catatan-catatan kecil di sini tidak lebih dari percik pemikiran yang sempat tertuang ke dalam bentuk tulisan. kalaupun isinya tidak tertata baik ataupun tidak berkenan pada anda, demikianlah adanya kenyataan diri saya pada saat itu. setidak-tidaknya, ini semua adalah sebagian ungkapan kejujuran yang saya ingin berbagi dengan anda.
Ada banyak impian yang pernah menyembul dalam tahun-tahun perjalanan hidup
saya, baik tentang diri maupun dunia. Sangat banyak yang tak terwujud
dengan berbagai alasan logis, namun ada juga yang menjadi kenyataan dengan
sedikit kegemilangan [walau sebagian dibarengi sentuhan mukjijat].
Memilih salah satu cerita dari sekian impian untuk disampaikan ke forum
AIGL nan ceria namun kritis ini ternyata bukanlah hal mudah. Apalagi jika
tak ada makna yang bisa dibagi. Itu sebabnya saya mengalami kesulitan
mengikuti celeng kali ini.
Namun ada satu hal yang sore tadi sekonyong-konyong menyeruak dalam
pikiran ketika Téh Nenden menagih keikutsertaan saya. Entahlah, apa bisa
ini dianggap sebuah testimoni. I wish.
15 Juli 2020
Sekonyong-konyong terbetik kabar bahwa seseorang yang sudah lama saya
kagumi ternyata telah meninggalkan ruang kebersamaan kami. Serentak ada
torehan nestapa dalam dada yang tak kuasa saya tolak. Seperti rumah
kehilangan suara kanak-kanak.
Berusaha memendamnya ternyata percuma. Sehingga, tanpa terkendali, jemari
yang sudah belasan tahun kelu tak mampu merangkai kata tiba-tiba bergerak
menautkan huruf demi huruf menyuarakan rasa yang terus ingkar untuk
mengaku.
Agustus 2020 tak jelas tanggal berapa
Suatu sore, saat mengisi waktu dengan bernyanyi di Smule, entah kenapa
teringat sebuah lagu tentang harapan kembalinya seseorang dari masa lalu.
Tanpa perlu bimbel (istilah kawan-kawan ITBSmuleanS untuk latihan) dan tak
perlu retake, jadilah rekaman itu.
Menyadari suara yang sangat pas-pasan di garis batas memprihatinkan serta
mengandalkan keberanian menanggung malu semata, tak pernah saya
memublikasikan apapun ke luar aplikasi Smule itu sendiri. Termasuk lagu
ini.
Namun, demi membuktikan bahwa kisah ini bukanlah sekadar gombal, saya
sertakan tautannya di sini: https://www.smule.com/p/2362375036_3681282488
20 Oktober 2020
Dia kembali hadir ke tengah kebersamaan seakan tak pernah ada angin
gersang yang meranggaskan dedaunan. Dan sebagaimana galibnya roda musim,
kemarau pun berganti dengan kesegaran yang sedemikian melimpah.
Epilog
Masih banyak yang sebenarnya bisa saya ceritakan, hanya saja tenggat waktu
tinggal 2 menit.
Demikianlah.
Appendix
Lagu ini aslinya berjudul Julie, yang diciptakan dan dipopulerkan oleh
Julio Bernardo Euson pada tahun 1972. Dalam kisah ini, nama Julie diubah
menjadi Lady.
Lady, oh Lady
Life is not the same anymore
There's not a thing that we're living for
Now that you've gone away
Lady, Lady
Why couldn't you have stay
I remember the days
That we spent together
Happiness knowing no bound
At the time we have pledged
It would last forever
From this cloud that was just no way down
But it seems that it all had to end
And I'm left here alone, not a friend
No one to cheer me and no one to say
Lady will surely come back, some day
No one.. to cheer me .. and no one.. to say…
Lady will surely come back… some…day
Lady, darling Lady
How come you're not thinking of me
How come you don't care to recall how it was
I wish for that it always will be
Lady, Lady
Why don't you come back to me
I remember the days
That we spent together
Happiness knowing no bound
At the time we have pledged
It would last forever
From this cloud that was just no way down
But it seems that it all had to end
And I'm left here alone, not a friend
No one to cheer me and no one to say
Lady will surely come back, some day
Yes it seems that it all had to end
And I'm left here alone, not a friend
No one to cheer me and no one to say
Lady will surely come back, some day
Lady is coming back to me, some day
Lady, I say, Lady
You have better come to me at home
'Cause I want you
Oh yeah, I want Lady ....
