📌 Minggu, 14 September 2008 🌐

The Godfather

<i>The Godfather</i>

— Mitra Keluarga

Tidak banyak film yang memiliki kekuatan sedemikian hingga mampu memosisikan diri sebagai legenda yang bertahan sampai sekian masa mendatang, melampaui kemampuan bertahan fisik maupun kilau ketenaran para pemerannya. Lebih sedikit lagi film yang karakter tokohnya sedemikian kuat sehingga kerap diasosiasikan secara langsung dengan pemerannya.

The Godfather (1972) besutan sutradara Francis Ford Coppola yang diangkat dari novel karya Mario Puzo adalah salah satu contoh terbaik (meski ada sigi yang menyatakan bahwa film ini adalah legenda nomor dua setelah Citizen Kane). Dalam hal ini, Marlon Brando adalah sang Godfather. Sehingga, meski sudah memiliki generasi penerus, tak seorang pun yang sanggup menggeser karisma Brando yang memerani Don Vito Corleone. Tidak Robert de Niro (Vito Corleone muda), tidak Al Pacino (Michael Corleone), tidak pula Andy Garcia (Vincent Mancini, yang diharapkan menjadi suksesor Michael Corleone). Padahal, mereka semua adalah aktor-aktor besar, bukan aktor kacangan ataupun pendatang baru. Godfather tetap saja dipandang identik dengan Brando dan demikian pula sebaliknya.

Sebenarnya bukan soal film yang hendak saya bicarakan saat ini, melainkan soal istilah Godfather. Bagi kalangan mafia, Godfather adalah sosok bapak dan tuan yang punya kuasa memberi jaminan perlindungan dan pemeliharaan dalam segala hal bagi seseorang yang menyerahkan diri, menyatakan kesetiaan penuh, dan taat mutlak kepada sang penguasa. Hal ini terus berlaku selama orang itu tidak melanggar sumpahnya dan tidak menciderai hubungan kekeluargaan kelompok tersebut. Ibarat Faust dalam novel Goethe yang menjalin transaksi dengan Mephisto sang Iblis, perjanjian dengan sang penguasa dan keluarga besar mafia tersebut pun akan terus mengikat hingga putus napas.

Orang yang masuk dan diterima oleh keluarga mafia memiliki kewajiban berbakti pada keluarga mafia tanpa banyak hitungan. Semua yang diperintahkan atasannya, apalagi jika sang pemimpin sendiri yang menyampaikannya, dipandang sebagai kewajiban yang tidak boleh dipertanyakan apalagi ditolak. Di sisi lain, sang pemimpin wajib memfasilitasi kebutuhan hidup orang tersebut berikut keluarganya. Dalam hal ini, selain yang berurusan dengan persoalan ekonomi, juga perlindungan dari berbagai ancaman hukum maupun fisik.

Begitulah kontrak idealnya. Tetapi, pada kenyataannya, ada saja anggota yang berkhianat maupun pemimpin yang tidak menganggap anggotanya lebih berharga dibanding kepentingan sang pemimpin ataupun keluarga walau orang itu tidak melanggar perjanjian 😞

Bisa jadi akibat kesuksesan film tersebut maka istilah Godfather jadi melekat pada dan langsung diasosiasikan dengan pemimpin mafia di Amerika (yang acapkali disamakan begitu saja dengan gangster). Sementara, sewaktu kecil dan belum mengenal yang disebut mafia, saya menyangka bahwa Godfather adalah sebutan untuk Allah Bapa berdasarkan penerjemahan secara literal.

Padahal, istilah tersebut bukan diinisiasi oleh para mafiosi, melainkan diadopsi dari lingkup Gereja Katolik Roma, yakni sebutan yang diberikan kepada orang yang menjadi Bapa Baptis (Bapa Serani) seseorang yang menerima baptisan. Penggunaan istilah ini oleh kalangan mafia bisa dimaklumi jika kita menilik latarbelakang agama mereka yang bercikal-bakal dari Italia (lebih tepatnya lagi: kawasan Sisilia).

