📌 Minggu, 31 Mei 2026 🌐

Perempuan di Titik Nol

Perempuan di Titik Nol

"Tak bisakah Abang tidak mengritik saya?" tanyanya.

Sangat tak kusangka mendapat respon seketus itu. Padahal tak sedikit pun niat menggugat keputusan yang diambilnya. Kalaupun pandanganku cukup sering berbeda dengan jalan pikirannya, tak lain dari upaya mengajaknya lebih realistis menyikapi situasi yang berlangsung.

Dia baru saja mengakhiri kebersamaan rumah tangganya tanpa pegangan memadai, konon pula jaminan untuk hari-hari mendatang. Sementara dia tak punya penghasilan pribadi yang ajeg selama sekian tahun terakhir.

Di satu sisi, ada sedikit suka cita menampak eforia seorang pejuang yang berhasil mematahkan belenggu tua. Namun di sisi lain, dia ibarat seekor burung kecil yang ingin pulang saat senja namun sarangnya telah musnah bersama hangusnya hutan. Ketegangan antara keduanya acap membuatku gamang.

Segalanya harus mulai dari nol, yang diakuinya merupakan kegentaran tersendiri yang sering muncul sebagai hantu penyemai kesangsian atas keputusan yang sudah telanjur diambil.

"Bisakah saya mengejar mereka yang sudah melangkah jauh selama saya terjebak belasan tahun dalam kerangkeng kenihilan?" untuk kesekian kali dia ungkap keraguan berbalut kepedihan, mengingat di masa lalu justru dia yang biasanya terdepan dalam berbagai hal dibanding kawan-kawannya.

"Kamu pernah bikin acara besar dan heboh yang idenya mendadak muncul, sedangkan waktunya tinggal beberapa hari. Dengan kemampuan meyakinkan kawan-kawan yang setia dibarengi ketekunan kamu dalam komitmen, nyatanya berhasil," kucoba menggiring ingatannya dengan mencuplik satu peristiwa dari untaian panjang kisah masa lalu yang pernah dia ceritakan. Sengaja kuambil episode yang berbeda dari yang sudah pernah kugunakan agar dia tidak membantah dengan alasan yang sama 😜

"Itu kan dulu waktu masih mahasiswa, gak ada beban kalaupun gagal. Sekarang adalah soal kehidupan nyata yang entah tersisa berapa lama lagi, yang saya tak mau membingkainya dengan kegagalan kesekian kali." Ternyata dia masih punya amunisi perlawanan.

"Kamu belum kehilangan sentuhan ajaib kamu," putusku.

"Ah, Abang sok tahu," rajuknya.

Aku hanya bisa meringis agak kecut mencoba menepis keraguanku sendiri.

"Belasan tahun kamu mampu bertahan dalam kenyataan yang amat bertolak belakang dengan mimpi maupun kemampuan kamu," balasku setengah menohok sikap tak berdayanya demi mengusik egonya.

"Maksudnya?"

"Kamu bisa menabahkan diri menggenggam harapan walau kepastian hadirnya berkas cahaya nyaris nol andai tetap tinggal dalam terowongan. Kamu berhasil menjaga api jiwa kamu tetap bernyala."

"Mungkin karena saya bodoh dan hanya berilusi," keluhnya. Gaya merendahkan diri yang sering kubilang menyebalkan.

"Itu adalah masa yang tak semua orang mampu melaluinya dengan istimewa," kali ini aku mencoba bersikap lunak.

Sekian lama dia tak punya penjelasan mengapa bisa terhanyut untuk menekan harga diri hingga ke titik nadir. Entah demi apa. Seperti tersihir. Tak pernah mencoba mencari alasan meninggalkan jalan yang sudah dipilih, yang kemudian dia sadari tak membanggakan apalagi membahagiakan.

"Abang membuat saya berani mengakhiri ilusi itu meski tak ada kepastian apapun setelah keputusan itu. Malah saya gak punya apa-apa."

Semua memang berlangsung cepat. Sikap pasrah bermetamorfosis menjadi tekad yang kian membesar secara eksponensial hanya beberapa bulan sejak kami saling kenal. Padahal yang kulakukan selama itu tak lebih dari mereproduksi album masa mudanya yang penuh warna dengan memberikan catatan kaki perihal potensinya yang masih relevan untuk masa kini tatkala usia tak lagi muda.

"Keberanian ini yang dulu membuat kamu menorehkan kemenangan dan kenangan. Saya percaya keberanian ini masih menyertai kamu untuk membangun kisah baru."

"Mungkin keberanian konyol," gumamnya datar.

Aku hanya mengangkat sebelah alis, enggan menyimpulkan apa-apa.

"Menurut Abang saya bisa melalui semua ini?" keraguannya membuncah lagi namun sekaligus menjadi isyarat adanya upaya meraih pegangan lebih kokoh.

"Hanya jika kamu komit pada semua janji kamu."

"Kalau Abang percaya, cobalah untuk tidak mengritik apa yang saya lakukan," tembaknya ulang.

"Saya hanya berpikir yang terbaik bagi kamu," sahutku setelah diam beberapa saat.

"Tapi kan saya yang menjalaninya, bukan Abang."

"Saya khawatir."

"Soal apa?"

"Kamu sendirian."

"Saya tahu. Dan itu memang menakutkan. Tapi biarkan saya menikmati hari-hari berdasarkan keputusan saya, baik senang maupun susah, setelah sekian lama bahkan tak punya hak atas kata-kata saya sendiri."

Sudah agak lama kusadari bahwa pertemanan kami merupakan kesempatan baginya memacu proses kembalinya kepercayaan diri untuk bersikap setelah sekian lama terbiasa menempatkan diri sebagai alas kaki yang selalu salah dalam setiap persoalan. Kini dia sedang membiasakan diri menata argumen dan rasionalitas perlawanannya sendiri dengan aku sebagai mitra latih.

Aku pun tersenyum. Pantaslah sikapnya amat kontras dengan sebelumnya.

Kuharap apapun yang terjadi nanti adalah konsekuensi terukur yang akan memandunya ke kedewasaan, menggantikan tahun-tahun gelap yang demikian ganas mengikis kemandiriannya. Semoga hakikat diri yang pernah hadir di masa mudanya segera terbangkitkan untuk sigap mengenali tanda-tanda hari sehingga kesalahan sekalipun tak mudah menyurukkan ke sudut fatal.

"Berjanjilah," pintaku pelan.

"Janji apa?"

"Ketika keraguan bahkan penyesalan mulai mengusik, ingatlah bahwa saya selalu bersamamu meski pada saat kita tak bersama."

Matanya memandangku. Lapis bening perlahan mulai menggenang.

"Bermurahhatilah sejenak pada saya, Bang," bisiknya.

Aku pun maklum bahwa janji itu tak perlu diucapkan.

📌 Minggu, 31 Mei 2026 18:45 🌐 Kopi Temu

📌 Senin, 11 Mei 2026 🌐

Kado ti Bandung #1

<i>Kado ti Bandung</i> #1

— Detik-detik Menjelang Pencoblosan

Usai sudah perhelatan akbar Perkumpulan Lions Indonesia Distrik 307 (Indonesia) bertajuk Konvensi Tahunan Ke-50 yang diselenggarakan di Kota Bandung dan sekaligus dipadukan dengan Konvensi Tahunan Ke-15 Distrik 307-A1.

Semua peserta sudah kembali ke tempat masing-masing dengan membawa pesan, kesan, kenangan, dan nilai yang semakin melebarkan perspektifnya mengenai Perkumpulan Lions secara luas hingga peran personalnya dalam kelompok terkecil, yakni club.

Dari rentetan kegiatan yang cukup padat sejak pagi sampai malam selama tanggal 7 hingga 10 Mei 2026, ada 2 mata acara yang --menurut pendapat dan minat saya-- sangat krusial bagi organisasi, yakni :

  1. Mosi untuk perubahan beberapa bagian dari AD/ART, dan
  2. Pemilihan pucuk pimpinan Distrik 307; yakni District Governor (DG), First Vice District Governor (FVDG), dan Second Vice District Governor (SVDG).

