catatan-catatan kecil di sini tidak lebih dari percik pemikiran yang sempat tertuang ke dalam bentuk tulisan. kalaupun isinya tidak tertata baik ataupun tidak berkenan pada anda, demikianlah adanya kenyataan diri saya pada saat itu. setidak-tidaknya, ini semua adalah sebagian ungkapan kejujuran yang saya ingin berbagi dengan anda.
Jus segar dan enak sebagai sajian bagi para peserta turnamen
golf di Damai Indah Golf, Bumi Serpong Damai
Seminggu menjelang pelaksanaan turnamen golf yang diselenggarakan oleh
alumni 83 ITB, Renny Tamba, kawan panitia yang bertanggung jawab atas
konsumsi menyampaikan,
"Lof, kita perlu jus nih buat para golfer."
"Berapa banyak?"
"600 botol ukuran 200 ml."
"Sebentar ya, saya cari dulu."
Alih-alih membuka aplikasi toko daring (online), saya memilih
bersilancar di FBG AIGL mencari hestek #ngelapakday dan kata kunci "jus".
Entah kenapa saya memprioritaskan membeli dari teman ketimbang toko 😊
Ketemulah posting lama Mbak Tantry Widiyanarti yang mempromosikan jus
botolan dari buah segar, tanpa pengawet, yang keuntungan dari penjualannya
disumbangkan bagi orang tak mampu. Hmm, sungguh menarik. Baiklah saya
coba.
Langsung saya kontak Mbak Tantry. Ternyata produsennya adalah tetangga
Mbak Tantry yang beliau arahkan membuat jus ketika masa pandemi. Sayang
sekali saat ini tidak lagi berproduksi karena banyak pembeli yang
pembayarannya macet 😔
"Kalau mau beli banyak kyknya bisa dikondisikan 😅", sambung Mbak Tantry
membuka peluang.
Ketika saya sampaikan kebutuhan 600 botol, maka terjadilah transaksi yang
ditindaklanjuti oleh kawan saya. Deal!
Di hari pelaksanaan turnamen pada tanggal 8 Oktober 2022 di Damai Indah
Golf BSD, itulah saat pertama saya menyicipi jus tersebut. Ada 4 varian
yang kami pesan: jambu, mangga, jeruk, strawberry. Ah, dicoba saja semua
😊
Jusnya kental dan sangat terasa buahnya, bukan seperti jus imitasi. Rasa
manisnya pun pas. Enak dan sungguh segar.
Di shelter tempat para pemain golf beristirahat sejenak, saya
mencoba menggali testimoni para usher, kawan-kawan panitia, maupun
para pemain golf mengenai jus ini. Semua bilang enak. Malah
usher dan staf lapangan golf menanyakan bagaimana cara memesan jus
ini karena di label botol tidak tercantum nomor kontak produsennya.
Siangnya, saat para pemain golf berkumpul untuk makan dan mengikuti acara,
terlihat masih banyak botol jus di tempat minuman. Tapi saya amati, banyak
pemain yang bolak-balik mengambil beberapa botol sekaligus untuk dibawa ke
mejanya.
Seorang kawan pemain golf mengatakan, "Saya tidak makan nasi nih. Sudah
cukup minum jus. Enak dan segar."
Di penghujung acara, hanya tersisa sekitar selusin botol jus yang kemudian
kami nikmati sambil berdiskusi. Dan 2 botol terakhir dibawa pulang oleh
kawan panitia. Habis ludes tandas!
Sempat ada pemain golf dari pihak sponsor yang sengaja mendatangi meja
kami hanya untuk menanyakan bagaimana mendapatkan jus itu. Tentu saja
dengan senang hati kami memberikan nomor telepon produsennya.
Mbak Tantry, tolong sampaikan pada tetangga yang membuat jus ini agar
mempertahankan kualitas produksinya sehingga tidak mengecewakan ekspektasi
mereka yang sudah mencicipi kenikmatannya kemarin. Siapa tahu berawal dari
600 botol kemarin bisa bergulir pesanan melimpah. Amin 🙏
Pada stiker label yang ditempel pada botol sebaiknya dicantumkan nomor
kontak.
Sebenarnya sih sampai sekarang saya masih tak begitu paham makna dan
batasan jelas "once upon a time" dalam celeng ini. Apakah kejadian di
masa puluhan tahun lalu ataukah bisa juga yang terjadi beberapa menit
yang lalu?
Apapun itu, kisah berikut adalah "suatu momen dalam waktu" yang memberi
kesan dan pesan sangat dalam bagi saya. Namanya juga subjektif, ya
bebaslah mengartikannya 😁
Beberapa minggu belakangan ini terasa sekali kejenuhan kian kejam
merangsek ke seluruh aspek keseharian saya. Biasanya kondisi seperti ini
bisa sedikit dinetralkan dengan ngopi 🍵 [atau lainnya, seperti 🍻 🍷 🥃
😉] bersama kawan, yang tentunya dalam situasi hangat disertai
perbincangan menggembirakan hati (bukan harus lucu melainkan yang membuat
rasa dan pikiran menggeliat hidup).
Ya, tepat sekali, energi pemulihan kerap saya peroleh dari kebersamaan
dengan kawan-kawan.
1
Entah semesta mendengar keluh hati saya, tiba-tiba saja pada tanggal 9
September 2022 pukul 21:53 Bang Andrew Simbolon berkabar melalui WhatsApp
Group (WAG) bahwa dia akan berada di Bandung dari tanggal 15 sampai 17
nanti.
Walau sesama anak Mesin, selisih 15 angkatan tentunya mereduksi habis
peluang kami bertemu di kampus. Begitu pula dari sisi profesional maupun
personal, tak ada alasan yang mempertautkan relasi kami.
Semua ini semata-mata karena AIGL yang menjumpakan kami pertama kali di
BSD, 23 Februari 2020, atas prakarsa Mas Eko Jatmiko Utomo. (Di sini juga
pertama kali saya berjumpa Evi Eleanora Oscar, Mesin 1999.)
Saya periksa agenda, ternyata tak ada acara khusus di 15 September. Maka,
saya pun menyanggupi untuk ke Bandung.
2
Tak dinyana, 4 hari kemudian di WAG Kelas 3B5 SMAN 3 Bandung muncul ajakan
berjumpa di Bandung sehubungan dengan mudiknya Dian Hadi dari Bristol,
Inggris.
Dian adalah salah satu dari sedikit murid perempuan di kelas kami saat
itu. Semenjak wisuda SMA, tak pernah saya berjumpa dengannya. Gilanya
lagi, saat saya menjadi Ketua Panitia Reuni 30 Tahun ITB Angkatan 1983,
baru saya tahu bahwa Dian adalah alumni Teknik Arsitektur '83 di ITB.
Tepok jidat banget deh atas kealpaan saya yang fatal ini 🤦♂️
3
Bertepatan saya ada keperluan terkait beberapa prinsip dasar pendidikan
tinggi, teringatlah pada Mas Ahmad Syamil Full, kawan sekelas di Mesin 83
dan pendekar silat Perisai Diri (colek Mas Chandrasa Sedyaleksana) yang
menjadi Dekan di BINUS. Maka saya pun mengontak Mas Syamil pada tanggal 14
September guna meminta waktu audiensi.
Ndilalah Mas Syamil berkabar bahwa dia sekarang bertugas di BINUS
Bandung. Permohonan saya disambut cukup antusias, bahkan diatur waktunya
pas jam makan siang.
