Kolase dari beberapa tulisan saya di beberapa mailing list sekitar medio
September 2003.
Entah disadari atau tidak, pertanyaan-pertanyaan di atas memiliki tautan
benang merah yang bermuara pada "gugatan" terhadap keberadaan Adam dan
Hawa sebagai satu-satunya pasangan manusia ketika bumi ini bermula
(diciptakan Tuhan). Dan secara tidak kentara, pertanyaan-pertanyaan itu
pun akan menggiring kita ke persoalan yang lebih gaduh, yakni pertarungan
panjang [namun saya yakini tidak akan abadi] antara
teori evolusi (yang dianggap sebagai sangkur ilmu pengetahuan)
dengan doktrin kreasi (yang dianggap sebagai perisai iman).
Sayangnya, hingga kini belum ada satu pun bukti ilmiah yang mampu memberi
sokongan kuat bagi keyakinan kaum kreasionis yang menyatakan bahwa seluruh
umat manusia yang ada hingga sekarang di bumi ini adalah keturunan
Adam-Hawa kecuali kisah yang dituturkan guru Sekolah Minggu pada
kanak-kanak ??. Sebaliknya dengan teori evolusi yang kian hari kian
bertambah bukti pendukungnya.
Diskusi semacam ini dapat dikatakan sudah menjadi menu klasik alias selalu
berulang di berbagai milis, yang intinya sama saja:
iman versus akal-budi (ilmu pengetahuan).
Sebelum memasuki padang pertarungan penuh onak dan jerat tersebut, ada
baiknya jika kita terlebih dahulu memperbandingkan informasi yang ada
perihal masa keberadaan mahluk yang disebut manusia di bumi ini.
Dengan demikian, keberadaan manusia di bumi sejak Adam sampai dengan
lahirnya Abram/Abraham menurut Alkitab adalah 1.946 tahun.
Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham.
- Abraham memperanakkan Ishak,
- Ishak memperanakkan Yakub,
- Yakub memperanakkan Yehuda dan saudara-saudaranya,
- Yehuda memperanakkan Peres dan Zerah dari Tamar,
- Peres memperanakkan Hezron,
- Hezron memperanakkan Ram,
- Ram memperanakkan Aminadab,
- Aminadab memperanakkan Nahason,
- Nahason memperanakkan Salmon,
- Salmon memperanakkan Boas dari Rahab,
- Boas memperanakkan Obed dari Rut,
- Obed memperanakkan Isai,
- Isai memperanakkan raja Daud.
- Daud memperanakkan Salomo dari isteri Uria,
- Salomo memperanakkan Rehabeam,
- Rehabeam memperanakkan Abia,
- Abia memperanakkan Asa,
- Asa memperanakkan Yosafat,
- Yosafat memperanakkan Yoram,
- Yoram memperanakkan Uzia,
- Uzia memperanakkan Yotam,
- Yotam memperanakkan Ahas,
- Ahas memperanakkan Hizkia,
- Hizkia memperanakkan Manasye,
- Manasye memperanakkan Amon,
- Amon memperanakkan Yosia,
-
Yosia memperanakkan Yekhonya dan saudara-saudaranya pada waktu
pembuangan ke Babel.
- Sesudah pembuangan ke Babel, Yekhonya memperanakkan Sealtiel,
- Sealtiel memperanakkan Zerubabel,
- Zerubabel memperanakkan Abihud,
- Abihud memperanakkan Elyakim,
- Elyakim memperanakkan Azor,
- Azor memperanakkan Zadok,
- Zadok memperanakkan Akhim,
- Akhim memperanakkan Eliud,
- Eliud memperanakkan Eleazar,
- Eleazar memperanakkan Matan,
- Matan memperanakkan Yakub,
-
Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang
disebut Kristus.
Jadi seluruhnya ada: empat belas keturunan dari Abraham sampai Daud,
empat belas keturunan dari Daud sampai pembuangan ke Babel, dan empat
belas keturunan dari pembuangan ke Babel sampai Kristus.
Dengan demikian terdapat 42 generasi dari Abraham hingga Yesus. (Jangan
tanya saya saat ini mengapa angka di atas bukan 14 + 14 + 14 melainkan
13 + 14 + 12 ??.)
Menggunakan umur rata-rata manusia ketika memperanakkan generasi
berikutnya, kita bisa memperkirakan jumlah totalnya. Agar tidak
tanggung-tanggung, kita gunakan saja pengandaian yang sangat ekstrim
bahwa seorang manusia baru memperanakkan generasi berikutnya pada akhir
hayatnya, yakni usia 120 tahun (bdk. Kejadian 6:3). Maka, jarak yang
terbentang dari Abraham hingga Yesus adalah 42 x 120 tahun =
5.040 tahun.
Ditambah dengan masa keberadaan manusia sejak Adam hingga lahirnya
Abraham, jumlahnya menjadi 5.040 + 1.946 = 6.986 tahun.
Dengan memberi kelonggaran toleransi yang cukup ugal-ugalan hingga 30%,
kita peroleh angka 6.986 x 1,3 = 9.081,8 tahun.
