📌 Minggu, 20 Desember 2020 🌐

Lady will Surely Comeback Someday

<i>Lady will Surely Comeback Someday</i>

Prolog

Lady in The Mist
creator.nightcafe.studio

Ada banyak impian yang pernah menyembul dalam tahun-tahun perjalanan hidup saya, baik tentang diri maupun dunia. Sangat banyak yang tak terwujud dengan berbagai alasan logis, namun ada juga yang menjadi kenyataan dengan sedikit kegemilangan [walau sebagian dibarengi sentuhan mukjizat].

Memilih salah satu cerita dari sekian impian untuk disampaikan ke forum AIGL nan ceria namun kritis ini ternyata bukanlah hal mudah. Apalagi jika tak ada makna yang bisa dibagi. Itu sebabnya saya mengalami kesulitan mengikuti celeng kali ini.

Namun ada satu hal yang sore tadi sekonyong-konyong menyeruak dalam pikiran ketika Téh Nenden menagih keikutsertaan saya. Entahlah, apa bisa ini dianggap sebuah testimoni. I wish.

15 Juli 2020

Sekonyong-konyong terbetik kabar bahwa seseorang yang sudah lama saya kagumi ternyata telah meninggalkan ruang kebersamaan kami. Serentak ada torehan nestapa dalam dada yang tak kuasa saya tolak. Seperti rumah kehilangan suara kanak-kanak.

Berusaha memendamnya ternyata percuma. Sehingga, tanpa terkendali, jemari yang sudah belasan tahun kelu tak mampu merangkai kata tiba-tiba bergerak menautkan huruf demi huruf menyuarakan rasa yang terus ingkar untuk mengaku.

Agustus 2020 tak jelas tanggal berapa

Suatu sore, saat mengisi waktu dengan bernyanyi di Smule, entah kenapa teringat sebuah lagu tentang harapan kembalinya seseorang dari masa lalu. Tanpa perlu bimbel (istilah kawan-kawan ITBSmuleanS untuk latihan) dan tak perlu retake, jadilah rekaman itu.

Menyadari suara yang sangat pas-pasan di garis batas memprihatinkan serta mengandalkan keberanian menanggung malu semata, tak pernah saya memublikasikan apa pun ke luar aplikasi Smule itu sendiri. Termasuk lagu ini.

20 Oktober 2020

Dia kembali hadir ke tengah kebersamaan seakan tak pernah ada angin gersang yang meranggaskan dedaunan. Dan sebagaimana galibnya roda musim, kemarau pun berganti dengan kesegaran yang sedemikian melimpah.

Epilog

Masih banyak yang sebenarnya bisa saya ceritakan, hanya saja tenggat waktu tinggal 2 menit.

Demikianlah.

Appendix

Lagu ini aslinya berjudul Julie, yang diciptakan dan dipopulerkan oleh Julio Bernardo Euson pada tahun 1972. Dalam kisah ini, nama Julie diubah menjadi Lady.

Lady, oh Lady
Life is not the same anymore
There's not a thing that we're living for
Now that you've gone away

Lady, Lady
Why couldn't you have stay
I remember the days
That we spent together
Happiness knowing no bound
At the time we have pledged
It would last forever
From this cloud that was just no way down

But it seems that it all had to end
And I'm left here alone, not a friend
No one to cheer me and no one to say
Lady will surely come back, some day

No one.. to cheer me .. and no one.. to say…
Lady will surely come back… some…day

Lady, darling Lady
How come you're not thinking of me
How come you don't care to recall how it was
I wish for that it always will be

Lady, Lady
Why don't you come back to me
I remember the days
That we spent together
Happiness knowing no bound
At the time we have pledged
It would last forever
From this cloud that was just no way down

But it seems that it all had to end
And I'm left here alone, not a friend
No one to cheer me and no one to say
Lady will surely come back, some day

Yes it seems that it all had to end
And I'm left here alone, not a friend
No one to cheer me and no one to say
Lady will surely come back, some day

Lady is coming back to me, some day
Lady, I say, Lady
You have better come to me at home
'Cause I want you
Oh yeah, I want Lady ....

#aiglMyWishStory

📌 Minggu, 20 Desember 2020 03:00 🌐

📌 Minggu, 15 November 2020 🌐

Love in Vain

<i>Love in Vain</i>

— Kontes Nyanyi Rolling Stones di Smule

Usai projek video "Kebyar Bagi Negeri" yang tayang tanggal 10 November lalu, saya langsung berhadapan dengan tantangan membuat video Smule lagu dari grup band Rolling Stones. Entah kenapa pula panitia menyantumkan nama saya di urutan pertama dengan catatan "mesti ikut" 😜

Walau bukan penggemar berat Rolling Stones, ada beberapa pilihan lagu yang saya kenal dan sebenarnya sudah saya incar. Tapi, sebagaimana yang sudah-sudah, saya selalu lambat [dan kadang dibumbui lupa] menentukan pilihan 🙈

Sekian lagu diambil dan sudah ditayangkan videonya oleh kawan-kawan yang sebagian katanya tidak akrab dengan Rolling Stones. Dan hasilnya, menurut saya, sungguh menakjubkan. Bahkan para penyanyi perempuan berhasil menampilkan sisi universal lagu-lagu tersebut tanpa harus jatuh dalam dikotomi maskulin vs feminin. What a wonderful!

Melihat perkembangan hingga hari terakhir, akhirnya saya memilih lagu yang fakir peminat: Love In Vain. Pikir saya, harusnya sih gak susah, wong hanya mengulang bait lagu yang sama nadanya sebanyak 3 kali. Selain itu, saya luput dibandingkan dengan kawan lain yang lebih ahli menyanyikannya 😁

Lagu yang 17 tahun lagi akan berusia seabad ini adalah karya Robert Johnson. Lagu yang semula kental warna blues, menjadi sedikit lebih melodius dengan sentuhan "slide guitar" ala musik country yang dimainkan Mick Taylor ketika Rolling Stones merilisnya dalam album "Let It Bleed" (1969).

Sebagaimana umumnya lagu blues, maka penyanyi dan pemusik memiliki kelenturan berimprovisasi. Dan saya pun terbawa oleh atmosfer ini sehingga pada bait kedua dan ketiga saya abaikan gaya menyanyi yang dicontohkan oleh Mick Jagger. Sabodo teuing lah, yang penting mah, enjoy ...

Dan inilah hasil rekaman Smule yang saya mulai sekitar pukul 19 WIB kemarin dan sempat nyangkut hingga 17 jam, halmana membuat saya ketar-ketir mengingat batas terakhir penyetoran adalah jam 22 malam ini.

www.smule.com

Syukurlah, siang tadi, hasil kolaborasi mandiri di Smule ini berhasil menembus penghalang.

Jangan tanya kenapa template video yang dipilih adalah yang ini. Sekenanya saja, karena saya belum familiar dengan Smule gaya baru. Tapi kalau ada yang penasaran mengapa saya sampai join hingga 7 kali hanya untuk memperoleh hasil sesederhana ini, satu saat akan saya ceritakan rincian kengenesannya 😊

Semoga lagu ini dapat menghibur walau mungkin tak sesuai harapan para pecinta musik, khususnya penggemar Rolling Stones.

Setun, A!!!

Lunas ya 🙏

🎸 ☮ 💕

#TheRollingStonesChallenge #TRSchallenge #TheRollingStonesContest #TRScontest

📌 Minggu, 15 November 2020 20:46 🌐

📌 Selasa, 10 November 2020 🌐

Kebyar Seratus+ Alumni ITB bagi Negeri

Kebyar Seratus+ Alumni ITB bagi Negeri

Tahun 2020 menyimpan banyak makna.

Di tahun ini Republik Indonesia berusia 75 tahun. Pada tahun ini pula pendidikan tinggi teknik di Indonesia berusia 100 tahun yang ditandai dengan berdirinya Technische Hoogeschool te Bandoeng yang di kemudian hari menjadi Institut Teknologi Bandung (ITB).

Dalam rangka merayakan kedua hari besar ini, lebih dari 100 alumni ITB yang tergabung dalam komunitas Alumni ITB Garis Lucu (AIGL) mempersembahkan sebuah kolaborasi seni yang melibatkan pemusik, penyanyi, penari, deklamator, seniman gambar.

Bertepatan dengan Hari Pahlawan 10 November 2020, video ini pun kami persembahkan bagi segenap anak bangsa yang mendarmabaktikan hidup serta karyanya bagi kelangsungan dan kemajuan negeri. Baik yang berjuang di pertempuran, pendidikan, ekonomi, pangan, dll bahkan para tenaga kesehatan yang saat ini berada di garda terdepan melawan pandemi covid-19.

Semoga karya sederhana ini dapat terus menghidupkan dan mengilhami kita semua untuk tak letih mencintai negeri Merah-Putih.

Bagimu Negeri, kebyar karsa dan karya kami.

Dirgahayu! 🇮🇩

📌 Selasa, 10 November 2020 23:23 🌐

Dari Balik Tirai AIGL Bernyanyi II #4

Dari Balik Tirai AIGL Bernyanyi II #4

Tak terasa waktu berlari teramat cepat. Tepat seminggu lalu saya tuliskan progres mengolah file audio serta video yang jumlahnya lebih dari 100 (menurut Kang Pendy ada 128 video). Tahu-tahu sekarang sudah tanggal 10 November 2020, hari yang direncanakan untuk peluncuran karya kolosal AIGL.

Ternyata tidaklah mudah merangkai berbagai material yang pada dasarnya sudah bagus menjadi sebuah kolase besar yang tetap, bahkan tambah, bagus. Sangat terasa beratnya beban menyajikan racikan yang dapat memuaskan ekspektasi semua pihak.

