Dalam Keping Keindonesiaan dan Kesemestaan
Bertutur tentang fenomena terkini dengan cara yang berterima pada khalayak, salah satunya adalah dengan lagu. Ada cukup banyak lagu yang demikian pas bercerita tentang fenomena internal di dalam diri seperti perasaan dan pikiran ataupun fenomena di luar diri seperti peristiwa sosial. Jika pesan yang disampaikan memiliki kekuatan dan kelenturan makna yang mengatasi dimensi ruang-waktu, maka sebuah lagu pun punya potensi untuk menjadi legendaris serta abadi.
Perasaan seperti inilah yang membuat kami terusik saat mencermati situasi negeri masa kini, yang membuat banyak orang gamang antara bersikap atau diam, antara benar atau salah, antara masa lalu atau masa depan, dan sekian dilema lainnya. Jika saja di antara kami ada John Denver atau Bono atau Leo Kristi, sudah barang tentu akan lahir berbagai tembang yang mampu mewakili suasana kebatinan bangsa Indonesia. Sayangnya, kami tidak cukup mumpuni dalam bermusik sehingga, sebagai penanda, kami disebut (atau menyebut diri) sebagai The Non-Skills 😎.
Namun ketidakmumpunian bermusik bukanlah alasan untuk tidak peduli pada situasi kekinian Indonesia. Melalui pencarian terhadap berbagai kekayaan budaya Nusantara, kami menemukan bahwa berbagai situasi yang tengah dialami bangsa dan negara ini sesungguhnya tercermin dalam berbagai tuturan nada yang bertabur melimpah dari Sabang sampai Merauke.
Pemilihan lagu berlangsung dengan sangat cepat dan demokratis. Hanya dalam tempo sepemakanan 2 buah tahu isi plus 3 cabe rawit saja, tersusunlah sebuah desain fragmen yang menggambarkan dinamika Indonesia sebagai Tanah Air nan permai sentosa.
Betapa indah alunan Gambang Suling mengiringi langkah Ibu Pertiwi yang berkawal Merah-Putih. Gemulai sekaligus energik penuh daya hidup. Namun, prahara mulai merebak ketika insan-insan Indonesia yang sejatinya berbudi luhur mulai terasuk nilai-nilai semu seperti hoax yang menjerumuskan mereka ke dalam jurang kelam kekaburan jati diri. Friksi horisontal dengan berbagai pembenaran pun bermunculan, bahkan tak sungkan bertopengkan hal-hal yang seyogyanya santun dan mulia.
Dalam chaos, tidak ada pegangan, tidak ada pedoman. Semua berkutat dengan ego. Satu-satunya cara agar semua selamat dari kehancuran adalah dengan kembali mencintai Ibu Pertiwi serta Merah-Putih yang merupakan naungan identitas paling dasar dari keindonesiaan.
Fajar baru menyingsing, dan mereka bersama-sama merenungkan kembali tentang perjalanan sebagai sebuah bangsa. Ada masa tersadar dan bergegas membangun masa depan gemilang sebagaimana tertuang dalam lagu Lir Ilir, ada masa perbedaan pendapat dan teguh memegang prinsip walau dianggap nyeleneh sebagaimana didendangkan dalam lagu Alusi Au, ada pula masa kelam ketika terluka akibat peperangan sebagaimana dilantunkan dalam lagu Yamko Rambe Yamko.
Inilah perjalanan sebuah negeri. Tak selamanya indah, namun tak semuanya muram. Tergurat di berbagai nyanyian sederhana yang sudah sangat kita kenal sebagai curahan jiwa anak bangsa. Dan ketika nyanyian-nyanyian lokal ini bertaut harmonis dengan lagu universal tentang rasa yang sama, maka tidak ada lagi alasan untuk tidak ikut menyanyikannya sebagai balada perdamaian dan persaudaraan. Seperti wejangan pujangga besar John Lennon dalam lagu Imagine, Brotherhood of man, living life in peace.
Beginilah cara kami, The Non-Skills, berbagi cerita dan perenungan tentang keindonesiaan kita melalui apa yang kami cintai, yakni musik, walau kami bukan ahli musik. Tetapi keterbatasan itu bukanlah masalah. Toh pada akhirnya pertanyaan dasar tentang cinta bukanlah soal keindahan yang bisa kita berikan, namun seberapa besar makna yang bisa kita bagikan justru dari kekurangan kita.
Kami mencintai musik.
Kami mencintai Indonesia.
Kami mencintai semua ciptaan-Nya.Demikianlah.
📌 Kamis, 4 Februari 2016 02:24 🌐
