Minggu, 09 Oktober 2022

Jus Enak, Segar, dan Sehat yang Amat Dipujikan

Jus Enak, Segar, dan Sehat yang Amat Dipujikan

Jus segar dan enak sebagai sajian
bagi para peserta turnamen golf
di Damai Indah Golf, Bumi Serpong Damai

Seminggu menjelang pelaksanaan turnamen golf yang diselenggarakan oleh alumni 83 ITB, Renny Tamba, kawan panitia yang bertanggung jawab atas konsumsi menyampaikan,

"Lof, kita perlu jus nih buat para golfer."
"Berapa banyak?"
"600 botol ukuran 200 ml."
"Sebentar ya, saya cari dulu."

Alih-alih membuka aplikasi toko daring (online), saya memilih bersilancar di FBG AIGL mencari hestek #ngelapakday dan kata kunci "jus". Entah kenapa saya memprioritaskan membeli dari teman ketimbang toko 😊

Ketemulah posting lama Mbak Tantry Widiyanarti yang mempromosikan jus botolan dari buah segar, tanpa pengawet, yang keuntungan dari penjualannya disumbangkan bagi orang tak mampu. Hmm, sungguh menarik. Baiklah saya coba.

Langsung saya kontak Mbak Tantry. Ternyata produsennya adalah tetangga Mbak Tantry yang beliau arahkan membuat jus ketika masa pandemi. Sayang sekali saat ini tidak lagi berproduksi karena banyak pembeli yang pembayarannya macet 😔

"Kalau mau beli banyak kyknya bisa dikondisikan 😅", sambung Mbak Tantry membuka peluang.

Ketika saya sampaikan kebutuhan 600 botol, maka terjadilah transaksi yang ditindaklanjuti oleh kawan saya. Deal!

Di hari pelaksanaan turnamen pada tanggal 8 Oktober 2022 di Damai Indah Golf BSD, itulah saat pertama saya menyicipi jus tersebut. Ada 4 varian yang kami pesan: jambu, mangga, jeruk, strawberry. Ah, dicoba saja semua 😊

Jusnya kental dan sangat terasa buahnya, bukan seperti jus imitasi. Rasa manisnya pun pas. Enak dan sungguh segar.

Di shelter tempat para pemain golf beristirahat sejenak, saya mencoba menggali testimoni para usher, kawan-kawan panitia, maupun para pemain golf mengenai jus ini. Semua bilang enak. Malah usher dan staf lapangan golf menanyakan bagaimana cara memesan jus ini karena di label botol tidak tercantum nomor kontak produsennya.

Siangnya, saat para pemain golf berkumpul untuk makan dan mengikuti acara, terlihat masih banyak botol jus di tempat minuman. Tapi saya amati, banyak pemain yang bolak-balik mengambil beberapa botol sekaligus untuk dibawa ke mejanya.

Seorang kawan pemain golf mengatakan, "Saya tidak makan nasi nih. Sudah cukup minum jus. Enak dan segar."

Di penghujung acara, hanya tersisa sekitar selusin botol jus yang kemudian kami nikmati sambil berdiskusi. Dan 2 botol terakhir dibawa pulang oleh kawan panitia. Habis ludes tandas!

Sempat ada pemain golf dari pihak sponsor yang sengaja mendatangi meja kami hanya untuk menanyakan bagaimana mendapatkan jus itu. Tentu saja dengan senang hati kami memberikan nomor telepon produsennya.

Mbak Tantry, tolong sampaikan pada tetangga yang membuat jus ini agar mempertahankan kualitas produksinya sehingga tidak mengecewakan ekspektasi mereka yang sudah mencicipi kenikmatannya kemarin. Siapa tahu berawal dari 600 botol kemarin bisa bergulir pesanan melimpah. Amin 🙏

Pada stiker label yang ditempel pada botol sebaiknya dicantumkan nomor kontak.

Varian jus:
1. Alpukat, 2. Jeruk, 3. Strawberry, 4. Mangga, 5. Sirsak, 6. Nenas

Tersedia melimpah untuk dinikmati para pemain golf sambil makan siang dan menikmati acara hiburan.
.

Ada yang memuji serta mencari info produsen jus ini kepada kawan panitia yang adalah mantan orang nomor #1 di BUMN migas terbesar Republik ini 😊

#UMKM #jus #WSA #NgelapakDay #IndahnyaBerbagi #golf #ITB83Berbagi

📌 Minggu, 9 Oktober 2022 21:46 🌐

Minggu, 18 September 2022

Saat Semesta Turut Campur Menghibahkan Energi

Saat Semesta Turut Campur Menghibahkan Energi

#aiglOnceUponATime

Sebenarnya sih sampai sekarang saya masih tak begitu paham makna dan batasan jelas "once upon a time" dalam celeng ini. Apakah kejadian di masa puluhan tahun lalu ataukah bisa juga yang terjadi beberapa menit yang lalu?

Apapun itu, kisah berikut adalah "suatu momen dalam waktu" yang memberi kesan dan pesan sangat dalam bagi saya. Namanya juga subjektif, ya bebaslah mengartikannya 😁

Beberapa minggu belakangan ini terasa sekali kejenuhan kian kejam merangsek ke seluruh aspek keseharian saya. Biasanya kondisi seperti ini bisa sedikit dinetralkan dengan ngopi 🍵 [atau lainnya, seperti 🍻 🍷 🥃 😉] bersama kawan, yang tentunya dalam situasi hangat disertai perbincangan menggembirakan hati (bukan harus lucu melainkan yang membuat rasa dan pikiran menggeliat hidup).

Ya, tepat sekali, energi pemulihan kerap saya peroleh dari kebersamaan dengan kawan-kawan.

1

Entah semesta mendengar keluh hati saya, tiba-tiba saja pada tanggal 9 September 2022 pukul 21:53 Bang Andrew Simbolon berkabar melalui WhatsApp Group (WAG) bahwa dia akan berada di Bandung dari tanggal 15 sampai 17 nanti.

Walau sesama anak Mesin, selisih 15 angkatan tentunya mereduksi habis peluang kami bertemu di kampus. Begitu pula dari sisi profesional maupun personal, tak ada alasan yang mempertautkan relasi kami.

Semua ini semata-mata karena AIGL yang menjumpakan kami pertama kali di BSD, 23 Februari 2020, atas prakarsa Mas Eko Jatmiko Utomo. (Di sini juga pertama kali saya berjumpa Evi Eleanora Oscar, Mesin 1999.)

Saya periksa agenda, ternyata tak ada acara khusus di 15 September. Maka, saya pun menyanggupi untuk ke Bandung.

2

Tak dinyana, 4 hari kemudian di WAG Kelas 3B5 SMAN 3 Bandung muncul ajakan berjumpa di Bandung sehubungan dengan mudiknya Dian Hadi dari Bristol, Inggris.

Dian adalah salah satu dari sedikit murid perempuan di kelas kami saat itu. Semenjak wisuda SMA, tak pernah saya berjumpa dengannya. Gilanya lagi, saat saya menjadi Ketua Panitia Reuni 30 Tahun ITB Angkatan 1983, baru saya tahu bahwa Dian adalah alumni Teknik Arsitektur '83 di ITB. Tepok jidat banget deh atas kealpaan saya yang fatal ini 🤦‍♂️

3

Bertepatan saya ada keperluan terkait beberapa prinsip dasar pendidikan tinggi, teringatlah pada Mas Ahmad Syamil Full, kawan sekelas di Mesin 83 dan pendekar silat Perisai Diri (colek Mas Chandrasa Sedyaleksana) yang menjadi Dekan di BINUS. Maka saya pun mengontak Mas Syamil pada tanggal 14 September guna meminta waktu audiensi.