Yang pertama merupakan panduan dan koridor penyelenggaraan organisasi, sedangkan yang kedua adalah tim pimpinan tertinggi yang akan memandu arah organisasi agar bertumbuh-kembang dalam koridor tadi.

Untuk urusan AD/ART, nanti sajalah bahasannya. Tak banyak yang tertarik urusan detail dan njlimet begini 😁 Saat ini saya ingin cerita soal pemilihan SVDG yang kebetulan diikuti oleh 2 orang kandidat.

Let's start ...

Pengetahuan saya amatlah minim terkait siapa dan apa rencana para kandidat bagi organisasi. Saya hanya berkesempatan mengikuti kampanye secara tak langsung melalui WhatsApp Group. Adapun informasi tambahan, apalagi yang behind the scene, saya peroleh dari Presiden saya di Starlight (maklumlah, namanya juga orang baru, jadi masih culun 😁).

Kartu Delegasi berwarna merah sudah saya pegang, sehingga saya punya kewajiban moral untuk memilih alias TIDAK GOLPUT!.

Kok gitu? Gimana penjelasannya?

Menurut kacamata saya, Lions memiliki mekanisme penjaringan dan penyaringan yang harusnya sih tidak perlu dipertanyakan lagi mutunya. Reputasi dan kompetensi para kandidat telah teruji serta terpuji di bidang masing-masing dalam kurun waktu memadai sehingga dianggap layak untuk jabatan tersebut. Intinya, mereka semua adalah yang terbaik dalam berbagai aspek organisasi menurut versi Lions.

Maka tidaklah mudah bagi saya membandingkan kiprah keduanya secara matematis (not apple to apple). Di sisi lain, kekuatan masing-masing kandidat --sekali lagi menurut pendapat saya-- amat dibutuhkan oleh organisasi dalam memacu kemajuan dan perkembangan.

Jadi, terus terang, saya masih belum menentukan pilihan final hingga saat-saat terakhir. (Sampai diomelin Presiden saya. Hapunten, Pres 🙏)

Masalahnya, saya harus memilih siapa?

Paparan oleh Sekondan mengenai kandidat yang didukungnya serta pidato para Kandidat menjelang saat pencoblosan adalah kesempatan terakhir bagi mereka maupun pemegang suara untuk memantapkan pilihan.

Sudah dapat diduga bahwa 3 menit paparan Sekondan maupun pidato para kandidat selama 5 menit cenderung normatif mengenai pribadi, potensi, kinerja, prestasi, dedikasi, dan bla bla bla lainnya. Kendati demikian, saya yakin pasti ada yang unik di sela template pidato. Itu yang saya cari!

Maka saya menyimak dan mencatat dengan penuh perhatian apa yang mereka sampaikan (hingga dicolek kawan semeja yang melihat saya orat-oret di buku catatan 😁). Apa boleh buat, saya mengemban 1 suara mewakili Club Starlight yang harus saya pertanggungjawabkan secara moral dan rasional.

Saya berdehem kecil ketika seorang kandidat menegaskan prinsip bahwa yang lebih penting baginya "bukanlah siapa saya, melainkan untuk apa saya".

Walau belum cukup jelas bagaimana detail implementasinya, kelihatannya Sang Kandidat lebih berfokus pada peran dan proses fungsional ke masa depan tinimbang terjebak eforia pencapaian yang sudah menjadi masa lalu.

Kemudian Sang Kandidat memproklamasikan komitmennya untuk bekerjasama dan mendukung DG terpilih (halmana merupakan komitmen semua kandidat, termasuk FVDG). Namun tidak berhenti sampai di situ. Sang Kandidat mengimbuhi pernyataan tersebut dengan frasa tegas "akan loyal dalam berbagai situasi".

Di sini saya berdehem untuk yang keduakali.

Memilih pimpinan tertinggi yang tak sepaket dengan wakilnya (dipilih sendiri-sendiri) mengandung konsekuensi yang cukup riskan. Masing-masing berangkat dengan visi dan rencana aksi sendiri, masing-masing punya basis massa pendukung. Perlu sinkronisasi dan harmonisasi yang tak semudah omon-omon. Jika mereka gagal sejalan, runyamlah urusan organisasi di masa depan. (IMHO, harusnya sih urusan kayak gini gak mungkin terjadi di Lions lantaran bukan ormas politik ataupun bisnis.)

Saya tidak akan berpanjang-lebar lagi membahas kemungkinan ini-itu dengan mengkhayalkan bakal begini-begitu di masa depan. Kedua deheman tadi sudah cukup menjadi petunjuk bagi saya untuk mencoblos siapa pada kartu suara berwarna biru.

Mengapa demikian?

Simpel aja sih. Karena saya ingin kepemimpinan DG terpilih, Solida Adby Ramly, di periode 2026 - 2027 sukses gemilang dan membanggakan. Menjadi pelari terakhir dalam estafet Mission 1.5* bukanlah peran ringan, sehingga butuh tim solid yang sehati dan sepemahaman dalam satu derap tanpa terdistrak berbagai hambatan apalagi friksi berbasis ego.

Demikianlah.

* 1.5 mission adalah target tercapainya jumlah anggota Lions sebanyak 1,5 juta orang di seluruh dunia pada tahun 2027.

Apakah kisah sudah selesai seiring usainya pemilihan? Ternyata belum, sodara-sodara ... 😁

📌 Senin, 11 Mei 2026 10:58 🌐

📌 Jumat, 01 Mei 2026 🌐

Sebuah Hari Nihil Keluh

Sebuah Hari Nihil Keluh

Today is May, But Not A Mayday

[ 1 ]

Memandikan Baba

Memandikan Baba

Sudah hampir tengah hari. Saya lihat Baba, anjing kami, duduk di ruang tengah tak memakai rompi sebagaimana biasa.

"Kok gak pakai baju?"

"Mau dimandikan," sahut Riris.

"Sini, biar saya yang mandikan," kata saya sambil menggendong Baba ke kamar mandi sementara Riris menyiapkan shampoo dan handuk Baba.

Usai memandikan dan mengeringkan Baba, giliran saya mandi.

Awalnya saya berencana ikut acara pemilihan Ketua Umum Perkumpulan Gaja Toba Semesta (PGTS, sebuah wadah gerakan sosial para alumni ITB beragama Kristen yang keturunan Batak) yang diselenggarakan siang ini. Seusai acara, saya akan lanjut ke rumah Lisna[1], adik saya yang tinggal di Bogor, untuk mengantarkan barang pesanan yang kemarin sudah tiba dari toko daring (online).

Tetapi karena tak kunjung menerima kode untuk mengikuti pemilihan, saya pun batal datang ke lokasi acara.

Sehabis mandi, leyeh-leyeh sejenak sambil membaca pesan di WhatsApp.

Melihat saya masih berselonjor santai, Riris meminta saya membantunya membersihkan lemari es. Mumpung tak ada agenda mendesak, saya pun mengiyakan.

Usai mencuci rak-rak akrilik lemari es sehingga tampak bening kinclong, saya bereskan tas kecil yang akan dibawa dengan sedikit bergegas karena langit sudah mulai mendung dan guntur sesekali memproklamasikan kehadirannya setengah malu-malu.

[ 2 ]

Dengan ojek motor saya berangkat menuju stasiun Tebet. Warna kelabu masih menggantung di langit.

Tak lama menunggu, kereta jurusan Bogor tiba. Gerbong agak penuh tapi tak sampai berdesakan seperti sarden. Karena tak ada kursi kosong, saya pun berdiri tanpa mengeluh.

Tepat di depan saya berdiri sepasang lelaki dan perempuan, entah pasangan suami istri atau masih berpacaran. Si perempuan setengah bergantung melingkarkan kedua tangannya di leher sang lelaki. Sambil mereka mengobrol, kadang si lelaki mengusap wajah atau kening si perempuan. Mesra sekali.

Setengah perjalanan, hujan turun. Semakin lama semakin deras. Wah, gawat nih kalau hujan tak berhenti. Apalagi Bogor kan pelanggan setia hujan.

