📌 Sabtu, 31 Juli 2021 🌐

Pertunangan di Bulan April

Kolam Mesin yang legendaris

Kebetulan tadi sore saya menemukan album lama di tumpukan barang. Tak sengaja pandangan saya terhenti pada beberapa halaman berisi beberapa foto. Sontak pikiran menerawang ke masa lalu yang akhirnya mengingatkan pada tempat keramat (sacred place) saat kuliah di Jurusan Teknik Mesin ITB.

Bicara soal sacred place di ITB, bukanlah sebuah kejanggalan --bahkan merupakan kenormalan-- jika anak Yell Boys alias jaket biru strip 3 memasukkan "Kolam Mesin" sebagai salah satunya. Kolam yang sebenarnya merupakan penampungan air pendingin mesin-mesin di laboratorium itu sudah barang tentu amat rendah tingkat higienitasnya dibanding air kolam renang berkaporit. Warna kehijauan yang butek sudah bisa menjadi indikatornya secara kasat mata.

Kolam Mesin yang berjumlah 3 buah ini sama saja kondisinya satu sama lain. Entah kenapa pula jumlahnya harus 3. Mungkin demi konsistensi menjunjung 3 nilai utama Study, Society, Solidarity yang menjadi jargon abadi anak Mesin 😁

Selama menjadi mahasiswa, seorang anak Mesin pernah mandi dalam kolam itu minimal sebanyak 2 kali.

1: saat dilantik menjadi anggota Himpunan Mahasiswa Mesin (HMM) sehabis menjalani orientasi pengenalan kampus (OSPEK).

1.5: saat menjadi panitia wisuda sarjana baru Mesin. Hanya saja, tak semua beruntung mengalami hal ini jika bisa menyelamatkan diri dari tangkapan kawan-kawan sesama panitia maupun wisudawan.

2: saat diwisuda sebagai sarjana.

Tambahan lainnya adalah bonus kalau sedang mengerjakan sesuatu di area Jurusan Mesin lalu iseng saling menceburkan kawan.

Yang harus diingat baik-baik, bahwa mandi di kolam Mesin selalu dilakukan secara bersama alias ramai-ramai.

Mungkin dalam sejarah Kolam Mesin, saya adalah salah satu (jika bukan satu-satunya) orang yang pernah diceburkan secara solo.

Lho, kok bisa? Bagaimana ceritanya?

Agak panjang sih ceritanya. Sila baca ringkasan di bawah jika masih belum bosan. Detail tak dituliskan karena bersifat privat 😜

Alkisah (lupa tahun berapa), saya dan beberapa kawan sedang belajar bersama dalam rangka persiapan ujian mata kuliah Perpindahan Panas (Perpan) di rumah kawan di Geger Kalong. Dengan tekun kami membaca buku teks dan mengerjakan contoh soal sejak siang sampai malam. Biasanya kami menginap, sekalian numpang makan dan mandi, lalu keesokan harinya pergi bersama ke kampus untuk ujian.

Pelajaran yang susah-susah gampang menghitung kalor entalpi, entropi, dsb tersebut memang acap bikin kepala butek dan berasap (apalagi kalau simbol P, F, V dilafalkan oleh kawan yang Sunda banget, sehingga kacau banget deh semua hitungan 😞).

Namun, sebagaimana lazimnya anak Mesin yang selalu ceria dan kreatif, ada saja hal yang membuat kami bisa refreshing. Dan biasanya, obrolan atau gagasan yang mencuat saat rehat belajar adalah sesuatu yang gila dan konyol.

Saat itu bulan Maret. Entah kenapa, terpikir oleh saya untuk membuat kejutan April Mop pada tanggal 1 April. Bikin apa ya yang heboh?

Ngobrol punya ngobrol selewat tengah malam, muncullah ide gila membuat hoax bahwa saya bertunangan. Segera ide ini disambut kawan-kawan. Mulailah kami merancang program kerja. Mencari tempat pelaksanaan acara, orang-orang yang akan diundang, properti, konsumsi, dll.

Esoknya kami semua bergerak. Saya merancang undangan resepsi (maklumlah, urusan desain dan sablon-menyablon sudah menjadi tugas saya saat di HMM). Kawan-kawan lain berbagi tugas. Ada yang mencari cincin tunangan, memesan makanan ala kadarnya (gak ada makan besar, hanya cemilan dan sirup), membereskan rumah yang dipinjam di kawasan Sukajadi.