Tak terasa waktu berlari teramat cepat. Tepat seminggu lalu saya tuliskan
progres mengolah file audio serta video yang jumlahnya lebih dari 100
(menurut Kang Pendy ada 128 video). Tahu-tahu sekarang sudah tanggal 10
November 2020, hari yang direncanakan untuk peluncuran karya kolosal AIGL.
Ternyata tidaklah mudah merangkai berbagai material yang pada dasarnya
sudah bagus menjadi sebuah kolase besar yang tetap, bahkan tambah, bagus.
Sangat terasa beratnya beban menyajikan racikan yang dapat memuaskan
ekspektasi semua pihak.
Ada saja hal lucu sekaligus menggemaskan ketika dua unsur utama (rekaman
audio dan rekaman video) digabungkan. Sinkronisasinya tak semudah yang
dibayangkan. Ada yang gambarnya bagus tetapi gerak bibir tidak pas dengan
lagu. Ada juga yang suara dan gambarnya sudah bagus, tetapi posisinya di
video kurang pas. Jungkir-baliklah para chef di dapur video
mengatur semuanya agar optimal.
Usai melakukan sinkronisasi, mulailah tahap penataan letak maupun cara
tampilnya. Berbagai fitur yang ada di perangkat penyuntingan pun dijajal.
Beberapa ide bergulir dalam upaya mempercantik visual.
Keterbatasan interaksi akibat pandemi terasa sebagai tantangan tersendiri.
Komunikasi tentunya tidak selancar pertemuan tatap muka yang umumnya
dibarengi melihat hasil pekerjaan seraya melakukan evaluasi serta memberi
masukan.
Hingga kemarin malam, tim produksi masih intens berdiskusi melalui Zoom.
𝑆𝑐𝑒𝑛𝑒 demi 𝑠𝑐𝑒𝑛𝑒 dibahas satu per satu secara rinci hingga beberapa belas
lembar.
Beruntung kedua chef dapur video sangat bisa diandalkan
kemampuannya, sehingga dalam tempo singkat (eh dari jam 21 hingga pagi tuh
termasuk singkat atau lama sih?) hasil diskusi pun terwujud dalam format
yang disepakati. Haturnuhun, Kang Pendy dan Kang Danne Dhirgahayu.
You are the best.
Dan sekitar 22 menit selewat jam 12 siang tadi, kami disuguhi perkembangan
terbaru untuk preview. Setelah ditonton dan disimak sejak detik 0
hingga akhir sambil menahan napas, akhirnya kami bisa menghembuskan 3/4
beban yang selama ini menggantung (kebayang kan gedoran ratusan orang yang
sangat penasaran menantikan kemunculan video kolaborasi ini 😓).
Secara keseluruhan, masakan sudah jadi. Bentuknya sudah sangat jelas,
kenikmatannya pun sudah terasa. Tinggal diberi sentuhan akhir yang
mempercantik tampilan saat disajikan di pinggan.
Pekerjaan yang dilaksanakan kurang dari 1 bulan ini nyaris merupakan
kemustahilan (untung saja belum sempat menjadi mimpi buruk) mengingat
demikian banyak pihak yang dilibatkan sebagai artis, yang [nyaris]
semuanya amatir. Bahkan ada yang mengakui bahwa ini adalah pertamakalinya
dia menyanyi di luar kamar mandi. Pakai direkam video pula! Ada juga yang
baru kembali menyanyi sejak SMP. 🤣
Perlu menjadi catatan bahwa semua ini dilakukan secara 𝘱𝘳𝘰-𝘣𝘰𝘯𝘰 alias tak
berbayar. Dan ada sebagian yang mengupayakan di antara tugas utama
kehidupan. Namun tugas yang diemban diupayakan terlaksana sebaik mungkin.
Maka, sungguhlah beruntung AIGL memiliki warga yang berkenan berbagi
dedikasi dalam tenggat waktu yang sangat ketat ini. Mulai dari penggagas
dan pembuat/penata musik/vokal, manager yang katempuhan menangani
segala urusan, pembuat puisi, penyanyi, narator, pemusik, penari, hingga
orang-orang di belakang laptop yang menjadi benteng terakhir. Semua
menakjubkan. Thank you, all 💕
Kiranya kerja kita bersama ini dapat segera kita nikmati dengan sukacita
(dan semoga juga dengan bangga 🙏) ketika kita membuktikan mampu menembus
hal-hal yang selama ini kita anggap tak mungkin kita lakukan.
