung energi saya melimpah sehingga sanggup melunturkan tumpukan kejenuhan yang mendera belakangan ini.

* * *

Terasa betul bahwa pertemanan polos tanpa agenda tersembunyi akan sedemikian kuat mendukung ketahanan mental. Begitu pula kehendak yang kuat dibalut kepasrahan akan merintis jalan bagi semesta untuk turut campur.

Sungguh, saya sangat bersyukur memiliki kawan-kawan seperti ini. Mengalir saja seturut hati. Tanpa mereka sadari, 2 hari di Bandung merupakan momen yang sangat berarti bagi saya. Menjadi proses penyembuhan yang luar biasa ampuhnya. Istilah zaman now, healing

To all of you, my dear friends, I can only say thank you and I love you 💕

📌 Minggu, 2 menit menjelang berakhirnya tanggal 18 September 2022 🌐

Tidak ada komentar:

Posting Komentar