Ndilalah Mas Syamil berkabar bahwa dia sekarang bertugas di BINUS Bandung. Permohonan saya disambut cukup antusias, bahkan diatur waktunya pas jam makan siang.

Sebenarnya sudah sangat lama pula saya tak berjumpa dengannya. Semenjak lulus ITB, Mas Syamil melanjutkan sekolah ke Amerika Serikat hingga Doktor dan kemudian melanglang seantero Negeri Paman Sam sebagai Profesor pengajar di berbagai universitas ternama.

4

Rabu sore saya ada jadwal bertemu dengan Mas Gembong Primajaya di Sekretariat IA-ITB. Sehabis diskusi (sebagaimana lazimnya berlangsung akrab dan intens dengan berbagai perspektif), Mas Gembong bilang bahwa besok pagi dia akan ke Bandung.

Ketika saya katakan bahwa saya pun akan ke Bandung, serta merta Mas Gembong mengajak barengan. Persis pula waktunya pagi hari sesuai rencana saya.

* * *

Tampak benar semesta demikian peduli. Jika bisa dibilang sebagai keajaiban, mungkin ini salah satunya. Semua pihak seakan bersekongkol memberi kesempatan untuk menuntaskan berbagai rencana pada hari yang sama.

Kamis pagi tanggal 15 September saya pun berangkat ke Bandung berdua Mas Gembong. Tak sampai 2 jam perjalanan, kami tiba di rumahnya di Kota Baru Parahyangan. (Berkendara dengannya menimbulkan sensasi ala Fast and Furious 😁).

Mas Gembong mengajak saya sarapan dulu. Tetapi tak lama setelah kami turun dari mobil, Ale, putera Mas Gembong berpamitan mau ke Bandung untuk kuliah. Saya putuskan untuk ikut Ale saja agar bisa segera bertemu kawan-kawan SMA yang menjadwalkan pertemuan jam 10 pagi.

Sepanjang perjalanan, kami ngobrol santai.

Ale ternyata kuliah di Jurusan Material di FTMD ITB, sementara saya dan ayahnya adalah alumni Lab Metalurgi. Sontak muncul pertautan rasa akrab walau usia terpaut cukup jauh. Bisa jadi molekul logam dalam diri kami langsung bergetar dan berinterferensi harmonis 😊

Barangkali itu pula sebabnya Ale tak sungkan menanyakan bagaimana kiprah ayahnya selama kuliah. Hahahaha.. Ini situasi yang membuat saya kagok 🤣

Dengan singkat saya jawab bahwa ayahnya sama normalnya dengan kawan lain pada zamannya, yakni bangor dan gaul selain tetap melaksanakan kewajiban belajar 🤣 Saya bilang juga ada hal luar biasa pada diri ayahnya yang ternyata sangat berguna di masa sekarang, yakni solidaritas tanpa pamrih dan keluasan jejaring pertemanan tanpa batas. Ale tertawa-tawa mendengar penuturan saya.

Ale menurunkan saya di Hummingbird di Jalan Progo. Tepat berbarengan dengan tibanya kawan-kawan lain, termasuk Dian. Langsung kami terlibat dalam perbincangan seru. Apalagi kalau bukan nostalgia semasa SMA berikut bunga-bunga kenakalan masa remaja 😁

Sekian puluh tahun tak jumpa mereka (kecuali dalam reuni besar yang sangat jarang) tidak membuat kami kikuk. Kealpaan saya menjalin tali silaturahmi tak menjadi pengurang keakraban. Malah suasana jadi seru karena saling mengingatkan drama-drama di kelas dahulu. Orang Jawa bilang, gayeng Beruntung pula saya tak menjadi sasaran tembak karena satu-satunya lelaki di antara para perempuan..

Tak lama kemudian, Neng Nurul 'uyuy' Akriliyati bergabung. Uyuy adalah sahabat Dian saat di Inggris. Tentu saja hal ini menjadi kejutan yang menyenangkan bagi kawan-kawan karena kami berbeda 8 angkatan di SMA. Namun hal itu sama sekali bukan hambatan dalam membangun suasana cair dan hangat.

Sekitar pukul 12.30 saya berpamitan untuk menemui Mas Syamil di BINUS. Dengan menggunakan Go-Jek saya bisa tiba di kawasan Pasir Kaliki dengan cepat.

Tak lama kemudian saya dan Mas Syamil sudah duduk menyantap sop dan sate kambing sambil berbincang-bincang. Begitu banyak informasi yang disampaikannya mengenai pernak-pernik perjalanan hidupnya sebagai tenaga pendidik yang membuat saya cukup tercengang kagum. Malah akhirnya tujuan awal saya menemuinya jadi tergusur karena lebih asyik menyimak penuturannya (sesuai dengan sifat saya yang pendiam dan pemalu serta pendengar yang baik namun pelupa) 🤣

Sekitar jam 15 kami pun berpisah. Saya bergegas menuju Dakken di Jalan Riau, untuk memenuhi janji berjumpa dengan Bang Andrew. O ya, agar tidak mengundang kecurigaan bahwa antara kami ada hubungan yang tak lazim, pertemuan ini pun akan disaksikan oleh Neng Siesca Roselinda 😊

Bang Andrew dan Neng Siesca berkabar bahwa mereka baru bisa datang lebih sore dari rencana. Tak masalah. Saya sedang dalam 𝘮𝘰𝘰𝘥 yang sangat bagus. Energi saya cukup memadai karena baru di-charge dari 2 perjumpaan yang menyenangkan.

Sekitar pukul 17 lewat, Bang Andrew tiba di TKP dengan wajah sangat segar berseri-seri. Tampaknya semua urusan dan rapat mendadaknya siang tadi berlangsung baik. Syukurlah.. 🙏

Kami pun langsung berbincang sambil mengudap. Lucu memang AIGL ini, semua berlangsung lancar tanpa hambatan kesungkanan. Persis kawan lama saja (yang tentunya tetap mengindahkan tata krama sewajarnya).

Tak berapa lama kemudian, Neng Siesca tiba. Makin seru jadinya. Namun tak perlulah diuraikan di sini apa topik obrolan kami. Nanti tulisan yang sudah panjang ini akan semakin panjang.

Sekitar jam 21 kami terpaksa angkat kaki karena restoran mau tutup. Saya dan Neng Siesca diantar oleh Bang Andrew ke pool CitiTrans di Dipati Ukur karena Siesca mau mengirim paket.

Semula saya berencana mau langsung pulang ke Jakarta. Tetapi sore tadi seorang kawan berusul untuk haha-hihi keesokan hari. Nanggung juga sudah di Bandung, sekalian saja menginap supaya besok bisa dapat tambahan asupan energi lagi.

Sehabis berpisah dengan Neng Siesca, saya pindai data di HP untuk mencari kawan yang bisa diajak mengisi waktu malam ini hingga muncul rasa kantuk. Maka berjumpalah saya dengan kawan semasa SMA untuk bernostalgia gembira sambil menikmati sajian malam yang berlimpah di seputaran Jalan Dipati Ukur.

Sekitar pukul 3, kantuk mulai merongrong. Dengan menggunakan aplikasi di HP, saya memesan hotel di kawasan Dago. (Drama tentang hotel ini saya lewatkan saja karena perlu posting tersendiri 😁).

Tidur sekitar 4 jam sudahlah cukup. Jam 8 pagi lewat sedikit, saya sudah siap jalan. Janji bertemu kawan di Bandung Trade Center, Jalan Dr. Djundjunan pun bisa terpenuhi.

Tanpa banyak cakap, kami pun berangkat ke kawasan Bandung Selatan. Tak pernah saya sangka bahwa daerah ini sangat berkembang dalam bidang pariwisata. Akses yang bagus ditambah ketersediaan jalan tol, tempat kuliner yang tersebar di mana-mana, dan tentunya objek wisata yang bagus serta punya keunikan.

