📌 Rabu, 14 Agustus 2019 🌐

Hari Baru Indonesia

Hari Baru Indonesia
Hari Baru

Peluncuran "Hari Baru" di Indonesianisme Summit
Jakarta Convention Center

Kemarin malam, sengaja saya menyisihkan waktu untuk bertemu Mas Rizal, Mas Anton, Mas Rois, dan Mbak Audist Subekti, panitia acara Indonesianisme Summit 2019 yang diselenggarakan pada tanggal 13 dan 14 Agustus 2019 di Jakarta Convention Center. Adapun tujuan saya sowan pada mereka adalah dalam rangka mengenal lebih dalam tentang Indonesianisme serta menyesuaikan sinergi karya kawan-kawan Komunitas Musik ITB (KMI) yang dituangkan dalam bentuk video lagu.

Dari perbincangan santai selama beberapa saat di Soma Coffee GBK akuatik, saya menangkap beberapa poin penting yang menurut saya sungguh luarbiasa.

Indonesianisme Summit bukanlah sekadar ajang seminar, bukan pula pameran semata-mata. Di sinilah kita memberikan apresiasi atas pencapaian yang sudah dapat dinikmati manfaatnya oleh masyarakat dan sekaligus menjadi wadah motivasi atas inovasi para perusahaan rintisan (start up). Bahkan, lebih dalam lagi, di sinilah para pelaku teknopreneur berdialog dalam proses pembelajaran yang tak kenal henti.

Misi besar Indonesianisme adalah memberi ruang yang layak bagi kreativitas dan upaya anak bangsa berkiprah di tanah airnya sendiri, memberikan sumbangsih pada bangsa dan negara, melalui kompetensi di bidang teknologi dan industri.

Menurut hemat saya, semua ini hanya bisa diwujudkan apabila segenap potensi bangsa disinergikan. Melimpahnya sumber daya alam Indonesia bisa memberi manfaat sebesar-besarnya sesuai amanat konstitusi apabila dikelola secara optimal oleh sumber daya manusianya. Dalam hal ini, kebanggaan sebagai pembuat dan pelaku industri menjadi sangat penting.

Itu sebabnya forum ini dinamakan Indonesianisme.

(Jadi teringat diskursus yang berlangsung sekian tahun lalu, ketika acara ini hendak diluncurkan untuk pertamakali. Saya menjadi salah satu pendukung penggunaan istilah ini dengan melafalkannya sebagai Indonesian is Me 😜)

Berbagai potensi perlu dicurahkan dan dipadukan dalam semangat baru ini. Tidak terbatas pada kemampuan di bidang teknik saja melainkan juga budaya. Terutama budaya kerja, optimis, dan gotong-royong. Itulah modal besar bangsa kita yang sudah teruji sejak dulu.

Sebagai perwujudan dukungan budaya pada Indonesianisme, kawan-kawan dari KMI mempersembahkan kolaborasi musik yang mereka namakan Panggilan Negeri: Hari Baru. Melalui lagu ini, kita semua diingatkan bahwa sesungguhnya kejayaan negeri ini ada di tangan kita semua. Bahwa harapan bisa menjadi kenyataan ketika kita bangga sebagai bangsa Indonesia. INDONESIAN IS ME!

Inilah video kolaborasi mereka dalam menyemarakkan semangat Indonesia.

#HariBaru #PanggilanNegeri #IndonesianIsMe #IndonesiaJaya ❤️ 🇮 🇩

📌 Rabu, 14 Agustus 2019 00:21 🌐

📌 Selasa, 04 Juni 2019 🌐

Hari-hari yang Ajaib

Hari-hari yang Ajaib

— Kilas Balik "Dari Ganesha untuk Indonesia" #2

< 5/31, 05:05 >

Kamis yll (23/5) aku mentekadkan niat project ini di depan teman2 Non-Skill. Teman2 langsung soor. Menkan, kata mereka.

