catatan-catatan kecil di sini tidak lebih dari percik pemikiran yang sempat tertuang ke dalam bentuk tulisan. kalaupun isinya tidak tertata baik ataupun tidak berkenan pada anda, demikianlah adanya kenyataan diri saya pada saat itu. setidak-tidaknya, ini semua adalah sebagian ungkapan kejujuran yang saya ingin berbagi dengan anda.
Ada banyak impian yang pernah menyembul dalam tahun-tahun perjalanan hidup
saya, baik tentang diri maupun dunia. Sangat banyak yang tak terwujud
dengan berbagai alasan logis, namun ada juga yang menjadi kenyataan dengan
sedikit kegemilangan [walau sebagian dibarengi sentuhan mukjizat].
Memilih salah satu cerita dari sekian impian untuk disampaikan ke forum
AIGL nan ceria namun kritis ini ternyata bukanlah hal mudah. Apalagi jika
tak ada makna yang bisa dibagi. Itu sebabnya saya mengalami kesulitan
mengikuti celeng kali ini.
Namun ada satu hal yang sore tadi sekonyong-konyong menyeruak dalam
pikiran ketika Téh Nenden menagih keikutsertaan saya. Entahlah, apa bisa
ini dianggap sebuah testimoni. I wish.
15 Juli 2020
Sekonyong-konyong terbetik kabar bahwa seseorang yang sudah lama saya
kagumi ternyata telah meninggalkan ruang kebersamaan kami. Serentak ada
torehan nestapa dalam dada yang tak kuasa saya tolak. Seperti rumah
kehilangan suara kanak-kanak.
Berusaha memendamnya ternyata percuma. Sehingga, tanpa terkendali, jemari
yang sudah belasan tahun kelu tak mampu merangkai kata tiba-tiba bergerak
menautkan huruf demi huruf menyuarakan rasa yang terus ingkar untuk
mengaku.
Agustus 2020 tak jelas tanggal berapa
Suatu sore, saat mengisi waktu dengan bernyanyi di Smule, entah kenapa
teringat sebuah lagu tentang harapan kembalinya seseorang dari masa lalu.
Tanpa perlu bimbel (istilah kawan-kawan ITBSmuleanS untuk latihan) dan tak
perlu retake, jadilah rekaman itu.
Menyadari suara yang sangat pas-pasan di garis batas memprihatinkan serta
mengandalkan keberanian menanggung malu semata, tak pernah saya
memublikasikan apa pun ke luar aplikasi Smule itu sendiri. Termasuk lagu
ini.
20 Oktober 2020
Dia kembali hadir ke tengah kebersamaan seakan tak pernah ada angin
gersang yang meranggaskan dedaunan. Dan sebagaimana galibnya roda musim,
kemarau pun berganti dengan kesegaran yang sedemikian melimpah.
Epilog
Masih banyak yang sebenarnya bisa saya ceritakan, hanya saja tenggat waktu
tinggal 2 menit.
Demikianlah.
Appendix
Lagu ini aslinya berjudul Julie, yang diciptakan dan dipopulerkan oleh
Julio Bernardo Euson pada tahun 1972. Dalam kisah ini, nama Julie diubah
menjadi Lady.
Lady, oh Lady
Life is not the same anymore
There's not a thing that we're living for
Now that you've gone away
Lady, Lady
Why couldn't you have stay
I remember the days
That we spent together
Happiness knowing no bound
At the time we have pledged
It would last forever
From this cloud that was just no way down
But it seems that it all had to end
And I'm left here alone, not a friend
No one to cheer me and no one to say
Lady will surely come back, some day
No one.. to cheer me .. and no one.. to say…
Lady will surely come back… some…day
Lady, darling Lady
How come you're not thinking of me
How come you don't care to recall how it was
I wish for that it always will be
Lady, Lady
Why don't you come back to me
I remember the days
That we spent together
Happiness knowing no bound
At the time we have pledged
It would last forever
From this cloud that was just no way down
But it seems that it all had to end
And I'm left here alone, not a friend
No one to cheer me and no one to say
Lady will surely come back, some day
Yes it seems that it all had to end
And I'm left here alone, not a friend
No one to cheer me and no one to say
Lady will surely come back, some day
Lady is coming back to me, some day
Lady, I say, Lady
You have better come to me at home
'Cause I want you
Oh yeah, I want Lady ....
Usai projek video "Kebyar Bagi Negeri" yang tayang tanggal 10 November
lalu, saya langsung berhadapan dengan tantangan membuat video Smule lagu
dari grup band Rolling Stones. Entah kenapa pula panitia menyantumkan nama
saya di urutan pertama dengan catatan "mesti ikut" 😜
Walau bukan penggemar berat Rolling Stones, ada beberapa pilihan lagu yang
saya kenal dan sebenarnya sudah saya incar. Tapi, sebagaimana yang
sudah-sudah, saya selalu lambat [dan kadang dibumbui lupa] menentukan
pilihan 🙈
Sekian lagu diambil dan sudah ditayangkan videonya oleh kawan-kawan yang
sebagian katanya tidak akrab dengan Rolling Stones. Dan hasilnya, menurut
saya, sungguh menakjubkan. Bahkan para penyanyi perempuan berhasil
menampilkan sisi universal lagu-lagu tersebut tanpa harus jatuh dalam
dikotomi maskulin vs feminin. What a wonderful!
Melihat perkembangan hingga hari terakhir, akhirnya saya memilih lagu yang
fakir peminat: Love In Vain. Pikir saya, harusnya sih gak susah,
wong hanya mengulang bait lagu yang sama nadanya sebanyak 3 kali. Selain
itu, saya luput dibandingkan dengan kawan lain yang lebih ahli
menyanyikannya 😁
Lagu yang 17 tahun lagi akan berusia seabad ini adalah karya Robert
Johnson. Lagu yang semula kental warna blues, menjadi sedikit lebih
melodius dengan sentuhan "slide guitar" ala musik country yang dimainkan
Mick Taylor ketika Rolling Stones merilisnya dalam album "Let It Bleed"
(1969).
Sebagaimana umumnya lagu blues, maka penyanyi dan pemusik memiliki
kelenturan berimprovisasi. Dan saya pun terbawa oleh atmosfer ini sehingga
pada bait kedua dan ketiga saya abaikan gaya menyanyi yang dicontohkan
oleh Mick Jagger. Sabodo teuing lah, yang penting
mah, enjoy ...
Dan inilah hasil rekaman Smule yang saya mulai sekitar pukul 19 WIB
kemarin dan sempat nyangkut hingga 17 jam, halmana membuat saya
ketar-ketir mengingat batas terakhir penyetoran adalah jam 22 malam ini.
Syukurlah, siang tadi, hasil kolaborasi mandiri di Smule ini berhasil
menembus penghalang.
Jangan tanya kenapa template video yang dipilih adalah yang ini. Sekenanya
saja, karena saya belum familiar dengan Smule gaya baru. Tapi kalau ada
yang penasaran mengapa saya sampai join hingga 7 kali hanya untuk
memperoleh hasil sesederhana ini, satu saat akan saya ceritakan rincian
kengenesannya 😊
Semoga lagu ini dapat menghibur walau mungkin tak sesuai harapan para
pecinta musik, khususnya penggemar Rolling Stones.
Di tahun ini Republik Indonesia berusia 75 tahun. Pada tahun ini pula
pendidikan tinggi teknik di Indonesia berusia 100 tahun yang ditandai
dengan berdirinya Technische Hoogeschool te Bandoeng yang di kemudian hari
menjadi Institut Teknologi Bandung (ITB).
Dalam rangka merayakan kedua hari besar ini, lebih dari 100 alumni ITB
yang tergabung dalam komunitas Alumni ITB Garis Lucu (AIGL)
mempersembahkan sebuah kolaborasi seni yang melibatkan pemusik, penyanyi,
penari, deklamator, seniman gambar.
Bertepatan dengan Hari Pahlawan 10 November 2020, video ini pun kami
persembahkan bagi segenap anak bangsa yang mendarmabaktikan hidup serta
karyanya bagi kelangsungan dan kemajuan negeri. Baik yang berjuang di
pertempuran, pendidikan, ekonomi, pangan, dll bahkan para tenaga kesehatan
yang saat ini berada di garda terdepan melawan pandemi covid-19.
Tak terasa waktu berlari teramat cepat. Tepat seminggu lalu saya tuliskan
progres mengolah file audio serta video yang jumlahnya lebih dari 100
(menurut Kang Pendy ada 128 video). Tahu-tahu sekarang sudah tanggal 10
November 2020, hari yang direncanakan untuk peluncuran karya kolosal AIGL.
Ternyata tidaklah mudah merangkai berbagai material yang pada dasarnya
sudah bagus menjadi sebuah kolase besar yang tetap, bahkan tambah, bagus.
Sangat terasa beratnya beban menyajikan racikan yang dapat memuaskan
ekspektasi semua pihak.
