Kamis, 30 September 2021

Liburan dalam Neraka

Sudah menjadi kelaziman bahwa itinerary (jadwal kegiatan) merupakan hal yang sangat penting dalam sebuah perjalanan. Entah kita buat sendiri ataupun dibuatkan orang lain, intinya semua peserta tahu apa saja kegiatan yang akan dijalani berikut waktu dan tempatnya. Nyaris tidak mungkin kita mengikuti sebuah perjalanan tanpa bekal itinerary.

Tapi saya pernah mengalaminya. Selama perjalanan, saya tidak tahu apa yang akan dilakukan sepanjang hari itu, di mana berada, kapan harus ngapain. Bahkan hari, tanggal, serta di mana perjalanan berakhir pun saya tidak tahu.

Kok bisa?

Ya begitulah kalau kita nekad ikut latihan kemiliteran dalam skenario perang. Segala hal tersembunyi bagi peserta. Pokoknya, patuh pada perintah! Maka, jangan membayangkan kenikmatan yang biasa didambakan dari sebuah perjalanan.

Dan inilah yang saya alami saat memilih untuk mengisi waktu libur semester dengan mengikuti Pendidikan dan Latihan Dasar Resimen Mahasiswa (Diklatsar Menwa) Batalyon I ITB.

Entah kenapa, saya tahu-tahu punya ide untuk punya seragam dan baret resmi yang bukan hanya untuk karnaval 17 Agustusan. Berbekal pesan dari seseorang yang mengatakan, "Jangan ke rumah lagi kalau pulang tanpa baret ungu", saya pun membulatkan tekad serta semangat untuk menyelesaikan program ini.

Lalu, apa yang saya peroleh dari liburan macam ini?

Makan

Sarapan pagi atau makan malam kerap menjadi saat yang paling santai saat kita melancong. Kita siap membuka lembaran baru di pagi hari ataupun meresapkan kesan perjalanan seharian tadi. Dalam suasana sangat santai ini, makanan dikunyah pelan, minuman disesap khusyuk. Semua ingin diresapi kenikmatannya hingga partikel terkecil.

Sementara di pelatihan kemiliteran ini, prosesi makan tak lagi menggubris keseimbangan komposisi bumbu. Tidak ada kesempatan menilai cita rasa tata boga ala acara Master Chef. Semua harus disegerakan tuntas. Dalam hitungan 10 sejak suapan pertama, seluruh peralatan makan dan minum harus sudah tersimpan rapi kembali di ransel dan sudah dalam posisi siap dalam barisan.

Boro-boro ngopi dan merokok. Durasi makan-minum ala militer ini tidak terlalu berbeda dengan lomba lari 100 meter kelas dunia. Masih untung tidak keselek.

Gara-gara makan sambil dihitung begini, saya jadi punya kebiasaan makan cepat. Selain itu, saya berubah jadi penggemar ikan asin, padahal sebelumnya sangat tidak suka.

Ketidaknyamanan dan keterpaksaan kadang membuat sesuatu yang sebelumnya kita abaikan kini jadi berharga. Tatkala hanya itu kesempatan dan kenikmatan yang bisa kita dapat. Syukurilah setiap berkat.

Jalan-jalan

Menikmati jalan yang kiri-kanannya dihiasi pemandangan atau bangunan cantik tentu saja merupakan kesempatan yang amat menggoda untuk berswafoto (selfie) atau sekadar menikmati karya Tuhan maupun arsitek kawakan.

Tetapi akan beda rasanya jika perjalanan itu menjadi long march yang memakan waktu hingga sehari penuh, menyusuri jalan aspal atau jalan setapak sejak matahari bangun hingga petang, bahkan kadang sampai gelap-gulita di bawah langit gelap. Kesan keindahan di kiri-kanan jalan langsung pupus oleh pegalnya kaki, yang kadang lecet parah.

Dari sini saya membayangkan betapa beratnya long march Pasukan Merah Mao ataupun Pasukan Siliwangi ke Yogya di masa kemerdekaan. Begini toh yang namanya berjuang dalam perang.