Sebenarnya sudah sangat lama pula saya tak berjumpa dengannya. Semenjak
lulus ITB, Mas Syamil melanjutkan sekolah ke Amerika Serikat hingga Doktor
dan kemudian melanglang seantero Negeri Paman Sam sebagai Profesor
pengajar di berbagai universitas ternama.
4
Rabu sore saya ada jadwal bertemu dengan Mas Gembong Primajaya di
Sekretariat IA-ITB. Sehabis diskusi (sebagaimana lazimnya berlangsung
akrab dan intens dengan berbagai perspektif), Mas Gembong bilang bahwa
besok pagi dia akan ke Bandung.
Ketika saya katakan bahwa saya pun akan ke Bandung, serta merta Mas
Gembong mengajak barengan. Persis pula waktunya pagi hari sesuai rencana
saya.
* * *
Tampak benar semesta demikian peduli. Jika bisa dibilang sebagai
keajaiban, mungkin ini salah satunya. Semua pihak seakan bersekongkol
memberi kesempatan untuk menuntaskan berbagai rencana pada hari yang sama.
Kamis pagi tanggal 15 September saya pun berangkat ke Bandung berdua Mas
Gembong. Tak sampai 2 jam perjalanan, kami tiba di rumahnya di Kota Baru
Parahyangan. (Berkendara dengannya menimbulkan sensasi ala
Fast and Furious 😁).
Mas Gembong mengajak saya sarapan dulu. Tetapi tak lama setelah kami
turun dari mobil, Ale, putera Mas Gembong berpamitan mau ke Bandung
untuk kuliah. Saya putuskan untuk ikut Ale saja agar bisa segera bertemu
kawan-kawan SMA yang menjadwalkan pertemuan jam 10 pagi.
Sepanjang perjalanan, kami ngobrol santai.
Ale ternyata kuliah di Jurusan Material di FTMD ITB, sementara saya dan
ayahnya adalah alumni Lab Metalurgi. Sontak muncul pertautan rasa akrab
walau usia terpaut cukup jauh. Bisa jadi molekul logam dalam diri kami
langsung bergetar dan berinterferensi harmonis 😊
Barangkali itu pula sebabnya Ale tak sungkan menanyakan bagaimana kiprah
ayahnya selama kuliah. Hahahaha.. Ini situasi yang membuat saya kagok 🤣
Dengan singkat saya jawab bahwa ayahnya sama normalnya dengan kawan lain
pada zamannya, yakni bangor dan gaul selain tetap melaksanakan
kewajiban belajar 🤣 Saya bilang juga ada hal luar biasa pada diri
ayahnya yang ternyata sangat berguna di masa sekarang, yakni solidaritas
tanpa pamrih dan keluasan jejaring pertemanan tanpa batas. Ale
tertawa-tawa mendengar penuturan saya.
Ale menurunkan saya di Hummingbird di Jalan Progo. Tepat berbarengan
dengan tibanya kawan-kawan lain, termasuk Dian. Langsung kami terlibat
dalam perbincangan seru. Apalagi kalau bukan nostalgia semasa SMA
berikut bunga-bunga kenakalan masa remaja 😁
Sekian puluh tahun tak jumpa mereka (kecuali dalam reuni besar yang
sangat jarang) tidak membuat kami kikuk. Kealpaan saya menjalin tali
silaturahmi tak menjadi pengurang keakraban. Malah suasana jadi seru
karena saling mengingatkan drama-drama di kelas dahulu. Orang Jawa
bilang,
gayeng Beruntung pula saya tak menjadi sasaran tembak karena
satu-satunya lelaki di antara para perempuan..
Tak lama kemudian, Neng Nurul 'uyuy' Akriliyati bergabung. Uyuy adalah
sahabat Dian saat di Inggris. Tentu saja hal ini menjadi kejutan yang
menyenangkan bagi kawan-kawan karena kami berbeda 8 angkatan di SMA.
Namun hal itu sama sekali bukan hambatan dalam membangun suasana cair
dan hangat.
Sekitar pukul 12.30 saya berpamitan untuk menemui Mas Syamil di BINUS.
Dengan menggunakan Go-Jek saya bisa tiba di kawasan Pasir Kaliki dengan
cepat.
Tak lama kemudian saya dan Mas Syamil sudah duduk menyantap sop dan sate
kambing sambil berbincang-bincang. Begitu banyak informasi yang
disampaikannya mengenai pernak-pernik perjalanan hidupnya sebagai tenaga
pendidik yang membuat saya cukup tercengang kagum. Malah akhirnya tujuan
awal saya menemuinya jadi tergusur karena lebih asyik menyimak
penuturannya (sesuai dengan sifat saya yang pendiam dan pemalu serta
pendengar yang baik namun pelupa) 🤣
Sekitar jam 15 kami pun berpisah. Saya bergegas menuju Dakken di Jalan
Riau, untuk memenuhi janji berjumpa dengan Bang Andrew. O ya, agar tidak
mengundang kecurigaan bahwa antara kami ada hubungan yang tak lazim,
pertemuan ini pun akan disaksikan oleh Neng Siesca Roselinda 😊
Bang Andrew dan Neng Siesca berkabar bahwa mereka baru bisa datang lebih
sore dari rencana. Tak masalah. Saya sedang dalam 𝘮𝘰𝘰𝘥 yang sangat
bagus. Energi saya cukup memadai karena baru di-charge dari 2
perjumpaan yang menyenangkan.
Sekitar pukul 17 lewat, Bang Andrew tiba di TKP dengan wajah sangat
segar berseri-seri. Tampaknya semua urusan dan rapat mendadaknya siang
tadi berlangsung baik. Syukurlah.. 🙏
Kami pun langsung berbincang sambil mengudap. Lucu memang AIGL ini,
semua berlangsung lancar tanpa hambatan kesungkanan. Persis kawan lama
saja (yang tentunya tetap mengindahkan tata krama sewajarnya).
Tak berapa lama kemudian, Neng Siesca tiba. Makin seru jadinya. Namun
tak perlulah diuraikan di sini apa topik obrolan kami. Nanti tulisan
yang sudah panjang ini akan semakin panjang.
Sekitar jam 21 kami terpaksa angkat kaki karena restoran mau tutup. Saya
dan Neng Siesca diantar oleh Bang Andrew ke pool CitiTrans di Dipati
Ukur karena Siesca mau mengirim paket.
Semula saya berencana mau langsung pulang ke Jakarta. Tetapi sore tadi
seorang kawan berusul untuk haha-hihi keesokan hari. Nanggung juga sudah
di Bandung, sekalian saja menginap supaya besok bisa dapat tambahan
asupan energi lagi.
Sehabis berpisah dengan Neng Siesca, saya pindai data di HP untuk
mencari kawan yang bisa diajak mengisi waktu malam ini hingga muncul
rasa kantuk. Maka berjumpalah saya dengan kawan semasa SMA untuk
bernostalgia gembira sambil menikmati sajian malam yang berlimpah di
seputaran Jalan Dipati Ukur.
Sekitar pukul 3, kantuk mulai merongrong. Dengan menggunakan aplikasi di
HP, saya memesan hotel di kawasan Dago. (Drama tentang hotel ini saya
lewatkan saja karena perlu posting tersendiri 😁).
Tidur sekitar 4 jam sudahlah cukup. Jam 8 pagi lewat sedikit, saya sudah
siap jalan. Janji bertemu kawan di Bandung Trade Center, Jalan Dr.