Dan yang cukup mengejutkan saya adalah adanya tempat penangkaran rusa. Tidak pernah saya bayangkan ada tempat seperti ini sehingga tak pernah berhasrat main ke daerah ini. Rupanya Bandung Selatan tak kalah dibanding Bandung Utara (Lembang dan sekitarnya). Sungguh mengagumkan. Hebat!

Pak Aep yang menjadi penjaga tempat penangkaran rusa bercerita bahwa populasi rusa yang asalnya hanya 2 sampai 4 ekor, kini sudah menjadi puluhan. Kalau tak salah 90-an, dengan jumlah betina lebih banyak. Artinya, kian besar peluang meningkatnya jumlah rusa.

Pak Aep juga menyampaikan bahwa di kawasan situ masih ada macan kumbang dan macan tutul. Wah, ini sebuah kabar yang menggembirakan bahwa spesies langka ini masih belum punah.

Seusai sejenak bermain dengan rusa yang jinak namun agak jahil, kami mampir sejenak di Kafe Bahtera yang kerap disebut Pinisi. Sejauh pandang terlihat kabut turun perlahan menyelimuti hutan dan jalan. Begitu indah sekaligus mistis. Terasa dingin. Tapi perbincangan kami sedemikian hangat ditingkah kopi, wedang ronde, dan pisang bakar keju.

Sekitar jam 16 saya diantar ke pangkalan travel di Pasteur untuk kembali ke Jakarta. Terasa sekali kantung energi saya melimpah sehingga sanggup melunturkan tumpukan kejenuhan yang mendera belakangan ini.

* * *

Terasa betul bahwa pertemanan polos tanpa agenda tersembunyi akan sedemikian kuat mendukung ketahanan mental. Begitu pula kehendak yang kuat dibalut kepasrahan akan merintis jalan bagi semesta untuk turut campur.

Sungguh, saya sangat bersyukur memiliki kawan-kawan seperti ini. Mengalir saja seturut hati. Tanpa mereka sadari, 2 hari di Bandung merupakan momen yang sangat berarti bagi saya. Menjadi proses penyembuhan yang luar biasa ampuhnya. Istilah zaman now, healing

To all of you, my dear friends, I can only say thank you and I love you 💕

📌 Minggu, 2 menit menjelang berakhirnya tanggal 18 September 2022 🌐

Sabtu, 03 September 2022

Hikayat Tujuh Purnama

Hikayat Tujuh Purnama

Tak sekejap pun diangkatnya wajah untuk menatapku yang duduk tak sampai 1 meter di depannya meski beberapa kali kulambaikan tangan sebagai isyarat memohon perhatian. Matanya tanpa jeda tertuju pada layar laptop di hadapannya yang tampak sedemikian penting tinimbang keberadaanku.

Masih sanggup untuk kutahankan
Meski telah kau lumatkan hati ini
Kau sayat luka baru di atas luka lama
Coba bayangkan betapa sakitnya

Nyaris seperempat hari penuh aku terhenyak laksana pengidap kusta atau mungkin seonggok nista yang tak layak dipandang sebagai manusia. Perbincangan pendek-pendek yang terasa amat dipaksakan pun hanya meruapkan dalih keengganan menyimak, konon pula menjelaskan. Belum pernah sebelumnya dalam hidup kualami penihilan setelak ini. Hampa mutlak. Kehilangan segala.

Hanya Tuhanlah yang tahu pasti
Apa gerangan yang bakal terjadi lagi
Begitu buruk telah kau perlakukan aku
Ibu menangislah demi anakmu

Bertimbun kisah yang ingin kututurkan gamblang. Tentang ikhtiar dan kegagalan yang mendera belakangan ini, yang memantik anggapannya bahwa aku berubah. Tak diketahuinya liku petaka yang meluluh lantakkan sebentuk mimpi di mana dirinya tertahbis sebagai episentrum ruang benderang setelah kukibas ragam janji dan pesona yang kutengarai bisa menggerus arti hadirnya.

Sementara aku tengah bangganya
Mampu tetap setia meski banyak godaan
Begitu tulusnya kubuka tanganku
Langit mendung gelap malam untukku

Genap satu purnama aku dihempas ke nadir ngarai gulita. Tak kusua secercah pun petunjuk untuk memahami amarahnya bahwa aku tak lagi seperti yang dulu, yang tak pernah palingkan pandang darinya, sehingga dibulatkannya tekad hengkang membawa luka menganga tanpa menyisakan peluang bagiku mengurai kebuntuan yang dirangkainya.

Ternyata mengagungkan cinta
Harus ditebus dengan duka lara
Tetapi akan tetap kuhayati
Hikmah sakit hati ini
Telah sempurnakan kekejamanmu

Setiap kata yang kuutarakan senantiasa ditepis ujar menggentarkan, "Tidak perlu dibahas lagi!". Membuatku gagap bagai seorang pandir minim kosa kata. Serta-merta kusadari tak guna berupaya menata ulang ruang yang telanjur retak. Dan sejurus kemudian aku sudah tercenung di tepi jalan dengan terawang kosong.

Petir menyambar hujan pun turun
Di tengah jalan sempat aku merenung
Masih adakah cinta yang disebutkan cinta
Bila kasih sayang kehilangan makna

Kendati demikian, sebentuk rasaku padanya, yang kubopong cermat sejak tengah malam tadi, kukuh bergeming. Tak satu serpih pun kikis walau kini berlumur jelaga dan sayatan teramat perih. Kepasrahan menerima segala risiko telah bangkitkan keteguhan, "Akan kurawat ruang benderang di relung hatiku walau kini kosong tanpa dirinya bertahta di mahligainya." Entah satu masa nanti tatkala kearifan ataupun nestapa meraja secara paripurna.

Ternyata mengagungkan cinta
Harus ditebus dengan duka lara
Tetapi akan tetap kuhayati
Hikmah sakit hati ini
Telah sempurnakan kekejamanmu

Sekarang aku hanya ingin pulang ke titik perdana di mana dapat kuresapi segenap nada subtil perbincangan selewat tengah malam, tempat bayangnya melintasi kenang dalam hening setajam belati.

ilham dari lagu Seberkas Cinta yang Sirna — Ebiet G. Ade

Dahulu sempat populer suatu proses kreatif yang dinamai "musikalisasi puisi" dengan Ebiet G. Ade sebagai salah satu tokohnya. Di sini saya coba terapkan pembalikannya menjadi "prosaisasi lagu" 😜

O ya, perlu juga saya sampaikan untuk tak hiraukan foto yang menjadi sampiran. Tak usah pula mereka-reka sosok serta saat kejadiannya, sebab kesamaan cerita hanyalah kebetulan yang tak kuasa dihindari 😁

#aiglOnceUponATime

📌 Sabtu, 3 September 2022 21:58 🌐

Selasa, 30 Agustus 2022

Vantage Point [1]

<i><i>Vantage Point</i></i>

— Exactly A Year Ago: 20210829

"Berangkaaaat," menyeruak teks di WhatsApp. Tertera nama Siesca Roselinda dan angka 05:12 pada tanggal 29 Agustus 2021.

ALOF:

Siang ini saya menunaikan janji kencan segitiga dengan Neng Siesca yang datang dari Bandung karena ada urusan ke Jakarta serta dengan Ito Lucianna Tobing yang terkena jadwal piket ngantor setengah hari. Cilandak Town Square alias Citos disepakati secara aklamasi sebagai rendezvous selewat tengah hari.

Sekitar jam 13 saya masuk area mal terlaris di kawasan Jakarta Selatan setelah hampir gagal memindai QR code PeduliLindungi.id.