𝑼𝒑𝒂𝒚𝒂 𝒎𝒆𝒓𝒂𝒊𝒉 𝒂𝒕𝒂𝒖 𝒎𝒆𝒏𝒖𝒋𝒖 𝒔𝒆𝒔𝒖𝒂𝒕𝒖 𝒎𝒆𝒎𝒂𝒏𝒈 𝒌𝒆𝒓𝒂𝒑 𝒎𝒆𝒏𝒋𝒂𝒅𝒊 𝒑𝒆𝒓𝒋𝒂𝒍𝒂𝒏𝒂𝒏 𝒑𝒂𝒏𝒋𝒂𝒏𝒈 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒎𝒆𝒏𝒚𝒊𝒌𝒔𝒂 𝒅𝒂𝒏 𝒔𝒆𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒕𝒂𝒌 𝒂𝒅𝒂 𝒂𝒌𝒉𝒊𝒓. 𝑲𝒐𝒏𝒔𝒊𝒔𝒕𝒆𝒏𝒔𝒊 𝒅𝒂𝒏 𝒊𝒏𝒕𝒆𝒈𝒓𝒊𝒕𝒂𝒔 𝒂𝒅𝒂𝒍𝒂𝒉 𝒃𝒆𝒌𝒂𝒍 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒕𝒂𝒌 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒌𝒉𝒊𝒂𝒏𝒂𝒕𝒊 𝒎𝒆𝒓𝒆𝒌𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒔𝒆𝒕𝒊𝒂.

Jalan Kereta

Perjalanan wisata kadang divariasikan dengan naik kereta. Sepanjang perjalanan, banyak pemandangan yang sangat indah untuk dinikmati.

Sementara peserta pelatihan harus seharian menapaki balok-balok kayu atau besi yang melintang di antara 2 batang rel yang tak berujung. Mau gila rasanya dilanda kebosanan. Apalagi jika matahari demikian terik menghajar bumi.

𝑹𝒖𝒕𝒊𝒏𝒊𝒕𝒂𝒔 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒎𝒆𝒏𝒖𝒏𝒕𝒖𝒕 𝒌𝒐𝒏𝒔𝒆𝒏𝒕𝒓𝒂𝒔𝒊 𝒎𝒆𝒎𝒂𝒏𝒈 𝒔𝒂𝒏𝒈𝒂𝒕 𝒎𝒆𝒍𝒆𝒍𝒂𝒉𝒌𝒂𝒏. Buyar sedikit saja karena membayangkan kenikmatan naik kereta di Swiss, bisa oleng dan terjatuh di rel kereta karena tersandung. Kabarnya, pernah ada peserta pelatihan yang meninggal akibat kepalanya menghantam rel.

Mendaki Bukit, Menuruni Lembah

Sebagian orang menyukai pemandangan dari ketinggian maupun kesegaran udara pegunungan sehingga mendaki gunung pun dilakoni. Atau trekking atawa cross country.

Ini sangat tidak terasa nikmat jika dilakukan di tempat yang tak jelas keindahannya, apalagi tujuannya. Rasanya entah ada di belahan dunia mana. Apalagi jika siang hari saat aspal jalanan meruapkan panas dan kita tidak diijinkan untuk meneguk air dari veldples (botol aluminium). Sansaro..

Perjalanan hiduo memang tak selamanya datar dan indah. Ada dinamika yang kadang tak menyenangkan, bahkan memuakkan, namun harus tetap dilalui dengan tabah.

Turun Tebing

Bagi sebagian orang, menuruni tebing curam dengan tali dan carabiner seperti di film-film laga hanya nikmat untuk ditonton. Tak semua orang cukup tenang saat mengubah posisi badan dari vertikal terhadap bumi menjadi vertikal terhadap dinding tebing. Di tepi tebing itu kita menjatuhkan diri ke belakang hingga sekitar 90°. Dan inilah saat yang paling menegangkan karena kita tahu persis tidak ada sesuatu pun yang menahan badan di belakang. Semata-mata mengandalkan belitan tali dan genggaman tangan.

Kegentaran ini sering tampak ketika orang yang bersangkutan menyampaikan laporan bahwa dirinya siap turun. Alih-alih meneriakkan "Siap turun tebing!", yang diteriakkan adalah "Siap terjun terbing!". Sudah pula terjun, terbing pula katanya. Terbang, kali ya?

Banyak kali kita diingatkan betapa tidak nyamannya perubahan. Apalagi jika harus merelakan diri jatuh untuk kemudian meluncur turun hingga titik nadir. Konon, dalam proses perubahan ini karakter asli seseorang akan terlihat.

Pendaratan Pantai

Sebagian orang menyukai permainan di air. Entah dengan papan seluncur (surfing), paddle board, kayak, ataupun sekadar naik banana boat. Asyik-asyik saja rasanya.