Usai mengumpulkan rekaman audio dan video hingga beberapa saat menjelang
tenggat waktu (anak ITB keknya senang banget memacu adrenalin dengan
mepet-mepet), para pendukung projek besar AIGL Bernyanyi #2 pun bisa
menarik napas lega. Berbagai kehebohan serta keluh-kesah lucu yang terjadi
di lokasi masing-masing pun usai sudah.
Begitu pun kami yang mengemban tugas mengelola kerja besar ini dapat
sedikit melonggarkan himpitan yang cukup menegangkan. Bayangkan saja
hiruk-pikuk komunikasi
100 penyanyi, 11 pemusik, 7 penari, dan 4 narator/deklamator yang
menyumbangkan suara, permainan musik, ataupun gerak dalam bentuk rekaman
audio dan video dari lokasi masing-masing. Ada saja hal-hal menggemaskan
yang harus diorkestrasi secara cantik dan sabar oleh 8 orang tim kreatif.
Dan semua ini dilangsungkan dalam durasi sekitar 1 bulan saja.
Kini semua menantikan hasil racikan dari para chef dapur audio,
yakni Kang Dudy Duy, dan duo maut dapur video, yaitu Kang Pendy Mulyadi
dan Kang Danne Dhirgahayu. Dan secara anggun, masuk pula bumbu racikan
Dayu Ida Ayu Suci Levi untuk menambah keindahan topping sajian.
Berbagai colekan via FBG AIGL maupun japri tak henti-hentinya menyampaikan
rasa penasaran tentang hasil akhir. "Mana, mana, mana... Pingin lihat."
Jangankan para peserta, kami sendiri pun tak kurang penasarannya. Namun,
dapur audio maupun dapur video ternyata menerapkan sistem kehati-hatian
yang sangat ketat. Kami hanya boleh mengintip sedikit saja dari balik
tirai jendela dengan pesan yang sangat jelas untuk tidak membocorkan
progres yang memerlukan kecermatan dan kesabaran tingkat tinggi ini.
Gedoran rasa penasaran semakin membahana. Waktu menuju peluncuran pun
semakin dekat, tak sampai seminggu lagi. Dapur video semakin
mengintensifkan jadwal kerja. Kedua chef khusyuk dalam tirakat. Dan
kami hanya bisa menanti-nanti di halaman.
Mungkin karena tidak tega menyaksikan kami berhujan-panas menanti di
halaman, akhirnya pagi tadi Kang Pendy berbaik hati memberikan selembar
kolase foto yang diambil dari potongan ratusan video yang tengah diolah.
Dengan pesan, "Beri kami kesempatan memberi sajian terbaik dari bahan baku
yang sudah keren. Please..."
Beginilah kurang-lebih penampilan kece para peserta. Semoga dapat
melunturkan sedikit rasa penasaran sekaligus mendukung semangat kedua empu
yang tengah berjibaku di depan laptop.
3 menit menjelang pukul 24 kemarin (2 November 2020), HP saya berbunyi
menandakan masuknya pesan di WAG. Tidak semua WAG saya aktifkan
notifikasinya, melainkan hanya yang perlu saya ikuti secara intens. Kalau
ada bunyi, berarti ini pesan penting.
Rupanya ada kiriman file suara di WAG "dapur" AIGL Bernyanyi #2. Kang Dudy
Duy pengirimnya.
Seketika pikiran saya menggeliat penuh gairah. Pasti ada progres
signifikan. Karena memang demikianlah gaya Kang Dudy selama kami
berkomunikasi sebulan belakangan ini. Hampir tidak pernah Kang Dudy
menyampaikan kesulitan atau hambatan, bahkan mengabarkan kondisinya yang
sedang kurang sehat pun tidak. Tahu-tahu mengirim hasil kerjanya mengolah
audio yang selalu membuat kami berdecak kagum dan senang.
Singkat saja pesannya bahwa semua rekaman suara sudah dimasukkan. Ibarat
memasak, bumbu sudah diramu dan diaduk dengan bahan makanan dalam panci
penggorengan panas. Tinggal beberapa bumbu yang menunggu giliran
dibubuhkan menjelang matang.
