📌 Kamis, 30 Mei 2019 🌐

Saat Kegilaan Berjalin

Saat Kegilaan Berjalin

— Kilas Balik "Dari Ganesha untuk Indonesia" #1

Entah apa pasal, tanggal 24 Mei sore, tiba-tiba di WhatsApp Group (WAG) Musicology'83 muncul undangan untuk berpartisipasi dalam pembuatan video klip lagu yang bertema Indonesia. Tak jelas siapa penggagas acara ini. Tapi sudah terbayang bahwa ini pasti kerjaan oknum Komunitas Musik ITB alias KMI.

Menautkan kembali memori sekian perbincangan sambil lalu bersama beberapa kawan KMI, serta mengkorelasikan dengan barbuk (barang bukti) berupa foto bertemunya beberapa warga KMI di Citos pada malam sebelumnya, analisis konspiratif saya langsung memerintahkan untuk mencari konfirmasi kepada salah satu orang yang ada dalam foto barbuk tersebut. Bang Toni Sianipar.

"Ini projek yang dibahas semalam dengan Tito, Noor, Batara, dan Chika ya?" tembak saya langsung.

"Yes!!", jawab Bang Toni lugas.

Hehehe ... Karena selama ini kalau japrian dengan Bang Toni biasanya bahasan kami 83% serius dan to the point, maka jawaban Bang Toni pun tanpa tedeng aling-aling. Malah tanpa ba-bi-bu saya langsung diundang masuk ke grup kerja. Jadilah saya mulai ikut bersibuk-ria bersama mereka.

25 Mei sore kami bersua di tempat kami biasa kongkow, Soma Coffee di kawasan Akuatik GBK. Hadir Bang Toni, Bang Tito, Mas Noor, Mbak Chika, Mbak Audist, Bang Teddy. Bang Batara menyusul agak malaman dengan membawa upeti duren Ucok Medan.

Berhubung saya gabung belakangan, maka saya lebih banyak menyimak diskusi tinimbang nimbrung. Pokoknya saya siap mendapat penugasan. Diskusi berlangsung intens dan efektif. Pembagian kerja dilangsungkan tanpa banyak cerita dan komplain.

Sempat saya berpikir, ini orang-orang pada gila, kali ya. Sudah bikin woro-woro ngajak banyak alumni untuk ikutan rekaman video, padahal lagunya saja belum jadi. Terus, saya diminta bikin narasi tentang acara ini. Beneran edan, kan?

Pulang dari pertemuan, saya tidak bisa tidur sampai subuh. Gak dapat ilham bagaimana menjustifikasi dengan mulus kaitan ITB dan Indonesia dengan musik. Benang merahnya sih bisa saja dikarang. Pandai-pandai Bang alof sajalah, kata mereka. Buntu pikiran! Sementara saya sudah sekian tahun berhenti menulis utuh (sebagai dampak buruk media ngobrol WhatsApp yang biasanya hanya berbentuk komentar singkat).

Sementara saya dilanda kebingungan bagai ayam kena sakit tetelo, kawan-kawan sudah bergerak cepat ala blitzkrieg pasukan Jerman. Bang Tito dan Mas Noor langsung menampilkan pesona diri mereka pada kawan-kawan Persatuan Golf Ganesha (PGG) untuk mendapatkan dukungan dana. Mbak Audist dan Mbak Chika menghubungi sana-sini dalam rangka menyiapkan fasilitas shooting termasuk juga mencari dana. Bang Batara pun tak kalah gesit mendorong kawan-kawan ITB 86 Master untuk meringankan beban. Woro-woro melalui WAG Komunitas Musik ITB (KMI) maupun WAG band masing-masing pun jalan, baik untuk dukungan dana maupun peserta rekaman.

Benarlah dugaan saya. Mereka ini memang orang gila sehingga dalam tempo 1 malam saja sudah terkumpul dana yang memadai untuk melangsungkan perhelatan ini.

Dan untuk kesekian kalinya, saya yang bukan golfer harus angkat topi berikut keempat jempol pada kawan-kawan PGG yang tanpa banyak cingcong langsung membuka kocek sehingga dana yang mereka kontribusikan bahkan melampaui 2x prediksi Bang Tito. Bang Tito dan Mas Noor selalu bilang bahwa PGG ini adalah kelompok orang urakan ugal-ugalan tapi punya rasa solidaritas tinggi, apalagi kalau bicara soal almamater dan kemanusiaan.

Sekelompok orang gila ketemu kelompok gila lain, jadilah sebuah kegilaan besar. Dan, konon, dunia ini berubah karena ada sebagian orang yang berani gila mengambil jalan yang berbeda.

Hail, PGG! We salute you!

Bai bai en gutnait, mayfrens.