Ditambah jarak antara tahun kelahiran Yesus (diasumsikan pada tahun 0
yang imajiner itu!) terhadap saat ini, maka keberadaan manusia di bumi
adalah 9.081,8 + 2.003 = 11.084,8 tahun.
Agar tidak memboroskan memori otak, kita bulatkan saja angka tersebut
secara moderat ke atas menjadi 12.000 tahun. Pembulatan yang
sudah sangat longgar tersebut rasanya cukup adil untuk mengabaikan
selisih 6 hari yang terentang antara saat penciptaan bumi dengan saat
penciptaan manusia. Dengan demikian, angka 12.000 tahun tersebut dapat
kita perlakukan sebagai umur bumi juga.
Ada cukup banyak variasi angka yang diajukan perihal umur bumi. Misalnya
Ussher [4004], Yahudi [3760], Septuaginta [5270], Josephus [5555],
Kepler [3993], Melanchton [3964], Martin Luther [3961], Lightfoot
[3960], Hales [5402], Playfair [4008], Lipman [3916], dan lain-lain.
(The Genesis Record, H.M. Morris, halaman 45, Baker Book House, Grand
Rapids, Michigan, U.S.A., 1990).
# Ilmu Pengetahuan
Di sisi lain, temuan arkeologi-paleontologi tentang fosil-fosil manusia
purba dan tahun kehadirannya di bumi yang saya sadur dari tulisan Zhao
Yun pada tanggal 4 Mei 2000 di milis
proletar@yahoogroups.com
memberikan informasi sebagai berikut:
- Ardipithecus Ramidus (± 4,4 juta tahun)
- Australopithecus Anamensis (± 3,9 juta tahun)
- Australopithecus Afarensis (± 3 juta tahun)
- Australopithecus Africanus (± 2 juta tahun)
- Australopithecus Garhi (± 2,5 juta tahun)
- Australopithecus Aethiopus (± 2,3 juta tahun)
- Australopithecus Robustus (± 2 s/d 1,5 juta tahun)
- Australopithecus Boisei (± 2 s/d 1,1 juta tahun)
-
Homo Habilis (handy man, sudah mengenal peralatan, ± 2 s/d
1,5 juta tahun)
- Homo Erectus (± 1,8 juta tahun s/d 300.000 tahun)
- Homo Sapiens (± 500.000 tahun)
- Homo Sapiens Neandherthalis (± 230.000 s/d 30.000 tahun)
- Homo Sapiens Sapiens (manusia modern, ± 120.000 tahun)
"Loncatan" besar pertama terjadi pada Homo Habilis dengan munculnya
hominid yang mampu menggunakan peralatan. Diperkirakan Homo
Habilis ini adalah kelanjutan dari genus Australopithecan karena
banyak kesamaan antara keduanya.
"Loncatan" kedua terjadi pada Homo Erectus. Diperkirakan Homo Erectus
ini sudah menggunakan api dan peralatan sederhana yang terbuat dari
batu. Penyebaran situs penemuan menunjukkan bahwa semua Homo Habilis
dan Australopithecan ditemukan di benua Afrika, tetapi Homo Erectus
ditemukan di seluruh dunia (dari Jawa, Afrika, Peking sampai Eropa).
"Loncatan" ketiga terjadi pada Homo Sapiens Sapiens (manusia modern).
Penyelidikan pada kultur Cro-Magnon yang termasuk manusia
modern menunjukkan bahwa spesies ini bisa berbahasa dan punya
kebudayaan civilization cukup tinggi (lukisan, ukiran, bahkan
musik sederhana).
Studi perbandingan temuan-temuan fosil pada masa Paleolitikum (±
30.000 tahun) dan Mesolitikum (± 10.000 tahun) menunjukkan bahwa
bentuk wajah, dagu, dan susunan geligi mengalami perubahan yang makin
"modern" pada fosil yang makin muda. Ini menunjukkan adanya perubahan
diet makanan dan kondisi alamiah yang makin ber-"budaya".
Studi persamaan gen menunjukkan bahwa Australopithecus Robustus,
Australopithecus Boisei dan Australopithecus Aethiopicus
bukanlah nenek moyang manusia modern. Artinya mereka adalah
spesies yang berbeda dari garis nenek moyang manusia modern.
Homo Neandherthalis juga bukanlah nenek moyang manusia modern.
Studi perbandingan genetik menunjukkan bahwa manusia Neandherthal ini
mempunyai struktur DNA yang berbeda dari manusia modern.
Teori terbaru tentang penyebaran manusia modern adalah
Out of Africa yang menduga bahwa Homo Sapiens Sapiens ini
berkembang di Afrika dan menyebar ke seluruh dunia serta mendesak Homo
Neandherthalis yang sudah lebih dahulu bermukim di Eropa hingga punah.
Anda bisa klik di
http://www.sciam.com/1999/0899issue/0899infocus.html
jika tertarik pada analisis terbaru tentang teori ini.
Sedang apakah ada "perkawinan" silang antara Homo Sapiens Sapiens
(Cro-Magnon) dengan manusia Neandherthal, masih merupakan debat yang
belum konklusif.