Baptis bagi umat Katolik [dan Kristen pada umumnya] merupakan inisiasi memasuki keluarga Allah dan terikat perjanjian kekal dengan-Nya. Memang mirip dengan masuknya seseorang ke dalam lingkaran keluarga mafia, yang penyerahan diri dan sumpah setianya menjadi tanda "pembaptisan" yang dimeteraikan dengan mencium cincin sang Don (mirip dengan umat Katolik yang mencium cincin Uskup atau Paus 😉

Dalam prosesi Sakramen Baptis di Katolik --khususnya yang dilayankan pada anak kecil-- orangtua sang anak tidak menjalaninya sendirian, melainkan didampingi pasangan suami-istri yang bertindak sebagai Orangtua Baptis (Godparent: Godfather dan Godmother) bagi sang anak (disebut Godchild, Godson atau Goddaughter). Keberadaan dan status mereka dicatat secara resmi dalam surat baptis yang diterbitkan oleh gereja.

Saya yakin ada peran khusus bagi mereka yang dipandang penting oleh gereja. Kalau tidak, untuk apa repot-repot membuat skenario semacam itu? Menurut penjelasan Bapak saya, sejatinya mereka akan berperan sebagai orangtua juga bagi sang anak, yang mendampingi orangtua kandungnya dalam banyak hal, bukan hanya dalam hal-hal yang bersifat kerohanian melainkan juga hingga ke masalah kebutuhan fisikalnya. Persis seperti orangtua kandung, kecuali dalam hal-hal yang benar-benar menjadi urusan dan kewenangan khusus keluarga asli. Maka, Bapak saya menyatakan adalah keterlaluan jika Orangtua Baptis tidak ingat tanggal lahir Anak Baptisnya.

Pendeknya, Orangtua Baptis berkewajiban memantau dan mengikuti perkembangan sang anak serta terlibat sebagai mitra orangtua kandung dalam membekali seorang manusia baru memasuki dunianya sendiri. Secara sepintas terlihat bahwa hal ini memberikan banyak dukungan positif bagi semua pihak apabila masing-masing pelaku menjalankan perannya sesuai dengan proporsinya.

Pengandaian itulah yang sempat melintas di benak saya tatkala menghadiri prosesi pembaptisan anak teman Riris di GKI Kebayoran Baru pagi tadi. Dua anaknya dibaptis berbarengan. Dan yang membawa mereka maju ke altar hanyalah ibunya saja sebab ayah mereka sudah meninggal beberapa bulan yang lalu akibat kanker. Ketika kami memberikan selamat di pintu keluar gereja, sang ibu nyaris tidak bisa membendung airmata karena terkenang pada almarhum suaminya yang tidak ada di sisinya pada momen bersejarah tersebut.

Mengapa saya harus berandai-andai? Apakah tanpa Orangtua Baptis maka sang ibu tidak akan mampu menjaga dan memelihara anak-anaknya? Tidak. Sama sekali tidak! Bukan itu maksud saya. Ada banyak bukti nyata bahwa orangtua tunggal tidaklah identik dengan ketidakmampuan mengurus anak dan keluarga. Sebaliknya, tidak sedikit anak-anak dari keluarga semacam itu yang malah berhasil dalam hidupnya.

Namun, di sisi lain, merupakan sebuah kewajaran jika seorang manusia memerlukan orang lain yang bersedia diajak bicara tentang hal-hal yang sangat pribadi dan peka, yang tidak perlu diketahui orang lain. Itu sebabnya anak-anak muda umumnya memiliki sobat untuk curhat, suami memiliki istri dan sebaliknya, yang pada dasarnya memiliki kepentingan yang sama terhadap persoalan yang dibahas atau memiliki saling ketergantungan satu terhadap yang lain.

Tetapi, kepada siapakah seorang orangtua tunggal pergi mengadu? Apalagi jika mereka dihadapkan pada keterbatasan waktu, pengetahuan, kemampuan, biaya, dan sebagainya. Terlebih-lebih jika keterbatasan-keterbatasan tersebut justru merupakan faktor yang turut mewarnai persoalan yang timbul antara sang orangtua dengan anaknya.

Kepada teman atau sahabat? Bisa saja. Sayangnya, mereka pada umumnya tidak memiliki panggilan moral untuk selalu siap menopang beban hati. Paling banter, ngobrol sesekali ataupun membantu tanpa harus terlibat secara pribadi. Bagaimana dengan kakek-nenek sang anak? Selain berbeda "dunia" dan "bahasa", mereka pun acapkali kurang bisa mengambil jarak objektif terhadap persoalan yang berlangsung antara anaknya dengan cucunya. Akibatnya, malah sering memperuncing masalah.

Bagaimana dengan Pastor atau Pendeta? Wah, susah, karena mereka tidak jarang bersikap normatif dan menggurui [bahkan menghakimi], bukannya sebagai kawan. Kepada anggota jemaat lain? Walah! Bisa-bisa menimbulkan masalah baru karena menjadi bahan pergunjingan. Apalagi mereka semua tidak mengetahui secara cukup rinci proses yang berlangsung.

