catatan-catatan kecil di sini tidak lebih dari percik pemikiran yang sempat tertuang ke dalam bentuk tulisan. kalaupun isinya tidak tertata baik ataupun tidak berkenan pada anda, demikianlah adanya kenyataan diri saya pada saat itu. setidak-tidaknya, ini semua adalah sebagian ungkapan kejujuran yang saya ingin berbagi dengan anda.
Sekitar jam 16, pesawat yang membawa kami dari Jakarta pun mendarat di
bandar udara Abdurahman Saleh, Malang, milik TNI Angkatan Udara. Setelah
turun dari pesawat dan berjalan menuju gerbang keluar, saya melihat Tidy
beserta Jhoni, suaminya, sudah menanti di pinggir landasan dibatasi oleh
pagar kawat. Quinn yang baru berusia 6 bulan pun turut menjemput kami
walau dia baru bisa merapat di pelukan ibunya. Ah, anak itu cepat sekali
tumbuh. Sudah barang tentu jauh lebih besar dibanding keadaannya 6 bulan
yang lalu ketika kami pertamakali menyambut kehadirannya di dunia ini 😞.
Tanpa harus dikomando ataupun diskenariokan, kami semua langsung
menampakkan semangat untuk "berkenalan" dengan Quinn yang ternyata amat
murah senyum dengan sepasang lesung pipinya. Apalagi dia tidak terlalu
takut pada orang baru, sehingga kami bisa puas mempertontonkan wajah kami
yang menjadi jelek karena dimonyong-monyongkan.
Ternyata, anak itu berkulit putih. Semula saya menyangka Quinn berkulit
gelap mewarisi gen ayahnya (bukan gelap dalam pengertian hitam, tetapi
tidak putih) gara-gara foto Quinn kelihatan gelap. Saat menerima foto yang
dikirim Tidy beberapa bulan lalu melalui telepon seluler itu spontan saya
berkomentar, "Seperti anak Ambon". Terlebih-lebih karena dalam foto itu
rambut Quinn sangat tebal dan agak ikal.
Tidak saya duga bahwa komentar pendek semacam itu ternyata agak memukul
perasaan Tidy sehingga dia "mengadu" pada Lisna (adik bungsu saya yang
tinggal di Bogor yang kebetulan melahirkan Patrick sehari lebih awal dari
Quinn). Padahal saya sama sekali tidak bermaksud mengatakan anaknya jelek.
Sama sekali tidak ada hubungan antara Ambon dengan jelek. Lagipula, siapa
yang bilang anak Ambon jelek? Sebaliknya, malah banyak anak Ambon nan
manise. I can prove it 😞.
Kasih anak sepanjang galah, kasih ibu sepanjang jalan. Demikian
bunyi peribahasa yang dulu saya kenal di masa kanak-kanak. Seorang ibu
tidak akan putus mengasihi anak-anaknya, tidak peduli bagaimanapun
jeleknya ataupun jahatnya sang anak, bahkan meski sang anak telah sangat
menyakiti hati dan tidak mengasihi ibunya lagi. Mungkin hanya di legenda
Malin Kundang saja seorang ibu tega mengutuk anaknya.
Dari situ saya belajar untuk tidak berkomentar spontan tanpa pikir
panjang (meskipun hal ini sangat sulit buat saya 😞). Apalagi tentang
seorang anak kecil. Bisa-bisa kena terjang, bagai diserang induk ayam
yang selalu siap bertarung demi menjaga anak-anaknya.
Setelah sekian tahun, saya baru sadar bahwa tulisan ini belum selesai.
Malah lupa mau menulis apa lagi ... 😵
Adik saya, Michael, menelpon sekitar jam 21 bahwa dia sedang menuju rumah
tempat tinggal saya. Katanya, supaya sopirnya yang esok hari akan
menjemput dan mengantar saya ke bandara tahu jalan. Saya, Mami,
Yosephine (kakak saya), dan Clarissa (anak bungsu Kak Yose) akan ke Malang
esok hari guna menghadiri pembaptisan Quinn (anak Tidy, adik saya) pada
hari Minggu yang akan datang.
Semula saya pikir Michael datang dari rumahnya di Cibubur sehingga saya
memberikan ancar-ancar lokasi berdasarkan perkiraan tersebut dengan
menggunakan kampus UKI di Cawang dan Jalan Casablanca sebagai patokan.
Ternyata dia datang dari bandara langsung setelah mendarat dari perjalanan
dinasnya. Akibatnya, dia dan sopirnya pun salah mengambil belokan di
Casablanca dan terpaksa berputar-putar sejenak di kawasan
by-pass Jatinegara. Walau sudah dipandu melalui telepon seluler,
tetap saja diperlukan waktu hampir 2 jam untuk tiba di tempat tinggal saya
sejak saat pertamakali Michael menelpon saya.
