Minggu, 19 Desember 2021

Catatan Kaki Akhir Tahun

Catatan Kaki Akhir Tahun

Seusai Rakernas IA-ITB

Delapan bulan lewat 2 hari sejak Mas Gembong Primadjaja terpilih sebagai Ketua Umum IA-ITB 2021 - 2025 dan sekitar setahun saya menyertai dalam beberapa segmen prosesnya, tak terkira cerita yang bisa dituturkan.

Dari sekian kisah [maupun ghibah, oops ... 🙊] yang mewarnai perjalanan ini, yang paling gres adalah pelaksanaan Rakernas IA-ITB di Bandung dari tanggal 17 sampai 19 Desember 2021 lalu. (Sayangnya saya tidak bisa menghadiri acara puncak nan seru di PINDAD.)

Kehadiran ratusan duta Pengurus IA-ITB Pusat, Daerah, Program Studi, dan Komisariat mungkin hal yang lumrah untuk perhelatan akbar seperti ini. Namun ada sisi lain yang, bagi saya pribadi, sangat mengesankan dan relevan.

Sejak beberapa hari menjelang Rakernas, ada 2 orang Liaison Officer (LO) yang menghubungi saya via WhatsApp. Pertama adalah Dinda PL16 yang baru lulus, lainnya adalah Agung GD18. Keduanya cukup intens menyampaikan perkembangan kegiatan maupun memastikan terpenuhinya kebutuhan saya sebagai peserta Rakernas.

Sejak tiba di Hotel Aryaduta tanggal 17 Desember siang, Dinda langsung mendampingi saya. Sebagai orang biasa-biasa yang tak masuk strata VIP, malah sering slordig, agak rikuh juga saya jadinya 😊 Setelah berbincang sejenak, saya katakan saya sudah boleh ditinggal agar dia bisa mengurus peserta lain (katanya dia menanggungjawabi 6 orang).

Selanjutnya, Dinda rajin mengomunikasikan dan mengonfirmasi kehadiran saya dalam semua mata acara, kebutuhan akomodasi dan transportasi, dsb bahkan kepastian bahwa saya sudah tiba kembali di rumah seusai Rakernas.

Mungkin juga saya sedang rada gabut sehingga pelayanan remeh-temeh begini pun menjadi catatan dan menilainya excellent. Menurut hemat saya, Dinda adalah contoh orang paham lingkup tugasnya dan menuntaskan sebaik yang dia mampu.

Bisa jadi semua LO sudah mendapat taklimat bahwa para peserta Rakernas adalah customer yang masuk dalam kaidah klasik "pelanggan adalah raja" sehingga dia sukses memainkan perannya dengan optimal. Terimakasih, Panitia yang keren 🙏 (colek Bang Yus dan Téh Zaumi).

Untuk sebuah event selama 3 hari saja sudah demikian "repot" tugas melayani 6 orang yang berbeda karakter dan maunya. Bagaimana pula dengan pengurus IA-ITB yang konon punya sekitar 120.000 customer dari kalangan alumni ITB? Belum lagi stake holder di luar itu; seperti almamater, masyarakat, pemerintah, dll. Amat beragam dan luas aspek yang harus diperhatikan dan kerjakan.

Dan ini akan berlangsung hingga tahun 2025! Tak terbayang besarnya sumber daya yang harus dicadangkan untuk memenuhi semuanya.

Sedangkan perjalanan 5 bulan sejak kepengurusan disahkan masih terlalu singkat untuk menakar peluang. Masih banyak ruang pembenahan dan peningkatan sebagai konsekuensi logis proses turn around IA-ITB yang dipimpin Ketum.

Ibarat sebuah kapal, demikianlah IA-ITB akan melayari tahun-tahun pelayanannya. Dan lebih menggentarkan lagi tatkala kapal ini merambah kawasan yang belum pernah diarungi. Mare incognitum. Dengan arus yang belum dipahami, gelombang yang belum dikenal, karang yang belum dipetakan, bahkan mungkin dihuni monster semacam Kraken atau Leviathan 😁

Semua adalah tantangan yang perlu dicermati dan diputuskan oleh sang nakhoda. Dengan dukungan penuh semua awak kapal yang paham kewenangan maupun tuntutan kinerjanya, niscaya kapal bisa bermanuver cantik alih-alih karam.

Kompas sudah ditera oleh nakhoda melalui Rakernas kemarin, kemudi sudah disetel, temali sudah ditata, perangkat navigasi sudah semakin komplet dan presisi. Para awak pun siaga menanti komando angkat sauh dan kembangkan layar menyongsong dunia baru yang belum dikenal.

Samar namun terasa, ada pertanyaan besar menggayut di cakrawala, mampukah kita bersama-sama membawa kapal besar ini memenuhi ekspektasi para stake holder sebaik seorang LO melayani peserta Rakernas sejak awal hingga akhir?

Right now I have no answer but to follow my captain.

Ombak demi ombak, gelombang demi gelombang, berkejaran dalam waktu. Melalui bisik angin di kala teduh, mereka akan menyampaikan jawabannya.

Oooraah!!!

Rakernas ini merupakan acara besar pemuncak 2021 yang menurut saya sangat berhasil mengejawantahkan misi "BERSATU" seorang Gembong Primadjaya.

Dan tampaknya gayung bersambut, yang ditunjukkan dengan gairah menggebu para pengurus sehingga geliat IA-ITB amat terasa.

📌 Minggu, 19 Desember 2021 22:59 WIB 🌐 Bandung

Kamis, 11 November 2021

Hajar, Bro!

Hajar, Bro!

Biar Ugal-ugalan, Solider Ama Kawan

Mendoakan kesehatan dan kesejahteraan para warga PGG
agar spirit mereka terawat dan terwariskan.

Sebagai seorang pendiam, pemalu, dan [tentu saja] bukan seleb untuk pansos, tidak heran jika saya hanya punya sedikit teman, apalagi teman yang benar-benar teman. Perlu waktu lama untuk menjalin hubungan yang nyambung frekuensinya. Itu pun belum tentu sukses. Maka, sungguh menakjubkan ketika saya bisa berteman dengan kawan-kawan dari komunitas Persatuan Golf Ganesha (PGG) padahal saya bukan golfer, konon pula menjadi anggotanya.

Komunitas ini termasuk "gila" dalam soal pertemanan, apalagi solidaritas. Dan ini tidak terbatas terhadap sesama anggota saja. Sudah beberapa kali kawan-kawan PGG mendukung kegiatan para alumni yang tidak terkait golf. Asalkan misinya adalah demi kemanusiaan dan persaudaraan, mereka tidak perlu berlama-lama untuk memutuskan memberikan bantuan yang sangat signifikan.

Minimal yang saya ingat adalah kegiatan musik dalam rangka donasi untuk Sinabung yang dalam waktu relatif sangat singkat berhasil menghimpun dana sekitar 500 juta Rupiah dan pembuatan klip video Hari Baru yang melibatkan sekitar 200 alumni ITB.

Bila sudah menyangkut kemanusiaan dan solidaritas alumni ITB, prinsip mereka adalah "HAJAR BRO!". Walau dalam canda mereka sering ugal-ugalan, solidaritas pada kawan adalah yang utama.

Maka dengan bangga dan takzim saya mengenakan kaos mereka walau saya bukan anggota PGG.

