Minggu, 20 Desember 2020

Lady will Surely Comeback Someday

<i>Lady will Surely Comeback Someday</i>

Prolog

Ada banyak impian yang pernah menyembul dalam tahun-tahun perjalanan hidup saya, baik tentang diri maupun dunia. Sangat banyak yang tak terwujud dengan berbagai alasan logis, namun ada juga yang menjadi kenyataan dengan sedikit kegemilangan [walau sebagian dibarengi sentuhan mukjijat].

Memilih salah satu cerita dari sekian impian untuk disampaikan ke forum AIGL nan ceria namun kritis ini ternyata bukanlah hal mudah. Apalagi jika tak ada makna yang bisa dibagi. Itu sebabnya saya mengalami kesulitan mengikuti celeng kali ini.

Namun ada satu hal yang sore tadi sekonyong-konyong menyeruak dalam pikiran ketika Téh Nenden menagih keikutsertaan saya. Entahlah, apa bisa ini dianggap sebuah testimoni. I wish.

15 Juli 2020

Sekonyong-konyong terbetik kabar bahwa seseorang yang sudah lama saya kagumi ternyata telah meninggalkan ruang kebersamaan kami. Serentak ada torehan nestapa dalam dada yang tak kuasa saya tolak. Seperti rumah kehilangan suara kanak-kanak.

Berusaha memendamnya ternyata percuma. Sehingga, tanpa terkendali, jemari yang sudah belasan tahun kelu tak mampu merangkai kata tiba-tiba bergerak menautkan huruf demi huruf menyuarakan rasa yang terus ingkar untuk mengaku.

Agustus 2020 tak jelas tanggal berapa

Suatu sore, saat mengisi waktu dengan bernyanyi di Smule, entah kenapa teringat sebuah lagu tentang harapan kembalinya seseorang dari masa lalu. Tanpa perlu bimbel (istilah kawan-kawan ITBSmuleanS untuk latihan) dan tak perlu retake, jadilah rekaman itu.

Menyadari suara yang sangat pas-pasan di garis batas memprihatinkan serta mengandalkan keberanian menanggung malu semata, tak pernah saya memublikasikan apapun ke luar aplikasi Smule itu sendiri. Termasuk lagu ini.

Namun, demi membuktikan bahwa kisah ini bukanlah sekadar gombal, saya sertakan tautannya di sini: https://www.smule.com/p/2362375036_3681282488

20 Oktober 2020

Dia kembali hadir ke tengah kebersamaan seakan tak pernah ada angin gersang yang meranggaskan dedaunan. Dan sebagaimana galibnya roda musim, kemarau pun berganti dengan kesegaran yang sedemikian melimpah.

Epilog

Masih banyak yang sebenarnya bisa saya ceritakan, hanya saja tenggat waktu tinggal 2 menit.

Demikianlah.

Appendix

Lagu ini aslinya berjudul Julie, yang diciptakan dan dipopulerkan oleh Julio Bernardo Euson pada tahun 1972. Dalam kisah ini, nama Julie diubah menjadi Lady.

Lady, oh Lady
Life is not the same anymore
There's not a thing that we're living for
Now that you've gone away

Lady, Lady
Why couldn't you have stay
I remember the days
That we spent together
Happiness knowing no bound
At the time we have pledged
It would last forever
From this cloud that was just no way down

But it seems that it all had to end
And I'm left here alone, not a friend
No one to cheer me and no one to say
Lady will surely come back, some day

No one.. to cheer me .. and no one.. to say…
Lady will surely come back… some…day

Lady, darling Lady
How come you're not thinking of me
How come you don't care to recall how it was
I wish for that it always will be

Lady, Lady
Why don't you come back to me
I remember the days
That we spent together
Happiness knowing no bound
At the time we have pledged
It would last forever
From this cloud that was just no way down

But it seems that it all had to end
And I'm left here alone, not a friend
No one to cheer me and no one to say
Lady will surely come back, some day

Yes it seems that it all had to end
And I'm left here alone, not a friend
No one to cheer me and no one to say
Lady will surely come back, some day

Lady is coming back to me, some day
Lady, I say, Lady
You have better come to me at home
'Cause I want you
Oh yeah, I want Lady ....

#aiglMyWishStory

📌 Minggu, 20 Desember 2020 03:00 🌐

Selasa, 10 November 2020

Dari Balik Tirai AIGL Bernyanyi II #4

Dari Balik Tirai AIGL Bernyanyi II #4

Tak terasa waktu berlari teramat cepat. Tepat seminggu lalu saya tuliskan progres mengolah file audio serta video yang jumlahnya lebih dari 100 (menurut Kang Pendy ada 128 video). Tahu-tahu sekarang sudah tanggal 10 November 2020, hari yang direncanakan untuk peluncuran karya kolosal AIGL.