Dengan khidmat saya menyimak hasilnya. Suara 3 deklamator, 100 penyanyi, 1
orator, serta 13 pemusik berpadu kompak dalam sebuah komposisi yang anggun
sekaligus gagah. Instrumen musik modern melantun lincah dan indah
ditingkah nada etnis yang nanti akan menjadi pengiring 7 penari
tradisional.
"WOW!". Demikian kesan saya sehabis mencerna tuntas hasilnya.
Sebagai seorang non-skill di bidang musik, tidak pernah saya bayangkan
projek "lucu-lucuan" ala AIGL ternyata bisa sampai sejauh ini
perjalanannya. Secara pribadi saya takjub dan bangga menemukan sinergi
positif luarbiasa dari para AIGLorins membangun karya bersama.
Tak sabar ingin segera membagikan karya ini kepada kawan-kawan AIGL bahkan
publik. Tetapi kerja belum selesai. Kita masih setengah jalan. Masih ada
proses meramu kompilasi audio ini dengan lebih dari 100 video para
pendukung projek ini. Sebuah pekerjaan besar. Dan tentu saja mendebarkan.
Tapi saya yakin kerja besar ini akan selesai pada waktunya. Wong proses
pengumpulan rekaman suara dan video dalam waktu relatif singkat pun mampu
dipenuhi secara baik oleh semua peserta (tentu saja dengan berbagai
kerepotannya yang saat itu membuat stres namun menggelikan saat kini
dikisahkan).
Seminggu ini Kang Pendy Mulyadi dan Kang Danne Dhirgahayu akan berjibaku
di depan laptop. Mohon doa dan dukungan agar semua dapat berjalan lancar
🙏
Layar sudah dikembangkan. Pantang surut ke belakang.
Besok-besok kita sambung lagi ya. Sudah hampir jam 4. Saya mau tidur dulu.
Pastinya sambil mendengarkan rekaman AIGL Bernyanyi #2 yang keren ini 😊
Sungguh seru ternyata perkembangan projek #AIGLBernyanyi2. Riuh
sangat perbincangan di WAG yang campur-baur antara antusias, bingung,
gaptek, penasaran, serius, bahkan canda-canda. Eh termasuk serbuk-serbukan
juga sedikit..
Interaksi yang intens namun akrab terjalin antara sesama peserta maupun
dengan Mamak Lindes Dumaria Gultom selaku Manager handal yang tidak ada
duanya dalam soal kesabaran dan kerajinan, sungguhlah membuat tenang saya
yang sebenarnya nyaris nol besar dalam soal musik dan nyanyi. Toh selama
ini juga lebih sering bermodalkan nekad dan semangat serta sedikit
provokasi 😁
Waktu yang tergolong singkat tidaklah membuat ciut nyali kawan-kawan. Anak
ITB, gitu lho. AIGL pulak! Deadline mepet mah sudah biasa.
Sekitar 50% dari 107 peserta WAG (ada juga sih beberapa yang pakai 2
nomor) sudah menyetor rekaman suaranya. Bahkan ada yang sudah menuntaskan
PR-nya dengan menyerahkan video sekaligus. Secara umum, hasilnya
menggembirakan. Kami yang menjadi tukang masak di dapur jadi semakin
optimis bisa memenuhi target penayangan di Hari Pahlawan 10 November 2020.
Hari ini adalah batas waktu pengiriman rekaman audio. Semoga sebelum
tengah malam nanti seluruh suara keren para AIGLians (atau bagusnya
kita sebut AIGLOrins ya?) sudah terhimpun sehingga Kang Dudy Duy
bisa langsung tancap gas menjahitnya menjadi sebuah paduan suara yang
dahsyat membahana dan patut dikenang hingga 100 tahun mendatang (contek
slogan Om Rouli Sijabat).
Dan setelah itu, Kang Pendy Mulyadi serta Kang Danne Dhirgahayu berjibaku
menata mosaik video para Tétéh, Akang, Uni, Uda, Kakak, Abang, Mbak, Mas,
Bude, Pakde, dll yang sudah berupaya keras menampilkan wajah paling manis
namun penuh gairahnya.
Warna "pink" yang juga dikenal sebagai "merah jambu" kerap diidentikkan
dengan perempuan/feminin, sehingga sebagian orang menganggap janggal jika
lelaki menggunakan pakaian dengan warna tersebut.
Sebagai orang yang tidak terlalu peduli dengan mode [maupun komentar
orang], saya tidak ambil pusing dengan generalisasi itu. Malah, ketika
masih SD, saya pernah minta dibuatkan rompi rajutan berwarna pink pada ibu
saya.
