Shadows woman holding flower
img.freepik.com
Sekitar 30 menit menuju tenggat waktu berakhirnya celeng #aiglsoulmatestorychallenge, saya masih kesulitan memutuskan kisah yang mau diangkat. Lha, saya sendiri tidak tahu persis definisi soulmate yang paling suai dengan forum garis lucu ini.
Apakah soulmate itu harus pasangan? Kawan dekat seiring-sejalan dalam jatuh dan bangun? Selalu kompak? Pasti bahagia? Hingga seumur hidup?
Pertanyaan yang sulit dijawab namun sekaligus akan melahirkan bertimbun jawaban yang kian membingungkan.
Lalu, apa namanya kisah antara seorang lelaki dengan seorang perempuan yang ternyata lebih memilih pria lain yang nota bene adalah sahabat sang lelaki? Dan kemudian lelaki tak terpilih itu menjadi kawan bicara pasangan tersebut bahkan hingga belasan tahun setelah keduanya menikah ...
Ataukah soulmate adalah sebentuk pemuliaan bagi tindakan bodoh penuh derita atas nama cinta? Entahlah ...
Saat ini saya hanya bisa mengirimkan puisi lawas yang tentu saja tak punya intensi sebagai jawaban atas pertanyaan abadi tersebut.
Sayap yang Terkoyak
: love is a many-splendoured thing
Sekiranya pun tiada lagi rasa cinta itu kini dalam hatimu,
aku berharap
setidaknya kau masih bisa memandangku
sebagai seorang sahabat
yang bahunya selalu kausandari
saat kaututurkan kisah-kisah jinggamu,
yang lengannya kerap memelukmu erat
tatkala merekatkan kembali duniamu berkeping-keping,
yang telinganya senantiasa bersabar
menyimak nada sendumu tentang hari berhujan,
yang hatinya menjadi cawan
menyimpan tetes demi tetes airmatamu,
dan yang mulutnya tidak henti mengaku
betapa akan berbedanya dia tanpamu.
Dulu pernah kau bertanya:
"Bagaimana kauputuskan
aku sebagai kekasih,
yang akan menjadi ibu dari anak-anakmu,
sedangkan kau belum lagi mengenalku?"
Aku tidak bisa merekayasa jawaban
yang dapat membuat hatimu menggelepar,
sehingga aku hanya bisa berkata lirih:
"Telah kuputuskan
akan kugunakan setiap saat dalam sisa hidupku
untuk mengenalmu".
Dan saat itu engkau terkesima.
Mestinya aku punya lebih dari satu alasan
untuk berhenti mempertimbangkanmu
sebagai belahan jiwa,
pasangan berbagi cerita,
karena telah sedemikian dalam jurang yang kaugali
antara bahasaku dan bahasamu
yang mustahil kuseberangi
dengan sayap yang terkoyak,
karena telah sedemikian tinggi bukit yang kautimbun,
lara di atas luka,
yang tak mungkin kudaki
tanpa uluran jemari belas kasihmu,
karena telah sedemikian jauh jalan yang kautempuh
yang membuatku tak lagi bisa jernih membedakan
antara khilaf dan pengkhianatan.
Walau kesesakan kerap berkelebat
bahwa aku telah gagal mengenalmu,
aku tidak mungkin berbalik.
Walau demikian letih kuseret langkahku
beringsut menggapai bayang-bayangmu yang kian samar,
aku tidak mungkin berhenti.
Karena telah lama kutanggalkan semua mimpi dan kecewa
sejak kusampaikan ikrar di altar
dalam sakramen sekali untuk selamanya.
Mungkin tak seharusnya aku bertanya lagi
tentang cincin yang kusam dan retak,
karena telah kupahami kini
bahwa cinta tak pernah gagal
... untuk memberi.
Sampai maut memisahkan kita.
Beth, 3 Oktober 2005 04:50
Puisi yang diilhami judul sebuah novel, "A Many-splendoured Thing", karya Han Suyin alias Elisabeth Comber (nama gadis: Elizabeth Kuanghu Chow/Zhou Guanghu) ini sesungguhnya merupakan sebuah permintaan dari seorang kawan diskusi di internet yang "kebetulan" memiliki nama panggilan Suyin. Dan saya perlu waktu tepat 5 bulan untuk membuatnya karena tidak punya gagasan tentang apa yang ingin saya tuliskan 😞
Di bawah ini adalah lirik lagu yang menjadi lagu tema film berjudul sama yang kisahnya diangkat dari novel tersebut.
|
** Love Is A Many-Splendored Thing ** |
|
|
I walked along the streets of Hong Kong town,
Unravel me this riddle. |
It's the April rose that only grows
Once on a high and windy hill |
|
💖 |
|
Senin, 2 November 2020
Tidak ada komentar:
Posting Komentar