Dari semua persiapan itu, unsur utama atraksi menjadi sangat penting: siapa yang akan menjadi tunangan saya?

Setelah sibuk mendata dan menyeleksi sekian kandidat, tersisir salah seorang kawan di Geger Kalong yang cukup akrab dengan kami. Anak Psikologi UNPAD yang friendly dan easy going banget. Sebutlah namanya Melati Jayagiri (ada alasan kenapa menggunakan nama ini, ikuti saja terus kisahnya).

Akhirnya, kami pun mengunjungi Melati. Mendengar rencana yang kami beberkan, Melati tertawa geli. Dan sesuai harapan, dia bersedia menjadi leading lady dalam drama ini. Kapan lagi ngerjain anak ITB? Mesin pulak! 😜

Kelar semua persiapan.

Dengan segera undangan pun disebarkan kepada kawan-kawan. Rencananya sih hanya kepada kawan sekelas/seangkatan. Ndilalah, ada yang iseng menempelkan undangan tersebut di papan pengumuman HMM. Alhasil, hebohlah sejurusan, bahkan hingga dosen 🙈

O ya, guna menjaga rahasia, saya terlebih dahulu memberikan taklimat (briefing) pada adik kandung saya yang juga kuliah di Mesin agar memberikan konfirmasi jika ada yang menanyakan kebenaran pertunangan saya. Malah, demi kesuksesan operasi, keluarga saya di Sukabumi pun saya ajak kompak. Siapa tahu ada yang penasaran dan nekad menelepon ke sana.

Aman semua.

Maka, selama beberapa hari, saya pun agak sibuk menerima ucapan selamat dari kawan-kawan Mesin, baik yang seangkatan maupun beda angkatan. Agak tersipu juga saya saat itu. Namanya juga belum pernah tunangan 😊

Akhirnya, tibalah hari-H.

Rumah yang dipinjam sudah dibereskan, kursi sudah ditata rapi, makanan kecil dan minuman tinggal disajikan. Beres semua.

Tinggal menjemput tunangan.

Maka saya pun berangkat ke rumah Melati. Sampai di sana, saya terkejut setengah mati karena Melati masih duduk-duduk santai di serambi pakai kaos rumahan dan celana pendek. Boro-boro mandi. Lho?

Dengan tenang Melati bilang bahwa dia baru pulang dari naik gunung (nah ini alasan kenapa namanya jadi Melati Jayagiri). Yaoloh ... Gawat nian punya tunangan seperti ini 😜 Tapi dia mengatakan akan siap sebentar lagi. Maka saya pun menunggu di teras sambil ngopi dan ngudut.

Tak berapa lama kemudian Melati sudah siap dengan dandanan bersahaja. Memang anak ini gak pernah berlebihan. Secukupnya saja.

"Jalan kita, Mel?"

"Ayo. Tapi agak pegal dan sakit nih kaki. Tadi sempat kepleset."

"Lah, kamu sih pakai mendaki gunung segala. Sudah tahu hari ini kita tunangan," sahut saya setengah ngedumel.

Melati hanya tertawa kecil dengan lengkung bibirnya yang tak bisa saya lupa.

"Ini cincinnya," kata saya sambil memasukkan cincin tersebut ke jari manisnya. Begitu saja tanpa adegan tambahan.

Dan berangkatlah kami ke tempat acara.

Selewat maghrib, kawan-kawan Mesin mulai berdatangan. Yang membuat saya agak senewen, ternyata Ketua HMM juga hadir. Begitu juga seorang dosen muda Jurusan Mesin. Matilah awak! 😱

Jika tak salah ingat, ada sekitar 40-an anak Mesin yang datang. Campur-campur dari berbagai angkatan.

Foto saat acara.
Sudah mulai pudar dan buram.

Acara pun saya buka selaku yang empunya hajat. Sempat juga kami pamerkan cincin kembar di jari manis kami. Melati senyum-senyum saja.

Setelah itu, Ketua HMM memberikan sambutan. Dikatakannya bahwa ini adalah contoh yang baik ... bla, bla, bla ... yang membuat saya merasa seperempat berdosa.

Beberapa kawan juga memberikan sambutan dan selamat. Termasuk seorang sohib yang secara khusus berkemeja batik malam itu.