Kepada Tuhan? Sudahlah pasti. Hanya saja, manusia kerapkali merasa butuh sosok yang tampak secara visual dan bisa memberikan tanggapan secara langsung.

Lalu, siapa orang yang secara etis dianggap layak mengemban tanggung jawab menjaga kerahasiaan keluarga seraya membantu menjernihkan serta menyelesaikan persoalan yang sangat pribadi semacam itu? Siapa yang mau bersukarela menempatkan diri di posisi orangtua sebagaimana layaknya orangtua asli?

Peran itulah yang seyogianya dilakoni oleh para Orangtua Baptis, demikian Bapak saya kerap menyampaikan pandangannya saat beliau masih cukup sehat untuk menunaikan kewajibannya selaku seorang Prodiakon. Hanya saja saya sangsi ada cukup banyak orang yang sungguh-sungguh melakoni peran tersebut sebagaimana diidealkan Bapak (dan hal ini pun diakui beliau), kecuali mereka yang juga memiliki hubungan kekeluargaan secara nyata. Tetapi, hubungan keluarga pun ternyata bukanlah sebuah jaminan. Di dunia nyata ini, tidak sedikit keluarga yang tidak terpelihara kekerabatannya. Jangan kata diminta untuk ikut berbagi beban.

Saya pun kurang yakin bahwa mereka yang secara legal-formal-gerejani telah tercatat sebagai Orangtua Baptis tersebut sebenarnya cukup memahami makna peran yang diembannya. Ada berapa banyak Orangtua Baptis yang benar-benar bisa menempatkan diri sebagai bagian dari keluarga Anak Baptisnya berikut tanggungjawab yang disandangnya? Faktanya, saya sendiri tidak pernah diberi penjelasan oleh pihak gereja ketika menjadi Orangtua Baptis bagi keponakan saya, apalagi dimintai konfirmasi mengenai kesanggupan menjadi Orangtua Baptis. Hanya penjelasan dari Bapak sayalah yang jadi pegangan saya. Itu pun saya diskusikan terlebih dahulu dengan kedua orangtua si anak.

Saya khawatir, jangan-jangan malah tidak ada orang yang mau menjadi Orangtua Baptis jika kepadanya disampaikan "beban berat" yang akan dipikulnya. Walhasil, menurut pandangan saya, peran tersebut di masa kini cenderung menjadi sebuah formalitas belaka, yang tidak bermakna apa-apa seusai prosesi pembaptisan.

Membandingkan Godfather kaum mafia dengan Godfather pembaptisan di Katolik, tampaknya kalangan mafioso sudah lebih berhasil menerjemahkan posisi Godfather bagi sang anak ke dalam perilaku nyata. Meskipun relasi yang terbangun antara kedua belah pihak jadi berlebihan, yakni kesetiaan mutlak kepada kekuasaan tak terbatas sang pemimpin terhadap seluruh hidup dan mati sang anak, ikatan dan pengejawantahannya dalam kehidupan merupakan sesuatu yang amat nyata tinimbang sekedar prosesi dan pencatatan di selembar kertas akta baptis.

Saya tidak tahu apakah pernah terpikirkan tentang pendudukan kembali peran Godparent dalam sebuah keluarga Katolik. Entahlah. Itu urusan yang jauh dari kemampuan saya untuk menggelutinya. Yang jelas, saya masih terus bertanya-tanya tentang siapa orang yang akan mengambil peran sebagai Godparent (tanpa harus diformalkan) bagi kedua anak teman Riris yang masih demikian panjang perjalanannya ke masa depan. Tentu saja tanpa mereduksi bahkan menihilkan posisi orangtua kandung sang anak sebagai Godparent yang sesungguhnya, sebagaimana de Niro maupun Pacino maupun Garcia yang tidak akan bisa menggeser kedudukan Brando.

Terutama pada saat dunia ini tampak demikian tidak bersahabat, betapa melegakan memiliki orang yang bersedia berdiri di samping kita.