Berbeda rasanya dengan menggotong perahu karet yang lumayan berat dari pantai ke laut (sekitar berdelapan orang dalam satu tim), menaiki perahu tersebut, mengayuh ke tengah laut, terjun ke laut karena [ceritanya] ditembaki pesawat musuh, membalikkan perahu karet dan berlindung di bawahnya, membalik perahu karet agar bisa dinaiki kembali, mengayuh ke pantai, terjun ke air, berlari menuju pantai, tiarap, merayap, menembaki musuh yang entah ada di mana.

Serasa jadi pemeran pembantu di film-film perang. Mungkin beginilah yang dialami para serdadu sekutu saat mendarat di Pantai Normandia. Mereka lupa betapa meletihkannya hal ini karena dikalahkan rasa takut mati tertembak. Sementara saya yang tahu tidak bakal tertembak hanya merasakan keletihan yang amat-sangat.

Rasa takut memang bisa membuat seseorang terpacu untuk bertahan dan menang, ataupun hancur dalam ketidakberdayaan melawan rasa takut itu sendiri.

Sejalan dengan pesan Nelson Mandela, "Courage is not the absence of fear but the triumph over it. The brave man is not he who does not feel afarid but he who conquers that fear."

Lintas Rawa

Sementara para pelancong bisa menikmati kesegaran air di kolam renang, danau, ataupun laut, maka kami yang sedang latihan ini hanya bisa menikmati kedekilan air rawa yang kadang berbau. Berjalan melintasi hamparan air yang tak jelas di mana tepinya dengan ketinggian mencapai dada sehingga pakaian dan ransel basah kuyup. Belum lagi jika lintah atau pacet menempel di badan. Makin komplet rasanya.

O ya, jangan tanya soal mandi. Selama berlangsungnya kegiatan di Medan Operasi ini, tidak ada yang meributkan soal bau badan. Soal gatal-gatal hingga kudis, urusan masing-masing lah.

Dalam banyak hal, ada kalanya kita harus menceburkan diri agak dalam untuk memahami kondisi serta melupakan sejenak kenyamanan, bahkan sedikit mempertaruhkan kesehatan.

Tidur Kalong

Amat wajar jika kita berharap bisa merebahkan badan yang letih di ranjang empuk setelah seharian melancong kesana-kemari. Tak akan pernah terbayang jika kita harus semalaman duduk atau setengah berbaring dengan mengikatkan diri di dahan pohon beberapa meter di atas tanah. Padahal sepanjang hari sejak subuh badan sudah dipaksa berjalan.

Tak perlu juga terlalu terkejut jika tengah malam ada suara berdebum ketika ransel atau bahkan dengan orangnya sekalian terjatuh ke tanah akibat kurang kuatnya simpul tali ke batang pohon.

Atau, mendengar teriakan campur makian jika ada yang terbangun akibat tersiram air seni dari orang yang tidur di cabang pohon sebelah atasnya. Lha, tidak ada WC di pohon.

-----oo00oo-----

Masih ada hal-hal lain yang menjadi kontras nikmat antara liburan yang terencana dengan liburan yang dipasrahkan seperti ini.

Lalu, apa enaknya sih ikut latihan yang menyiksa begini? Liburan macam apa ini?

Ya demikianlah. Dalam segala sesuatu ada hikmah yang bisa dipetik. Meski dari rasa yang sangat pahit.


(edisi menulis buru-buru, ada peluang revisi jika sempat)

feeling crazy.

PinAng: Kamis, 30 September 2021 23:18 WIB

Steak di Pekarangan Kota Suci

[Vatikan, 7 Maret 2016]

Kisah ini sebenarnya teramat ingin dilupakan. Tapi karena tidak juga terkubur, siapa tahu bisa menyublim menjadi uap jika diceritakan.

Alkisah, saya dan 5 kawan berkesempatan menyambangi kota Roma nan legendaris seantero jagad. Sesuai pemeo "banyak jalan menuju Roma", entah apapun kiatnya (yang berbalut beberapa tragedi pula) akhirnya kami sampai juga ke sana. Hallelujah!

Berbekal tiket terusan bis wisata hop-on hop-off berikut petanya, kami pun berpuas berkeliling menikmati berbagai lokasi wisata di Roma, seperti Colosseum, air mancur Trevi yang dasar kolamnya penuh koin permintaan, Spanish Step, Pantheon yang semula adalah kuil pemujaan para dewa-dewi Romawi, dsb. sambil tak lupa mengumbar foto serta menikmati es krim asli Italia yang bukan keluaran Ragusa.