Ternyata tidaklah mudah merangkai berbagai material yang pada dasarnya sudah bagus menjadi sebuah kolase besar yang tetap, bahkan tambah, bagus. Sangat terasa beratnya beban menyajikan racikan yang dapat memuaskan ekspektasi semua pihak.

Ada saja hal lucu sekaligus menggemaskan ketika dua unsur utama (rekaman audio dan rekaman video) digabungkan. Sinkronisasinya tak semudah yang dibayangkan. Ada yang gambarnya bagus tetapi gerak bibir tidak pas dengan lagu. Ada juga yang suara dan gambarnya sudah bagus, tetapi posisinya di video kurang pas. Jungkir-baliklah para chef di dapur video mengatur semuanya agar optimal.

Usai melakukan sinkronisasi, mulailah tahap penataan letak maupun cara tampilnya. Berbagai fitur yang ada di perangkat penyuntingan pun dijajal. Beberapa ide bergulir dalam upaya mempercantik visual.

Keterbatasan interaksi akibat pandemi terasa sebagai tantangan tersendiri. Komunikasi tentunya tidak selancar pertemuan tatap muka yang umumnya dibarengi melihat hasil pekerjaan seraya melakukan evaluasi serta memberi masukan.

Hingga kemarin malam, tim produksi masih intens berdiskusi melalui Zoom. 𝑆𝑐𝑒𝑛𝑒 demi 𝑠𝑐𝑒𝑛𝑒 dibahas satu per satu secara rinci hingga beberapa belas lembar.

Beruntung kedua chef dapur video sangat bisa diandalkan kemampuannya, sehingga dalam tempo singkat (eh dari jam 21 hingga pagi tuh termasuk singkat atau lama sih?) hasil diskusi pun terwujud dalam format yang disepakati. Haturnuhun, Kang Pendy dan Kang Danne Dhirgahayu. You are the best.

Dan sekitar 22 menit selewat jam 12 siang tadi, kami disuguhi perkembangan terbaru untuk preview. Setelah ditonton dan disimak sejak detik 0 hingga akhir sambil menahan napas, akhirnya kami bisa menghembuskan 3/4 beban yang selama ini menggantung (kebayang kan gedoran ratusan orang yang sangat penasaran menantikan kemunculan video kolaborasi ini 😓).

Secara keseluruhan, masakan sudah jadi. Bentuknya sudah sangat jelas, kenikmatannya pun sudah terasa. Tinggal diberi sentuhan akhir yang mempercantik tampilan saat disajikan di pinggan.

Pekerjaan yang dilaksanakan kurang dari 1 bulan ini nyaris merupakan kemustahilan (untung saja belum sempat menjadi mimpi buruk) mengingat demikian banyak pihak yang dilibatkan sebagai artis, yang [nyaris] semuanya amatir. Bahkan ada yang mengakui bahwa ini adalah pertamakalinya dia menyanyi di luar kamar mandi. Pakai direkam video pula! Ada juga yang baru kembali menyanyi sejak SMP. 🤣

Perlu menjadi catatan bahwa semua ini dilakukan secara 𝘱𝘳𝘰-𝘣𝘰𝘯𝘰 alias tak berbayar. Dan ada sebagian yang mengupayakan di antara tugas utama kehidupan. Namun tugas yang diemban diupayakan terlaksana sebaik mungkin.

Maka, sungguhlah beruntung AIGL memiliki warga yang berkenan berbagi dedikasi dalam tenggat waktu yang sangat ketat ini. Mulai dari penggagas dan pembuat/penata musik/vokal, manager yang katempuhan menangani segala urusan, pembuat puisi, penyanyi, narator, pemusik, penari, hingga orang-orang di belakang laptop yang menjadi benteng terakhir. Semua menakjubkan. Thank you, all 💕

Kiranya kerja kita bersama ini dapat segera kita nikmati dengan sukacita (dan semoga juga dengan bangga 🙏) ketika kita membuktikan mampu menembus hal-hal yang selama ini kita anggap tak mungkin kita lakukan.

Together, each achieve more.

Salam dari dapur,

📌 Selasa, 10 November 2020 22:06 🌐

Kamis, 05 November 2020

Dari Balik Tirai AIGL Bernyanyi II #3

Dari Balik Tirai AIGL Bernyanyi II #3

Usai mengumpulkan rekaman audio dan video hingga beberapa saat menjelang tenggat waktu (anak ITB keknya senang banget memacu adrenalin dengan mepet-mepet), para pendukung projek besar AIGL Bernyanyi #2 pun bisa menarik napas lega. Berbagai kehebohan serta keluh-kesah lucu yang terjadi di lokasi masing-masing pun usai sudah.

