Pemilihan Ketua Umum Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IA-ITB) 2021
Kepedulian sekian banyak alumni ITB sontak terbangkitkan nyaris serentak ketika muncul keluhan di sana-sini dari sebagian orang tentang sulitnya melakukan pendaftaran ke Daftar Pemilih Tetap (DPT) dalam rangka Pemilihan Ketua Umum Ikatan Alumni ITB (Pilketum IA-ITB).
Beberapa orang bergegas menyatakan database alumni tidak beres ataupun yang secara ekstrem menyatakan database tidak ada. Juga, ada yang serta-merta menyalahkan kandidat/calon Ketum (Caketum) yang kebetulan menjadi pengurus di periode lalu.
Sebelum beranjak lebih jauh, perlu kita sepakati terlebih dahulu bahwa yang dikeluhkan oleh sebagian alumni kita adalah proses VERIFIKASI/VALIDASI alias pencocokan data pendaftar dengan database yang ada. Nyaris tidak ada yang komplain ketika namanya belum tercantum dalam database. Toh mudah saja membuat data baru. Ketak-ketik ketak-ketik sebentar, selesai.
Lantas, bagaimana sih ceritanya soal verifikasi ini?
Sejak menerapkan pemilihan langsung satu orang satu suara (one man/woman one vote), Pilketum IA-ITB dilakukan secara manual dengan mendirikan Tempat Pemungutan Suara (TPS) di berbagai tempat. Pada Pilketum terakhir (2016), berlaku sistem yang memadukan keberadaan TPS dan cara daring (online) guna memfasilitasi alumni yang berada di lokasi tanpa TPS.
Tahun ini, untuk pertamakalinya, Pilketum menggunakan sistem daring 100%. Selain akibat terjadinya pandemi covid-19, juga bermaksud menjangkau sebanyak mungkin alumni ITB yang tersebar di seantero bumi ini. Jika saya tidak salah menyimak, target jumlah pemilih adalah 25.000 orang alumni. CMIIW.
Pilketum yang lalu adalah pembelajaran pertama penggunaan sistem daring. Namanya pengalaman pertama, wajar saja jika dianggap masih rentan dan perlu pembenahan di sana-sini.
Saat itu, ada Tim Sukses (Timses) yang berinisiatif mendaftarkan alumni secara borongan. Anggap saja niat mereka baik. Hanya saja, hal ini membuka peluang masuknya data tak valid. Misalnya, alumni ybs sebenarnya tidak berniat ikut memilih, sudah meninggal, sudah didaftarkan oleh timses lain, dsb.
Belajar dari pengalaman tersebut, para Timses Pilketum 2021 SEPAKAT meminimalkan ketidakvalidan data pemilih dengan cara melakukan verifikasi berlapis. Sungguh bagus! 👍
Selanjutnya, apa data yang akan dijadikan sebagai rujukan verifikasi?
Sudah barang tentu data dari institusi ITB adalah yang paling valid sekaligus solid. [Seharusnya] data alumni pertama hingga orang terakhir yang baru diwisuda kemarin pun tercatat lengkap dalam administrasi ITB.
Pertanyaannya, di manakah data ini dicatat?
Menurut informasi yang saya peroleh, belum semua data didigitalkan, apalagi yang sudah cukup lama. Maklumlah, ITB sudah berusia 100 tahun sedangkan komputer baru dikenal sekitar 50 tahun lalu. Di sisi lain, proses verifikasi akan sepenuhnya dilakukan secara digital.
Jadi bagaimana cara melengkapi data digital yang dibutuhkan?
Dilakukanlah kompilasi data yang dimiliki ITB dengan sumber lain, seperti data pemilih dalam Pilketum terdahulu, data dari komunitas alumni (Pengurus Daerah, Jurusan, Komisariat), serta lainnya yang dianggap kredibel.
Tentu saja tidak mudah mengintegrasikan berbagai data tersebut karena parameternya tidaklah sama. Tak semudah menggabungkan beberapa spreadsheet Excel yang judul, isi, dan format kolomnya sudah sama sehingga bisa langsung disalin-rekat (copy-paste).
Kalau saja semua data memiliki kode unik Nomor Induk Mahasiswa (NIM), tentu saja persoalan menjadi sangat sederhana. Faktanya, ada yang hanya menyantumkan nama + jurusan + tahun masuk, ada yang namanya disingkat, ada yang berbeda ejaan, dan berbagai variasi lainnya. Akibatnya, dalam kompilasi database yang baru ini sangat mungkin terjadi duplikasi data.
Ya sudah, ini pun sudah bagus. Yang penting punya data acuan dulu. Lebih baik data berganda dibanding data hilang.
Pilketum 2021 memunculkan kesempatan untuk merapikan sekitar 120.000 data alumni. Semua data harus disisir sehingga bersifat unik bagi setiap orang.
Bagaimana caranya? Yang termudah adalah dengan bantuan masing-masing alumni memeriksa datanya sendiri.
Tapi sebagian orang sudah lupa NIM-nya. Bagaimana dong solusi membuat data menjadi unik?
Identitas tunggal lain yang paling memungkinkan adalah Nomor Induk Kependudukan (NIK). Itu sebabnya, untuk pertamakalinya, IA-ITB melakukan pemeriksaan silang database alumni dengan data dari Kantor Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil).
Cukup sampai situ? Belum!
