Saya punya botol minuman (tumbler) yang biasa-biasa saja. Kapasitas 800 ml, warna bening, dan ada label nama isteri saya. Kok begitu? Memang saya pinjam dari isteri saya karena 2 botol sebelumnya pecah akibat jatuh, sementara yang lainnya berukuran kecil ataupun berat (berbahan metal yang cocok untuk kopi).
Botol yang selalu saya bawa, apalagi saat ke luar kota, sudah beberapa kali tertinggal. Masing-masing sekali di Medan, Jagakarsa, Morowali, Sorowako. Namun bisa kembali karena ada kawan yang bisa dititipi membawakan ataupun diserahkan petugas sebelum saya melanjutkan perjalanan.
Sebagai orang yang awet menggunakan barang (selama masih berfungsi), tentu saja ketinggalan barang akan sangat mengganggu. Hal ini pernah saya alami ketika laptop dan external hardisk berisi banyak data penting tertinggal di hotel Bandung, sehingga subuh-subuh harus kembali mengambil padahal malamnya baru pulang ke Jakarta.
Jadi saya bisa paham mengapa ada orang yang sampai panik ketika barangnya tertinggal di ruang publik yang berpotensi menjadi kehilangan. Entah karena harganya yang sangat mahal, atau fungsinya yang vital, atau karena nilai sentimentalnya, atau karena pinjaman, atau sebab lainnya.
Hanya saja saya belum paham, seberapa berharga sebuah 𝘵𝘶𝘮𝘣𝘭𝘦𝘳 sehingga dianggap setara dengan rusaknya reputasi seseorang maupun instansi bahkan hilangnya mata pencaharian. Masih menjadi misteri.
Jangan-jangan hanya tampilannya yang terlihat sederhana padahal di dalamnya mengandung rahasia negara atau pernak-pernik konspirasi rumit seperti dalam film-film spionase. Mari berprasangka baik ... 😊
Taman Wisata Alam, Pantai Indah Kapuk: Minggu, 30 November 2025 09:36 WIB
