📌 Selasa, 28 Juli 2020 🌐

Pitutur Dayu Levi

Untuk yang belum ikut polling pilih Logo baru Alumni ITB Garis Lucu,
Silakan klik link di comment postingan ini ya....

Saya sudah menentukan pilihan. Tidak mudah memang, karena semua usulan bagus bagus dan semua dibuat oleh teman teman sebangsa dan setanahair FSRD ITB...

Jadi yang dipilih tentunya adalah yang teeeeerbaik dari yang bagus bagus itu... walalupun agak setuju dengan pendapatnya Pujiastuti Sindhu, kenapa nggak kita pake semua aja kan bisa ganti gantian...

Tapi logo adalah identity.. sebaiknya satu, untuk menyatukan semua dalam satu semangat.

Saya memilih hasil karya Arifdani Nugraha, gajah montok, cerdas dan enerjik dengan warna mentereng dan tulisan segede gambreng. Kenapa ? Di bawah ini alasannya.

Sebagai seorang desainer yang sering menjadi konsultan visual di brand development, tentunya urusan merancang dan memilih dan menerapkan logo menjadi makanan saya sehari hari. Dan pilihan saya atas usulan Dantje itu karena :

DINAMIS & FLEKSIBEL

Bukan karena SangGajah sedang menari ballet... tapi logo ini akan sangat bisa tampil dalam berbagai gerak dan posisi.. yang bisa hadir dalam berbagai tata letak untuk beragam kebutuhan. Bayangkan lucunya dia kalo lagi kayang, lagi salto atau sekedar baringan berkhayal tentang Bxxxxx Bxxxx

Walaupun Dantje mengusulkan jingga kemerahan, dan banyak yang setuju untuk oranye aja deh sekalian, tapi gajah jenaka ini pastinya bisa tampil dalam berbagai warna tanpa kehilangan karakter aslinya.

(and I will order it in RAINBOW for sure!!)
(.....ssst bayangkan kalau berwarna biru tua dengan tiga setrip di tangan seperti Txxx Rxxx)

Sebuah logo yang baik, salah satu syaratnya adalah bisa tetap beridentitas dalam kedaan berwarna maupun monokrom, dan karya Dantje ini memenuhi syarat tersebut.

BOLD / TEGAS-LUGAS

Keputusan membuat tulisan AIGL yang berupa handmade dengan ukuran besar, membuat title ini stand out dan speak loud tanpa mengganggu bentuk ikon gajah, malah memberi sebuah penekanan terhadap logo itu sendiri.

Bentuknya yang tebal dan ukuran besar, sederhana namun lugas, sangatlah readable. Nggak perlu memicingkan mata atau zoom in screen untuk melihat apa yang tertulis di sana. Jelas tapi dekoratif dan selaras dengan logo secara keseluruhan.

DETAIL

ITB tentunya identik dengan Gajah dan Ganesha. Dantje memilih untuk mengexplore Ganesha dan dia committed akan keputusannya, maka mengambil resiko untuk menerapkan sebagian besar detail yang ada pada Ganesha. Simbol simbol pada keempat tangannya, gading yang dipatahkan dan celah torehan pada telinga.;

Cukup lengkap untuk sepintas melihat bahwa gajah jenaka ini merepresentasikan Ganesha.

Jadi...
kesimpulannya, walaupun saya memang jatuh cinta pada pandangan pertama untuk Gajah Jingga ini (hadeeehhhh namanya siapa dong baiknya ya).... tapi saya bisa jelaskan alasannya.

Masih ada 2x24 jam untuk memilih atau mengalihkan pilihan agar kita bisa mempunyai logo baru untuk rumah kita bersama.

Bukan begitu, teman teman ?

📌 Sabtu, 18 Juli 2020 🌐

Move On, Pace, Energy

<i>Move On, Pace, Energy</i>

— Tentang Menyintai Diri

Running alone
millionmilelight.com

Bisa saja orang menyebut saya skeptis, bahkan pesimis, jika saya katakan bahwa move on tidaklah semudah mengganti kolor bolong dengan kolor baru kemudian membuangnya ke tempat sampah. Mungkin juga akan ada yang berang jika saya bilang omong kosong. Malah, dengan agak sinis saya katakan bahwa hal itu hanya mudah dilakukan oleh mereka yang tidak sungguh-sungguh merasakan pengalaman tersebut atau tidak serius memperjuangkannya.

Menurut saya, move on juga bukanlah soal melupakan. Melainkan beranjak dari belenggu, entah kemarahan, penyesalan, menyalahkan diri sendiri, kebencian, keterpurukan, putus asa, atau apa pun yang nota bene tidak mengubah apa-apa selain berputar-putar dalam labirin yang sudah kita tahu tak berujung.