Seperti sudah disinggung di atas, perlu dipastikan bahwa setiap calon pemilih haruslah manusia yang masih eksis. Jadi, selain menyantumkan NIK, calon pemilih pun wajib melampirkan swafoto (selfie) yang dengan piranti pengenal wajah (face recognition) akan dibandingkan dengan foto di tanda pengenal (KTP, paspor, dll). Dan untuk membuktikan orang tersebut masih hidup, perlu disertai video gerak + suara selama 6 detik saja.
Canggih kan IA-ITB? 👍😊
Sebagaimana natur kehidupan, kecanggihan menuntut pengorbanan. Dan muncullah sedikit kendala dalam pelaksanaan.
1. Sebagian orang menganggap NIK sebagai data pribadi yang tidak boleh sembarangan dibagikan.
Benar juga sih.
Tapi, pada kenyataannya, data NIK yang tercantum di KTP sudah sering kita buka secara tak sadar. Misalnya saat menukar KTP dengan tanda masuk gedung/kantor, KTP difotokopi saat mengganti kartu GSM atau membuka rekening di bank, nomor KTP tercantum dalam akta perusahaan ataupun perjanjian, dsb.
Kita bisa berkilah bahwa semua itu adalah institusi yang dapat dipercaya. Oke. Apakah dengan keberatan kita ini maka kita sebenarnya sedang meragukan kredibilitas IA-ITB? 🤔 Jangan dong ...
Lebih jauh, sebagian dari kita pasti pernah dikontak oleh penerbit kartu kredit. Walau kita bukan nasabahnya, ternyata mereka tahu nama lengkap kita serta beberapa data lainnya. Bahkan kerapkali kita tidak perlu melengkapi persyaratan dengan menyerahkan KTP, melainkan cukup memberikan persetujuan via telepon.
Lebih tak terkendali, bukan?
2. Alumni yang belum pernah terdata, diwajibkan melampirkan foto ijazah. Sialnya, sebagian alumni sudah lupa entah di mana menyimpannya.
Ini adalah kendala yang perlu dicarikan solusinya oleh Panpel.
3. Ada juga yang mengalami kegagalan dalam hal swafoto maupun video. Sistem menolak hasilnya. Bisa jadi karena pencahayaan kurang baik, atau wajah saat ini cukup berbeda dengan KTP, dll.
Ini bisa menjadi kendala minor ataupun major.
4. Terjadi juga kendala saat mengunggah (upload) data. Ada gawai (gadget) yang lancar memproses, ada yang macet. Sehingga, alih-alih menggunakan gawai, ada yang menyarankan komputer atau laptop. Bahkan, katanya, peramban (browser) yang paling cocok adalah Chrome.
Ini masalah teknis yang menurut saya masih bisa ditanggulangi.
5. Ada yang tidak menerima sandi-sekali-pakai (one time password/OTP) melalui SMS sehingga tidak bisa melakukan aktivasi akun. Hal ini tampaknya banyak dialami oleh alumni yang berada di luar negeri.
Barangkali bisa disiasati dengan mengirimkan OTP melalui email.
6. Proses verifikasi 4 hari, bahkan lebih, untuk diterima/ditolak masuk DPT dianggap terlalu lama.
7. Dll.
Menyikapi berbagai kendala di atas, Panpel maupun beberapa timses berinisiatif membuka pos bantuan (help desk). Menurut kabar, tidak sedikit alumni yang akhirnya berhasil masuk dalam DPT.
***
Saya rasa cukuplah penjelasan mengenai kondisi yang terjadi sekarang.
Menggarisbawahi semua ini, ada hal sangat mendasar yang perlu kita sadari, yakni perbedaan antara DATABASE dengan proses VERIFIKASI/VALIDASI. Anak ITB pastinya paham deh 😊
Memang benar database belum sempurna dan masih perlu dirapikan, tapi bukan berarti kita tidak punya data alumni. Memang benar masih terjadi kendala yang menyebalkan dalam hal verifikasi, namun bukan berarti tak bisa diatasi.
Terlepas dari apapun solusi yang akan diambil, sudah sepantasnya kita menghargai usaha keras Panpel menyiapkan peranti pelaksanaan Pilketum yang canggih dalam waktu singkat. Bisa jadi sistem seperti ini belum pernah ada di Indonesia sehingga kita boleh berbangga menjadi generasi pertama yang membangun dan mengalaminya, selain juga meninggalkan warisan berharga (legacy) yang tak mustahil menjadi patokan proses pencatatan kontestasi di berbagai bidang dan tingkat bahkan hingga level nasional.
Patut pula kita beri apresiasi kepada para Caketum dan Timses yang rela merepotkan diri membuka pos bantuan, yang tidak lain adalah demi suksesnya Pilketum bersejarah 2021 ini.
Pada akhirnya, semua adalah proses pembelajaran bersama yang amat berharga. Mari kita tak berputus-asa jika masih mengalami kendala saat melakukan proses pendaftaran ke DPT. Anak ITB pantang menyerah dong ... 💪😊
Sebagai penutup, tak perlu lagi kita saling menudingkan jari penghakiman satu sama lain. Sejatinya ini adalah kealpaan kita juga karena selama ini tak peduli dan baru gaduh ketika ada Pilketum. Saya sangat percaya bahwa kita amat bisa menuntaskan tantangan ini bersama-sama.
Demikianlah.
📌 Senin, 15 Maret 2021 03:30 🌐