Asumsi dan penyimpulan adalah 2 hal yang perlu dilakukan secara cermat.
Kelengkapan dan ketepatan informasi merupakan modal yang sangat penting
dalam menghubungkan kedua titik tersebut. Melalaikan peran dan porsi
masing-masing akan menyebabkan pemborosan bahkan kegagalan.
Di sisi lain, kemauan untuk melakukan uji coba merupakan langkah yang
sangat diperlukan tatkala sesuatu diperkirakan memiliki risiko. Daripada
tersesat keesokan harinya, yang dapat mengakibatkan kerugian lebih besar
akibat terlambat tiba di bandara, lebih baik menyediakan upaya ekstra
untuk menjamin tingkat keberhasilan pada saat pelaksanaan.
Latihan adalah kata lainnya. Practice makes perfect, kata orang
Inggris. Atau dalam peribahasa kita, alah bisa karena biasa.
Sabtu, 6 Desember 2008
Saya sudah bersiap-siap sejak pukul 8 pagi. Menurut rencana, sopir adik
saya berangkat dari Cibubur sekitar jam 8.30 dengan membawa Mami, Kak
Yose, dan Clarissa yang sudah tiba di rumah Michael sejak kemarin sore.
Berdasarkan perkiraan dari pengalaman sehari-hari, perjalanan dari Cibubur
ke tempat saya memakan waktu sekitar 1 jam sampai 1,5 jam. Sedangkan ke
bandara, biasanya dicadangkan waktu 2 jam.
Ternyata, jalanan amat lengang (tentu ada hubungannya dengan libur Idul
Adha yang jatuh pada hari Senin). Jarum jam belum menunjukkan pukul 9
ketika mereka tiba. Terlalu dini untuk berangkat ke bandara sebab pesawat
baru akan berangkat pukul 13.30. Maka, waktu sekitar 1 jam pun
dimanfaatkan untuk ngobrol-ngobrol di rumah bersama dengan Riris, Roberto
(adik bungsu Riris), dan ibunda Riris (artinya, ya mertua saya 😞 ).
Kadang-kadang kemudahan dan kelancaran yang kita terima malah melahirkan
kebingungan. Kita tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika sesuatu
berlebih. Orang lebih bersiap menghadapi kekurangan tinimbang kelebihan.
Kelebihan waktu bisa membuat kesal karena sama artinya dengan menunggu,
sedangkan waktu tersebut tidak bisa kita sedekahkan atau tukar dengan
barang lain. Membunuh waktu kerapkali menuntut kreativitas yang tidak
sederhana, apalagi jika dilakukan bersama-sama dengan orang lain yang
berbeda minat. Beruntung manusia memiliki kemampuan untuk
berbincang-bincang dengan sesamanya.
Kebetulan, sehari sebelumnya, Clarissa tepat berusia 4 tahun. Riris
yang memang jauh lebih perhatian pada keponakan-keponakan saya
dibanding saya sendiri menghadiahi Clarissa baju hangat dan baju
terusan. Sebagaimana lazimnya perilaku anak kecil terhadap barang baru,
baju hangat itu pun langsung dipakainya.
Meskipun kakak Clarissa tidak berulangtahun (dan saat itu pun tidak ikut
karena sedang mengikuti ulangan umum kelas 4 SD), dia pun mendapat
hadiah. Ulangtahun seorang anak ternyata bukan hanya sekali dalam
setahun. Dia pun wajib mendapat hadiah jika saudaranya mendapat hadiah.
Bagi anak seusia itu, keistimewaan ulangtahun belum merupakan suatu hal
yang bisa dimengerti.
Keadilan adalah sebuah konsep yang penerapannya sangat kontekstual,
tidak bisa digebyah-uyah (jeneralisasi). Pengertian/pemahaman mengenai
keadilan adalah hal pokok yang perlu dimiliki oleh semua pihak yang
terlibat.
Perbedaan pengertian/pemahaman mengenai keadilan maupun
pengejawantahannya merupakan sebuah keniscayaan yang sangat manusiawi.
Dalam hal ini, toleransi merupakan jawabannya. Namun, banyak yang lupa
bahwa toleransi merupakan kewajiban pihak yang lebih kuat (kuasa,
jumlah), bukan kewajiban pihak yang lebih lemah. Toleransi bukanlah
sebuah belaskasihan, melainkan kelapangan hati manusia yang memiliki
kedewasaan dan kearifan.
Hal lain yang membuat kami "harus" melakukan hal itu adalah karena rasa
setiakawan kedua kakak-beradik keponakan saya. Jika yang satu diberi
sesuatu, maka dia akan bertanya apakah saudaranya juga akan
memperolehnya. Hampir selalu mereka akan menolak pemberian tersebut jika
tahu bahwa saudaranya tidak mendapatkan. Entah dari mana mereka
mempelajari dan menghayati solidaritas sekental itu.