Ada saja hal lucu sekaligus menggemaskan ketika dua unsur utama (rekaman
audio dan rekaman video) digabungkan. Sinkronisasinya tak semudah yang
dibayangkan. Ada yang gambarnya bagus tetapi gerak bibir tidak pas dengan
lagu. Ada juga yang suara dan gambarnya sudah bagus, tetapi posisinya di
video kurang pas. Jungkir-baliklah para chef di dapur video
mengatur semuanya agar optimal.
Usai melakukan sinkronisasi, mulailah tahap penataan letak maupun cara
tampilnya. Berbagai fitur yang ada di perangkat penyuntingan pun dijajal.
Beberapa ide bergulir dalam upaya mempercantik visual.
Keterbatasan interaksi akibat pandemi terasa sebagai tantangan tersendiri.
Komunikasi tentunya tidak selancar pertemuan tatap muka yang umumnya
dibarengi melihat hasil pekerjaan seraya melakukan evaluasi serta memberi
masukan.
Hingga kemarin malam, tim produksi masih intens berdiskusi melalui Zoom.
Scene demi scene dibahas satu per satu secara rinci hingga
beberapa belas lembar.
Beruntung kedua chef dapur video sangat bisa diandalkan
kemampuannya, sehingga dalam tempo singkat (eh dari jam 21 hingga pagi tuh
termasuk singkat atau lama sih?) hasil diskusi pun terwujud dalam format
yang disepakati. Haturnuhun, Kang Pendy dan Kang Danne Dhirgahayu.
You are the best.
Dan sekitar 22 menit selewat jam 12 siang tadi, kami disuguhi perkembangan
terbaru untuk preview. Setelah ditonton dan disimak sejak detik 0
hingga akhir sambil menahan napas, akhirnya kami bisa menghembuskan 3/4
beban yang selama ini menggantung (kebayang kan gedoran ratusan orang yang
sangat penasaran menantikan kemunculan video kolaborasi ini 😓).
Secara keseluruhan, masakan sudah jadi. Bentuknya sudah sangat jelas,
kenikmatannya pun sudah terasa. Tinggal diberi sentuhan akhir yang
mempercantik tampilan saat disajikan di pinggan.
Pekerjaan yang dilaksanakan kurang dari 1 bulan ini nyaris merupakan
kemustahilan (untung saja belum sempat menjadi mimpi buruk) mengingat
demikian banyak pihak yang dilibatkan sebagai artis, yang [nyaris]
semuanya amatir. Bahkan ada yang mengakui bahwa ini adalah pertamakalinya
dia menyanyi di luar kamar mandi. Pakai direkam video pula! Ada juga yang
baru kembali menyanyi sejak SMP. 🤣
Perlu menjadi catatan bahwa semua ini dilakukan secara
pro-bono alias tak berbayar. Dan ada sebagian yang mengupayakan di
antara tugas utama kehidupan. Namun tugas yang diemban diupayakan
terlaksana sebaik mungkin.
Maka, sungguhlah beruntung AIGL memiliki warga yang berkenan berbagi
dedikasi dalam tenggat waktu yang sangat ketat ini. Mulai dari penggagas
dan pembuat/penata musik/vokal, manager yang katempuhan menangani
segala urusan, pembuat puisi, penyanyi, narator, pemusik, penari, hingga
orang-orang di belakang laptop yang menjadi benteng terakhir. Semua
menakjubkan. Thank you, all 💕
Kiranya kerja kita bersama ini dapat segera kita nikmati dengan sukacita
(dan semoga juga dengan bangga 🙏) ketika kita membuktikan mampu menembus
hal-hal yang selama ini kita anggap tak mungkin kita lakukan.
Usai mengumpulkan rekaman audio dan video hingga beberapa saat menjelang
tenggat waktu (anak ITB keknya senang banget memacu adrenalin dengan
mepet-mepet), para pendukung projek besar AIGL Bernyanyi #2 pun bisa
menarik napas lega. Berbagai kehebohan serta keluh-kesah lucu yang terjadi
di lokasi masing-masing pun usai sudah.
Begitu pun kami yang mengemban tugas mengelola kerja besar ini dapat
sedikit melonggarkan himpitan yang cukup menegangkan. Bayangkan saja
hiruk-pikuk komunikasi
100 penyanyi, 11 pemusik, 7 penari, dan 4 narator/deklamator yang
menyumbangkan suara, permainan musik, ataupun gerak dalam bentuk rekaman
audio dan video dari lokasi masing-masing. Ada saja hal-hal menggemaskan
yang harus diorkestrasi secara cantik dan sabar oleh 8 orang tim kreatif.
Dan semua ini dilangsungkan dalam durasi sekitar 1 bulan saja.
Kini semua menantikan hasil racikan dari para chef dapur audio,
yakni Kang Dudy Duy, dan duo maut dapur video, yaitu Kang Pendy Mulyadi
dan Kang Danne Dhirgahayu. Dan secara anggun, masuk pula bumbu racikan
Dayu Ida Ayu Suci Levi untuk menambah keindahan topping sajian.
Berbagai colekan via FBG AIGL maupun japri tak henti-hentinya menyampaikan
rasa penasaran tentang hasil akhir. "Mana, mana, mana ... Pingin lihat."
Jangankan para peserta, kami sendiri pun tak kurang penasarannya. Namun,
dapur audio maupun dapur video ternyata menerapkan sistem kehati-hatian
yang sangat ketat. Kami hanya boleh mengintip sedikit saja dari balik
tirai jendela dengan pesan yang sangat jelas untuk tidak membocorkan
progres yang memerlukan kecermatan dan kesabaran tingkat tinggi ini.
Gedoran rasa penasaran semakin membahana. Waktu menuju peluncuran pun
semakin dekat, tak sampai seminggu lagi. Dapur video semakin
mengintensifkan jadwal kerja. Kedua chef khusyuk dalam tirakat. Dan
kami hanya bisa menanti-nanti di halaman.
Mungkin karena tidak tega menyaksikan kami berhujan-panas menanti di
halaman, akhirnya pagi tadi Kang Pendy berbaik hati memberikan selembar
kolase foto yang diambil dari potongan ratusan video yang tengah diolah.
Dengan pesan, "Beri kami kesempatan memberi sajian terbaik dari bahan baku
yang sudah keren. Please ..."
Beginilah kurang-lebih penampilan kece para peserta. Semoga dapat
melunturkan sedikit rasa penasaran sekaligus mendukung semangat kedua empu
yang tengah berjibaku di depan laptop.
3 menit menjelang pukul 24 kemarin (2 November 2020), HP saya berbunyi
menandakan masuknya pesan di WAG. Tidak semua WAG saya aktifkan
notifikasinya, melainkan hanya yang perlu saya ikuti secara intens. Kalau
ada bunyi, berarti ini pesan penting.
Rupanya ada kiriman file suara di WAG "dapur" AIGL Bernyanyi #2. Kang Dudy
Duy pengirimnya.
Seketika pikiran saya menggeliat penuh gairah. Pasti ada progres
signifikan. Karena memang demikianlah gaya Kang Dudy selama kami
berkomunikasi sebulan belakangan ini. Hampir tidak pernah Kang Dudy
menyampaikan kesulitan atau hambatan, bahkan mengabarkan kondisinya yang
sedang kurang sehat pun tidak. Tahu-tahu mengirim hasil kerjanya mengolah
audio yang selalu membuat kami berdecak kagum dan senang.
Singkat saja pesannya bahwa semua rekaman suara sudah dimasukkan. Ibarat
memasak, bumbu sudah diramu dan diaduk dengan bahan makanan dalam panci
penggorengan panas. Tinggal beberapa bumbu yang menunggu giliran
dibubuhkan menjelang matang.
Dengan khidmat saya menyimak hasilnya. Suara 3 deklamator, 100 penyanyi, 1
orator, serta 13 pemusik berpadu kompak dalam sebuah komposisi yang anggun
sekaligus gagah. Instrumen musik modern melantun lincah dan indah
ditingkah nada etnis yang nanti akan menjadi pengiring 7 penari
tradisional.
"WOW!". Demikian kesan saya sehabis mencerna tuntas hasilnya.
Sebagai seorang non-skill di bidang musik, tidak pernah saya bayangkan
projek "lucu-lucuan" ala AIGL ternyata bisa sampai sejauh ini
perjalanannya. Secara pribadi saya takjub dan bangga menemukan sinergi
positif luar biasa dari para AIGLorins membangun karya bersama.
Tak sabar ingin segera membagikan karya ini kepada kawan-kawan AIGL bahkan
publik. Tetapi kerja belum selesai. Kita masih setengah jalan. Masih ada
proses meramu kompilasi audio ini dengan lebih dari 100 video para
pendukung projek ini. Sebuah pekerjaan besar. Dan tentu saja mendebarkan.
Tapi saya yakin kerja besar ini akan selesai pada waktunya. Wong proses
pengumpulan rekaman suara dan video dalam waktu relatif singkat pun mampu
dipenuhi secara baik oleh semua peserta (tentu saja dengan berbagai
kerepotannya yang saat itu membuat stres namun menggelikan saat kini
dikisahkan).