Menkan. Itu bukan tekad main2 mengingat yang di menkan ini adalah dalam 6 hari mengkompose lagu, membuat musik dan merekamnya dengan pelibatan puluhan orang dan.... Kamis depannya (30/5) sudah dijadwakan shooting.

Belum lagi tantangan buat Non-Skill untuk mengumpulkan support teman2, untuk ikut shooting dan terebih ngumpulin dananya.

Selama dua hari (Jumat dan Sabtu) aku udah bekutat bikin satu lagu dari satu tema. Cukup bagus, tinggal pengembangannya. Masih diselingi dengan bbrp pre-production meeting dengan para producer (Non-Skill) dan team produksi Video, hari Minggu saat ditanya teman2 aku jawab “udah hampir jadi, sedikit lagi, sabar ya...”.

Ternyata jalannya lain.

Minggu malam (tepatnya Senen pagi banget, jam 2) aku terbangun dan tiba2 dapat tema baru. Simple, mudah buat sing-a-long. Langsung bangun dan mainkan gitar yang ada di sebelah tempat tidur. Corat-coret, rekam di HP, dalam 1,5 jam lagu “Ini hari yang baru” langsung jadi, lagu dan syairnya.

< 5/31, 09:47 >

Kemarin mungkin suram, banyak hal yang kita sesali
Iri, dengki dan benci, entah mengapa terjadi begitu saja.
Bisakah kita tinggalkan semua, yang lalu, walau mungkin masih ada luka
Dan janganlah biarkan itu, ganggu langkah kita, O o o o...
Karena di pagi ini, fajar yang datang ceria berwarna-warni
Seakan janji Yang Kuasa, keindahan kan datang didepan kita.

Reff:
Ini hari yang baru, harapan baru, Ooh, Ooh
(Untuk kau dan aku)
Ayun langkah hidupmu, dalam semangat baru Ooh, Ooh.
(Sambut masa depanmu)

Tak lagi resah bersengketa, ucap kan kata, nyanyikan madah cinta
Nada kata berpadu, dalam harmoni
Jadi simfoni semesta
Karena di pagi ini, fajar yang datang ceria berwarna-warni
Seakan janji Yang Kuasa, keindahan kan datang didepan kita.

Reff:
Ini hari yang baru, harapan baru, Ooh, Ooh
(Untuk kau dan aku)
Ayun langkah hidupmu, dalam semangat baru Ooh, Ooh.
(Sambut masa depannu)

Ini hari yang baru, harapan baru, Ooh, Ooh
(Untuk kau dan aku)
Bersama kita maju, sambut tanganku, Ooh, Ooh
(Ini hari yang baru)

Bridge2:
Dengan tekad, cinta dan doa tulus
Bila teguh bersatu
Kita pasti jaya
Indonesia pasti Jaya!!!

Reff:
Ini hari yang baru, harapan baru, Ooh, Ooh
dst...

< 5/31, 10:57 >

Lanjutan dongeng:

Senen dinihari lagu jadi, paginya langsung ketemu Erwin Badudu di studionya untuk brief pembuatan musik. Dimulai dengan musik dasar. Langsung aku mainin gitar, dan lanjut isian drum dan keyb oleh Erwin. Malamnya musik dasar sudah keliatan bentuknya. Namun malam itu aku sambil minta maaf masih kasih bbrp tambahan dan koreksi. Hmmm☺.

Selasa, jadwal pengisian vocal akan dimulai tengah hari. Namun teteup paginya masih ada perubahan tempo lagu dari aku. Rubah tempo loh!! Hahhahaha.... Maaf mas Erwiiin...

Musik dasarpun siap siang itu dan pengisian vocal dimulai.

Tak kurang dari 20 orang digilir mengisi vocal. Mulai dari Candil, Ferina, LTD, The Last Eighties, Paul, Henry dan geng Non Skill ikut mengisi main vocal. Sementara geng Deadliners keroyokan mengisi choir nya. 👍👍👍👍.