Ada saja hal lucu sekaligus menggemaskan ketika dua unsur utama (rekaman audio dan rekaman video) digabungkan. Sinkronisasinya tak semudah yang dibayangkan. Ada yang gambarnya bagus tetapi gerak bibir tidak pas dengan lagu. Ada juga yang suara dan gambarnya sudah bagus, tetapi posisinya di video kurang pas. Jungkir-baliklah para chef di dapur video mengatur semuanya agar optimal.

Usai melakukan sinkronisasi, mulailah tahap penataan letak maupun cara tampilnya. Berbagai fitur yang ada di perangkat penyuntingan pun dijajal. Beberapa ide bergulir dalam upaya mempercantik visual.

Keterbatasan interaksi akibat pandemi terasa sebagai tantangan tersendiri. Komunikasi tentunya tidak selancar pertemuan tatap muka yang umumnya dibarengi melihat hasil pekerjaan seraya melakukan evaluasi serta memberi masukan.

Hingga kemarin malam, tim produksi masih intens berdiskusi melalui Zoom. Scene demi scene dibahas satu per satu secara rinci hingga beberapa belas lembar.

Beruntung kedua chef dapur video sangat bisa diandalkan kemampuannya, sehingga dalam tempo singkat (eh dari jam 21 hingga pagi tuh termasuk singkat atau lama sih?) hasil diskusi pun terwujud dalam format yang disepakati. Haturnuhun, Kang Pendy dan Kang Danne Dhirgahayu. You are the best.

Dan sekitar 22 menit selewat jam 12 siang tadi, kami disuguhi perkembangan terbaru untuk preview. Setelah ditonton dan disimak sejak detik 0 hingga akhir sambil menahan napas, akhirnya kami bisa menghembuskan 3/4 beban yang selama ini menggantung (kebayang kan gedoran ratusan orang yang sangat penasaran menantikan kemunculan video kolaborasi ini 😓).

Secara keseluruhan, masakan sudah jadi. Bentuknya sudah sangat jelas, kenikmatannya pun sudah terasa. Tinggal diberi sentuhan akhir yang mempercantik tampilan saat disajikan di pinggan.

Pekerjaan yang dilaksanakan kurang dari 1 bulan ini nyaris merupakan kemustahilan (untung saja belum sempat menjadi mimpi buruk) mengingat demikian banyak pihak yang dilibatkan sebagai artis, yang [nyaris] semuanya amatir. Bahkan ada yang mengakui bahwa ini adalah pertamakalinya dia menyanyi di luar kamar mandi. Pakai direkam video pula! Ada juga yang baru kembali menyanyi sejak SMP. 🤣

Perlu menjadi catatan bahwa semua ini dilakukan secara pro-bono alias tak berbayar. Dan ada sebagian yang mengupayakan di antara tugas utama kehidupan. Namun tugas yang diemban diupayakan terlaksana sebaik mungkin.

Maka, sungguhlah beruntung AIGL memiliki warga yang berkenan berbagi dedikasi dalam tenggat waktu yang sangat ketat ini. Mulai dari penggagas dan pembuat/penata musik/vokal, manager yang katempuhan menangani segala urusan, pembuat puisi, penyanyi, narator, pemusik, penari, hingga orang-orang di belakang laptop yang menjadi benteng terakhir. Semua menakjubkan. Thank you, all 💕

Kiranya kerja kita bersama ini dapat segera kita nikmati dengan sukacita (dan semoga juga dengan bangga 🙏) ketika kita membuktikan mampu menembus hal-hal yang selama ini kita anggap tak mungkin kita lakukan.

Together, each achieve more.

Salam dari dapur,

📌 Selasa, 10 November 2020 02:06 🌐

📌 Kamis, 05 November 2020 🌐

Dari Balik Tirai AIGL Bernyanyi II #3

Dari Balik Tirai AIGL Bernyanyi II #3

Usai mengumpulkan rekaman audio dan video hingga beberapa saat menjelang tenggat waktu (anak ITB keknya senang banget memacu adrenalin dengan mepet-mepet), para pendukung projek besar AIGL Bernyanyi #2 pun bisa menarik napas lega. Berbagai kehebohan serta keluh-kesah lucu yang terjadi di lokasi masing-masing pun usai sudah.

Begitu pun kami yang mengemban tugas mengelola kerja besar ini dapat sedikit melonggarkan himpitan yang cukup menegangkan. Bayangkan saja hiruk-pikuk komunikasi 100 penyanyi, 11 pemusik, 7 penari, dan 4 narator/deklamator yang menyumbangkan suara, permainan musik, ataupun gerak dalam bentuk rekaman audio dan video dari lokasi masing-masing. Ada saja hal-hal menggemaskan yang harus diorkestrasi secara cantik dan sabar oleh 8 orang tim kreatif. Dan semua ini dilangsungkan dalam durasi sekitar 1 bulan saja.

Kini semua menantikan hasil racikan dari para chef dapur audio, yakni Kang Dudy Duy, dan duo maut dapur video, yaitu Kang Pendy Mulyadi dan Kang Danne Dhirgahayu. Dan secara anggun, masuk pula bumbu racikan Dayu Ida Ayu Suci Levi untuk menambah keindahan topping sajian.

Berbagai colekan via FBG AIGL maupun japri tak henti-hentinya menyampaikan rasa penasaran tentang hasil akhir. "Mana, mana, mana ... Pingin lihat."

Jangankan para peserta, kami sendiri pun tak kurang penasarannya. Namun, dapur audio maupun dapur video ternyata menerapkan sistem kehati-hatian yang sangat ketat. Kami hanya boleh mengintip sedikit saja dari balik tirai jendela dengan pesan yang sangat jelas untuk tidak membocorkan progres yang memerlukan kecermatan dan kesabaran tingkat tinggi ini.

Gedoran rasa penasaran semakin membahana. Waktu menuju peluncuran pun semakin dekat, tak sampai seminggu lagi. Dapur video semakin mengintensifkan jadwal kerja. Kedua chef khusyuk dalam tirakat. Dan kami hanya bisa menanti-nanti di halaman.

Mungkin karena tidak tega menyaksikan kami berhujan-panas menanti di halaman, akhirnya pagi tadi Kang Pendy berbaik hati memberikan selembar kolase foto yang diambil dari potongan ratusan video yang tengah diolah. Dengan pesan, "Beri kami kesempatan memberi sajian terbaik dari bahan baku yang sudah keren. Please ..."

Beginilah kurang-lebih penampilan kece para peserta. Semoga dapat melunturkan sedikit rasa penasaran sekaligus mendukung semangat kedua empu yang tengah berjibaku di depan laptop.

* Diiringi salam mesra dari tim di halaman dapur,

🇮🇩 ❤️ 🙏

📌 Kamis, 5 November 2020 22:09 🌐

📌 Selasa, 03 November 2020 🌐

Dari Balik Tirai AIGL Bernyanyi II #2

Dari Balik Tirai AIGL Bernyanyi II #2

Gambar disalin dari
www.krjogja.com

3 menit menjelang pukul 24 kemarin (2 November 2020), HP saya berbunyi menandakan masuknya pesan di WAG. Tidak semua WAG saya aktifkan notifikasinya, melainkan hanya yang perlu saya ikuti secara intens. Kalau ada bunyi, berarti ini pesan penting.

Rupanya ada kiriman file suara di WAG "dapur" AIGL Bernyanyi #2. Kang Dudy Duy pengirimnya.

Seketika pikiran saya menggeliat penuh gairah. Pasti ada progres signifikan. Karena memang demikianlah gaya Kang Dudy selama kami berkomunikasi sebulan belakangan ini. Hampir tidak pernah Kang Dudy menyampaikan kesulitan atau hambatan, bahkan mengabarkan kondisinya yang sedang kurang sehat pun tidak. Tahu-tahu mengirim hasil kerjanya mengolah audio yang selalu membuat kami berdecak kagum dan senang.

Singkat saja pesannya bahwa semua rekaman suara sudah dimasukkan. Ibarat memasak, bumbu sudah diramu dan diaduk dengan bahan makanan dalam panci penggorengan panas. Tinggal beberapa bumbu yang menunggu giliran dibubuhkan menjelang matang.

Dengan khidmat saya menyimak hasilnya. Suara 3 deklamator, 100 penyanyi, 1 orator, serta 13 pemusik berpadu kompak dalam sebuah komposisi yang anggun sekaligus gagah. Instrumen musik modern melantun lincah dan indah ditingkah nada etnis yang nanti akan menjadi pengiring 7 penari tradisional.

"WOW!". Demikian kesan saya sehabis mencerna tuntas hasilnya.

Sebagai seorang non-skill di bidang musik, tidak pernah saya bayangkan projek "lucu-lucuan" ala AIGL ternyata bisa sampai sejauh ini perjalanannya. Secara pribadi saya takjub dan bangga menemukan sinergi positif luar biasa dari para AIGLorins membangun karya bersama.

Tak sabar ingin segera membagikan karya ini kepada kawan-kawan AIGL bahkan publik. Tetapi kerja belum selesai. Kita masih setengah jalan. Masih ada proses meramu kompilasi audio ini dengan lebih dari 100 video para pendukung projek ini. Sebuah pekerjaan besar. Dan tentu saja mendebarkan.

Tapi saya yakin kerja besar ini akan selesai pada waktunya. Wong proses pengumpulan rekaman suara dan video dalam waktu relatif singkat pun mampu dipenuhi secara baik oleh semua peserta (tentu saja dengan berbagai kerepotannya yang saat itu membuat stres namun menggelikan saat kini dikisahkan).

