πŸ“Œ Selasa, 20 April 2021 🌐

Gembong Tak Pernah Cerita

Gembong Tak Pernah Cerita

— Sebuah Cerita Pengantar Tidur

Ada pegiat musik di kalangan alumni ITB yang bilang tidak pernah bertemu Gembong di Sekretariat IA-ITB sehingga memutuskan tidak memilih Gembong. Dia mungkin tidak tahu bahwa ketika proposal dana kegiatan musik masuk ke IA-ITB, sementara IA-ITB tidak punya sumberdaya, maka Gembong yang menuntaskannya.

Tapi Gembong tak cerita.

Ada pengurus IA-ITB yang mengatakan Gembong tidak melakukan apa-apa selama jadi Sekjen, sedangkan dia sendiri nyaris tidak pernah kelihatan aktivitasnya. Dia memilih untuk tidak mendukung Gembong.

Di sisi lain, ada pengurus yang sangat aktif dalam berbagai kegiatan IA-ITB yang bercerita bagaimana Gembong memfasilitasi banyak hal sehingga kegiatan IA-ITB berjalan sukses. Dan dia dengan suka hati menyatakan Gembong adalah pilihan terbaik sebagai Ketua Umum IA-ITB berikutnya.

Tapi Gembong tak pernah cerita.

Ada anggota Persatuan Sepakbola IA-ITB (PSIA) yang merasa Gembong tak layak jadi Ketua IA-ITB sambil tidak sungkan merendahkan Gembong

Di sisi lain, ada pengurus aktif PSIA yang mengakui mereka bisa berlatih di lapangan yang layak karena Gembong membantu urusan sewa lapangan. Dia juga tahu persis bagaimana Gembong mengusahakan dana agar tim PSIA bisa tur ke Eropa dan para pemain mendapat subsidi sangat besar.

Gembong pun tak pernah cerita.

Ada kawan lama yang menjadi anggota Steering Committee Kongres X IA-ITB atas rekomendasi Gembong. Karena Gembong tak pernah cerita padanya, dia mengira orang lain yang memasukkannya. Kawan lama ini memilih Caketum lain.

Sayang sekali Gembong tak pernah cerita.

Ada juga seorang kawan lama yang dahulu mengalami kesulitan finansial dan dibantu oleh Gembong. Entah apa sebabnya dia memutuskan menjadi pendukung Caketum lain sambil menebarkan kabar buruk tentang Gembong.

Gembong memilih untuk tidak cerita.

Ketika saya bertanya pada Gembong mengapa tidak bicara, Gembong hanya diam. Dan entah kenapa justru saya merasa teramat luka di dalam.

Kekuranganmu, kawan, engkau terlalu enggan menceritakan perbuatanmu yang tak pernah meninggalkan seorang pun.

Namun saya masih sangat percaya bahwa Tuhan tidak tidur πŸ™

πŸ“Œ Selasa, 20 April 2021 18:49 🌐 Bandung

πŸ“Œ Jumat, 16 April 2021 🌐

Etalase Para Calon Ketua Umum IA-ITB

Etalase Para Calon Ketua Umum IA-ITB 2021-2025

— Pemilihan Ketua Umum Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IA-ITB) 2021

Para calon Ketua Umum Ikatan Alumni ITB (IA-ITB)
periode 2021 - 2025

Masa kampanye Pemilihan Ketua Umum (Pilketum) IA-ITB ibarat sebuah etalase di mana berbagai busana dipajang. Di sinilah para Calon Ketua Umum (Caketum) menampilkan visi-misi dan program kerjanya untuk ditaksir oleh para calon pembeli, yakni sekitar 130.000-an alumni ITB.

Di etalase ini poster, label, tata letak, dan pencahayaan dipadukan dengan cermat guna memukau pada pandangan pertama.

Sebagian orang langsung memutuskan membeli busana tersebut karena terkesan melihat model dan warna yang dianggap keren. Soal kepantasan tampilan, bagaimana nanti sajalah 😊

Sebagian lain berminat mengetahui lebih jauh sehingga masuk ke dalam toko. Di dalamnya ternyata ada catwalk di mana para Caketum tampil langsung sebagai modelnya.

Inilah tahap di mana orang menikmati keserasian sang model dengan produknya. Bentuk badan, gemulai lenggok, bahkan mimik wajah wajiblah suai dengan busananya. Amatlah tak elok melihat model dengan busana kedodoran atau terlalu sempit sampai semua lekuk dan tonjolan diobral tak semestinya 😁

Ada yang terpesona pada kerupawanan sang model sehingga memutuskan membeli busana yang diperagakannya. Seperti pembeli di tahap etalase, kepantasan tampilan mah kumaha engke lah 😊

Meski analoginya tak persis sama dengan peragaan busana, sesungguhnya ini adalah moment of truth bagi sang model. Calon pembeli membandingkan lenggok rekam jejak (track record) Caketum dengan materi kampanyenya. Sejalankah karakter dan kiprah sang Caketum di masa lalu dengan program indah yang dijajakannya? Ataukah semua ini hanya lips service agar dagangannya laku?

Mari kita telisik beberapa rincian (yang kalau semuanya dipaparkan, akan membuat tulisan ini sangat panjang).

Dari yang disampaikan dalam programnya, bisa kita bayangkan betapa ekstrem perombakan organisasi yang dicanangkan oleh beberapa Caketum. Sayangnya, mereka justru tak memiliki pengalaman mengelola organisasi nirlaba semacam IA-ITB. Bahkan menjadi pengurus atau anggota organisasi sejenis pun tidak.