Begitu pun kami yang mengemban tugas mengelola kerja besar ini dapat sedikit melonggarkan himpitan yang cukup menegangkan. Bayangkan saja hiruk-pikuk komunikasi 100 penyanyi, 11 pemusik, 7 penari, dan 4 narator/deklamator yang menyumbangkan suara, permainan musik, ataupun gerak dalam bentuk rekaman audio dan video dari lokasi masing-masing. Ada saja hal-hal menggemaskan yang harus diorkestrasi secara cantik dan sabar oleh 8 orang tim kreatif. Dan semua ini dilangsungkan dalam durasi sekitar 1 bulan saja.

Kini semua menantikan hasil racikan dari para chef dapur audio, yakni Kang Dudy Duy, dan duo maut dapur video, yaitu Kang Pendy Mulyadi dan Kang Danne Dhirgahayu. Dan secara anggun, masuk pula bumbu racikan Dayu Ida Ayu Suci Levi untuk menambah keindahan topping sajian.

Berbagai colekan via FBG AIGL maupun japri tak henti-hentinya menyampaikan rasa penasaran tentang hasil akhir. "Mana, mana, mana... Pingin lihat."

Jangankan para peserta, kami sendiri pun tak kurang penasarannya. Namun, dapur audio maupun dapur video ternyata menerapkan sistem kehati-hatian yang sangat ketat. Kami hanya boleh mengintip sedikit saja dari balik tirai jendela dengan pesan yang sangat jelas untuk tidak membocorkan progres yang memerlukan kecermatan dan kesabaran tingkat tinggi ini.

Gedoran rasa penasaran semakin membahana. Waktu menuju peluncuran pun semakin dekat, tak sampai seminggu lagi. Dapur video semakin mengintensifkan jadwal kerja. Kedua chef khusyuk dalam tirakat. Dan kami hanya bisa menanti-nanti di halaman.

Mungkin karena tidak tega menyaksikan kami berhujan-panas menanti di halaman, akhirnya pagi tadi Kang Pendy berbaik hati memberikan selembar kolase foto yang diambil dari potongan ratusan video yang tengah diolah. Dengan pesan, "Beri kami kesempatan memberi sajian terbaik dari bahan baku yang sudah keren. Please..."

Beginilah kurang-lebih penampilan kece para peserta. Semoga dapat melunturkan sedikit rasa penasaran sekaligus mendukung semangat kedua empu yang tengah berjibaku di depan laptop.

* Diiringi salam mesra dari tim di halaman dapur,

🇮🇩❤️🙏

📌 Kamis, 5 November 2020 22:09 🌐

Selasa, 03 November 2020

Dari Balik Tirai AIGL Bernyanyi II #2

Dari Balik Tirai AIGL Bernyanyi II #2

3 menit menjelang pukul 24 kemarin (2 November 2020), HP saya berbunyi menandakan masuknya pesan di WAG. Tidak semua WAG saya aktifkan notifikasinya, melainkan hanya yang perlu saya ikuti secara intens. Kalau ada bunyi, berarti ini pesan penting.

Rupanya ada kiriman file suara di WAG "dapur" AIGL Bernyanyi #2. Kang Dudy Duy pengirimnya.

Seketika pikiran saya menggeliat penuh gairah. Pasti ada progres signifikan. Karena memang demikianlah gaya Kang Dudy selama kami berkomunikasi sebulan belakangan ini. Hampir tidak pernah Kang Dudy menyampaikan kesulitan atau hambatan, bahkan mengabarkan kondisinya yang sedang kurang sehat pun tidak. Tahu-tahu mengirim hasil kerjanya mengolah audio yang selalu membuat kami berdecak kagum dan senang.

Singkat saja pesannya bahwa semua rekaman suara sudah dimasukkan. Ibarat memasak, bumbu sudah diramu dan diaduk dengan bahan makanan dalam panci penggorengan panas. Tinggal beberapa bumbu yang menunggu giliran dibubuhkan menjelang matang.

Dengan khidmat saya menyimak hasilnya. Suara 3 deklamator, 100 penyanyi, 1 orator, serta 13 pemusik berpadu kompak dalam sebuah komposisi yang anggun sekaligus gagah. Instrumen musik modern melantun lincah dan indah ditingkah nada etnis yang nanti akan menjadi pengiring 7 penari tradisional.

"WOW!". Demikian kesan saya sehabis mencerna tuntas hasilnya.

Sebagai seorang non-skill di bidang musik, tidak pernah saya bayangkan projek "lucu-lucuan" ala AIGL ternyata bisa sampai sejauh ini perjalanannya. Secara pribadi saya takjub dan bangga menemukan sinergi positif luarbiasa dari para AIGLorins membangun karya bersama.

Tak sabar ingin segera membagikan karya ini kepada kawan-kawan AIGL bahkan publik. Tetapi kerja belum selesai. Kita masih setengah jalan. Masih ada proses meramu kompilasi audio ini dengan lebih dari 100 video para pendukung projek ini. Sebuah pekerjaan besar. Dan tentu saja mendebarkan.