Seminggu ini Kang Pendy Mulyadi dan Kang Danne Dhirgahayu akan berjibaku di depan laptop. Mohon doa dan dukungan agar semua dapat berjalan lancar 🙏

Layar sudah dikembangkan. Pantang surut ke belakang.

Besok-besok kita sambung lagi ya. Sudah hampir jam 4. Saya mau tidur dulu. Pastinya sambil mendengarkan rekaman AIGL Bernyanyi #2 yang keren ini 😊

📌 Selasa 3 November 2020 22:02 🌐

📌 Senin, 02 November 2020 🌐

Soulmate

<i>Soulmate</i>

Shadows woman holding flower
img.freepik.com

Sekitar 30 menit menuju tenggat waktu berakhirnya celeng #aiglsoulmatestorychallenge, saya masih kesulitan memutuskan kisah yang mau diangkat. Lha, saya sendiri tidak tahu persis definisi soulmate yang paling suai dengan forum garis lucu ini.

Apakah soulmate itu harus pasangan? Kawan dekat seiring-sejalan dalam jatuh dan bangun? Selalu kompak? Pasti bahagia? Hingga seumur hidup?

Pertanyaan yang sulit dijawab namun sekaligus akan melahirkan bertimbun jawaban yang kian membingungkan.

Lalu, apa namanya kisah antara seorang lelaki dengan seorang perempuan yang ternyata lebih memilih pria lain yang nota bene adalah sahabat sang lelaki? Dan kemudian lelaki tak terpilih itu menjadi kawan bicara pasangan tersebut bahkan hingga belasan tahun setelah keduanya menikah ...

Ataukah soulmate adalah sebentuk pemuliaan bagi tindakan bodoh penuh derita atas nama cinta? Entahlah ...

Saat ini saya hanya bisa mengirimkan puisi lawas yang tentu saja tak punya intensi sebagai jawaban atas pertanyaan abadi tersebut.

Sayap yang Terkoyak

: love is a many-splendoured thing

Sekiranya pun tiada lagi rasa cinta itu kini dalam hatimu,
aku berharap
setidaknya kau masih bisa memandangku
sebagai seorang sahabat
yang bahunya selalu kausandari

saat kaututurkan kisah-kisah jinggamu,

yang lengannya kerap memelukmu erat

tatkala merekatkan kembali duniamu berkeping-keping,

yang telinganya senantiasa bersabar

menyimak nada sendumu tentang hari berhujan,

yang hatinya menjadi cawan

menyimpan tetes demi tetes airmatamu,

dan yang mulutnya tidak henti mengaku

betapa akan berbedanya dia tanpamu.


Dulu pernah kau bertanya:

"Bagaimana kauputuskan
aku sebagai kekasih,
yang akan menjadi ibu dari anak-anakmu,
sedangkan kau belum lagi mengenalku?"

Aku tidak bisa merekayasa jawaban
yang dapat membuat hatimu menggelepar,
sehingga aku hanya bisa berkata lirih:

"Telah kuputuskan
akan kugunakan setiap saat dalam sisa hidupku
untuk mengenalmu".

Dan saat itu engkau terkesima.

Mestinya aku punya lebih dari satu alasan
untuk berhenti mempertimbangkanmu
sebagai belahan jiwa,
pasangan berbagi cerita,
karena telah sedemikian dalam jurang yang kaugali

antara bahasaku dan bahasamu
yang mustahil kuseberangi
dengan sayap yang terkoyak,

karena telah sedemikian tinggi bukit yang kautimbun,

lara di atas luka,
yang tak mungkin kudaki
tanpa uluran jemari belas kasihmu,

karena telah sedemikian jauh jalan yang kautempuh

yang membuatku tak lagi bisa jernih membedakan
antara khilaf dan pengkhianatan.

Walau kesesakan kerap berkelebat
bahwa aku telah gagal mengenalmu,
aku tidak mungkin berbalik.
Walau demikian letih kuseret langkahku
beringsut menggapai bayang-bayangmu yang kian samar,
aku tidak mungkin berhenti.
Karena telah lama kutanggalkan semua mimpi dan kecewa
sejak kusampaikan ikrar di altar
dalam sakramen sekali untuk selamanya.

Mungkin tak seharusnya aku bertanya lagi
tentang cincin yang kusam dan retak,
karena telah kupahami kini
bahwa cinta tak pernah gagal
... untuk memberi.
Sampai maut memisahkan kita.

— Beth, 3 Oktober 2005 04:50

Puisi yang diilhami judul sebuah novel, "A Many-splendoured Thing", karya Han Suyin alias Elisabeth Comber (nama gadis: Elizabeth Kuanghu Chow/Zhou Guanghu) ini sesungguhnya merupakan sebuah permintaan dari seorang kawan diskusi di internet yang "kebetulan" memiliki nama panggilan Suyin. Dan saya perlu waktu tepat 5 bulan untuk membuatnya karena tidak punya gagasan tentang apa yang ingin saya tuliskan 😞

Di bawah ini adalah lirik lagu yang menjadi lagu tema film berjudul sama yang kisahnya diangkat dari novel tersebut.

** Love Is A Many-Splendored Thing **
(Music: Sammy Fain, Lyrics: Paul F. Webster, 1955)

I walked along the streets of Hong Kong town,
up and down, up and down.
I met a little girl in Hong Kong town
And I said can you tell me please,
Where's that love I've never found.

Unravel me this riddle.
What is love, what can it be.
And in her eyes were butterflies
As she replied to me,
Love is a many-splendored thing.

It's the April rose that only grows
In the early spring.
Love is nature's way of giving
A reason to be living--
The golden crown that makes a man a king.

Once on a high and windy hill
In the morning mist two lovers kissed
And the world stood still.
Then your fingers touched my silent heart
And taught it how to sing!
Yes, true love's a many-splendored thing.

💖

Senin, 2 November 2020

📌 Kamis, 22 Oktober 2020 🌐

Dari Balik Tirai AIGL Bernyanyi II #1

Dari Balik Tirai AIGL Bernyanyi II #1

Yihaaaaa!!!

Sungguh seru ternyata perkembangan projek #AIGLBernyanyi2. Riuh sangat perbincangan di WAG yang campur-baur antara antusias, bingung, gaptek, penasaran, serius, bahkan canda-canda. Eh termasuk serbuk-serbukan juga sedikit..

Interaksi yang intens namun akrab terjalin antara sesama peserta maupun dengan Mamak Lindes Dumaria Gultom selaku Manager handal yang tidak ada duanya dalam soal kesabaran dan kerajinan, sungguhlah membuat tenang saya yang sebenarnya nyaris nol besar dalam soal musik dan nyanyi. Toh selama ini juga lebih sering bermodalkan nekad dan semangat serta sedikit provokasi 😁

Waktu yang tergolong singkat tidaklah membuat ciut nyali kawan-kawan. Anak ITB, gitu lho. AIGL pulak! Deadline mepet mah sudah biasa.

Sekitar 50% dari 107 peserta WAG (ada juga sih beberapa yang pakai 2 nomor) sudah menyetor rekaman suaranya. Bahkan ada yang sudah menuntaskan PR-nya dengan menyerahkan video sekaligus. Secara umum, hasilnya menggembirakan. Kami yang menjadi tukang masak di dapur jadi semakin optimis bisa memenuhi target penayangan di Hari Pahlawan 10 November 2020.

Hari ini adalah batas waktu pengiriman rekaman audio. Semoga sebelum tengah malam nanti seluruh suara keren para AIGLians (atau bagusnya kita sebut AIGLOrins ya?) sudah terhimpun sehingga Kang Dudy Duy bisa langsung tancap gas menjahitnya menjadi sebuah paduan suara yang dahsyat membahana dan patut dikenang hingga 100 tahun mendatang (contek slogan Om Rouli Sijabat).

Dan setelah itu, Kang Pendy Mulyadi serta Kang Danne Dhirgahayu berjibaku menata mosaik video para Tétéh, Akang, Uni, Uda, Kakak, Abang, Mbak, Mas, Bude, Pakde, dll yang sudah berupaya keras menampilkan wajah paling manis namun penuh gairahnya.

Sungguh tak sabar rasanya menanti..

Keep the spirit high! We love you all.

👍🙏💕

📌 Kamis, 22 Oktober 2020 22:08 🌐

📌 Minggu, 27 September 2020 🌐

R11 Boneka Bermasker

R11 Boneka Bermasker

Awalnya sih tak terpikir mau ikutan #MaskStatueChallenge yang digelar dalam rangka #aigl4IndonesiaSehat. Tapi Mak Celeng Nenden Agustina beberapa kali mencolek sampai saya kegelian dan terketuk berpartisipasi.

Video ini boleh dianggap sebagai kaleidoskop kecil sekelompok orang yang dipersatukan sejak tahun 2012 ketika sama-sama menjadi penyelenggara turnamen boling ITB. Mereka berasal dari jurusan dan angkatan yang berbeda-beda. Anggota tertua angkatan 1976, sementara yang termuda 2005. Nyaris 3 dekade!

Tentu banyak perbedaan yang mewarnai kebersamaan ini. Jangan tanya interes, apalagi preferensi politik. Saat pilketum IA-ITB ada pendukung Pak Sumaryanto, ada pendukung Mas Amir Sambodo. Begitu pula periode berikutnya ada pendukung Bang Ridwan Djamaluddin maupun Mas Hiramsyah.

Di pilpres ada yang mendukung Jokowi, ada juga yang mendukung Prabowo. Di pilgub DKI, ada pendukung Ahok, ada juga pendukung Anies.

