Sabtu, 14 Agustus 2021

Script for A Jester's Tears

Kita Harus Bahagia

Sungguh campur-aduk perasaan saya tatkala membaca sekian kisah yang tampil dalam celeng ini. Kagum, sendu, getir, geli, dll hadir silih berganti bahkan kadang tumpang-tindih saat menyimak perjuangan kawan-kawan menembus rintangan masa lalu yang begitu kejam merundung (bully) kekurangan ataupun mengerdilkan eksistensi seseorang.

Sungguh terpesona saya melihat betapa mental baja menyanggupkan kawan-kawan AIGLorins bangkit dan bermetamorfosis secara paripurna; dari itik si buruk rupa menjadi putri yang dikagumi, dari katak buduk menjadi prince charming idola.

Intinya adalah bagaimana menghargai diri sendiri secara tepat, terlepas dari penghakiman orang lain. Dan ternyata kita memang berharga, bahkan tak jarang melampaui dugaan kita sendiri.

Menjelang tutup pintu celeng di Hari Pramuka 14 Agustus ini, tetiba saya teringat pada kejadian yang berlangsung tahun 2019 silam. Ingatan ini muncul karena videonya ditayangkan di acara Gajah Merdeka kemarin. Terus-terang, ini bukanlah sebuah ekspresi self love dan proses kebangkitan yang gemilang dari suatu keterpurukan, melainkan bentuk lain dari rasa cinta yang sama (ini sih memang perasaan saya aja).

----- oo00oo -----

Sedari kecil, saya termasuk orang yang tidak punya nyali untuk tampil di depan publik. Pada dasarnya saya adalah seorang pendiam dan pemalu. Jangankan memberi pidato menggelegar yang memotivasi, bahkan untuk sekadar melucu ringan saja tidak ada keberanian. Konon pula menyanyi (sebenarnya sih karena orang sudah tahu kualitas suara saya yang lebih cocok untuk membubarkan keramaian tinimbang menarik penggemar, itu sebabnya mereka lebih suka menjadikan saya sebagai korlap daripada sebagai vokalis 🤣).

Menyadari kapasitas diri, saya nyaris selalu memilih posisi di belakang panggung. Entah sekadar angkat-angkat kursi, membawakan perlengkapan, menggotong alat musik, bahkan menjaga tas kostum, atau bertepuk-tangan memberi applause.

Satu ketika, kawan-kawan Musicology 83 hendak membuat video dalam rangka Festival Band Alumni ITB tahun 2019. Rencananya mereka akan mulai shooting sejak pagi buta. Berhubung selama ini saya terbiasa jadi tukang angkat barang, maka saya pun berpikir ini adalah kesempatan untuk bersantai sambil menonton kawan-kawan beraksi. Maka sehari sebelumnya saya pun berkabar akan datang esok siang. "Mau nonton," kata saya.

Belum pula tengah hari, beberapa kawan sudah japri menanyakan apakah saya jadi datang. Wah, tumben banget ada artis yang mencari penonton, pikir saya (sekarang jadi teringat pada kasus tutur bahasa manis seorang kawan untuk membawakan tas kuliah saya padahal berencana menceburkan saya ke Kolam Mesin gegara April Mop pertunangan (https://www.facebook.com/groups/alumniitbgarislucu/permalink/1246019102535365/).

Setengah heran campur curiga, saya pun datang ke tempat shooting. Seperti biasa, makanan dan minuman sangat menggoda untuk dinikmati terlebih dulu. Sambil bersantap, saya memperhatikan kawan-kawan berlatih dan beraksi. Serius sekali mereka menyiapkan properti, kostum, bahkan adegan.

Selesai makan, lanjut ngopi-ngopi, merokok-merokok, dan ngobrol di teras. Tiba-tiba sang sutradara video menghampiri saya dan menyapa ramah, "Mas Alof bisa ya nanti membantu sedikit adegan untuk memberi aksen pada klip video."

Sontak saya terperanjat. "Hah?! Bantu bagaimana?"

"Begini... Mas Aa yang harusnya jadi pemeran ternyata tidak bisa datang."

"Lah, terus saya harus ngapain? Saya gak ngerti sama sekali ceritanya seperti apa. Lagu yang akan dinyanyikan pun saya tidak tahu."

"Gampang. Nanti sambil jalan saya briefing. Tapi kalau Mas Alof tidak bisa, ya gak apa-apa."

Saya tengok kawan-kawan Musicology. Ndilalah, pandangan mereka sungguh menimbulkan iba. Kerongkongan saya mendadak tercekat. Kalau sudah begini, saya tidak bisa berkata lain. Entah kenapa saya sangat sukar menolak permintaan tolong dari siapa pun dan dalam soal apapun. Asalkan bukan tindakan kriminal, saya usahakan. Apalagi jika memang demi kebaikan atau kebutuhan orang yang bersangkutan (walau kadang kena dibohongi juga sih 😊).

Lalu, dengan singkat sang sutradara memberikan taklimat (briefing) mengenai karakter yang akan saya perankan. Intinya, saya menjadi tukang recok alias pengganggu para artis yang sedang tampil.