📌 Minggu, 14 September 2008 15:27 🌐

📌 Kamis, 11 September 2008 🌐

Tujuh Tahun yang Lalu

Tujuh Tahun yang Lalu

— Macapat Kelabu Satu Bangsa

Sun Shines in New York
askquestions911.com

1st Plane Approaching
jimrlong.com

2nd Plane Approaching

2nd Plane Approaching
911research.wtc7.net

Twin Towers on Fire

Twin Towers on Fire
britannica.com

Smoke in The Sky

Smoke in The Sky
gallupindependent.com

Collapse

Collapse
debunk911myths.org

Survivor

Survivor
shieldofblue.com

Shattered Dreams, Broken Lives

Shattered Dreams, Broken Lives
illinoisphoto.com

New York Firemen

New York Heroes
arlingtoncemetery.net

911 Angel

911 Angel
packrat-pro.com

Aftermath

Aftermath
wikimedia.org

Nation Hand in Hand

Nation Hand in Hand
coronanorco.com

Healing Field

Healing Field
gothamist.com

Ground Zero — Tribute in Light

Ground Zero

911hotline.com

Ground Zero

af.mil

nymag.com

Ground Zero

911hotline.com

Never Forget

Never Forget
fireandrescuedecals

— Kamis, 9 September 2008 23:57 WIB ??

📌 Sabtu, 06 September 2008 🌐

Bianglala Kehidupan

Bianglala Kehidupan

— Merentang Busur Asa dan Juang Tanpa Putus

Rare Rainbow (Idaho, June 19, 2006)
nationalgeographic.com

Entah kenapa, sepekan ini saya berulangkali memutar lagu Somewhere over The Rainbow, persis kelakuan orang sedang kasmaran yang tidak jemu mendendangkan lagu cinta yang sama sampai-sampai orang lain naik pitam karena bosan 😞 Padahal saya tidak sedang mengalami mood tertentu yang ada hubungannya dengan pelangi, konon pula dengan rasa kasmaran.

Sudah agak lama saya ingin tahu siapa yang menyanyikan lagu yang terdengar sederhana. Apalagi penyajiannya hanya diiringi kocokan khas pada ukulele, sebuah alat musik yang boleh dibilang sama sekali tidak elit dan prestisius bagi para pesohor musik. Benar-benar lagu yang sederhana.

Beberapa kali saya mendengar lagu itu digunakan sebagai musik ilustrasi film. Yang masih saya ingat adalah 50 First Dates yang diperani oleh Adam Sandler dan Drew Barrymore (tentu saja bersama sobat kental Sandler, Rob Schneider) serta Meet Joe Blackyang dibintangi Brad Pitt dan Anthony Hopkins. Juga sebuah film lain yang saya lupa judul dan ceritanya 😞, hanya ingat adegan akhirnya dimana kamera yang berada di ketinggian angkasa menyorot sang tokoh yang berdiri di puncak sebuah bukit.

Karena film-film itu bicara tentang nilai indah harapan dan perjuangan serta penghargaan terhadap kehidupan, terlepas dari tragedi apa pun yang mengiringi dan menggerogoti, tentu sangat menarik untuk mengetahui mengapa lagu sederhana itu dipilih. Namun kali ini saya tidak hendak bicara tentang film-film tersebut walau ada sesuatu yang sangat dalam yang bisa diulas. Lain kali saja.

Satu ketika, Riris membuat sebuah demo iklan untuk media TV yang dihiasi lagu tersebut. Kontan rasa penasaran saya jadi makin tergugah. Sayangnya, Riris tidak bisa memberikan informasi banyak tentang lagu tersebut. Bodohnya pula saya saat itu tidak segera bertanya pada Mr. Google yang mahasakti dalam soal informasi 😞. Walhasil, rasa ingin tahu itu tetap tinggal sebagai kerikil samar-samar dalam hati selama sekian lama.

Beberapa hari yang lalu, sewaktu mengunggah (upload) lagu-lagu ke internet, saya teringat pada lagu yang menurut saya cukup ajaib itu. Kali ini, tanpa menunda-nunda lagi, saya langsung takzim menghadap Mr. Google. Dalam hitungan kurang dari 1 detik, ribuan informasi segera membanjiri layar komputer. Dari sana, saya singgah ke perpustakaan WikiPedia untuk mencari informasi lebih dalam, serta menyambangi situs YouTube untuk mendapatkan efek visual. Dan tentu saja tidak lupa memasukkan lagu tersebut ke dalam daftar lagu untuk blog ini 😞

Israel "Iz" Ka'ano'i Kamakawiwo'ole
iz.honoluluadvertiser.com

Baru saya tahu bahwa lagu itu dipopulerkan oleh seorang "raksasa" dari Hawaii bernama Israel Ka'ano'i Kamakawiwo'ole yang akrab disapa Iz. Kisah hidupnya cukup menarik. Selain menjadi seniman yang tekun memopulerkan musik khas Hawaii, Iz juga adalah seorang pejuang yang gigih menyerukan kebebasan dan hak-hak orang Hawaii.