Stasiun Bogor

Stasiun Bogor

Benar saja. Sesampai di Stasiun Bogor, hujan turun dengan penuh semangat. Di beberapa lokasi tampak ember mulai penuh menampung air bocor dari atap. Kelihatannya sih bukan kebocoran baru tapi entah kenapa belum juga diperbaiki. Selain tak elok dipandang, juga berbahaya karena membuat lantai semakin licin. (Jangan pula ada yang komen, "Terminal 3 bandara internasional Soekarno - Hatta saja bocor." 🙈)

Biasanya begitu keluar dari stasiun saya langsung naik jembatan penyeberangan orang (JPO) lalu berjalan sedikit hingga depan toko Eiger. Dari situ barulah memesan transportasi daring. Ternyata jembatan ditutup dengan pagar besi. Tampak permanen.

Menurut petugas di stasiun, orang harus menyeberang jalan raya menerobos kepadatan lalulintas. "Jembatan sudah lama rusak," tambahnya. Aneh sekali keputusan pemerintah yang mengelola Kota Bogor ini. Alih-alih memperbaiki jembatan yang sungguh diperlukan manusia, kok malah menutupnya 😕

Jadi repot juga menentukan titik jemput jika memesan transportasi daring. Selain akan membingungkan karena penumpang dan pengemudi harus saling mencari untuk menemukan satu sama lain, juga berpotensi menambah kemacetan lalulintas di derasnya hujan. Apalagi pintu keluar stasiun yang hanya satu-satunya itu langsung berhadapan dengan jalur angkot yang super padat dan macet. Makin ribet dah ...

[ 3 ]

Setelah bertanya pada pedagang di stasiun, saya sangat bersyukur karena angkot yang mangkal di pintu stasiun ternyata rutenya melewati Jalan Suryakencana yang dekat dengan rumah adik saya. Maka, dengan langkah cepat sejarak 3 meter saja saya pun sudah masuk angkot. Memang agak basah sedikit terguyur hujan.

Tak lama menunggu, seorang penumpang terakhir naik sehingga angkot pun berjalan.

Sepanjang perjalanan, saya merenung. Berulang kali saya selamat sampai tujuan tanpa kehujanan. Bahkan tadi malam pun saya beruntung hujan berhenti saat hendak pulang ke rumah. Lantas, haruskah mengeluh ketika kali ini mengalami kehujanan di tengah jalan? Ah, sungguh tak sepadan. Nikmati saja ...

[ 4 ]

Angkot tiba di mulut Gang Aut, Jalan Suryakencana. Saatnya turun.

Rasa lapar tiba-tiba muncul. Mungkin dingin akibat hujan membuatnya makin terasa. Maka saya masuk ke rumah makan Ngohiang yang dulu cukup sering saya mampiri karena menyediakan es pala (yang mengingatkan pada masa kecil ketika sering jajan es pala di depan pagar sekolah).

Ngohiang

Ngohiang

Usai menghabiskan seporsi ngohiang panas dan meneguk habis segelas es pala, saya ke kasir untuk bayar.

"Bisa pakai QRIS?" tanya saya.

"Hanya bisa cash," jawab kasir.

"Walah ... Apa kalian masih hidup di zaman batu? Pedagang ketoprak dengan kereta dorong saja sudah pakai QRIS," ujar saya setengah heran hampir mengeluh.

Bukannya tanpa alasan, melainkan saya sudah sangat jarang mengisi dompet agak banyak karena sudah kebiasaan bertransaksi secara daring. Semoga masih ada uang yang cukup untuk membayar makanan dan minuman yang telanjur disantap.

Beruntung masih ada beberapa lembar sepuluh ribuan yang jumlahnya pas dengan tagihan. Puji Tuhan! Kenangan indah masa kecil mengenai manisnya es pala tak berubah jadi tawar akibat keluhan 🙏

Di luar hujan sudah mulai reda walau masih menyisakan gerimis.

[ 5 ]

Dengan berjalan kaki saya menuju rumah Lisna dan tiba di sana dalam beberapa menit. Lisna dan Patrick, anak sulungnya yang baru lulus SMA, menyambut. Peter, suami Lisna, sedang tak di rumah karena ada tugas ke luar kota.

Kami duduk di sofa ruang tamu. Setelah menyerahkan barang yang menjadi alasan saya ke Bogor, kami pun ngobrol ini-itu dengan hangat. Patrick membuatkan saya kopi pahit panas yang saya teguk dengan nikmat.

Kelihatannya hujan memang berefek luar biasa pada rasa lapar. Baru sekitar 1 jam ngobrol, perut sudah minta diisi lagi. Patrick pun memesan makanan secara daring untuk diantar ke rumah. Mereka sudah tahu bahwa kesukaan saya adalah mie goreng.

Tak lama kemudian lauk-pauk pesanan tiba. Tapi saya tunda sejenak proses alamiah penanggulangan lapar demi menunggu Clara, anak kedua sekaligus bungsu, yang sedang dalam perjalanan pulang dari kegiatan sekolah.

Makan malam di Bogor

Makan malam

Setelah Clara tiba, kami pun duduk bersama mengelilingi meja makan bundar.

Patrik mengisi piring Lisna dengan nasi serta lauk-pauk. Saya memperhatikan dengan sedikit haru. Adik saya yang sudah sangat minim daya penglihatannya memiliki ketergantungan dalam banyak hal pada orang-orang di sekitarnya.

Sungguh saya sangat bersyukur, sepanjang yang saya tahu dan lihat, tak pernah seorang pun anggota keluarga Lisna mengeluhkan kondisi yang mereka jalani ini selama sekian tahun. Kiranya kami semua dijauhkan dari dukacita seperti itu 🙏

Kami pun makan dengan suka cita setelah doa yang dipimpin Clara. Usai makan, kembali ke ruang tengah untuk melanjutkan ngobrol sambil menuntaskan kopi.

[ 6 ]

Sekitar jam 20, artinya sudah sekitar 4 jam di sana, saya pun berpamitan. Hujan sudah berhenti, maka cukup aman untuk menggunakan jasa transportasi motor menuju stasiun.

Setiba di Stasiun Bogor, kereta sudah tersedia. Sekejap kemudian kereta pun melaju menuju Jakarta. Kali ini tak ada yang istimewa. Tampaknya semua orang sedang asyik ataupun terjebak dengan pikiran masing-masing.

Saya turun di Stasiun Tebet dan melanjutkan perjalanan ke rumah dengan ojek motor.

Sesampai di rumah, Baba sudah menanti di depan pintu. Bermain sebentar dengan Baba, lalu mandi.

Sambil mengaduk kopi, saya buka laptop untuk menuliskan kisah hari ini. Kisah tentang sebuah hari yang berhias beberapa aksen dinamis namun tanpa satu pun keluhan. Sungguh karunia yang teramat indah.

[1] Kisah tentang Lisna ada di Les Misérables #1 dan Les Misérables #2.

📌 Jumat, 01 Mei 2026 22:26 🌐

📌 Minggu, 19 April 2026 🌐

Kuntum Hening Abadi

Kuntum Hening Abadi

"Kamu di rumah?" langsung begitu suara pertama yang terdengar ketika panggilan ponsel kuterima. Sungguh tanpa basa-basi.

Dia satu-satunya orang yang kadang memanggil dengan sapaan "Abang", kadang bertukar dengan kata ganti orang kedua, "kamu". Sekena rasa hatinya saat itu. Bukan karena sedang tak suka.

"Iya," sahutku.

Hari masih pagi. Namun jalan di depan rumah sudah cukup bising dengan lalu-lalang orang yang hendak pergi bekerja, sekolah, ataupun mengurus persoalan masing-masing. Tukang cakwe di pinggir jalan pun masih belum tuntas membenahi tendanya.

"Bisa keluar sebentar?"

"Ada apa?"

"Ada yang mau saya berikan."

Aku pun beringsut bangkit dari sofa dan beranjak ke luar rumah.

