📌 Minggu, 31 Mei 2026 🌐

Perempuan di Titik Nol

"Tak bisakah Abang tidak mengritik yang saya lakukan?" tanyanya dengan nada cukup ketus.

Sangat tak kusangka mendapat respon sekeras itu. Padahal tak sedikit pun niatan menyalahkan keputusan yang dia ambil. Kalaupun pandangan saya berbeda dengan jalan pikirannya, tak lebih dari upaya mengajak lebih realistis atas situasi yang berlangsung.

Kondisinya saat ini kadang membuatku khawatir. Baru saja bercerai tanpa kepastian jalan hidup karena tak ada kesepakatan gono-gini, konon pula jaminan untuk hari-hari mendatang. Sementara sekian tahun terakhir nyaris tak punya sumber penghasilan pribadi yang pasti. Di satu sisi, dia ibarat seekor burung yang ingin pulang saat senja namun sarangnya telah musnah bersama terbakarnya hutan. Di sisi lain, ada eforia seorang pejuang yang berhasil mematahkan belenggu tua.

Segalanya harus mulai dari nol, yang diakuinya sebagai ketakutan tersendiri mengingat ketertinggalan yang amat sangat.

"Bisakah saya mengejar mereka yang sudah belasan tahun lebih dulu?" berulang kali dia menyampaikan keraguan sekaligus kepedihan mengingat di masa lalu justru dia yang biasanya terdepan dalam berbagai hal dari antara kawan-kawannya.

"Kamu pernah cerita bikin acara besar dan heboh yang idenya mendadak muncul. Kamu hanya punya waktu beberapa hari. Tapi dengan kemampuan kamu meyakinkan orang-orang yang potensial dan ketekunan yang membuktikan komitmen, terbukti kamu berhasil," sahut saya mengingatkan dengan contoh yang berbeda dari sudah saya pakai sebelumnya supaya dia tidak membantah dengan alasan yang sama 😜

"Itu kan dulu waktu masih mahasiswa, gak ada beban kalaupun gagal. Sekarang adalah soal kehidupan yang entah tersisa berapa lama lagi, yang saya tidak mau membingkainya dengan kegagalan kesekian kali." Ternyata dia masih punya amunisi perlawanan.

"Kamu belum kehilangan sentuhan ajaib kamu," putus saya.

"Ah, Abang sok tahu ..."

Aku hanya bisa meringis agak kecut mencoba menepis keraguanku sendiri.

"Belasan tahun kamu mampu bertahan dalam kenyataan yang amat berbeda dari mimpi kamu."

"Maksudnya?"

"Kamu masih bisa meyakinkan diri kamu sendiri masih ada harapan walau tanpa kepastian hadirnya berkas cahaya di ujung terowongan gelap. Kamu berhasil menjaga api jiwa kamu tetap bernyala."

"Mungkin karena saya bodoh dan hanya berilusi," keluhnya.

"Itu adalah masa yang tak semua orang mampu melaluinya dengan istimewa."

Sekian lama dia tak punya penjelasan mengapa harus menekan harga diri hingga ke titik nadir. Entah demi apa. Seperti tersihir. Tak pernah mencoba mencari alasan meninggalkan jalan yang sudah dipilih, yang kemudian dia sadari tak membanggakan apalagi membahagiakan.

"Abang membuat saya berani menghabisi ilusi itu meski tak ada kepastian apapun setelah keputusan itu. Malah saya gak punya apa-apa."

Semua memang berlangsung cepat bahkan termasuk mendadak. Dalam sekejap melahirkan tekad tak goyah hanya beberapa bulan sejak kami saling kenal. Padahal selama ini saya tak lebih dari mengulangi ceritanya sendiri tentang masa muda yang penuh warna dengan menggarisbawahi potensinya yang masih relevan untuk masa kini tatkala usia tak lagi muda.

"Keberanian ini yang dulu membuat kamu menorehkan hasil dan kenangan. Dan saya percaya keberanian ini masih kamu punya untuk membuat kisah baru."

"Mungkin keberanian konyol," gumamnya datar.

Saya hanya mengangkat sebelah alis, enggan menyimpulkan apa-apa.

"Menurut Abang saya bisa melalui semua ini?" keraguannya membuncah lagi namun sekaligus seperti mencoba meraih pegangan yang lebih kokoh.

"Hanya jika kamu komit pada semua janji kamu."

"Kalau Abang percaya, cobalah untuk tidak mengritik apa yang saya lakukan," tembaknya ulang.

"Saya hanya berpikir yang terbaik untuk kamu."

"Tapi saya yang menjalaninya, bukan Abang."

"Saya khawatir."

"Soal apa?"

"Kamu sendirian."

"Saya tahu. Tapi biarkan saya menikmati hari-hari berdasarkan keputusan saya, baik senang maupun susah, setelah sekian lama bahkan tak punya hak atas kata-kata saya sendiri."

Aku terdiam. Tanpa sengaja, pertemanan kami justru sedang memberinya kesempatan membangun kepercayaan diri berpendapat setelah sekian tahun hanya boleh menempatkan diri sebagai pihak yang selalu salah dalam setiap persoalan yang terjadi. Dia sedang membiasakan diri membangun argumen dan rasionalitasnya sendiri dengan saya sebagai mitra latih. Maka saya pun tersenyum.

Saya hanya bisa berharap apapun yang terjadi nanti adalah konsekuensi terukur yang memandunya ke kedewasaan menggantikan tahun-tahun gelap yang mengikis kemandiriannya. Tanpa sadar kugumamkan pinta kiranya kesejatian diri yang pernah hadir di masa mudanya segera terbangkitkan kembali untuk sigap mengenali tanda-tanda hari sehingga kesalahan sekalipun tak akan mudah menyurukkan ke sudut fatal.

"Berjanjilah," pintaku dengan pelan.

"Janji apa?"

"Ketika keraguan bahkan penyesalan mulai mengusik, ingatlah bahwa saya selalu bersamamu meski pada saat kita tak bersama."

Matanya memandangku. Lembut. Perlahan mulai berlapis air bening.

"Bermurahhatilah sejenak pada saya, Bang," bisiknya.

Dan saya pun maklum bahwa janji itu tak perlu diucapkan.

📌 Minggu, 31 Mei 2026 18:45 🌐

Tidak ada komentar:

Posting Komentar