Minggu, 30 Agustus 2020

Real Man Wears Pink

<i>Real Man Wears Pink</i>
Kaos pink

Kaos pink

Warna "pink" yang juga dikenal sebagai "merah jambu" kerap diidentikkan dengan perempuan/feminin, sehingga sebagian orang menganggap janggal jika lelaki menggunakan pakaian dengan warna tersebut.

Sebagai orang yang tidak terlalu peduli dengan mode [maupun komentar orang], saya tidak ambil pusing dengan generalisasi itu. Malah, ketika masih SD, saya pernah minta dibuatkan rompi rajutan berwarna pink pada ibu saya.

Selain warna pink, saya pernah memiliki dan menggunakan kemeja merah marun, biru terang, hijau tosca, kuning, dll tanpa risau. Namun saat ini di lemari pakaian tidak ada baju berwarna pink (belum saya cek container pakaian cadangan). Sehingga, ketika muncul celeng pink di AIGL, tak terpikir oleh saya untuk ikut.

Tahu-tahu, sekitar 2 minggu lalu, ketika mencari kaos yang hendak saya pakai untuk sebuah acara, tersingkaplah sebuah kaos berwarna pink yang saya peroleh ketika membantu kawan-kawan ITB 81 menyelenggarakan Festival II Geopark Belitong tahun 2017 (Om Wahyu Indra Sakti Saidi yang pegang komando lapangan). Terkait promosi, jelas ada logo Kementerian Pariwisata berikut slogan Wonderful Indonesia. (Selain kaos pink, saya dapat juga yang warna ungu dan hijau).

Berhubung saya ada beberapa urusan yang tidak mensyaratkan pakaian tertentu, saya pakailah kaos berwarna pink itu seharian. Ke Pasar Gembrong untuk belanja beberapa barang serta mampir melihat kios-kios pasar seni di situ, ke Bakmi Abun di Kelapa Gading (karena masih kurang pede mau ke Pasar Baru), ke ITC Kuningan membeli beberapa aksesori gawai, ke Mal Ambasador.

O ya, sore hingga agak malam di hari itu, sempat juga saya menambah perbendaharaan nyanyian di Smule dengan kaos pink 🤣

Inilah beberapa foto tepat di hari ulangtahun Pramuka 14 Agustus 2020.

Tepuk Pramuka!
Prok prok prok!
Prok prok prok!
Prok prok prok, prok prok prok prok!

(Teu nyambung pisan urusan pakaian pink dengan Pramuka. Kajeun lah) 🤣

Semoga klaim pink ini tidak menambah keriuhan debat gradasi warna pink, fuchsia, magenta, maupun kawan-kawannya. Iya kan? 😊

Pasar Gembrong

Pasar Gembrong

Pasar Gembrong

Kios-kios Pasar Seni yang sangat lengang
di Pasar Gembrong

Mal Ambasador

Parkiran sepi di Mal Ambasador

ITC Kuningan

Kios-kios gawai di ITC Kuningan

Kelapa Gading

Bakmi Abun Kelapa Gading

#aiglPink #aiglPinkyChallenge #RealManWearPink

📌 Minggu, 30 Agustus 2020 21:50 🌐

Minggu, 02 Agustus 2020

Babad Dukuh Alit Galu #3

Babad Dukuh Alit Galu #3

Fait Accompli

Babad Tanah Jawi

Babad Tanah Jawi

Setelah para warga bubar tunggang-langgang kembali ke dukuh, Ki Ageng Manik (KAM) tepekur sejenak di halaman. Seperti ada yang mengganggu pikirannya. Dengan menghela napas panjang, KAM berbalik menuju pondoknya dan langsung masuk ke dalam tanpa menghiraukan Raden Mas Tomi yang masih bersila di beranda.

--- Waktu sudah terlalu sempit untuk menuntaskan tulisan, sementara mata sudah mulai berat. Dengan sangat terpaksa ceritanya ditunda hingga batas waktu yang belum ditentukan. Mohon maklum. ---

📌 Minggu, 2 Agustus 2020 22:23 🌐

Babad Dukuh Alit Galu #2

Babad Dukuh Alit Galu #2

— Menyatakan Kemustahilan

Munculnya 3 gajah idola di Dukuh Alit Galu tentu saja membuat warga bahagia tak kepalang. Praktis, setiap hari mereka mengunjungi ketiga gajah yang masih dalam pengawasan Kebayan baru.