Nyaris berbarengan, Ito Luci tiba. Setelah berbasa-basi sejenak, kami berkeliling mencari tempat paling nyaman untuk makan dan ngobrol (dan tentunya harus aman karena beberapa topik bahasan tergolong rahasia kelas A1 😜). Akhirnya pilihan jatuh pada resto Sate Senayan di lantai 2 yang agak memencil.

Ini adalah pertemuan ketiga kami. Pertama, saat kopdar perdana AIGL di Janji Jiwa (Cibubur, 21 September 2019). Saat itu saya belum berani bertegur sapa dengannya. Maklumlah, saya kan pemalu dan pendiam, sedangkan Ito Luci sedang moncer reputasinya sebagai selebritas papan atas AIGL.

Pertemuan kedua, ketika dijamu makan siang di rumah Mbak Jane Kurnadi dan Mas Gapit Agapitus Rustriwidodo (Alam Sutra, 16 Agustus 2020), yang juga dihebohkan oleh rombongan Lae Ecko Manalu, Bang Nelson Napitupulu, Ito Meirina Pane, serta Mbak Arik Hari Sutji Murwani, di bawah asuhan Mamak Lindes Dumaria Gultom.

Pembawaan Ito Luci yang supel membuat saya nyaman berbincang tanpa repot menata kata. Apalagi dia tipe blak-blakan sehingga kami kian tak sungkan mengulas rinci berbagai hal, mulai dari dinamika yang terpapar di AIGL sampai pernak-pernik kehidupan yang menyentuh ruang privat.

LUCI:

Bang alof nih kalau nanya gak pakai tedeng aling-aling banget sih? Main tembak aja kayak sedang interogasi maling jemuran. Yang ditanyain sih emang wajar kalau antara kawan akrab. Lha, kita kan baru kenal dan baru sekarang ngobrol dekat. Tapi emang sih kayak sudah akrab.

Mudah-mudahan aja dia gak ember. Ngakunya sih lupaan. Sekarang diceritain, besok juga sudah gak ingat. Ya udah, anggap aman aja deh 🤲

ALOF:

Kurang-lebih 15 menit baku tukar cerita, Neng Siesca pun muncul. Inilah perjumpaan pertama kami dengannya.

Ternyata bawaannya 11-12 dengan Ito Luci. Meriah, ceria, dan penuh canda. Keseruan ngobrol pun meningkat kian hangat. Tak sampai bermenit-menit, kami sudah lancar berhaha-hihi membahas berbagai topik yang sedang 𝘵𝘳𝘦𝘯𝘥 maupun yang sudah basi tapi bisa didaur ulang 😊

Sebagai anak Mesin/FTI 83 yang terkenal pemalu dan pendiam, amatlah mustahil membayangkan bisa berkarib dengan Ito Luci (Arsitektur/FTSP 92) apalagi Neng Siesca (Kimia/FMIPA 97). Telak berbeda jurusan dan fakultas, serta lumayan selisih angkatannya (tak perlu dipertegas bahwa hal ini berkorelasi langsung dengan usia 😝).

Terhadap Ito Luci terpaut nyaris 1 dekade, sedangkan dengan Neng Siesca hampir 2 windu. Artinya, saat saya sudah pegang KTP untuk nonton film dewasa, Ito Luci sedang seru-serunya main congklak dan Neng Siesca masih rewel bawel sebagai batita 🤣

Namun, nyatanya, komunikasi meluncur mulus. Kami bisa ketawa-ketiwi, mikir serius maupun bengong bersama tanpa ragu. Asalkan bukan soal drakor atau grup BTS, saya masih bisa nimbrung.

Patut saya menjura takzim atas kesaktian AIGL yang dengan sekali kibas mampu meluruhkan berbagai sekat dan tingkat sehingga keakraban para anggotanya sangat mudah terjalin walau belum pernah bertemu sebelumnya. Salut!

LUCI:

Unik juga konektivitas ala AIGL. Gak pernah ketemu di kampus Ganesha saat kuliah tapi tetap aja ada bahan yang bikin obrolan nyambung.

ALOF:

Sambil menyantap makanan, saya ceritakan "gangguan" yang saya alami selama menyepi sendiri di sebuah rumah besar yang kosong dalam rangka berkonsentrasi menyunting buku. Serta-merta topik pun beralih ke kawasan mistis yang mencekam.

SIESCA:

Menurut sense gue sih memang ada yang ganggu Bang alof. Apalagi dia kerjanya sering malam banget sampai pagi. Dan yang di-edit adalah buku tentang eksorsis alias pengusiran setan.

Tapi ya gak sampai gimana-gimana juga sih. Paling banter denger suara gedebak-gedebuk di loteng atau suara air ngucur di belakang tempat duduknya.

Lebih seru pengalaman gue dong berurusan dengan tokoh sakti Borneo 🙏

LUCI:

Idih, sedang gak mood banget deh bahas horor. Mending gue alihkan ke soal lain aja.

"Nih ada banana cake buat Bang alof dan Neng Siesca. Bikinan Abel, anak gue. Enak banget lho."

Boleh dong sekali-sekali promosi hasil karya anak. Doain ya bisnisnya berkembang karena passion-nya memang di situ.

SIESCA:

Waduh, gak kerasa udah hampir jam 16. Kudu balik ke Bandung euy supaya gak kemalaman sampai rumah. Kasihan Mimil ditinggal seharian. Gue mau pesan 𝘵𝘳𝘢𝘷𝘦𝘭 dulu ya. Duh, padahal masih asyik pisan ngobrolnya.

ALOF:

Perjumpaan yang semula dicadangkan hanya 2 sampai 3 jam terasa amat cekak. Meski baru pertama tapi serasa reuni antar sahabat lama yang tahunan pisah. Masih banyak yang antre ingin dicurahkan.

Mungkin sedang dihinggapi Malaikat Kanan yang murah hati, saya pun menoleh pada Ito Luci sambil nyeletuk tanpa mikir, "Apa kita ke Bandung aja?"

LUCI:

Weits... Tantangan Bang alof kayaknya seru juga. Sering banget kan acara yang pakai plan malah gak jadi. Mendingan spontan eksekusi aja dah.

Langsung gue nyahut, "Ayo! Siapa takut?"

Lagian hari ini gue sedang hepi karena tugas ngedandanin kantor sudah rampung dengan mengerahkan para staf.

ALOF:

Akhirnya kami pun sepakat mengantar Neng Siesca pulang ke Bandung. Walau hati kecil agak menyesal juga melempar ide ini karena pulangnya pasti sangat telat. Maklumlah, Mama bilang anak baik gak boleh kemalaman, nanti digigit nyamuk. Tapi telanjur ajukan penawaran, pantang ditarik balik.

Di kisaran jam 18 kami hengkang dari Citos. Berhubung begadang malam sebelumnya, saya minta izin tidur sekitar 15 menit di jok belakang. Jadilah Ito Luci yang mengemudi.

LUCI:

Bang alof payah ah... Masak keluar dari Citos dia salah kasih arahan. Bukannya ke Bandung, eh malah menuju Depok. Kali emang ngantuk banget dia, jadi rada kusut memorinya. Lah, gue kan warga Bekesyong, mana hapal jalan di Jaksel.

Terpaksa muter dah. Dan setelah yakin berada di jalan yang benar menuju Cipularang, Bang alof langsung bobok di jok belakang. Untung aja gak pakai ngorok kayak Bang Toni P Sianipar di lobby hotel di DC.

SIESCA:

Bisa-bisanya gue punya temen-temen rada sableng gini... Baru pertama ketemu, main nekad nganter balik ke Bandung. Gue sih seneng aja ditemenin. Daripada gue dihipnotis sama penumpang lain di travel terus diculik. Kasihan Mimil atuh. Iya, kan?