Selain warna pink, saya pernah memiliki dan menggunakan kemeja merah
marun, biru terang, hijau tosca, kuning, dll tanpa risau. Namun saat ini
di lemari pakaian tidak ada baju berwarna pink (belum saya cek container
pakaian cadangan). Sehingga, ketika muncul celeng pink di AIGL, tak
terpikir oleh saya untuk ikut.
Tahu-tahu, sekitar 2 minggu lalu, ketika mencari kaos yang hendak saya
pakai untuk sebuah acara, tersingkaplah sebuah kaos berwarna pink yang
saya peroleh ketika membantu kawan-kawan ITB 81 menyelenggarakan Festival
II Geopark Belitong tahun 2017 (Om Wahyu Indra Sakti Saidi yang pegang
komando lapangan). Terkait promosi, jelas ada logo Kementerian Pariwisata
berikut slogan Wonderful Indonesia. (Selain kaos pink, saya dapat juga
yang warna ungu dan hijau).
Berhubung saya ada beberapa urusan yang tidak mensyaratkan pakaian
tertentu, saya pakailah kaos berwarna pink itu seharian. Ke Pasar Gembrong
untuk belanja beberapa barang serta mampir melihat kios-kios pasar seni di
situ, ke Bakmi Abun di Kelapa Gading (karena masih kurang pede mau ke
Pasar Baru), ke ITC Kuningan membeli beberapa aksesori gawai, ke Mal
Ambasador.
O ya, sore hingga agak malam di hari itu, sempat juga saya menambah
perbendaharaan nyanyian di Smule dengan kaos pink 🤣
Inilah beberapa foto tepat di hari ulangtahun Pramuka 14 Agustus 2020.
Setelah para warga bubar tunggang-langgang kembali ke dukuh, Ki Ageng
Manik (KAM) tepekur sejenak di halaman. Seperti ada yang mengganggu
pikirannya. Dengan menghela napas panjang, KAM berbalik menuju pondoknya
dan langsung masuk ke dalam tanpa menghiraukan Raden Mas Tomi yang masih
bersila di beranda.
--- Waktu sudah terlalu sempit untuk menuntaskan tulisan, sementara mata
sudah mulai berat. Dengan sangat terpaksa ceritanya ditunda hingga batas
waktu yang belum ditentukan. Mohon maklum. ---
Munculnya 3 gajah idola di Dukuh Alit Galu tentu saja membuat warga
bahagia tak kepalang. Praktis, setiap hari mereka mengunjungi ketiga gajah
yang masih dalam pengawasan Kebayan baru.
Namun, kegalauan segera merebak tatkala mereka sadar bahwa maskot dukuh
hanyalah 1. Artinya, warga harus memilih 1 dari antara 3. Padahal, mereka
sudah telanjur sayang pada ketiganya. Akibatnya, mau-tak-mau, terbentuklah
3 kubu di antara warga.
Dalam situasi senang bercampur galau seperti itu, mereka pun kasak-kusuk
mencari pedoman. Beberapa diantaranya menemui Dayu Ida Ayu Suci Levi yang
tersohor sebagai pakar simbol (seperti Robert Langdon itu lho, simbolog
dari Harvard dalam novel-novel Dan Brown).
Di pendoponya yang sejuk dan asri, ditingkah lirih senandung burung, Dayu
Levi menjelaskan pandangannya dengan bijak-bestari namun penuh wibawa,
sebagaimana dicatat dalam lontar
Pitutur Dayu Levi
Hadirin manggut-manggut menyimak. Nyaris tidak bersuara, bahkan tarikan
napas pun seperti ditahan. Mungkin tak rela mengganggu suara Dayu Levi
yang jernih dan welas asih.
Dengan penuh sukacita mereka kembali ke rumah masing-masing sambil membawa
keyakinan atas pilihan terbaiknya.
Sementara itu, beberapa orang lain, secara diam-diam menemui Ki Ageng
Manik (KAM) yang tinggal menyepi di lereng bukit. Berdesak-desak mereka
duduk di lantai kayu serambi pondok yang kecil.
Tanpa banyak basa-basi, mereka langsung menyampaikan kegundahan hati
mereka.
KAM: "Lah, kenapa musti bingung? Kalian pilih saja yang kalian suka. Tidak
ada yang salah ataupun benar. Wong ini soal selera dan persepsi.