Hari Rabu bbrp vocalist masih ngantri ngisi vocal. Lalu sorenya sentuhan akhir yang ditunggu2 pun bisa dilakukan: pengisian gitar oleh Iyoes. Langsung beda! Gitar yang tadinya diisi oleh saya, sekedar “guide”, kini semua track diganti oleh Iyoes.

Hasilnya, Shimmering!!! Nyawanya lengkap deh itu lagu.

Sekedar info, lagu yang diciptakan oleh gitaris biasanya kentara. Pilihan chordnya “ketauan” dari chord gitar. Dan biasanya, lagu ciptaan gitaris “nyawanya” ada di isian2 gitarnya. Makanya pengisian gitar, rythm dan lead itu bagaikan hembusan nyawa yang penting.

Rabu malam mas Erwin kirim hasil mixing sementara, untuk kepentingan shooting Kamis. Komentarnya: Ton, ini keren bangeeet!!!

Demikianlah pesan dari Bang Toni Sianipar ke grup.

Terus-terang, saya takjub pada kerjaan kali ini. Bukan karena saya terlibat lalu memuji. Wong peran saya kecik kalipun ... 😊

Yang bikin takjub adalah keterlibatan semua pihak, terkhusus para performer vokal dan musik, yang menurut saya sangat pas mengisi semua ruang. Seperti puzzle yang tepat di tempatnya.

Begitu juga animo kawan-kawan yang berpartisipasi memeriahkan rekaman. Antusiasme yang tak terduga dan sungguh membuat riang hati.

Konon, kebetulan atau keajaiban itu hanya datang 1x. Ternyata kita mengalami berkali-kali dalam minggu ini. Sungguh Tuhan sayang sama kita ... 🙏

10 hari terakhir bulan ramadhan ini benar-benar menjadi berkat. Dari Ganesha untuk Indonesia..

Seniman menyadarkan bahwa ada sesuatu di sini saat ini.

Membuka ruang bagi interpretasi, dialektika, dan dialog untuk menentukan takdir sendiri.

📌 Selasa, 4 Juni 2019 16:33 🌐

📌 Kamis, 30 Mei 2019 🌐

Saat Kegilaan Berjalin

Saat Kegilaan Berjalin

— Kilas Balik "Dari Ganesha untuk Indonesia" #1

Entah apa pasal, tanggal 24 Mei sore, tiba-tiba di WhatsApp Group (WAG) Musicology'83 muncul undangan untuk berpartisipasi dalam pembuatan video klip lagu yang bertema Indonesia. Tak jelas siapa penggagas acara ini. Tapi sudah terbayang bahwa ini pasti kerjaan oknum Komunitas Musik ITB alias KMI.

Menautkan kembali memori sekian perbincangan sambil lalu bersama beberapa kawan KMI, serta mengkorelasikan dengan barbuk (barang bukti) berupa foto bertemunya beberapa warga KMI di Citos pada malam sebelumnya, analisis konspiratif saya langsung memerintahkan untuk mencari konfirmasi kepada salah satu orang yang ada dalam foto barbuk tersebut. Bang Toni Sianipar.

"Ini projek yang dibahas semalam dengan Tito, Noor, Batara, dan Chika ya?" tembak saya langsung.

"Yes!!", jawab Bang Toni lugas.

Hehehe ... Karena selama ini kalau japrian dengan Bang Toni biasanya bahasan kami 83% serius dan to the point, maka jawaban Bang Toni pun tanpa tedeng aling-aling. Malah tanpa ba-bi-bu saya langsung diundang masuk ke grup kerja. Jadilah saya mulai ikut bersibuk-ria bersama mereka.

25 Mei sore kami bersua di tempat kami biasa kongkow, Soma Coffee di kawasan Akuatik GBK. Hadir Bang Toni, Bang Tito, Mas Noor, Mbak Chika, Mbak Audist, Bang Teddy. Bang Batara menyusul agak malaman dengan membawa upeti duren Ucok Medan.