ALOF:

Niat merem beberapa menit ternyata gagal total karena saya tak kuasa mengabaikan obrolan seru kedua perempuan yang duduk di depan. Diam-diam saya simak dan resapkan walau sadar sekali bahwa besok pun sudah lupa apa yang mereka bahas.

Setelah singgah sejenak di rest area terdekat, giliran saya mengambil alih kemudi. Sepanjang jalan, proses tukar menukar informasi dan analisis terus berlangsung. Dan memang menakjubkan rupanya warna-warni kehidupan ini 🤣

Puji Tuhan! Haleluya! Perjalanan santai berlangsung amat lancar. Dalam tempo kurang dari 3 jam, roda mobil sudah menjejak kota Bandung.

"Mau ke mana nih kita? Lapar lagi euy."

SIESCA:

Iya juga ya, kerasa lapar. Kayaknya kalori terkuras deras akibat kegairahan berdiskusi tak putus selama beberapa jam. Mana Bandung sedang dingin pula. Enak nih makan yang hangat-hangat.

"Gimana kalau ke sate Hadori?"

Gak pakai banyak cingcong, semua setuju.

Tapi ternyata sate Hadori tutup karena dagangannya sudah ludes. Untung aja di sebelahnya ada sate Sineureut yang kata orang malah lebih enak. Kami pun melipir ke situ.

LUCI:

Emang enak nih satenya. Tapi ogah nambah. Malu euy..

Selesai makan, lanjut deh kita nganter Neng Siesca ke rumahnya.

Mari nikmati sejuk Bandung di malam hari, serasa bernostalgia saat kuliah dulu. Tentu saja sambil melanjutkan obrolan kelas A1.

Bang alof nyetirnya selow amat. Kayaknya kekenyangan. Mudah-mudahan aja dia gak ngantuk. Mungkin perlu dikasih asupan kopi.

SIESCA:

Lucu deh jadinya. Kan dari Bandung gue bawain kue Soes Merdeka buat mereka. Eh sekarang malah ikutan balik tuh kuenya ke Bandung 😁

Anyway, thanks berat ya, friends. Kalian baik banget mau repot nganter gue pulkam. Bahagia rasanya hari ini.

LUCI:

Unik. Baru juga kenal sama Neng Siesca tapi serasa udah sohib lama, kayak adik sendiri. Gak tega ngelepas dia balik sendirian. Ada untungnya juga Bang alof mau jadi supir kelas AKAP.

Such a wonderful day ...

ALOF:

Sehabis mengantar Neng Siesca, kami langsung putar arah kembali ke Jakarta. Nonstop tanpa mampir. Perjalanan juga selancar berangkat tadi. Dan sepanjang jalan ada saja bahan obrolan yang manjur untuk mengusir kantuk dan rasa sepi. Dan akhirnya kami tiba di Jakarta sekitar jam 1 dini hari.

Selamat ulang tahun yang pertama.

Semoga selalu sehat, bahagia, dan penuh cinta 🙏

Pernah tayang film berjudul Vantage Point tentang penembakan terhadap Presiden Amerika Serikat yang ditinjau dari sudut pandang beberapa saksi. Cara bercerita seperti ini disebut Rashomon Effect, karena pertamakali diterapkan oleh sutradara kreatif legendaris Akira Kurosawa dalam film Rashomon.

Walau kisah fiksi ini amat jauh kelasnya dibanding kedua film di atas, bolehlah saya contek modusnya dengan sedikit modifikasi. Sila menikmati sebisanya.

<< ini baru preambul yang akan disambung jika ada mood 😁 >>

#aiglOnceUponATime #friendship

📌 Selasa, 30 Agustus 2022 00:56 🌐

Sabtu, 13 Agustus 2022

Superman is NOT Dead!

Superman is NOT Dead!

The Legend Continues

Broken Superman

Menjadi pengayom, pelindung, pelayan, dan penegak hukum bagi masyarakat bukanlah pekerjaan mudah. Tak jarang malah terasa sebagai beban yang amat berat. Coba saja tanya POLRI selaku institusi yang mengemban tupoksi tersebut 😊

26 Oktober 2013

9 Maret 2016

Setelah menerima estafet dari Kal El alias Clark Kent di tahun 2013 untuk mengamankan acara Pulang Kampung Ikatan Alumni Mesin (IAM) di Aula Barat ITB dan terus berlanjut secara intens hingga terdampar di menara doyong Pisa tahun 2016, akhirnya saya putuskan berhenti.

Capek kali pun keluyuran ke sana ke mari padahal saya paling hobi rebahan.

Enough is enough!

Dani El
7 Juli 2022

Beruntung ada seorang anak muda dari Jurusan Teknik Mesin ITB yang ternyata punya passion yang sama. Apalagi dia ternyata amat lincah dan enjoy lelarian ke segala penjuru. Maka logo keramat pun diemban oleh Dani El alias Daniel Agung yang dari segala aspek tentunya lebih pas sebagai Superman 👍

Tak seorang pun bisa membantah fakta ini walau tidak bisa dibuktikan CCTV.

BTW, siapa lagi yang punya kaos dengan logo S legendaris ini?

#aiglOnceUponATime

📌 Sabtu, 13 Agustus 2022 21:57 🌐

Satu Dekade Kesetiaan

Satu Dekade Kesetiaan

12 Juni 2016

Gawai Blackberry Bold (BB) seri 9900 Dakota ini senantiasa menemani saya sejak rilis di Indonesia pada penghujung tahun 2011 dengan fenomena antrean pembeli. Walau beralih ke iPhone ataupun Android, saya tetap mengantungi mahakarya dari Canada (yang sayangnya gagal mempertahankan tahta di kerajaan ponsel cerdas). Minimal, benda ini bisa saya fungsikan sebagai alarm wekker, pencatat waktu, ataupun kalender 😁

Gara-gara fungsi istimewanya ini, dia mendapat gelar jam BB dari kalangan kawan-kawan Komunitas Musik ITB (KMI).

Apa hubungannya dengan musik?

Karena BB ini kerap menjadi alat bantu penghasil bukti dokumentasi betapa rajinnya kami berlatih musik dalam band Dark of Musicology (band ITB 83 non-festival alias untuk bergembira dan meluapkan ekspresi) hingga lewat tengah malam bahkan subuh (tradisi bulan puasa yang kami namai sahur on the rock 🎵🎹🎤😎).

11 Juni 2017

Tepat jam 00:00 WIB tanggal 1 Juni 2018

Kini BB kebanggaan yang setia tersebut sudah pensiun karena perangkat lunaknya error sedangkan saya sudah tak bersemangat melakukan install ulang.

Apakah anda pernah memiliki nasib sebagai salah satu pengguna BB?

4 Juni 2019

13 Agustus 2022 setelah pensiun

#aiglOnceUponATime

📌 Sabtu, 13 Agustus 2022 21:48 🌐

Selasa, 02 Agustus 2022

Kebo Iwa

Satu Dekade Kesetiaan

— Cerita Rakyat Bali

Suatu masa, ada sepasang suami istri di suatu desa di Pulau Bali yang belum dikaruniai anak setelah bertahun-tahun menikah. Setiap hari mereka berdoa, hingga akhirnya sang istri mengandung dan melahirkan seorang bayi laki-laki.

Bayi itu bertumbuh sangat cepat dengan nafsu makan luar biasa. Semakin hari ia semakin besar hingga tubuhnya melebihi orang dewasa. Orang-orang memanggilnya Kebo Iwa yang berarti “paman kerbau.”

Nafsu makan Kebo Iwa membuat kedua orang tuanya kewalahan. Mereka terpaksa meminta bantuan warga desa sehingga kebutuhan pangan Kebo Iwa turut ditanggung seluruh penduduk.