Terbayang kan keseruan pada saat mereka bertemu 😁 Sehingga, sesungguhnya, ada banyak alasan untuk bubar. Namun rasa persaudaraan yang sudah telanjur melekat membuat mereka enggan berpisah. Selalu mereka usahakan untuk berjumpa walau tidak rutin. Apalagi jika ada yang berulangtahun. Kan ada makan-makan 😋

Sayangnya, kebersamaan ini sedikit terganggu akibat pandemi Covid. Pertemuan menjadi semakin jarang. Kalaupun bertemu, disertai kehati-hatian sesuai protokol covid. Tidak lagi salaman apalagi cipika-cipiki 🥰 Selalu pakai masker dan hand sanitizer.

Kendati demikian, mereka percaya bahwa kesusahan ini akan berlalu. This will pass too. Sembari terus menjalani kehidupan di era baru dengan tak lupa bersyukur dibarengi cinta, kerja, dan doa.

Senantiasa ada asa hari yang cerah di balik pelangi.

BEHIND THE SCENE
(tak harus dibaca 😊)

Membuat materi video ala mannequin challenge sih gak susah. Tinggal rekam dengan kamera HP, beres. Yang repot adalah membuat produk yang layak tayang. Artinya, harus ada kerja penyuntingan. Menyambung materi, menambah aksesori, memberi teks, memasang lagu latar, dsb.

Masalahnya, saya sangat awam dengan penyuntingan video alias tidak punya alat bantunya. Maka yang pertamakali saya lakukan adalah mencari aplikasi yang bisa dijalankan di HP (karena malas buka laptop). Sekitar 3 hari yang lalu, saya instal aplikasi ini. Dan kemarin saya jajal melakukan penyuntingan video dan foto selama kurang-lebih 6 jam.

Untuk latar, semula saya pilih lagu legendaris "Somewhere Over The Rainbow/What A Wonderful World" dari Israel "Iz" Kamakawiwo'ole. Lagu yang asyik dan optimis. Tetapi, mengingat situasi saat ini yang bisa dibilang sebagai hidup yang berat, maka saya ganti lagunya dengan "Hard Life" dari Queen yang lebih menggigit.

Ketika sore tiba, saya pun lega ketika video amatir ini pun selesai. Cerita sudah memadai, kompilasi video dan foto beres, lagu pun pas panjangnya. 4 menit. Fiuh!

Kemudian, iseng-iseng saya cek posting Téh Nenden untuk melihat tengggat waktu pengiriman video. Ndilalah, terbaca bahwa yang diminta adalah video dengan durasi 30" sampai 60". Jelas saja saya langsung panik.

Akhirnya terpaksa sunting ulang. Semua video saya pangkas durasinya. Bagian yang kurang penting langsung digunting. Bahkan kecepatan video pun saya naikkan, halmana jadi kurang suai dengan kelaziman dalam mannequin challenge. Beberapa foto terpaksa dibuang. Durasi tampilannya pun diperpendek. Yang cukup merepotkan adalah menyesuaikan gambar (foto, video, serta teks) agar tampil pas dengan kata-kata kunci dalam lagu.

Voila! Akhirnya, jadi juga video berdurasi 2 menit 34 detik (ini angka yang sengaja saya pilih supaya cantik.)

Masih kepanjangan? Biarin dah. Yang penting saya sudah menunaikan permintaan berpartisipasi dalam celeng kali ini. Iya, kan?

Ini dia hasilnya:

Mohon maaf jika lagu latar dihapus di beberapa lokasi pemirsa akibat kebijakan Youtube 🙏

Semoga berkenan.
Tetap sehat semua!

❤️ 🇮🇩 ☮

#MaskStatueChallenge #aigl4IndonesiaSehat

📌 Minggu, 27 September 2020 22:13 🌐

📌 Minggu, 30 Agustus 2020 🌐

Real Man Wears Pink

<i>Real Man Wears Pink</i>

Kaos pink

Warna "pink" yang juga dikenal sebagai "merah jambu" kerap diidentikkan dengan perempuan/feminin, sehingga sebagian orang menganggap janggal jika lelaki menggunakan pakaian dengan warna tersebut.

Sebagai orang yang tidak terlalu peduli dengan mode [maupun komentar orang], saya tidak ambil pusing dengan generalisasi itu. Malah, ketika masih SD, saya pernah minta dibuatkan rompi rajutan berwarna pink pada ibu saya.

Selain warna pink, saya pernah memiliki dan menggunakan kemeja merah marun, biru terang, hijau tosca, kuning, dll tanpa risau. Namun saat ini di lemari pakaian tidak ada baju berwarna pink (belum saya cek container pakaian cadangan). Sehingga, ketika muncul celeng pink di AIGL, tak terpikir oleh saya untuk ikut.

Tahu-tahu, sekitar 2 minggu lalu, ketika mencari kaos yang hendak saya pakai untuk sebuah acara, tersingkaplah sebuah kaos berwarna pink yang saya peroleh ketika membantu kawan-kawan ITB 81 menyelenggarakan Festival II Geopark Belitong tahun 2017 (Om Wahyu Indra Sakti Saidi yang pegang komando lapangan). Terkait promosi, jelas ada logo Kementerian Pariwisata berikut slogan Wonderful Indonesia. (Selain kaos pink, saya dapat juga yang warna ungu dan hijau).

Berhubung saya ada beberapa urusan yang tidak mensyaratkan pakaian tertentu, saya pakailah kaos berwarna pink itu seharian. Ke Pasar Gembrong untuk belanja beberapa barang serta mampir melihat kios-kios pasar seni di situ, ke Bakmi Abun di Kelapa Gading (karena masih kurang pede mau ke Pasar Baru), ke ITC Kuningan membeli beberapa aksesori gawai, ke Mal Ambasador.

O ya, sore hingga agak malam di hari itu, sempat juga saya menambah perbendaharaan nyanyian di Smule dengan kaos pink 🤣

Inilah beberapa foto tepat di hari ulangtahun Pramuka 14 Agustus 2020.

Tepuk Pramuka!
Prok prok prok!
Prok prok prok!
Prok prok prok, prok prok prok prok!

(Teu nyambung pisan urusan pakaian pink dengan Pramuka. Kajeun lah) 🤣

Semoga klaim pink ini tidak menambah keriuhan debat gradasi warna pink, fuchsia, magenta, maupun kawan-kawannya. Iya kan? 😊

Pasar Gembrong

Kios-kios Pasar Seni yang sangat lengang
di Pasar Gembrong

Parkiran sepi di Mal Ambasador

Kios-kios gawai di ITC Kuningan

Bakmi Abun Kelapa Gading

#aiglPink #aiglPinkyChallenge #RealManWearPink

📌 Minggu, 30 Agustus 2020 21:50 🌐

📌 Minggu, 02 Agustus 2020 🌐

Makna Sebuah Logo

Makna Sebuah Logo

Apa sih arti sebuah logo sehingga proses pemilihannya menjadi riak-riak hangat penuh kejenakaan di AIGL?

Pada dasarnya logo adalah sebuah ringkasan identitas. Entah itu negara, organisasi kelas dunia, desa, lembaga pendidikan, ormas, parpol, satuan militer, instansi pemerintah, entitas bisnis, LSM, bahkan restoran, warung makan kecil, hingga pribadi. Semuanya tidak diharamkan punya logo. Dari logo, orang tahu siapa kita.

Pada saat logo digunakan maka atribut individu/tim pun luruh sebagai sebuah citra khusus. Dia/mereka mewakili nilai-nilai dasar entitas yang sedang diwakili.

Hal ini pun berlaku terhadap AIGL yang kini sedang memilih logo.

Maka kita punya pertanyaan fundamental: apakah logo kita mampu mewakili citra dan nilai-nilai AIGL maupun diri kita sebagai warga AIGL?

Jawabannya gampang-gampang susah. Karena sebelum menjawabnya, kita perlu tahu apa itu AIGL. Tepatnya, citra AIGL seperti apa yang kita harapkan orang kenali?

1. AIGL adalah komunitas Alumni ITB

Apakah logo kita mampu memperlihatkan ke-ITB-an kita? Aspek apanya yang bisa merepresentasikan "in harmonia progressio"?

2. Ciri AIGL sesuai namanya adalah Garis Lucu

Sudah mampukah logo kita menampilkan nilai lucu? Mohon diingat bahwa lucu tidak sama dengan konyol, bloon, atau apa pun yang sifatnya menjadi tertawaan. Juga, bukan sebaliknya, arogansi kita menertawakan orang lain.

Apa lagi?

Sejak awal didengung-dengungkan bahwa AIGL adalah forum yang terbuka bagi semua alumni ITB tanpa mempersoalkan atribut-atribut pribadinya. Mau orang mana, jurusan mana, angkatan berapa, kerjanya apa, sepopuler apa, agama, aliran politik, dsb bukanlah parameter untuk menguji kelayakan seseorang menjadi anggota. Syaratnya hanyalah alumni ITB. Titik. Bahkan tingkat kelucuannya pun tidak diukur ... 😊

Dalam idealisasi saya, AIGL adalah sebuah melting pot to connect the dots (anjrit, aing gaya pisan euy iinggrisan 😁). Di sinilah semua orang bertemu dan terhubung. AIGL adalah sebuah medium yang sangat cair namun penuh dinamika yang dilandasi rasa humor.

Nah, di sinilah kita bersua dengan tantangan yang mengasyikkan.

Alumni ITB yang sebagian adalah orang penting di instansinya, sekarang jadi larut dalam canda —bahkan kadang konyol — di AIGL, yang bisa jadi amat jauh dari keangkeran dan wibawa yang wajib ditampilkannya sehari-hari.

Anak ITB yang sehari-harinya serius berkutat dengan perhitungan ketat bertoleransi rendah kini harus mengendurkan syaraf eksaknya hingga mampu menerima celaan dari kawan yang bahkan belum dikenalnya.