Namun, kegalauan segera merebak tatkala mereka sadar bahwa maskot dukuh hanyalah 1. Artinya, warga harus memilih 1 dari antara 3. Padahal, mereka sudah telanjur sayang pada ketiganya. Akibatnya, mau-tak-mau, terbentuklah 3 kubu di antara warga.

Dalam situasi senang bercampur galau seperti itu, mereka pun kasak-kusuk mencari pedoman. Beberapa diantaranya menemui Dayu Ida Ayu Suci Levi yang tersohor sebagai pakar simbol (seperti Robert Langdon itu lho, simbolog dari Harvard dalam novel-novel Dan Brown).

Di pendoponya yang sejuk dan asri, ditingkah lirih senandung burung, Dayu Levi menjelaskan pandangannya dengan bijak-bestari namun penuh wibawa, sebagaimana dicatat dalam lontar Pitutur Dayu Levi

Hadirin manggut-manggut menyimak. Nyaris tidak bersuara, bahkan tarikan napas pun seperti ditahan. Mungkin tak rela mengganggu suara Dayu Levi yang jernih dan welas asih.

Dengan penuh sukacita mereka kembali ke rumah masing-masing sambil membawa keyakinan atas pilihan terbaiknya.

Sementara itu, beberapa orang lain, secara diam-diam menemui Ki Ageng Manik (KAM) yang tinggal menyepi di lereng bukit. Berdesak-desak mereka duduk di lantai kayu serambi pondok yang kecil.

Tanpa banyak basa-basi, mereka langsung menyampaikan kegundahan hati mereka.

KAM: "Lah, kenapa musti bingung? Kalian pilih saja yang kalian suka. Tidak ada yang salah ataupun benar. Wong ini soal selera dan persepsi. Gitu aja kok repot?"

Warga: "Kami khawatir jika berbeda pilihan dengan para tetua dukuh, apalagi dengan Kebayan, nanti kami dikucilkan. Apa itu istilahnya? Diemut ngadimin ya?" (sambil menoleh ke kiri dan ke kanan mencari dukungan)

Sambil terkekeh, KAM berkata: "Kalian ini aneh-aneh saja. Tetua yang sekarang bukanlah orang-orang gila hormat dan suka ngemut. Kalau tidak belajar dari prahara kemarin, pandir banget lah mereka itu.

Kalian sangsi pada Denmas Fadjar Hari Mardiansjah, Om Badru Salam, Chief Ize Hawkeye, Mbakyu Ratih Christyaningsih, Jeng Riani Perdanasari, Pakde Darmadji Darmaputra, Kak Betty Simarmata? Semprul tenan koen!

Warga: "Kami hanya ingin harmonis dengan para tetua."

KAM (rada ngambek): "Bahlul banget ente! Yang harusnya harmonis ya kalian sesama warga. Para tetua bukanlah majikan kalian. Mereka ada di sana karena dipandang mampu membantu kalian hidup selaras dengan sesama dan lingkungan. Itu saja tugas mereka."

Nyali mereka langsung ciut kena semprot KAM. Pakai kuah pula semprotannya 😅

Seseorang mengacungkan tangan.

Warga (suara agak tegas): "Permisi, Ki Ageng. Nama saya Manalu. Mohon ijin bicara, Ki Ageng."

KAM: "Ijin diberikan. Speak freely."

Warga: "Siap, Ki Ageng! Mohon dimaklumi jika sahaya dianggap ngeyel. Tapi sahaya ingin tahu, ke mana sebenarnya arah pilihan para tetua. Sebagai pengayom dukuh, tentunya mereka lebih waskita dibanding kami yang rakyat biasa. Apalagi sahaya yang terbiasa taat pada perintah atasan."

KAM (mencoba memaklumi): "Hmm.. (sambil mengelus dagu yang tak berjenggot). Coba kamu jelaskan masing-masing gajah keramat itu."

1. LUTU

LUTU karya Jonathan M.

Warga: "Empu Jonathan M adalah yang pertama membawa gajah dari Taman Sriwedari. Gajah itu lucunya ampun-ampunan. Lutuna tu de Maxx. Memang lucu banget, Ki."

KAM: "Centil banget sih kamu! Oke, kita sebut saja namanya si LUTU.
Selanjutnya!"

2. UNO

UNO karya Dody Sagir

Warga: "Empu Dody Sagir mendatangkan gajah imut, lucu, menggemaskan, dan rada jahil. Namanya UNO yang artinya ..."