Tapi saya yakin kerja besar ini akan selesai pada waktunya. Wong proses pengumpulan rekaman suara dan video dalam waktu relatif singkat pun mampu dipenuhi secara baik oleh semua peserta (tentu saja dengan berbagai kerepotannya yang saat itu membuat stres namun menggelikan saat kini dikisahkan).

Seminggu ini Kang Pendy Mulyadi dan Kang Danne Dhirgahayu akan berjibaku di depan laptop. Mohon doa dan dukungan agar semua dapat berjalan lancar 🙏

Layar sudah dikembangkan. Pantang surut ke belakang.

Besok-besok kita sambung lagi ya. Sudah hampir jam 4. Saya mau tidur dulu. Pastinya sambil mendengarkan rekaman AIGL Bernyanyi #2 yang keren ini 😊

Gambar disalin dari:
www.krjogja.com

📌 Selasa 3 November 2020 22:02 🌐

Kamis, 22 Oktober 2020

Dari Balik Tirai AIGL Bernyanyi II #1

Dari Balik Tirai AIGL Bernyanyi II #1

Yihaaaaa!!!

Sungguh seru ternyata perkembangan projek #AIGLBernyanyi2. Riuh sangat perbincangan di WAG yang campur-baur antara antusias, bingung, gaptek, penasaran, serius, bahkan canda-canda. Eh termasuk serbuk-serbukan juga sedikit..

Interaksi yang intens namun akrab terjalin antara sesama peserta maupun dengan Mamak Lindes Dumaria Gultom selaku Manager handal yang tidak ada duanya dalam soal kesabaran dan kerajinan, sungguhlah membuat tenang saya yang sebenarnya nyaris nol besar dalam soal musik dan nyanyi. Toh selama ini juga lebih sering bermodalkan nekad dan semangat serta sedikit provokasi 😁

Waktu yang tergolong singkat tidaklah membuat ciut nyali kawan-kawan. Anak ITB, gitu lho. AIGL pulak! Deadline mepet mah sudah biasa.

Sekitar 50% dari 107 peserta WAG (ada juga sih beberapa yang pakai 2 nomor) sudah menyetor rekaman suaranya. Bahkan ada yang sudah menuntaskan PR-nya dengan menyerahkan video sekaligus. Secara umum, hasilnya menggembirakan. Kami yang menjadi tukang masak di dapur jadi semakin optimis bisa memenuhi target penayangan di Hari Pahlawan 10 November 2020.

Hari ini adalah batas waktu pengiriman rekaman audio. Semoga sebelum tengah malam nanti seluruh suara keren para AIGLians (atau bagusnya kita sebut AIGLOrins ya?) sudah terhimpun sehingga Kang Dudy Duy bisa langsung tancap gas menjahitnya menjadi sebuah paduan suara yang dahsyat membahana dan patut dikenang hingga 100 tahun mendatang (contek slogan Om Rouli Sijabat).

Dan setelah itu, Kang Pendy Mulyadi serta Kang Danne Dhirgahayu berjibaku menata mosaik video para Tétéh, Akang, Uni, Uda, Kakak, Abang, Mbak, Mas, Bude, Pakde, dll yang sudah berupaya keras menampilkan wajah paling manis namun penuh gairahnya.

Sungguh tak sabar rasanya menanti..

Keep the spirit high! We love you all.

👍🙏💕

📌 Kamis, 22 Oktober 2020 22:08 🌐

Minggu, 30 Agustus 2020

Real Man Wears Pink

<i>Real Man Wears Pink</i>
Kaos pink

Kaos pink

Warna "pink" yang juga dikenal sebagai "merah jambu" kerap diidentikkan dengan perempuan/feminin, sehingga sebagian orang menganggap janggal jika lelaki menggunakan pakaian dengan warna tersebut.

Sebagai orang yang tidak terlalu peduli dengan mode [maupun komentar orang], saya tidak ambil pusing dengan generalisasi itu. Malah, ketika masih SD, saya pernah minta dibuatkan rompi rajutan berwarna pink pada ibu saya.

Selain warna pink, saya pernah memiliki dan menggunakan kemeja merah marun, biru terang, hijau tosca, kuning, dll tanpa risau. Namun saat ini di lemari pakaian tidak ada baju berwarna pink (belum saya cek container pakaian cadangan). Sehingga, ketika muncul celeng pink di AIGL, tak terpikir oleh saya untuk ikut.

Tahu-tahu, sekitar 2 minggu lalu, ketika mencari kaos yang hendak saya pakai untuk sebuah acara, tersingkaplah sebuah kaos berwarna pink yang saya peroleh ketika membantu kawan-kawan ITB 81 menyelenggarakan Festival II Geopark Belitong tahun 2017 (Om Wahyu Indra Sakti Saidi yang pegang komando lapangan). Terkait promosi, jelas ada logo Kementerian Pariwisata berikut slogan Wonderful Indonesia. (Selain kaos pink, saya dapat juga yang warna ungu dan hijau).

