📌 Minggu, 15 November 2020 🌐

Love in Vain

<i>Love in Vain</i>

— Kontes Nyanyi Rolling Stones di Smule

Usai projek video "Kebyar Bagi Negeri" yang tayang tanggal 10 November lalu, saya langsung berhadapan dengan tantangan membuat video Smule lagu dari grup band Rolling Stones. Entah kenapa pula panitia menyantumkan nama saya di urutan pertama dengan catatan "mesti ikut" 😜

Walau bukan penggemar berat Rolling Stones, ada beberapa pilihan lagu yang saya kenal dan sebenarnya sudah saya incar. Tapi, sebagaimana yang sudah-sudah, saya selalu lambat [dan kadang dibumbui lupa] menentukan pilihan 🙈

Sekian lagu diambil dan sudah ditayangkan videonya oleh kawan-kawan yang sebagian katanya tidak akrab dengan Rolling Stones. Dan hasilnya, menurut saya, sungguh menakjubkan. Bahkan para penyanyi perempuan berhasil menampilkan sisi universal lagu-lagu tersebut tanpa harus jatuh dalam dikotomi maskulin vs feminin. What a wonderful!

Melihat perkembangan hingga hari terakhir, akhirnya saya memilih lagu yang fakir peminat: Love In Vain. Pikir saya, harusnya sih gak susah, wong hanya mengulang bait lagu yang sama nadanya sebanyak 3 kali. Selain itu, saya luput dibandingkan dengan kawan lain yang lebih ahli menyanyikannya 😁

Lagu yang 17 tahun lagi akan berusia seabad ini adalah karya Robert Johnson. Lagu yang semula kental warna blues, menjadi sedikit lebih melodius dengan sentuhan "slide guitar" ala musik country yang dimainkan Mick Taylor ketika Rolling Stones merilisnya dalam album "Let It Bleed" (1969).

Sebagaimana umumnya lagu blues, maka penyanyi dan pemusik memiliki kelenturan berimprovisasi. Dan saya pun terbawa oleh atmosfer ini sehingga pada bait kedua dan ketiga saya abaikan gaya menyanyi yang dicontohkan oleh Mick Jagger. Sabodo teuing lah, yang penting mah, enjoy ...

Dan inilah hasil rekaman Smule yang saya mulai sekitar pukul 19 WIB kemarin dan sempat nyangkut hingga 17 jam, halmana membuat saya ketar-ketir mengingat batas terakhir penyetoran adalah jam 22 malam ini.

www.smule.com

Syukurlah, siang tadi, hasil kolaborasi mandiri di Smule ini berhasil menembus penghalang.

Jangan tanya kenapa template video yang dipilih adalah yang ini. Sekenanya saja, karena saya belum familiar dengan Smule gaya baru. Tapi kalau ada yang penasaran mengapa saya sampai join hingga 7 kali hanya untuk memperoleh hasil sesederhana ini, satu saat akan saya ceritakan rincian kengenesannya 😊

Semoga lagu ini dapat menghibur walau mungkin tak sesuai harapan para pecinta musik, khususnya penggemar Rolling Stones.

Setun, A!!!

Lunas ya 🙏

🎸 ☮ 💕

#TheRollingStonesChallenge #TRSchallenge #TheRollingStonesContest #TRScontest

📌 Minggu, 15 November 2020 20:46 🌐

📌 Selasa, 10 November 2020 🌐

Kebyar Seratus+ Alumni ITB bagi Negeri

Kebyar Seratus+ Alumni ITB bagi Negeri

Tahun 2020 menyimpan banyak makna.

Di tahun ini Republik Indonesia berusia 75 tahun. Pada tahun ini pula pendidikan tinggi teknik di Indonesia berusia 100 tahun yang ditandai dengan berdirinya Technische Hoogeschool te Bandoeng yang di kemudian hari menjadi Institut Teknologi Bandung (ITB).

Dalam rangka merayakan kedua hari besar ini, lebih dari 100 alumni ITB yang tergabung dalam komunitas Alumni ITB Garis Lucu (AIGL) mempersembahkan sebuah kolaborasi seni yang melibatkan pemusik, penyanyi, penari, deklamator, seniman gambar.