Djundjunan pun bisa terpenuhi.
Tanpa banyak cakap, kami pun berangkat ke kawasan Bandung Selatan. Tak
pernah saya sangka bahwa daerah ini sangat berkembang dalam bidang
pariwisata. Akses yang bagus ditambah ketersediaan jalan tol, tempat
kuliner yang tersebar di mana-mana, dan tentunya objek wisata yang bagus
serta punya keunikan.
Dan yang cukup mengejutkan saya adalah adanya tempat penangkaran rusa.
Tidak pernah saya bayangkan ada tempat seperti ini sehingga tak pernah
berhasrat main ke daerah ini. Rupanya Bandung Selatan tak kalah
dibanding Bandung Utara (Lembang dan sekitarnya). Sungguh mengagumkan.
Hebat!
Pak Aep yang menjadi penjaga tempat penangkaran rusa bercerita bahwa
populasi rusa yang asalnya hanya 2 sampai 4 ekor, kini sudah menjadi
puluhan. Kalau tak salah 90-an, dengan jumlah betina lebih banyak.
Artinya, kian besar peluang meningkatnya jumlah rusa.
Pak Aep juga menyampaikan bahwa di kawasan situ masih ada macan kumbang
dan macan tutul. Wah, ini sebuah kabar yang menggembirakan bahwa spesies
langka ini masih belum punah.
Seusai sejenak bermain dengan rusa yang jinak namun agak jahil, kami
mampir sejenak di Kafe Bahtera yang kerap disebut Pinisi. Sejauh pandang
terlihat kabut turun perlahan menyelimuti hutan dan jalan. Begitu indah
sekaligus mistis. Terasa dingin. Tapi perbincangan kami sedemikian
hangat ditingkah kopi, wedang ronde, dan pisang bakar keju.
Sekitar jam 16 saya diantar ke pangkalan travel di Pasteur untuk kembali
ke Jakarta. Terasa sekali kantung energi saya melimpah sehingga sanggup
melunturkan tumpukan kejenuhan yang mendera belakangan ini.
* * *
Terasa betul bahwa pertemanan polos tanpa agenda tersembunyi akan
sedemikian kuat mendukung ketahanan mental. Begitu pula kehendak yang
kuat dibalut kepasrahan akan merintis jalan bagi semesta untuk turut
campur.
Sungguh, saya sangat bersyukur memiliki kawan-kawan seperti ini.
Mengalir saja seturut hati. Tanpa mereka sadari, 2 hari di Bandung
merupakan momen yang sangat berarti bagi saya. Menjadi proses
penyembuhan yang luar biasa ampuhnya. Istilah zaman now, healing
To all of you, my dear friends, I can only say thank you and I love
you
💕
📌 Minggu, 2 menit menjelang berakhirnya tanggal 18 September 2022 🌐
Tak sekejap pun diangkatnya wajah untuk menatapku yang duduk tak sampai 1
meter di depannya meski beberapa kali kulambaikan tangan sebagai isyarat
memohon perhatian. Matanya tanpa jeda tertuju pada layar laptop di
hadapannya yang tampak sedemikian penting tinimbang keberadaanku.
Masih sanggup untuk kutahankan
Meski telah kau lumatkan hati ini
Kau sayat luka baru di atas luka lama
Coba bayangkan betapa sakitnya
Nyaris seperempat hari penuh aku terhenyak laksana pengidap kusta atau
mungkin seonggok nista yang tak layak dipandang sebagai manusia.
Perbincangan pendek-pendek yang terasa amat dipaksakan pun hanya meruapkan
dalih keengganan menyimak, konon pula menjelaskan. Belum pernah sebelumnya
dalam hidup kualami penihilan setelak ini. Hampa mutlak. Kehilangan
segala.
Hanya Tuhanlah yang tahu pasti
Apa gerangan yang bakal terjadi lagi Begitu buruk telah kau
perlakukan aku Ibu menangislah demi anakmu
Bertimbun kisah yang ingin kututurkan gamblang. Tentang ikhtiar dan
kegagalan yang mendera belakangan ini, yang memantik anggapannya bahwa aku
berubah. Tak diketahuinya liku petaka yang meluluh lantakkan sebentuk
mimpi di mana dirinya tertahbis sebagai episentrum ruang benderang setelah
kukibas ragam janji dan pesona yang kutengarai bisa menggerus arti
hadirnya.
Sementara aku tengah bangganya Mampu tetap setia meski banyak
godaan Begitu tulusnya kubuka tanganku Langit mendung gelap
malam untukku
Genap satu purnama aku dihempas ke nadir ngarai gulita. Tak kusua secercah
pun petunjuk untuk memahami amarahnya bahwa aku tak lagi seperti yang
dulu, yang tak pernah palingkan pandang darinya, sehingga dibulatkannya
tekad hengkang membawa luka menganga tanpa menyisakan peluang bagiku
mengurai kebuntuan yang dirangkainya.
Ternyata mengagungkan cinta Harus ditebus dengan duka lara Tetapi
akan tetap kuhayati Hikmah sakit hati ini Telah sempurnakan
kekejamanmu
Setiap kata yang kuutarakan senantiasa ditepis ujar menggentarkan, "Tidak
perlu dibahas lagi!". Membuatku gagap bagai seorang pandir minim kosa
kata. Serta-merta kusadari tak guna berupaya menata ulang ruang yang
telanjur retak. Dan sejurus kemudian aku sudah tercenung di tepi jalan
dengan terawang kosong.
Petir menyambar hujan pun turun Di tengah jalan sempat aku
merenung Masih adakah cinta yang disebutkan cinta Bila kasih
sayang kehilangan makna
Kendati demikian, sebentuk rasaku padanya, yang kubopong cermat sejak
tengah malam tadi, kukuh bergeming. Tak satu serpih pun kikis walau kini
berlumur jelaga dan sayatan teramat perih. Kepasrahan menerima segala
risiko telah bangkitkan keteguhan, "Akan kurawat ruang benderang di relung
hatiku walau kini kosong tanpa dirinya bertahta di mahligainya." Entah
satu masa nanti tatkala kearifan ataupun nestapa meraja secara paripurna.
Ternyata mengagungkan cinta Harus ditebus dengan duka lara Tetapi
akan tetap kuhayati Hikmah sakit hati ini Telah sempurnakan
kekejamanmu
Sekarang aku hanya ingin pulang ke titik perdana di mana dapat kuresapi
segenap nada subtil perbincangan selewat tengah malam, tempat bayangnya
melintasi kenang dalam hening setajam belati.
Dahulu sempat populer suatu proses kreatif yang dinamai "musikalisasi
puisi" dengan Ebiet G. Ade sebagai salah satu tokohnya. Di sini saya
coba terapkan pembalikannya menjadi "prosaisasi lagu" 😜
O ya, perlu juga saya sampaikan untuk tak hiraukan foto yang menjadi
sampiran. Tak usah pula mereka-reka sosok serta saat kejadiannya, sebab
kesamaan cerita hanyalah kebetulan yang tak kuasa dihindari 😁
"Berangkaaaat," menyeruak teks di WhatsApp. Tertera nama Siesca Roselinda
dan angka 05:12 pada tanggal 29 Agustus 2021.
ALOF:
Siang ini saya menunaikan janji kencan segitiga dengan Neng Siesca yang
datang dari Bandung karena ada urusan ke Jakarta serta dengan Ito Lucianna
Tobing yang terkena jadwal piket ngantor setengah hari. Cilandak Town
Square alias Citos disepakati secara aklamasi sebagai
rendezvous selewat tengah hari.