Berhubung saya ada beberapa urusan yang tidak mensyaratkan pakaian tertentu, saya pakailah kaos berwarna pink itu seharian. Ke Pasar Gembrong untuk belanja beberapa barang serta mampir melihat kios-kios pasar seni di situ, ke Bakmi Abun di Kelapa Gading (karena masih kurang pede mau ke Pasar Baru), ke ITC Kuningan membeli beberapa aksesori gawai, ke Mal Ambasador.

O ya, sore hingga agak malam di hari itu, sempat juga saya menambah perbendaharaan nyanyian di Smule dengan kaos pink 🤣

Inilah beberapa foto tepat di hari ulangtahun Pramuka 14 Agustus 2020.

Tepuk Pramuka!
Prok prok prok!
Prok prok prok!
Prok prok prok, prok prok prok prok!

(Teu nyambung pisan urusan pakaian pink dengan Pramuka. Kajeun lah) 🤣

Semoga klaim pink ini tidak menambah keriuhan debat gradasi warna pink, fuchsia, magenta, maupun kawan-kawannya. Iya kan? 😊

Pasar Gembrong

Pasar Gembrong

Pasar Gembrong

Kios-kios Pasar Seni yang sangat lengang
di Pasar Gembrong

Mal Ambasador

Parkiran sepi di Mal Ambasador

ITC Kuningan

Kios-kios gawai di ITC Kuningan

Kelapa Gading

Bakmi Abun Kelapa Gading

#aiglPink #aiglPinkyChallenge #RealManWearPink

📌 Minggu, 30 Agustus 2020 21:50 🌐

Minggu, 02 Agustus 2020

Babad Dukuh Alit Galu #3

Babad Dukuh Alit Galu #3

Fait Accompli

Babad Tanah Jawi

Babad Tanah Jawi

Setelah para warga bubar tunggang-langgang kembali ke dukuh, Ki Ageng Manik (KAM) tepekur sejenak di halaman. Seperti ada yang mengganggu pikirannya. Dengan menghela napas panjang, KAM berbalik menuju pondoknya dan langsung masuk ke dalam tanpa menghiraukan Raden Mas Tomi yang masih bersila di beranda.

--- Waktu sudah terlalu sempit untuk menuntaskan tulisan, sementara mata sudah mulai berat. Dengan sangat terpaksa ceritanya ditunda hingga batas waktu yang belum ditentukan. Mohon maklum. ---

📌 Minggu, 2 Agustus 2020 22:23 🌐

Babad Dukuh Alit Galu #2

Babad Dukuh Alit Galu #2

— Menyatakan Kemustahilan

Munculnya 3 gajah idola di Dukuh Alit Galu tentu saja membuat warga bahagia tak kepalang. Praktis, setiap hari mereka mengunjungi ketiga gajah yang masih dalam pengawasan Kebayan baru.

Namun, kegalauan segera merebak tatkala mereka sadar bahwa maskot dukuh hanyalah 1. Artinya, warga harus memilih 1 dari antara 3. Padahal, mereka sudah telanjur sayang pada ketiganya. Akibatnya, mau-tak-mau, terbentuklah 3 kubu di antara warga.

Dalam situasi senang bercampur galau seperti itu, mereka pun kasak-kusuk mencari pedoman. Beberapa diantaranya menemui Dayu Ida Ayu Suci Levi yang tersohor sebagai pakar simbol (seperti Robert Langdon itu lho, simbolog dari Harvard dalam novel-novel Dan Brown).

Di pendoponya yang sejuk dan asri, ditingkah lirih senandung burung, Dayu Levi menjelaskan pandangannya dengan bijak-bestari namun penuh wibawa, sebagaimana dicatat dalam lontar Pitutur Dayu Levi

Hadirin manggut-manggut menyimak. Nyaris tidak bersuara, bahkan tarikan napas pun seperti ditahan. Mungkin tak rela mengganggu suara Dayu Levi yang jernih dan welas asih.

Dengan penuh sukacita mereka kembali ke rumah masing-masing sambil membawa keyakinan atas pilihan terbaiknya.

Sementara itu, beberapa orang lain, secara diam-diam menemui Ki Ageng Manik (KAM) yang tinggal menyepi di lereng bukit. Berdesak-desak mereka duduk di lantai kayu serambi pondok yang kecil.

Tanpa banyak basa-basi, mereka langsung menyampaikan kegundahan hati mereka.

KAM: "Lah, kenapa musti bingung? Kalian pilih saja yang kalian suka. Tidak ada yang salah ataupun benar. Wong ini soal selera dan persepsi. Gitu aja kok repot?"