Bertepatan dengan Hari Pahlawan 10 November 2020, video ini pun kami persembahkan bagi segenap anak bangsa yang mendarmabaktikan hidup serta karyanya bagi kelangsungan dan kemajuan negeri. Baik yang berjuang di pertempuran, pendidikan, ekonomi, pangan, dll bahkan para tenaga kesehatan yang saat ini berada di garda terdepan melawan pandemi covid-19.

Semoga karya sederhana ini dapat terus menghidupkan dan mengilhami kita semua untuk tak letih mencintai negeri Merah-Putih.

Bagimu Negeri, kebyar karsa dan karya kami.

Dirgahayu! 🇮🇩

📌 Selasa, 10 November 2020 23:23 🌐

Dari Balik Tirai AIGL Bernyanyi II #4

Dari Balik Tirai AIGL Bernyanyi II #4

Tak terasa waktu berlari teramat cepat. Tepat seminggu lalu saya tuliskan progres mengolah file audio serta video yang jumlahnya lebih dari 100 (menurut Kang Pendy ada 128 video). Tahu-tahu sekarang sudah tanggal 10 November 2020, hari yang direncanakan untuk peluncuran karya kolosal AIGL.

Ternyata tidaklah mudah merangkai berbagai material yang pada dasarnya sudah bagus menjadi sebuah kolase besar yang tetap, bahkan tambah, bagus. Sangat terasa beratnya beban menyajikan racikan yang dapat memuaskan ekspektasi semua pihak.

Ada saja hal lucu sekaligus menggemaskan ketika dua unsur utama (rekaman audio dan rekaman video) digabungkan. Sinkronisasinya tak semudah yang dibayangkan. Ada yang gambarnya bagus tetapi gerak bibir tidak pas dengan lagu. Ada juga yang suara dan gambarnya sudah bagus, tetapi posisinya di video kurang pas. Jungkir-baliklah para chef di dapur video mengatur semuanya agar optimal.

Usai melakukan sinkronisasi, mulailah tahap penataan letak maupun cara tampilnya. Berbagai fitur yang ada di perangkat penyuntingan pun dijajal. Beberapa ide bergulir dalam upaya mempercantik visual.

Keterbatasan interaksi akibat pandemi terasa sebagai tantangan tersendiri. Komunikasi tentunya tidak selancar pertemuan tatap muka yang umumnya dibarengi melihat hasil pekerjaan seraya melakukan evaluasi serta memberi masukan.

Hingga kemarin malam, tim produksi masih intens berdiskusi melalui Zoom. Scene demi scene dibahas satu per satu secara rinci hingga beberapa belas lembar.

Beruntung kedua chef dapur video sangat bisa diandalkan kemampuannya, sehingga dalam tempo singkat (eh dari jam 21 hingga pagi tuh termasuk singkat atau lama sih?) hasil diskusi pun terwujud dalam format yang disepakati. Haturnuhun, Kang Pendy dan Kang Danne Dhirgahayu. You are the best.

Dan sekitar 22 menit selewat jam 12 siang tadi, kami disuguhi perkembangan terbaru untuk preview. Setelah ditonton dan disimak sejak detik 0 hingga akhir sambil menahan napas, akhirnya kami bisa menghembuskan 3/4 beban yang selama ini menggantung (kebayang kan gedoran ratusan orang yang sangat penasaran menantikan kemunculan video kolaborasi ini 😓).

Secara keseluruhan, masakan sudah jadi. Bentuknya sudah sangat jelas, kenikmatannya pun sudah terasa. Tinggal diberi sentuhan akhir yang mempercantik tampilan saat disajikan di pinggan.

Pekerjaan yang dilaksanakan kurang dari 1 bulan ini nyaris merupakan kemustahilan (untung saja belum sempat menjadi mimpi buruk) mengingat demikian banyak pihak yang dilibatkan sebagai artis, yang [nyaris] semuanya amatir. Bahkan ada yang mengakui bahwa ini adalah pertamakalinya dia menyanyi di luar kamar mandi. Pakai direkam video pula! Ada juga yang baru kembali menyanyi sejak SMP. 🤣

Perlu menjadi catatan bahwa semua ini dilakukan secara pro-bono alias tak berbayar. Dan ada sebagian yang mengupayakan di antara tugas utama kehidupan. Namun tugas yang diemban diupayakan terlaksana sebaik mungkin.