KAM (langsung nyolot dengan agak sengit): "Sudah tahu! Gak usah ngajari saya! Wong waktu muda dulu saya pernah kencan di tukang es krim Itali kayak Gus Yudhi Azfandiari, jadi tahu bahwa Uno itu artinya satu. Mau sok ngajari ya, kamu?"

Warga (suara agak lembut, tidak setegas sebelumnya): "Selain itu, UNO juga bermakna unofficial, karena gajah dukuh sebelah katanya sudah dikasih stempel official."

KAM: "Wis, ben. Biarkan. Kagak urus kita!
Selanjutnya!"

3. ORIN

ORIN karya Arifdani Nugraha

Warga: "Malamnya, di hari yang sama, Empu Dantje Arifdani Nugraha berhasil menghadirkan gajah warna oranye yang sedang menari balet.."

KAM (memotong dengan suara menggelegar): "What?! Gajah oranye? Menari balet? Serius kamu? Uwedan tenan iki!"

Sontak semua terhenyak karena kaget sambil tak paham maksud KAM.

Warga (sedikit takut-takut): "Kenapa rupanya, Ki?"

KAM: "Dasar wong gemblung! Kalian pernah lihat gajah oranye? Pernah lihat gajah menari balet?"

Warga (masih sedikit keder): "Belum pernah, Ki.."

KAM: "Tahu artinya apa?"

Tidak ada yang berani menyahut.

Elephants don't do Ballet

Elephants don't do Ballet
Penny McKinlay

KAM: "Itu tanda KEMUSTAHILAN! Ngerti koen? Mustahil ada gajah oranye. Mustahil gajah menari balet. Makin dobel mustahilnya. Tetapi pada kenyataannya Empu Dantje berhasil menghadirkannya di Dukuh kita. Paham artinya?"

Warga saling tatap tanpa menjawab.

KAM: "Itulah kamu, kamu, kamu, kamu...! (seru KAM sambil menunjuk jidat satu per satu orang di depannya). Kalian itu adalah contoh par excellent kemustahilan.

Kalian itu rupa-rupa. Ada yang berasal dari kampung antah berantah, ada yang dari metropolitan, ada yang dari keluarga kelas saudagar, perwira, darah biru, ada yang kere, ada yang ngomong saja belepotan dengan logat nenek-moyangnya, dsb, dll, dst. Belum lagi masalah usia yang jomplang. Acak-adut kabeh.

Tapi kalian semua sekarang bisa guyub di Dukuh Alit Galu ini. Saling canda, saling ejek, saling hibur, saling dukung. Rukun.

Banyak yang bilang semua itu mustahil. Dan memang faktanya di dukuh lain hil itu memang mustahal. Baru di dukuh kita kemustahilan itu menjadi kenyataan. Seperti datangnya gajah oranye menari balet itu.

Kita kasih nama si ORIN. Karena itulah aslinya kalian. Original. Tulen. Apa adanya tanpa penyedap buatan. Bukan kaleng-kaleng. Gak pakai topeng."

Warga (masih setengah bingung): "Jadi bagaimana, Ki?"

KAM (berdiri sambil meledak): "Apanya yang gimana? Gemblung kabeh! Tandanya sudah jelas cetho welo-welo! Masih belum paham juga? Ya amplop! Apa harus saya cambuk pantat kalian? Sana, sana, bubar!!!" (sambil berdiri dan mengambil cambuk yang tergantung di tiang beranda)

Warga terbirit-birit berhamburan melarikan diri dari pondok Ki Ageng Manik.

Hanya tinggal satu anak muda yang masih duduk dengan takzim di lantai kayu beranda. Namanya Raden Mas Tomi Highfinger, yang pernah menjadi Pangeran Utama di Kerajaan Mechanix.

catatan lontar terputus sampai di sini

📌 Minggu, 2 Agustus 2020 00:22 🌐

Sabtu, 01 Agustus 2020

Babad Dukuh Alit Galu #1

Babad Dukuh Alit Galu #1

— Hilangnya Gajah Kami. Lenyap 1 Muncul 3.

Sengkalan: Sirna Dresthi Luhur Ngabekti [1]

Dancing elephant

Dancing elephant

Hanya satu malam menjelang peringatan setahun berdirinya Dukuh Alit Galu, warga digemparkan dengan raibnya gajah kesayangan yang selama ini menjadi maskot. Walau tak ada yang sempat memberinya nama, namun semua sudah tahu apa/siapa yang dimaksud jika ada yang menyebut "gajah". Sebenarnya sih ada julukan generik baginya, yakni Logo.

