Selasa, 26 Oktober 2021

Gajah Garis Gelo

Gajah Garis Gelo

Secangkir kopi tarik panas
di sore yang agak redup

Tidak ada aturan khusus dalam menikmati secangkir teh tarik yang membuat kita bisa dicap kurang beradab jika tak suai dengan ritual ala orang Inggris ataupun Jepang. Tak ada pula ketentuan kapan saat paling manjur untuk menyeruputnya. Baik pagi, siang, sore, malam, atau menjelang subuh; mau diseduh air mendidih atau pakai es batu; semuanya sah!

Begitu juga dalam membaca rangkaian kicau meracau seorang Dony Gurning dalam kumpulan fragmen yang diberi judul Gajah Garis Gelo (G3). Dengan imbuhan "kacau!" dalam subjudul, maka pembaca diberi kebebasan membaca sesuka hati tanpa harus merunut dari halaman pertama. Suka-suka. Terserah jari melompat ke halaman berapa. Toh buku ini bukanlah otobiografi yang harus dititi alurnya sejak sang penulis mbrojol ke dunia.

Membaca Dony Gurning adalah menguak beberapa berkas kehidupan seorang manusia yang terikut dalam rombongan mahasiswa ITB, yang entah bagaimana sejarahnya sehingga diberi stempel "putra-putri terbaik bangsa". Yang jelas, titel keren ini sontak hancur-lebur ketika dia menghadapi ujian kalkulus pertama. Hohoho.. Anak ITB ternyata manusia biasa juga, yang kepercayaan dirinya bisa menyublim paripurna ditelan simbol cacing melengkung 😁 ["Ganesha 10 Yeaay..", hlm. 35].

Ada juga cerita tentang Dony kecil yang jeli memetik hikmah mendalam dari perilaku ternak babi ["Filsafat Babi", hlm. 6]. Namun, bangunan filosofi yang tertata indah tersebut rontok dalam sekejap ketika Dony dewasa dihadapkan pada kenyataan bahwa setiap mahluk akan mengabaikan filosofi ketika kelangsungan hidupnya terancam. Terlebih-lebih babi yang kepalanya kena hantam balok kayu ulin ["Berburu Makan Malam", hlm. 140]. Tampaknya, di sinilah piramida Maslow maupun teori Darwin mengejawantah secara lugas 🤣

Kendati demikian, dalam berbagai hal, hewan bisa lebih terhormat karena aksi membabi-butanya adalah demi kesintasan hidup, yang lebih mulia dibanding perilaku [sebagian] manusia yang tak sungkan makan tulang kawan demi keuntungan pribadi 🤔

Sangat boleh jadi, ada yang menyangka bahwa anak ITB pastilah logis dan solutif sehingga selalu bisa mengambil keputusan terbaik yang happy ending. Faktanya? Nanti dulu! Anak ITB tetaplah manusia biasa yang punya keraguan, tak siap pada berbagai kejutan, bahkan kadang tak cukup nyali saat dihadapkan pada persoalan hati. Dan reaksinya pun kadang tak terduga, jika tidak bisa dibilang menyebalkan tak berperasaan.

Sila bayangkan remuk-redamnya hati seorang perempuan yang sudah menabahkan diri menyatakan rasa sayang namun dibalas dengan pertanyaan "Kamu gila ya?" Mungkin di zaman itu memang gila jika seorang perempuan lebih dulu menyatakan perasaannya, sehingga seorang lelaki menolak untuk terpojok dalam dilema. Dan, alih-alih mengejar untuk melunakkan kepedihan sang perempuan, dengan rileks dia putuskan menuntaskan nasi goreng sepiring-berduanya, yang terlalu sayang untuk disia-siakan ["Salahnya di Mana?", hlm. 96].

Berkenaan dengan spiritualitas yang konon cukup nisbi di kalangan anak ITB pada masa itu, maka mempertanyakan bahkan menyangsikan hal-hal supranatural dipandang sebagai sebuah kelaziman. Tapi, sangat boleh jadi, ada masanya roda kehidupan punya keluangan waktu untuk menggedor rasa skeptis manusia, sehingga seorang Dony muda tergugah instingnya mengevakuasi seluruh tim dari lokasi penambangan batubara. Tidak ada kemewahan waktu untuk berdiskusi, sehingga operator excavator yang nekad beradu argumen atas keputusannya pun dia ancam akan digebuk di hadapan umum. Mungkin ada baiknya tidak banyak bicara saat malaikat sedang bekerja. Simak saja suara yang samar itu sebelum dinding runtuh ["Puncak Prestasi", hlm. 176].