Maka, sungguhlah beruntung AIGL memiliki warga yang berkenan berbagi dedikasi dalam tenggat waktu yang sangat ketat ini. Mulai dari penggagas dan pembuat/penata musik/vokal, manager yang katempuhan menangani segala urusan, pembuat puisi, penyanyi, narator, pemusik, penari, hingga orang-orang di belakang laptop yang menjadi benteng terakhir. Semua menakjubkan. Thank you, all 💕

Kiranya kerja kita bersama ini dapat segera kita nikmati dengan sukacita (dan semoga juga dengan bangga 🙏) ketika kita membuktikan mampu menembus hal-hal yang selama ini kita anggap tak mungkin kita lakukan.

Together, each achieve more.

Salam dari dapur,

📌 Selasa, 10 November 2020 02:06 🌐

📌 Kamis, 05 November 2020 🌐

Dari Balik Tirai AIGL Bernyanyi II #3

Dari Balik Tirai AIGL Bernyanyi II #3

Usai mengumpulkan rekaman audio dan video hingga beberapa saat menjelang tenggat waktu (anak ITB keknya senang banget memacu adrenalin dengan mepet-mepet), para pendukung projek besar AIGL Bernyanyi #2 pun bisa menarik napas lega. Berbagai kehebohan serta keluh-kesah lucu yang terjadi di lokasi masing-masing pun usai sudah.

Begitu pun kami yang mengemban tugas mengelola kerja besar ini dapat sedikit melonggarkan himpitan yang cukup menegangkan. Bayangkan saja hiruk-pikuk komunikasi 100 penyanyi, 11 pemusik, 7 penari, dan 4 narator/deklamator yang menyumbangkan suara, permainan musik, ataupun gerak dalam bentuk rekaman audio dan video dari lokasi masing-masing. Ada saja hal-hal menggemaskan yang harus diorkestrasi secara cantik dan sabar oleh 8 orang tim kreatif. Dan semua ini dilangsungkan dalam durasi sekitar 1 bulan saja.

Kini semua menantikan hasil racikan dari para chef dapur audio, yakni Kang Dudy Duy, dan duo maut dapur video, yaitu Kang Pendy Mulyadi dan Kang Danne Dhirgahayu. Dan secara anggun, masuk pula bumbu racikan Dayu Ida Ayu Suci Levi untuk menambah keindahan topping sajian.

Berbagai colekan via FBG AIGL maupun japri tak henti-hentinya menyampaikan rasa penasaran tentang hasil akhir. "Mana, mana, mana ... Pingin lihat."

Jangankan para peserta, kami sendiri pun tak kurang penasarannya. Namun, dapur audio maupun dapur video ternyata menerapkan sistem kehati-hatian yang sangat ketat. Kami hanya boleh mengintip sedikit saja dari balik tirai jendela dengan pesan yang sangat jelas untuk tidak membocorkan progres yang memerlukan kecermatan dan kesabaran tingkat tinggi ini.

Gedoran rasa penasaran semakin membahana. Waktu menuju peluncuran pun semakin dekat, tak sampai seminggu lagi. Dapur video semakin mengintensifkan jadwal kerja. Kedua chef khusyuk dalam tirakat. Dan kami hanya bisa menanti-nanti di halaman.

Mungkin karena tidak tega menyaksikan kami berhujan-panas menanti di halaman, akhirnya pagi tadi Kang Pendy berbaik hati memberikan selembar kolase foto yang diambil dari potongan ratusan video yang tengah diolah. Dengan pesan, "Beri kami kesempatan memberi sajian terbaik dari bahan baku yang sudah keren. Please ..."

Beginilah kurang-lebih penampilan kece para peserta. Semoga dapat melunturkan sedikit rasa penasaran sekaligus mendukung semangat kedua empu yang tengah berjibaku di depan laptop.

* Diiringi salam mesra dari tim di halaman dapur,

🇮🇩 ❤️ 🙏

📌 Kamis, 5 November 2020 22:09 🌐

📌 Selasa, 03 November 2020 🌐

Dari Balik Tirai AIGL Bernyanyi II #2

Dari Balik Tirai AIGL Bernyanyi II #2

Gambar disalin dari
www.krjogja.com

3 menit menjelang pukul 24 kemarin (2 November 2020), HP saya berbunyi menandakan masuknya pesan di WAG. Tidak semua WAG saya aktifkan notifikasinya, melainkan hanya yang perlu saya ikuti secara intens. Kalau ada bunyi, berarti ini pesan penting.