Apa yang diketahuinya tentang dinamika dan persoalan yang dihadapi IA-ITB? Tidakkah dia tahu bahwa IA-ITB sesungguhnya terdiri dari banyak komunitas mandiri (Pengurus Daerah/Pengda, Pengurus Jurusan/Pengjur, dan Pengurus Komisariat/Pengkom) yang rata-rata sudah menemukan eksistensi dan sumberdaya sendiri sesuai minat maupun kemampuan masing-masing?

Apa yang mau dirombak?

Sudah sejak lama saya berpendapat bahwa Ketum IA-ITB sebenarnya tidak perlu berlagak merancang program baru yang kelihatan dahsyat seakan-akan IA-ITB adalah kertas kosong di titik nol. Ketum hanya perlu menjalin berbagai titik potensi tersebut sehingga berintegrasi dan bersinergi guna menghasilkan resultante besar bagi komunitas mandiri tersebut maupun IA-ITB sendiri berikut stake holder secara keseluruhan.

Tokoh besar Steve Jobs menyebutnya sebagai Connecting the Dots/CtD.

***

Ada juga Caketum yang trengginas menyatakan siap mendukung alumni yang tengah berkutat dengan kesulitan pendanaan ataupun jejaring bisnis, namun ternyata tak pernah punya sejarah memberikan solusi.

Kalaupun mau dilakukan, dari mana dananya? Wong biaya operasional IA-ITB per tahun yang mencapai Rp 5M s/d Rp 7M pun diperoleh dengan susah payah melalui donasi ataupun penyelenggaraan acara berbayar. IA-ITB tidak memiliki pendapatan tetap karena tidak punya bisnis. Jadi, jangan membayangkan di laci meja Ketum tersedia banyak gepokan uang atau kartu ATM 😁

Namun, bersyukurnya, ada beberapa Caketum yang sudah sejak lama melakukan hal ini dengan merogoh koceknya sendiri ataupun membuka hubungan dengan alumni lain yang memiliki kelonggaran dana serta gairah (passion) berbagi.

Menindaklanjuti program CtD yang berfungsi menautkan berbagai potensi alumni, dibentuklah mekanisme pemberdayaan, di mana alumni yang kuat mendanai dan mendampingi alumni yang membutuhkan.

Melalui mekanisme yang dinamakan Alumni Finance Alumni/AFA ini, alumni yang masih berjuang membangun bisnis maupun profesionalismenya melalui usaha rintisan (startup), Usaha Mikro - Kecil - Menengah (UMKM), pendanaan projek, maupun sertifikasi profesi pun memiliki peluang untuk berhasil.

Pada gilirannya, ketika mereka sudah membuahkan produk/jasa yang dapat diandalkan, disediakanlah etalase dalam pentas IndonesianIsMe yang mempertemukan pembuat, pembeli, peneliti, dan juga pendana sehingga terjalin kerjasama yang mutualistis.

***

Ada pula Caketum yang dengan bangga mengklaim peduli pada masyarakat, namun ternyata belum pernah punya kiprah melakukan aksi sosial di luar kewajibannya menyalurkan dana CSR perusahaan yang [tentu saja] bukan miliknya.

Namun di masa kampanye, yakni di etalase toko, Caketum tidak merasa sungkan membuat projek dadakan yang sangat disangsikan akan terus berlanjut, baik jika dia berhasil menjadi Ketum apalagi tidak.

Atau, yang paling dekat, adalah masyarakat almamater Kampus Ganesha sendiri, yakni mahasiswa ITB. Ada sekian banyak mahasiswa yang mengalami kesulitan membiayai kuliahnya, yang total tunggakannya berkisar di Rp 2M.

Atas inisiatif Badan Pengelola Usaha dan Dana Lestari (BPUDL) ITB, dibuatlah acara di mana para Caketum yang nota bene adalah figur terbaik (par excellence) dan saripati (crème de la crème) pengejawantahan nilai-nilai kealumnian diminta mengisi pundi-pundi beasiswa sebagai teladan (role model) bagi alumni lain. Ternyata, dari 8 Caketum hanya 5 yang menyatakan kesanggupan membantu.

Terlepas dari berapa nominal yang dijanjikan, pembuktian niat merupakan ujian nyata bagi mereka dalam menerapkan salah satu bentuk kepedulian yang langsung terasa pada masyarakat.

***

Sekitar 2 bulan para alumni ITB disajikan pemandangan bagus di etalase para Caketum dan menikmati lenggok mereka di catwalk. Kini saatnya kita masuk ke ruang ganti untuk mencoba busana yang mereka peragakan.

Di depan cermin kita akan melihat seberapa pantas busana itu pada diri kita. Sebab, sesungguhnya, para Caketum yang menjadi model adalah sosok yang akan menjadi sokoguru dari semua program yang dia kampanyekan dan kita semua adalah titik-titik yang berhimpun dalam organisasi IA-ITB. Bersama-sama, kita semua menjadi kumpulan penuh warna.

Akan datang masanya orang di luar memandang kagum melihat keserasian kita ataupun mencibir geli melihat kejanggalan kita dengan busana pabaliut.

Selamat memilih busana yang pantas.

Demi Tuhan, Bangsa, dan Almamater πŸ™

CtD, AFA, dan IndonesianIsMe adalah program-program yang diusung oleh kandidat #3, Gembong Primadjaja.

πŸ“Œ Jumat, 16 April 2021 18:45 🌐