Sekitar jam 13 saya masuk area mal terlaris di kawasan Jakarta Selatan
setelah hampir gagal memindai QR code PeduliLindungi.id.
Nyaris berbarengan, Ito Luci tiba. Setelah berbasa-basi sejenak, kami
berkeliling mencari tempat paling nyaman untuk makan dan ngobrol (dan
tentunya harus aman karena beberapa topik bahasan tergolong rahasia kelas
A1 😜). Akhirnya pilihan jatuh pada resto Sate Senayan di lantai 2 yang
agak memencil.
Ini adalah pertemuan ketiga kami. Pertama, saat kopdar perdana AIGL di
Janji Jiwa (Cibubur, 21 September 2019). Saat itu saya belum berani
bertegur sapa dengannya. Maklumlah, saya kan pemalu dan pendiam, sedangkan
Ito Luci sedang
moncer reputasinya sebagai selebritas papan atas AIGL.
Pertemuan kedua, ketika dijamu makan siang di rumah Mbak Jane Kurnadi dan
Mas Gapit Agapitus Rustriwidodo (Alam Sutra, 16 Agustus 2020), yang juga
dihebohkan oleh rombongan Lae Ecko Manalu, Bang Nelson Napitupulu, Ito
Meirina Pane, serta Mbak Arik Hari Sutji Murwani, di bawah asuhan Mamak
Lindes Dumaria Gultom.
Pembawaan Ito Luci yang supel membuat saya nyaman berbincang tanpa repot
menata kata. Apalagi dia tipe blak-blakan sehingga kami kian tak sungkan
mengulas rinci berbagai hal, mulai dari dinamika yang terpapar di AIGL
sampai pernak-pernik kehidupan yang menyentuh ruang privat.
LUCI:
Bang alof nih kalau nanya gak pakai tedeng aling-aling banget sih? Main
tembak aja kayak sedang interogasi maling jemuran. Yang ditanyain sih
emang wajar kalau antara kawan akrab. Lha, kita kan baru kenal dan baru
sekarang ngobrol dekat. Tapi emang sih kayak sudah akrab.
Mudah-mudahan aja dia gak ember. Ngakunya sih lupaan. Sekarang diceritain,
besok juga sudah gak ingat. Ya udah, anggap aman aja deh 🤲
ALOF:
Kurang-lebih 15 menit baku tukar cerita, Neng Siesca pun muncul. Inilah
perjumpaan pertama kami dengannya.
Ternyata bawaannya 11-12 dengan Ito Luci. Meriah, ceria, dan penuh canda.
Keseruan ngobrol pun meningkat kian hangat. Tak sampai bermenit-menit,
kami sudah lancar berhaha-hihi membahas berbagai topik yang sedang 𝘵𝘳𝘦𝘯𝘥
maupun yang sudah basi tapi bisa didaur ulang 😊
Sebagai anak Mesin/FTI 83 yang terkenal pemalu dan pendiam, amatlah
mustahil membayangkan bisa berkarib dengan Ito Luci (Arsitektur/FTSP 92)
apalagi Neng Siesca (Kimia/FMIPA 97). Telak berbeda jurusan dan fakultas,
serta lumayan selisih angkatannya (tak perlu dipertegas bahwa hal ini
berkorelasi langsung dengan usia 😝).
Terhadap Ito Luci terpaut nyaris 1 dekade, sedangkan dengan Neng Siesca
hampir 2 windu. Artinya, saat saya sudah pegang KTP untuk nonton film
dewasa, Ito Luci sedang seru-serunya main congklak dan Neng Siesca masih
rewel bawel sebagai batita 🤣
Namun, nyatanya, komunikasi meluncur mulus. Kami bisa ketawa-ketiwi, mikir
serius maupun bengong bersama tanpa ragu. Asalkan bukan soal drakor atau
grup BTS, saya masih bisa nimbrung.
Patut saya menjura takzim atas kesaktian AIGL yang dengan sekali kibas
mampu meluruhkan berbagai sekat dan tingkat sehingga keakraban para
anggotanya sangat mudah terjalin walau belum pernah bertemu sebelumnya.
Salut!
LUCI:
Unik juga konektivitas ala AIGL. Gak pernah ketemu di kampus Ganesha saat
kuliah tapi tetap aja ada bahan yang bikin obrolan nyambung.
ALOF:
Sambil menyantap makanan, saya ceritakan "gangguan" yang saya alami
selama menyepi sendiri di sebuah rumah besar yang kosong dalam rangka
berkonsentrasi menyunting buku. Serta-merta topik pun beralih ke kawasan
mistis yang mencekam.
SIESCA:
Menurut sense gue sih memang ada yang ganggu Bang alof. Apalagi
dia kerjanya sering malam banget sampai pagi. Dan yang di-edit
adalah buku tentang eksorsis alias pengusiran setan.
Tapi ya gak sampai gimana-gimana juga sih. Paling banter denger suara
gedebak-gedebuk di loteng atau suara air ngucur di belakang tempat
duduknya.
Lebih seru pengalaman gue dong berurusan dengan tokoh sakti Borneo 🙏
LUCI:
Idih, sedang gak mood banget deh bahas horor. Mending gue alihkan
ke soal lain aja.
"Nih ada banana cake buat Bang alof dan Neng Siesca. Bikinan
Abel, anak gue. Enak banget lho."
Boleh dong sekali-sekali promosi hasil karya anak. Doain ya bisnisnya
berkembang karena passion-nya memang di situ.
SIESCA:
Waduh, gak kerasa udah hampir jam 16. Kudu balik ke Bandung euy supaya
gak kemalaman sampai rumah. Kasihan Mimil ditinggal seharian. Gue mau
pesan 𝘵𝘳𝘢𝘷𝘦𝘭 dulu ya. Duh, padahal masih asyik pisan ngobrolnya.
ALOF:
Perjumpaan yang semula dicadangkan hanya 2 sampai 3 jam terasa amat
cekak. Meski baru pertama tapi serasa reuni antar sahabat lama yang
tahunan pisah. Masih banyak yang antre ingin dicurahkan.
Mungkin sedang dihinggapi Malaikat Kanan yang murah hati, saya pun
menoleh pada Ito Luci sambil nyeletuk tanpa mikir, "Apa kita ke Bandung
aja?"
LUCI:
Weits... Tantangan Bang alof kayaknya seru juga. Sering banget kan acara
yang pakai plan malah gak jadi. Mendingan spontan eksekusi aja
dah.
Langsung gue nyahut, "Ayo! Siapa takut?"
Lagian hari ini gue sedang hepi karena tugas ngedandanin kantor sudah
rampung dengan mengerahkan para staf.
ALOF:
Akhirnya kami pun sepakat mengantar Neng Siesca pulang ke Bandung. Walau
hati kecil agak menyesal juga melempar ide ini karena pulangnya pasti
sangat telat. Maklumlah, Mama bilang anak baik gak boleh kemalaman,
nanti digigit nyamuk. Tapi telanjur ajukan penawaran, pantang ditarik
balik.
Di kisaran jam 18 kami hengkang dari Citos. Berhubung begadang malam
sebelumnya, saya minta izin tidur sekitar 15 menit di jok belakang.
Jadilah Ito Luci yang mengemudi.
LUCI:
Bang alof payah ah... Masak keluar dari Citos dia salah kasih arahan.