Seminggu ini Kang Pendy Mulyadi dan Kang Danne Dhirgahayu akan berjibaku
di depan laptop. Mohon doa dan dukungan agar semua dapat berjalan lancar
🙏
Layar sudah dikembangkan. Pantang surut ke belakang.
Besok-besok kita sambung lagi ya. Sudah hampir jam 4. Saya mau tidur dulu.
Pastinya sambil mendengarkan rekaman AIGL Bernyanyi #2 yang keren ini 😊
Sekitar 30 menit menuju tenggat waktu berakhirnya celeng
#aiglsoulmatestorychallenge, saya masih kesulitan memutuskan kisah yang
mau diangkat. Lha, saya sendiri tidak tahu persis definisi
soulmate yang paling suai dengan forum garis lucu ini.
Apakah soulmate itu harus pasangan? Kawan dekat seiring-sejalan
dalam jatuh dan bangun? Selalu kompak? Pasti bahagia? Hingga seumur hidup?
Pertanyaan yang sulit dijawab namun sekaligus akan melahirkan bertimbun
jawaban yang kian membingungkan.
Lalu, apa namanya kisah antara seorang lelaki dengan seorang perempuan
yang ternyata lebih memilih pria lain yang nota bene adalah sahabat
sang lelaki? Dan kemudian lelaki tak terpilih itu menjadi kawan bicara
pasangan tersebut bahkan hingga belasan tahun setelah keduanya menikah ...
Ataukah soulmate adalah sebentuk pemuliaan bagi tindakan bodoh
penuh derita atas nama cinta? Entahlah ...
Saat ini saya hanya bisa mengirimkan puisi lawas yang tentu saja tak punya
intensi sebagai jawaban atas pertanyaan abadi tersebut.
Sayap yang Terkoyak
: love is a many-splendoured thing
Sekiranya pun tiada lagi rasa cinta itu kini dalam hatimu,
aku berharap
setidaknya kau masih bisa memandangku
sebagai seorang sahabat
yang bahunya selalu kausandari
saat kaututurkan kisah-kisah jinggamu,
yang lengannya kerap memelukmu erat
tatkala merekatkan kembali duniamu berkeping-keping,
yang telinganya senantiasa bersabar
menyimak nada sendumu tentang hari berhujan,
yang hatinya menjadi cawan
menyimpan tetes demi tetes airmatamu,
dan yang mulutnya tidak henti mengaku
betapa akan berbedanya dia tanpamu.
Dulu pernah kau bertanya:
"Bagaimana kauputuskan
aku sebagai kekasih,
yang akan menjadi ibu dari anak-anakmu,
sedangkan kau belum lagi mengenalku?"
Aku tidak bisa merekayasa jawaban
yang dapat membuat hatimu menggelepar,
sehingga aku hanya bisa berkata lirih:
"Telah kuputuskan
akan kugunakan setiap saat dalam sisa hidupku
untuk mengenalmu".
Dan saat itu engkau terkesima.
Mestinya aku punya lebih dari satu alasan
untuk berhenti mempertimbangkanmu
sebagai belahan jiwa,
pasangan berbagi cerita,
karena telah sedemikian dalam jurang yang kaugali
antara bahasaku dan bahasamu
yang mustahil kuseberangi
dengan sayap yang terkoyak,
karena telah sedemikian tinggi bukit yang kautimbun,
lara di atas luka,
yang tak mungkin kudaki
tanpa uluran jemari belas kasihmu,
karena telah sedemikian jauh jalan yang kautempuh
yang membuatku tak lagi bisa jernih membedakan
antara khilaf dan pengkhianatan.
Walau kesesakan kerap berkelebat
bahwa aku telah gagal mengenalmu,
aku tidak mungkin berbalik.
Walau demikian letih kuseret langkahku
beringsut menggapai bayang-bayangmu yang kian samar,
aku tidak mungkin berhenti.
Karena telah lama kutanggalkan semua mimpi dan kecewa
sejak kusampaikan ikrar di altar
dalam sakramen sekali untuk selamanya.
Mungkin tak seharusnya aku bertanya lagi
tentang cincin yang kusam dan retak,
karena telah kupahami kini
bahwa cinta tak pernah gagal ... untuk memberi.
Sampai maut memisahkan kita.
Beth, 3 Oktober 2005 04:50
Puisi yang diilhami judul sebuah novel, "A Many-splendoured Thing",
karya Han Suyin alias Elisabeth Comber (nama gadis: Elizabeth Kuanghu
Chow/Zhou Guanghu) ini sesungguhnya merupakan sebuah permintaan dari
seorang kawan diskusi di internet yang "kebetulan" memiliki nama
panggilan Suyin. Dan saya perlu waktu tepat 5 bulan untuk membuatnya
karena tidak punya gagasan tentang apa yang ingin saya tuliskan 😞
Di bawah ini adalah lirik lagu yang menjadi lagu tema film berjudul sama
yang kisahnya diangkat dari novel tersebut.
** Love Is A Many-Splendored Thing **
(Music: Sammy Fain, Lyrics: Paul F. Webster, 1955)
I walked along the streets of Hong Kong town,
up and down, up and down.
I met a little girl in Hong Kong town
And I said can you tell me please,
Where's that love I've never found.
Unravel me this riddle.
What is love, what can it be.
And in her eyes were butterflies
As she replied to me,
Love is a many-splendored thing.
It's the April rose that only grows
In the early spring.
Love is nature's way of giving
A reason to be living--
The golden crown that makes a man a king.
Once on a high and windy hill
In the morning mist two lovers kissed
And the world stood still.
Then your fingers touched my silent heart
And taught it how to sing!
Yes, true love's a many-splendored thing.
Sungguh seru ternyata perkembangan projek #AIGLBernyanyi2. Riuh
sangat perbincangan di WAG yang campur-baur antara antusias, bingung,
gaptek, penasaran, serius, bahkan canda-canda. Eh termasuk serbuk-serbukan
juga sedikit..
Interaksi yang intens namun akrab terjalin antara sesama peserta maupun
dengan Mamak Lindes Dumaria Gultom selaku Manager handal yang tidak ada
duanya dalam soal kesabaran dan kerajinan, sungguhlah membuat tenang saya
yang sebenarnya nyaris nol besar dalam soal musik dan nyanyi. Toh selama
ini juga lebih sering bermodalkan nekad dan semangat serta sedikit
provokasi 😁
Waktu yang tergolong singkat tidaklah membuat ciut nyali kawan-kawan. Anak
ITB, gitu lho. AIGL pulak! Deadline mepet mah sudah biasa.
Sekitar 50% dari 107 peserta WAG (ada juga sih beberapa yang pakai 2
nomor) sudah menyetor rekaman suaranya. Bahkan ada yang sudah menuntaskan
PR-nya dengan menyerahkan video sekaligus. Secara umum, hasilnya
menggembirakan. Kami yang menjadi tukang masak di dapur jadi semakin
optimis bisa memenuhi target penayangan di Hari Pahlawan 10 November 2020.
Hari ini adalah batas waktu pengiriman rekaman audio. Semoga sebelum
tengah malam nanti seluruh suara keren para AIGLians (atau bagusnya
kita sebut AIGLOrins ya?) sudah terhimpun sehingga Kang Dudy Duy
bisa langsung tancap gas menjahitnya menjadi sebuah paduan suara yang
dahsyat membahana dan patut dikenang hingga 100 tahun mendatang (contek
slogan Om Rouli Sijabat).
Dan setelah itu, Kang Pendy Mulyadi serta Kang Danne Dhirgahayu berjibaku
menata mosaik video para Tétéh, Akang, Uni, Uda, Kakak, Abang, Mbak, Mas,
Bude, Pakde, dll yang sudah berupaya keras menampilkan wajah paling manis
namun penuh gairahnya.
Awalnya sih tak terpikir mau ikutan #MaskStatueChallenge yang digelar
dalam rangka #aigl4IndonesiaSehat. Tapi Mak Celeng Nenden Agustina
beberapa kali mencolek sampai saya kegelian dan terketuk berpartisipasi.
Video ini boleh dianggap sebagai kaleidoskop kecil sekelompok orang yang
dipersatukan sejak tahun 2012 ketika sama-sama menjadi penyelenggara
turnamen boling ITB. Mereka berasal dari jurusan dan angkatan yang
berbeda-beda. Anggota tertua angkatan 1976, sementara yang termuda 2005.
Nyaris 3 dekade!
Tentu banyak perbedaan yang mewarnai kebersamaan ini. Jangan tanya
interes, apalagi preferensi politik. Saat pilketum IA-ITB ada pendukung
Pak Sumaryanto, ada pendukung Mas Amir Sambodo. Begitu pula periode
berikutnya ada pendukung Bang Ridwan Djamaluddin maupun Mas Hiramsyah.
Di pilpres ada yang mendukung Jokowi, ada juga yang mendukung Prabowo. Di
pilgub DKI, ada pendukung Ahok, ada juga pendukung Anies.