Telanjur sudah di Roma, walau kami bukanlah pemeluk agama yang saleh, malah tak semuanya beragama Katolik, tentu saja tak ada salahnya berkunjung ke negara mini Vatikan yang merupakan episentrum agama Katolik sedunia. Wong tempat ini sudah menjadi salah satu destinasi wisata. Lagipula jaraknya hanya sepelemparan serabi kinca dari kota Roma.

Tengah hari, sampailah kami di perbatasan kota Vatikan. Sambil menyeberangi Sungai Tiber (kalau tidak salah) kami pun melakukan ritual berteriak bersama di atas jembatan, macam orang gila yang baru saja kena sosor angsa.

Dari kejauhan, kubah Basilika Santo Petrus sudah tampak. Berkilau disiram cahaya lembut mentari. Tiang obelix yang tegak menjulang di tengah lapangan pun seperti melambai-lambai riang menyambut kedatangan kami. Rasanya tak sabar untuk segera menelusuri seluruh pelosok kota yang penuh karya para maestro ini.

Tapi perut sudah menagih diisi. Selayaknya lokasi wisata, tentu saja restoran ataupun gerobak penjaja makanan (juga cenderamata) bertebaran di sekitar situ.

Saya sih tidak masalah dengan makanan apa saja. Mau European atau Asian, oke saja. Dengan catatan: tidak pedas!!! Maklumlah, perut sudah tidak seperkasa masa muda. Sedangkan beberapa kawan kurang sreg dengan makanan Eropa sehingga kami kerap berusaha mencari sajian Asia seperti Chinese atau Vietnamese yang lebih suai dengan selera mereka.

Ternyata di seputaran Vatikan tak ada restoran Asia. Alternatifnya adalah makanan yang sudah diakrabi, semisal burger atau pizza. Walau rasanya tentu tidak senikmat di tanah air. Kebanyakan makanan di sana tergolong hambar seperti kekurangan bumbu. Pantas saja dulu orang Eropa gigih banget mencari rempah-rempah hingga Nusantara.

Kebetulan ada sebuah restoran kecil yang menjual burger. Mampirlah kami ke sana. Kalau tidak salah, € 4 sebuah. Bolehlah. Sekadar mengganjal perut hingga sore.

Saat sedang memilih burger yang kira-kira cocok di lidah, seorang kawan mengatakan bahwa resto itu sedang promosi 𝘴𝘵𝘦𝘢𝘬 komplet. Hanya € 7, katanya. Wah, tentu saja kabar ini kami sambut penuh sukacita. Kami pun segera masuk ke resto dan duduk sekeliling meja makan.

O ya, resto di Eropa umumnya agak belagu setengah tak berperikemanusiaan. Kalau kita hanya membeli minuman atau makanan ringan, biasanya tidak boleh duduk. Silakan berdiri di trotoar atau bawa pergi. Jangankan duduk, numpang pipis saja kadang tidak boleh kalau tidak belanja. Atau harus bayar antara € 0.5 hingga € 2 per sekali setor.

Begitu kami duduk, pelayan menanyakan pesanan. Dengan penuh ketegasan kami memesan 𝘴𝘵𝘦𝘢𝘬 promo tadi. Pelayan bertanya, berapa porsi? Satu per orang, kata kami. Melihat gambar 𝘴𝘵𝘦𝘢𝘬 berikut kentang dan sayurnya, pastilah memadai untuk bertahan sampai makan malam nanti.

Setelah berdiskusi dengan sang pelayan, seorang kawan kemudian mengatakan bahwa kami ditawari paket yang menggabungkan 6 porsi tadi menjadi 1 loyang besar. Oke sajalah, sahut kami tidak berkeberatan.

Sambil menunggu, kami pun melepas dahaga dengan air bening yang disediakan di meja. Entah kenapa, sang pelayan melarang kami menuangkan sendiri air dari teko ke gelas. Dialah yang melakukannya dengan sangat ramah dan sopan. Dan saat minta ijin menggunakan WC, dengan sigap sang pelayan mengambilkan kunci pintu WC seraya menunjukkan jalannya ke lantai bawah. Bergiliran kami buang air kecil.

Setelah itu, sang pelayan dengan setia berdiri di dekat meja selama kami di situ, seakan bersiaga andai ada yang kami perlukan. Wah, sungguh luarbiasa memang perilaku orang-orang di sekitar kota suci ini, komentar saya. Bintang lima nih ⭐⭐⭐⭐⭐

Tak berapa lama, datanglah pesanan kami. Satu loyang besar daging matang yang sudah dipotong-potong dan masih panas. Ruap wanginya sungguh membangkitkan selera. Dengan penuh semangat kami melahap hidangan yang memang sangat empuk dan gurih.