Rupanya ada kiriman file suara di WAG "dapur" AIGL Bernyanyi #2. Kang Dudy Duy pengirimnya.

Seketika pikiran saya menggeliat penuh gairah. Pasti ada progres signifikan. Karena memang demikianlah gaya Kang Dudy selama kami berkomunikasi sebulan belakangan ini. Hampir tidak pernah Kang Dudy menyampaikan kesulitan atau hambatan, bahkan mengabarkan kondisinya yang sedang kurang sehat pun tidak. Tahu-tahu mengirim hasil kerjanya mengolah audio yang selalu membuat kami berdecak kagum dan senang.

Singkat saja pesannya bahwa semua rekaman suara sudah dimasukkan. Ibarat memasak, bumbu sudah diramu dan diaduk dengan bahan makanan dalam panci penggorengan panas. Tinggal beberapa bumbu yang menunggu giliran dibubuhkan menjelang matang.

Dengan khidmat saya menyimak hasilnya. Suara 3 deklamator, 100 penyanyi, 1 orator, serta 13 pemusik berpadu kompak dalam sebuah komposisi yang anggun sekaligus gagah. Instrumen musik modern melantun lincah dan indah ditingkah nada etnis yang nanti akan menjadi pengiring 7 penari tradisional.

"WOW!". Demikian kesan saya sehabis mencerna tuntas hasilnya.

Sebagai seorang non-skill di bidang musik, tidak pernah saya bayangkan projek "lucu-lucuan" ala AIGL ternyata bisa sampai sejauh ini perjalanannya. Secara pribadi saya takjub dan bangga menemukan sinergi positif luar biasa dari para AIGLorins membangun karya bersama.

Tak sabar ingin segera membagikan karya ini kepada kawan-kawan AIGL bahkan publik. Tetapi kerja belum selesai. Kita masih setengah jalan. Masih ada proses meramu kompilasi audio ini dengan lebih dari 100 video para pendukung projek ini. Sebuah pekerjaan besar. Dan tentu saja mendebarkan.

Tapi saya yakin kerja besar ini akan selesai pada waktunya. Wong proses pengumpulan rekaman suara dan video dalam waktu relatif singkat pun mampu dipenuhi secara baik oleh semua peserta (tentu saja dengan berbagai kerepotannya yang saat itu membuat stres namun menggelikan saat kini dikisahkan).

Seminggu ini Kang Pendy Mulyadi dan Kang Danne Dhirgahayu akan berjibaku di depan laptop. Mohon doa dan dukungan agar semua dapat berjalan lancar 🙏

Layar sudah dikembangkan. Pantang surut ke belakang.

Besok-besok kita sambung lagi ya. Sudah hampir jam 4. Saya mau tidur dulu. Pastinya sambil mendengarkan rekaman AIGL Bernyanyi #2 yang keren ini 😊

📌 Selasa 3 November 2020 22:02 🌐

📌 Senin, 02 November 2020 🌐

Soulmate

<i>Soulmate</i>

Shadows woman holding flower
img.freepik.com

Sekitar 30 menit menuju tenggat waktu berakhirnya celeng #aiglsoulmatestorychallenge, saya masih kesulitan memutuskan kisah yang mau diangkat. Lha, saya sendiri tidak tahu persis definisi soulmate yang paling suai dengan forum garis lucu ini.

Apakah soulmate itu harus pasangan? Kawan dekat seiring-sejalan dalam jatuh dan bangun? Selalu kompak? Pasti bahagia? Hingga seumur hidup?

Pertanyaan yang sulit dijawab namun sekaligus akan melahirkan bertimbun jawaban yang kian membingungkan.

Lalu, apa namanya kisah antara seorang lelaki dengan seorang perempuan yang ternyata lebih memilih pria lain yang nota bene adalah sahabat sang lelaki? Dan kemudian lelaki tak terpilih itu menjadi kawan bicara pasangan tersebut bahkan hingga belasan tahun setelah keduanya menikah ...