Terbayang kan keseruan pada saat mereka bertemu 😁 Sehingga, sesungguhnya,
ada banyak alasan untuk bubar. Namun rasa persaudaraan yang sudah telanjur
melekat membuat mereka enggan berpisah. Selalu mereka usahakan untuk
berjumpa walau tidak rutin. Apalagi jika ada yang berulangtahun. Kan ada
makan-makan 😋
Sayangnya, kebersamaan ini sedikit terganggu akibat pandemi Covid.
Pertemuan menjadi semakin jarang. Kalaupun bertemu, disertai kehati-hatian
sesuai protokol covid. Tidak lagi salaman apalagi cipika-cipiki 🥰 Selalu
pakai masker dan hand sanitizer.
Kendati demikian, mereka percaya bahwa kesusahan ini akan berlalu.
This will pass too. Sembari terus menjalani kehidupan di era baru
dengan tak lupa bersyukur dibarengi cinta, kerja, dan doa.
Senantiasa ada asa hari yang cerah di balik pelangi.
BEHIND THE SCENE
(tak harus dibaca 😊)
Membuat materi video ala mannequin challenge sih gak susah.
Tinggal rekam dengan kamera HP, beres. Yang repot adalah membuat produk
yang layak tayang. Artinya, harus ada kerja penyuntingan. Menyambung
materi, menambah aksesori, memberi teks, memasang lagu latar, dsb.
Masalahnya, saya sangat awam dengan penyuntingan video alias tidak punya
alat bantunya. Maka yang pertamakali saya lakukan adalah mencari
aplikasi yang bisa dijalankan di HP (karena malas buka laptop).
Sekitar 3 hari yang lalu, saya instal aplikasi ini. Dan kemarin saya
jajal melakukan penyuntingan video dan foto selama kurang-lebih 6 jam.
Untuk latar, semula saya pilih lagu legendaris "Somewhere Over The
Rainbow/What A Wonderful World" dari Israel "Iz" Kamakawiwo'ole. Lagu
yang asyik dan optimis. Tetapi, mengingat situasi saat ini yang bisa
dibilang sebagai hidup yang berat, maka saya ganti lagunya dengan "Hard
Life" dari Queen yang lebih menggigit.
Ketika sore tiba, saya pun lega ketika video amatir ini pun selesai.
Cerita sudah memadai, kompilasi video dan foto beres, lagu pun pas
panjangnya. 4 menit. Fiuh!
Kemudian, iseng-iseng saya cek posting Téh Nenden untuk melihat tengggat
waktu pengiriman video. Ndilalah, terbaca bahwa yang diminta adalah
video dengan durasi 30" sampai 60". Jelas saja saya langsung panik.
Akhirnya terpaksa sunting ulang. Semua video saya pangkas durasinya.
Bagian yang kurang penting langsung digunting. Bahkan kecepatan video
pun saya naikkan, halmana jadi kurang suai dengan kelaziman dalam
mannequin challenge. Beberapa foto terpaksa dibuang. Durasi
tampilannya pun diperpendek. Yang cukup merepotkan adalah menyesuaikan
gambar (foto, video, serta teks) agar tampil pas dengan kata-kata kunci
dalam lagu.
Voila! Akhirnya, jadi juga video berdurasi 2 menit 34 detik (ini
angka yang sengaja saya pilih supaya cantik.)
Masih kepanjangan? Biarin dah. Yang penting saya sudah menunaikan
permintaan berpartisipasi dalam celeng kali ini. Iya, kan?
Ini dia hasilnya:
Mohon maaf jika lagu latar dihapus di beberapa lokasi pemirsa akibat
kebijakan Youtube 🙏
Warna "pink" yang juga dikenal sebagai "merah jambu" kerap diidentikkan
dengan perempuan/feminin, sehingga sebagian orang menganggap janggal jika
lelaki menggunakan pakaian dengan warna tersebut.
Sebagai orang yang tidak terlalu peduli dengan mode [maupun komentar
orang], saya tidak ambil pusing dengan generalisasi itu. Malah, ketika
masih SD, saya pernah minta dibuatkan rompi rajutan berwarna pink pada ibu
saya.
Selain warna pink, saya pernah memiliki dan menggunakan kemeja merah
marun, biru terang, hijau tosca, kuning, dll tanpa risau. Namun saat ini
di lemari pakaian tidak ada baju berwarna pink (belum saya cek container
pakaian cadangan). Sehingga, ketika muncul celeng pink di AIGL, tak
terpikir oleh saya untuk ikut.
Tahu-tahu, sekitar 2 minggu lalu, ketika mencari kaos yang hendak saya
pakai untuk sebuah acara, tersingkaplah sebuah kaos berwarna pink yang
saya peroleh ketika membantu kawan-kawan ITB 81 menyelenggarakan Festival
II Geopark Belitong tahun 2017 (Om Wahyu Indra Sakti Saidi yang pegang
komando lapangan). Terkait promosi, jelas ada logo Kementerian Pariwisata
berikut slogan Wonderful Indonesia. (Selain kaos pink, saya dapat juga
yang warna ungu dan hijau).
Berhubung saya ada beberapa urusan yang tidak mensyaratkan pakaian
tertentu, saya pakailah kaos berwarna pink itu seharian. Ke Pasar Gembrong
untuk belanja beberapa barang serta mampir melihat kios-kios pasar seni di
situ, ke Bakmi Abun di Kelapa Gading (karena masih kurang pede mau ke
Pasar Baru), ke ITC Kuningan membeli beberapa aksesori gawai, ke Mal
Ambasador.
O ya, sore hingga agak malam di hari itu, sempat juga saya menambah
perbendaharaan nyanyian di Smule dengan kaos pink 🤣
Inilah beberapa foto tepat di hari ulangtahun Pramuka 14 Agustus 2020.
Apa sih arti sebuah logo sehingga proses pemilihannya menjadi riak-riak
hangat penuh kejenakaan di AIGL?
Pada dasarnya logo adalah sebuah ringkasan identitas. Entah itu
negara, organisasi kelas dunia, desa, lembaga pendidikan, ormas, parpol,
satuan militer, instansi pemerintah, entitas bisnis, LSM, bahkan restoran,
warung makan kecil, hingga pribadi. Semuanya tidak diharamkan punya logo.
Dari logo, orang tahu siapa kita.
Pada saat logo digunakan maka atribut individu/tim pun luruh sebagai
sebuah citra khusus. Dia/mereka mewakili nilai-nilai dasar entitas yang
sedang diwakili.
Hal ini pun berlaku terhadap AIGL yang kini sedang memilih logo.
Maka kita punya pertanyaan fundamental:
apakah logo kita mampu mewakili citra dan nilai-nilai AIGL maupun diri
kita sebagai warga AIGL?
Jawabannya gampang-gampang susah. Karena sebelum menjawabnya, kita perlu
tahu
apa itu AIGL. Tepatnya,
citra AIGL seperti apa yang kita harapkan orang kenali?
1. AIGL adalah komunitas Alumni ITB
Apakah logo kita mampu memperlihatkan ke-ITB-an kita? Aspek apanya yang
bisa merepresentasikan "in harmonia progressio"?
2. Ciri AIGL sesuai namanya adalah Garis Lucu
Sudah mampukah logo kita menampilkan nilai lucu? Mohon diingat bahwa lucu
tidak sama dengan konyol, bloon, atau apa pun yang sifatnya menjadi
tertawaan. Juga, bukan sebaliknya, arogansi kita menertawakan orang lain.
Apa lagi?
Sejak awal didengung-dengungkan bahwa AIGL adalah forum yang terbuka bagi
semua alumni ITB tanpa mempersoalkan atribut-atribut pribadinya. Mau orang
mana, jurusan mana, angkatan berapa, kerjanya apa, sepopuler apa, agama,
aliran politik, dsb bukanlah parameter untuk menguji kelayakan seseorang
menjadi anggota. Syaratnya hanyalah alumni ITB. Titik. Bahkan tingkat
kelucuannya pun tidak diukur ... 😊
Dalam idealisasi saya, AIGL adalah sebuah
melting pot to connect the dots (anjrit, aing gaya pisan euy iinggrisan
😁). Di sinilah semua orang bertemu dan terhubung. AIGL adalah sebuah
medium yang sangat cair namun penuh dinamika yang dilandasi rasa humor.
Nah, di sinilah kita bersua dengan tantangan yang mengasyikkan.
Alumni ITB yang sebagian adalah orang penting di instansinya, sekarang
jadi larut dalam canda bahkan kadang konyol di AIGL, yang
bisa jadi amat jauh dari keangkeran dan wibawa yang wajib ditampilkannya
sehari-hari.
Anak ITB yang sehari-harinya serius berkutat dengan perhitungan ketat
bertoleransi rendah kini harus mengendurkan syaraf eksaknya hingga mampu
menerima celaan dari kawan yang bahkan belum dikenalnya.
Anak ITB yang terbiasa dengan kompetisi sehingga tidak sungkan berbeda
pendapat secara keras, kini harus mengelus dada sendiri (jangan elus dada
orang lain, apalagi yang berbeda jender) sambil cengengesan bahkan
memberikan tanda jempol (like) pada pihak yang mengritiknya.