Pikiran saya langsung bergerak cepat. Karena ini video tentang semangat untuk bangkit walau dalam kondisi kurang menyenangkan (kayak masa pandemi sekarang ya), maka kekacauan yang saya perankan tentu tidak boleh merusak jalan cerita melainkan justru memberi warna tambahan yang menguatkan spirit tadi. Solusinya adalah kehebohan yang lucu. Hmm...

"Jadi badut reseh ya?" tanya saya menerka.

Sang sutradara tertawa.

"Baiklah," jawab saya sambil menegarkan hati. Walau ini adalah semacam jebakan betmen, apa boleh buat. Sudah telanjur makan siang, mosok hengkang? 😔

Dengan segera baju warna pink diserahkan pada saya (entah milik siapa, untung ukurannya pas). Dasi kupu-kupu sutra yang tergeletak di atas meja pun saya ambil. Apa lagi? Sekalian ada kacamata segede jengkol berwarna merah. Topi pun saya sambar. Untung saja saat itu tidak ada kipas bulu-bulu layaknya penari Swara Maharddhika 😅

Ketika berganti pakaian, saya menyempatkan diri konsentrasi sejenak (warisan latihan sejak ikut ekskul teater di SMA dan STEMA ITB) untuk meresapkan karakter yang diinginkan.

"Okay. I'm ready," kata saya saat keluar kamar ganti dan disambut kehebohan kawan-kawan yang tidak menyangka saya yang pendiam dan pemalu ini bisa tampil norak.

Mulailah scene demi scene direkam. Setiap sebelum memulai rekaman, sang sutradara memberikan taklimat tentang adegan yang akan berlangsung. Saya diskusikan sebentar tentang apa yang akan saya lakukan, kemudian langsung shooting setelah kami sepakat.

Saya berusaha keras jangan sampai harus mengulang rekaman akibat kesalahan saya. Kasihan kawan-kawan yang sudah berlatih sejak pagi jika harus berlama-lama merekam. Maka, saya berusaha tampil maksimal dengan tubuh yang sok dilentur-lenturkan serta mimik wajah yang dibikin konyol. (Malamnya pulang ke rumah ya terasa pegal-pegal juga.)

Puji Tuhan, hampir semua adegan cukup dilakukan 1 kali 𝘵𝘢𝘬𝘦 saja. Kalaupun diulang, akibat ada pemusik yang agak gagap merespons akting saya sehingga belum pas reaksinya. Maklumlah, kami tidak pernah latihan sebelumnya. Lah, 𝘥𝘳𝘶𝘮𝘮𝘦𝘳 yang sedang semangat menggebug drum mana menyangka akan disela oleh koki pembuat kue 🤣

Akhirnya, jam 17 proses rekaman pun selesai. Lebih cepat daripada perkiraan awal yang memasang angka 21. Adegan terakhir yang rencananya adalah menceburkan saya ke kolam renang, tegas saya tolak mentah-mentah (lho, beneran jadi mengulang kasus Pertunangan Bulan April ya..) Malas aja pulang dengan celana dalam basah kuyup 🙈

Demikianlah kisah seorang badut yang terjebak dalam galaunya rasa tak mampu menolak.

Sebagai barbuk bahwa semua adalah perjuangan tersendiri bagi saya yang pendiam dan pemalu ini, sila mampir ke sini: https://youtu.be/I7RR32KBvLc

Sekalian dong kasih jempolnya ya👍

Haturnuhun pisan 🙏

----- oo00oo -----

Akhirul kalam, perlu saya tegaskan dengan spidol tebal dan stabillo merah, tentu saja peran badut pengacau ini sangat jauh dari karakter saya yang pendiam dan pemalu. Tetapi, demi teman dan semangat l'esprit de corps, saya kudu rela hati berlapang dada. Pan katanya "that's what friends are for".

Terus apa hubungannya dengan self love? Ya beginilah cara yang saya tahu dalam mencintai dan menghargai diri sendiri, yakni dengan berusaha mencintai dan menghargai orang lain sebaik-baiknya, tanpa merisaukan tanggapan mereka kemudian. Urusan merekalah itu. Urusan saya sudah selesai ketika layar adegan diturunkan.

Sedangkan risiko bahwa kekonyolan saya yang bukan artis ini akan diingat dan ditertawakan sepanjang masa, apalagi di era digital yang menyimpan semua secara kekal, ya kudu dipasrahkan. Mau bagaimana lagi toh? Wis kadung..

Aku hanya bisa menyintaimu secara sederhana dengan segala yang kumiliki saat ini, tak bisa kurang dan tak mampu lebih.

I love you 💕 Titik. Habis.

Semoga berkenan. Sumonggo.

* Mengenang Dieke Rosa Ardiana, salah satu personal Musicology'83, yang sudah mendahului kembali ke damai kekal-Nya (12 April 1964 - 24 Juni 2020) 🙏

-- PinAng: Sabtu, 14 Agustus 2021 20:26 WIB