Anak ITB yang terbiasa dengan kompetisi sehingga tidak sungkan berbeda pendapat secara keras, kini harus mengelus dada sendiri (jangan elus dada orang lain, apalagi yang berbeda jender) sambil cengengesan bahkan memberikan tanda jempol (like) pada pihak yang mengritiknya.

Citra keras dan superior anak ITB dijungkir-balikkan di AIGL. Di sini bukan siapa kita yang menjadi ukuran melainkan bagaimana kita "bermanusia" dengan orang lain. Anak ITB memasuki perkuliahan baru di AIGL.

Ini gila, kan? Agak mustahil, kan? Tapi faktanya hal ini sudah menjadi kenyataan di AIGL, kan?

Dengan demikian, sudahlah jelas bahwa logo AIGL sangat perlu menampilkan sisi lain yang unik sekaligus luar biasa ini, yakni anak ITB yang mustahil alias di luar persangkaan/stereotip.

Dari perenungan ini akhirnya saya memilih ORIN si gajah oranye yang menari. Kenapa?

Mana ada gajah oranye?!
Mana ada gajah menari?!

Justru itu. Dialah ekspresi paling pas tentang kemustahilan (bahkan kemustahilan berganda) yang menjadi nyata dalam kelucuannya yang harmonis dan selalu dinamis.

Segitu saja.
Sesederhana itu.

Selamat memilih.

VIVA ORIN!
OJO LALI BAHAGIA.

With love,

📌 Minggu, 2 Agustus 2020 21:03 🌐

Babad Dukuh Alit Galu #3

Babad Dukuh Alit Galu #3

Fait Accompli

Babad Tanah Jawi

Setelah para warga bubar tunggang-langgang kembali ke dukuh, Ki Ageng Manik (KAM) tepekur sejenak di halaman. Seperti ada yang mengganggu pikirannya. Dengan menghela napas panjang, KAM berbalik menuju pondoknya dan langsung masuk ke dalam tanpa menghiraukan Raden Mas Tomi yang masih bersila di beranda.

--- Waktu sudah terlalu sempit untuk menuntaskan tulisan, sementara mata sudah mulai berat. Dengan sangat terpaksa ceritanya ditunda hingga batas waktu yang belum ditentukan. Mohon maklum. ---

Episode sebelumnya: Babad Dukuh Alit Galu #2

📌 Minggu, 2 Agustus 2020 22:23 🌐

Babad Dukuh Alit Galu #2

Babad Dukuh Alit Galu #2

— Menyatakan Kemustahilan

Munculnya 3 gajah idola baru di Dukuh Alit Galu tentu saja membuat warga bahagia tak alang kepalang. Praktis, setiap hari mereka mengunjungi ketiga gajah yang masih dalam pengawasan Kebayan baru.

Namun, kegalauan segera merebak tatkala mereka sadar bahwa maskot dukuh hanyalah 1. Artinya, warga harus memilih 1 dari antara 3. Padahal, mereka sudah telanjur sayang pada ketiganya. Akibatnya, mau-tak-mau, terbentuklah 3 kubu di antara warga.

Dalam situasi senang bercampur galau seperti itu, mereka pun kasak-kusuk mencari pedoman. Beberapa diantaranya menemui Dayu Ida Ayu Suci Levi yang tersohor sebagai pakar simbol (seperti Robert Langdon itu lho, simbolog dari Harvard dalam novel-novel Dan Brown).

Di pendoponya yang sejuk dan asri, ditingkah lirih senandung burung, Dayu Levi menjelaskan pandangannya dengan bijak-bestari namun penuh wibawa, sebagaimana dicatat dalam lontar Pitutur Dayu Levi

Hadirin manggut-manggut menyimak. Nyaris tidak bersuara, bahkan tarikan napas pun seperti ditahan. Mungkin tak rela mengganggu suara Dayu Levi yang jernih dan welas asih.

Dengan penuh sukacita mereka kembali ke rumah masing-masing sambil membawa keyakinan atas pilihan terbaiknya.

Sementara itu, beberapa orang lain, secara diam-diam menemui Ki Ageng Manik (KAM) yang tinggal menyepi di lereng bukit. Berdesak-desak mereka duduk di lantai kayu serambi pondok yang kecil.

Tanpa banyak basa-basi, mereka langsung menyampaikan kegundahan hati mereka.

KAM: "Lah, kenapa musti bingung? Kalian pilih saja yang kalian suka. Tidak ada yang salah ataupun benar. Wong ini soal selera dan persepsi. Gitu aja kok repot?"

Warga: "Kami khawatir jika berbeda pilihan dengan para tetua dukuh, apalagi dengan Kebayan, nanti kami dikucilkan. Apa itu istilahnya? Diemut ngadimin ya?" (sambil menoleh ke kiri dan ke kanan mencari dukungan)

Sambil terkekeh, KAM berkata: "Kalian ini aneh-aneh saja. Tetua yang sekarang bukanlah orang-orang gila hormat dan suka ngemut. Kalau tidak belajar dari prahara kemarin, pandir banget lah mereka itu.

Kalian sangsi pada Denmas Fadjar Hari Mardiansjah, Om Badru Salam, Chief Ize Hawkeye, Mbakyu Ratih Christyaningsih, Jeng Riani Perdanasari, Pakde Darmadji Darmaputra, Kak Betty Simarmata? Semprul tenan koen!

Warga: "Kami hanya ingin harmonis dengan para tetua."

KAM (rada ngambek): " Bahlul banget ente! Yang harusnya harmonis ya kalian sesama warga. Para tetua bukanlah majikan kalian. Mereka ada di sana karena dipandang mampu membantu kalian hidup selaras dengan sesama dan lingkungan. Itu saja tugas mereka."

Nyali mereka langsung ciut kena semprot KAM. Pakai kuah pula semprotannya 😅

Seseorang mengacungkan tangan.

Warga (suara agak tegas): "Permisi, Ki Ageng. Nama saya Manalu. Mohon ijin bicara, Ki Ageng."

KAM: "Ijin diberikan. Speak freely."

Warga: "Siap, Ki Ageng! Mohon dimaklumi jika sahaya dianggap ngeyel. Tapi sahaya ingin tahu, ke mana sebenarnya arah pilihan para tetua. Sebagai pengayom dukuh, tentunya mereka lebih waskita dibanding kami yang rakyat biasa. Apalagi sahaya yang terbiasa taat pada perintah atasan."

KAM (mencoba memaklumi): "Hmm.. (sambil mengelus dagu yang tak berjenggot). Coba kamu jelaskan masing-masing gajah keramat itu."

1. LUTU

LUTU karya Jonathan M.

Warga: "Empu Jonathan M adalah yang pertama membawa gajah dari Taman Sriwedari. Gajah itu lucunya ampun-ampunan. Lutuna tu de Maxx. Memang lucu banget, Ki."

KAM: "Centil banget sih kamu! Oke, kita sebut saja namanya si LUTU.
Selanjutnya!"

2. UNO

UNO karya Dody Sagir

Warga: "Empu Dody Sagir mendatangkan gajah imut, lucu, menggemaskan, dan rada jahil. Namanya UNO yang artinya ..."

KAM (langsung nyolot dengan agak sengit): "Sudah tahu! Gak usah ngajari saya! Wong waktu muda dulu saya pernah kencan di tukang es krim Itali kayak Gus Yudhi Azfandiari, jadi tahu bahwa Uno itu artinya satu. Mau sok ngajari ya, kamu?"

Warga (suara agak lembut, tidak setegas sebelumnya): "Selain itu, UNO juga bermakna unofficial, karena gajah dukuh sebelah katanya sudah dikasih stempel official."

KAM: " Wis, ben. Biarkan. Kagak urus kita!
Selanjutnya!"

3. ORIN

ORIN karya Arifdani Nugraha

Warga: "Malamnya, di hari yang sama, Empu Dantje Arifdani Nugraha berhasil menghadirkan gajah warna oranye yang sedang menari balet.."

KAM (memotong dengan suara menggelegar): " What?! Gajah oranye? Menari balet? Serius kamu? Uwedan tenan iki!"

Sontak semua terhenyak karena kaget sambil tak paham maksud KAM.

Warga (sedikit takut-takut): "Kenapa rupanya, Ki?"

Elephants don't do Ballet
Penny McKinlay

KAM: "Dasar wong gemblung! Kalian pernah lihat gajah oranye? Pernah lihat gajah menari balet?"

Warga (masih sedikit keder): "Belum pernah, Ki.."

KAM: "Tahu artinya apa?"

Tidak ada yang berani menyahut.

KAM: "Itu tanda KEMUSTAHILAN! Ngerti koen? Mustahil ada gajah oranye. Mustahil gajah menari balet. Makin dobel mustahilnya. Tetapi pada kenyataannya Empu Dantje berhasil menghadirkannya di Dukuh kita. Paham artinya?"

Warga saling tatap tanpa menjawab.

KAM: "Itulah kamu, kamu, kamu, kamu...! (seru KAM sambil menunjuk jidat satu per satu orang di depannya). Kalian itu adalah contoh par excellent kemustahilan.

Kalian itu rupa-rupa. Ada yang berasal dari kampung antah berantah, ada yang dari metropolitan, ada yang dari keluarga kelas saudagar, perwira, darah biru, ada yang kere, ada yang ngomong saja belepotan dengan logat nenek-moyangnya, dsb, dll, dst. Belum lagi masalah usia yang jomplang. Acak-adut kabeh.

Tapi kalian semua sekarang bisa guyub di Dukuh Alit Galu ini. Saling canda, saling ejek, saling hibur, saling dukung. Rukun.