Citra keras dan superior anak ITB dijungkir-balikkan di AIGL. Di sini
bukan siapa kita yang menjadi ukuran melainkan bagaimana kita "bermanusia"
dengan orang lain. Anak ITB memasuki perkuliahan baru di AIGL.
Ini gila, kan? Agak mustahil, kan? Tapi faktanya hal ini sudah menjadi
kenyataan di AIGL, kan?
Dengan demikian, sudahlah jelas bahwa logo AIGL sangat perlu menampilkan
sisi lain yang unik sekaligus luar biasa ini, yakni
anak ITB yang mustahil alias di luar persangkaan/stereotip.
Dari perenungan ini akhirnya saya memilih ORIN si gajah oranye yang
menari. Kenapa?
Mana ada gajah oranye?!
Mana ada gajah menari?!
Justru itu. Dialah ekspresi paling pas tentang kemustahilan (bahkan
kemustahilan berganda) yang menjadi nyata dalam kelucuannya yang harmonis
dan selalu dinamis.
Setelah para warga bubar tunggang-langgang kembali ke dukuh, Ki Ageng
Manik (KAM) tepekur sejenak di halaman. Seperti ada yang mengganggu
pikirannya. Dengan menghela napas panjang, KAM berbalik menuju pondoknya
dan langsung masuk ke dalam tanpa menghiraukan Raden Mas Tomi yang masih
bersila di beranda.
--- Waktu sudah terlalu sempit untuk menuntaskan tulisan, sementara mata
sudah mulai berat. Dengan sangat terpaksa ceritanya ditunda hingga batas
waktu yang belum ditentukan. Mohon maklum. ---
Munculnya 3 gajah idola baru di Dukuh Alit Galu tentu saja membuat warga
bahagia tak alang kepalang. Praktis, setiap hari mereka mengunjungi ketiga
gajah yang masih dalam pengawasan Kebayan baru.
Namun, kegalauan segera merebak tatkala mereka sadar bahwa maskot dukuh
hanyalah 1. Artinya, warga harus memilih 1 dari antara 3. Padahal, mereka
sudah telanjur sayang pada ketiganya. Akibatnya, mau-tak-mau, terbentuklah
3 kubu di antara warga.
Dalam situasi senang bercampur galau seperti itu, mereka pun kasak-kusuk
mencari pedoman. Beberapa diantaranya menemui Dayu Ida Ayu Suci Levi yang
tersohor sebagai pakar simbol (seperti Robert Langdon itu lho, simbolog
dari Harvard dalam novel-novel Dan Brown).
Di pendoponya yang sejuk dan asri, ditingkah lirih senandung burung, Dayu
Levi menjelaskan pandangannya dengan bijak-bestari namun penuh wibawa,
sebagaimana dicatat dalam lontar
Pitutur Dayu Levi
Hadirin manggut-manggut menyimak. Nyaris tidak bersuara, bahkan tarikan
napas pun seperti ditahan. Mungkin tak rela mengganggu suara Dayu Levi
yang jernih dan welas asih.
Dengan penuh sukacita mereka kembali ke rumah masing-masing sambil membawa
keyakinan atas pilihan terbaiknya.
Sementara itu, beberapa orang lain, secara diam-diam menemui Ki Ageng
Manik (KAM) yang tinggal menyepi di lereng bukit. Berdesak-desak mereka
duduk di lantai kayu serambi pondok yang kecil.
Tanpa banyak basa-basi, mereka langsung menyampaikan kegundahan hati
mereka.
KAM: "Lah, kenapa musti bingung? Kalian pilih saja yang kalian suka. Tidak
ada yang salah ataupun benar. Wong ini soal selera dan persepsi.
Gitu aja kok repot?"
Warga: "Kami khawatir jika berbeda pilihan dengan para tetua dukuh,
apalagi dengan Kebayan, nanti kami dikucilkan. Apa itu istilahnya?
Diemut ngadimin ya?" (sambil menoleh ke kiri dan ke kanan mencari
dukungan)
Sambil terkekeh, KAM berkata: "Kalian ini aneh-aneh saja. Tetua yang
sekarang bukanlah orang-orang gila hormat dan suka ngemut. Kalau tidak
belajar dari prahara kemarin, pandir banget lah mereka itu.
Kalian sangsi pada Denmas Fadjar Hari Mardiansjah, Om Badru Salam, Chief
Ize Hawkeye, Mbakyu Ratih Christyaningsih, Jeng Riani Perdanasari, Pakde
Darmadji Darmaputra, Kak Betty Simarmata? Semprul tenan koen!
Warga: "Kami hanya ingin harmonis dengan para tetua."
KAM (rada ngambek): " Bahlul banget ente! Yang harusnya harmonis ya
kalian sesama warga. Para tetua bukanlah majikan kalian. Mereka ada di
sana karena dipandang mampu membantu kalian hidup selaras dengan sesama
dan lingkungan. Itu saja tugas mereka."
Nyali mereka langsung ciut kena semprot KAM. Pakai kuah pula semprotannya
😅
Seseorang mengacungkan tangan.
Warga (suara agak tegas): "Permisi, Ki Ageng. Nama saya Manalu. Mohon ijin
bicara, Ki Ageng."
KAM: "Ijin diberikan. Speak freely."
Warga: "Siap, Ki Ageng! Mohon dimaklumi jika sahaya dianggap
ngeyel. Tapi sahaya ingin tahu, ke mana sebenarnya arah pilihan
para tetua. Sebagai pengayom dukuh, tentunya mereka lebih
waskita dibanding kami yang rakyat biasa. Apalagi sahaya yang
terbiasa taat pada perintah atasan."
KAM (mencoba memaklumi): "Hmm.. (sambil mengelus dagu yang tak
berjenggot). Coba kamu jelaskan masing-masing gajah keramat itu."
1. LUTU
LUTU karya Jonathan M.
Warga: "Empu Jonathan M adalah yang pertama membawa gajah dari Taman
Sriwedari. Gajah itu lucunya ampun-ampunan. Lutuna tu de Maxx.
Memang lucu banget, Ki."
KAM: "Centil banget sih kamu! Oke, kita sebut saja namanya si
LUTU. Selanjutnya!"
2. UNO
UNO karya Dody Sagir
Warga: "Empu Dody Sagir mendatangkan gajah imut, lucu, menggemaskan, dan
rada jahil. Namanya UNO yang artinya ..."
KAM (langsung nyolot dengan agak sengit): "Sudah tahu! Gak usah
ngajari saya! Wong waktu muda dulu saya pernah kencan di tukang es krim
Itali kayak Gus Yudhi Azfandiari, jadi tahu bahwa Uno itu artinya satu.
Mau sok ngajari ya, kamu?"
Warga (suara agak lembut, tidak setegas sebelumnya): "Selain itu, UNO
juga bermakna unofficial, karena gajah dukuh sebelah katanya sudah
dikasih stempel official."
KAM: "Dasar wong gemblung! Kalian pernah lihat gajah oranye?
Pernah lihat gajah menari balet?"
Warga (masih sedikit keder): "Belum pernah, Ki.."
KAM: "Tahu artinya apa?"
Tidak ada yang berani menyahut.
KAM: "Itu tanda KEMUSTAHILAN! Ngerti koen? Mustahil ada
gajah oranye. Mustahil gajah menari balet. Makin dobel mustahilnya.
Tetapi pada kenyataannya Empu Dantje berhasil menghadirkannya di Dukuh
kita. Paham artinya?"
Warga saling tatap tanpa menjawab.
KAM: "Itulah kamu, kamu, kamu, kamu...! (seru KAM sambil menunjuk jidat
satu per satu orang di depannya). Kalian itu adalah contoh
par excellent kemustahilan.
Kalian itu rupa-rupa. Ada yang berasal dari kampung antah berantah, ada
yang dari metropolitan, ada yang dari keluarga kelas saudagar, perwira,
darah biru, ada yang kere, ada yang ngomong saja belepotan dengan logat
nenek-moyangnya, dsb, dll, dst. Belum lagi masalah usia yang jomplang.
Acak-adut kabeh.
Tapi kalian semua sekarang bisa guyub di Dukuh Alit Galu ini. Saling
canda, saling ejek, saling hibur, saling dukung. Rukun.
Banyak yang bilang semua itu mustahil. Dan memang faktanya di dukuh lain
hil itu memang mustahal. Baru di dukuh kita kemustahilan
itu menjadi kenyataan. Seperti datangnya gajah oranye menari balet itu.
Kita kasih nama si ORIN. Karena itulah aslinya kalian. Original.
Tulen. Apa adanya tanpa penyedap buatan. Bukan kaleng-kaleng. Gak pakai
topeng."
Warga (masih setengah bingung): "Jadi bagaimana, Ki?"
KAM (berdiri sambil meledak): "Apanya yang gimana?
Gemblung kabeh! Tandanya sudah jelas cetho welo-welo!
Masih belum paham juga? Ya amplop! Apa harus saya cambuk pantat kalian?
Sana, sana, bubar!!!" (sambil berdiri dan mengambil cambuk yang
tergantung di tiang beranda)
Warga terbirit-birit berhamburan melarikan diri dari pondok Ki Ageng
Manik.