Dia menanti di pinggir jalan sambil duduk di sadel sepedanya. Helm serta kacamata balap tentu saja melengkapi jersey dan celana pendek sport. Dan sebagaimana kebiasaannya, ransel selalu bertengger di punggung.

"Kapan balik?" tanyaku karena tahu dia kemarin pergi naik gunung bersama beberapa kawannya di grup pecinta alam.

"Tadi malam," sahutnya.

Tanpa banyak bicara dia ulurkan seikat kecil bunga terbungkus plastik berlilit pita keemasan.

"Edelweis," gumamku.

Dia tersenyum kecil memperlihatkan gigi gingsulnya.

"Saya petik kemarin sore. Teringat Abang."

Agak kikuk kuraih bunga itu sambil berharap orang lewat tak terusik dan mengernyitkan kening atas adegan kontraversi ini karena biasanya pihak lelakilah yang memberikan bunga.

"Kamu tahu makna bunga sederhana ini?" tanyaku.

"Apa saya sebodoh itu menurut Abang?"

Aku hanya meringis. Sudah pasti dia tak bodoh untuk paham arti simbolis bunga Edelweis. Sehingga, pastinya dia juga tak bodoh memaknai pemberian ini padaku.

Berlangsung sepagi ini, di kesempatan pertama yang bisa dia lakukan. Tentu sesuatu yang sangat berarti. Bukan ketergesaan, lebih merupakan gejolak rasa yang tak sanggup dihalau.

"Ada lagi," katanya.

Dia membuka kantung luar ranselnya dan mengeluarkan sebentuk gelang anyaman benang 4 warna.

"Ini tak sengaja ketemu waktu kemarin membereskan laci. Saya buat sudah lama sekali, saat mengisi hari dan hati yang kosong. Waktu itu tak terpikir untuk siapa. Kini saya tahu kenapa dulu membuatnya," katanya sambil melonggarkan simpul gelang itu.

Kuulurkan lengan dan dia pasangkan di pergelangan tangan kananku.

"Rasanya seperti dilamar," gurauku menggoda.

"Kenapa? Gak suka?"

Ketus seperti biasa dan aku tak pernah punya hasrat untuk tersinggung padanya.

"Kalau saja ..." gumamku lirih sambil berlindung di balik kamuflase seringai lebar.

"Ya ..." sambungnya sepaham.

Aku memandangi wajahnya. Mencoba menembus tabir jiwa melalui bola matanya. Dalam hening yang amat rapuh. Begitu pun dia. Tanpa sentuhan. Sepenuhnya hanya diam saling pandang.

Sampai akhirnya dia sunggingkan senyum khasnya. Tak ada perih dan sesal.

"Saya jalan dulu ya," pamitnya.

Aku mengangguk kecil. Berat. Terasa sangat tak berdaya. Sekejap bisa kurasakan betapa dingin serpih keabadian yang tak pernah sanggup mewujud menembus dinding mimpi.

Hingga beberapa jenak aku masih berdiri tepekur di pinggir jalan. Nyaris tak berkedip memandangi dia mengayuh sepedanya dengan pelan, semakin jauh, hingga akhirnya hilang di kelokan jalan. Seperti perpisahan tanpa lambaian.

Orang kian banyak berlalu-lalang di sekitarku. Namun tak kudengar suara. Sunyi sempurna. Amat lama.

📌 Minggu, 19 April 2026 00:55 🌐 Bandung

📌 Minggu, 12 April 2026 🌐

Senjakala Cahaya Bening

Senjakala Cahaya Bening

— Artefak Hadirmu

Senjakala Cahaya Bening

Senjakala Cahaya Bening

Kita duduk bersisian menghadap ke jalan lengang tanpa saling pandang. Satu dua orang lewat di kejauhan terpaut jeda waktu lumayan panjang.

Kurasa sudah kelewat lama keheningan membelenggu. Hingga akhirnya mulutku tak tahan mendesiskan bisikan pelan, nyaris seperti keluhan yang sangat berhati-hati.

"Ada yang berubah."

Kamu diam.

Aku menyambung, "Tanpa penjelasan, kamu abaikan semua pesan saya di WhatsApp. Seperti ada yang kamu hindari. Berhari, minggu, hingga bulan."

Masih diam. Sekarang wajahmu sedikit menunduk menatap ujung sepatumu.

"Apa yang salah? Kalaupun ada, kan kamu bisa tegur langsung seperti yang sudah-sudah. Dan kamu tahu persis, tak sekali pun saya pernah mempersoalkan protes bahkan marahmu."

Tetap diam.

Kunyalakan sebatang rokok kretek dan membiarkannya membara tanpa dihisap di antara jari telunjuk dan tengah. Menunggu kamu bicara. Terbakar hingga setengahnya secara percuma.

Bergeming. Tak jua ada reaksi.

Rerumputan tempat kita duduk terasa kian dingin. Senja pun seperti enggan mengalirkan angin. Terasa agak menyesakkan.

Dan keheningan ini sangatlah menyebalkan.

"Berkali-kali kita janji ketemu hanya untuk makan siang di berbagai tempat yang menurutmu layak didatangi. Kemudian ngopi sepanjang sore dengan perbincangan yang kadang tak berbobot namun kerap juga menuntut perenungan mendalam hingga kita berdebat. Lalu kita berpisah kala matahari kian redam dalam kelam, saat saya antar kamu ke mobil atau stasiun kereta atau suamimu menjemput."

Tak sabar, aku lanjutkan.

"Kamu tentu masih ingat, pernah kita habiskan hari sejak pagi sekali di rumah kacamu. Lantas kita genapi sore di kawasan suaka Selatan kota. Hari terbaik kita, menurut saya."

Kuhisap dalam-dalam rokok yang terbakar percuma itu lalu memadamkan puntungnya di tanah.

"Saat itu tabir kabut yang turun membaur dengan ruap kopi panas di cangkir yang kita genggam erat karena udara teramat dingin. Dan saya bertanya, 'Sampai kapan kita bisa terus seperti ini?'. Kamu jawab, 'Selama Abang tak membawaku paksa ke tempat yang tak kuinginkan'."

Kamu, perempuan yang biasanya energik bertabur aura suka cita, kini hanya tepekur di sampingku dengan pandangan lurus menatap ujung sepatu putihmu.

"Saya tidak pernah memperlakukan kamu tak senonoh. Menyentuhmu pun sebatas wajarnya antarsahabat. Paling banter menggandeng, cium pipi saat jumpa dan berpisah," sambungku dengan canda mencoba menyibak kekakuan.

Ujung bibirmu sedikit tertarik dalam makna sangat sumir antara senyum dan perih.

"Bicaralah," pintaku penuh harap kamu tak membatalkan niat.

Lalu mulutmu mendesirkan kalimat singkat yang sangat pelan, nyaris seperti kepedihan yang amat rentan.

"Abang tak sayang aku."

"Kok gitu?" tanyaku kaget.

"Setelah sekian lama ..."

Jeda sejenak.

Lalu kamu lanjutkan dengan desir yang tetap pelan.

"... Abang tak pernah menciumku."

Sontak kepedihan itu melompat pindah ke ulu hatiku.

Kelu.

📌 Minggu, 12 April 2026 23:03 🌐 Melak

📌 Kamis, 29 Januari 2026 🌐

Nevermore

<i>Nevermore</i>

— Mahakarya yang Diabaikan

Battle of The Bands: UI vs ITB

Banyak yang bisa menyebutkan lagu-lagu karya Queen, grup band asal Inggris, yang populer seantero jagat. Sebut saja "Bohemian Rhapsody" yang masuk jajaran lagu legendaris sepanjang masa. Juga "Love of My Life", "We are The Champions", "I Want to Break Free", "Crazy Little Thing Called Love", dan sederet lainnya.

Namun, menurut dugaan saya, hanya segelintir yang mengenal lagu "Nevermore" (dari album Queen II, 1974) yang rilis pada masa Freddie Mercury masih asyik dengan lirik bertema dongeng (fairy tales) dibalut kekhasan operatik penuh harmoni.