Gitu aja kok repot?"
Warga: "Kami khawatir jika berbeda pilihan dengan para tetua dukuh,
apalagi dengan Kebayan, nanti kami dikucilkan. Apa itu istilahnya?
Diemut ngadimin
ya?" (sambil menoleh ke kiri dan ke kanan mencari dukungan)
Sambil terkekeh, KAM berkata: "Kalian ini aneh-aneh saja. Tetua yang
sekarang bukanlah orang-orang gila hormat dan suka ngemut. Kalau tidak
belajar dari prahara kemarin, pandir banget lah mereka itu.
Kalian sangsi pada Denmas Fadjar Hari Mardiansjah, Om Badru Salam, Chief
Ize Hawkeye, Mbakyu Ratih Christyaningsih, Jeng Riani Perdanasari, Pakde
Darmadji Darmaputra, Kak Betty Simarmata? Semprul tenan koen!
Warga: "Kami hanya ingin harmonis dengan para tetua."
KAM (rada ngambek): "Bahlul banget ente! Yang harusnya harmonis ya
kalian sesama warga. Para tetua bukanlah majikan kalian. Mereka ada di
sana karena dipandang mampu membantu kalian hidup selaras dengan sesama
dan lingkungan. Itu saja tugas mereka."
Nyali mereka langsung ciut kena semprot KAM. Pakai kuah pula semprotannya
😅
Seseorang mengacungkan tangan.
Warga (suara agak tegas): "Permisi, Ki Ageng. Nama saya Manalu. Mohon ijin
bicara, Ki Ageng."
KAM: "Ijin diberikan. Speak freely."
Warga: "Siap, Ki Ageng! Mohon dimaklumi jika sahaya dianggap
ngeyel. Tapi sahaya ingin tahu, ke mana sebenarnya arah pilihan
para tetua. Sebagai pengayom dukuh, tentunya mereka lebih
waskita dibanding kami yang rakyat biasa. Apalagi sahaya yang
terbiasa taat pada perintah atasan."
KAM (mencoba memaklumi): "Hmm.. (sambil mengelus dagu yang tak
berjenggot). Coba kamu jelaskan masing-masing gajah keramat itu."
1. LUTU
LUTU karya Jonathan M.
Warga: "Empu Jonathan M adalah yang pertama membawa gajah dari Taman
Sriwedari. Gajah itu lucunya ampun-ampunan. Lutuna tu de Maxx.
Memang lucu banget, Ki."
KAM: "Centil banget sih kamu! Oke, kita sebut saja namanya si
LUTU. Selanjutnya!"
2. UNO
UNO karya Dody Sagir
Warga: "Empu Dody Sagir mendatangkan gajah imut, lucu, menggemaskan, dan
rada jahil. Namanya UNO yang artinya ..."
KAM (langsung nyolot dengan agak sengit): "Sudah tahu! Gak usah
ngajari saya! Wong waktu muda dulu saya pernah kencan di tukang es krim
Itali kayak Gus Yudhi Azfandiari, jadi tahu bahwa Uno itu artinya satu.
Mau sok ngajari ya, kamu?"
Warga (suara agak lembut, tidak setegas sebelumnya): "Selain itu, UNO
juga bermakna unofficial, karena gajah dukuh sebelah katanya sudah
dikasih stempel
official."
KAM: "Itu tanda KEMUSTAHILAN! Ngerti koen? Mustahil ada
gajah oranye. Mustahil gajah menari balet. Makin dobel mustahilnya.
Tetapi pada kenyataannya Empu Dantje berhasil menghadirkannya di Dukuh
kita. Paham artinya?"
Warga saling tatap tanpa menjawab.
KAM: "Itulah kamu, kamu, kamu, kamu...! (seru KAM sambil menunjuk jidat
satu per satu orang di depannya). Kalian itu adalah contoh
par excellent
kemustahilan.
Kalian itu rupa-rupa. Ada yang berasal dari kampung antah berantah, ada
yang dari metropolitan, ada yang dari keluarga kelas saudagar, perwira,
darah biru, ada yang kere, ada yang ngomong saja belepotan dengan logat
nenek-moyangnya, dsb, dll, dst. Belum lagi masalah usia yang jomplang.
Acak-adut kabeh.
Tapi kalian semua sekarang bisa guyub di Dukuh Alit Galu ini. Saling
canda, saling ejek, saling hibur, saling dukung. Rukun.