Hanya tinggal satu anak muda yang masih duduk dengan takzim di lantai
kayu beranda. Namanya Raden Mas Tomi Highfinger, yang pernah menjadi
Pangeran Utama di Kerajaan Mechanix.
Hanya satu malam menjelang peringatan setahun berdirinya Dukuh Alit Galu,
warga digemparkan dengan raibnya gajah kesayangan yang selama ini menjadi
maskot. Walau tak ada yang sempat memberinya nama, namun semua sudah tahu
apa/siapa yang dimaksud jika ada yang menyebut "gajah". Sebenarnya sih ada
julukan generik baginya, yakni Logo saja.
Usut punya usut, ternyata Kebayan[2] dukuh punya peranan dalam kehebohan
ini. Pada malam naas itu, diam-diam Kebayan membuka kandang Logo dan
membawanya ke perdikan kosong yang baru saja dirambah. Di sanalah si Logo
ditambatkan dan dikawal para petinggi dukuh yang memutuskan bermigrasi ke
tempat baru.
Warga dukuh jadi bertanya-tanya apa maksud dari semua ini. Keguyuban dan
sukacita warga sekonyong-konyong berganti dengan kekisruhan dan
kemasygulan. Berbagai spekulasi serta perdebatan terjadi antar sesama
warga, hingga sempat timbul gesekan horisontal.
[beberapa lembar catatan ini dilewatkan saja karena terkait erat dengan
bab sebelumnya yang belum ditulis 😁]
Tanpa maskot, tentu saja warga jadi sedikit bingung. Apalagi menjelang
peringatan hari kemerdekaan ke-75 Negeri Nuswantara, ada banyak
pertandingan antar dukuh. Terpaksa kaos olahraga, panji-panji, peralatan,
dll disablon tanpa gambar maskot. Kosong melompong. Sungguh
memprihatinkan.
Namun kebingungan massal ini tak berlangsung lama. Secara tak terduga,
beberapa empu budaya yang sekian lama memilih bungkam kini serentak
bangkit bagai gelombang tsunami. Konon, demikianlah kodrat yang sudah
disuratkan sejak purba, "saat kebuntuan melanda masyarakat, maka para
seniman dan filsuf menjadi yang terdepan membuka jalan".
Dengan mengerahkan ajian sakti mandraguna, para empu ini berhasil
memanggil datang beberapa gajah pilihan dari Taman Sriwedari nan permai.
Warga dukuh menyambut sukacita kehadiran para gajah baru. Ada yang lucu,
ada yang jehil, ada yang lincah, ada malu-malu menggoda, ada yang cantik,
ada yang gagah, dsb. Semua menggemaskan.
Trio Orin - Lutu - Uno (TOLU)
Para gajah ini langsung dibawa ke padepokan utama, tempat para tetua dukuh
bermusyawarah. Di sanalah masing-masing gajah ditelaah secara saksama dari
berbagai gatra, termasuk bobot, bibit, dan bebetnya. Primbon warisan
leluhur ditelaah hingga ke pernik paling rinci. Ensiklopedi dan berbagai
rujukan teknik dibabar di atas meja. Bahkan pakar mekanika teknik pun
diundang khusus untuk menjelaskan aplikasi rumusan "statik tak tentu" yang
selalu bikin pusing banyak orang.
Perdebatan hangat yang berkelas mengalir deras diiringi tawa renyah para
tetua. Analisis keunggulan para gajah dilakukan terhadap kemampuan gajah
itu sendiri dalam berkiprah, bukan dengan mengadu gajah satu dengan yang
lain. Lah, sudah jelas masing-masing punya kekhasan.
Setelah beberapa hari bermusyawarah, para tetua dukuh mengumandangkan
hasilnya ke seantero dukuh, termasuk pada diaspora yang sedang melanglang
ke mancanegara. Intinya adalah tentang 3 gajah yang terpilih sebagai
kandidat maskot dukuh.
Babad Kisah/riwayat/sejarah/chronicle.
Dukuh Desa/dusun.
Alit Galu Konon nama ini merupakan singkatan dari ALumni ITb
GAris LUcu, yakni sebuah komunitas ideal yang sering diceritakan dalam
legenda. Bisa jadi mirip dengan masyarakat Atlantis yang dikisahkan oleh
Plato.
[1] Kalimat sengkalan Seperti pepatah/peribahasa dalam
bahasa Kawi, namun sesungguhnya merupakan sandi yang berfungsi sebagai
petunjuk tahun. Dibaca dari belakang ke depan.
Sirna = 0, hilang Dresthi = 2, ingkar janji
Luhur = 0, mulia Ngabekti = 2, bakti.
"Hilangnya keingkaran memuliakan pengabdian."
0202 dimaknai sebagai tahun 2020. (Tapi pakai tahun Masehi ya, bukan
Tahun Saka. Segini saja saya sudah pening, jangan dituntut lebih 😌)
[2] Kebayan penanggungjawab keamanan desa. Setara Kapolres
di masa kini, meureun. Tapi, belakangan ini sang Kebayan malah
menganalogikan diri sebagai anjing penjaga. Entah kenapa.
Untuk yang belum ikut polling pilih Logo baru Alumni ITB Garis Lucu,
Silakan klik link di comment postingan ini ya....
Saya sudah menentukan pilihan. Tidak mudah memang, karena semua usulan bagus
bagus dan semua dibuat oleh teman teman sebangsa dan setanahair FSRD ITB...
Jadi yang dipilih tentunya adalah yang teeeeerbaik dari yang bagus bagus
itu... walalupun agak setuju dengan pendapatnya Pujiastuti Sindhu, kenapa
nggak kita pake semua aja kan bisa ganti gantian...
Tapi logo adalah identity.. sebaiknya satu, untuk menyatukan semua dalam satu
semangat.
Saya memilih hasil karya Arifdani Nugraha, gajah montok, cerdas dan enerjik
dengan warna mentereng dan tulisan segede gambreng. Kenapa ? Di bawah ini
alasannya.
Sebagai seorang desainer yang sering menjadi konsultan visual di brand
development, tentunya urusan merancang dan memilih dan menerapkan logo menjadi
makanan saya sehari hari. Dan pilihan saya atas usulan Dantje itu karena :
DINAMIS & FLEKSIBEL
Bukan karena SangGajah sedang menari ballet... tapi logo ini akan sangat bisa
tampil dalam berbagai gerak dan posisi.. yang bisa hadir dalam berbagai tata
letak untuk beragam kebutuhan. Bayangkan lucunya dia kalo lagi kayang, lagi
salto atau sekedar baringan berkhayal tentang Bxxxxx Bxxxx
Walaupun Dantje mengusulkan jingga kemerahan, dan banyak yang setuju untuk
oranye aja deh sekalian, tapi gajah jenaka ini pastinya bisa tampil dalam
berbagai warna tanpa kehilangan karakter aslinya.
(and I will order it in RAINBOW for sure!!) (.....ssst bayangkan kalau
berwarna biru tua dengan tiga setrip di tangan seperti Txxx Rxxx)
Sebuah logo yang baik, salah satu syaratnya adalah bisa tetap beridentitas
dalam kedaan berwarna maupun monokrom, dan karya Dantje ini memenuhi syarat
tersebut.
BOLD / TEGAS-LUGAS
Keputusan membuat tulisan AIGL yang berupa handmade dengan ukuran besar,
membuat title ini stand out dan speak loud tanpa mengganggu bentuk ikon gajah,
malah memberi sebuah penekanan terhadap logo itu sendiri.
Bentuknya yang tebal dan ukuran besar, sederhana namun lugas, sangatlah
readable. Nggak perlu memicingkan mata atau zoom in screen untuk melihat apa
yang tertulis di sana. Jelas tapi dekoratif dan selaras dengan logo secara
keseluruhan.
DETAIL
ITB tentunya identik dengan Gajah dan Ganesha. Dantje memilih untuk
mengexplore Ganesha dan dia committed akan keputusannya, maka mengambil resiko
untuk menerapkan sebagian besar detail yang ada pada Ganesha. Simbol simbol
pada keempat tangannya, gading yang dipatahkan dan celah torehan pada
telinga.;
Cukup lengkap untuk sepintas melihat bahwa gajah jenaka ini merepresentasikan
Ganesha.
Jadi... kesimpulannya, walaupun saya memang jatuh cinta pada pandangan
pertama untuk Gajah Jingga ini (hadeeehhhh namanya siapa dong baiknya ya)....
tapi saya bisa jelaskan alasannya.
Masih ada 2x24 jam untuk memilih atau mengalihkan pilihan agar kita bisa
mempunyai logo baru untuk rumah kita bersama.
Bisa saja orang menyebut saya skeptis, bahkan pesimis, jika saya katakan
bahwa
move on tidaklah semudah mengganti kolor bolong dengan kolor baru
kemudian membuangnya ke tempat sampah. Mungkin juga akan ada yang berang
jika saya bilang omong kosong. Malah, dengan agak sinis saya katakan bahwa
hal itu hanya mudah dilakukan oleh mereka yang tidak sungguh-sungguh
merasakan pengalaman tersebut atau tidak serius memperjuangkannya.