Di sisi lain, tak sedikit penggemar yang menobatkan lagu ini sebagai mahakarya terbaik yang indah dan intim, mewakili momen kejeniusan yang sempurna dengan arsitektur yang kompleks, berlapis, dan artistik. Hanya saja, lagu ini kerap menjadi permata tersembunyi yang terabaikan (underrated). Bisa jadi karena durasinya yang sangat singkat.

Saya jadi penasaran, apakah band ITB ataupun UI berkenan menyisipkan 79 detik waktu mereka untuk membawakan lagu ini dalam Battle of The Bands pada tanggal 30 Januari 2026 esok di Balai Sarbini.

Sungguh bikin penasaran 😎

There's no living in my life anymore
The seas have gone dry
And the rain stopped falling

Please don't you cry anymore
[ Aah ...]
Can't you see?
Listen to the breeze
Whisper to me, please
Don't send me to the path of Nevermore

Even the valleys below
Where the rays of the sun
Were so warm and tender

Now haven't anything to grow
[ Aah ...]
Can't you see?
Why did you have to leave me?
[ Nevermore, Nevermore]
Why did you deceive me?
[ Nevermore, Nevermore]
Send me to the path of Nevermore
[ Aah ...]
When you say you didn't love me anymore
[ Aah ...]
[ Aah ...]

Nevermore
Nevermore

📌 Kamis, 29 Januari 2026 09:52 WITA 🌐 Morowali

📌 Minggu, 14 Desember 2025 🌐

Bernyanyi dalam Gelap

Bernyanyi dalam Gelap

— Nada Getir di Terowongan Panjang

Amat beragam ekspresi peduli tanah air. Dari yang teguh menunaikan kuasa jabatan, menampik tabiat korupsi, hingga yang dayanya mengkristal jadi kritik. Kritik itu sendiri bisa mewujud dalam demonstrasi keras, petisi elegan, literasi pencerahan, lantun lagu, sampai yang hanya mampu larut dalam hening merapal doa.

Spektrum kritik melalui harmoni nada dan lirik lagu pun ternyata terbentang lebar. Ada yang garang lantang siap menerjang, syahdu merindu terang di ujung terowongan, hingga lontar celoteh jenaka yang menghunjam kepekaan.

Dengan cara itulah alumni ITB melambungkan getir batinnya atas fenomena yang melanda Indonesia. Letup keresahan dan kegeraman membuncah lugas dalam LAGU PERANG yang merangkul semua orang agar menolak takluk pada kebobrokan. Kalaupun perjuangan ternyata harus patah, sejatinya jiwa-jiwa merdeka tak pernah kalah. Selalu tersimpan benih belarasa dalam merawat mimpi dan daya juang sesama anak negeri meski harus rela BERNYANYI DI DALAM GELAP.

Di kegelapan, rasa pedih kian menyayat kala menyaksikan betapa PERCUMA kekayaan alam maupun perjuangan para pendahulu akibat adab rakyat yang terbodohkan maupun pemimpin yang tak acuh. Terlebih saat para pengkhianat demikian tamak melampiaskan syahwat diri dengan sikap EGP (EMANG GUE PIKIRIN). Mereka adalah DRAKULA tanpa nurani yang tega menghisap jiwa rakyat hingga kerontang.

Beruntung selalu ada sosok yang tak henti menyapa HALO sebagai tanda bahwa kehidupan masih berdenyut walau rasa letih dan putus asa demikian keras mendera. Kesadaran hakiki layak dirawat melalui dentam ritmis MELODI SKJ (STANDAR KEWARASAN JIWA) yang menampik bodoh.

Kita patut setia MENJAGA NEGERI dari tangan-tangan kotor yang tak sungkan memperkosa Ibu Pertiwi. RAKYAT JELANTAH sekalipun harus punya harga diri selaku ahli waris negeri. Hanya dengan demikian kita bisa bangga berbisik, "AKU PADAMU, wahai Tanah Air tercinta."

Ekspresi resah, geram, asa, semangat, dan kesetiakawanan alumni ITB terjalin kental dalam album kesadaran bertajuk BERNYANYI DALAM GELAP. Kami paham bahwa menjalani kegelapan bukanlah pilihan, melainkan penindasan atas ketakberdayaan maupun kebodohan. Sedangkan kegelapan amatlah berbahaya karena berpeluang melesakkan sikap pasrah bersekutu dengan penjarah. Di titik itu, kami sepakat bernyanyi sebagai isyarat bahwa tekad dan arah belum pupus dari nurani walau gelap menghadang pandang.

Kini dan di sini,
kami masih ada
dan akan tetap ada,
mengusung suara yang tak tersuarakan.

📌 Minggu, 14 Desember 2025 00:19 🌐

📌 Minggu, 30 November 2025 🌐

Botol Minum

Botol Minum

Saya punya botol minuman yang biasa-biasa saja. Kapasitas 800 ml, warna bening, dan ada label nama isteri saya. Kok begitu? Memang saya pinjam dari isteri saya karena 2 botol sebelumnya pecah akibat jatuh, sementara yang lainnya berukuran kecil ataupun berat (berbahan metal yang cocok untuk kopi).

Botol yang selalu saya bawa, apalagi saat ke luar kota, sudah beberapa kali tertinggal. Masing-masing sekali di Medan, Jagakarsa, Morowali, Sorowako. Namun bisa kembali karena ada kawan yang berkenan dititipi membawakan pulang ataupun diserahkan oleh petugas jaga sebelum saya melanjutkan perjalanan.

Sebagai orang yang awet menggunakan barang (selama masih berfungsi), tentu saja ketinggalan barang akan sangat mengganggu. Hal ini pernah saya alami ketika laptop dan external hard disk berisi banyak data penting tertinggal di hotel Bandung. Akibatnya, subuh-subuh harus kembali mengambilnya padahal baru tengah malam sebelumnya saya pulang ke Jakarta.

Jadi saya bisa paham mengapa ada orang yang sampai panik ketika barangnya tertinggal di ruang publik yang berpotensi menjadi kehilangan. Entah karena harganya yang sangat mahal, atau fungsinya yang vital, atau karena nilai sentimentalnya, atau karena pinjaman, atau sebab lainnya.

Hanya saja saya belum paham, seberapa berhargakah sebuah tumbler sehingga dianggap setara dengan rusaknya reputasi seseorang maupun instansi bahkan hilangnya mata pencaharian. Sungguh masih misteri.

Jangan-jangan hanya tampilannya yang terlihat sederhana padahal di dalamnya terkandung rahasia negara atau pernak-pernik konspirasi rumit seperti dalam film-film spionase. Mari berprasangka baik ... 😊

📌 Minggu, 30 November 2025 09:36 🌐 Taman Wisata Alam, Pantai Indah Kapuk

📌 Sabtu, 19 Juli 2025 🌐

Kesadaran Sebelum Hari Pencoblosan

Kesadaran Sebelum Hari Pencoblosan

— Pemilihan Ketua Umum IA-ITB 2025

"Kok mendadak sih? Tiga hari lagi."

"Gak mendadak kok. Malah ini pengunduran dari yang seharusnya bulan lalu."

Informasi ini pun sebenarnya saya tahu karena mengikuti cukup banyak grup percakapan alumni. Jika tidak, kemungkinan besar saya juga akan mendapat pengalaman kemendadakan seperti kawan yang menghubungi saya kemarin.

Dalam keikutsertaan sebagai penggembira di pinggiran beberapa perhelatan tingkat nasional, daerah, serta almamater, kali ini saya tak terimbas gaung kemeriahan kontestasi. Dari ketiga kandidat yang muncul, hanya 1 yang saya kenal. Namun tak satu pun yang saya tahu penawarannya.

"Abang sudah tua," gurau kawan tadi penuh makna.

Saya hanya tertawa sadar diri.

📌 Sabtu, 19 Juli 2025 07:38 🌐

📌 Sabtu, 08 Maret 2025 🌐

Rumah Kosmos Sipoholon

Rumah Kosmos Sipoholon

Rumah kosmos

"Jadi bagaimana konsepnya?"

