📌 Minggu, 14 Desember 2025 🌐

Bernyanyi dalam Gelap

Bernyanyi dalam Gelap

— Nada Getir di Terowongan Panjang

Amat beragam ekspresi peduli tanah air. Dari yang teguh menunaikan kuasa jabatan, menampik tabiat korupsi, hingga yang dayanya mengkristal jadi kritik. Kritik itu sendiri bisa mewujud dalam demonstrasi keras, petisi elegan, literasi pencerahan, lantun lagu, sampai yang hanya mampu larut dalam hening merapal doa.

Spektrum kritik melalui harmoni nada dan lirik lagu pun ternyata terbentang lebar. Ada yang garang lantang siap menerjang, syahdu merindu terang di ujung terowongan, hingga lontar celoteh jenaka yang menghunjam kepekaan.

Dengan cara itulah alumni ITB melambungkan getir batinnya atas fenomena yang melanda Indonesia. Letup keresahan dan kegeraman membuncah lugas dalam LAGU PERANG yang merangkul semua orang agar menolak takluk pada kebobrokan. Kalaupun perjuangan ternyata harus patah, sejatinya jiwa-jiwa merdeka tak pernah kalah. Selalu tersimpan benih belarasa dalam merawat mimpi dan daya juang sesama anak negeri meski harus rela BERNYANYI DI DALAM GELAP.

Di kegelapan, rasa pedih kian menyayat kala menyaksikan betapa PERCUMA kekayaan alam maupun perjuangan para pendahulu akibat adab rakyat yang terbodohkan maupun pemimpin yang tak acuh. Terlebih saat para pengkhianat demikian tamak melampiaskan syahwat diri dengan sikap EGP (EMANG GUE PIKIRIN). Mereka adalah DRAKULA tanpa nurani yang tega menghisap jiwa rakyat hingga kerontang.

Beruntung selalu ada sosok yang tak henti menyapa HALO sebagai tanda bahwa kehidupan masih berdenyut walau rasa letih dan putus asa demikian keras mendera. Kesadaran hakiki layak dirawat melalui dentam ritmis MELODI SKJ (STANDAR KEWARASAN JIWA) yang menampik bodoh.

Kita patut setia MENJAGA NEGERI dari tangan-tangan kotor yang tak sungkan memperkosa Ibu Pertiwi. RAKYAT JELANTAH sekalipun harus punya harga diri selaku ahli waris negeri. Hanya dengan demikian kita bisa bangga berbisik, "AKU PADAMU, wahai Tanah Air tercinta."

Ekspresi resah, geram, asa, semangat, dan kesetiakawanan alumni ITB terjalin kental dalam album kesadaran bertajuk BERNYANYI DALAM GELAP. Kami paham bahwa menjalani kegelapan bukanlah pilihan, melainkan penindasan atas ketakberdayaan maupun kebodohan. Sedangkan kegelapan amatlah berbahaya karena berpeluang melesakkan sikap pasrah bersekutu dengan penjarah. Di titik itu, kami sepakat bernyanyi sebagai isyarat bahwa tekad dan arah belum pupus dari nurani walau gelap menghadang pandang.

Kini dan di sini,
kami masih ada
dan akan tetap ada,
mengusung suara yang tak tersuarakan.

📌 Minggu, 14 Desember 2025 00:19 🌐

📌 Minggu, 30 November 2025 🌐

Botol Minum

Botol Minum

Saya punya botol minuman yang biasa-biasa saja. Kapasitas 800 ml, warna bening, dan ada label nama isteri saya. Kok begitu? Memang saya pinjam dari isteri saya karena 2 botol sebelumnya pecah akibat jatuh, sementara yang lainnya berukuran kecil ataupun berat (berbahan metal yang cocok untuk kopi).

Botol yang selalu saya bawa, apalagi saat ke luar kota, sudah beberapa kali tertinggal. Masing-masing sekali di Medan, Jagakarsa, Morowali, Sorowako. Namun bisa kembali karena ada kawan yang berkenan dititipi membawakan pulang ataupun diserahkan oleh petugas jaga sebelum saya melanjutkan perjalanan.

Sebagai orang yang awet menggunakan barang (selama masih berfungsi), tentu saja ketinggalan barang akan sangat mengganggu. Hal ini pernah saya alami ketika laptop dan external hard disk berisi banyak data penting tertinggal di hotel Bandung, sehingga subuh-subuh saya harus kembali mengambil padahal tengah malam sebelumnya baru pulang ke Jakarta.

Jadi saya bisa paham mengapa ada orang yang sampai panik ketika barangnya tertinggal di ruang publik yang berpotensi menjadi kehilangan. Entah karena harganya yang sangat mahal, atau fungsinya yang vital, atau karena nilai sentimentalnya, atau karena pinjaman, atau sebab lainnya.

Hanya saja saya belum paham, seberapa berhargakah sebuah tumbler sehingga dianggap setara dengan rusaknya reputasi seseorang maupun instansi bahkan hilangnya mata pencaharian. Sungguh masih misteri.

Jangan-jangan hanya tampilannya yang terlihat sederhana padahal di dalamnya terkandung rahasia negara atau pernak-pernik konspirasi rumit seperti dalam film-film spionase. Mari berprasangka baik ... 😊

📌 Minggu, 30 November 2025 09:36 🌐 Taman Wisata Alam, Pantai Indah Kapuk

📌 Sabtu, 19 Juli 2025 🌐

Pemilihan Ketua Umum 2025

Pemilihan Ketua Umum 2025

— Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IA-ITB)

"Kok mendadak sih? Tiga hari lagi."

"Gak mendadak kok. Malah ini pengunduran dari yang seharusnya bulan lalu."

Informasi ini pun sebenarnya saya tahu karena mengikuti cukup banyak grup percakapan alumni. Jika tidak, kemungkinan besar saya juga akan mendapat pengalaman kemendadakan seperti kawan yang menghubungi saya kemarin.

Dalam keikutsertaan sebagai penggembira di pinggiran beberapa perhelatan tingkat nasional, daerah, serta almamater, kali ini saya tak terimbas gaung kemeriahan kontestasi. Dari ketiga kandidat yang muncul, hanya 1 yang saya kenal. Namun tak satu pun yang saya tahu penawarannya.

"Abang sudah tua," gurau kawan tadi penuh makna.

Saya hanya tertawa sadar diri.

📌 Sabtu, 19 Juli 2025 🌐

📌 Sabtu, 08 Maret 2025 🌐

Rumah Kosmos Sipoholon

Rumah Kosmos Sipoholon

Rumah kosmos

"Jadi bagaimana konsepnya?"

"Simpel aja kok, yang di luar merasuk ke dalam dan yang di dalam memancar ke luar.

Sejenak saya tercenung mencoba memaknai jawaban singkat Jimmy Purba sang arsitek, lalu manggut-manggut seakan paham.

Sejatinya karya arsitektur menjadi aksen penanda dalam bingkai alam tanpa intensi menyabot pesona agung asalinya. Terlebih yang mengusung muatan spiritual sebagaimana rumah dinas Pimpinan HKBP yang menyibak pandang 360° ke seantero gunung, lembah, dan hutan Sipoholon.

Rumah Kosmos

Terbayang ketakjuban menyaksikan momen fajar menguntai birai penghujung malam di sana, kala makrokosmos di luar dan mikrokosmos di dalam beresonansi sempurna seperti saat turunnya firman pertama, "Jadilah terang."

#hkbp #rumah #arsitektur

📌 Sabtu, 8 Maret 2025 20:59 🌐