Menurut saya, move on juga bukanlah soal melupakan. Melainkan
beranjak dari belenggu, entah kemarahan, penyesalan, menyalahkan diri
sendiri, kebencian, keterpurukan, putus asa, atau apa pun yang
nota bene tidak mengubah apa-apa selain berputar-putar dalam
labirin yang sudah kita tahu tak berujung.
Dengan kata lain, move on adalah soal bergerak. Pindah dengan
berproses. Benar, kan? Dalam tulisan ini, pendapat ini tentu saja saya
anggap benar. Kecuali jika saya mau cekcok dengan diri sendiri
siga jelema teu eucreuk 😁
Pertanyaannya, bergerak ke mana sih? Tentu saja ke titik baru. Bisa
tingkatan yang lebih tinggi, tahap lebih lanjut, ataupun pijakan awal yang
berbeda dari sebelumnya.
Dan kita tiba di sana tentu saja bukan ujug-ujug seperti awak kapal
Star Trek berpindah dengan bantuan mesin teleport, melainkan dengan
langkah nyata. Satu per satu.
Sampai sini bisa dipahami, kan?
Hanya saja, kemampuan melangkah tiap orang ternyata tidaklah sama. Secara
ekstrem, ada yang bisa ngebut, namun ada yang harus beringsut alias
ngesot. Analogi dengan Ultramaraton ITB, karena
pace setiap pelari berbeda maka waktu yang diperlukan untuk
mencapai garis akhir pun akan berbeda. Dan tidak ada yang salah dengan
itu.
Kok bisa berbeda?
Ada banyak argumen dan istilah yang bisa kita usung untuk membahas
alasannya. Kecerdasan emosi (emotional quotient). Kemampuan
adaptasi. Kelembaman/inersia. Resilience. You name it lah.
Intinya sih kurang-lebih sami-mawon, yakni penerimaan terhadap
kenyataan dan diri.
Bah! Apa pulak ini?
Kalau kita sudah tahu bahwa kenyataannya memang menyakitkan, ya terimalah.
Akuilah kenyataan itu. Tidak usah berlagak gagah gak mempan sakit. Tidak
ada manusia normal seperti itu. Superman saja bisa terluka dan terkapar
kok.
Itu langkah pertama.
Terus, kalau sakit itu sudah diakui, mau bagaimana? Nah, di sinilah
berawal rantai proses bergerak alias move on tadi. Ada yang mencoba
mencari akar masalah ke luar (eksternal), ada yang ke dalam (internal).
Mana yang lebih bagus? Sama-sama bagus kok jika konteks persoalannya pas.
Hanya saja perlu diingat bahwa move on adalah perihal
gerak diri kita sendiri yang jelas-jelas berada dalam ruang kendali
kita. Jadi, dalam tulisan ini saya akan fokus ke dimensi internal. Urusan
eksternal, boleh juga menggunakan berbagai alat bantu
root cause analysis.
Penerimaan terhadap diri sendiri merupakan faktor penting setelah menerima
kenyataan. Sakit yang sudah kita akui tadi tidak akan sembuh, bahkan hanya
akan menjadi borok bernanah, jika kita enggan mengakui bahwa
diri kita berharga. Tidak sedikit orang yang menyesali atau
menyalahkan dirinya ketika hal menyakitkan terjadi. Atau menganggap
dirinya pantas dihukum dengan penderitaan seperti itu. Bagai lingkaran
setan, semakin lama orang itu semakin terpuruk dan semakin menderita dalam
pusaran yang semakin kelam.
Oke, anggaplah sakit ini sebagai ganjaran atas suatu kesalahan yang kita
terlibat di dalamnya. Namun, jika kita menganggap diri kita berharga, maka
secara bertanggungjawab kita akan memilih jalan penebusan. Dan sebagaimana
lazimnya penebusan yang bisa kita bayangkan, ada proses peluruhan dari
unsur pengotor yang membebani langkah. Purifikasi. Purgatory.
Proses peluruhan ini melibatkan energi pelepasan (sedih, ngomel, sindiran,
hingga sumpah-serapah) maupun penyerapan (dukungan, penghiburan,
kontemplasi) yang tidak kecil. Hamburan debitnya amat besar. Dan, ibarat
pembuluh darah, ada yang penyalurannya lancar namun ada juga yang agak
tersumbat. Akibatnya, waktu peluruhan pun berbeda. Setiap orang memiliki
waktunya sendiri. Inilah
pace seseorang dalam move on.
Kalau dipikir-pikir, penerimaan/penghargaan pada diri sendiri ini adalah
penyelamat sesungguhnya, penggerak mula yang dahsyat, pembangkit energi
abadi, semangat tak kunjung padam. Seperti matahari bagi kehidupan.
Ngantuk euy, padahal masih belum kelar nih. Lanjut nanti ya, kalau sudah
bangun dan gak malas melanjutkan tulisan.
Mohon dicatat bahwa ini bukan sebuah janji lho ...
LAGU TEMA:
Mentari (karya Iwan Abdurrahman)
Broer Bram Abraham Pattinama (vokal)
Ito Ujie Pujiastuti Sindhu (flute).
Video ditempelkan tanpa permisi pada kedua artis. Semoga tidak keberatan
🙏
Keknya gak sedikit kawan di AIGL yang pernah bersinggungan hidup dengan
Bali berikut kesehariannya.
Ada anneke prasyanti dengan kisah seputar pembangunan GWK, Laksmi Palupi
dengan kisah behind the scene di pura, Triono Andi Wibowo yang pernah lama
di Bali, maupun Ida Ayu Suci Levi yang pastinya dekat sekali dengan napas
Bali, atau Anastasia Tisiana yang pernah menari Bali di atas kapal menuju
Antartika, bahkan Montes Gultom yang nyaris menceburkan diri di Danau
Bratan (untung insyaf bahwa berenang bukanlah salah satu kemahirannya) ..
😊
Dan menurut dugaan saya sih Kang Taruna Adji sang penjelajah maupun Mas
Lukas Muliyono sang perambah pasti juga punya cerita asyik tentang Bali.
Bali itu kaya dalam banyak hal. Bukan sekadar beach, sunset, sunrise, pub,
apalagi sekadar kuliner dan party. Bahkan keindahan tari maupun karya yang
ternikmati kasatmata pun lebih rumit dari yang terlihat. Dalam istilah
lain, kaya misteri dan spiritualitas. Sementara spiritualitas itu sendiri
seakan merupakan hirupan napas bagi Bali sejak pagi hingga pagi.
Salah satu hal yang sering dikaitkan dengan Bali adalah Barong. Menurut
ceritanya, Barong adalah sosok protagonis yang mengalahkan Rangda (Calon
Arang) yang digambarkan sebagai perempuan jahat, jelek, ratu para Leyak.
Dan Leyak itu sendiri terasosiasi sebagai ikon sisi gelap Bali.
Nah, menariknya, walau dianggap sebagai sosok antagonis, ternyata wajah
Rangda ataupun Leyak dengan mata melotot dan lidah terjulur banyak dipakai
pada berbagai gambar maupun topeng hiasan/cinderamata. Apakah ada yang
luput dari dikotomi biner benar-salah, hitam-putih? Halmana dualitas
semacam ini bukan merupakan situasi yang saling meniadakan dalam
perspektif spiritualitas. Jangan-jangan malah merupakan syarat keberadaan.
Begitukah, Suhu Ombad Badru Salam?
Apakah ini juga merupakan suatu penyingkapan atas misteri yang kian
disadari, sehingga belakangan ini muncul versi yang berpihak pada Rangda,
yang dipandang sebagai korban dari sistem patriarkhi?
Entahlah.
Rasanya makin seru dan penasaran menyimak tabir di balik tabir. Apa pun
yang ada di dimensi terakhirnya.
Mungkin ada kawan-kawan yang bisa serta berkenan berbagi kisah tentang
Barong, Rangda, Leyak?
Sebagai dampak dirumahkannya sebagian warga AIGL, jadi berlimpah pula
tampaknya waktu manyunnya. Dan untuk membunuh kemanyunan, sebagian orang
pergi menjarah dapur guna mempraktikkan pelajaran dari Institut Tata Boga.
Hasil karya mereka pun dipajang penuh bangga di etalase AIGL sehingga
bikin air liur menetes tak terkendali.
Sebagian lagi masuk studio rekaman atau membongkar arsip lama mencari
video aksi mereka menyanyi maupun main alat musik. Serta-merta wabah
bernyanyi dan bermusik melanda AIGL, mengalahkan horor COVID-19. Dahsyat
edan ternyata potensi yang bertebaran di AIGL.
Melihat fenomena unik ini (sampai ada yang bertanya, AIGL itu sebenarnya
Alumni ITB Garis Lucu atau Garis Lagu sih?), langsung terpikir bahwa AIGL
sudah komplet personalnya untuk membangun sebuah full band. Bahkan bukan
hanya satu, melainkan bisa dua atau tiga. Lengkap pula dengan barisan
penggemar, penjoget, pendemo, bahkan keamanan dan tukang mengedarkan
kencleng saweran.