Salut, PGG!
Hajar, Bro!


TMP Kalibata

Shooting video AIGL Bernyanyi #2 dalam rangka Hari Pahlawan 10 November 2020 di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Mal Puri

Keluyuran di sebuah mal di kawasan Jakarta Barat dan berjumpa dengan panitia turnamen golf IA-ITB mendatang.

#aiglCelengPunggung #aiglChallengePunggung

📌 Kamis, 11 November 2021 00:09 🌐

Selasa, 26 Oktober 2021

Gajah Garis Gelo

Gajah Garis Gelo

Secangkir kopi tarik panas
di sore yang agak redup

Tidak ada aturan khusus dalam menikmati secangkir teh tarik yang membuat kita bisa dicap kurang beradab jika tak suai dengan ritual ala orang Inggris ataupun Jepang. Tak ada pula ketentuan kapan saat paling manjur untuk menyeruputnya. Baik pagi, siang, sore, malam, atau menjelang subuh; mau diseduh air mendidih atau pakai es batu; semuanya sah!

Begitu juga dalam membaca rangkaian kicau meracau seorang Dony Gurning dalam kumpulan fragmen yang diberi judul Gajah Garis Gelo (G3). Dengan imbuhan "kacau!" dalam subjudul, maka pembaca diberi kebebasan membaca sesuka hati tanpa harus merunut dari halaman pertama. Suka-suka. Terserah jari melompat ke halaman berapa. Toh buku ini bukanlah otobiografi yang harus dititi alurnya sejak sang penulis mbrojol ke dunia.

Membaca Dony Gurning adalah menguak beberapa berkas kehidupan seorang manusia yang terikut dalam rombongan mahasiswa ITB, yang entah bagaimana sejarahnya sehingga diberi stempel "putra-putri terbaik bangsa". Yang jelas, titel keren ini sontak hancur-lebur ketika dia menghadapi ujian kalkulus pertama. Hohoho.. Anak ITB ternyata manusia biasa juga, yang kepercayaan dirinya bisa menyublim paripurna ditelan simbol cacing melengkung 😁 ["Ganesha 10 Yeaay..", hlm. 35].

Ada juga cerita tentang Dony kecil yang jeli memetik hikmah mendalam dari perilaku ternak babi ["Filsafat Babi", hlm. 6]. Namun, bangunan filosofi yang tertata indah tersebut rontok dalam sekejap ketika Dony dewasa dihadapkan pada kenyataan bahwa setiap mahluk akan mengabaikan filosofi ketika kelangsungan hidupnya terancam. Terlebih-lebih babi yang kepalanya kena hantam balok kayu ulin ["Berburu Makan Malam", hlm. 140]. Tampaknya, di sinilah piramida Maslow maupun teori Darwin mengejawantah secara lugas 🤣

Kendati demikian, dalam berbagai hal, hewan bisa lebih terhormat karena aksi membabi-butanya adalah demi kesintasan hidup, yang lebih mulia dibanding perilaku [sebagian] manusia yang tak sungkan makan tulang kawan demi keuntungan pribadi 🤔

Sangat boleh jadi, ada yang menyangka bahwa anak ITB pastilah logis dan solutif sehingga selalu bisa mengambil keputusan terbaik yang happy ending. Faktanya? Nanti dulu! Anak ITB tetaplah manusia biasa yang punya keraguan, tak siap pada berbagai kejutan, bahkan kadang tak cukup nyali saat dihadapkan pada persoalan hati. Dan reaksinya pun kadang tak terduga, jika tidak bisa dibilang menyebalkan tak berperasaan.

Sila bayangkan remuk-redamnya hati seorang perempuan yang sudah menabahkan diri menyatakan rasa sayang namun dibalas dengan pertanyaan "Kamu gila ya?" Mungkin di zaman itu memang gila jika seorang perempuan lebih dulu menyatakan perasaannya, sehingga seorang lelaki menolak untuk terpojok dalam dilema. Dan, alih-alih mengejar untuk melunakkan kepedihan sang perempuan, dengan rileks dia putuskan menuntaskan nasi goreng sepiring-berduanya, yang terlalu sayang untuk disia-siakan ["Salahnya di Mana?", hlm. 96].

Berkenaan dengan spiritualitas yang konon cukup nisbi di kalangan anak ITB pada masa itu, maka mempertanyakan bahkan menyangsikan hal-hal supranatural dipandang sebagai sebuah kelaziman. Tapi, sangat boleh jadi, ada masanya roda kehidupan punya keluangan waktu untuk menggedor rasa skeptis manusia, sehingga seorang Dony muda tergugah instingnya mengevakuasi seluruh tim dari lokasi penambangan batubara. Tidak ada kemewahan waktu untuk berdiskusi, sehingga operator excavator yang nekad beradu argumen atas keputusannya pun dia ancam akan digebuk di hadapan umum. Mungkin ada baiknya tidak banyak bicara saat malaikat sedang bekerja. Simak saja suara yang samar itu sebelum dinding runtuh ["Puncak Prestasi", hlm. 176].

Paradoks lainnya adalah soal rasa seni pada kebanyakan anak ITB. Tidak sedikit yang berpraduga bahwa otak anak ITB dijejali rumus, angka, dan diagram sehingga tak ada ruang yang layak bagi khasanah seni, termasuk sastra. Dony dengan sukses menjungkirkan tipikalisasi tersebut dengan cara bertutur yang sekelebat mengingatkan saya pada Ashadi Siregar di Kampus Biru, atau Iwan Simatupang yang paling enggan memberi nama tokoh (kok kebetulan keduanya orang Batak), ataupun Seno Gumira Ajidarma yang ending ceritanya kadang bikin kejang. Sila buka halaman 62, "Sebuah Kisah di Sekitar Aula Barat". Atau puisi ala entah siapa itu yang judulnya lebih panjang daripada isinya sehingga saya malas merepotkan diri mengutipnya [hlm. 84].

Entah pula karena spiritualitas dan rasa seni di luar mainstream ini maka seorang Dony bisa begitu cinta pada TV sehingga sangat khusyuk menontonnya hingga beberapa jam. Benar-benar menonton TV! [Nonton Tipi, hlm. 158]. Maka, tak perlu terperanjat jika Dony memaklumkan diri berada di saf garis gelo 😁

Membaca G3 adalah menyingkap sekelumit pemikiran dan perilaku kehidupan seorang Dony Gurning. Membaca Dony Gurning adalah mencicip segelintir warna dalam kehidupan anak ITB yang multifaset dengan berbagai variasi subtil tak terbatas.

Bagai menikmati secangkir teh tarik, ada pahit yang tetap terasa di lidah ditingkah manisnya susu. Demikian pula realitas kehidupan yang dituturkan Dony. Mari nikmati tanpa terlalu ngotot mempersoalkan cuaca terik di luar atau gonjang-ganjing politik penuh gincu. Lebih berfaedah mengasah kepekaan bermanusia dengan menghargai saat demi saat keseharian bersahaja di lembar-lembar buku ini.