Paradoks lainnya adalah soal rasa seni pada kebanyakan anak ITB. Tidak sedikit yang berpraduga bahwa otak anak ITB dijejali rumus, angka, dan diagram sehingga tak ada ruang yang layak bagi khasanah seni, termasuk sastra. Dony dengan sukses menjungkirkan tipikalisasi tersebut dengan cara bertutur yang sekelebat mengingatkan saya pada Ashadi Siregar di Kampus Biru, atau Iwan Simatupang yang paling enggan memberi nama tokoh (kok kebetulan keduanya orang Batak), ataupun Seno Gumira Ajidarma yang ending ceritanya kadang bikin kejang. Sila buka halaman 62, "Sebuah Kisah di Sekitar Aula Barat". Atau puisi ala entah siapa itu yang judulnya lebih panjang daripada isinya sehingga saya malas merepotkan diri mengutipnya [hlm. 84].

Entah pula karena spiritualitas dan rasa seni di luar mainstream ini maka seorang Dony bisa begitu cinta pada TV sehingga sangat khusyuk menontonnya hingga beberapa jam. Benar-benar menonton TV! [Nonton Tipi, hlm. 158]. Maka, tak perlu terperanjat jika Dony memaklumkan diri berada di saf garis gelo 😁

Membaca G3 adalah menyingkap sekelumit pemikiran dan perilaku kehidupan seorang Dony Gurning. Membaca Dony Gurning adalah mencicip segelintir warna dalam kehidupan anak ITB yang multifaset dengan berbagai variasi subtil tak terbatas.

Bagai menikmati secangkir teh tarik, ada pahit yang tetap terasa di lidah ditingkah manisnya susu. Demikian pula realitas kehidupan yang dituturkan Dony. Mari nikmati tanpa terlalu ngotot mempersoalkan cuaca terik di luar atau gonjang-ganjing politik penuh gincu. Lebih berfaedah mengasah kepekaan bermanusia dengan menghargai saat demi saat keseharian bersahaja di lembar-lembar buku ini.

Jika teh tarik dianggap kurang nendang, sila mengudap barang satu-dua potong lupis berbalur parutan kelapa dan cairan kental gula merah. Ada rasa serta tekstur yang berbeda dan lebih kaya bagi indera pengecap. Dengan kata lain, bolehlah berharap ada sekuel G3 🙏

Sila mampir ke tokopedia.link dan seruput teh tariknya. Sluuurrrp..

tak harus mandi dulu untuk menikmati buku kicau meracau ini

dua potong lupis yang tandas sebelum hirupan terakhir teh tarik

atau dengan mantaw, sama patennya 👍😋

#MyNotes #resensi #buku #books

📌 Selasa, 26 Oktober 2021 00:42 🌐

Senin, 04 Oktober 2021

Urusan Tiket Bis Sampai ke Surga

Urusan Tiket Bis Sampai ke Surga

— Florence, 8 Maret 2016

Gereja Santa Croce

Di depan gereja legendaris Santa Croce
Sayangnya tidak bisa masuk dan mengaku dosa
karena sudah malam 😊

Setelah berkelana ke berbagai kota, akhirnya kami pun berlabuh sejenak di kota yang memiliki beberapa cara penyebutan: Florence (Inggris), Firenze (Italia), Florenz (Jerman), Florencia (Spanyol), dan dulu kala saat berdiri disebut Florentia (Latin).

Ini adalah sebuah kota yang tenang, jauh dari hingar-bingar kemodernan. Mungkin kebetulan saat kami datang di bulan Maret sedang tidak ramai pelancong. Entah pula memang demikian sehari-harinya.

Padahal saya yakin kota ini dulunya sangat ramai, mengingat di sinilah lahir rennaisance yang menggerakkan kebangkitan seni dan budaya Italia serta Eropa. Tercatat sastrawan besar asal Firenze seperti Dante, Boccaccio, dan Petrarch yang menulis dalam dialek Toscana yang kemudian berkembang menjadi bahasa Italia modern. Di masa jayanya, kota ini menjadi pusat budaya, ekonomi, dan keuangan yang sangat penting di Eropa sehingga dijuluki "Athena di Barat".

Terlepas dari itu semua, kami sangat gembira karena bisa menikmati berbagai hal dengan tenang. Dan sebagaimana biasa, penjelajahan kota merupakan agenda utama.