Kebo Iwa juga terkenal pemarah. Jika keinginannya tak terpenuhi, dia akan merusak. Menghancurkan rumah warga, bahkan tak segan merusak pura. Tentu saja hal ini amat meresahkan.

Meski begitu, karena tenaganya besar, Kebo Iwa kerap dimintai pertolongan untuk mengangkut batu, meratakan tanah, memindahkan bangunan, membendung sungai, menggali sumur, dsb. Semua dikerjakan dengan imbalan makanan berlimpah.

Ketika musim kering tiba, warga desa mengkhawatirkan cadangan pangan mereka. Bagaimana memenuhi kebutuhan Kebo Iwa sedangkan persediaan terbatas?

Betapa takut mereka membayangkan amarah Kebo Iwa. Mereka berpikir keras hingga akhirnya menemukan siasat menyingkirkan Kebo Iwa.

Suatu hari, warga menemui Kebo Iwa dan mengeluhkan banyaknya rumah yang rusak akibat amukannya. Kebo Iwa berdalih bahwa itu adalah kesalahan mereka yang tidak memberinya cukup makanan.

Warga beralasan mereka gagal panen akibat kurangnya air. Mereka berjanji akan menyediakan makanan berlimpah jika Kebo Iwa membuatkan sumur untuk mengairi sawah dan lahan pertanian.

Kebo Iwa pun setuju. Dia membangun kembali rumah-rumah yang rusak lalu menggali sumur di tempat yang sudah ditentukan. Pada saat bersamaan, warga mengumpulkan batu-batu kapur di sekitar tempat galian.

Kebo Iwa bertanya, “Untuk apa batu-batu kapur besar itu?” Mereka menjawab, batu-batu itu disiapkan untuk rumah Kebo Iwa.

Ia pun semakin semangat menggali hingga air mulai memancar. Kebo Iwa mengira pekerjaannya sudah selesai, namun Kepala desa mengatakan sumur masih belum mencukupi sebagai sumber air satu desa. Maka Kebo Iwa terus menggali sumur semakin besar dan dalam.

Kebo Iwa akhirnya kelelahan. Dia pun beristirahat dan langsung menyantap habis makanan yang disiapkan warga. Kekenyangan, Kebo Iwa sangat mengantuk dan tertidur pulas dalam lubang galiannya.

Inilah saat yang ditunggu-tunggu. Kepala desa memerintahkan warga untuk melempar batu-batu kapur ke dalam sumur. Kebo Iwa sontak terbangun dan sangat terkejut. Namun sudah terlambat. Rasa kenyang ditambah air dan bebatuan yang memenuhi lubang galian membuatnya tidak sanggup keluar untuk menyelamatkan diri. Dia akhirnya terkubur dalam sumur galiannya sendiri.

Celakanya, air sumur terus meluap membanjiri desa dan area sekitar. Akibatnya, warga terburu-buru mengungsi ke tempat yang lebih tinggi tanpa dapat menyelamatkan banyak barang. Mereka kehilangan harta benda, sawah, ladang, ternak, dan rumah.

Beberapa desa yang tenggelam itu membentuk sebuah danau besar yang kini dikenal sebagai Danau Batur. Sedangkan timbunan tanah hasil galian Kebo Iwa membentuk gunung yang dinamai Gunung Batur.

Moral Cerita

Sifat serakah, egois, tamak, serta hanya memikirkan kepentingan pribadi akhirnya akan merugikan diri sendiri dan sekitar. Meski hebat dan kuat sebagai individu, jika tidak memiliki rasa kasih, maka lingkungan dan sesama pun tidak akan menerima. Dengan kelebihan maupun kekurangan, harus tetap rendah hati dalam memberi maupun menerima bantuan sesama.

Disadur dari:
Legenda Kebo Iwa dan asal-usul Gunung Batur

#Bali #CeritaRakyat #GunungBatur #KeboIwa #legenda #egoisme #tamak #kuasa

📌 Selasa, 2 Agustus 2022 02:17 🌐

Sabtu, 09 Juli 2022

Sebuah Rumah Bernama AIGL

Sebuah Rumah Bernama AIGL

People celebrating World
www.freepik.com

Kejenuhan mengikuti perdebatan yang kerap tak berujung dan tak produktif (bahkan ada yang menyebabkan pertengkaran) di berbagai grup media sosial melahirkan kesepakatan membentuk ruang baru yang menawarkan persahabatan, kegembiraan, kesahajaan, apa adanya, boleh sedikit ngaco asalkan tak melahirkan hoax dan debat kusir 🤣 Intinya, sebuah tempat di mana semua orang dihargai selaku manusia dan kawan seperjalanan.

Maka, pada tanggal 7 Juli 2019 berdirilah sebuah grup baru di Facebook yang bernama Alumni ITB Garis Lucu alias AIGL.

Diharapkan, para anggota bebas mengekspresikan jati dirinya tanpa tekanan untuk tampil bergaya ilmiah dengan segudang argumentasi sebagaimana sering dilabelkan pada alumni kampus Ganesha 10 Bandung. Di sini, semua topeng dan jubah ditanggalkan. Hanya tinggal sosok manusia dengan pribadi hakikinya yang ternyata amat beragam.

Rupanya yang disebut lucu tidaklah terbatas pada hal yang membangkitkan rasa geli melainkan juga gairah menemukan sisi lain dari berbagai nasib yang dikisahkan seseorang. Ya, definisi lucu ternyata demikian lebar spektrumnya.

Hal serius sekalipun bisa meledakkan tawa ketika ada komentar yang amat jauh dari persangkaan ataupun yang berlagak polos. Kisah menyeramkan bisa langsung melorot jadi dagelan Hal menyedihkan malah berubah jadi pembangkit semangat dan penghiburan yang bukan sekadar basa-basi. Konon pula cerita yang masuk ke soal domestik dan privat. Makin bikin ngakak.

Tak ada kata-kata yang bertujuan menjatuhkan melainkan permainan bahasa dengan hasrat membangun keakraban. Dan yang jauh lebih keren adalah kesanggupan menertawakan diri sendiri. Sangat boleh jadi inilah makna sense of humor paling tulen, yang merupakan cerminan optimisme bahwa semua akan baik-baik saja ketika sadar bahwa kita tidaklah sendirian. Derita akan berkurang saat dibagi, sementara sukacita yang dibagi justru akan semakin besar.

Maka, jangan heran jika ada yang mengaku sering tersenyum bahkan mendadak tertawa sendiri saat membuka grup AIGL (sehingga kerap menjadi tertawaan keluarga ataupun orang lain). Ada yang sampai lupa turun di halte tujuan karena keasyikan membaca dan mengomentari posting. Jangan tanya pula yang terpaksa menambah jam kerja akibat tergoda menyimak tuntas keseruan di AIGL.

Keterbukaan inilah yang membuat para warga di AIGL "saling mengenal" karakter satu sama lain walau belum pernah bertemu (apalagi yang berbeda jurusan dan angkatan di kampus). Akibatnya, ketika sungguhan ketemu, semua bisa langsung cair dengan saling berbalas cerita bahkan olok-olok tanpa sungkan dan sakit hati. Ibarat sobat yang dipertemukan kembali setelah berpisah sekian lama.

Dalam 3 tahun perjalanan berikut berbagai dinamikanya, sungguhlah terasa bahwa AIGL adalah tempat di mana semua tangan terbuka menyambut kehadiran siapa saja. Tempat semua orang saling kenal dan sapa. Tempat senyaman haribaan yang kita akrabi sejak kecil.

AIGL adalah rumah tempat hati berada dan berbagi.