"Simpel aja kok, yang di luar merasuk ke dalam dan yang di dalam memancar ke luar.

Sejenak saya tercenung mencoba memaknai jawaban singkat Jimmy Purba sang arsitek, lalu manggut-manggut seakan paham.

Sejatinya karya arsitektur menjadi aksen penanda dalam bingkai alam tanpa intensi menyabot pesona agung asalinya. Terlebih yang mengusung muatan spiritual sebagaimana rumah dinas Pimpinan HKBP yang menyibak pandang 360° ke seantero gunung, lembah, dan hutan Sipoholon.

Rumah Kosmos

Terbayang ketakjuban menyaksikan momen fajar menguntai birai penghujung malam di sana, kala makrokosmos di luar dan mikrokosmos di dalam beresonansi sempurna seperti saat turunnya firman pertama, "Jadilah terang."

#hkbp #rumah #arsitektur

📌 Sabtu, 08 Maret 2025 20:59 🌐

📌 Rabu, 06 November 2024 🌐

Sang Pemimpin Kawanan

Sang Pemimpin Kawanan

[kalipso 002 relawan]

Mengonsolidasikan relawan dengan beragam latar belakang bukanlah hal mudah. Perlu waktu, energi, dan kesabaran ekstra tebal untuk mengorkestrasi visi, derap langkah, solidaritas, bahkan membangkitkan keberanian mengorbankan berbagai hal berharga, termasuk nyawa pada situasi ekstrem.

Dalam komunitas relawan, karakter dan keteladanan seseorang diuji hingga kerak-kerak dasarnya. Rantai komando terbentuk bukan karena kepangkatan ataupun senioritas, apalagi bayaran, melainkan kualitas pribadi yang piawai memadukan ketegasan dan keluwesan dalam menyikapi dinamika di lapangan.

Menjadi pemimpin kawanan relawan merupakan tantangan teramat rumit. Dia tak bisa menjanjikan imbalan harta atau kuasa guna membangkitkan semangat juang kawan-kawannya dalam berbagai keterbatasan, melainkan harga diri sebagai manusia bermental merdeka di hari-hari mendatang.

Sungguh beruntung hingga kini saya masih berkesempatan berjumpa orang-orang berkarakter pemimpin kawanan seperti itu. Mereka memang langka.

📌 Rabu, 06 November 2024 23:28 🌐 Boear

📌 Selasa, 05 November 2024 🌐

Panggilan Kehormatan

Panggilan Kehormatan

[kalipso 001 relawan]

Benjamin Martin yang semula menolak menjadi komandan tentara kontinental akhirnya terjun membabat pasukan kolonial Inggris yang telah membunuh anaknya. Segera dia bentuk pasukan relawan dari masyarakat sipil yang umumnya adalah petani yang tak pernah angkat senjata [1].

Bertempur melawan tentara aktif adalah misi bunuh diri namun bisa sarat makna ketika alasan dan tujuannya mulia. Entah demi apa pun, yang semuanya masih bisa diperdebatkan, namun bukan itu yang menjadi perhatian saya saat ini.

Menjadi relawan tak musti bersebab matinya anak seperti dialami Benjamin melainkan bisa juga oleh terbitnya harapan baru bagi masa depan anak-anak maupun kekhawatiran sirnanya harapan tersebut.

Kalah-menang bukanlah dasar kalkulasi pilihan sebab tak ada yang bisa menjamin kemenangan ataupun kekalahan dalam melawan pasukan terlatih. Opsi yang tersedia hanyalah keberanian menegakkan harkat sebagai manusia seturut nurani dan logika.

Setipis apa pun peluangnya, amat layak diperjuangkan agar tak hanya jadi penggerutu yang memasrahkan leher dalam kekang kendali orang lain.

[1] Sinopsis film "The Patriot"

📌 Selasa, 05 November 2024 15:31 🌐 Boear

📌 Minggu, 18 Agustus 2024 🌐

Kearifan Silimalombu

Kearifan Silimalombu

— Sumut Punya Cerita

Nyonya rumah dan tamu di Silimalombu

Bisa jadi dahulu ada 5 sapi yang entah apa pula cerita tersohornya hingga tempat terpencil di kawasan Samosir itu dinamai Silimalombu. Desa ini mungkin tak akan pernah jadi topik andai hanya melangkah dalam pakem biasa-biasa saja.

Hingga seorang perempuan bernama Ratnauli Gultom mengubah takdirnya. Mangga Toba difermentasi jadi minuman (mango wine), berbagai flora dan fauna dipanen dari sekitar untuk diolah jadi hidangan dan produk lokal, hingga gaya hidup berwawasan lingkungan nirlimbah (zero waste).

Sebagaimana biasa, keunikan sebuah tempat lebih dulu diketahui dan dicintai wisatawan mancanegara. Bahkan hingga sekarang pun lebih banyak orang asing yang menjadi tamu menginap di homestay Silimalombu. Agak ironis, namun demikianlah adanya.

Saat berkunjung sekian tahun lalu, saya berjumpa dengan satu keluarga Skotlandia (ayah, ibu, puteri berusia 6 tahun) yang sudah 2 bulan tinggal di sana. Sehari-hari mereka mengikuti kegiatan Ratna mengambil ikan dan udang di danau Toba, memetik sayuran, memanen jagung, ubi, buah, dsb yang dilanjutkan dengan mengolah dan menikmatinya.

Mango wine

Amat pantas jika Silimalombu melabel diri sebagai ecovillage dan menjadi destinasi yang wajib diperhitungkan sehingga pernah khusus dikunjungi oleh Raja Belanda Willem Alexander dan Ratu Maxima Zorreguieta Cerruti pada tahun 2020.

Setiap tempat dan waktu akan melahirkan legendanya sendiri.

Lisoi! Lisoi! Lisoi!🥂

#latepost #Samosir #Sumut #NorthSumatera #wine #ecoliving #nirlimbah #zerowaste #pariwisata #tourism

📌 Minggu, 18 Agustus 2024 01:49 🌐 Medan

📌 Rabu, 31 Juli 2024 🌐

Sarapan di Medan

Sarapan di Medan

— Sumut Punya Cerita

Matahari terbit agak lebih lambat di Medan dibanding Jakarta. Ketika Jakarta sudah bergegas menembus kemacetan jalan, Medan baru menggeliat.

Tak heran jika jam 7 hingga 9 WIB masih banyak warga Medan yang kedapatan sedang sarapan di tempat yang acap disebut warkop (warung kopi).

Pagi ini saya sarapan di Warkop Deli, Jalan Abdullah Lubis, Medan. Sepiring bihun goreng yang diracik dengan telur bebek dan 2 tusuk sate kerang saya santap nikmat. Ditutup dengan secangkir kopi susu dan 2 butir telur setengah matang, rasanya bangkit semangat untuk berkegiatan sepenuh hari.

⚜️ SUKA-SUKA

#latepost #Medan #Sumut #NorthSumatera #sarapan #breakfast #warungkopi #warkop #kuliner #culinary

📌 31 Juli 2024 06:46 🌐 Medan

📌 Rabu, 23 Agustus 2023 🌐

Perempuan dalam Cermin

Perempuan dalam Cermin

Perempuan dan cermin adalah keseharian yang amat biasa. Terlalu biasa. Nyaris tak ada keistimewaan atas perilaku rutin ini.

Cermin itu sendiri sekadar memantulkan citra yang mampu dicerna mata, sejauh diperkenankan oleh sang perempuan.

Namun perempuan di balik cermin adalah cerita tersendiri yang kerap tak terjangkau mata bahkan mata hati orang lain.

Di balik cermin, seorang perempuan hadir utuh dan telanjang, memperlihatkan keping-keping perjalanannya. Ada luka, letih, kecewa, keringat, air mata, darah, nanah, dan trauma. Namun di situ juga ada bangga, suka cita, harapan, hingga berbagai gumpal rasa tersembunyi yang tak terurai oleh kata.

Di tiap kepingnya tergurat epos kecil upaya menggapai kepenuhan diri yang kerap harus mengalami penghancuran. Berulang dan berulang. Menyerpih.