Enaknya di negara maju, kendaraan umum sangat dapat diandalkan. Tentu yang dimaksud bukanlah angkot, melainkan bis atau kereta/trem/metro, dengan terlebih dahulu membeli tiket di vending machine untuk divalidasi (tap) saat melewati gerbang atau masuk kendaraan.

Suatu pagi, kami berenam naik bis. Ternyata tak ada orang lain di dalamnya kecuali sopir. Ini bis beneran atau bis jadi-jadian sih? Tapi hal itu tak membuat kami gentar, karena hari masih terang dan rasanya sih di kota ini tidak ada legenda bis hantu 👻

Dasar iseng, melihat situasi sangat sepi begitu, saya berbisik pada seorang kawan yang punya kelakuan rada preman.

"Kalau kita gak nge-tap tiket, kan gak ada yang tahu. Jadi kita bisa irit buat perjalanan berikutnya."

"Iye, iye.. Bener," teman saya langsung setuju.

Padahal ada keterangan tertempel di situ yang menyatakan kecurangan naik bis tanpa validasi tiket akan dikenai sanksi € 60 (kalau tidak salah ingat) padahal untuk sekali jalan dibebani € 1.5 saja. Sadis memang hukuman terhadap para pelanggar aturan. Tapi bisa dipahami juga sih, sudah diberi kemudahan dan keringanan kok malah mencuri. Beda mentalitas 😜

Maka saya dan dia pun berlagak pilon dengan tidak memvalidasi tiket. Seorang kawan yang punya hobi mengunjungi gereja mengingatkan kami untuk melakukan validasi. Kawan saya yang preman itu berbisik kepadanya tentang skenario yang sedang kami jalankan. Sontak wajah si pelancong gereja menjadi masam.

"Kita ini sedang di negara orang. Sebaiknya patuh pada aturan. Kalau ada apa-apa, kita sendiri yang repot. Jangan menodai berkat yang sudah kita terima."

Njir... Religius pisan euy 🙏

"Tiket € 1.5 saja kalian curangi, padahal risikonya puluhan Euro kalau ketahuan," imbuhnya lagi.

"Kan gak ada yang lihat. Hanya Tuhan yang tahu. Dan Dia baik serta Maha Pengampun," kawan preman berargumen dengan gaya sok religius pula.

Demikianlah kami berdebat dengan bisik-bisik di atas bis hingga sampai di tujuan dan turun. Perdebatan masih terus berlangsung di trotoar. Alhasil, si pelancong gereja pun dengan jengkel berjalan duluan meninggalkan kami. Marah bener dia, kayaknya.

Saya dan kawan preman saling pandang. Gak enak nih kalau kita jadi diem-dieman begini. Padahal tujuan pesiar ini kan untuk senang-senang bersama. Kami juga tidak tahu kenapa si pelancong gereja mendadak serius banget urusan remeh begini, padahal biasanya dia toleran pada kelakuan kawan, sebangsat apapun. Memang sih kalau sampai ketahuan, pasti bakal ribet urusannya. Lebih menyesakkan dada dan dompet dibandingkan harga Steak di Vatikan.

Akhirnya saya berseru memanggil si kawan pelancong gereja itu agar menunggu kami. Setelah berkumpul lagi, saya bilang kepadanya dengan wajah tulus, "Iya, kami salah. Besok kami bayar dobel deh."

Wajah masam si pelancong gereja sejenak membeku. Dan tiba-tiba dia terkekeh-kekeh. "Emangnya bayar tiket bus kayak rapel sarapan dengan makan siang?"

Dengan niat melunakkan hatinya, kami pun berjanji akan mengaku dosa ke gereja.

Ampunilah saya, Bapa, karena saya telah berdosa.
Mea culpa. Mea culpa.
Keluyuran malam, menyeberangi Sungai Arno

Keluyuran malam, menyeberangi Sungai Arno yang membelah kota Florence. Sempat tersesat saat mencari patung David yang terkenal.

Hamparan kota yang tenang

Di bukit dengan latar belakang hamparan kota yang tenang di malam hari.

Piazalle Michaelangelo

Selewat tengah malam akhirnya berhasil juga tiba di Piazalle Michaelangelo yang memasang replika patung David karya sang maestro Michaelangelo.

