Tak terasa waktu berlari teramat cepat. Tepat seminggu lalu saya tuliskan progres mengolah file audio serta video yang jumlahnya lebih dari 100 (menurut Kang Pendy ada 128 video). Tahu-tahu sekarang sudah tanggal 10 November 2020, hari yang direncanakan untuk peluncuran karya kolosal AIGL.
Ternyata tidaklah mudah merangkai berbagai material yang pada dasarnya sudah bagus menjadi sebuah kolase besar yang tetap, bahkan tambah, bagus. Sangat terasa beratnya beban menyajikan racikan yang dapat memuaskan ekspektasi semua pihak.
Ada saja hal lucu sekaligus menggemaskan ketika dua unsur utama (rekaman audio dan rekaman video) digabungkan. Sinkronisasinya tak semudah yang dibayangkan. Ada yang gambarnya bagus tetapi gerak bibir tidak pas dengan lagu. Ada juga yang suara dan gambarnya sudah bagus, tetapi posisinya di video kurang pas. Jungkir-baliklah para chef di dapur video mengatur semuanya agar optimal.
Usai melakukan sinkronisasi, mulailah tahap penataan letak maupun cara tampilnya. Berbagai fitur yang ada di perangkat penyuntingan pun dijajal. Beberapa ide bergulir dalam upaya mempercantik visual.
Keterbatasan interaksi akibat pandemi terasa sebagai tantangan tersendiri. Komunikasi tentunya tidak selancar pertemuan tatap muka yang umumnya dibarengi melihat hasil pekerjaan seraya melakukan evaluasi serta memberi masukan.
Hingga kemarin malam, tim produksi masih intens berdiskusi melalui Zoom. 𝑆𝑐𝑒𝑛𝑒 demi 𝑠𝑐𝑒𝑛𝑒 dibahas satu per satu secara rinci hingga beberapa belas lembar.
Beruntung kedua chef dapur video sangat bisa diandalkan kemampuannya, sehingga dalam tempo singkat (eh dari jam 21 hingga pagi tuh termasuk singkat atau lama sih?) hasil diskusi pun terwujud dalam format yang disepakati. Haturnuhun, Kang Pendy dan Kang Danne Dhirgahayu. You are the best.
Dan sekitar 22 menit selewat jam 12 siang tadi, kami disuguhi perkembangan terbaru untuk preview. Setelah ditonton dan disimak sejak detik 0 hingga akhir sambil menahan napas, akhirnya kami bisa menghembuskan 3/4 beban yang selama ini menggantung (kebayang kan gedoran ratusan orang yang sangat penasaran menantikan kemunculan video kolaborasi ini 😓).
Secara keseluruhan, masakan sudah jadi. Bentuknya sudah sangat jelas, kenikmatannya pun sudah terasa. Tinggal diberi sentuhan akhir yang mempercantik tampilan saat disajikan di pinggan.
Pekerjaan yang dilaksanakan kurang dari 1 bulan ini nyaris merupakan kemustahilan (untung saja belum sempat menjadi mimpi buruk) mengingat demikian banyak pihak yang dilibatkan sebagai artis, yang [nyaris] semuanya amatir. Bahkan ada yang mengakui bahwa ini adalah pertamakalinya dia menyanyi di luar kamar mandi. Pakai direkam video pula! Ada juga yang baru kembali menyanyi sejak SMP. 🤣
Perlu menjadi catatan bahwa semua ini dilakukan secara 𝘱𝘳𝘰-𝘣𝘰𝘯𝘰 alias tak berbayar. Dan ada sebagian yang mengupayakan di antara tugas utama kehidupan. Namun tugas yang diemban diupayakan terlaksana sebaik mungkin.
Maka, sungguhlah beruntung AIGL memiliki warga yang berkenan berbagi dedikasi dalam tenggat waktu yang sangat ketat ini. Mulai dari penggagas dan pembuat/penata musik/vokal, manager yang katempuhan menangani segala urusan, pembuat puisi, penyanyi, narator, pemusik, penari, hingga orang-orang di belakang laptop yang menjadi benteng terakhir. Semua menakjubkan. Thank you, all 💕
Kiranya kerja kita bersama ini dapat segera kita nikmati dengan sukacita (dan semoga juga dengan bangga 🙏) ketika kita membuktikan mampu menembus hal-hal yang selama ini kita anggap tak mungkin kita lakukan.
Together, each achieve more.
Salam dari dapur,
📌 Selasa, 10 November 2020 22:06 🌐

Tidak ada komentar:
Posting Komentar