Banyak yang bilang semua itu mustahil. Dan memang faktanya di dukuh lain hil itu memang mustahal. Baru di dukuh kita kemustahilan itu menjadi kenyataan. Seperti datangnya gajah oranye menari balet itu.

Kita kasih nama si ORIN. Karena itulah aslinya kalian. Original. Tulen. Apa adanya tanpa penyedap buatan. Bukan kaleng-kaleng. Gak pakai topeng."

Warga (masih setengah bingung): "Jadi bagaimana, Ki?"

KAM (berdiri sambil meledak): "Apanya yang gimana? Gemblung kabeh! Tandanya sudah jelas cetho welo-welo! Masih belum paham juga? Ya amplop! Apa harus saya cambuk pantat kalian? Sana, sana, bubar!!!" (sambil berdiri dan mengambil cambuk yang tergantung di tiang beranda)

Warga terbirit-birit berhamburan melarikan diri dari pondok Ki Ageng Manik.

Hanya tinggal satu anak muda yang masih duduk dengan takzim di lantai kayu beranda. Namanya Raden Mas Tomi Highfinger, yang pernah menjadi Pangeran Utama di Kerajaan Mechanix.

catatan lontar terputus sampai di sini

📌 Minggu, 2 Agustus 2020 00:22 🌐

📌 Sabtu, 01 Agustus 2020 🌐

Babad Dukuh Alit Galu #1

Babad Dukuh Alit Galu #1

— Hilangnya Gajah Kami. Lenyap 1 Muncul 3.

Sengkalan: Sirna Dresthi Luhur Ngabekti [1]

Hanya satu malam menjelang peringatan setahun berdirinya Dukuh Alit Galu, warga digemparkan dengan raibnya gajah kesayangan yang selama ini menjadi maskot. Walau tak ada yang sempat memberinya nama, namun semua sudah tahu apa/siapa yang dimaksud jika ada yang menyebut "gajah". Sebenarnya sih ada julukan generik baginya, yakni Logo saja.

Usut punya usut, ternyata Kebayan[2] dukuh punya peranan dalam kehebohan ini. Pada malam naas itu, diam-diam Kebayan membuka kandang Logo dan membawanya ke perdikan kosong yang baru saja dirambah. Di sanalah si Logo ditambatkan dan dikawal para petinggi dukuh yang memutuskan bermigrasi ke tempat baru.

Warga dukuh jadi bertanya-tanya apa maksud dari semua ini. Keguyuban dan sukacita warga sekonyong-konyong berganti dengan kekisruhan dan kemasygulan. Berbagai spekulasi serta perdebatan terjadi antar sesama warga, hingga sempat timbul gesekan horisontal.

[beberapa lembar catatan ini dilewatkan saja karena terkait erat dengan bab sebelumnya yang belum ditulis 😁]

Tanpa maskot, tentu saja warga jadi sedikit bingung. Apalagi menjelang peringatan hari kemerdekaan ke-75 Negeri Nuswantara, ada banyak pertandingan antar dukuh. Terpaksa kaos olahraga, panji-panji, peralatan, dll disablon tanpa gambar maskot. Kosong melompong. Sungguh memprihatinkan.

Namun kebingungan massal ini tak berlangsung lama. Secara tak terduga, beberapa empu budaya yang sekian lama memilih bungkam kini serentak bangkit bagai gelombang tsunami. Konon, demikianlah kodrat yang sudah disuratkan sejak purba, "saat kebuntuan melanda masyarakat, maka para seniman dan filsuf menjadi yang terdepan membuka jalan".

Dengan mengerahkan ajian sakti mandraguna, para empu ini berhasil memanggil datang beberapa gajah pilihan dari Taman Sriwedari nan permai. Warga dukuh menyambut sukacita kehadiran para gajah baru. Ada yang lucu, ada yang jehil, ada yang lincah, ada malu-malu menggoda, ada yang cantik, ada yang gagah, dsb. Semua menggemaskan.

Trio Orin - Lutu - Uno (TOLU)

Para gajah ini langsung dibawa ke padepokan utama, tempat para tetua dukuh bermusyawarah. Di sanalah masing-masing gajah ditelaah secara saksama dari berbagai gatra, termasuk bobot, bibit, dan bebetnya. Primbon warisan leluhur ditelaah hingga ke pernik paling rinci. Ensiklopedi dan berbagai rujukan teknik dibabar di atas meja. Bahkan pakar mekanika teknik pun diundang khusus untuk menjelaskan aplikasi rumusan "statik tak tentu" yang selalu bikin pusing banyak orang.

Perdebatan hangat yang berkelas mengalir deras diiringi tawa renyah para tetua. Analisis keunggulan para gajah dilakukan terhadap kemampuan gajah itu sendiri dalam berkiprah, bukan dengan mengadu gajah satu dengan yang lain. Lah, sudah jelas masing-masing punya kekhasan.

Setelah beberapa hari bermusyawarah, para tetua dukuh mengumandangkan hasilnya ke seantero dukuh, termasuk pada diaspora yang sedang melanglang ke mancanegara. Intinya adalah tentang 3 gajah yang terpilih sebagai kandidat maskot dukuh.

Babad
Kisah/riwayat/sejarah/chronicle.

Dukuh
Desa/dusun.

Alit Galu
Konon nama ini merupakan singkatan dari ALumni ITb GAris LUcu, yakni sebuah komunitas ideal yang sering diceritakan dalam legenda. Bisa jadi mirip dengan masyarakat Atlantis yang dikisahkan oleh Plato.

[1] Kalimat sengkalan
Seperti pepatah/peribahasa dalam bahasa Kawi, namun sesungguhnya merupakan sandi yang berfungsi sebagai petunjuk tahun. Dibaca dari belakang ke depan.

Sirna = 0, hilang
Dresthi = 2, ingkar janji

Luhur = 0, mulia
Ngabekti = 2, bakti.

"Hilangnya keingkaran memuliakan pengabdian."

0202 dimaknai sebagai tahun 2020. (Tapi pakai tahun Masehi ya, bukan Tahun Saka. Segini saja saya sudah pening, jangan dituntut lebih 😌)

[2] Kebayan
penanggungjawab keamanan desa. Setara Kapolres di masa kini, meureun. Tapi, belakangan ini sang Kebayan malah menganalogikan diri sebagai anjing penjaga. Entah kenapa.

📌 Sabtu, 1 Agustus 2020 00:18 🌐

📌 Selasa, 28 Juli 2020 🌐

Pitutur Dayu Levi

Untuk yang belum ikut polling pilih Logo baru Alumni ITB Garis Lucu,
Silakan klik link di comment postingan ini ya....

Saya sudah menentukan pilihan. Tidak mudah memang, karena semua usulan bagus bagus dan semua dibuat oleh teman teman sebangsa dan setanahair FSRD ITB...

Jadi yang dipilih tentunya adalah yang teeeeerbaik dari yang bagus bagus itu... walalupun agak setuju dengan pendapatnya Pujiastuti Sindhu, kenapa nggak kita pake semua aja kan bisa ganti gantian...

Tapi logo adalah identity.. sebaiknya satu, untuk menyatukan semua dalam satu semangat.

Saya memilih hasil karya Arifdani Nugraha, gajah montok, cerdas dan enerjik dengan warna mentereng dan tulisan segede gambreng. Kenapa ? Di bawah ini alasannya.

Sebagai seorang desainer yang sering menjadi konsultan visual di brand development, tentunya urusan merancang dan memilih dan menerapkan logo menjadi makanan saya sehari hari. Dan pilihan saya atas usulan Dantje itu karena :

DINAMIS & FLEKSIBEL

Bukan karena SangGajah sedang menari ballet... tapi logo ini akan sangat bisa tampil dalam berbagai gerak dan posisi.. yang bisa hadir dalam berbagai tata letak untuk beragam kebutuhan. Bayangkan lucunya dia kalo lagi kayang, lagi salto atau sekedar baringan berkhayal tentang Bxxxxx Bxxxx

Walaupun Dantje mengusulkan jingga kemerahan, dan banyak yang setuju untuk oranye aja deh sekalian, tapi gajah jenaka ini pastinya bisa tampil dalam berbagai warna tanpa kehilangan karakter aslinya.

(and I will order it in RAINBOW for sure!!)
(.....ssst bayangkan kalau berwarna biru tua dengan tiga setrip di tangan seperti Txxx Rxxx)

Sebuah logo yang baik, salah satu syaratnya adalah bisa tetap beridentitas dalam kedaan berwarna maupun monokrom, dan karya Dantje ini memenuhi syarat tersebut.

BOLD / TEGAS-LUGAS

Keputusan membuat tulisan AIGL yang berupa handmade dengan ukuran besar, membuat title ini stand out dan speak loud tanpa mengganggu bentuk ikon gajah, malah memberi sebuah penekanan terhadap logo itu sendiri.

Bentuknya yang tebal dan ukuran besar, sederhana namun lugas, sangatlah readable. Nggak perlu memicingkan mata atau zoom in screen untuk melihat apa yang tertulis di sana. Jelas tapi dekoratif dan selaras dengan logo secara keseluruhan.

DETAIL

ITB tentunya identik dengan Gajah dan Ganesha. Dantje memilih untuk mengexplore Ganesha dan dia committed akan keputusannya, maka mengambil resiko untuk menerapkan sebagian besar detail yang ada pada Ganesha. Simbol simbol pada keempat tangannya, gading yang dipatahkan dan celah torehan pada telinga.;

Cukup lengkap untuk sepintas melihat bahwa gajah jenaka ini merepresentasikan Ganesha.

Jadi...
kesimpulannya, walaupun saya memang jatuh cinta pada pandangan pertama untuk Gajah Jingga ini (hadeeehhhh namanya siapa dong baiknya ya).... tapi saya bisa jelaskan alasannya.