Lanjut ngobrol sambil nyemil (sorry ya, friends, berhubung kami hanya mahasiswa anak kos, gak cukup modal untuk menyediakan kambing guling 🙏)

Singkat kata, acara berlangsung sukses. Setelah semua undangan pulang, saya dan kawan-kawan tak henti tertawa geli menikmati adegan-adegan tadi. O ya, sebelum acara kenduri berakhir, Melati saya antar pulang karena letih.

Selama berhari-hari, semua berlangsung biasa. Dengan setia saya memakai cincin pertunangan setiap hari. Kadang saya masih menerima ucapan selamat dari kawan-kawan, termasuk dari jurusan lain bahkan kampus lain. Life goes as usual.

Andai semua terhenti sampai sini ...

Hingga akhirnya, sekitar seminggu setelah resepsi tersebut, terbitlah buletin HMM TRANSMISI yang saya komandani. Salah satu isinya adalah tulisan saya yang dengan rinci membeberkan fakta perihal pertunangan saya.

Saya tidak tahu bagaimana reaksi kawan-kawan atas rilisnya cerita tersebut karena pada hari itu kebetulan saya tidak ke kampus. Dan bisa jadi ini adalah kesalahan saya sehingga mereka akhirnya punya kesempatan berkomplot.

Esok siangnya, saya datang ke kampus dengan biasa. Ada kuliah sore.

Saat berjalan menuju ruang kuliah di sebelah Kolam Mesin, seorang kawan dengan sangat manis menawarkan membawakan tas selempang saya. Tentu saja saya heran. Tumben amat kawan ini sangat baik.

Tapi belum sempat saya berpikir jauh, sekitar 10 orang sekonyong-konyong mengerubuti dan serempak melepas jaket yang saya pakai, memegang tangan dan kaki saya, menggotong saya ke arah Kolam Mesin, dan dengan gegap-gempita melemparkan saya ke dalamnya.

Setengah bersungut-sungut saya naik dari kolam dalam kondisi basah kuyup. Namun kawan-kawan tak peduli. Mereka bersukacita memuaskan hasrat dendam atas penipuan yang sukses itu.

Sementara itu, komplotan saya tentu saja langsung menjauhi area pembantaian. Dan selama beberapa hari berikutnya, mereka selalu waspada jangan sampai mengalami nasib seperti saya. Huh!

Sorenya, tentu sehabis pulang mandi dan berganti pakaian, saya berkunjung ke rumah Melati dan menceritakan apa yang saya alami. Melati terpingkal-pingkal mendengarnya. Tentu saja dengan lengkung bibirnya yang khas.

Dengan mimik serius saya katakan padanya bahwa kawan-kawan Mesin mau balas dendam pada Melati sebagai salah satu pendukung penipuan massal. Agak shocked juga dia mendengarnya.

Dengan gemas saya ucek-ucek rambutnya sambil berkata, "Gak lah. Gak mungkin mereka ke sini menculik kamu dan menceburkan ke Kolam Mesin."

Sampai sekian bulan kemudian saya masih berinteraksi dengan Melati, bahkan hingga saya sudah merantau ke pedalaman Riau. Setiap pulang ke Bandung, selalu saya sempatkan mampir ke rumahnya.

Sangat disayangkan, sampai lulus kuliah saya belum memenuhi ajakannya main ke Fakfak, Papua. Dan setelah tak lagi berkomunikasi, saya dengar kabar dia sudah menikah kemudian tinggal di Lembang. Mudah-mudahan satu saat saya bisa berjumpa lagi.

Demikianlah kisah salah satu sacred place saya di ITB.

Kadang saat berkunjung ke Jurusan Mesin dan memandangi trio kolam di situ, kilasan masa lalu berkelebat seperti film yang diputar dengan kecepatan tinggi. Namun, seperti didendangkan dalam lagu Hotel California, "some dance to remember, some dance to forget".

Demikianlah.

Tenggat waktu celeng tak memungkinkan saya yang mengidap prokrastinasi ini menuliskan kisah di tempat lainnya, seperti LFM hingga lorong bawah tanah penghubung kampus ITB dengan lapangan Saraga. Maybe next time.

Haturnuhun ah, sadayana ... 🙏

Wisuda sarjana Teknik Mesin ITB

Pembaptisan di Kolam Mesin setelah resmi diwisuda

#aiglMostSacredPlace #aiglMostSacredPlaceChallenge

📌 Sabtu, 31 Juli 2021 21:52 🌐

Tidak ada komentar:

Posting Komentar