#ultah3AIGL ❤️🏡

📌 9 Juli 2022 18:32 🌐

Minggu, 22 Mei 2022

Sampul Belakang Memoar Roberto

Sampul Belakang Memoar Roberto

Roberto Meisa Barus hanyalah seorang manusia biasa. Jika hidup ini diibaratkan sebagai sebuah film, dia bukanlah pemeran utama yang namanya dituliskan pertama. Namun dia adalah sosok yang kerap muncul sebagai aksen ikonik dalam berbagai adegan.

Dengan cara yang sangat biasa dia hadir dalam berbagai fragmen kehidupan banyak orang, terutama di masa-masa berat dan muram. Masing-masing mendapat sentuhan di sisi dan cara berbeda, sehingga amat beragam cerita yang terserak.

KEHADIRANNYA yang senantiasa membawa pencerahan, sukacita, dan solusi adalah cara Roberto mensyukuri serta menyalurkan karunia Tuhan yang baginya amat cukup. Your Grace is Enough, demikian dia deklarasikan dalam statusnya di Whatsapp maupun Facebook.

KEPERGIANNYA membuat banyak orang saling berjumpa [kembali] dan berbagi kisah. Maka jadilah buku kecil ini sebagai upaya merangkai keping-keping terserak tersebut menjadi mosaik dari seorang manusia biasa bernama Roberto Meisa Barus. Tentu saja buku ini tak mungkin mengungkap dirinya secara utuh. Selalu ada bidang kosong yang hanya bisa dilengkapi oleh setiap orang dengan warna dan kisahnya sendiri.

KETIADAANNYA bukanlah akhir eksistensi Roberto karena tak sedikit orang yang akan terus mengenang bahkan melanjutkan warisan yang sudah dirintis dan diteladankannya, yakni berbagi berkat kebaikan dan keluhuran budi yang sangat bisa dilakoni oleh semua orang biasa.

Demikianlah buku ini dipersembahkan bagi para manusia biasa, termasuk yang tidak mengenalnya.

📌 Minggu, 22 Mei 2022 05:33 🌐

Sabtu, 21 Mei 2022

A Man Called Roberto

A Man Called Roberto

Roberto hanyalah seorang manusia biasa. Jika hidup ini adalah sebuah film, dia bukanlah pemeran utama yang namanya dituliskan pertama. Kalaupun harus beranalogi, kemungkinan dia akan menjadi consiglieri, sang penasihat dan negosiator ulung dalam kisah The Godfather. Atau The Face, sang spesialis yang pesonanya terkonversi menjadi berbagai fasilitas The A-Team dalam operasi ala militer guna membantu pihak teraniaya.

Kepergiannya terasa sangat mendadak. Bukan karena prosesnya yang cepat melainkan karena ketidaksiapan menerima kenyataan bahwa seorang yang masih cukup muda dan penuh semangat harus meninggalkan kami semua yang merasa masih belum cukup puas menikmati perannya dalam kehidupan kami.

Ketika muncul gagasan menyusun bunga rampai testimoni mengenai dirinya, tulisan-tulisan pun mengalir deras dari berbagai kalangan. Beragam kesaksian menguak sisi-sisi kehidupan Roberto yang mungkin

Hal ini sangat tampak dari respons banyak orang yang bersaksi tentang kehidupannya sebagaimana tertuang dalam buku kecil ini.

Roberto bukan superman. Dia hanya manusia biasa. Oleh sebab itulah kita sebagai manusia biasa sangatlah bisa meneladani apa yang sudah dilakukannya bagi sesama.

Demikianlah buku ini dipersembahkan bagi para manusia biasa, termasuk yang tidak mengenalnya.

📌 Sabtu, 21 Mei 2022 13:57 🌐

Jumat, 18 Maret 2022

Operetta Sublimis Animae

Operetta Sublimis Animae

— Operet Kecil Sang Jiwa Luhur

PRELUDE

Wahai engkau, anak manusia
tak lelahkah melangkah
dengan kaki rekah dan lutut pecah
menyusuri lorong keniscayaan dan asa?

PROLOG

Dulu kala, seorang bijak pernah berkata, "Dan siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil." Konon, dari situ muncul frasa go the extra mile yang kurang-lebih menandaskan totalitas yang rela melakukan/memberi lebih dari yang diharapkan. To make more effort than is expected of you.

SCENE 1

Satu masa, seseorang (sebutlah KUTU) mengalami kesulitan finansial yang diperlukannya untuk modal kerja. Setelah KUTU berjumpa BB, bergegas BB mencari kawan di jejaringnya yang berpeluang membantu. Atas dasar rasa percaya, seorang kawan (sebutlah LILIN) meminjamkan dana yang tergolong cukup besar guna memenuhi kebutuhan KUTU, dengan harapan projeknya dapat bergulir.

Seiring berjalannya waktu, ternyata KUTU tidak bisa memenuhi janji pengembalian pinjaman, bahkan tak lagi merespons saat dihubungi. Merasa bertanggungjawab pada LILIN, maka BB melunasi hutang tersebut dengan cara menyicil dari kocek pribadi selama beberapa bulan.

Tuntas dengan LILIN, BB pun tidak pernah mengungkit soal itu lagi.

SCENE 2

Kondisi kesehatan BB sangat turun sehingga bolak-balik menjalani pengobatan, bahkan akhirnya harus rawat inap.

Satu hari, BB mendengar perbincangan keluarga pasien lain yang tampak mengalami kesulitan melunasi biaya rumah-sakit.

Dengan santun BB menyapa, "Mohon maaf, saya tadi tak sengaja mendengar kesulitan yang kalian alami. Jika diperkenankan, saya ingin membantu sebagian biaya dari gaji yang baru saya terima."

Sebenarnya BB belum sebulan menjabat sebagai komisaris di sebuah perusahaan sehingga gaji yang diterima pun tak penuh. Dana itulah yang dia bagi dengan pasien lain yang tak dikenalnya.

NARATOR

Bagi sebagian orang, mungkin BB dipandang amat polos bahkan bodoh. Tetapi mereka yang kenal BB amat tahu bahwa dia sesungguhnya seorang yang sangat cerdas dan cermat tanpa dinodai prasangka.

Dia lakukan semua itu bukan karena berharap mendapat pujian (dan kisah-kisah ini pun bukan dia yang menyampaikannya), melainkan karena memang demikianlah tabiatnya.

BB tak bisa tenang jika tahu ada orang, apalagi kawan, yang sedang kesusahan sementara dia [merasa] punya kesempatan meringankan beban tersebut walau harus dengan mengetuk pintu kawan-kawan lain.

Begitulah peran BB di antara banyak orang, yakni menjadi penghubung antara mereka yang membutuhkan dengan yang memiliki keluangan. Integritas dan ketulusannya ibarat paspor yang berterima di pintu mana pun. Tak pandang senior maupun junior, semua menaruh respek yang tinggi padanya.

Dan dalam melakukan panggilan tugas ini, kerapkali BB mendahulukan kepentingan orang lain daripada dirinya sendiri. Bahkan di penghujung hayat, dalam dera rasa sakit tak terperi, acap dia yang lebih dahulu menyapa menanyakan kabar para kawannya.

EPILOG

Di mata saya, BB bukan sekadar menemani berjalan sepanjang 2 mil, melainkan rela menggendong orang tersebut walau dia sendiri sebenarnya sedang kepayahan.

Tak ada keterikatannya pada materi duniawi (padahal BB bukan seorang yang berlimpah kekayaan) maupun keterbatasan fisik (dalam kondisi sakit sekalipun) yang mampu menjebaknya dalam dilema batin saat berhadapan dengan panggilan pertemanan.

Buku-buku jari tangannya kapalan akibat mengetuk banyak pintu. Pipinya kebas menerima tolakan. Jiwanya tangguh teruji dalam empati penuh tekad.

Apa istilah yang cocok untuk perilaku seperti ini?

Saya tak tahu pasti.