Jika teh tarik dianggap kurang nendang, sila mengudap barang satu-dua potong lupis berbalur parutan kelapa dan cairan kental gula merah. Ada rasa serta tekstur yang berbeda dan lebih kaya bagi indera pengecap. Dengan kata lain, bolehlah berharap ada sekuel G3 🙏

Sila mampir ke tokopedia.link dan seruput teh tariknya. Sluuurrrp..

tak harus mandi dulu untuk menikmati buku kicau meracau ini

dua potong lupis yang tandas sebelum hirupan terakhir teh tarik

atau dengan mantaw, sama patennya 👍😋

#MyNotes #resensi #buku #books

📌 Selasa, 26 Oktober 2021 00:42 🌐

Senin, 04 Oktober 2021

Urusan Tiket Bis Sampai ke Surga

Urusan Tiket Bis Sampai ke Surga

— Florence, 8 Maret 2016

Gereja Santa Croce

Di depan gereja legendaris Santa Croce
Sayangnya tidak bisa masuk dan mengaku dosa
karena sudah malam 😊

Setelah berkelana ke berbagai kota, akhirnya kami pun berlabuh sejenak di kota yang memiliki beberapa cara penyebutan: Florence (Inggris), Firenze (Italia), Florenz (Jerman), Florencia (Spanyol), dan dulu kala saat berdiri disebut Florentia (Latin).

Ini adalah sebuah kota yang tenang, jauh dari hingar-bingar kemodernan. Mungkin kebetulan saat kami datang di bulan Maret sedang tidak ramai pelancong. Entah pula memang demikian sehari-harinya.

Padahal saya yakin kota ini dulunya sangat ramai, mengingat di sinilah lahir rennaisance yang menggerakkan kebangkitan seni dan budaya Italia serta Eropa. Tercatat sastrawan besar asal Firenze seperti Dante, Boccaccio, dan Petrarch yang menulis dalam dialek Toscana yang kemudian berkembang menjadi bahasa Italia modern. Di masa jayanya, kota ini menjadi pusat budaya, ekonomi, dan keuangan yang sangat penting di Eropa sehingga dijuluki "Athena di Barat".

Terlepas dari itu semua, kami sangat gembira karena bisa menikmati berbagai hal dengan tenang. Dan sebagaimana biasa, penjelajahan kota merupakan agenda utama.

Enaknya di negara maju, kendaraan umum sangat dapat diandalkan. Tentu yang dimaksud bukanlah angkot, melainkan bis atau kereta/trem/metro, dengan terlebih dahulu membeli tiket di vending machine untuk divalidasi (tap) saat melewati gerbang atau masuk kendaraan.

Suatu pagi, kami berenam naik bis. Ternyata tak ada orang lain di dalamnya kecuali sopir. Ini bis beneran atau bis jadi-jadian sih? Tapi hal itu tak membuat kami gentar, karena hari masih terang dan rasanya sih di kota ini tidak ada legenda bis hantu 👻

Dasar iseng, melihat situasi sangat sepi begitu, saya berbisik pada seorang kawan yang punya kelakuan rada preman.

"Kalau kita gak nge-tap tiket, kan gak ada yang tahu. Jadi kita bisa irit buat perjalanan berikutnya."

"Iye, iye.. Bener," teman saya langsung setuju.

Padahal ada keterangan tertempel di situ yang menyatakan kecurangan naik bis tanpa validasi tiket akan dikenai sanksi € 60 (kalau tidak salah ingat) padahal untuk sekali jalan dibebani € 1.5 saja. Sadis memang hukuman terhadap para pelanggar aturan. Tapi bisa dipahami juga sih, sudah diberi kemudahan dan keringanan kok malah mencuri. Beda mentalitas 😜

Maka saya dan dia pun berlagak pilon dengan tidak memvalidasi tiket. Seorang kawan yang punya hobi mengunjungi gereja mengingatkan kami untuk melakukan validasi. Kawan saya yang preman itu berbisik kepadanya tentang skenario yang sedang kami jalankan. Sontak wajah si pelancong gereja menjadi masam.

"Kita ini sedang di negara orang. Sebaiknya patuh pada aturan. Kalau ada apa-apa, kita sendiri yang repot. Jangan menodai berkat yang sudah kita terima."

Njir... Religius pisan euy 🙏

"Tiket € 1.5 saja kalian curangi, padahal risikonya puluhan Euro kalau ketahuan," imbuhnya lagi.

"Kan gak ada yang lihat. Hanya Tuhan yang tahu. Dan Dia baik serta Maha Pengampun," kawan preman berargumen dengan gaya sok religius pula.

Demikianlah kami berdebat dengan bisik-bisik di atas bis hingga sampai di tujuan dan turun. Perdebatan masih terus berlangsung di trotoar. Alhasil, si pelancong gereja pun dengan jengkel berjalan duluan meninggalkan kami. Marah bener dia, kayaknya.

Saya dan kawan preman saling pandang. Gak enak nih kalau kita jadi diem-dieman begini. Padahal tujuan pesiar ini kan untuk senang-senang bersama. Kami juga tidak tahu kenapa si pelancong gereja mendadak serius banget urusan remeh begini, padahal biasanya dia toleran pada kelakuan kawan, sebangsat apapun. Memang sih kalau sampai ketahuan, pasti bakal ribet urusannya. Lebih menyesakkan dada dan dompet dibandingkan harga Steak di Vatikan.

Akhirnya saya berseru memanggil si kawan pelancong gereja itu agar menunggu kami. Setelah berkumpul lagi, saya bilang kepadanya dengan wajah tulus, "Iya, kami salah. Besok kami bayar dobel deh."

Wajah masam si pelancong gereja sejenak membeku. Dan tiba-tiba dia terkekeh-kekeh. "Emangnya bayar tiket bus kayak rapel sarapan dengan makan siang?"

Dengan niat melunakkan hatinya, kami pun berjanji akan mengaku dosa ke gereja.

Ampunilah saya, Bapa, karena saya telah berdosa.
Mea culpa. Mea culpa.
Keluyuran malam, menyeberangi Sungai Arno

Keluyuran malam, menyeberangi Sungai Arno yang membelah kota Florence. Sempat tersesat saat mencari patung David yang terkenal.

Hamparan kota yang tenang

Di bukit dengan latar belakang hamparan kota yang tenang di malam hari.

Piazalle Michaelangelo

Selewat tengah malam akhirnya berhasil juga tiba di Piazalle Michaelangelo yang memasang replika patung David karya sang maestro Michaelangelo.

Aksen pada rambu jalan

Keisengan warga kota memberi aksen pada rambu dilarang masuk 😁

Toko soto di Florence

Ternyata ada juga toko soto di Florence, sayangnya tidak menjual makanan 🍲 melainkan tas 👜

#aiglCeritaLiburan

📌 Senin, 4 Oktober 2021 21:42 🌐

Minggu, 03 Oktober 2021

Saat Hotel Bikin Naik Pitam

Saat Hotel Bikin Naik Pitam

— Munich, 15 Maret 2016

Patung celeng

Berhubung ini adalah celeng liburan,
saya sertakan foto bersama celeng
yang nekad berlibur di kota Munich 😊

Kami tiba di hotel yang sudah dipesan jauh-jauh hari dari Jakarta. Sesampai di sana, ternyata pesanan atas nama seorang kawan tidak tersedia. Maka, sibuklah kawan ini berbicara dengan petugas hotel. Sementara kami duduk di sofa dekat meja resepsionis menanti kejujuran eh kepastian.

Kurang jelas apa yang mereka bahas, perbincangan yang semula santai untuk menanyakan alasan hotel tidak memenuhi janjinya, lama-lama kian memanas. Padahal udara terasa makin dingin dan salju mulai bertaburan di luar.