Masih ada 2x24 jam untuk memilih atau mengalihkan pilihan agar kita bisa mempunyai logo baru untuk rumah kita bersama.

Bukan begitu, teman teman ?

📌 Sabtu, 18 Juli 2020 🌐

Move On, Pace, Energy

<i>Move On, Pace, Energy</i>

— Tentang Menyintai Diri

Running alone
millionmilelight.com

Bisa saja orang menyebut saya skeptis, bahkan pesimis, jika saya katakan bahwa move on tidaklah semudah mengganti kolor bolong dengan kolor baru kemudian membuangnya ke tempat sampah. Mungkin juga akan ada yang berang jika saya bilang omong kosong. Malah, dengan agak sinis saya katakan bahwa hal itu hanya mudah dilakukan oleh mereka yang tidak sungguh-sungguh merasakan pengalaman tersebut atau tidak serius memperjuangkannya.

Menurut saya, move on juga bukanlah soal melupakan. Melainkan beranjak dari belenggu, entah kemarahan, penyesalan, menyalahkan diri sendiri, kebencian, keterpurukan, putus asa, atau apa pun yang nota bene tidak mengubah apa-apa selain berputar-putar dalam labirin yang sudah kita tahu tak berujung.

Dengan kata lain, move on adalah soal bergerak. Pindah dengan berproses. Benar, kan? Dalam tulisan ini, pendapat ini tentu saja saya anggap benar. Kecuali jika saya mau cekcok dengan diri sendiri siga jelema teu eucreuk 😁

Pertanyaannya, bergerak ke mana sih? Tentu saja ke titik baru. Bisa tingkatan yang lebih tinggi, tahap lebih lanjut, ataupun pijakan awal yang berbeda dari sebelumnya.

Dan kita tiba di sana tentu saja bukan ujug-ujug seperti awak kapal Star Trek berpindah dengan bantuan mesin teleport, melainkan dengan langkah nyata. Satu per satu.

Sampai sini bisa dipahami, kan?

Hanya saja, kemampuan melangkah tiap orang ternyata tidaklah sama. Secara ekstrem, ada yang bisa ngebut, namun ada yang harus beringsut alias ngesot. Analogi dengan Ultramaraton ITB, karena pace setiap pelari berbeda maka waktu yang diperlukan untuk mencapai garis akhir pun akan berbeda. Dan tidak ada yang salah dengan itu.

Kok bisa berbeda?

Ada banyak argumen dan istilah yang bisa kita usung untuk membahas alasannya. Kecerdasan emosi (emotional quotient). Kemampuan adaptasi. Kelembaman/inersia. Resilience. You name it lah. Intinya sih kurang-lebih sami-mawon, yakni penerimaan terhadap kenyataan dan diri.

Bah! Apa pulak ini?

Kalau kita sudah tahu bahwa kenyataannya memang menyakitkan, ya terimalah. Akuilah kenyataan itu. Tidak usah berlagak gagah gak mempan sakit. Tidak ada manusia normal seperti itu. Superman saja bisa terluka dan terkapar kok.

Itu langkah pertama.

Terus, kalau sakit itu sudah diakui, mau bagaimana? Nah, di sinilah berawal rantai proses bergerak alias move on tadi. Ada yang mencoba mencari akar masalah ke luar (eksternal), ada yang ke dalam (internal).

Mana yang lebih bagus? Sama-sama bagus kok jika konteks persoalannya pas. Hanya saja perlu diingat bahwa move on adalah perihal gerak diri kita sendiri yang jelas-jelas berada dalam ruang kendali kita. Jadi, dalam tulisan ini saya akan fokus ke dimensi internal. Urusan eksternal, boleh juga menggunakan berbagai alat bantu root cause analysis.

Penerimaan terhadap diri sendiri merupakan faktor penting setelah menerima kenyataan. Sakit yang sudah kita akui tadi tidak akan sembuh, bahkan hanya akan menjadi borok bernanah, jika kita enggan mengakui bahwa diri kita berharga. Tidak sedikit orang yang menyesali atau menyalahkan dirinya ketika hal menyakitkan terjadi. Atau menganggap dirinya pantas dihukum dengan penderitaan seperti itu. Bagai lingkaran setan, semakin lama orang itu semakin terpuruk dan semakin menderita dalam pusaran yang semakin kelam.

Oke, anggaplah sakit ini sebagai ganjaran atas suatu kesalahan yang kita terlibat di dalamnya. Namun, jika kita menganggap diri kita berharga, maka secara bertanggungjawab kita akan memilih jalan penebusan. Dan sebagaimana lazimnya penebusan yang bisa kita bayangkan, ada proses peluruhan dari unsur pengotor yang membebani langkah. Purifikasi. Purgatory.

Proses peluruhan ini melibatkan energi pelepasan (sedih, ngomel, sindiran, hingga sumpah-serapah) maupun penyerapan (dukungan, penghiburan, kontemplasi) yang tidak kecil. Hamburan debitnya amat besar. Dan, ibarat pembuluh darah, ada yang penyalurannya lancar namun ada juga yang agak tersumbat. Akibatnya, waktu peluruhan pun berbeda. Setiap orang memiliki waktunya sendiri. Inilah pace seseorang dalam move on.

Kalau dipikir-pikir, penerimaan/penghargaan pada diri sendiri ini adalah penyelamat sesungguhnya, penggerak mula yang dahsyat, pembangkit energi abadi, semangat tak kunjung padam. Seperti matahari bagi kehidupan.

Ngantuk euy, padahal masih belum kelar nih. Lanjut nanti ya, kalau sudah bangun dan gak malas melanjutkan tulisan.

Mohon dicatat bahwa ini bukan sebuah janji lho ...

LAGU TEMA:

Mentari (karya Iwan Abdurrahman)

Broer Bram Abraham Pattinama (vokal)
Ito Ujie Pujiastuti Sindhu (flute).

Video ditempelkan tanpa permisi pada kedua artis. Semoga tidak keberatan 🙏

📌 Sabtu, 18 Juli 2020 23:21 🌐

📌 Jumat, 12 Juni 2020 🌐

Barong, Rangda, dan Leyak

Barong, Rangda, dan Leyak

Rangda dan Barong [1]
imgrum.org

Keknya gak sedikit kawan di AIGL yang pernah bersinggungan hidup dengan Bali berikut kesehariannya.

Ada anneke prasyanti dengan kisah seputar pembangunan GWK, Laksmi Palupi dengan kisah behind the scene di pura, Triono Andi Wibowo yang pernah lama di Bali, maupun Ida Ayu Suci Levi yang pastinya dekat sekali dengan napas Bali, atau Anastasia Tisiana yang pernah menari Bali di atas kapal menuju Antartika, bahkan Montes Gultom yang nyaris menceburkan diri di Danau Bratan (untung insyaf bahwa berenang bukanlah salah satu kemahirannya) .. 😊

Dan menurut dugaan saya sih Kang Taruna Adji sang penjelajah maupun Mas Lukas Muliyono sang perambah pasti juga punya cerita asyik tentang Bali.

Bali itu kaya dalam banyak hal. Bukan sekadar beach, sunset, sunrise, pub, apalagi sekadar kuliner dan party. Bahkan keindahan tari maupun karya yang ternikmati kasatmata pun lebih rumit dari yang terlihat. Dalam istilah lain, kaya misteri dan spiritualitas. Sementara spiritualitas itu sendiri seakan merupakan hirupan napas bagi Bali sejak pagi hingga pagi.

Salah satu hal yang sering dikaitkan dengan Bali adalah Barong. Menurut ceritanya, Barong adalah sosok protagonis yang mengalahkan Rangda (Calon Arang) yang digambarkan sebagai perempuan jahat, jelek, ratu para Leyak. Dan Leyak itu sendiri terasosiasi sebagai ikon sisi gelap Bali.

Nah, menariknya, walau dianggap sebagai sosok antagonis, ternyata wajah Rangda ataupun Leyak dengan mata melotot dan lidah terjulur banyak dipakai pada berbagai gambar maupun topeng hiasan/cinderamata. Apakah ada yang luput dari dikotomi biner benar-salah, hitam-putih? Halmana dualitas semacam ini bukan merupakan situasi yang saling meniadakan dalam perspektif spiritualitas. Jangan-jangan malah merupakan syarat keberadaan. Begitukah, Suhu Ombad Badru Salam?

Apakah ini juga merupakan suatu penyingkapan atas misteri yang kian disadari, sehingga belakangan ini muncul versi yang berpihak pada Rangda, yang dipandang sebagai korban dari sistem patriarkhi?

Entahlah.

Rasanya makin seru dan penasaran menyimak tabir di balik tabir. Apa pun yang ada di dimensi terakhirnya.

Mungkin ada kawan-kawan yang bisa serta berkenan berbagi kisah tentang Barong, Rangda, Leyak?

Rangda and Barong
Rautenstrauch-Joest-Museum

📌 Jumat, 12 Juni 2020 21:53 🌐

📌 Minggu, 29 Maret 2020 🌐

AIGL Bernyanyi #1

Bernyanyi #1

— Indonesia Pusaka

Kisah Sang Dwiwarna
indonesiabuzz.com

Howdy!

Sebagai dampak dirumahkannya sebagian warga AIGL, jadi berlimpah pula tampaknya waktu manyunnya. Dan untuk membunuh kemanyunan, sebagian orang pergi menjarah dapur guna mempraktikkan pelajaran dari Institut Tata Boga. Hasil karya mereka pun dipajang penuh bangga di etalase AIGL sehingga bikin air liur menetes tak terkendali.