Maunya sih nulis lebih panjang dan seru. Tapi saya harus istirahat dulu, karena pagi-pagi nanti harus menggotong projektor dan layarnya ke tempat shooting di Telkom Landmark Tower agar sekitar 200-an peserta rekaman lancar melafalkan teks lagu yang baru selesai kemarin. Kapan-kapan saya sambung lagi deh kalau mood.

#KMI #PGG

📌 Kamis, 30 Mei 2019 02:27 🌐

📌 Senin, 27 Mei 2019 🌐

Dari Ganesha untuk Indonesia

Dari Ganesha untuk Indonesia

Tahun depan, 2020, ITB tepat berusia 100 tahun. Seperempat abad kemudian, Indonesia mencapai usia yang sama setelah kemerdekaan 17 Agustus 1945. Sebuah rentang waktu yang masih pendek untuk menakar peradaban, namun cukup layak untuk mengukur langkah kemajuan.

Sebagai sebuah institusi dan komunitas, ITB adalah miniatur Indonesia yang kaya dengan keanekaragaman latar belakang, disiplin ilmu, pemikiran, upaya, maupun pencapaian. Peran ITB bagi Indonesia pun kian penting tatkala sains dan teknologi merupakan ujung tombak kemajuan dunia masa kini.

Namun pertanyaan yang jauh lebih penting bukanlah apa yang sudah diraih dan diberikan oleh ITB bagi Indonesia selama ini, melainkan kontribusi nyata dalam menyongsong 100 tahun kemerdekaan Indonesia, bahkan setelahnya.

Begitu pula mengenai keragaman, yang di satu sisi merupakan potensi luarbiasa yang akan menghasilkan karya besar apabila bersinergi. Namun, di sisi lain, juga memiliki daya gerus yang tak kalah dahsyatnya. Perjalanan bangsa dan negara kita tak luput dari tarik-menarik kedua kutub kemungkinan ini. Sungguh kita patut bersyukur Indonesia mampu bertahan, yang tak lepas dari terjaganya solidaritas dan kesetiaan pada negara anugerah Tuhan ini. Walau dalam beberapa hal perbedaan itu tampak mengkristal, namun pada dasarnya tetap tersedia ruang dialog bagi keselarasan hidup bersama.

Pada masa dialog terasa buntu akibat pudarnya makna kata, kebudayaan mengambil posisi sebagai media yang paling tepat untuk mengembalikan rasa paling fundamental bagi semua manusia, yakni memiliki tempat yang nyaman di antara keramaian. Tidak teralienasi. Salah satunya adalah melalui musik. "When words fail, music speaks", demikian kata pencerita besar Hans Christian Andersen. Dalam musik, setiap orang mendapat tempat, walau hanya sebagai penikmat atau sekadar bersenandung, bersorak, dan bertepuk-tangan.

Sebagai tanggapan kesadaran menuju 100 tahun ITB serta tantangan tahun emas Indonesia, Komunitas Musik ITB (KMI) terpanggil untuk menguak celah perjumpaan segenap civitas academica ITB dalam memberi kesempatan pada KATA agar bisa kembali menjadi KITA.

Untuk itu, KMI akan menyelenggarakan sebuah perhelatan rekaman lagu dan video klip dengan tajuk Dari Ganesha untuk Indonesia: ”Bila Bersatu, Kita ‘kan Jaya”

Sangat diharapkan peran-serta teman-teman KMI serta civitas academica ITB untuk menyanyi dan tampil bersama dalam video klip ini, yang membutuhkan hingga 200 orang penampil.

Proses rekaman vokal akan dimulai awal minggu ini, sementara shooting video akan diadakan pada:

Hari Kamis, 30 Mei 2019(hari libur)
di Auditorium Telkom Landmark Tower (TLT) Jl. Jendral Gatot Subroto,
sejak pukul 11 WIB.

Mari berpartisipasi menyukseskan kegiatan ini. Yang tentunya tidak akan berhenti sampai pembuatan video klip saja. Masih banyak peluang kegiatan lain yang layak kita dukung dalam rangka menyongsong 100 tahun ITB menuju 100 tahun Indonesia.

Ini gawean kita bersama, mewujudkan karya kita bersama. Yuuk kita gotong-royong membantu keberhasilan gagasan ini 🙏

Kontribusi dapat disalurkan melalui rekening:

  • Bank Mandiri
    ac. xxxxxxxxxxxxx
  • BCA
    ac. xxxxxxxxxx
    a/n. xxxxxx xxxxxxxxxx x

Terima kasih atas partisipasinya.

In harmonia progressio.
Demi Tuhan, bangsa, dan almamater.

Salam musik, salam Ganesha.
Komunitas Musik ITB.

📌 Senin, 27 Mei 2019 13:41 🌐