Kawan yang satu ini memang agak temperamental. Saya ingat dia pernah berteriak-teriak keras dalam bahasa Mandarin di pasar Ben Thanh, Ho Chi Minh City, Vietnam, karena merasa sang pedagang tidak memperlakukannya secara layak. Barangkali ada sekitar 1/17 pengunjung pasar yang terkaget-kaget mendengar teriakannya (sebenarnya sih saya gak sempat menghitung, ini perkiraan saja karena saya yang berada beberapa belas meter dari tempatnya pun kaget mengira ada kerusuhan).

Dan saat di hotel Munich ini, sedikit demi sedikit amplitudo suaranya pun kian bertambah sehingga sebagian tamu di lobby sempat menoleh. Tak lupa, tangannya menunjuk-nunjuk petugas hotel sehingga sang petugas dengan agak keras menegurnya agar jangan mengacung-acungkan jari ke mukanya. Untung saja kawan ini tidak menggunakan jari tengah 😜

Sang petugas berusaha keras menjelaskan dan menyabarkannya seraya menyampaikan bahwa mereka sudah memesankan kamar di hotel lain tanpa biaya tambahan. Tentu saja kawan ini tidak senang. Begitu juga kami agak kurang bahagia, yang kami sampaikan dengan ekspresi muka merengut. Wong kami ingin selalu bersama-sama, kok malah dipisah. Lagipula, kawan inilah yang membawa rice cooker dan beras yang menjadi andalan ransum selama perjalanan (sila cek kisah steak di Vatikan 😁)

Agar keadaan tidak semakin rusuh, kami menahan diri untuk tidak ikut-ikutan mengeroyok petugas hotel. Kami bersiaga saja sambil menyimak dialog mereka dalam mencari solusi. Merasa mendapat dukungan dari kami, kawan ini semakin pede dan suaranya kian menggelegar. Bicaranya pun semakin merepet.

Ketika sang petugas masuk ke dalam untuk mengurus sesuatu, kawan ini berbalik menghadap kami seraya bertanya dengan suara pelan, "Bahasa Inggris gue udah bener kan?"

Sontak kami saling pandang dan ngakak bareng. Marah ni yeee... 😂

Ketika kami mengantarnya ke tempatnya, ternyata hotelnya malah lebih bagus dibanding yang kami inapi.

Walau tak semujur Bang Toni Toni P Sianipar dalam urusan hotel, kawan ini termasuk beruntung juga akibat kengototannya. Masih bagus kami tidak melakukan aksi mendengkur bareng di sofa lobby hotel ala Bang Toni 🤣

Kios Paulaner

Paulaner di Jakarta tergolong restoran besar dan cukup mahal. Sedangkan di sini mungil saja ala kios.

Resto Taklamakan

Resto Uyghur bernama unik. Entah maksudnya "tak lah makan" (kesannya malah melarang makan) atau "tak lama, kan" (cocok untuk resto cepat saji).

Resto LeboQ

Saya curiga resto ini milik orang Sunda. Namanya ditulis sok gaya jadi "LeboQ". Padahal mah tulis aja "Lebok" yang artinya makan (bahasa kasar). Jangan-jangan memang punya Mang Kabayan 😁

Hotel Batu

Belum sempat bertanya apakah pemilik hotel bernama ini berasal dari Malang.

Munich 5°C.

Suhu di Munich saat kejadian adalah 5°C.

#aiglCeritaLiburan

📌 Minggu, 3 Oktober 2021 16:17🌐

Kamis, 30 September 2021

Liburan dalam Neraka

Liburan dalam Neraka
Badge Yon I

Badge Resimen Mahasiswa Batalyon I - ITB

Sudah menjadi kelaziman bahwa itinerary (jadwal kegiatan) merupakan hal yang sangat penting dalam sebuah perjalanan. Entah kita buat sendiri ataupun dibuatkan orang lain, intinya semua peserta tahu apa saja kegiatan yang akan dijalani berikut waktu dan tempatnya. Nyaris tidak mungkin kita mengikuti sebuah perjalanan tanpa bekal itinerary.

Tapi saya pernah mengalaminya. Selama perjalanan, saya tidak tahu apa yang akan dilakukan sepanjang hari itu, di mana berada, kapan harus ngapain. Bahkan hari, tanggal, serta di mana perjalanan berakhir pun saya tidak tahu.

Kok bisa?

Ya begitulah kalau kita nekad ikut latihan kemiliteran dalam skenario perang. Segala hal tersembunyi bagi peserta. Pokoknya, patuh pada perintah! Maka, jangan membayangkan kenikmatan yang biasa didambakan dari sebuah perjalanan.

Dan inilah yang saya alami saat memilih untuk mengisi waktu libur semester dengan mengikuti Pendidikan dan Latihan Dasar Resimen Mahasiswa (Diklatsar Menwa) Batalyon I ITB.

Entah kenapa, saya tahu-tahu punya ide untuk punya seragam dan baret resmi yang bukan hanya untuk karnaval 17 Agustusan. Berbekal pesan dari seseorang yang mengatakan, "Jangan ke rumah lagi kalau pulang tanpa baret ungu", saya pun membulatkan tekad serta semangat untuk menyelesaikan program ini.

Lalu, apa yang saya peroleh dari liburan macam ini?

Jalan-jalan

Jalan raya

Long march jalan raya

Jalan kampung

Long march jalan kampung

Menikmati jalan yang kiri-kanannya dihiasi pemandangan atau bangunan cantik tentu saja merupakan kesempatan yang amat menggoda untuk berswafoto (selfie) atau sekadar menikmati karya Tuhan maupun arsitek kawakan.

Tetapi akan beda rasanya jika perjalanan itu menjadi long march yang memakan waktu hingga sehari penuh, menyusuri jalan aspal atau jalan setapak sejak matahari bangun hingga petang, bahkan kadang sampai gelap-gulita di bawah langit gelap. Kesan keindahan di kiri-kanan jalan langsung pupus oleh pegalnya kaki, yang kadang lecet parah.

Dari sini saya membayangkan betapa beratnya long march Pasukan Merah Mao ataupun Pasukan Siliwangi ke Yogya di masa kemerdekaan. Begini toh yang namanya berjuang dalam perang.

Upaya meraih atau menuju sesuatu memang kerap menjadi perjalanan panjang yang menyiksa dan seakan tak ada akhir. Konsistensi dan integritas adalah bekal yang tak akan mengkhianati mereka yang setia.

Jalan Kereta

Jalan kereta Jalan kereta

Long march jalan kereta

Perjalanan wisata kadang divariasikan dengan naik kereta. Sepanjang perjalanan, banyak pemandangan yang sangat indah untuk dinikmati.

Sementara peserta pelatihan harus seharian menapaki balok-balok kayu atau besi yang melintang di antara 2 batang rel yang tak berujung. Mau gila rasanya dilanda kebosanan. Apalagi jika matahari demikian terik menghajar bumi.

Rutinitas yang menuntut konsentrasi memang sangat melelahkan. Buyar sedikit saja karena membayangkan kenikmatan naik kereta di Swiss, bisa oleng dan terjatuh di rel kereta karena tersandung. Kabarnya, pernah ada peserta pelatihan yang meninggal akibat kepalanya menghantam rel.