"Enak bener nih daging. Banyak pula. Kenyang bahagia deh kita siang ini," komentar salah seorang kawan dengan sumringah.

Usai menggasak makanan semampu perut menampung, kami berpesan pada pelayan untuk membungkuskan sisa steak. Masih dapat 1 kotak kecil. Lumayan..

Setelah leyeh-leyeh sejenak memberi kesempatan bagi usus mencerna makanan, kawan yang bertugas sebagai bendahara menuju kasir untuk menuntaskan pembayaran. Sesaat kemudian, dia kembali dengan wajah tegang setengah pucat seperti lirik lagu, "That her face at first just ghostly, turned a whiter shade of pale."

"Kenapa?" tanya kami heran.

Dia menyodorkan bon tagihan makanan kepada kami. Tertera angka € 279.40, yang kalau dikurs menjadi Rp 4 juta lebih. Hah?!! Katanya € 7. Dikali 6 orang, paling banter kena € 50 lebih sedikit lah plus tip. Kok jadi ratusan begini?

Kawan saya segera memanggil pelayan yang ramah tadi untuk meminta penjelasan. Sementara kami yang baru saja bersyukur atas makan siang yang enak, langsung terkulai lemas di kursi masing-masing. Entah apa penjelasan yang disampaikan oleh pelayan ramah tadi, kami sudah tak menyimak. Ada kemungkinan ketika kami meminta 𝘴𝘵𝘦𝘢𝘬 promo sebanyak 6 paket, sang pelayan menawarkan paket lain untuk berenam. Berpikir bahwa tawaran ini sekadar menyatukan 6 paket promo menjadi 1 loyang, kami setuju. Ternyata beda barang, Fergusso! 😓

Telanjur makanan sudah masuk perut dan malas berurusan dengan persoalan yang bisa merusak reputasi bangsa (cie, cie, cie.. I love Indonesia 🇮🇩) dengan berat hati digeseklah kartu kredit dengan tagihan sekian ratus Euro untuk sekali makan yang sebenarnya tidak masuk dalam kategori makanan mewah ala restoran eksklusif. Wong ini hanya resto kecil yang nyempil dan biasa-biasa saja.

Keluar dari restoran, agak lunglai langkah kami memasuki pelataran Basilika Santo Petrus. Rencana makan burger € 4 malah keluar duit lebih dari € 46 per orang. Pantas saja pelayan itu demikian menghormati dan melayani kami dengan ekselen. Rupanya, tidak hanya di Indonesia, bahkan orang bule di Eropa pun menganut paham "ada udang di balik bakwan; ada uang, saya servis abang" 😜

Kendati demikian, kami sepakat untuk konsisten ke tujuan awal berpesiar, yakni menikmati objek wisata sepuas-puasnya dan menikmati kebersamaan dengan para sahabat seperjalanan. Alhasil, wajah-wajah kami dalam foto pun tak ada yang merengut selama menjelajahi Vatikan. Wajah ceria dengan senyum maksimal tanpa beban selalu ditampilkan dalam foto kenangan.

Hanya saja, saat sorenya naik bis wisata kembali ke penginapan, raut wajah langsung bertakik-takik seperti patung dipahat kasar tanpa diampelas. Semua diam dan hanyut dalam pikiran masing-masing. Amblas sudah jatah yang kalau dipakai di resto Chinese atau Vietnamese bisa untuk beberapa kali makan 😓

Esok paginya, ketika makan nasi putih yang dimasak sendiri (kawan saya ada yang wajib makan nasi, sehingga dari Indonesia pun dia membawa rice cooker kecil dan bekal beras beberapa kilo 😊 dengan lauk Indomie kuah berikut beberapa potong daging sisa makan siang di pelataran Vatikan, kami tertawa-tawa getir sambil mengunyah dengan sangat khidmat steak termahal yang pernah jadi makan siang kami.

Beginilah kalau komunikasi dengan bahasa Inggris berbalas pantun dengan bahasa Italia tanpa sepenuhnya saling paham. Hikmahnya, kami pun menjadi kian memahami filosofi klasik bahwa rasa lapar bisa membuat orang khilaf dan kalap 😊

— feeling silly.

PinAng: Kamis, 30 September 2021 22:10 WIB