Bukannya ke Bandung, eh malah menuju Depok. Kali emang ngantuk banget
dia, jadi rada kusut memorinya. Lah, gue kan warga Bekesyong, mana hapal
jalan di Jaksel.
Terpaksa muter dah. Dan setelah yakin berada di jalan yang benar menuju
Cipularang, Bang alof langsung bobok di jok belakang. Untung aja gak
pakai ngorok kayak Bang Toni P Sianipar di lobby hotel di DC.
SIESCA:
Bisa-bisanya gue punya temen-temen rada sableng gini... Baru pertama
ketemu, main nekad nganter balik ke Bandung. Gue sih seneng aja
ditemenin. Daripada gue dihipnotis sama penumpang lain di
travel terus diculik. Kasihan Mimil atuh. Iya, kan?
ALOF:
Niat merem beberapa menit ternyata gagal total karena saya tak kuasa
mengabaikan obrolan seru kedua perempuan yang duduk di depan. Diam-diam
saya simak dan resapkan walau sadar sekali bahwa besok pun sudah lupa
apa yang mereka bahas.
Setelah singgah sejenak di rest area terdekat, giliran saya
mengambil alih kemudi. Sepanjang jalan, proses tukar menukar informasi
dan analisis terus berlangsung. Dan memang menakjubkan rupanya
warna-warni kehidupan ini 🤣
Puji Tuhan! Haleluya! Perjalanan santai berlangsung amat lancar. Dalam
tempo kurang dari 3 jam, roda mobil sudah menjejak kota Bandung.
"Mau ke mana nih kita? Lapar lagi euy."
SIESCA:
Iya juga ya, kerasa lapar. Kayaknya kalori terkuras deras akibat
kegairahan berdiskusi tak putus selama beberapa jam. Mana Bandung sedang
dingin pula. Enak nih makan yang hangat-hangat.
"Gimana kalau ke sate Hadori?"
Gak pakai banyak cingcong, semua setuju.
Tapi ternyata sate Hadori tutup karena dagangannya sudah ludes. Untung
aja di sebelahnya ada sate Sineureut yang kata orang malah lebih enak.
Kami pun melipir ke situ.
LUCI:
Emang enak nih satenya. Tapi ogah nambah. Malu euy..
Selesai makan, lanjut deh kita nganter Neng Siesca ke rumahnya.
Mari nikmati sejuk Bandung di malam hari, serasa bernostalgia saat
kuliah dulu. Tentu saja sambil melanjutkan obrolan kelas A1.
Bang alof nyetirnya selow amat. Kayaknya kekenyangan. Mudah-mudahan aja
dia gak ngantuk. Mungkin perlu dikasih asupan kopi.
SIESCA:
Lucu deh jadinya. Kan dari Bandung gue bawain kue Soes Merdeka buat
mereka. Eh sekarang malah ikutan balik tuh kuenya ke Bandung 😁
Anyway, thanks berat ya, friends. Kalian baik banget mau
repot nganter gue pulkam. Bahagia rasanya hari ini.
LUCI:
Unik. Baru juga kenal sama Neng Siesca tapi serasa udah sohib lama,
kayak adik sendiri. Gak tega ngelepas dia balik sendirian. Ada untungnya
juga Bang alof mau jadi supir kelas AKAP.
Such a wonderful day ...
ALOF:
Sehabis mengantar Neng Siesca, kami langsung putar arah kembali ke
Jakarta. Nonstop tanpa mampir. Perjalanan juga selancar berangkat tadi.
Dan sepanjang jalan ada saja bahan obrolan yang manjur untuk mengusir
kantuk dan rasa sepi. Dan akhirnya kami tiba di Jakarta sekitar jam 1
dini hari.
Selamat ulang tahun yang pertama.
Semoga selalu sehat, bahagia, dan penuh cinta 🙏
Pernah tayang film berjudul Vantage Point tentang penembakan
terhadap Presiden Amerika Serikat yang ditinjau dari sudut pandang
beberapa saksi. Cara bercerita seperti ini disebut
Rashomon Effect, karena pertamakali diterapkan oleh sutradara
kreatif legendaris Akira Kurosawa dalam film Rashomon.
Walau kisah fiksi ini amat jauh kelasnya dibanding kedua film di atas,
bolehlah saya contek modusnya dengan sedikit modifikasi. Sila menikmati
sebisanya.
<< ini baru preambul yang akan disambung jika ada mood 😁
>>
Menjadi pengayom, pelindung, pelayan, dan penegak hukum bagi masyarakat
bukanlah pekerjaan mudah. Tak jarang malah terasa sebagai beban yang amat
berat. Coba saja tanya POLRI selaku institusi yang mengemban tupoksi
tersebut 😊
26 Oktober 2013
9 Maret 2016
Setelah menerima estafet dari Kal El alias Clark Kent di
tahun 2013 untuk mengamankan acara
Pulang Kampung Ikatan Alumni Mesin (IAM) di Aula Barat ITB dan
terus berlanjut secara intens hingga terdampar di menara doyong Pisa tahun
2016, akhirnya saya putuskan berhenti.
Capek kali pun keluyuran ke sana ke mari padahal saya paling hobi rebahan.
Enough is enough!
Dani El 7 Juli 2022
Beruntung ada seorang anak muda dari Jurusan Teknik Mesin ITB yang
ternyata punya passion yang sama. Apalagi dia ternyata amat lincah
dan enjoy lelarian ke segala penjuru. Maka logo keramat pun diemban
oleh Dani El alias Daniel Agung yang dari segala aspek tentunya
lebih pas sebagai Superman 👍
Tak seorang pun bisa membantah fakta ini walau tidak bisa dibuktikan CCTV.
BTW, siapa lagi yang punya kaos dengan logo S legendaris ini?
Gawai Blackberry Bold (BB) seri 9900 Dakota ini senantiasa menemani saya
sejak rilis di Indonesia pada penghujung tahun 2011 dengan fenomena
antrean pembeli. Walau beralih ke iPhone ataupun Android, saya tetap
mengantungi mahakarya dari Canada (yang sayangnya gagal mempertahankan
tahta di kerajaan ponsel cerdas). Minimal, benda ini bisa saya fungsikan
sebagai alarm wekker, pencatat waktu, ataupun kalender 😁
Gara-gara fungsi istimewanya ini, dia mendapat gelar jam BB dari
kalangan kawan-kawan Komunitas Musik ITB (KMI).
Apa hubungannya dengan musik?
Karena BB ini kerap menjadi alat bantu penghasil bukti dokumentasi betapa
rajinnya kami berlatih musik dalam band Dark of Musicology (band
ITB 83 non-festival alias untuk bergembira dan meluapkan ekspresi) hingga
lewat tengah malam bahkan subuh (tradisi bulan puasa yang kami namai
sahur on the rock 🎵🎹🎤😎).
11 Juni 2017
Tepat jam 00:00 WIB tanggal 1 Juni 2018
Kini BB kebanggaan yang setia tersebut sudah pensiun karena perangkat
lunaknya
error sedangkan saya sudah tak bersemangat melakukan
install ulang.
Apakah anda pernah memiliki nasib sebagai salah satu pengguna BB?
Suatu masa, ada sepasang suami istri di suatu desa di Pulau Bali yang
belum dikaruniai anak setelah bertahun-tahun menikah. Setiap hari mereka
berdoa, hingga akhirnya sang istri mengandung dan melahirkan seorang bayi
laki-laki.