Banyak yang bilang semua itu mustahil. Dan memang faktanya di dukuh lain
hil itu memang mustahal. Baru di dukuh kita kemustahilan
itu menjadi kenyataan. Seperti datangnya gajah oranye menari balet itu.
Kita kasih nama si ORIN. Karena itulah aslinya kalian. Original.
Tulen. Apa adanya tanpa penyedap buatan. Bukan kaleng-kaleng. Gak pakai
topeng."
Warga (masih setengah bingung): "Jadi bagaimana, Ki?"
KAM (berdiri sambil meledak): "Apanya yang gimana?
Gemblung kabeh! Tandanya sudah jelas cetho welo-welo!
Masih belum paham juga? Ya amplop! Apa harus saya cambuk pantat kalian?
Sana, sana, bubar!!!" (sambil berdiri dan mengambil cambuk yang
tergantung di tiang beranda)
Warga terbirit-birit berhamburan melarikan diri dari pondok Ki Ageng
Manik.
Hanya tinggal satu anak muda yang masih duduk dengan takzim di lantai
kayu beranda. Namanya Raden Mas Tomi Highfinger, yang pernah menjadi
Pangeran Utama di Kerajaan Mechanix.
Hanya satu malam menjelang peringatan setahun berdirinya Dukuh Alit Galu,
warga digemparkan dengan raibnya gajah kesayangan yang selama ini menjadi
maskot. Walau tak ada yang sempat memberinya nama, namun semua sudah tahu
apa/siapa yang dimaksud jika ada yang menyebut "gajah". Sebenarnya sih ada
julukan generik baginya, yakni Logo.
Usut punya usut, ternyata Kebayan[2] dukuh punya peranan dalam kehebohan
ini. Pada malam naas itu, diam-diam Kebayan membuka kandang Logo dan
membawanya ke perdikan kosong yang baru saja dirambah. Di sanalah si Logo
ditambatkan dan dikawal para petinggi dukuh yang memutuskan bermigrasi ke
tempat baru.
Warga dukuh jadi bertanya-tanya apa maksud dari semua ini. Keguyuban dan
sukacita warga sekonyong-konyong berganti dengan kekisruhan dan
kemasygulan. Berbagai spekulasi serta perdebatan terjadi antar sesama
warga, hingga sempat timbul gesekan horisontal.
[beberapa lembar catatan ini dilewatkan saja karena terkait erat dengan
bab sebelumnya yang belum ditulis 😁]
Tanpa maskot, tentu saja warga jadi sedikit bingung. Apalagi menjelang
peringatan hari kemerdekaan ke-75 Negeri Nuswantara, ada banyak
pertandingan antar dukuh. Terpaksa kaos olahraga, panji-panji, peralatan,
dll disablon tanpa gambar maskot. Kosong melompong. Sungguh
memprihatinkan.
Namun kebingungan massal ini tak berlangsung lama. Secara tak terduga,
beberapa empu budaya yang sekian lama memilih bungkam kini serentak
bangkit bagai gelombang tsunami. Konon, demikianlah kodrat yang sudah
disuratkan sejak purba, "saat kebuntuan melanda masyarakat, maka para
seniman dan filsuf menjadi yang terdepan membuka jalan".
Dengan mengerahkan ajian sakti mandraguna, para empu ini berhasil
memanggil datang beberapa gajah pilihan dari Taman Sriwedari nan permai.
Warga dukuh menyambut sukacita kehadiran para gajah baru. Ada yang lucu,
ada yang jehil, ada yang lincah, ada malu-malu menggoda, ada yang cantik,
ada yang gagah, dsb. Semua menggemaskan.
Trio Orin - Lutu - Uno (TOLU)
Para gajah ini langsung dibawa ke padepokan utama, tempat para tetua dukuh
bermusyawarah. Di sanalah masing-masing gajah ditelaah secara saksama dari
berbagai gatra, termasuk bobot, bibit, dan bebetnya. Primbon warisan
leluhur ditelaah hingga ke pernik paling rinci. Ensiklopedi dan berbagai
rujukan teknik dibabar di atas meja. Bahkan pakar mekanika teknik pun
diundang khusus untuk menjelaskan aplikasi rumusan "statik tak tentu" yang
selalu bikin pusing banyak orang.
Perdebatan hangat yang berkelas mengalir deras diiringi tawa renyah para
tetua. Analisis keunggulan para gajah dilakukan terhadap kemampuan gajah
itu sendiri dalam berkiprah, bukan dengan mengadu gajah satu dengan yang
lain. Lah, sudah jelas masing-masing punya kekhasan.
