Rabu, 10 Maret 2021

Siapakah Perempuan?

Hedy Lamarr

Hedy Lamarr

Ada banyak sisi yang bisa dipakai sebagai acuan:

Biologis? Struktur sosial? Keluarga? Bahkan agama.

Sedemikian penting peran perempuan dalam kehidupan sehingga berbagai istilah yang megah pun berasosiasi perempuan/feminin. Ibu Pertiwi, Mother Earth, Motherland, Ibukota, nama-nama topan badai, dsb.

Perempuan secara harafiah adalah gender atau jenis kelamin yang bersifat takdir yang tak dapat ditawar. Namun dalam perkembangan sejarah, gender kerap dijadikan sebagai faktor pembeda derajat. (padahal di dunia serangga justru ratu yang derajatnya paling tinggi sehingga menjadi pusat kehidupan dan pelayanan.)

Kesetaraan Gender adalah Kesetaraan Peluang

Perkembangan masa kini ternyata mensyaratkan kesetaraan gender. Seluruh manusia menjadi setara tanpa melihat gendernya. Inilah yang dulu kita kenal sebagai gerakan emansipasi perempuan.

Hanya saja kesetaraan gender atau emansipasi perempuan kadang jatuh ke dalam 2 ekstrem:

  1. Perang gender (battle of sexes) di mana perempuan bertarung dengan lelaki dengan menggaungkan jargon seperti "woman leads, now is our turn", dsb. Atau,
  2. Belas kasihan pada kaum perempuan dengan memberikan posisi/kuota tertentu dalam beberapa aspek.

Yang seharusnya menjadi perhatian kita adalah membuka kesempatan yang setara sesuai kebutuhan bidang tersebut dan kemampuan masing-masing, terlepas dari kodratnya sebagai lelaki atau perempuan.

Kini banyak perempuan yang menduduki posisi penting di berbagai bidang. Bisnis, pemerintahan, politik, sosial, pendidikan, dsb. Semua itu diraih melalui asesmen yang berlandaskan kesetaraan peluang. Siapa saja berhak mendapat akses sesuai kompetensinya. Dan bukannya tidak mungkin dalam aspek tertentu perempuan memiliki keunggulan dibanding lelaki.

Embracing The Role of Women

Peran perempuan semakin merambah ke berbagai bidang kehidupan. Ini adalah fakta dan tuntutan jaman yang harus disikapi dengan bijaksana sesuai konsep kesetaraan peluang.

Setidaknya ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian:

  • akses ekonomi
  • akses pendidikan
  • akses lapangan kerja/karir
  • akses hukum
  • akses politik

Bahkan ada data yang menyebutkan bahwa lebih dari 90% UMKM digerakkan oleh perempuan.

Inilah kesempatan bagi para perempuan berkiprah tanpa harus mengedepankan jargon "sekarang giliran kami", melainkan secara sungguh-sungguh mengedepankan kekhasan 4B yang tak bisa dipungkiri, Brain - Beauty - Behavior - Brave.

Perempuan bukan hanya pajangan penghias, bukan juga individu yang terjebak dalam konsep domestikasi (canda: dapur, sumur, kasur), bukan juga subordinat dalam konsep patriarki, apalagi sebagai komoditas eksploitasi. Semua perempuan harus berani dan bisa tampil dalam kapasitas terbaiknya.

Perempuan sebagai Dirinya

Bagaimana perempuan bisa berkiprah secara optimal?

Tidak lain dan tidak bukan adalah ketika perempuan berhasil membentuk jatidirinya. Nyaman dengan pribadi apa adanya (termasuk wajah, tubuh, dll yang kadang membuat perempuan minder) maupun kapasitasnya tanpa harus menjadi pengekor.

Ketika 4B hadir dalam dirinya secara otentik, maka seorang perempuan akan sangat berkarakter dan menawan. Charming. Dan semua akses kesetaraan peluang pun terbuka luas baginya.

A charming woman doesn't follow the crowd, she is herself

— Loretta Young

— PinAng: Rabu, 10 Maret 2021