Bayi itu bertumbuh sangat cepat dengan nafsu makan luar biasa. Semakin
hari ia semakin besar hingga tubuhnya melebihi orang dewasa. Orang-orang
memanggilnya Kebo Iwa yang berarti “paman kerbau.”
Nafsu makan Kebo Iwa membuat kedua orang tuanya kewalahan. Mereka terpaksa
meminta bantuan warga desa sehingga kebutuhan pangan Kebo Iwa turut
ditanggung seluruh penduduk.
Kebo Iwa juga terkenal pemarah. Jika keinginannya tak terpenuhi, dia akan
merusak. Menghancurkan rumah warga, bahkan tak segan merusak pura. Tentu
saja hal ini amat meresahkan.
Meski begitu, karena tenaganya besar, Kebo Iwa kerap dimintai pertolongan
untuk mengangkut batu, meratakan tanah, memindahkan bangunan, membendung
sungai, menggali sumur, dsb. Semua dikerjakan dengan imbalan makanan
berlimpah.
Ketika musim kering tiba, warga desa mengkhawatirkan cadangan pangan
mereka. Bagaimana memenuhi kebutuhan Kebo Iwa sedangkan persediaan
terbatas?
Betapa takut mereka membayangkan amarah Kebo Iwa. Mereka berpikir keras
hingga akhirnya menemukan siasat menyingkirkan Kebo Iwa.
Suatu hari, warga menemui Kebo Iwa dan mengeluhkan banyaknya rumah yang
rusak akibat amukannya. Kebo Iwa berdalih bahwa itu adalah kesalahan
mereka yang tidak memberinya cukup makanan.
Warga beralasan mereka gagal panen akibat kurangnya air. Mereka berjanji
akan menyediakan makanan berlimpah jika Kebo Iwa membuatkan sumur untuk
mengairi sawah dan lahan pertanian.
Kebo Iwa pun setuju. Dia membangun kembali rumah-rumah yang rusak lalu
menggali sumur di tempat yang sudah ditentukan. Pada saat bersamaan, warga
mengumpulkan batu-batu kapur di sekitar tempat galian.
Kebo Iwa bertanya, “Untuk apa batu-batu kapur besar itu?” Mereka menjawab,
batu-batu itu disiapkan untuk rumah Kebo Iwa.
Ia pun semakin semangat menggali hingga air mulai memancar. Kebo Iwa
mengira pekerjaannya sudah selesai, namun Kepala desa mengatakan sumur
masih belum mencukupi sebagai sumber air satu desa. Maka Kebo Iwa terus
menggali sumur semakin besar dan dalam.
Kebo Iwa akhirnya kelelahan. Dia pun beristirahat dan langsung menyantap
habis makanan yang disiapkan warga. Kekenyangan, Kebo Iwa sangat mengantuk
dan tertidur pulas dalam lubang galiannya.
Inilah saat yang ditunggu-tunggu. Kepala desa memerintahkan warga untuk
melempar batu-batu kapur ke dalam sumur. Kebo Iwa sontak terbangun dan
sangat terkejut. Namun sudah terlambat. Rasa kenyang ditambah air dan
bebatuan yang memenuhi lubang galian membuatnya tidak sanggup keluar untuk
menyelamatkan diri. Dia akhirnya terkubur dalam sumur galiannya sendiri.
Celakanya, air sumur terus meluap membanjiri desa dan area sekitar.
Akibatnya, warga terburu-buru mengungsi ke tempat yang lebih tinggi tanpa
dapat menyelamatkan banyak barang. Mereka kehilangan harta benda, sawah,
ladang, ternak, dan rumah.
Beberapa desa yang tenggelam itu membentuk sebuah danau besar yang kini
dikenal sebagai Danau Batur. Sedangkan timbunan tanah hasil galian Kebo
Iwa membentuk gunung yang dinamai Gunung Batur.
Moral Cerita
Sifat serakah, egois, tamak, serta hanya memikirkan kepentingan pribadi
akhirnya akan merugikan diri sendiri dan sekitar. Meski hebat dan kuat
sebagai individu, jika tidak memiliki rasa kasih, maka lingkungan dan
sesama pun tidak akan menerima. Dengan kelebihan maupun kekurangan,
harus tetap rendah hati dalam memberi maupun menerima bantuan sesama.
Kejenuhan mengikuti perdebatan yang kerap tak berujung dan tak produktif
(bahkan ada yang menyebabkan pertengkaran) di berbagai grup media sosial
melahirkan kesepakatan membentuk ruang baru yang menawarkan persahabatan,
kegembiraan, kesahajaan, apa adanya, boleh sedikit ngaco asalkan tak
melahirkan hoax dan debat kusir 🤣 Intinya, sebuah tempat di mana
semua orang dihargai selaku manusia dan kawan seperjalanan.
Maka, pada tanggal 7 Juli 2019 berdirilah sebuah grup baru di
Facebook yang bernama
Alumni ITB Garis Lucu
alias AIGL.
Diharapkan, para anggota bebas mengekspresikan jati dirinya tanpa tekanan
untuk tampil bergaya ilmiah dengan segudang argumentasi sebagaimana sering
dilabelkan pada alumni kampus Ganesha 10 Bandung. Di sini, semua topeng
dan jubah ditanggalkan. Hanya tinggal sosok manusia dengan pribadi
hakikinya yang ternyata amat beragam.
Rupanya yang disebut lucu tidaklah terbatas pada hal yang membangkitkan
rasa geli melainkan juga gairah menemukan sisi lain dari berbagai nasib
yang dikisahkan seseorang. Ya, definisi lucu ternyata demikian lebar
spektrumnya.
Hal serius sekalipun bisa meledakkan tawa ketika ada komentar yang amat
jauh dari persangkaan ataupun yang berlagak polos. Kisah menyeramkan bisa
langsung melorot jadi dagelan Hal menyedihkan malah berubah jadi
pembangkit semangat dan penghiburan yang bukan sekadar basa-basi. Konon
pula cerita yang masuk ke soal domestik dan privat. Makin bikin ngakak.
Tak ada kata-kata yang bertujuan menjatuhkan melainkan permainan bahasa
dengan hasrat membangun keakraban. Dan yang jauh lebih keren adalah
kesanggupan menertawakan diri sendiri. Sangat boleh jadi inilah makna
sense of humor paling tulen, yang merupakan cerminan optimisme
bahwa semua akan baik-baik saja ketika sadar bahwa kita tidaklah
sendirian. Derita akan berkurang saat dibagi, sementara sukacita yang
dibagi justru akan semakin besar.
Maka, jangan heran jika ada yang mengaku sering tersenyum bahkan mendadak
tertawa sendiri saat membuka grup AIGL (sehingga kerap menjadi tertawaan
keluarga ataupun orang lain). Ada yang sampai lupa turun di halte tujuan
karena keasyikan membaca dan mengomentari posting. Jangan tanya pula yang
terpaksa menambah jam kerja akibat tergoda menyimak tuntas keseruan di
AIGL.
Keterbukaan inilah yang membuat para warga di AIGL "saling mengenal"
karakter satu sama lain walau belum pernah bertemu (apalagi yang berbeda
jurusan dan angkatan di kampus). Akibatnya, ketika sungguhan ketemu, semua
bisa langsung cair dengan saling berbalas cerita bahkan olok-olok tanpa
sungkan dan sakit hati. Ibarat sobat yang dipertemukan kembali setelah
berpisah sekian lama.