Demikian besar determinasi dan upayanya, sehingga pada akhir hayatnya dia menjadi orang ketiga (tetapi rakyat biasa pertama) yang jenasahnya mendapat penghormatan disemayamkan di gedung pusat pemerintahan Honolulu. Bendera Hawaii pun dikibarkan setengah tiang pada hari pemakamannya. (Jadi ingat Bob Marley yang juga sering dianggap sebagai pahlawan orang Jamaika.) Selain raksasa dalam ukuran badan, ternyata Iz juga adalah seorang raksasa dalam musik serta perjuangan kesetaraan hak-hak sipil orang Hawaii.

Tentang lagu itu sendiri; secara mengagumkan Iz menyisipkan syair lagu "What a Wonderful World" gubahan Louis Armstrong Jr. di tengah-tengah syair lagunya. Lagu Armstrong yang berjiwa jazz/blues tersebut masuk dengan mulus dan cantik ke dalam irama hawaiian yang menjadi karakter lagu Iz. Lagu yang kemudian kerap dijuduli Somewhere over The Rainbow/What a Wonderful World itu pun populer ke seantero dunia. Bahkan hingga saat ini, setelah kematian Iz sekitar satu dekade lalu. Selain dinyanyikan banyak orang dan penyanyi sohor dari berbagai genre musik, juga menjadi lagu latar berbagai film dan iklan di berbagai negara.

Digital Rainbow
digitalrevolutions.biz

Sekarang soal pelangi. Sejatinya, tidak satu pun dari kita --kecuali saudara-saudara yang tunanetra ataupun butawarna-- asing pada pelangi serta keindahannya. Memang pelangi hanyalah sebuah fenomena optik yang bisa dijelaskan secara masuk akal oleh ilmu fisika sehingga tidak dianggap sebagai mukjizat. Namun, sekian masa yang lampau, pelangi dipandang sebagai tanda yang dilambari sifat keilahian. Bahkan menjadi meterai perjanjian damai antara Tuhan dan manusia melalui Nuh, demikian Alkitab bertutur perihal fenomena indah alam yang saat itu belum terjelaskan ilmu pengetahuan.

Maka bisa dipahami mengapa pelangi hampir selalu dikaitkan dengan kebaikan. Malahan dalam dongeng kanak-kanak, sering digambarkan sebagai busur rejeki yang di kakinya tergeletak seguci emas ataupun sepeti harta karun. Pada intinya, nyaris tidak ada metafora yang menggunakan pelangi untuk keburukan. Paling banter netral-netral saja sebagai kias keragaman ataupun dinamika asam-garam kehidupan.

Pelangi adalah simbol keindahan-tiada-tara dunia ini. Segala sesuatu demikian indah dalam harmoni bak sebuah simfoni agung. Maka, rasa haru saya cukup tergetar saat melihat klip video yang lagunya dilantunkan suara kanak-kanak Aselin Debison (silakan klik ini ataupun ini).

Sialnya, bukan klip video manis tersebut yang pertamakali saya temukan dan buka di situs YouTube 😞, melainkan video ilustrasi di bawah ini.

Entah siapa yang membuatnya, namun dengan jitu memparodikan 180° seluruh syair tentang keindahan yang semula nikmat didendangkan. Dan naasnya, justru itulah kenyataan dunia saat ini! Walhasil, lagu yang semula membuat saya penasaran itu kini malah membuat saya terjerembab dalam renung kesesakan. Benarkah dunia ini demikian indah tiada tara? Ataukah semua itu hanya dongeng pengantar tidur kanak-kanak?

Dan ketika menyimak liriknya, saya terpukau pada frasa pendek yang disodorkan Iz di akhir syairnya. Begitu singkat sehingga tidak menonjol, bahkan seperti sambil lalu. Namun, entah kenapa, saya merasa, justru pada frasa pendek itulah terkristalkan jiwa lagu tersebut.

Adalah sebuah gugatan besar yang mendasar tatkala seseorang mempertanyakan kenyataan tidak diijinkan memasuki berbagai hal indah dan menyenangkan yang berani [dan boleh] diimpikan orang lain. Seluruh keindahan yang kerap dikisahkan orang lain tinggal sebagai dongeng yang bahkan terlarang untuk dimimpikan, konon pula dinyatakan. Sebagian orang seakan berhadapan dengan dinding cadas yang membatasinya dari kebebasan dan keutuhan manusia yang asasi. Dalam hal ini saya bisa memahami maknanya dalam kaitan perjuangan Iz bagi hak-hak orang-orang asli Hawaii yang terbedakan dengan orang kulit putih.