Ataukah soulmate adalah sebentuk pemuliaan bagi tindakan bodoh penuh derita atas nama cinta? Entahlah ...

Saat ini saya hanya bisa mengirimkan puisi lawas yang tentu saja tak punya intensi sebagai jawaban atas pertanyaan abadi tersebut.

Sayap yang Terkoyak

: love is a many-splendoured thing

Sekiranya pun tiada lagi rasa cinta itu kini dalam hatimu,
aku berharap
setidaknya kau masih bisa memandangku
sebagai seorang sahabat
yang bahunya selalu kausandari

saat kaututurkan kisah-kisah jinggamu,

yang lengannya kerap memelukmu erat

tatkala merekatkan kembali duniamu berkeping-keping,

yang telinganya senantiasa bersabar

menyimak nada sendumu tentang hari berhujan,

yang hatinya menjadi cawan

menyimpan tetes demi tetes airmatamu,

dan yang mulutnya tidak henti mengaku

betapa akan berbedanya dia tanpamu.


Dulu pernah kau bertanya:

"Bagaimana kauputuskan
aku sebagai kekasih,
yang akan menjadi ibu dari anak-anakmu,
sedangkan kau belum lagi mengenalku?"

Aku tidak bisa merekayasa jawaban
yang dapat membuat hatimu menggelepar,
sehingga aku hanya bisa berkata lirih:

"Telah kuputuskan
akan kugunakan setiap saat dalam sisa hidupku
untuk mengenalmu".

Dan saat itu engkau terkesima.

Mestinya aku punya lebih dari satu alasan
untuk berhenti mempertimbangkanmu
sebagai belahan jiwa,
pasangan berbagi cerita,
karena telah sedemikian dalam jurang yang kaugali

antara bahasaku dan bahasamu
yang mustahil kuseberangi
dengan sayap yang terkoyak,

karena telah sedemikian tinggi bukit yang kautimbun,

lara di atas luka,
yang tak mungkin kudaki
tanpa uluran jemari belas kasihmu,

karena telah sedemikian jauh jalan yang kautempuh

yang membuatku tak lagi bisa jernih membedakan
antara khilaf dan pengkhianatan.

Walau kesesakan kerap berkelebat
bahwa aku telah gagal mengenalmu,
aku tidak mungkin berbalik.
Walau demikian letih kuseret langkahku
beringsut menggapai bayang-bayangmu yang kian samar,
aku tidak mungkin berhenti.
Karena telah lama kutanggalkan semua mimpi dan kecewa
sejak kusampaikan ikrar di altar
dalam sakramen sekali untuk selamanya.

Mungkin tak seharusnya aku bertanya lagi
tentang cincin yang kusam dan retak,
karena telah kupahami kini
bahwa cinta tak pernah gagal
... untuk memberi.
Sampai maut memisahkan kita.

— Beth, 3 Oktober 2005 04:50

Puisi yang diilhami judul sebuah novel, "A Many-splendoured Thing", karya Han Suyin alias Elisabeth Comber (nama gadis: Elizabeth Kuanghu Chow/Zhou Guanghu) ini sesungguhnya merupakan sebuah permintaan dari seorang kawan diskusi di internet yang "kebetulan" memiliki nama panggilan Suyin. Dan saya perlu waktu tepat 5 bulan untuk membuatnya karena tidak punya gagasan tentang apa yang ingin saya tuliskan 😞

Di bawah ini adalah lirik lagu yang menjadi lagu tema film berjudul sama yang kisahnya diangkat dari novel tersebut.

** Love Is A Many-Splendored Thing **
(Music: Sammy Fain, Lyrics: Paul F. Webster, 1955)

I walked along the streets of Hong Kong town,
up and down, up and down.
I met a little girl in Hong Kong town
And I said can you tell me please,
Where's that love I've never found.

Unravel me this riddle.
What is love, what can it be.
And in her eyes were butterflies
As she replied to me,
Love is a many-splendored thing.

It's the April rose that only grows
In the early spring.
Love is nature's way of giving
A reason to be living--
The golden crown that makes a man a king.

Once on a high and windy hill
In the morning mist two lovers kissed
And the world stood still.
Then your fingers touched my silent heart
And taught it how to sing!
Yes, true love's a many-splendored thing.

💖

Senin, 2 November 2020