Warga: "Kami khawatir jika berbeda pilihan dengan para tetua dukuh, apalagi dengan Kebayan, nanti kami dikucilkan. Apa itu istilahnya? Diemut ngadimin ya?" (sambil menoleh ke kiri dan ke kanan mencari dukungan)

Sambil terkekeh, KAM berkata: "Kalian ini aneh-aneh saja. Tetua yang sekarang bukanlah orang-orang gila hormat dan suka ngemut. Kalau tidak belajar dari prahara kemarin, pandir banget lah mereka itu.

Kalian sangsi pada Denmas Fadjar Hari Mardiansjah, Om Badru Salam, Chief Ize Hawkeye, Mbakyu Ratih Christyaningsih, Jeng Riani Perdanasari, Pakde Darmadji Darmaputra, Kak Betty Simarmata? Semprul tenan koen!

Warga: "Kami hanya ingin harmonis dengan para tetua."

KAM (rada ngambek): "Bahlul banget ente! Yang harusnya harmonis ya kalian sesama warga. Para tetua bukanlah majikan kalian. Mereka ada di sana karena dipandang mampu membantu kalian hidup selaras dengan sesama dan lingkungan. Itu saja tugas mereka."

Nyali mereka langsung ciut kena semprot KAM. Pakai kuah pula semprotannya 😅

Seseorang mengacungkan tangan.

Warga (suara agak tegas): "Permisi, Ki Ageng. Nama saya Manalu. Mohon ijin bicara, Ki Ageng."

KAM: "Ijin diberikan. Speak freely."

Warga: "Siap, Ki Ageng! Mohon dimaklumi jika sahaya dianggap ngeyel. Tapi sahaya ingin tahu, ke mana sebenarnya arah pilihan para tetua. Sebagai pengayom dukuh, tentunya mereka lebih waskita dibanding kami yang rakyat biasa. Apalagi sahaya yang terbiasa taat pada perintah atasan."

KAM (mencoba memaklumi): "Hmm.. (sambil mengelus dagu yang tak berjenggot). Coba kamu jelaskan masing-masing gajah keramat itu."

1. LUTU

LUTU karya Jonathan M.

Warga: "Empu Jonathan M adalah yang pertama membawa gajah dari Taman Sriwedari. Gajah itu lucunya ampun-ampunan. Lutuna tu de Maxx. Memang lucu banget, Ki."

KAM: "Centil banget sih kamu! Oke, kita sebut saja namanya si LUTU.
Selanjutnya!"

2. UNO

UNO karya Dody Sagir

Warga: "Empu Dody Sagir mendatangkan gajah imut, lucu, menggemaskan, dan rada jahil. Namanya UNO yang artinya ..."

KAM (langsung nyolot dengan agak sengit): "Sudah tahu! Gak usah ngajari saya! Wong waktu muda dulu saya pernah kencan di tukang es krim Itali kayak Gus Yudhi Azfandiari, jadi tahu bahwa Uno itu artinya satu. Mau sok ngajari ya, kamu?"

Warga (suara agak lembut, tidak setegas sebelumnya): "Selain itu, UNO juga bermakna unofficial, karena gajah dukuh sebelah katanya sudah dikasih stempel official."

KAM: "Wis, ben. Biarkan. Kagak urus kita!
Selanjutnya!"

3. ORIN

ORIN karya Arifdani Nugraha

Warga: "Malamnya, di hari yang sama, Empu Dantje Arifdani Nugraha berhasil menghadirkan gajah warna oranye yang sedang menari balet.."

KAM (memotong dengan suara menggelegar): "What?! Gajah oranye? Menari balet? Serius kamu? Uwedan tenan iki!"

Sontak semua terhenyak karena kaget sambil tak paham maksud KAM.

Warga (sedikit takut-takut): "Kenapa rupanya, Ki?"

KAM: "Dasar wong gemblung! Kalian pernah lihat gajah oranye? Pernah lihat gajah menari balet?"

Warga (masih sedikit keder): "Belum pernah, Ki.."

KAM: "Tahu artinya apa?"

Tidak ada yang berani menyahut.

Elephants don't do Ballet

Elephants don't do Ballet
Penny McKinlay

KAM: "Itu tanda KEMUSTAHILAN! Ngerti koen? Mustahil ada gajah oranye. Mustahil gajah menari balet. Makin dobel mustahilnya. Tetapi pada kenyataannya Empu Dantje berhasil menghadirkannya di Dukuh kita. Paham artinya?"

Warga saling tatap tanpa menjawab.

KAM: "Itulah kamu, kamu, kamu, kamu...! (seru KAM sambil menunjuk jidat satu per satu orang di depannya). Kalian itu adalah contoh par excellent kemustahilan.

Kalian itu rupa-rupa. Ada yang berasal dari kampung antah berantah, ada yang dari metropolitan, ada yang dari keluarga kelas saudagar, perwira, darah biru, ada yang kere, ada yang ngomong saja belepotan dengan logat nenek-moyangnya, dsb, dll, dst. Belum lagi masalah usia yang jomplang. Acak-adut kabeh.