Mendaki Bukit, Menuruni Lembah

Bukit & lembah

Mendaki bukit, menuruni lembah

Sebagian orang menyukai pemandangan dari ketinggian maupun kesegaran udara pegunungan sehingga mendaki gunung pun dilakoni. Atau trekking atawa cross country.

Ini sangat tidak terasa nikmat jika dilakukan di tempat yang tak jelas keindahannya, apalagi tujuannya. Rasanya entah ada di belahan dunia mana. Apalagi jika siang hari saat aspal jalanan meruapkan panas dan kita tidak diijinkan untuk meneguk air dari veldples (botol aluminium).

Alamak, sansaro nian...

Perjalanan hidup memang tak selamanya datar dan indah. Ada dinamika yang kadang tak menyenangkan, bahkan memuakkan, namun harus tetap dilalui dengan tabah.

Lintas Rawa

Lintas rawa

Lintas rawa

Sementara para pelancong bisa menikmati kesegaran air di kolam renang, danau, ataupun laut, maka kami yang sedang latihan ini hanya bisa menikmati kedekilan air rawa yang kadang berbau. Berjalan melintasi hamparan air yang tak jelas di mana tepinya dengan ketinggian mencapai dada sehingga pakaian dan ransel basah kuyup. Belum lagi jika lintah atau pacet menempel di badan. Makin komplet rasanya.

O ya, jangan tanya soal mandi. Selama berlangsungnya kegiatan di Medan Operasi ini, tidak ada yang meributkan soal bau badan. Soal gatal-gatal hingga kudis, urusan masing-masinglah.

Dalam banyak hal, ada kalanya kita harus menceburkan diri agak dalam untuk memahami kondisi serta melupakan sejenak kenyamanan bahkan sedikit mempertaruhkan kesehatan.

Makan

Ransum

Pembagian ransum makanan yang harus dihabiskan secepat kilat

Sarapan pagi atau makan malam kerap menjadi saat yang paling santai saat kita melancong. Kita siap membuka lembaran baru di pagi hari ataupun meresapkan kesan perjalanan seharian tadi. Dalam suasana sangat santai ini, makanan dikunyah pelan, minuman disesap khusyuk. Semua ingin diresapi kenikmatannya hingga partikel terkecil.

Sementara di pelatihan kemiliteran ini, prosesi makan tak lagi menggubris keseimbangan komposisi bumbu. Tidak ada kesempatan menilai cita rasa tata boga ala acara Master Chef. Semua harus disegerakan tuntas. Dalam hitungan 10 sejak suapan pertama, seluruh peralatan makan dan minum harus sudah tersimpan rapi kembali di ransel dan sudah dalam posisi siap dalam barisan.

Boro-boro ngopi dan merokok. Durasi makan-minum ala militer ini tidak terlalu berbeda dengan lomba lari 100 meter kelas dunia. Masih untung tidak keselek.

Gara-gara makan sambil dihitung begini, saya jadi punya kebiasaan makan cepat. Selain itu, saya berubah jadi penggemar ikan asin, padahal sebelumnya sangat tidak suka.

Ketidaknyamanan dan keterpaksaan kadang membuat sesuatu yang sebelumnya kita abaikan kini jadi berharga. Tatkala hanya itu kesempatan dan kenikmatan yang bisa kita dapat. Syukurilah setiap berkat.

Tidur Kalong

Tidur kalong

Tidur kalong

Amat wajar jika kita berharap bisa merebahkan badan yang letih di ranjang empuk setelah seharian melancong kesana-kemari. Tak akan pernah terbayang jika kita harus semalaman duduk atau setengah berbaring dengan mengikatkan diri di dahan pohon beberapa meter di atas tanah. Padahal sepanjang hari sejak subuh badan sudah dipaksa berjalan.

Tak perlu juga terlalu terkejut jika tengah malam ada suara berdebum ketika ransel atau bahkan dengan orangnya sekalian terjatuh ke tanah akibat kurang kuatnya simpul tali ke batang pohon.

Atau, mendengar teriakan campur makian jika ada yang terbangun akibat tersiram air seni dari orang yang tidur di cabang pohon sebelah atasnya. Lha, tidak ada WC di pohon.

Turun Tebing

Tebing Citatah

Turun tebing di Citatah, katanya sekitar 60 meter

Bagi sebagian orang, menuruni tebing curam dengan tali dan carabiner seperti di film-film laga hanya nikmat untuk ditonton. Tak semua orang cukup tenang saat mengubah posisi badan dari vertikal terhadap bumi menjadi vertikal terhadap dinding tebing. Di tepi tebing itu kita menjatuhkan diri ke belakang hingga sekitar 90°. Dan inilah saat yang paling menegangkan karena kita tahu persis tidak ada sesuatu pun yang menahan badan di belakang. Semata-mata mengandalkan belitan tali dan genggaman tangan.

Kegentaran ini sering tampak ketika orang yang bersangkutan menyampaikan laporan bahwa dirinya siap turun. Alih-alih meneriakkan "Siap turun tebing!", yang diteriakkan adalah "Siap terjun terbing!". Sudah pula terjun, terbing pula katanya. Terbang, kali ya?

Banyak kali kita diingatkan betapa tidak nyamannya perubahan. Apalagi jika harus merelakan diri jatuh untuk kemudian meluncur turun hingga titik nadir. Konon, dalam proses perubahan ini karakter asli seseorang akan terlihat.

Pendaratan Pantai

Pendaratan pantai Pendaratan pantai

Pendaratan pantai

Sebagian orang menyukai permainan di air. Entah dengan papan seluncur (surfing), paddle board, kayak, ataupun sekadar naik banana boat. Asyik-asyik saja rasanya.

Berbeda rasanya dengan menggotong perahu karet yang lumayan berat dari pantai ke laut (sekitar berdelapan orang dalam satu tim), menaiki perahu tersebut, mengayuh ke tengah laut, terjun ke laut karena [ceritanya] ditembaki pesawat musuh, membalikkan perahu karet dan berlindung di bawahnya, membalik perahu karet agar bisa dinaiki kembali, mengayuh ke pantai, terjun ke air, berlari menuju pantai, tiarap, merayap, menembaki musuh yang entah ada di mana.

Pendaratan pantai

Pendaratan pantai serasa penyerbuan tentara Sekutu
di Normandia pada Perang Dunia II

Serasa jadi pemeran pembantu di film-film perang. Mungkin beginilah yang dialami para serdadu sekutu saat mendarat di Pantai Normandia. Mereka lupa betapa meletihkannya hal ini karena dikalahkan rasa takut mati tertembak. Sementara saya yang tahu tidak bakal tertembak hanya merasakan keletihan yang amat-sangat.

Rasa takut memang bisa membuat seseorang terpacu untuk bertahan dan menang ataupun hancur dalam ketidakberdayaan melawan rasa takut itu sendiri.

Sejalan dengan pesan Nelson Mandela, "Courage is not the absence of fear but the triumph over it. The brave man is not he who does not feel afarid but he who conquers that fear."


Masih ada hal-hal lain yang menjadi kontras nikmat antara liburan yang terencana dengan liburan yang dipasrahkan seperti ini.

Lalu, apa enaknya sih ikut latihan yang menyiksa begini? Liburan macam apa ini?

Ya demikianlah. Dalam segala sesuatu ada hikmah yang bisa dipetik. Meski dari rasa yang sangat pahit.