Dalam 3 tahun perjalanan berikut berbagai dinamikanya, sungguhlah terasa
bahwa AIGL adalah tempat di mana semua tangan terbuka menyambut kehadiran
siapa saja. Tempat semua orang saling kenal dan sapa. Tempat senyaman
haribaan yang kita akrabi sejak kecil.
Roberto Meisa Barus hanyalah seorang manusia biasa. Jika hidup ini
diibaratkan sebagai sebuah film, dia bukanlah pemeran utama yang namanya
dituliskan pertama. Namun dia adalah sosok yang kerap muncul sebagai aksen
ikonik dalam berbagai adegan.
Dengan cara yang sangat biasa dia hadir dalam berbagai fragmen kehidupan
banyak orang, terutama di masa-masa berat dan muram. Masing-masing
mendapat sentuhan di sisi dan cara berbeda, sehingga amat beragam cerita
yang terserak.
KEHADIRANNYA yang senantiasa membawa pencerahan, sukacita, dan
solusi adalah cara Roberto mensyukuri serta menyalurkan karunia Tuhan yang
baginya amat cukup. Your Grace is Enough, demikian dia deklarasikan dalam statusnya di Whatsapp maupun Facebook.
KEPERGIANNYA membuat banyak orang saling berjumpa [kembali] dan
berbagi kisah. Maka jadilah buku kecil ini sebagai upaya merangkai
keping-keping terserak tersebut menjadi mosaik dari seorang manusia biasa
bernama Roberto Meisa Barus. Tentu saja buku ini tak mungkin mengungkap
dirinya secara utuh. Selalu ada bidang kosong yang hanya bisa dilengkapi
oleh setiap orang dengan warna dan kisahnya sendiri.
KETIADAANNYA bukanlah akhir eksistensi Roberto karena tak sedikit
orang yang akan terus mengenang bahkan melanjutkan warisan yang sudah
dirintis dan diteladankannya, yakni berbagi berkat kebaikan dan keluhuran
budi yang sangat bisa dilakoni oleh semua orang biasa.
Demikianlah buku ini dipersembahkan bagi para manusia biasa, termasuk yang
tidak mengenalnya.
Roberto hanyalah seorang manusia biasa. Jika hidup ini adalah sebuah film,
dia bukanlah pemeran utama yang namanya dituliskan pertama. Kalaupun harus
beranalogi, kemungkinan dia akan menjadi consiglieri, sang penasihat dan
negosiator ulung dalam kisah The Godfather. Atau The Face, sang spesialis
yang pesonanya terkonversi menjadi berbagai fasilitas The A-Team dalam
operasi ala militer guna membantu pihak teraniaya.
Kepergiannya terasa sangat mendadak. Bukan karena prosesnya yang cepat
melainkan karena ketidaksiapan menerima kenyataan bahwa seorang yang masih
cukup muda dan penuh semangat harus meninggalkan kami semua yang merasa
masih belum cukup puas menikmati perannya dalam kehidupan kami.
Ketika muncul gagasan menyusun bunga rampai testimoni mengenai dirinya,
tulisan-tulisan pun mengalir deras dari berbagai kalangan. Beragam
kesaksian menguak sisi-sisi kehidupan Roberto yang mungkin
Hal ini sangat tampak dari respons banyak orang yang bersaksi tentang
kehidupannya sebagaimana tertuang dalam buku kecil ini.
Roberto bukan superman. Dia hanya manusia biasa. Oleh sebab itulah kita
sebagai manusia biasa sangatlah bisa meneladani apa yang sudah
dilakukannya bagi sesama.
Demikianlah buku ini dipersembahkan bagi para manusia biasa, termasuk yang
tidak mengenalnya.
Wahai engkau, anak manusia tak lelahkah melangkah dengan kaki
rekah dan lutut pecah menyusuri lorong keniscayaan dan asa?
PROLOG
Dulu kala, seorang bijak pernah berkata, "Dan siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah
bersama dia sejauh dua mil." Konon, dari situ muncul frasa go the extra mile yang
kurang-lebih menandaskan totalitas yang rela melakukan/memberi lebih dari
yang diharapkan. To make more effort than is expected of you.
SCENE 1
Satu masa, seseorang (sebutlah KUTU) mengalami kesulitan finansial yang
diperlukannya untuk modal kerja. Setelah KUTU berjumpa BB, bergegas BB
mencari kawan di jejaringnya yang berpeluang membantu. Atas dasar rasa
percaya, seorang kawan (sebutlah LILIN) meminjamkan dana yang tergolong
cukup besar guna memenuhi kebutuhan KUTU, dengan harapan projeknya dapat
bergulir.
Seiring berjalannya waktu, ternyata KUTU tidak bisa memenuhi janji
pengembalian pinjaman, bahkan tak lagi merespons saat dihubungi. Merasa
bertanggungjawab pada LILIN, maka BB melunasi hutang tersebut dengan cara
menyicil dari kocek pribadi selama beberapa bulan.
Tuntas dengan LILIN, BB pun tidak pernah mengungkit soal itu lagi.
SCENE 2
Kondisi kesehatan BB sangat turun sehingga bolak-balik menjalani
pengobatan, bahkan akhirnya harus rawat inap.
Satu hari, BB mendengar perbincangan keluarga pasien lain yang tampak
mengalami kesulitan melunasi biaya rumah-sakit.
Dengan santun BB menyapa, "Mohon maaf, saya tadi tak sengaja mendengar
kesulitan yang kalian alami. Jika diperkenankan, saya ingin membantu
sebagian biaya dari gaji yang baru saya terima."
Sebenarnya BB belum sebulan menjabat sebagai komisaris di sebuah
perusahaan sehingga gaji yang diterima pun tak penuh. Dana itulah yang dia
bagi dengan pasien lain yang tak dikenalnya.
NARATOR
Bagi sebagian orang, mungkin BB dipandang amat polos bahkan bodoh. Tetapi
mereka yang kenal BB amat tahu bahwa dia sesungguhnya seorang yang sangat
cerdas dan cermat tanpa dinodai prasangka.
Dia lakukan semua itu bukan karena berharap mendapat pujian (dan
kisah-kisah ini pun bukan dia yang menyampaikannya), melainkan karena
memang demikianlah tabiatnya.
BB tak bisa tenang jika tahu ada orang, apalagi kawan, yang sedang
kesusahan sementara dia [merasa] punya kesempatan meringankan beban
tersebut walau harus dengan mengetuk pintu kawan-kawan lain.
Begitulah peran BB di antara banyak orang, yakni menjadi penghubung antara
mereka yang membutuhkan dengan yang memiliki keluangan. Integritas dan
ketulusannya ibarat paspor yang berterima di pintu mana pun. Tak pandang
senior maupun junior, semua menaruh respek yang tinggi padanya.
Dan dalam melakukan panggilan tugas ini, kerapkali BB mendahulukan
kepentingan orang lain daripada dirinya sendiri. Bahkan di penghujung
hayat, dalam dera rasa sakit tak terperi, acap dia yang lebih dahulu
menyapa menanyakan kabar para kawannya.
EPILOG
Di mata saya, BB bukan sekadar menemani berjalan sepanjang 2 mil,
melainkan rela menggendong orang tersebut walau dia sendiri
sebenarnya sedang kepayahan.
Tak ada keterikatannya pada materi duniawi (padahal BB bukan seorang yang
berlimpah kekayaan) maupun keterbatasan fisik (dalam kondisi sakit
sekalipun) yang mampu menjebaknya dalam dilema batin saat berhadapan
dengan panggilan pertemanan.