Hanya karena asa masih berpijar maka kepingan-kepingan ini direkat kembali dengan perjuangan amat keras agar tiap kisah yang dibawanya tak sia-sia. Berbekal kerelaan mengakui ketidaksempurnaan, perempuan itu merangkai kembali semua keping terserak dengan bingkai rekatan emas kerendahhatian.

Walau masih tersisa lubang hitam di sana-sini, kelahiran kembali sosoknya sebagai perempuan baru melahirkan keindahan dalam kisah tersendiri. Sebuah optimisme paripurna dalam mosaik menggentarkan.

Sungguh, perjalanan belum selesai. Sedangkan waktu bagai singa mengintai yang siap menerkam tiap saat.

Namun senyum tersungging di bibir retak menyampaikan tekad bergeming, "Saya baik-baik saja meski kau tak tahu betapa nyaris sebuah kehidupan pupus dalam kesuraman makna."

📌 Rabu, 23 Agustus 2023 01:48 🌐

📌 Sabtu, 27 Mei 2023 🌐

Kembalinya Pasukan Perang Darat

Kembalinya Pasukan Perang Darat

— Suara Hati

Lima tahun dalam penantian, akhirnya Pasukan Perang Darat (PPD) bangkit kembali ketika negara memanggil. Jika dahulu militansinya diperuntukkan bagi Joko Widodo (Jokowi), kali ini mereka tampil demi Ganjar Pranowo.

Kinerja Jokowi yang dipandang baik sehingga meraih tingkat kepuasan sampai 82% (survei LSI April 2023) menjadi konsiderans penting bahwa kemajuan dan arah perjalanan bangsa ini berada di koridor yang tepat sehingga perlu dipertahankan bahkan ditingkatkan.

Mengingat konstitusi negara Republik Indonesia yang membatasi masa jabatan presiden maksimal 2 kali, maka perjalanan Jokowi pun harus berakhir di 2024. Oleh sebab itu, menjadi sangat penting untuk memastikan bahwa penggantinya adalah orang yang tepat untuk menindaklanjuti pencapaian yang sudah diraih.

Dari 3 sosok yang digadang-gadang sebagai calon presiden, pilihan pun jatuh pada Ganjar Pranowo. Demikian banyak aspek pada diri beliau yang suai dengan kriteria. Selain kinerja yang teruji, juga kepribadiannya yang merakyat, sederhana, humoris, melayani, cepat tanggap, gesit, stamina tangguh, rekam jejak bersih, mengayomi semua kalangan, berjiwa muda, kesatria, tidak ketinggalan zaman, serta sederet karakter servant leader lainnya. Tidak lupa, dia juga adalah seorang suami dan ayah yang baik.

Lantas, kenapa PPD harus turun gunung jika Ganjar Pranowo dipandang sudah memenuhi kriteria sebagai sosok terbaik yang layak menjadi Presiden? Bukankah dia akan mudah memenangi kursi kepresidenan?

Semesta kiprahnya yang selama ini terbatas di Provinsi Jawa Tengah membuat semua prestasi dan kebaikannya belum membahana ke seantero negeri. Sederet keberhasilan yang dibangunnya di jenjang provinsi perlu diprojeksikan ke tingkat nasional. Kemajuan Jawa Tengah merupakan bukti nyata sekaligus cikal-bakal kemajuan menuju Indonesia Gemilang.

Inilah tugas para relawan. Inilah amanah yang diemban oleh PPD. Merupakan sebuah kehormatan untuk memberitakan kabar baik ini ke seluruh penjuru kota dan desa, di jalan-jalan, pasar, pertokoan, stasiun, perumahan, dan semua tempat di mana ada mata dan telinga. Terlebih, pada mereka yang masih memiliki hati terbuka serta cinta tulus pada negeri serta generasi masa depan.

Sebab, sejatinya, PPD adalah suara hati anak bangsa.

Salam takzim.

📌 27 Mei 2023 05:46 🌐

📌 Selasa, 21 Februari 2023 🌐

Balada Fana Seorang [Bukan] Biduan

Balada Fana Seorang [Bukan] Biduan

Menyimak kisah sendu Bang Andrew Simbolon tentang dunianya yang fana [1], ingatan langsung menerawang ke cita-cita masa silam. Kalau Bang Andrew kepingin jadi penyanyi rock setelah kuliah, saya pernah kesengsem jadi pesohor tarik urat leher ketika masih bersekolah dengan celana pendek alias SMP.

Saat itu nama Ebiet G. Ade sangat fenomenal sebagai penyair yang bernyanyi. Walau suaranya disebut-sebut mirip Jose Feliciano, sang penyanyi kondang tunanetra, syair lagunya sungguh menggoda karena bersahaja namun puitis. Konon pula dia menggunakan puisi-puisi karya Presiden Malioboro, Umbu Landu Paranggi, yang berkiprah di kawasan Yogyakarta bersama para tokoh sastra lainnya seperti Korie Layun Rampan, Emha Ainun Najib, Linus Suryadi AG.

Begitu pula ketika Guruh Soekarnoputra dan Eros Djarot menggetarkan blantika musik Indonesia dengan karya-karya monumental mereka yang mengusung kosa kata ajaib dalam lirik-liriknya, makin terbakar gairah menulis lagu berbekal kamus bahasa kuno.

Sayang disayang, saya harus jujur mengakui bahwa musikalitas saya rupanya tak sedahsyat hasrat. Bahkan suara pun amat jauh dari kategori merdu, halmana menyalahi kodrat sebagai orang Batak 😔 Mau daftar ikutan vocal group sekolah saja rasanya tak ada nyali, apalagi masuk paduan suara seperti Mak Lindes Dumaria Gultom. Konon pula seperti Bang Toni P Sianipar yang bergabung di Elfa's Singers.

Walau ada beberapa lagu yang tercipta (atau sebagai penulis lirik untuk lagu karya kawan), dengan lapang dada saya kuburkan impian menjadi penyair yang bernyanyi. Baibay 👋

Ndilalah saat kuliah saya sempat beberapa kali didapuk menjadi vokalis band. Itu pun saya yakini bukanlah karena suara yang keren atau aksi panggung nan memesona melainkan karena tak ada kawan lain yang bersedia menanggung malu di atas panggung. Sesederhana itu.

Kendati demikian, kecintaan pada musik membuat saya tak ragu terlibat aktif bersama kawan-kawan untuk menyelenggarakan Festival Musik Solidaritas sebagai ajang kompetisi band antar angkatan di Himpunan Mahasiswa Mesin (HMM) ITB.

Begitu pula berbelas tahun setelah menjadi alumni, didaulat menyanyi karena para pemain band lebih sibuk berkutat dengan chord di instrumen masing-masing. Ini pun bukan di band delegasi angkatan yang bernama Musicology, melainkan sekte yang mengambil genre rock bernama Darkside of Musicology (DOM). Di Musicology sih saya hanya kebagian peran angkat-angkat alat musik atau jadi supporter Bonekology atau jadi badut jahil untuk klip video 😁

Ketika pandemi covid merajalela, saya kenal aplikasi bernama Smule. Mulailah saya punya media melampiaskan suara pas-pasan tanpa harus tersipu kena sorot spotlight. Dan di sinilah saya tahu bahwa Bang Andrew suaranya memang keren dan effortless sehingga layak dibanggakan sebagai orang Batak.

Barangkali karena saya lebih senior "sekian bulan" sajalah maka Bang Andrew sulit berkeberatan ketika saya join di Smule menyanyikan lagu Dream Theater yang berjudul "The Spirit Carries On" dengan urat leher nyaris putus 🤪

www.smule.com

Demikianlah hikmah di dunia yang fana ini. Walau suara parah sehingga jauh dari layak sebagai biduan, ternyata lingkar pertemanan justru kian besar. Dan saya agak percaya bahwa nanti seusai kiprah di dunia fana ini spirit kita tetap bisa hadir melalui karya dan kenangan. Yekann, guyszz?