Sebagian lagi masuk studio rekaman atau membongkar arsip lama mencari video aksi mereka menyanyi maupun main alat musik. Serta-merta wabah bernyanyi dan bermusik melanda AIGL, mengalahkan horor COVID-19. Dahsyat edan ternyata potensi yang bertebaran di AIGL.

Melihat fenomena unik ini (sampai ada yang bertanya, AIGL itu sebenarnya Alumni ITB Garis Lucu atau Garis Lagu sih?), langsung terpikir bahwa AIGL sudah komplet personalnya untuk membangun sebuah full band. Bahkan bukan hanya satu, melainkan bisa dua atau tiga. Lengkap pula dengan barisan penggemar, penjoget, pendemo, bahkan keamanan dan tukang mengedarkan kencleng saweran.

Masalahnya, para personal ini terserak di mana-mana di seantero jagad. Bagaimana caranya latihan bareng? Jam meleknya aja beda. Kapan pula manggungnya? Lah, yang sekota saja kadang sulit mencocokkan jadwal, apalagi beda kota beda benua. Agak mustahil keknya. Lemes deh 😓

Sekonyong-konyong terbersit ide, bagaimana kalau bikin kolaborasi musik secara daring? Mirip Smule tapi bukan. Eh, pas pula ada yang mengirim video orang-orang dari berbagai wilayah di Indonesia berkolaborasi menyanyikan lagu "Rumah Kita".

Ah, ini juga bisa dipraktikkan di AIGL!

Maka, sejak beberapa hari lalu saya kontak-kontak dengan Om Admin Dody M. Barus, Kak Mutiara Lusiana Purba, Kak Dani Diana, dan beberapa kawan lain guna menindaklanjuti ide pembuatan video musik "AIGL Bernyanyi".

Beberapa lagu yang dianggap suai dengan situasi kiwari pun dibedah. Akhirnya, setelah mempertimbangkan berbagai aspek, Indonesia Pusaka terpilih sebagai lagu perdana. Maksudnya, pada kesempatan berikutnya bisa saja memakai lagu lain. Dan siapa saja boleh kasih usul lagu.

+ Kenapa bukan "Rumah Kita" aja sih? Kan pas nih sedang pada dikarantina di rumah..
- Lagunya bagus. Liriknya bagus. Gak ada masalah kok dengan lagu tersebut. Kita hanya mau bikin variasi. Kondisi seperti sekarang kan bisa dilihat dan disikapi dari berbagai sudut pandang.
+ Kenapa gak bikin lagu baru aja yang pastinya pas banget dengan situasi sekarang?
- Wah, bagus banget kalau kita bisa melakukan itu. Apa ada yang bersedia? Atau punya stok lagu?

Semua opsi masih terbuka lebar. Ini kerja keroyokan kok. Siapa saja boleh ambil inisiatif. Nanti kita bisa lanjutkan bareng-bareng setelah langkah pertama kita tunaikan.

Indonesia Pusaka sudah dikenal dan bisa dinyanyikan hampir semua orang. Artinya, banyak yang bisa berpartisipasi. Cocok pula dengan hasrat membangun dan membudayakan semangat kebersamaan, kepedulian, gotong-royong di komunitas AIGL. Intinya, sebanyak mungkin orang terlibat dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Gak perlu repot apalagi kebakaran jenggot.

Terus, bagaimana caranya terlibat?

Hampir tengah malam kemarin saya berkirim pesan melalui WA dan FB Messenger pada Om Aatje Bambang Suryoatmono. Tadi pagi Om Aatje membalas WA saya, menyatakan sangat senang dan semangat berperanserta dalam inisiatif ini.

Tentu saja saya bahagia banget. Masih membayang dalam imajinasi saya tuts hitam-putih menggeliat lincah menggetarkan dawai piano saat Om Aatje mengiringi Ivy Viviani Suhar menyanyikan lagu "Ibu Pertiwi". Padahal, rekaman vokalnya yang duluan ada. Secara pakem, ini mah gak lazim. Makanya si Kabayan pun bertepuk-tangan kagum sambil berseru, "Not a play! Not a play! Bukan main!"

Pesan serupa saya layangkan pada Mas Arifianto Setropawiro via FB Messenger karena saya belum punya nomor WA-nya. Ternyata dicuekin euy sampai pagi. Om Dody bilang kemungkinan besar pesan saya terlewat karena belum berkawan dengannya di FB. Akhirnya saya colek di posting kerennya yang memainkan lagu "Love of My Life".

Eh, bener. Mas Arif langsung nyahut.

Seperti halnya Om Aatje, Mas Arif bilang mau banget cawe-cawe di kerjaan ini. Sayangnya Mas Arif sedang memingit diri di Bogor dan jauh dari piano. Tapi, saking gairah, Mas Arif bilang mau numpang rekaman di toko musik saja. Paling banter nanti kedengaran suara motor lewat, katanya. Natural sih natural, tapi nanti pendengar gagal fokus pula. Apalagi kalau yang lewat adalah geng motor. Noise-nya bisa lebih lama dibanding durasi lagunya. Belum lagi kalau tukang mie tektek unjuk gigi. Ambyar dah..

Tanpa harus dirayu ataupun dipaksa, Om Aatje dan Mas Arif menyatakan bersedia merekam permainan piano mereka pada lagu Indonesia Pusaka. Saya kasih catatan kaki [dengan tulisan yang sangat kecil pula] supaya dibuatkan aransemen yang tidak biasa-biasa saja. Terserah pada kedua pianis kita ini bagaimana menerjemahkan catatan kaki tersebut sebagai improvisasi dan kreativitasnya. Bebas.

Rekaman musik dasar yang kita sebut minus one ini akan dikirimkan kepada para sobat AIGL yang berkenan mengisi vokal menyanyikan lagu ini sambil merekam aksi serta ekspresinya dalam video. Dan sudah barang tentu para warga AIGL Diaspora alias mancanegara sangat dinantikan partisipasinya.

Setelah video terkumpul, tim penyunting akan mencuplik sebagian video dari masing-masing peserta, misalkan 1 baris syair. Begitu seterusnya, sehingga ketika seluruh cuplikan tadi digabungkan maka terbentuklah sebuah lagu utuh. Ibarat estafet bernyanyi, gitu.

Sampai sini ada pertanyaan? Silakan ngacung.

Ada banyak pemusik bagus di AIGL. Dalam bayangan saya, semua bisa berpartisipasi bahkan menginisiasi projek seperti ini, sehingga nantinya AIGL akan punya banyak koleksi. Kita mulai dari 2 materi ini dulu.

Kurang-lebih, demikian pengantar pertama mengenai projek "AIGL Bernyanyi" ini. Hal-hal teknis lainnya akan disampaikan segera setelah lagu dasarnya siap. Om Dody mohon memberikan arahan lanjutan ya..

Kepada para sobat AIGL, dimohon kesabaran sekaligus gelora antusiasmenya dalam kerja keroyokan kali ini. Demi mendukung kita semua tetap optimis walau kondisi saat ini sangat tidak nyaman. Juga membangkitkan optimisme bahwa Indonesia pasti bisa melalui cobaan ini. Tanah air kita tetap jaya. Tanah Pusaka kita bersama.

Permisi dulu. Jiayou!

Sebagai gambaran, lagunya seperti dalam video ini:

#AIGLbernyanyi #AIGLpeduli #Indonesia #lawanCorona ❤️ 🇮🇩

📌 Minggu, 29 Maret 2020 🌐 22:04

📌 Kamis, 12 Maret 2020 🌐

Drama Musikal yang Belum Berjudul

based on several true stories

Saat beberapa anggota kelompok Non-Skills (alumni ITB penggemar berat musik tapi tidak menguasai alat musik, bahkan menyanyi pun kadang fals) bertemu untuk membahas peran serta dalam memeriahkan peringatan 100 Tahun ITB, muncullah ide menegakkan kembali marwah Non-Skills sebagai juara sejati Festival Band ITB Kategori Teatrikal.

Obrol punya obrol sambil menikmati sop kepala ikan dan sop kambing di Blok M Square, dilanjutkan ngopi sore, terumuskanlah plot dasar operet atawa kabaret alias drama musikal (terserah deh apa namanya) yang inti kisahnya akan mendecakkan kesan "anak ITB banget ih!".

Penuh sukacita kami mensyukuri kehadiran FBG AIGL ini karena amat berlimpah fragmen cerita yang bisa dirangkai sebagai bunga-bunga kehidupan 3 tokoh sentral operet ini: Ucok si anak BTL (Batak Tembak Langsung) dari Siborong-borong, Tole si anak Jawa kelahiran nDiwek, dan Euis si geulis Mojang Priangan. Aksi Pak Satpam dan Juru Parkir nanti belakangan saja kita sisipkan.

Skenario masih berkecamuk acak di kepala. Pilihan lagu pun masih belum jelas walau sudah ada sedikit siluet di balik gorden semi transparan. Opsi beberapa pemeran sudah mulai direka-reka, yang bikin kami ngakak sendiri. Dan jalur komunikasi dengan beberapa tokoh perpanggungan ITB pun mulai diaktifkan.

Ini memang baru tahap brainstorm yang masih prematur, yang memerlukan stamina serta konsistensi lebih lanjut untuk merealisasikannya.

Oleh karena itu, mumpung belum telanjur diminta jadi pengisi tetap di Broadway, pada kesempatan ini dengan rendah hati kami memohon pada warga AIGL agar merelakan secara tulus jika kisahnya dicuplik sebagai puzzle cerita. Dan secara serius kami tegaskan tidak ada honor apalagi royalti.

Demikianlah informasi awal ini kami sampaikan guna meminimalkan risiko kehebohan di antara warga AIGL.

Permisi dulu. Ciao. Babay.

📌 Kamis 12 Maret 2020 13:48 🌐