Gugatan semacam itu membuat saya resah tatkala merefleksikannya ke dalam kehidupan di sini dan kini.

Saya percaya bahwa sesungguhnya dunia dan kehidupan ini amatlah indah. Penuh warna bagai pelangi, yang dalam lagu kanak-kanak dinyatakan sebagai ciptaan Tuhan. (Bukankah dunia dan hidup ini memang ciptaan Tuhan?) Pelangi adalah gambaran keragaman berbagai hal yang kita hadapi setiap saat dalam kehidupan. Kita bisa saja melihat sesuatu yang sama, tetapi belum tentu kita membaca makna dan memiliki rasa yang sama tentangnya. Demikianlah halnya semua kenyataan yang berlintasan di hadapan kita. Amat berwarna dan seharusnya amat menggairahkan. Bahkan setiap orang pun berhak memiliki pelanginya sendiri, tempat dia menyisipkan harapan dan mimpi-mimpi.

Sayangnya, kerapkali kita sulit menerima keberadaan orang lain yang memiliki "warna" berbeda dengan yang kita gemari. Entah bagaimana caranya menikmati keindahan pelangi yang hanya terdiri dari satu warna. Dan entah warna mana pula yang pantas dihadirkan. Setiap orang akan bertikai mempertahankan kubu masing-masing.

Pelangi kehidupan memang tidak seindah pelangi alam. Tidak musti selalu berwarna cerah semarak. Begitulah galibnya kehidupan. Namun, pelangi kehidupan ini acap berlumur lumpur hitam yang bukannya tidak jarang kita sendiri yang melaburkannya atau --lebih celaka-- dilakukan satu orang terhadap lain orang. Tak perlu kita sangkal kenyataan tentang sebagian orang yang --entah dengan cara bagaimana-- punya kuasa menentukan, menodai, atau bahkan merebut pelangi orang lain. Di sisi lain, tidak sedikit orang lain yang sudah tidak tahu lagi bagaimana menghayati pelangi kehidupannya yang sudah tergadaikan oleh belenggu keseharian. Di antara keduanya terentang ketegangan tak terdamaikan yang mungkin belum akan berakhir hingga hayat berpamitan pada raga.

Seandainya saja setiap orang mau berpadan diri dalam harmoni bagai nada-nada yang terangkai dalam sebuah lagu, niscaya semua akan menjadi pelangi yang anggun mewarnai kehidupan. Betapa indah dunia ini jika berjuta pelangi saling bertaut menyumbangkan keindahan masing-masing.

Pelangi memang belum menjadi tanda perdamaian dan kebaikan yang dijanjikan bagi seluruh insan. Namun kehidupan terus berjalan tanpa henti, tak jemu menantang orang-orang untuk tidak pernah menyerah hingga mencapai kaki pelangi. Di baliknyalah barangkali akan ditemukan keindahan sejati, bukannya kesemuan penuh gincu demi mematut penampilan dan kenikmatan tamak. Barangkali di sanalah bisa disua kedamaian dalam kesahajaan yang tidak canggih, tatkala setiap orang sedia berbagi dengan sesamanya, sehingga tak ada lagi orang yang masih harus berjuang menggugat hak-hak asasinya, termasuk untuk bermimpi.

Di sanalah mungkin Iz kini berada, bernyanyi riang dengan ukulelenya. Entah pula jika hal itu berarti telah terpenuhinya janji perdamaian antara Tuhan dengannya, sehingga pelanginya bukan lagi sekedar sebuah busur cahaya yang dipendarkan kristal air sebagai sebuah fenomena fisika biasa semata, bukan pula sebuah angan yang terbelenggu. Somewhere over the rainbow, dreams really do come true.

Sekarang saya bisa menarik hikmah dari parodi video ilustrasi tersebut tentang kenyataan dunia yang amat bertolakbelakang dengan keindahan di balik pelangi. Kendati demikian, bagi saya, lagu legendaris karya Israel Ka'ano'i Kamakawiwo'ole itu adalah sebuah himne bagi orang-orang yang terbedakan namun tidak pernah terkalahkan. Itu sebabnya secara intuitif saya langsung menyukainya sejak awal 😎

📌 Sabtu, 6 September 2008 02:27 🌐