(edisi menulis buru-buru, ada peluang revisi jika sempat)

😵

Menembak

Menembak

Istirahat

Istirahat

Pelantikan

Pelantikan dengan pembaretan di pantai

#aiglCeritaLiburan

📌 Kamis, 30 September 2021 22:18 🌐

Steak di Pekarangan Suci

Steak di Pekarangan Suci

— Vatikan, 7 Maret 2016

Kisah yang sebenarnya teramat ingin dilupakan namun tak juga terkubur. Siapa tahu bisa menyublim menjadi uap jika diceritakan.

Ritual teriakan menyeberangi sungai

Alkisah, saya dan 5 kawan berkesempatan menyambangi kota Roma nan legendaris seantero jagad. Sesuai pemeo "banyak jalan menuju Roma", entah apapun kiatnya (yang berbalut beberapa tragedi pula) akhirnya kami sampai juga ke sana. Hallelujah!

Berbekal tiket terusan bis wisata hop-on hop-off berikut petanya, kami pun berpuas berkeliling menikmati berbagai lokasi wisata di Roma, seperti Colosseum, air mancur Trevi yang dasar kolamnya penuh koin permintaan, Spanish Step, Pantheon yang semula adalah kuil pemujaan para dewa-dewi Romawi, dsb. sambil tak lupa mengumbar foto serta menikmati es krim asli Italia yang bukan keluaran Ragusa.

Telanjur sudah di Roma, walau kami bukanlah pemeluk agama yang saleh, malah tak semuanya beragama Katolik, tentu saja tak ada salahnya berkunjung ke negara mini Vatikan yang merupakan episentrum agama Katolik sedunia. Wong tempat ini sudah menjadi salah satu destinasi wisata. Lagipula jaraknya hanya sepelemparan serabi kinca dari kota Roma.

Tengah hari, sampailah kami di perbatasan kota Vatikan. Sambil menyeberangi Sungai Tiber (kalau tidak salah) kami pun melakukan ritual berteriak bersama di atas jembatan, macam orang gila yang baru saja kena sosor angsa.

Dari kejauhan, kubah Basilika Santo Petrus sudah tampak. Berkilau disiram cahaya lembut mentari. Tiang obelix yang tegak menjulang di tengah lapangan pun seperti melambai-lambai riang menyambut kedatangan kami. Rasanya tak sabar untuk segera menelusuri seluruh pelosok kota yang penuh karya para maestro ini.

Tapi perut sudah menagih diisi. Selayaknya lokasi wisata, tentu saja restoran ataupun gerobak penjaja makanan (juga cenderamata) bertebaran di sekitar situ.

Saya sih tidak masalah dengan makanan apa saja. Mau European atau Asian, oke saja. Dengan catatan: tidak pedas!!! Maklumlah, perut sudah tidak seperkasa masa muda. Sedangkan beberapa kawan kurang sreg dengan makanan Eropa sehingga kami kerap berusaha mencari sajian Asia seperti Chinese atau Vietnamese yang lebih suai dengan selera mereka.

Ternyata di seputaran Vatikan tak ada restoran Asia. Alternatifnya adalah makanan yang sudah diakrabi, semisal burger atau pizza. Walau rasanya tentu tidak senikmat di tanah air. Kebanyakan makanan di sana tergolong hambar seperti kekurangan bumbu. Pantas saja dulu orang Eropa gigih banget mencari rempah-rempah hingga Nusantara.

Kebetulan ada sebuah restoran kecil yang menjual burger. Mampirlah kami ke sana. Kalau tidak salah, € 4 sebuah. Bolehlah. Sekadar mengganjal perut hingga sore.

Saat sedang memilih burger yang kira-kira cocok di lidah, seorang kawan mengatakan bahwa resto itu sedang promosi 𝘴𝘵𝘦𝘢𝘬 komplet. Hanya € 7, katanya. Wah, tentu saja kabar ini kami sambut penuh sukacita. Kami pun segera masuk ke resto dan duduk sekeliling meja makan.

O ya, resto di Eropa umumnya agak belagu setengah tak berperikemanusiaan. Kalau kita hanya membeli minuman atau makanan ringan, biasanya tidak boleh duduk. Silakan berdiri di trotoar atau bawa pergi. Jangankan duduk, numpang pipis saja kadang tidak boleh kalau tidak belanja. Atau harus bayar antara € 0.5 hingga € 2 per sekali setor.

Begitu kami duduk, pelayan menanyakan pesanan. Dengan penuh ketegasan kami memesan steak promo tadi. Pelayan bertanya, berapa porsi? Satu per orang, kata kami. Melihat gambar steak berikut kentang dan sayurnya, pastilah memadai untuk bertahan sampai makan malam nanti.

Setelah berdiskusi dengan sang pelayan, seorang kawan kemudian mengatakan bahwa kami ditawari paket yang menggabungkan 6 porsi tadi menjadi 1 loyang besar. Oke sajalah, sahut kami tidak berkeberatan.

Sambil menunggu, kami pun melepas dahaga dengan air bening yang disediakan di meja. Entah kenapa, sang pelayan melarang kami menuangkan sendiri air dari teko ke gelas. Dialah yang melakukannya dengan sangat ramah dan sopan. Dan saat minta ijin menggunakan WC, dengan sigap sang pelayan mengambilkan kunci pintu WC seraya menunjukkan jalannya ke lantai bawah. Bergiliran kami buang air kecil.

Setelah itu, sang pelayan dengan setia berdiri di dekat meja selama kami di situ, seakan bersiaga andai ada yang kami perlukan. Wah, sungguh luarbiasa memang perilaku orang-orang di sekitar kota suci ini, komentar saya. Bintang lima nih ⭐⭐⭐⭐⭐

Steak empuk, gurih, banyak

Tak berapa lama, datanglah pesanan kami. Satu loyang besar daging matang yang sudah dipotong-potong dan masih panas. Ruap wanginya sungguh membangkitkan selera. Dengan penuh semangat kami melahap hidangan yang memang sangat empuk dan gurih.

"Enak bener nih daging. Banyak pula. Kenyang bahagia deh kita siang ini," komentar salah seorang kawan dengan sumringah.

Usai menggasak makanan semampu perut menampung, kami berpesan pada pelayan untuk membungkuskan sisa steak. Masih dapat 1 kotak kecil. Lumayan..

Setelah leyeh-leyeh sejenak memberi kesempatan bagi usus mencerna makanan, kawan yang bertugas sebagai bendahara menuju kasir untuk menuntaskan pembayaran. Sesaat kemudian, dia kembali dengan wajah tegang setengah pucat seperti lirik lagu, "That her face at first just ghostly, turned a whiter shade of pale."

"Kenapa?" tanya kami heran.

Dia menyodorkan bon tagihan makanan kepada kami. Tertera angka € 279.40, yang kalau dikurs menjadi Rp 4 juta lebih. Hah?!! Katanya € 7. Dikali 6 orang, paling banter kena € 50 lebih sedikit lah plus tip. Kok jadi ratusan begini?

