Senin, 04 Oktober 2021

Urusan Tiket Bis Sampai ke Surga

[Florence, 8 Maret 2016]

Setelah berkelana ke berbagai kota, akhirnya kami pun berlabuh sejenak di kota yang memiliki beberapa cara penyebutan: Florence (Inggris), Firenze (Italia), Florenz (Jerman), Florencia (Spanyol), dan dulu kala saat berdiri disebut Florentia (Latin).

Ini adalah sebuah kota yang tenang, jauh dari hingar-bingar kemodernan. Mungkin kebetulan saat kami datang di bulan Maret sedang tidak ramai pelancong. Entah pula memang demikian sehari-harinya.

Padahal saya yakin kota ini dulunya sangat ramai, mengingat di sinilah lahir rennaisance yang menggerakkan kebangkitan seni dan budaya Italia serta Eropa. Tercatat sastrawan besar asal Firenze seperti Dante, Boccaccio, dan Petrarch yang menulis dalam dialek Toscana yang kemudian berkembang menjadi bahasa Italia modern. Di masa jayanya, kota ini menjadi pusat budaya, ekonomi, dan keuangan yang sangat penting di Eropa sehingga dijuluki "Athena di Barat".

Terlepas dari itu semua, kami sangat gembira karena bisa menikmati berbagai hal dengan tenang. Dan sebagaimana biasa, penjelajahan kota merupakan agenda utama.

Enaknya di negara maju, kendaraan umum sangat dapat diandalkan. Tentu yang dimaksud bukanlah angkot, melainkan bis atau kereta/trem/metro, dengan terlebih dahulu membeli tiket di vending machine untuk divalidasi (tap) saat melewati gerbang atau masuk kendaraan.

Suatu pagi, kami berenam naik bis. Ternyata tak ada orang lain di dalamnya kecuali sopir. Ini bis beneran atau bis jadi-jadian sih? Tapi hal itu tak membuat kami gentar, karena hari masih terang dan rasanya sih di kota ini tidak ada legenda bis hantu 👻

Dasar iseng, melihat situasi sangat sepi begitu, saya berbisik pada seorang kawan yang punya kelakuan rada preman.

"Kalau kita gak nge-tap tiket, kan gak ada yang tahu. Jadi kita bisa irit buat perjalanan berikutnya."

"Iye, iye.. Bener," teman saya langsung setuju.

Padahal ada keterangan tertempel di situ yang menyatakan kecurangan naik bis tanpa validasi tiket akan dikenai sanksi € 60 (kalau tidak salah ingat) padahal untuk sekali jalan dibebani € 1.5 saja. Sadis memang hukuman terhadap para pelanggar aturan. Tapi bisa dipahami juga sih, sudah diberi kemudahan dan keringanan kok malah mencuri. Beda mentalitas 😜

Maka saya dan dia pun berlagak pilon dengan tidak memvalidasi tiket. Seorang kawan yang punya hobi mengunjungi gereja (disinggung di kisah Munich (https://www.facebook.com/groups/alumniitbgarislucu/permalink/1290092224794719/) mengingatkan kami untuk melakukan validasi. Kawan saya yang preman itu berbisik kepadanya tentang skenario yang sedang kami jalankan. Sontak wajah si pelancong gereja menjadi masam.

"Kita ini sedang di negara orang. Sebaiknya patuh pada aturan. Kalau ada apa-apa, kita sendiri yang repot. Jangan menodai berkat yang sudah kita terima."

Njir... Religius pisan euy 🙏

"Tiket € 1.5 saja kalian curangi, padahal risikonya puluhan Euro kalau ketahuan," imbuhnya lagi.

"Kan gak ada yang lihat. Hanya Tuhan yang tahu. Dan Dia baik serta Maha Pengampun," kawan preman berargumen dengan gaya sok religius pula.

Demikianlah kami berdebat dengan bisik-bisik di atas bis hingga sampai di tujuan dan turun. Perdebatan masih terus berlangsung di trotoar. Alhasil, si pelancong gereja pun dengan jengkel berjalan duluan meninggalkan kami. Marah bener dia, kayaknya.

Saya dan kawan preman saling pandang. Gak enak nih kalau kita jadi diem-dieman begini. Padahal tujuan pesiar ini kan untuk senang-senang bersama. Kami juga tidak tahu kenapa si pelancong gereja mendadak serius banget urusan remeh begini, padahal biasanya dia toleran pada kelakuan kawan, sebangsat apapun. Memang sih kalau sampai ketahuan, pasti bakal ribet urusannya. Lebih menyesakkan dada dan dompet dibandingkan harga Steak di Vatikan (https://www.facebook.com/groups/alumniitbgarislucu/permalink/1287984075005534/).

Akhirnya saya berseru memanggil si kawan pelancong gereja itu agar menunggu kami. Setelah berkumpul lagi, saya bilang kepadanya dengan wajah tulus, "Iya, kami salah. Besok kami bayar dobel deh."

Wajah masam si pelancong gereja sejenak membeku. Dan tiba-tiba dia terkekeh-kekeh. "Emangnya bayar tiket bus kayak rapel sarapan dengan makan siang?"

Dengan niat melunakkan hatinya, kami pun berjanji akan mengaku dosa ke gereja.

"Berkatilah saya, Bapa, karena saya telah berdosa. Mea culpa. Mea culpa."

— PinAng: Senin, 4 Oktober 2021


Di depan gereja legendaris Santa Croce. Sayangnya tidak bisa masuk dan mengaku dosa karena sudah malam 😊
Di depan gereja legendaris Santa Croce. Sayangnya tidak bisa masuk dan mengaku dosa karena sudah malam 😊

Keluyuran malam, menyeberangi Sungai Arno yang membelah kota Florence. Sempat tersesat saat mencari patung David yang terkenal.
Keluyuran malam, menyeberangi Sungai Arno yang membelah kota Florence. Sempat tersesat saat mencari patung David yang terkenal.

Di bukit dengan latar belakang hamparan kota yang tenang.
Di bukit dengan latar belakang hamparan kota yang tenang.

Selewat tengah malam akhirnya berhasil juga tiba di Piazalle Michaelangelo yang memasang replika patung Daud karya sang maestro Michaelangelo.
Selewat tengah malam akhirnya berhasil juga tiba di Piazalle Michaelangelo yang memasang replika patung Daud karya sang maestro Michaelangelo.

Keisengan warga kota memberi aksen pada tanda dilarang masuk 😁
Keisengan warga kota memberi aksen pada tanda dilarang masuk 😁

Ada juga toko soto di Florence, sayangnya tidak menjual makanan 🍲 melainkan tas 👜
Ada juga toko soto di Florence, sayangnya tidak menjual makanan 🍲 melainkan tas 👜