Setelah beberapa hari bermusyawarah, para tetua dukuh mengumandangkan
hasilnya ke seantero dukuh, termasuk pada diaspora yang sedang melanglang
ke mancanegara. Intinya adalah tentang 3 gajah yang terpilih sebagai
kandidat maskot dukuh.
Babad Kisah/riwayat/sejarah/chronicle.
Dukuh Desa/dusun.
Alit Galu Konon nama ini merupakan singkatan dari ALumni ITb
GAris LUcu, yakni sebuah komunitas ideal yang sering diceritakan dalam
legenda. Bisa jadi mirip dengan masyarakat Atlantis yang dikisahkan oleh
Plato.
[1] Kalimat sengkalan Seperti pepatah/peribahasa dalam
bahasa Kawi, namun sesungguhnya merupakan sandi yang berfungsi sebagai
petunjuk tahun. Dibaca dari belakang ke depan.
Sirna = 0, hilang Dresthi = 2, ingkar janji
Luhur = 0, mulia Ngabekti = 2, bakti.
"Hilangnya keingkaran memuliakan pengabdian."
0202 dimaknai sebagai tahun 2020. (Tapi pakai tahun Masehi ya, bukan
Tahun Saka. Segini saja saya sudah pening, jangan dituntut lebih 😌)
[2] Kebayan penanggungjawab keamanan desa. Setara Kapolres
di masa kini, meureun. Tapi, belakangan ini sang Kebayan malah
menganalogikan diri sebagai anjing penjaga. Entah kenapa.
Keknya gak sedikit kawan di AIGL yang pernah bersinggungan hidup dengan
Bali berikut kesehariannya.
Ada anneke prasyanti dengan kisah seputar pembangunan GWK, Laksmi Palupi
dengan kisah behind the scene di pura, Triono Andi Wibowo yang pernah lama
di Bali, maupun Ida Ayu Suci Levi yang pastinya dekat sekali dengan napas
Bali, atau Anastasia Tisiana yang pernah menari Bali di atas kapal menuju
Antartika, bahkan Montes Gultom yang nyaris menceburkan diri di Danau
Bratan (untung insyaf bahwa berenang bukanlah salah satu kemahirannya) ..
😊
Dan menurut dugaan saya sih Kang Taruna Adji sang penjelajah maupun Mas
Lukas Muliyono sang perambah pasti juga punya cerita asyik tentang Bali.
Bali itu kaya dalam banyak hal. Bukan sekadar beach, sunset, sunrise, pub,
apalagi sekadar kuliner dan party. Bahkan keindahan tari maupun karya yang
ternikmati kasatmata pun lebih rumit dari yang terlihat. Dalam istilah
lain, kaya misteri dan spiritualitas. Sementara spiritualitas itu sendiri
seakan merupakan hirupan napas bagi Bali sejak pagi hingga pagi.
Salah satu hal yang sering dikaitkan dengan Bali adalah Barong. Menurut
ceritanya, Barong adalah sosok protagonis yang mengalahkan Rangda (Calon
Arang) yang digambarkan sebagai perempuan jahat, jelek, ratu para Leyak.
Dan Leyak itu sendiri terasosiasi sebagai ikon sisi gelap Bali.
Nah, menariknya, walau dianggap sebagai sosok antagonis, ternyata wajah
Rangda ataupun Leyak dengan mata melotot dan lidah terjulur banyak dipakai
pada berbagai gambar maupun topeng hiasan/cinderamata. Apakah ada yang
luput dari dikotomi biner benar-salah, hitam-putih? Halmana dualitas
semacam ini bukan merupakan situasi yang saling meniadakan dalam
perspektif spiritualitas. Jangan-jangan malah merupakan syarat keberadaan.
Begitukah, Suhu Ombad Badru Salam?
Apakah ini juga merupakan suatu penyingkapan atas misteri yang kian
disadari, sehingga belakangan ini muncul versi yang berpihak pada Rangda,
yang dipandang sebagai korban dari sistem patriarkhi?
Entahlah.
Rasanya makin seru dan penasaran menyimak tabir di balik tabir. Apapun
yang ada di dimensi terakhirnya.
Mungkin ada kawan-kawan yang bisa serta berkenan berbagi kisah tentang
Barong, Rangda, Leyak?