Tapi kalian semua sekarang bisa guyub di Dukuh Alit Galu ini. Saling canda, saling ejek, saling hibur, saling dukung. Rukun.

Banyak yang bilang semua itu mustahil. Dan memang faktanya di dukuh lain hil itu memang mustahal. Baru di dukuh kita kemustahilan itu menjadi kenyataan. Seperti datangnya gajah oranye menari balet itu.

Kita kasih nama si ORIN. Karena itulah aslinya kalian. Original. Tulen. Apa adanya tanpa penyedap buatan. Bukan kaleng-kaleng. Gak pakai topeng."

Warga (masih setengah bingung): "Jadi bagaimana, Ki?"

KAM (berdiri sambil meledak): "Apanya yang gimana? Gemblung kabeh! Tandanya sudah jelas cetho welo-welo! Masih belum paham juga? Ya amplop! Apa harus saya cambuk pantat kalian? Sana, sana, bubar!!!" (sambil berdiri dan mengambil cambuk yang tergantung di tiang beranda)

Warga terbirit-birit berhamburan melarikan diri dari pondok Ki Ageng Manik.

Hanya tinggal satu anak muda yang masih duduk dengan takzim di lantai kayu beranda. Namanya Raden Mas Tomi Highfinger, yang pernah menjadi Pangeran Utama di Kerajaan Mechanix.

catatan lontar terputus sampai di sini

📌 Minggu, 2 Agustus 2020 00:22 🌐

Sabtu, 01 Agustus 2020

Babad Dukuh Alit Galu #1

Babad Dukuh Alit Galu #1

— Hilangnya Gajah Kami. Lenyap 1 Muncul 3.

Sengkalan: Sirna Dresthi Luhur Ngabekti [1]

Dancing elephant

Dancing elephant

Hanya satu malam menjelang peringatan setahun berdirinya Dukuh Alit Galu, warga digemparkan dengan raibnya gajah kesayangan yang selama ini menjadi maskot. Walau tak ada yang sempat memberinya nama, namun semua sudah tahu apa/siapa yang dimaksud jika ada yang menyebut "gajah". Sebenarnya sih ada julukan generik baginya, yakni Logo.

Usut punya usut, ternyata Kebayan[2] dukuh punya peranan dalam kehebohan ini. Pada malam naas itu, diam-diam Kebayan membuka kandang Logo dan membawanya ke perdikan kosong yang baru saja dirambah. Di sanalah si Logo ditambatkan dan dikawal para petinggi dukuh yang memutuskan bermigrasi ke tempat baru.

Warga dukuh jadi bertanya-tanya apa maksud dari semua ini. Keguyuban dan sukacita warga sekonyong-konyong berganti dengan kekisruhan dan kemasygulan. Berbagai spekulasi serta perdebatan terjadi antar sesama warga, hingga sempat timbul gesekan horisontal.

[beberapa lembar catatan ini dilewatkan saja karena terkait erat dengan bab sebelumnya yang belum ditulis 😁]

Tanpa maskot, tentu saja warga jadi sedikit bingung. Apalagi menjelang peringatan hari kemerdekaan ke-75 Negeri Nuswantara, ada banyak pertandingan antar dukuh. Terpaksa kaos olahraga, panji-panji, peralatan, dll disablon tanpa gambar maskot. Kosong melompong. Sungguh memprihatinkan.

Namun kebingungan massal ini tak berlangsung lama. Secara tak terduga, beberapa empu budaya yang sekian lama memilih bungkam kini serentak bangkit bagai gelombang tsunami. Konon, demikianlah kodrat yang sudah disuratkan sejak purba, "saat kebuntuan melanda masyarakat, maka para seniman dan filsuf menjadi yang terdepan membuka jalan".

Dengan mengerahkan ajian sakti mandraguna, para empu ini berhasil memanggil datang beberapa gajah pilihan dari Taman Sriwedari nan permai. Warga dukuh menyambut sukacita kehadiran para gajah baru. Ada yang lucu, ada yang jehil, ada yang lincah, ada malu-malu menggoda, ada yang cantik, ada yang gagah, dsb. Semua menggemaskan.

Trio Orin - Lutu - Uno (TOLU)

Trio Orin - Lutu - Uno (TOLU)

Para gajah ini langsung dibawa ke padepokan utama, tempat para tetua dukuh bermusyawarah. Di sanalah masing-masing gajah ditelaah secara saksama dari berbagai gatra, termasuk bobot, bibit, dan bebetnya. Primbon warisan leluhur ditelaah hingga ke pernik paling rinci. Ensiklopedi dan berbagai rujukan teknik dibabar di atas meja. Bahkan pakar mekanika teknik pun diundang khusus untuk menjelaskan aplikasi rumusan "statik tak tentu" yang selalu bikin pusing banyak orang.

