Menerka Ketidakhadiranmu
Holding Flowers
www.pinterest.com
Kami duduk bersisian menghadap ke jalan lengang di depan tanpa saling pandang. Satu dua orang lewat dengan jeda waktu lumayan panjang. Cukup lama keheningan meraja di antara kami hingga akhirnya mulutku meluncurkan suara pelan nyaris seperti keluhan yang sangat hati-hati.
"Apa yang membuat kamu berubah?"
Dia diam.
Aku menyambung, "Tanpa penjelasan, kamu abaikan semua pesan saya di WhatsApp. Seperti ada yang kamu hindari. Berhari, minggu, hingga bulan."
Masih diam. Sekarang wajahnya sedikit menunduk menatap ujung sepatunya.
"Saya melakukan kesalahan? Kan kamu bisa tegur langsung seperti yang sudah-sudah. Dan kamu tahu, tak sekali pun saya pernah keberatan atas protes bahkan amarahmu."
Tetap diam.
Kunyalakan sebatang rokok kretek dan membiarkan terbakar hingga setengah di antara jari tengah dan telunjuk sambil menunggu.
Bergeming. Tak jua ada reaksi.
Rerumputan tempat kami duduk di terasa kian dingin. Senja pun seperti enggan mengalirkan angin. Agak menyesakkan.
Keheningan ini sangat menyebalkan.
"Berkali-kali kita bersama menjajal berbagai kuliner sepanjang siang lalu menghabiskan sore dengan kopi serta perbincangan yang kadang tak berbobot namun kerap juga menuntut perenungan mendalam hingga kita berdebat. Kemudian kita berpisah kala matahari diredam kelam, saat saya antar kamu ke mobil atau halte kereta atau suamimu menjemput."
Tak sabar, aku lanjutkan.
"Kamu tentu masih ingat, pernah kita habiskan hari sejak pagi sekali di vilamu dan genapi sore penuh gembira berpelesir di Selatan kota. Hari terbaik kita, menurut saya."
Wajahnya kian menekur dengan pandang lurus menatap ujung sepatu putihnya.
"Saya tidak pernah memperlakukan kamu tak senonoh. Menyentuhmu pun sebatas kewajaran antarsahabat. Paling banter merangkul dan cipika-cipiki," sambungku dengan canda mencoba menyibak kekakuan.
Ujung bibirnya sedikit tertarik antara senyum dan perih.
"Bicaralah," kataku memohon agar dia tak membatalkan niatnya.
Lalu mulutnya mendesirkan kata-kata singkat dengan sangat pelan yang membuatku tersedak.
"Abang tak pernah menciumku."
Seketika aku merasa lumpuh.
📌 Minggu, 12 April 2026 23:03 🌐 Melak
Tidak ada komentar:
Posting Komentar