Wajarkah jika seseorang atau sekelompok orang berkorban menolak
"rejeki" ketika dia/mereka tahu bahwa sesamanya tidak mendapatkan
bagian?
Memikirkan kepentingan dan kesejahteraan pihak lain bukanlah sebuah
karakter yang mudah dibentuk. Apalagi jika terdapat perbedaan
kepentingan yang bisa berujung pada perselisihan. Bukannya jarang,
kebutuhan (ataukah keinginan?) menyebabkan seseorang tidak peduli pada
orang lain, meski orang lain itu jauh lebih membutuhkan. Bahkan, tidak
mustahil pula seseorang tega merebut milik orang lain. Jika perlu,
secara paksa.
Ah, betapa benar ucapan seorang bijak yang mengatakan bahwa
kanak-kanak adalah yang empunya Kerajaan Allah. Mereka jauh lebih
toleran dan solider dibanding kebanyakan orang dewasa, tanpa harus
berkoar-koar tentang keadilan.
Sebenarnya siang hari ini ada acara kopdar (kopi darat) para anggota
milis (mailing list)
hkbp
di Yakoma PGI. Ingin rasanya saya bergabung dengan rekan-rekan milis,
apalagi kopdar kali ini dihadiri oleh Padre Joas Adiprasetya yang baru
saja menuntaskan proses belajarnya dan meraih gelar Doktor Teologi dari
Boston University. Namun saya tidak bisa mengarang alasan untuk tidak
berangkat hari ini ke Malang. Pembaptisan keponakan saya esok hari lebih
membutuhkan kehadiran saya selaku Tulangnya (dan juga kepala keluarga
setelah kematian Bapak) tinimbang kopdar milis yang bertaburan banyak
bintang. Saya pikir saya lebih diharapkan berada di Malang daripada di
Cempaka Putih.
Rupanya memilih antara 2 pilihan yang enak sama tidak menyenangkannya
dengan memilih antara 2 pilihan yang tidak enak. Tetapi pilihan harus
dibuat. Keuntungan (kenikmatan, kegembiraan) kadangkala harus
dilupakan tatkala tanggung jawab masuk dalam variabel pertimbangan.
Di bandara, saya sempatkan membuka email dari milis hkbp. Ada kabar
bahwa beberapa rekan lain ternyata tidak bisa hadir sesuai rencana.
Efron "Mbah Dukun Sesat" Dwi Poyo yang sejak semula ngotot agar acara
kopdar tersebut tetap dilangsungkan pada tanggal 6 Desember ternyata
harus berangkat ke Tabang (entah di mana pula lokasinya di Kalimantan
Timur). Begitu pula Erwinthon "The Architect" Napitupulu, sang pemilik
milis, batal datang dari rancanya di Lembang karena mobilnya bermasalah.
Juga Muna "The Blade" Panggabean yang sejak beberapa hari sebelumnya
sudah woro-woro tidak bisa hadir demi mengurus rencana pembuatan
film yang didasarkan pada 4 cerita pendek hasil lomba di milis hkbp dan
cyber-gki.
Dasar sirik, diam-diam saya berharap Padre Joas dan Padre Calvin van
Pamulang juga berhalangan hadir. Ternyata, dari kabar yang saya baca
kemudian, mereka berdua malah datang bersama-sama. Sebaliknya, malah
Padre Daniel Taruli Asi Harahap yang tidak muncul tanpa kabar berita.
Wah, kopdar milis hkbp malah dihadiri oleh 2 pendeta GKI tanpa seorang
pun pendeta HKBP 😞.
Saya jadi teringat pada gugatan MDS tentang bersyukur yang
tidak jarang merupakan manipulasi dan kamuflase seseorang yang
bergembira [dan memuji Tuhan] tatkala kemalangan tidak menimpa dirinya
melainkan orang lain. Atau kemalangan yang dialaminya tidak seberat
orang lain. Syukur menjadi sebuah perbandingan perolehan.
Ternyata moral saya masih payah, sebab tidak rela orang bergembira,
malah berharap mereka tidak beruntung 😞.
Semula saya berencana menelpon seseorang yang hadir di Yakoma PGI
sekitar jam 13 untuk menyampaikan salam bagi semua rekan yang hadir.
Gara-gara asik membuka Facebook (yang entah mengapa, tampaknya banyak
orang yang sedang dilanda kemurungan), lupalah saya pada niat tersebut.
Ah, walau terlambat, kiranya masih bolehlah jika saat ini saya sampaikan
secara nonfisikal, "selamat bergembira, wahai kawan-kawan".
Jam 14. Pesawat yang akan membawa kami ke Malang sudah siap di landasan.
Kami pun bergegas masuk pesawat, lalu tinggal landas menyeruak langit
Jakarta menuju Malang.