Masalahnya, para personal ini terserak di mana-mana di seantero jagad.
Bagaimana caranya latihan bareng? Jam meleknya aja beda. Kapan pula
manggungnya? Lah, yang sekota saja kadang sulit mencocokkan jadwal,
apalagi beda kota beda benua. Agak mustahil keknya. Lemes deh 😓
Sekonyong-konyong terbersit ide, bagaimana kalau bikin kolaborasi musik
secara daring? Mirip Smule tapi bukan. Eh, pas pula ada yang mengirim
video orang-orang dari berbagai wilayah di Indonesia berkolaborasi
menyanyikan lagu "Rumah Kita".
Ah, ini juga bisa dipraktikkan di AIGL!
Maka, sejak beberapa hari lalu saya kontak-kontak dengan Om Admin Dody M.
Barus, Kak Mutiara Lusiana Purba, Kak Dani Diana, dan beberapa kawan lain
guna menindaklanjuti ide pembuatan video musik "AIGL Bernyanyi".
Beberapa lagu yang dianggap suai dengan situasi kiwari pun dibedah.
Akhirnya, setelah mempertimbangkan berbagai aspek,
Indonesia Pusaka terpilih sebagai lagu perdana. Maksudnya, pada
kesempatan berikutnya bisa saja memakai lagu lain. Dan siapa saja boleh
kasih usul lagu.
+ Kenapa bukan "Rumah Kita" aja sih? Kan pas nih sedang pada dikarantina
di rumah..
- Lagunya bagus. Liriknya bagus. Gak ada masalah kok dengan lagu
tersebut. Kita hanya mau bikin variasi. Kondisi seperti sekarang kan
bisa dilihat dan disikapi dari berbagai sudut pandang.
+ Kenapa gak bikin lagu baru aja yang pastinya pas banget dengan situasi
sekarang?
- Wah, bagus banget kalau kita bisa melakukan itu. Apa ada yang
bersedia? Atau punya stok lagu?
Semua opsi masih terbuka lebar. Ini kerja keroyokan kok. Siapa saja boleh
ambil inisiatif. Nanti kita bisa lanjutkan bareng-bareng setelah langkah
pertama kita tunaikan.
Indonesia Pusaka sudah dikenal dan bisa dinyanyikan hampir semua
orang. Artinya, banyak yang bisa berpartisipasi. Cocok pula dengan hasrat
membangun dan membudayakan semangat kebersamaan, kepedulian, gotong-royong
di komunitas AIGL. Intinya, sebanyak mungkin orang terlibat dalam tempo
yang sesingkat-singkatnya. Gak perlu repot apalagi kebakaran jenggot.
Terus, bagaimana caranya terlibat?
Hampir tengah malam kemarin saya berkirim pesan melalui WA dan FB
Messenger pada Om Aatje Bambang Suryoatmono. Tadi pagi Om Aatje membalas
WA saya, menyatakan sangat senang dan semangat berperanserta dalam
inisiatif ini.
Tentu saja saya bahagia banget. Masih membayang dalam imajinasi saya tuts
hitam-putih menggeliat lincah menggetarkan dawai piano saat Om Aatje
mengiringi Ivy Viviani Suhar menyanyikan lagu "Ibu Pertiwi". Padahal,
rekaman vokalnya yang duluan ada. Secara pakem, ini mah gak lazim. Makanya
si Kabayan pun bertepuk-tangan kagum sambil berseru, "Not a play! Not a
play! Bukan main!"
Pesan serupa saya layangkan pada Mas Arifianto Setropawiro via FB
Messenger karena saya belum punya nomor WA-nya. Ternyata dicuekin euy
sampai pagi. Om Dody bilang kemungkinan besar pesan saya terlewat karena
belum berkawan dengannya di FB. Akhirnya saya colek di posting kerennya
yang memainkan lagu "Love of My Life".
Eh, bener. Mas Arif langsung nyahut.
Seperti halnya Om Aatje, Mas Arif bilang mau banget cawe-cawe di kerjaan
ini. Sayangnya Mas Arif sedang memingit diri di Bogor dan jauh dari piano.
Tapi, saking gairah, Mas Arif bilang mau numpang rekaman di toko musik
saja. Paling banter nanti kedengaran suara motor lewat, katanya. Natural
sih natural, tapi nanti pendengar gagal fokus pula. Apalagi kalau yang
lewat adalah geng motor. Noise-nya bisa lebih lama dibanding durasi
lagunya. Belum lagi kalau tukang mie tektek unjuk gigi. Ambyar dah..
Tanpa harus dirayu ataupun dipaksa, Om Aatje dan Mas Arif menyatakan
bersedia merekam permainan piano mereka pada lagu Indonesia Pusaka.
Saya kasih catatan kaki [dengan tulisan yang sangat kecil pula] supaya
dibuatkan aransemen yang tidak biasa-biasa saja. Terserah pada kedua
pianis kita ini bagaimana menerjemahkan catatan kaki tersebut sebagai
improvisasi dan kreativitasnya. Bebas.
Rekaman musik dasar yang kita sebut minus one ini akan dikirimkan kepada
para sobat AIGL yang berkenan mengisi vokal menyanyikan lagu ini sambil
merekam aksi serta ekspresinya dalam video. Dan sudah barang tentu para
warga AIGL Diaspora alias mancanegara sangat dinantikan partisipasinya.
Setelah video terkumpul, tim penyunting akan mencuplik sebagian video dari
masing-masing peserta, misalkan 1 baris syair. Begitu seterusnya, sehingga
ketika seluruh cuplikan tadi digabungkan maka terbentuklah sebuah lagu
utuh. Ibarat estafet bernyanyi, gitu.
Sampai sini ada pertanyaan? Silakan ngacung.
Ada banyak pemusik bagus di AIGL. Dalam bayangan saya, semua bisa
berpartisipasi bahkan menginisiasi projek seperti ini, sehingga nantinya
AIGL akan punya banyak koleksi. Kita mulai dari 2 materi ini dulu.
Kurang-lebih, demikian pengantar pertama mengenai projek "AIGL Bernyanyi"
ini. Hal-hal teknis lainnya akan disampaikan segera setelah lagu dasarnya
siap. Om Dody mohon memberikan arahan lanjutan ya..
Kepada para sobat AIGL, dimohon kesabaran sekaligus gelora antusiasmenya
dalam kerja keroyokan kali ini. Demi mendukung kita semua tetap optimis
walau kondisi saat ini sangat tidak nyaman. Juga membangkitkan optimisme
bahwa Indonesia pasti bisa melalui cobaan ini. Tanah air kita tetap jaya.
Tanah Pusaka kita bersama.
Permisi dulu. Jiayou!
Sebagai gambaran, lagunya seperti dalam video ini:
Saat beberapa anggota kelompok Non-Skills (alumni ITB penggemar berat musik
tapi tidak menguasai alat musik, bahkan menyanyi pun kadang fals) bertemu
untuk membahas peran serta dalam memeriahkan peringatan 100 Tahun ITB,
muncullah ide menegakkan kembali marwah Non-Skills sebagai juara sejati
Festival Band ITB Kategori Teatrikal.
Obrol punya obrol sambil menikmati sop kepala ikan dan sop kambing di Blok M
Square, dilanjutkan ngopi sore, terumuskanlah plot dasar operet atawa kabaret
alias drama musikal (terserah deh apa namanya) yang inti kisahnya akan
mendecakkan kesan "anak ITB banget ih!".
Penuh sukacita kami mensyukuri kehadiran FBG AIGL ini karena amat berlimpah
fragmen cerita yang bisa dirangkai sebagai bunga-bunga kehidupan 3 tokoh
sentral operet ini: Ucok si anak BTL (Batak Tembak Langsung) dari
Siborong-borong, Tole si anak Jawa kelahiran nDiwek, dan Euis si geulis Mojang
Priangan. Aksi Pak Satpam dan Juru Parkir nanti belakangan saja kita sisipkan.
Skenario masih berkecamuk acak di kepala. Pilihan lagu pun masih belum jelas
walau sudah ada sedikit siluet di balik gorden semi transparan. Opsi beberapa
pemeran sudah mulai direka-reka, yang bikin kami ngakak sendiri. Dan jalur
komunikasi dengan beberapa tokoh perpanggungan ITB pun mulai diaktifkan.
Ini memang baru tahap brainstorm yang masih prematur, yang memerlukan
stamina serta konsistensi lebih lanjut untuk merealisasikannya.
Oleh karena itu, mumpung belum telanjur diminta jadi pengisi tetap di
Broadway, pada kesempatan ini dengan rendah hati kami memohon pada warga AIGL
agar merelakan secara tulus jika kisahnya dicuplik sebagai
puzzle cerita. Dan secara serius kami tegaskan tidak ada honor apalagi
royalti.
Demikianlah informasi awal ini kami sampaikan guna meminimalkan risiko
kehebohan di antara warga AIGL.