Tagihan yang bikin lemas

Kawan saya segera memanggil pelayan yang ramah tadi untuk meminta penjelasan. Sementara kami yang baru saja bersyukur atas makan siang yang enak, langsung terkulai lemas di kursi masing-masing. Entah apa penjelasan yang disampaikan oleh pelayan ramah tadi, kami sudah tak menyimak. Ada kemungkinan ketika kami meminta steak promo sebanyak 6 paket, sang pelayan menawarkan paket lain untuk berenam. Berpikir bahwa tawaran ini sekadar menyatukan 6 paket promo menjadi 1 loyang, kami setuju. Ternyata beda barang, Fergusso! 😓

Telanjur makanan sudah masuk perut dan malas berurusan dengan persoalan yang bisa merusak reputasi bangsa (cie, cie, cie.. I love Indonesia 🇮🇩) dengan berat hati digeseklah kartu kredit dengan tagihan sekian ratus Euro untuk sekali makan yang sebenarnya tidak masuk dalam kategori makanan mewah ala restoran eksklusif. Wong ini hanya resto kecil yang nyempil dan biasa-biasa saja.

Keluar dari restoran, agak lunglai langkah kami memasuki pelataran Basilika Santo Petrus. Rencana makan burger € 4 malah keluar duit lebih dari € 46 per orang. Pantas saja pelayan itu demikian menghormati dan melayani kami dengan ekselen. Rupanya, tidak hanya di Indonesia, bahkan orang bule di Eropa pun menganut paham "ada udang di balik bakwan; ada uang, saya servis abang" 😜

Kendati demikian, kami sepakat untuk konsisten ke tujuan awal berpesiar, yakni menikmati objek wisata sepuas-puasnya dan menikmati kebersamaan dengan para sahabat seperjalanan. Alhasil, wajah-wajah kami dalam foto pun tak ada yang merengut selama menjelajahi Vatikan. Wajah ceria dengan senyum maksimal tanpa beban selalu ditampilkan dalam foto kenangan.

Hanya saja, saat sorenya naik bis wisata kembali ke penginapan, raut wajah langsung bertakik-takik seperti patung dipahat kasar tanpa diampelas. Semua diam dan hanyut dalam pikiran masing-masing. Amblas sudah jatah yang kalau dipakai di resto Chinese atau Vietnamese bisa untuk beberapa kali makan 😓

Esok paginya, ketika makan nasi putih yang dimasak sendiri (kawan saya ada yang wajib makan nasi, sehingga dari Indonesia pun dia membawa rice cooker kecil dan bekal beras beberapa kilo 😊 dengan lauk Indomie kuah berikut beberapa potong daging sisa makan siang di pelataran Vatikan, kami tertawa-tawa getir sambil mengunyah dengan sangat khidmat steak termahal yang pernah jadi makan siang kami.

Beginilah kalau komunikasi dengan bahasa Inggris berbalas pantun dengan bahasa Italia tanpa sepenuhnya saling paham. Hikmahnya, kami pun menjadi kian memahami filosofi klasik bahwa rasa lapar bisa membuat orang khilaf dan kalap 😊

Hanyut dalam pikiran masing-masing saat pulang dari Vatikan

#aiglCeritaLiburan

📌 Kamis, 30 September 2021 21:39 🌐

Senin, 06 September 2021

The Kungfu Joker

The Kungfu Joker
Kungfu Joker

Beladiri Timur yang umumnya lincah dan luwes menjadi populer ke seantero jagad karena seorang putra kelahiran China Town San Francisco bernama Bruce Lee. Boleh dibilang, dialah pelopor film aksi bergenre kung-fu era modern.

Generasi selanjutnya yang mendunia antara lain adalah Jacky Chan yang sarat dengan humor dan Jet Lie yang identik dengan gerakan sangkil (efisien) dan mangkus (efektif).

Di salah satu sudut jalan di San Francisco, tergambar graffiti gambar Bruce Lee. Sementara sebuah restoran di Los Angeles dengan bangga memasang tulisan bahwa tempat itu pernah menjadi tempat shooting film Rush Hour (Jacky Chan dan Chris Tucker).

Di balik kehebohan beraksi bak-bik-buk di hadapan kamera, ternyata mereka pun kerap menyampaikan filosofi kehidupan yang sangat bernas, yang suai dengan manusia manapun, tak harus pendekar.

Kekaguman pada kedua tokoh ini membuat saya tak sungkan bergaya kung-fu walau pasti akan ditertawakan oleh orang yang paham beladiri.

Masabodoh lah. Yang penting, hati senang sehingga hidup tidak terlampau berat untuk dijalani. Demikianlah filosofi malam ini.

Ciaaaaatttt!!!
Gedebuk ...
😳

#aiglSelLoveChallenge #aiglSelfLove

📌 Senin, 6 September 2021 01:44 🌐

Sabtu, 14 Agustus 2021

Script for A Jester's Tears*

Script for A Jester's Tears<sup>*</sup>

Kita Harus Bahagia**

Musicology'83 usai rekaman video Harus Bahagia

Musicology'83 usai rekaman video Harus Bahagia

Sungguh campur-aduk perasaan saya tatkala membaca sekian kisah yang tampil dalam celeng ini. Kagum, sendu, getir, geli, dll hadir silih berganti bahkan kadang tumpang-tindih saat menyimak perjuangan kawan-kawan menembus rintangan masa lalu yang begitu kejam merundung (bully) kekurangan ataupun mengerdilkan eksistensi seseorang.

Sungguh terpesona saya melihat betapa mental baja menyanggupkan kawan-kawan AIGLorins bangkit dan bermetamorfosis secara paripurna; dari itik si buruk rupa menjadi putri yang dikagumi, dari katak buduk menjadi prince charming idola.

Intinya adalah bagaimana menghargai diri sendiri secara tepat, terlepas dari penghakiman orang lain. Dan ternyata kita memang berharga, bahkan tak jarang melampaui dugaan kita sendiri.

Menjelang tutup pintu celeng di Hari Pramuka 14 Agustus ini, tetiba saya teringat pada kejadian yang berlangsung tahun 2019 silam. Ingatan ini muncul karena videonya ditayangkan di acara Gajah Merdeka kemarin. Terus-terang, ini bukanlah sebuah ekspresi self love dan proses kebangkitan yang gemilang dari suatu keterpurukan, melainkan bentuk lain dari rasa cinta yang sama (ini sih memang perasaan saya aja).

* * *

Sedari kecil, saya termasuk orang yang tidak punya nyali untuk tampil di depan publik. Pada dasarnya saya adalah seorang pendiam dan pemalu. Jangankan memberi pidato menggelegar yang memotivasi, bahkan untuk sekadar melucu ringan saja tidak ada keberanian. Konon pula menyanyi (sebenarnya sih karena orang sudah tahu kualitas suara saya yang lebih cocok untuk membubarkan keramaian tinimbang menarik penggemar, itu sebabnya mereka lebih suka menjadikan saya sebagai korlap daripada sebagai vokalis 🤣).

Menyadari kapasitas diri, saya nyaris selalu memilih posisi di belakang panggung. Entah sekadar angkat-angkat kursi, membawakan perlengkapan, menggotong alat musik, bahkan menjaga tas kostum, atau bertepuk-tangan memberi applause.

Satu ketika, kawan-kawan Musicology 83 hendak membuat video dalam rangka Festival Band Alumni ITB tahun 2019. Rencananya mereka akan mulai shooting sejak pagi buta. Berhubung selama ini saya terbiasa jadi tukang angkat barang, maka saya pun berpikir ini adalah kesempatan untuk bersantai sambil menonton kawan-kawan beraksi. Maka sehari sebelumnya saya pun berkabar akan datang esok siang. "Mau nonton," kata saya.