Aksen pada rambu jalan

Keisengan warga kota memberi aksen pada rambu dilarang masuk 😁

Toko soto di Florence

Ternyata ada juga toko soto di Florence, sayangnya tidak menjual makanan 🍲 melainkan tas 👜

#aiglCeritaLiburan

📌 Senin, 4 Oktober 2021 21:42 🌐

Minggu, 03 Oktober 2021

Saat Hotel Bikin Naik Pitam

Saat Hotel Bikin Naik Pitam

— Munich, 15 Maret 2016

Patung celeng

Berhubung ini adalah celeng liburan,
saya sertakan foto bersama celeng
yang nekad berlibur di kota Munich 😊

Kami tiba di hotel yang sudah dipesan jauh-jauh hari dari Jakarta. Sesampai di sana, ternyata pesanan atas nama seorang kawan tidak tersedia. Maka, sibuklah kawan ini berbicara dengan petugas hotel. Sementara kami duduk di sofa dekat meja resepsionis menanti kejujuran eh kepastian.

Kurang jelas apa yang mereka bahas, perbincangan yang semula santai untuk menanyakan alasan hotel tidak memenuhi janjinya, lama-lama kian memanas. Padahal udara terasa makin dingin dan salju mulai bertaburan di luar.

Kawan yang satu ini memang agak temperamental. Saya ingat dia pernah berteriak-teriak keras dalam bahasa Mandarin di pasar Ben Thanh, Ho Chi Minh City, Vietnam, karena merasa sang pedagang tidak memperlakukannya secara layak. Barangkali ada sekitar 1/17 pengunjung pasar yang terkaget-kaget mendengar teriakannya (sebenarnya sih saya gak sempat menghitung, ini perkiraan saja karena saya yang berada beberapa belas meter dari tempatnya pun kaget mengira ada kerusuhan).

Dan saat di hotel Munich ini, sedikit demi sedikit amplitudo suaranya pun kian bertambah sehingga sebagian tamu di lobby sempat menoleh. Tak lupa, tangannya menunjuk-nunjuk petugas hotel sehingga sang petugas dengan agak keras menegurnya agar jangan mengacung-acungkan jari ke mukanya. Untung saja kawan ini tidak menggunakan jari tengah 😜

Sang petugas berusaha keras menjelaskan dan menyabarkannya seraya menyampaikan bahwa mereka sudah memesankan kamar di hotel lain tanpa biaya tambahan. Tentu saja kawan ini tidak senang. Begitu juga kami agak kurang bahagia, yang kami sampaikan dengan ekspresi muka merengut. Wong kami ingin selalu bersama-sama, kok malah dipisah. Lagipula, kawan inilah yang membawa rice cooker dan beras yang menjadi andalan ransum selama perjalanan (sila cek kisah steak di Vatikan 😁)

Agar keadaan tidak semakin rusuh, kami menahan diri untuk tidak ikut-ikutan mengeroyok petugas hotel. Kami bersiaga saja sambil menyimak dialog mereka dalam mencari solusi. Merasa mendapat dukungan dari kami, kawan ini semakin pede dan suaranya kian menggelegar. Bicaranya pun semakin merepet.

Ketika sang petugas masuk ke dalam untuk mengurus sesuatu, kawan ini berbalik menghadap kami seraya bertanya dengan suara pelan, "Bahasa Inggris gue udah bener kan?"

Sontak kami saling pandang dan ngakak bareng. Marah ni yeee... 😂

Ketika kami mengantarnya ke tempatnya, ternyata hotelnya malah lebih bagus dibanding yang kami inapi.

Walau tak semujur Bang Toni Toni P Sianipar dalam urusan hotel, kawan ini termasuk beruntung juga akibat kengototannya. Masih bagus kami tidak melakukan aksi mendengkur bareng di sofa lobby hotel ala Bang Toni 🤣

Kios Paulaner

Paulaner di Jakarta tergolong restoran besar dan cukup mahal. Sedangkan di sini mungil saja ala kios.

Resto Taklamakan

Resto Uyghur bernama unik. Entah maksudnya "tak lah makan" (kesannya malah melarang makan) atau "tak lama, kan" (cocok untuk resto cepat saji).

Resto LeboQ

Saya curiga resto ini milik orang Sunda. Namanya ditulis sok gaya jadi "LeboQ". Padahal mah tulis aja "Lebok" yang artinya makan (bahasa kasar). Jangan-jangan memang punya Mang Kabayan 😁

Hotel Batu

Belum sempat bertanya apakah pemilik hotel bernama ini berasal dari Malang.

Munich 5°C.

Suhu di Munich saat kejadian adalah 5°C.

#aiglCeritaLiburan

📌 Minggu, 3 Oktober 2021 16:17🌐