Berhubung saya gabung belakangan, maka saya lebih banyak menyimak diskusi tinimbang nimbrung. Pokoknya saya siap mendapat penugasan. Diskusi berlangsung intens dan efektif. Pembagian kerja dilangsungkan tanpa banyak cerita dan komplain.

Sempat saya berpikir, ini orang-orang pada gila, kali ya. Sudah bikin woro-woro ngajak banyak alumni untuk ikutan rekaman video, padahal lagunya saja belum jadi. Terus, saya diminta bikin narasi tentang acara ini. Beneran edan, kan?

Pulang dari pertemuan, saya tidak bisa tidur sampai subuh. Gak dapat ilham bagaimana menjustifikasi dengan mulus kaitan ITB dan Indonesia dengan musik. Benang merahnya sih bisa saja dikarang. Pandai-pandai Bang alof sajalah, kata mereka. Buntu pikiran! Sementara saya sudah sekian tahun berhenti menulis utuh (sebagai dampak buruk media ngobrol WhatsApp yang biasanya hanya berbentuk komentar singkat).

Sementara saya dilanda kebingungan bagai ayam kena sakit tetelo, kawan-kawan sudah bergerak cepat ala blitzkrieg pasukan Jerman. Bang Tito dan Mas Noor langsung menampilkan pesona diri mereka pada kawan-kawan Persatuan Golf Ganesha (PGG) untuk mendapatkan dukungan dana. Mbak Audist dan Mbak Chika menghubungi sana-sini dalam rangka menyiapkan fasilitas shooting termasuk juga mencari dana. Bang Batara pun tak kalah gesit mendorong kawan-kawan ITB 86 Master untuk meringankan beban. Woro-woro melalui WAG Komunitas Musik ITB (KMI) maupun WAG band masing-masing pun jalan, baik untuk dukungan dana maupun peserta rekaman.

Benarlah dugaan saya. Mereka ini memang orang gila sehingga dalam tempo 1 malam saja sudah terkumpul dana yang memadai untuk melangsungkan perhelatan ini.

Dan untuk kesekian kalinya, saya yang bukan golfer harus angkat topi berikut keempat jempol pada kawan-kawan PGG yang tanpa banyak cingcong langsung membuka kocek sehingga dana yang mereka kontribusikan bahkan melampaui 2x prediksi Bang Tito. Bang Tito dan Mas Noor selalu bilang bahwa PGG ini adalah kelompok orang urakan ugal-ugalan tapi punya rasa solidaritas tinggi, apalagi kalau bicara soal almamater dan kemanusiaan.

Sekelompok orang gila ketemu kelompok gila lain, jadilah sebuah kegilaan besar. Dan, konon, dunia ini berubah karena ada sebagian orang yang berani gila mengambil jalan yang berbeda.

Hail, PGG! We salute you!

Bai bai en gutnait, mayfrens.

Maunya sih nulis lebih panjang dan seru. Tapi saya harus istirahat dulu, karena pagi-pagi nanti harus menggotong projektor dan layarnya ke tempat shooting di Telkom Landmark Tower agar sekitar 200-an peserta rekaman lancar melafalkan teks lagu yang baru selesai kemarin. Kapan-kapan saya sambung lagi deh kalau mood.

#KMI #PGG

📌 Kamis, 30 Mei 2019 02:27 🌐

📌 Senin, 27 Mei 2019 🌐

Dari Ganesha untuk Indonesia

Dari Ganesha untuk Indonesia

Tahun depan, 2020, ITB tepat berusia 100 tahun. Seperempat abad kemudian, Indonesia mencapai usia yang sama setelah kemerdekaan 17 Agustus 1945. Sebuah rentang waktu yang masih pendek untuk menakar peradaban, namun cukup layak untuk mengukur langkah kemajuan.