Perdebatan hangat yang berkelas mengalir deras diiringi tawa renyah para tetua. Analisis keunggulan para gajah dilakukan terhadap kemampuan gajah itu sendiri dalam berkiprah, bukan dengan mengadu gajah satu dengan yang lain. Lah, sudah jelas masing-masing punya kekhasan.

Setelah beberapa hari bermusyawarah, para tetua dukuh mengumandangkan hasilnya ke seantero dukuh, termasuk pada diaspora yang sedang melanglang ke mancanegara. Intinya adalah tentang 3 gajah yang terpilih sebagai kandidat maskot dukuh.

Babad
Kisah/riwayat/sejarah/chronicle.

Dukuh
Desa/dusun.

Alit Galu
Konon nama ini merupakan singkatan dari ALumni ITb GAris LUcu, yakni sebuah komunitas ideal yang sering diceritakan dalam legenda. Bisa jadi mirip dengan masyarakat Atlantis yang dikisahkan oleh Plato.

[1] Kalimat sengkalan
Seperti pepatah/peribahasa dalam bahasa Kawi, namun sesungguhnya merupakan sandi yang berfungsi sebagai petunjuk tahun. Dibaca dari belakang ke depan.

Sirna = 0, hilang
Dresthi = 2, ingkar janji

Luhur = 0, mulia
Ngabekti = 2, bakti.

"Hilangnya keingkaran memuliakan pengabdian."

0202 dimaknai sebagai tahun 2020. (Tapi pakai tahun Masehi ya, bukan Tahun Saka. Segini saja saya sudah pening, jangan dituntut lebih 😌)

[2] Kebayan
penanggungjawab keamanan desa. Setara Kapolres di masa kini, meureun. Tapi, belakangan ini sang Kebayan malah menganalogikan diri sebagai anjing penjaga. Entah kenapa.

📌 Sabtu, 1 Agustus 2020 00:18 🌐

Jumat, 12 Juni 2020

Barong, Rangda, dan Leyak

Barong, Rangda, dan Leyak

Rangda dan Barong [1]
imgrum.org

Keknya gak sedikit kawan di AIGL yang pernah bersinggungan hidup dengan Bali berikut kesehariannya.

Ada anneke prasyanti dengan kisah seputar pembangunan GWK, Laksmi Palupi dengan kisah behind the scene di pura, Triono Andi Wibowo yang pernah lama di Bali, maupun Ida Ayu Suci Levi yang pastinya dekat sekali dengan napas Bali, atau Anastasia Tisiana yang pernah menari Bali di atas kapal menuju Antartika, bahkan Montes Gultom yang nyaris menceburkan diri di Danau Bratan (untung insyaf bahwa berenang bukanlah salah satu kemahirannya) .. 😊

Dan menurut dugaan saya sih Kang Taruna Adji sang penjelajah maupun Mas Lukas Muliyono sang perambah pasti juga punya cerita asyik tentang Bali.

Bali itu kaya dalam banyak hal. Bukan sekadar beach, sunset, sunrise, pub, apalagi sekadar kuliner dan party. Bahkan keindahan tari maupun karya yang ternikmati kasatmata pun lebih rumit dari yang terlihat. Dalam istilah lain, kaya misteri dan spiritualitas. Sementara spiritualitas itu sendiri seakan merupakan hirupan napas bagi Bali sejak pagi hingga pagi.

Salah satu hal yang sering dikaitkan dengan Bali adalah Barong. Menurut ceritanya, Barong adalah sosok protagonis yang mengalahkan Rangda (Calon Arang) yang digambarkan sebagai perempuan jahat, jelek, ratu para Leyak. Dan Leyak itu sendiri terasosiasi sebagai ikon sisi gelap Bali.

Nah, menariknya, walau dianggap sebagai sosok antagonis, ternyata wajah Rangda ataupun Leyak dengan mata melotot dan lidah terjulur banyak dipakai pada berbagai gambar maupun topeng hiasan/cinderamata. Apakah ada yang luput dari dikotomi biner benar-salah, hitam-putih? Halmana dualitas semacam ini bukan merupakan situasi yang saling meniadakan dalam perspektif spiritualitas. Jangan-jangan malah merupakan syarat keberadaan. Begitukah, Suhu Ombad Badru Salam?

Apakah ini juga merupakan suatu penyingkapan atas misteri yang kian disadari, sehingga belakangan ini muncul versi yang berpihak pada Rangda, yang dipandang sebagai korban dari sistem patriarkhi?

Entahlah.

Rasanya makin seru dan penasaran menyimak tabir di balik tabir. Apapun yang ada di dimensi terakhirnya.

Mungkin ada kawan-kawan yang bisa serta berkenan berbagi kisah tentang Barong, Rangda, Leyak?

Rangda and Barong
Rautenstrauch-Joest-Museum

📌 Jumat, 12 Juni 2020 21:53 🌐