Dengan kata lain, move on adalah soal bergerak. Pindah dengan berproses. Benar, kan? Dalam tulisan ini, pendapat ini tentu saja saya anggap benar. Kecuali jika saya mau cekcok dengan diri sendiri siga jelema teu eucreuk 😁

Pertanyaannya, bergerak ke mana sih? Tentu saja ke titik baru. Bisa tingkatan yang lebih tinggi, tahap lebih lanjut, ataupun pijakan awal yang berbeda dari sebelumnya.

Dan kita tiba di sana tentu saja bukan ujug-ujug seperti awak kapal Star Trek berpindah dengan bantuan mesin teleport, melainkan dengan langkah nyata. Satu per satu.

Sampai sini bisa dipahami, kan?

Hanya saja, kemampuan melangkah tiap orang ternyata tidaklah sama. Secara ekstrem, ada yang bisa ngebut, namun ada yang harus beringsut alias ngesot. Analogi dengan Ultramaraton ITB, karena pace setiap pelari berbeda maka waktu yang diperlukan untuk mencapai garis akhir pun akan berbeda. Dan tidak ada yang salah dengan itu.

Kok bisa berbeda?

Ada banyak argumen dan istilah yang bisa kita usung untuk membahas alasannya. Kecerdasan emosi (emotional quotient). Kemampuan adaptasi. Kelembaman/inersia. Resilience. You name it lah. Intinya sih kurang-lebih sami-mawon, yakni penerimaan terhadap kenyataan dan diri.

Bah! Apa pulak ini?

Kalau kita sudah tahu bahwa kenyataannya memang menyakitkan, ya terimalah. Akuilah kenyataan itu. Tidak usah berlagak gagah gak mempan sakit. Tidak ada manusia normal seperti itu. Superman saja bisa terluka dan terkapar kok.

Itu langkah pertama.

Terus, kalau sakit itu sudah diakui, mau bagaimana? Nah, di sinilah berawal rantai proses bergerak alias move on tadi. Ada yang mencoba mencari akar masalah ke luar (eksternal), ada yang ke dalam (internal).

Mana yang lebih bagus? Sama-sama bagus kok jika konteks persoalannya pas. Hanya saja perlu diingat bahwa move on adalah perihal gerak diri kita sendiri yang jelas-jelas berada dalam ruang kendali kita. Jadi, dalam tulisan ini saya akan fokus ke dimensi internal. Urusan eksternal, boleh juga menggunakan berbagai alat bantu root cause analysis.

Penerimaan terhadap diri sendiri merupakan faktor penting setelah menerima kenyataan. Sakit yang sudah kita akui tadi tidak akan sembuh, bahkan hanya akan menjadi borok bernanah, jika kita enggan mengakui bahwa diri kita berharga. Tidak sedikit orang yang menyesali atau menyalahkan dirinya ketika hal menyakitkan terjadi. Atau menganggap dirinya pantas dihukum dengan penderitaan seperti itu. Bagai lingkaran setan, semakin lama orang itu semakin terpuruk dan semakin menderita dalam pusaran yang semakin kelam.

Oke, anggaplah sakit ini sebagai ganjaran atas suatu kesalahan yang kita terlibat di dalamnya. Namun, jika kita menganggap diri kita berharga, maka secara bertanggungjawab kita akan memilih jalan penebusan. Dan sebagaimana lazimnya penebusan yang bisa kita bayangkan, ada proses peluruhan dari unsur pengotor yang membebani langkah. Purifikasi. Purgatory.

Proses peluruhan ini melibatkan energi pelepasan (sedih, ngomel, sindiran, hingga sumpah-serapah) maupun penyerapan (dukungan, penghiburan, kontemplasi) yang tidak kecil. Hamburan debitnya amat besar. Dan, ibarat pembuluh darah, ada yang penyalurannya lancar namun ada juga yang agak tersumbat. Akibatnya, waktu peluruhan pun berbeda. Setiap orang memiliki waktunya sendiri. Inilah pace seseorang dalam move on.

Kalau dipikir-pikir, penerimaan/penghargaan pada diri sendiri ini adalah penyelamat sesungguhnya, penggerak mula yang dahsyat, pembangkit energi abadi, semangat tak kunjung padam. Seperti matahari bagi kehidupan.

Ngantuk euy, padahal masih belum kelar nih. Lanjut nanti ya, kalau sudah bangun dan gak malas melanjutkan tulisan.

Mohon dicatat bahwa ini bukan sebuah janji lho ...

LAGU TEMA:

Mentari (karya Iwan Abdurrahman)

Broer Bram Abraham Pattinama (vokal)
Ito Ujie Pujiastuti Sindhu (flute).

Video ditempelkan tanpa permisi pada kedua artis. Semoga tidak keberatan 🙏

📌 Sabtu, 18 Juli 2020 23:21 🌐