Mungkin juga seperti dikatakan orang bijak yang sama dulu kala, "Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya."

Di lubuk hati terdalam, saya cukup yakin hanya orang-orang berjiwa luhur yang mampu melakoninya.

Demikianlah.

CODA

Wahai engkau, anak manusia,
buku-buku jarimu yang kapalan
adalah saksi hati dan jiwa
yang melampaui segala nalar.
Hikmat!

NOTA BENE

O ya, saya hampir lupa mengatakan bahwa BB adalah seorang bernama panggilan Boret alias Roberto Meisa Barus yang telah menghadap Sang Maha Empunya Napas sekitar 7 menit menjelang akhir hari Natal 2021.

Vaya con Dios, mi amigo 🙏

#friendship #solidarity #love #humanisme #kesetiakawanan #kemanusiaan

📌 Jumat, 18 Maret 2022 11:30 🌐

Rabu, 02 Maret 2022

Ketika Mendung Jadi 9 Warna

Ketika Mendung Jadi 9 Warna

Beberapa hari ini ada saja hal-hal yang membuat saya harus mengelus dada sendiri (gak berani ke dada orang lain, apalagi yang berbulu lebat 🙈).

Yang paling sepele adalah memberi makan anjing saya. Entah kenapa, sejak dulu dia susah sekali makan. Setiap kami siapkan makanan, dia akan lari menghindar atau sembunyi. Terpaksa dia dipojokkan. Benar-benar ditaruh di pojok ruangan di depan mangkuk makanannya sambil dijaga agar tidak pergi, lalu disuapi agar terbit seleranya. Dan ini berlangsung setiap hari.

Biasanya dia mau makan juga setelah beberapa lama dirayu. Namun, kadang usaha ini tetap tak berhasil.

Entah kenapa, kemarin dia sewot banget. Ketika saya mencoba menyuapinya, dia menggeram dan menggigit sehingga kelingking tangan kanan saya luka. Sangat sakit dan mengucurkan banyak darah. Padahal saat itu saya sudah mau berangkat bertemu klien. Sungguh merepotkan. Tentu saja jari yang berdarah membuat saya sulit mengelus dada tanpa mengotori pakaian.

Esok paginya, kelingking saya bengkak. Pernah dulu saya digigit sampai luka tapi tidak bengkak. Waduh, jangan-jangan kena rabies nih.. 😔

Hujan yang turun siang itu membuat semangat kian lesu. Apalagi WAG yang membahas sebuah projek sosial persahabatan amat sepi dari respons. Entah sedang pada sibuk atau cuek. Terngiang petuah bijak bestari, "Tetap putus asa, jangan semangat!". Dan seperti biasa, terpaksa saya mengelus dada sendiri lagi deh ...

Tahu-tahu masuk telpon dari nomor tak dikenal. Katanya ada paket. Padahal hari itu saya belum memesan barang atau makanan. Berarti kiriman dari seseorang nih. Apaan ya..? Rupanya sebuah kotak kardus elegan yang terasa dingin. Setelah saya buka ...... Tadaaaaaa!!! Berbaris 9 botol gelato Ziato dengan 9 rasa berbeda. Sila cek sendiri label yang tertera di botol.

Wow! Mendadak hari menjadi indah dan enak. Seperti ada pelangi 9 warna menembus mendung. Apalagi anjing saya sudah kembali mau bermanja-manja dan seperti menyesal membuat kelingking saya bengkak.

Haturnuhun kepada Ma'e Nenden Agustina yang sudah memupus mendung. Absolutely udara dingin di luar tak mampu membekukan rasa hangat di dalam dada walau tanpa dielus.

"Make my day," 🙏💕

📌 Rabu, 2 Maret 2022 00:57 🌐

Rabu, 26 Januari 2022

Pelacur dan Patin Bakar

Pelacur dan Patin Bakar

— Mencari dan Menemukan, Pengalaman dan Ingatan.

Seseorang bersilaturahmi ke Buya HAMKA dan berkata, “Pelacur di Arab itu memakai cadar dan hijab”.

Jawaban Buya HAMKA sungguh tak terduga. “Oh ya? Saya barusan dari Los Angeles dan New York. Masya Allah, ternyata di sana tidak ada pelacur.”

“Ah, mana mungkin, Buya. Di Makkah saja ada kok, apalagi di Amerika, pasti banyak lagi,” kata tamunya itu.

Maka kata Buya HAMKA, “Kita ini memang hanya akan dipertemukan dengan apa-apa yang kita cari.

Meskipun kita ke Mekkah, tetapi jika yang diburu oleh hati adalah hal-hal yang buruk, maka setan dari golongan jin dan manusia akan berusaha membantu kita untuk mendapatkannya.

Tetapi sebaliknya, sejauh perjalanan ke New York, Los Angeles, bila yang dicari adalah kebajikan dan kebaikan, maka segala kejelekan akan enggan dan bersembunyi,” pungkasnya.

Apa yang dipikirkan dan dicari, apalagi sempat dialami secara berkesan, kerap bisa menjadi penanda terhadap sesuatu. Itu sebabnya pengalaman pertama menjadi penting dan sulit dilupakan. Bisa merupakan kenangan indah ataupun traumatis.

Begitu pula dengan tempat.

Kunjungan saya ke beberapa lokasi kerap menyimpan imaji khusus. Surabaya, misalnya. Kota ini dahulu terkenal panas dan gersang sehingga sebagian orang sulit percaya bahwa kini banyak pepohonan hijau di seantero kota. Di sisi lain, karena pengalaman saya di kota ini sekian puluh tahun lalu demikian indah, maka kota ini tetap indah, entah dia gersang ataupun menghijau.

Bandung yang sejuk semasa saya berkuliah di sana membuat saya selalu membawa jaket walau saat ini temperatur kota sudah meningkat. Kalimantan yang beberapa kali saya kunjungi, bahkan hingga harus naik speedboat ataupun perahu ke pedalaman, menapakkan kenangan tentang keasrian alam dan keramah-tamahan masyarakatnya.

Sumatera Utara yang katanya keras, tetap menjanjikan kenikmatan dari kuliner maupun alamnya serta suara merdu penyeling kerja keras penduduknya. Lalu Nusa Tenggara yang punya banyak pesona tersembunyi di berbagai pelosoknya. Apalagi Papua.

Dan tempat-tempat lainnya. Demikian kaya keragaman Nusantara.

Saya bukannya menutup mata akan kekumuhan ataupun hal lain yang merupakan realita kehidupan, namun apa guna menjadikan sebuah perjalanan sebagai pengalaman buruk? Rugi banget atuh 😊 Malah sebisa mungkin saya upayakan menemukan sesuatu yang membuat label bagi tempat tersebut layak untuk diceritakan sebagai daya tarik. Itulah pengalaman pertama yang ingin saya kecap dan tertanam dalam memori.

Seperti diujarkan orang bijak di masa lalu, "Carilah, maka akan kau dapatkan". Seek and ye' shall find. Dan dari situ, seperti istilah lawas saat aplikasi pengolah kata (word processor) mulai canggih, berlakulah WYSIWYG What You See Is What You Get.

Hanya saja, tak setiap orang suka memikirkan, mencari, dan menemukan hal-hal yang membuat sukacita. Ada yang lebih senang berjumpa dan mengenang monyet, jin, kuntilanak, dsb sehingga semua itulah yang ada di kepalanya saat membicarakan suatu tempat, entah apapun konteksnya.

Maka di Kalimantan Timur, mau dapat patin bakar, bisa. Mau dapat mandau terbang pun bisa. Pilihan ada pada masing-masing orang.

Saya sih pilih patin bakar saja. Maknyus.. 😋

#Indonesia #pluralism #peace ♥🇮🇩

📌 Rabu, 26 Januari 2022 03:34 🌐