Usut punya usut, ternyata Kebayan[2] dukuh punya peranan dalam kehebohan ini. Pada malam naas itu, diam-diam Kebayan membuka kandang Logo dan membawanya ke perdikan kosong yang baru saja dirambah. Di sanalah si Logo ditambatkan dan dikawal para petinggi dukuh yang memutuskan bermigrasi ke tempat baru.

Warga dukuh jadi bertanya-tanya apa maksud dari semua ini. Keguyuban dan sukacita warga sekonyong-konyong berganti dengan kekisruhan dan kemasygulan. Berbagai spekulasi serta perdebatan terjadi antar sesama warga, hingga sempat timbul gesekan horisontal.

[beberapa lembar catatan ini dilewatkan saja karena terkait erat dengan bab sebelumnya yang belum ditulis 😁]

Tanpa maskot, tentu saja warga jadi sedikit bingung. Apalagi menjelang peringatan hari kemerdekaan ke-75 Negeri Nuswantara, ada banyak pertandingan antar dukuh. Terpaksa kaos olahraga, panji-panji, peralatan, dll disablon tanpa gambar maskot. Kosong melompong. Sungguh memprihatinkan.

Namun kebingungan massal ini tak berlangsung lama. Secara tak terduga, beberapa empu budaya yang sekian lama memilih bungkam kini serentak bangkit bagai gelombang tsunami. Konon, demikianlah kodrat yang sudah disuratkan sejak purba, "saat kebuntuan melanda masyarakat, maka para seniman dan filsuf menjadi yang terdepan membuka jalan".

Dengan mengerahkan ajian sakti mandraguna, para empu ini berhasil memanggil datang beberapa gajah pilihan dari Taman Sriwedari nan permai. Warga dukuh menyambut sukacita kehadiran para gajah baru. Ada yang lucu, ada yang jehil, ada yang lincah, ada malu-malu menggoda, ada yang cantik, ada yang gagah, dsb. Semua menggemaskan.

Trio Orin - Lutu - Uno (TOLU)

Trio Orin - Lutu - Uno (TOLU)

Para gajah ini langsung dibawa ke padepokan utama, tempat para tetua dukuh bermusyawarah. Di sanalah masing-masing gajah ditelaah secara saksama dari berbagai gatra, termasuk bobot, bibit, dan bebetnya. Primbon warisan leluhur ditelaah hingga ke pernik paling rinci. Ensiklopedi dan berbagai rujukan teknik dibabar di atas meja. Bahkan pakar mekanika teknik pun diundang khusus untuk menjelaskan aplikasi rumusan "statik tak tentu" yang selalu bikin pusing banyak orang.

Perdebatan hangat yang berkelas mengalir deras diiringi tawa renyah para tetua. Analisis keunggulan para gajah dilakukan terhadap kemampuan gajah itu sendiri dalam berkiprah, bukan dengan mengadu gajah satu dengan yang lain. Lah, sudah jelas masing-masing punya kekhasan.

Setelah beberapa hari bermusyawarah, para tetua dukuh mengumandangkan hasilnya ke seantero dukuh, termasuk pada diaspora yang sedang melanglang ke mancanegara. Intinya adalah tentang 3 gajah yang terpilih sebagai kandidat maskot dukuh.

Babad
Kisah/riwayat/sejarah/chronicle.

Dukuh
Desa/dusun.

Alit Galu
Konon nama ini merupakan singkatan dari ALumni ITb GAris LUcu, yakni sebuah komunitas ideal yang sering diceritakan dalam legenda. Bisa jadi mirip dengan masyarakat Atlantis yang dikisahkan oleh Plato.

[1] Kalimat sengkalan
Seperti pepatah/peribahasa dalam bahasa Kawi, namun sesungguhnya merupakan sandi yang berfungsi sebagai petunjuk tahun. Dibaca dari belakang ke depan.

Sirna = 0, hilang
Dresthi = 2, ingkar janji

Luhur = 0, mulia
Ngabekti = 2, bakti.

"Hilangnya keingkaran memuliakan pengabdian."

0202 dimaknai sebagai tahun 2020. (Tapi pakai tahun Masehi ya, bukan Tahun Saka. Segini saja saya sudah pening, jangan dituntut lebih 😌)

[2] Kebayan
penanggungjawab keamanan desa. Setara Kapolres di masa kini, meureun. Tapi, belakangan ini sang Kebayan malah menganalogikan diri sebagai anjing penjaga. Entah kenapa.

📌 Sabtu, 1 Agustus 2020 00:18 🌐