#aiglDuniaFanaCeleng

📌 Selasa, 21 Februari 2023 21:56 🌐

📌 Minggu, 22 Januari 2023 🌐

Berbagi Natal

Berbagi Natal

Penampilan Anak-anak Berkebutuhan Khusus

Keindahan kehidupan tercermin dari keselarasan dan kepedulian, khususnya antarmanusia. Berlimpah karunia Tuhan bagi alam semesta yang layak dibagi kepada semua.

Menjadi sangat luar biasa ketika suka cita kita dalam Perayaan Natal Bersama Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IA-ITB) pada tanggal 21 Januari 2023 kemarin diwarnai kehadiran anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) yang berbagi kegembiraan memuliakan Tuhan melalui penampilan kesenian dan kreativitas. Melalui mereka kita diingatkan menjadi manusia yang tak henti bersyukur walau dalam segala keterbatasan.

Perayaan kali ini memiliki misi berbagi dengan mereka yang oleh Tuhan dianugerahi keistimewaan sebagai ABK (Anak Berkebutuhan Khusus). Untuk itu, IA-ITB membuka pintu dukungan pelayanan bagi mereka melalui rekening donasi:

  • Bank Mandiri xxxxxxxxxxxxx
    (a/n IKATAN ALUMNI ITB)
  • Bank BCA xxxxxxxxxx
    (a/n IKATAN ALUMNI ITB)

* mohon tambahkan angka 25 pada akhir nominal.

yang akan disampaikan kepada:

  1. Yayasan Bhakti Luhur
  2. Yayasan HOPE
  3. Yayasan Tri Asih

Kiranya suka cita kita menyambut kasih Allah yang terwujud melalui kedatangan Anak-Nya kian bermakna melalui kepedulian pada mereka yang merindukan cinta kasih sesama.

Salam Natal bagi kita semua.

📌 Kamis, 19 Januari 2023 🌐

Yayasan Bhakti Luhur

Yayasan Bhakti Luhur

Yayasan Bhakti Luhur adalah lembaga sosial swasta yang menangani dan melayani lebih dari 500 anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) baik fisik maupun mental, yatim piatu, miskin, dan telantar. Banyak dari mereka yang bahkan tak tahu lagi keberadaan keluarganya.

Melalui yayasan ini para ABK belajar berbagai keterampilan, seperti membuat aneka olahan makanan ringan, bercocok tanam, kesenian, dan lain-lain.

Keterbatasan penglihatan (tuna netra), pendengaran (tuna rungu), komunikasi verbal (tuna wicara), anggota tubuh (tuna daksa), maupun mental (down syndrome, autis) tidak menghalangi mereka untuk memuji Tuhan melalui nyanyian, permainan angklung, serta tarian.

Bukankah sesungguhnya mereka adalah anak-anak yang sangat istimewa?

Mari bersama kita dukung mereka dalam Kebaktian dan Perayaan Natal 2022 IA-ITB yang akan diselenggarakan pada:

📆 Sabtu, 21 Januari 2023
🕖 10:00 WIB (GMT+7)
🏫 Gedung Pusat Perfilman H. Usmar Ismail, Karet Kuningan, Jakarta Selatan

Pendaftaran kehadiran:
http://bit.ly/RSVP-NATAL-IAITB


Rekening donasi:
Bank Mandiri xxxxxxxxxxxxx (a/n IKATAN ALUMNI ITB)
Bank BCA xxxxxxxxxx (a/n IKATAN ALUMNI ITB)

* tambahkan angka 25 pada akhir nominal.


* Mohon bantuan untuk meneruskan ke grup WA/FB/Telegram alumni yang lain.
Terimakasih 🙏

📌 Kamis, 19 Januari 2023 17:21 🌐

📌 Minggu, 09 Oktober 2022 🌐

Jus Enak, Segar, dan Sehat yang Amat Dipujikan

Jus Enak, Segar, dan Sehat yang Amat Dipujikan

Jus segar dan enak sebagai sajian
bagi para peserta turnamen golf
di Damai Indah Golf, Bumi Serpong Damai

Seminggu menjelang pelaksanaan turnamen golf yang diselenggarakan oleh alumni 83 ITB, Renny Tamba, kawan panitia yang bertanggung jawab atas konsumsi menyampaikan,

"Lof, kita perlu jus nih buat para golfer."

"Berapa banyak?"

"600 botol ukuran 200 ml."

"Sebentar ya, saya cari dulu."

Alih-alih membuka aplikasi toko daring (online), saya memilih bersilancar di Facebook Group (FBG) AIGL mencari hestek #ngelapakday dan kata kunci "jus". Entah kenapa saya memprioritaskan membeli dari teman ketimbang toko 😊

Ketemulah posting lama Mbak Tantry Widiyanarti yang mempromosikan jus botolan dari buah segar, tanpa pengawet, yang keuntungan dari penjualannya disumbangkan bagi orang tak mampu. Hmm, sungguh menarik. Baiklah saya coba.

Langsung saya kontak Mbak Tantry. Ternyata produsennya adalah tetangga Mbak Tantry yang beliau arahkan membuat jus ketika masa pandemi. Sayang sekali saat ini tidak lagi berproduksi karena banyak pembeli yang pembayarannya macet 😔

"Kalau mau beli banyak kyknya bisa dikondisikan 😅", sambung Mbak Tantry membuka peluang.

Ketika saya sampaikan kebutuhan 600 botol, maka terjadilah transaksi yang ditindaklanjuti oleh kawan saya. Deal!

Di hari pelaksanaan turnamen pada tanggal 8 Oktober 2022 di Damai Indah Golf BSD, itulah saat pertama saya menyicipi jus tersebut. Ada 4 varian yang kami pesan: jambu, mangga, jeruk, strawberry. Ah, dicoba saja semua 😊

Jusnya kental dan sangat terasa buahnya, bukan seperti jus imitasi. Rasa manisnya pun pas. Enak dan sungguh segar.

Di shelter tempat para pemain golf beristirahat sejenak, saya mencoba menggali testimoni para usher, kawan-kawan panitia, maupun para pemain golf mengenai jus ini. Semua bilang enak. Malah usher dan staf lapangan golf menanyakan bagaimana cara memesan jus ini karena di label botol tidak tercantum nomor kontak produsennya.

Siangnya, saat para pemain golf berkumpul untuk makan dan mengikuti acara, terlihat masih banyak botol jus di tempat minuman. Tapi saya amati, banyak pemain yang bolak-balik mengambil beberapa botol sekaligus untuk dibawa ke mejanya.

Seorang kawan pemain golf mengatakan, "Saya tidak makan nasi nih. Sudah cukup minum jus. Enak dan segar."

Di penghujung acara, hanya tersisa sekitar selusin botol jus yang kemudian kami nikmati sambil berdiskusi. Dan 2 botol terakhir dibawa pulang oleh kawan panitia. Habis ludes tandas!

Sempat ada pemain golf dari pihak sponsor yang sengaja mendatangi meja kami hanya untuk menanyakan bagaimana mendapatkan jus itu. Tentu saja dengan senang hati kami memberikan nomor telepon produsennya.

Mbak Tantry, tolong sampaikan pada tetangga yang membuat jus ini agar mempertahankan kualitas produksinya sehingga tidak mengecewakan ekspektasi mereka yang sudah mencicipi kenikmatannya kemarin. Siapa tahu berawal dari 600 botol kemarin bisa bergulir pesanan melimpah. Amin 🙏

Pada stiker label yang ditempel pada botol sebaiknya dicantumkan nomor kontak.

Varian jus:
1. Alpukat, 2. Jeruk, 3. Strawberry, 4. Mangga, 5. Sirsak, 6. Nenas

Tersedia melimpah untuk dinikmati para pemain golf sambil makan siang dan menikmati acara hiburan.

Ada yang memuji serta mencari info produsen jus ini kepada kawan panitia yang adalah mantan orang nomor #1 di BUMN migas terbesar Republik ini 😊

#UMKM #jus #WSA #NgelapakDay #IndahnyaBerbagi #golf #ITB83Berbagi

📌 Minggu, 09 Oktober 2022 21:46 🌐