Belum pula tengah hari, beberapa kawan sudah japri menanyakan apakah saya jadi datang. Wah, tumben banget ada artis yang mencari penonton, pikir saya (jadi paranoid mengingat pada kasus tutur bahasa manis seorang kawan untuk membawakan tas kuliah saya padahal berencana menceburkan saya ke Kolam Mesin gegara April Mop pertunangan).

Setengah heran campur curiga, saya pun datang ke tempat shooting. Seperti biasa, makanan dan minuman sangat menggoda untuk dinikmati terlebih dulu. Sambil bersantap, saya memperhatikan kawan-kawan berlatih dan beraksi. Serius sekali mereka menyiapkan properti, kostum, bahkan adegan.

Selesai makan, lanjut ngopi-ngopi, merokok-merokok, dan ngobrol di teras. Tiba-tiba sang sutradara video menghampiri saya dan menyapa ramah, "Mas Alof bisa ya nanti membantu sedikit adegan untuk memberi aksen pada klip video."

Sontak saya terperanjat. "Hah?! Bantu bagaimana?"

"Begini... Mas Aa yang harusnya jadi pemeran ternyata tidak bisa datang."

"Lah, terus saya harus ngapain? Saya gak ngerti sama sekali ceritanya seperti apa. Lagu yang akan dinyanyikan pun saya tidak tahu."

"Gampang. Nanti sambil jalan saya briefing. Tapi kalau Mas Alof tidak bisa, ya gak apa-apa."

Saya tengok kawan-kawan Musicology. Ndilalah, pandangan mereka sungguh menimbulkan iba. Kerongkongan saya mendadak tercekat. Kalau sudah begini, saya tidak bisa berkata lain. Entah kenapa saya sangat sukar menolak permintaan tolong dari siapa pun dan dalam soal apapun. Asalkan bukan tindakan kriminal, saya usahakan. Apalagi jika memang demi kebaikan atau kebutuhan orang yang bersangkutan (walau kadang kena dibohongi juga sih 😊).

Lalu, dengan singkat sang sutradara memberikan taklimat (briefing) mengenai karakter yang akan saya perankan. Intinya, saya menjadi tukang recok alias pengganggu para artis yang sedang tampil.

Pikiran saya langsung bergerak cepat. Karena ini video tentang semangat untuk bangkit walau dalam kondisi kurang menyenangkan (kayak masa pandemi sekarang ya), maka kekacauan yang saya perankan tentu tidak boleh merusak jalan cerita melainkan justru memberi warna tambahan yang menguatkan spirit tadi. Solusinya adalah kehebohan yang lucu. Hmm...

"Jadi badut reseh ya?" tanya saya menerka.

Sang sutradara tertawa.

"Baiklah," jawab saya sambil menegarkan hati. Walau ini adalah semacam jebakan betmen, apa boleh buat. Sudah telanjur makan siang, mosok hengkang? 😔

Dengan segera baju warna pink diserahkan pada saya (entah milik siapa, untung ukurannya pas). Dasi kupu-kupu sutra yang tergeletak di atas meja pun saya ambil. Apa lagi? Sekalian ada kacamata segede jengkol berwarna merah. Topi pun saya sambar. Untung saja saat itu tidak ada kipas bulu-bulu layaknya penari Swara Maharddhika 😅

Ketika berganti pakaian, saya menyempatkan diri konsentrasi sejenak (warisan latihan sejak ikut ekskul teater di SMA dan STEMA ITB) untuk meresapkan karakter yang diinginkan.

"Okay. I'm ready," kata saya saat keluar kamar ganti dan disambut kehebohan kawan-kawan yang tidak menyangka saya yang pendiam dan pemalu ini bisa tampil norak.

Mulailah scene demi scene direkam. Setiap sebelum memulai rekaman, sang sutradara memberikan taklimat tentang adegan yang akan berlangsung. Saya diskusikan sebentar tentang apa yang akan saya lakukan, kemudian langsung shooting setelah kami sepakat.

Saya berusaha keras jangan sampai harus mengulang rekaman akibat kesalahan saya. Kasihan kawan-kawan yang sudah berlatih sejak pagi jika harus berlama-lama merekam. Maka, saya berusaha tampil maksimal dengan tubuh yang sok dilentur-lenturkan serta mimik wajah yang dibikin konyol. (Malamnya pulang ke rumah ya terasa pegal-pegal juga.)

Puji Tuhan, hampir semua adegan cukup dilakukan 1 kali take saja. Kalaupun diulang, akibat ada pemusik yang agak gagap merespons akting saya sehingga belum pas reaksinya. Maklumlah, kami tidak pernah latihan sebelumnya. Lah, drummer yang sedang semangat menggebug drum mana menyangka akan disela oleh koki pembuat kue 🤣

Akhirnya, jam 17 proses rekaman pun selesai. Lebih cepat daripada perkiraan awal yang memasang angka 21. Adegan terakhir yang rencananya adalah menceburkan saya ke kolam renang, tegas saya tolak mentah-mentah (lho, beneran jadi mengulang kasus Pertunangan Bulan April ya..) Malas aja pulang dengan celana dalam basah kuyup 🙈

Demikianlah kisah seorang badut yang terjebak dalam galaunya rasa tak mampu menolak.

Sebagai barbuk bahwa semua adalah perjuangan tersendiri bagi saya yang pendiam dan pemalu ini, sila mampir ke sini:

Sekalian dong kasih jempolnya ya 👍

Haturnuhun pisan 🙏

* * *

Akhirul kalam, perlu saya tegaskan dengan spidol tebal dan stabillo merah, tentu saja peran badut pengacau ini sangat jauh dari karakter saya yang pendiam dan pemalu. Tetapi, demi teman dan semangat l'esprit de corps, saya kudu rela hati berlapang dada. Pan katanya "that's what friends are for".

Terus apa hubungannya dengan self love? Ya beginilah cara yang saya tahu dalam mencintai dan menghargai diri sendiri, yakni dengan berusaha mencintai dan menghargai orang lain sebaik-baiknya, tanpa merisaukan tanggapan mereka kemudian. Urusan merekalah itu. Urusan saya sudah selesai ketika layar adegan diturunkan.

Sedangkan risiko bahwa kekonyolan saya yang bukan artis ini akan diingat dan ditertawakan sepanjang masa, apalagi di era digital yang menyimpan semua secara kekal, ya kudu dipasrahkan. Mau bagaimana lagi toh? Wis kadung..

Aku hanya bisa menyintaimu secara sederhana dengan segala yang kumiliki saat ini, tak bisa kurang dan tak mampu lebih.

I love you 💕 Titik. Habis.

Semoga berkenan. Sumonggo.

Mengenang Dieke Rosa Ardiana, salah satu personal Musicology'83, yang sudah mendahului kembali ke damai kekal-Nya (12 April 1964 - 24 Juni 2020) 🙏

* Script for A Jester's Tears adalah judul sebuah album dari grup band Marillion.

** Kita Harus Bahagia adalah lagu yang dipopulerkan oleh Yura Yunita.

#aiglSelfLoveChallenge #aiglSelfLove

📌 Sabtu, 14 Agustus 2021 19:26 🌐