Buku-buku jari tangannya kapalan akibat mengetuk banyak pintu. Pipinya
kebas menerima tolakan. Jiwanya tangguh teruji dalam empati penuh tekad.
Apa istilah yang cocok untuk perilaku seperti ini?
Saya tak tahu pasti.
Mungkin juga seperti dikatakan orang bijak yang sama dulu kala, "Tidak ada
kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya
untuk sahabat-sahabatnya."
Di lubuk hati terdalam, saya cukup yakin hanya orang-orang berjiwa luhur
yang mampu melakoninya.
Demikianlah.
CODA
Wahai engkau, anak manusia, buku-buku jarimu yang kapalan adalah
saksi hati dan jiwa yang melampaui segala nalar. Hikmat!
NOTA BENE
O ya, saya hampir lupa mengatakan bahwa BB adalah seorang bernama
panggilan Boret alias Roberto Meisa Barus yang telah menghadap Sang Maha
Empunya Napas sekitar 7 menit menjelang akhir hari Natal 2021.
Beberapa hari ini ada saja hal-hal yang membuat saya harus mengelus dada
sendiri (gak berani ke dada orang lain, apalagi yang berbulu lebat 🙈).
Yang paling sepele adalah memberi makan anjing saya. Entah kenapa, sejak
dulu dia susah sekali makan. Setiap kami siapkan makanan, dia akan lari
menghindar atau sembunyi. Terpaksa dia dipojokkan. Benar-benar ditaruh di
pojok ruangan di depan mangkuk makanannya sambil dijaga agar tidak pergi,
lalu disuapi agar terbit seleranya. Dan ini berlangsung setiap hari.
Biasanya dia mau makan juga setelah beberapa lama dirayu. Namun, kadang
usaha ini tetap tak berhasil.
Entah kenapa, kemarin dia sewot banget. Ketika saya mencoba menyuapinya,
dia menggeram dan menggigit sehingga kelingking tangan kanan saya luka.
Sangat sakit dan mengucurkan banyak darah. Padahal saat itu saya sudah mau
berangkat bertemu klien. Sungguh merepotkan. Tentu saja jari yang berdarah
membuat saya sulit mengelus dada tanpa mengotori pakaian.
Esok paginya, kelingking saya bengkak. Pernah dulu saya digigit sampai
luka tapi tidak bengkak. Waduh, jangan-jangan kena rabies nih.. 😔
Hujan yang turun siang itu membuat semangat kian lesu. Apalagi WAG yang
membahas sebuah projek sosial persahabatan amat sepi dari respons. Entah
sedang pada sibuk atau cuek. Terngiang petuah bijak bestari, "Tetap putus
asa, jangan semangat!". Dan seperti biasa, terpaksa saya mengelus dada
sendiri lagi deh ...
Tahu-tahu masuk telpon dari nomor tak dikenal. Katanya ada paket. Padahal
hari itu saya belum memesan barang atau makanan. Berarti kiriman dari
seseorang nih. Apaan ya..? Rupanya sebuah kotak kardus elegan yang terasa
dingin. Setelah saya buka ...... Tadaaaaaa!!! Berbaris 9 botol gelato
Ziato dengan 9 rasa berbeda. Sila cek sendiri label yang tertera di botol.
Wow! Mendadak hari menjadi indah dan enak. Seperti ada pelangi 9 warna
menembus mendung. Apalagi anjing saya sudah kembali mau bermanja-manja dan
seperti menyesal membuat kelingking saya bengkak.
Haturnuhun kepada Ma'e Nenden Agustina yang sudah memupus mendung.
Absolutely udara dingin di luar tak mampu membekukan rasa hangat di
dalam dada walau tanpa dielus.
Seseorang bersilaturahmi ke Buya HAMKA dan berkata, “Pelacur di Arab itu
memakai cadar dan hijab”.
Jawaban Buya HAMKA sungguh tak terduga. “Oh ya? Saya barusan dari Los
Angeles dan New York. Masya Allah, ternyata di sana tidak ada pelacur.”
“Ah, mana mungkin, Buya. Di Makkah saja ada kok, apalagi di Amerika,
pasti banyak lagi,” kata tamunya itu.
Maka kata Buya HAMKA, “Kita ini memang hanya akan dipertemukan dengan
apa-apa yang kita cari.
Meskipun kita ke Mekkah, tetapi jika yang diburu oleh hati adalah
hal-hal yang buruk, maka setan dari golongan jin dan manusia akan
berusaha membantu kita untuk mendapatkannya.
Tetapi sebaliknya, sejauh perjalanan ke New York, Los Angeles, bila yang
dicari adalah kebajikan dan kebaikan, maka segala kejelekan akan enggan
dan bersembunyi,” pungkasnya.
Apa yang dipikirkan dan dicari, apalagi sempat dialami secara berkesan,
kerap bisa menjadi penanda terhadap sesuatu. Itu sebabnya pengalaman
pertama menjadi penting dan sulit dilupakan. Bisa merupakan kenangan indah
ataupun traumatis.
Begitu pula dengan tempat.
Kunjungan saya ke beberapa lokasi kerap menyimpan imaji khusus. Surabaya,
misalnya. Kota ini dahulu terkenal panas dan gersang sehingga sebagian
orang sulit percaya bahwa kini banyak pepohonan hijau di seantero kota. Di
sisi lain, karena pengalaman saya di kota ini sekian puluh tahun lalu
demikian indah, maka kota ini tetap indah, entah dia gersang ataupun
menghijau.
Bandung yang sejuk semasa saya berkuliah di sana membuat saya selalu
membawa jaket walau saat ini temperatur kota sudah meningkat. Kalimantan
yang beberapa kali saya kunjungi, bahkan hingga harus naik
speedboat ataupun perahu ke pedalaman, menapakkan kenangan tentang
keasrian alam dan keramah-tamahan masyarakatnya.
Sumatera Utara yang katanya keras, tetap menjanjikan kenikmatan dari
kuliner maupun alamnya serta suara merdu penyeling kerja keras
penduduknya. Lalu Nusa Tenggara yang punya banyak pesona tersembunyi di
berbagai pelosoknya. Apalagi Papua.
Dan tempat-tempat lainnya. Demikian kaya keragaman Nusantara.
Saya bukannya menutup mata akan kekumuhan ataupun hal lain yang merupakan
realita kehidupan, namun apa guna menjadikan sebuah perjalanan sebagai
pengalaman buruk? Rugi banget atuh 😊 Malah sebisa mungkin saya upayakan
menemukan sesuatu yang membuat label bagi tempat tersebut layak untuk
diceritakan sebagai daya tarik. Itulah pengalaman pertama yang ingin saya
kecap dan tertanam dalam memori.
Seperti diujarkan orang bijak di masa lalu, "Carilah, maka akan kau
dapatkan".
Seek and ye' shall find. Dan dari situ, seperti istilah lawas saat
aplikasi pengolah kata (word processor) mulai canggih, berlakulah
WYSIWYGWhat You See Is What You Get.
Hanya saja, tak setiap orang suka memikirkan, mencari, dan menemukan
hal-hal yang membuat sukacita. Ada yang lebih senang berjumpa dan
mengenang monyet, jin, kuntilanak, dsb sehingga semua itulah yang ada di
kepalanya saat membicarakan suatu tempat, entah apapun konteksnya.
Maka di Kalimantan Timur, mau dapat patin bakar, bisa. Mau dapat mandau
terbang pun bisa. Pilihan ada pada masing-masing orang.