Jumat, 12 Juni 2020

Bali : Barong, Rangda, dan Leyak

Rangda dan Barong
Rangda dan Barong [1]
imgrum.org

Keknya gak sedikit kawan di AIGL yang pernah bersinggungan hidup dengan Bali berikut kesehariannya.

Ada anneke prasyanti dengan kisah seputar pembangunan GWK, Laksmi Palupi dengan kisah behind the scene di pura, Triono Andi Wibowo yang pernah lama di Bali, maupun Ida Ayu Suci Levi yang pastinya dekat sekali dengan napas Bali, atau Anastasia Tisiana yang pernah menari Bali di atas kapal menuju Antartika, bahkan Montes Gultom yang nyaris menceburkan diri di Danau Bratan (untung insyaf bahwa berenang bukanlah salah satu kemahirannya) .. 😊

Dan menurut dugaan saya sih Kang Taruna Adji sang penjelajah maupun Mas Lukas Muliyono sang perambah pasti juga punya cerita asyik tentang Bali.

Bali itu kaya dalam banyak hal. Bukan sekadar beach, sunset, sunrise, pub, apalagi sekadar kuliner dan party. Bahkan keindahan tari maupun karya yang ternikmati kasatmata pun lebih rumit dari yang terlihat. Dalam istilah lain, kaya misteri dan spiritualitas. Sementara spiritualitas itu sendiri seakan merupakan hirupan napas bagi Bali sejak pagi hingga pagi.

Salah satu hal yang sering dikaitkan dengan Bali adalah Barong. Menurut ceritanya, Barong adalah sosok protagonis yang mengalahkan Rangda (Calon Arang) yang digambarkan sebagai perempuan jahat, jelek, ratu para Leyak. Dan Leyak itu sendiri terasosiasi sebagai ikon sisi gelap Bali.

Nah, menariknya, walau dianggap sebagai sosok antagonis, ternyata wajah Rangda ataupun Leyak dengan mata melotot dan lidah terjulur banyak dipakai pada berbagai gambar maupun topeng hiasan/cinderamata. Apakah ada yang luput dari dikotomi biner benar-salah, hitam-putih? Halmana dualitas semacam ini bukan merupakan situasi yang saling meniadakan dalam perspektif spiritualitas. Jangan-jangan malah merupakan syarat keberadaan. Begitukah, Suhu Ombad Badru Salam?

Apakah ini juga merupakan suatu penyingkapan atas misteri yang kian disadari, sehingga belakangan ini muncul versi yang berpihak pada Rangda, yang dipandang sebagai korban dari sistem patriarkhi?

Entahlah.

Rasanya makin seru dan penasaran menyimak tabir di balik tabir. Apapun yang ada di dimensi terakhirnya.

Mungkin ada kawan-kawan yang bisa serta berkenan berbagi kisah tentang Barong, Rangda, Leyak?


Rangda and Barong
Rangda and Barong
Rautenstrauch-Joest-Museum

— PinAng: Jumat, 12 Juni 2020