📌 Sabtu, 15 Desember 2018 🌐

Opera Batak

Barangkali bisa kita renungkan sejenak bahwa opera Batak yang sedang kita diskusikan adalah dalam format akan datang, dalam artian revitalisasi sesuai perkembangan audiensnya (dengan kata lain, perhitungkan faktor generasi milenial). Jadi kita jangan berkutat pada kenangan masa lalu yang tentu sangat berbeda karakternya. Kecuali jika kita hanya hendak bernostalgia.

Penyesuaian di sana-sini, termasuk konten dan performance, tentu perlu dipikirkan dan dilakukan.

Pertunjukan kesenian di negara lain, let's say Thailand dan Vietnam, sangat menarik bahkan bagi kita yang tidak memiliki keterikatan emosional dengan mereka. Memang benar mereka sudah difasilitasi dengan gedung yang memadai maupun unsur teknologi (audio visual) yang keren. Namun secara performance, termasuk kostum, pada dasarnya sudah menarik. Ini bisa ditiru.

Atau kita ambil contoh yang sederhana seperti tari Kecak atau Barong di Bali yang dipentaskan di ruang terbuka. Malah tanpa sound system maupun lighting artifisial. Berbekal suara lantang dan penerangan obor. Semua natural.

Boleh juga disebut yang lebih modern (non tradisional), semisal Teater Oncor milik Ray Sahetapy (entah masih ada entah sudah tak lagi eksis) yang dipentaskan di pekarangan rumahnya.

Secara umum, benang merahnya adalah membangun komunitas penggiat kesenian dan menularkan kecintaan masyarakat pada kesenian, sebelum mengemasnya menjadi komoditas bagi wisatawan.

Yang tak kalah penting nantinya adalah memasukkan event ini ke dalam paket wisata, sehingga semua wisatawan harus mengunjungi kegiatan ini. Peran pemerintah menetapkan destinasi/event wajib kunjung (termasuk produk kerajinan) perlu dilakukan sebagaimana berbagai negara lain menerapkannya (bahkan pengelola tour bisa kena denda jika tidak melaksanakannya).

Padahal, tidak semua dari kita berminat berkunjung ke, misalnya, pusat kerajinan berlian yang harganya mahal banget atau pabrik anggur. Tapi karena pemerintah mewajibkan berkunjung, terpaksalah semua mampir. Kalaupun bosan, kita bisa nongkrong ngopi dan makan cemilan di kafe atau membeli cenderamata 😊

Syaratnya, tentu event ini harus memiliki kelayakan untuk dijual. Akan kembali ke kesiapan pelakunya. Walau sudah pasti akan muncul dilema tentang kebutuhan dana maupun fasilitas, saya percaya kita bisa memutus lingkaran setan ayam vs telur ini jika semakin banyak pihak yang terlibat dalam kesadaran melestarikan budaya selain peluang ekonomi yang akan menyusul pada gilirannya nanti. Memang sebuah kerja keras. Tetapi jika bukan kita, lalu siapa? Jika bukan sekarang, lalu kapan?

Ide teater keliling dengan mobil panggung merupakan salah satu kiat yang perlu dipertimbangkan. Jika masih terbentur pada ketersediaan jumlah, bisa saja diatur supaya sanggar-sanggar budaya bisa bergilir memanfaatkannya, entah instansi mana pun yang mengelolanya.

Sharing pengalaman nyata dari penggiat kesenian Batak (tarian, drama/teater, opera, musik, dll) tentu akan sangat membantu kita membayangkan situasi masa kini yang dihadapi maupun menyusun rencana nyata guna mewujudkan mimpi ini ke dalam konteks masa kini.

Demikianlah.

📌 Sabtu, 15 Desember 2018 10:39 🌐

Tidak ada komentar:

Posting Komentar