Sebagai sebuah institusi dan komunitas, ITB adalah miniatur Indonesia yang kaya dengan keanekaragaman latar belakang, disiplin ilmu, pemikiran, upaya, maupun pencapaian. Peran ITB bagi Indonesia pun kian penting tatkala sains dan teknologi merupakan ujung tombak kemajuan dunia masa kini.

Namun pertanyaan yang jauh lebih penting bukanlah apa yang sudah diraih dan diberikan oleh ITB bagi Indonesia selama ini, melainkan kontribusi nyata dalam menyongsong 100 tahun kemerdekaan Indonesia, bahkan setelahnya.

Begitu pula mengenai keragaman, yang di satu sisi merupakan potensi luarbiasa yang akan menghasilkan karya besar apabila bersinergi. Namun, di sisi lain, juga memiliki daya gerus yang tak kalah dahsyatnya. Perjalanan bangsa dan negara kita tak luput dari tarik-menarik kedua kutub kemungkinan ini. Sungguh kita patut bersyukur Indonesia mampu bertahan, yang tak lepas dari terjaganya solidaritas dan kesetiaan pada negara anugerah Tuhan ini. Walau dalam beberapa hal perbedaan itu tampak mengkristal, namun pada dasarnya tetap tersedia ruang dialog bagi keselarasan hidup bersama.

Pada masa dialog terasa buntu akibat pudarnya makna kata, kebudayaan mengambil posisi sebagai media yang paling tepat untuk mengembalikan rasa paling fundamental bagi semua manusia, yakni memiliki tempat yang nyaman di antara keramaian. Tidak teralienasi. Salah satunya adalah melalui musik. "When words fail, music speaks", demikian kata pencerita besar Hans Christian Andersen. Dalam musik, setiap orang mendapat tempat, walau hanya sebagai penikmat atau sekadar bersenandung, bersorak, dan bertepuk-tangan.

Sebagai tanggapan kesadaran menuju 100 tahun ITB serta tantangan tahun emas Indonesia, Komunitas Musik ITB (KMI) terpanggil untuk menguak celah perjumpaan segenap civitas academica ITB dalam memberi kesempatan pada KATA agar bisa kembali menjadi KITA.

Untuk itu, KMI akan menyelenggarakan sebuah perhelatan rekaman lagu dan video klip dengan tajuk Dari Ganesha untuk Indonesia: ”Bila Bersatu, Kita ‘kan Jaya”

Sangat diharapkan peran-serta teman-teman KMI serta civitas academica ITB untuk menyanyi dan tampil bersama dalam video klip ini, yang membutuhkan hingga 200 orang penampil.

Proses rekaman vokal akan dimulai awal minggu ini, sementara shooting video akan diadakan pada:

Hari Kamis, 30 Mei 2019(hari libur)
di Auditorium Telkom Landmark Tower (TLT) Jl. Jendral Gatot Subroto,
sejak pukul 11 WIB.

Mari berpartisipasi menyukseskan kegiatan ini. Yang tentunya tidak akan berhenti sampai pembuatan video klip saja. Masih banyak peluang kegiatan lain yang layak kita dukung dalam rangka menyongsong 100 tahun ITB menuju 100 tahun Indonesia.

Ini gawean kita bersama, mewujudkan karya kita bersama. Yuuk kita gotong-royong membantu keberhasilan gagasan ini 🙏

Kontribusi dapat disalurkan melalui rekening:

  • Bank Mandiri
    ac. xxxxxxxxxxxxx
  • BCA
    ac. xxxxxxxxxx
    a/n. xxxxxx xxxxxxxxxx x

Terima kasih atas partisipasinya.

In harmonia progressio.
Demi Tuhan, bangsa, dan almamater.

Salam musik, salam Ganesha.
Komunitas Musik ITB.

📌 Senin, 27 Mei 2019 13:41 🌐