Ringkasnya, ilmu pengetahuan mengajukan temuan fosil Ardipithecus
Ramidus sebagai manusia tertua yang pernah/sudah ditemukan yang sudah
hadir di bumi ini sekitar 4,4 juta tahun yang lalu. Dan fosil manusia
modern yang dinamakan Homo Sapiens Sapiens berasal dari masa sekitar
120.000 tahun yang lalu. Hal ini berarti bahwa umur bumi jauh
lebih tua lagi.
2. Narasi Alkitab
Kini, mari kita simak Alkitab yang menjadi pemicu munculnya dua
pertanyaan yang mengawali topik bahasan ini.
Alkitab menuturkan bahwa Adam-Hawa adalah sepasang manusia pertama di
dunia, yang diciptakan Tuhan di Taman Eden. Akibat melanggar larangan
Tuhan, mereka diusir keluar dari Taman Eden ke dunia luas. Mereka
kemudian memiliki anak: Kain dan Habel. Karena Kain membunuh Habel, maka
Tuhan menghukum Kain dengan mengusirnya dari tanah tempat Adam-Hawa
bermukim di luar Taman Eden.
Amatlah menarik membaca fragmen Alkitab yang mengisahkan protes Kain
atas hukuman yang dijatuhkan Tuhan:
Kata Kain kepada TUHAN: "Hukumanku itu lebih besar dari pada yang
dapat kutanggung. Engkau menghalau aku sekarang dari tanah ini dan aku
akan tersembunyi dari hadapan-Mu, seorang pelarian dan pengembara di
bumi; maka barangsiapa yang akan bertemu dengan aku, tentulah akan
membunuh aku."
Firman TUHAN kepadanya: "Sekali-kali tidak! Barangsiapa yang membunuh
Kain akan dibalaskan kepadanya tujuh kali lipat." Kemudian TUHAN
menaruh tanda pada Kain, supaya ia jangan dibunuh oleh barangsiapapun
yang bertemu dengan dia.
Lalu Kain pergi dari hadapan TUHAN dan ia menetap di tanah Nod, di
sebelah timur Eden.
Kejadian 4:13-16
# Calon Pembunuh Kain
Dari ayat-ayat di atas, terbaca jelas bahwa Kain khawatir dibunuh oleh
orang lain yang akan ditemuinya dalam pengembaraan setelah
meninggalkan kawasan kediaman Adam-Hawa di luar Taman Eden. Siapakah
orang lain yang ditakutinya? Tentunya bukan Adam-Hawa. Lalu siapa?
Berbasiskan asumsi bahwa manusia ciptaan Tuhan hanyalah Adam-Hawa, maka
orang yang ditakuti Kain tersebut sudahlah pasti keluarga kandungnya
sendiri, baik yang dilahirkan dari Adam-Hawa (yakni Set dan
adik-adiknya) ataupun keturunan mereka.
Jika orang itu adalah saudara kandung Kain, maka kisah di atas tidaklah
memberikan pemahaman yang melegakan, karena kita akan dihadapkan pada
beberapa persoalan.
-
Set dan adik-adiknya lahir setelah Kain sekian lama pergi. Bagaimana
Kain bisa tahu pada saat itu bahwa Adam-Hawa akan memiliki anak lagi?
Hal ini patut kita cermati, karena bukan Tuhan yang memberitahu Kain
mengenai masa depan, melainkan Kainlah yang pertamakali menengarai
keberadaan orang tersebut pada waktu itu. Dalam hal ini, Kain
mengkhawatirkan ancaman tersebut akan terjadi sejak awal
pengembaraannya, bukan pada masa yang akan datang yang entah
kapan setelah Set dan adik-adiknya lahir.
-
Jika orang itu adalah saudara kandung Kain, kemungkinan besar dia
tinggal bersama-sama Adam-Hawa, bukan akan bertemu Kain di perjalanan.
Mengapa dia harus keluar dari tanah tempat Adam-Hawa bermukim?
-
Sebagai anak Adam-Hawa, tentulah orang itu mengetahui bahwa Kain
adalah saudara kandungnya sendiri. Lalu, mengapa Tuhan memandang perlu
memberi tanda khusus pada kening Kain yang menimbulkan kesan bahwa
orang itu sama sekali tidak mengenal Kain? Kain, Set, dan adik-adiknya
yang lain pastilah amat bodoh sehingga dalam pikiran mereka tidak
pernah terbersit gagasan bahwa manusia lain selain dirinya pastilah
saudaranya sekandung dari Adam-Hawa, bapak-ibu mereka.
(Jika Adam-Hawa tidak pernah bercerita tentang Kain-Habel maupun
kedudukan mereka sebagai satu-satunya manusia ciptaan Tuhan,
darimanakah datangnya narasi Adam-Hawa dan keturunannya sebagaimana
tercantum dalam Alkitab?)
-
Kalaupun Adam-Hawa tidak pernah bercerita mengenai Kain-Habel pada Set
dan adik-adiknya, tidaklah berlebihan jika kita mengasumsikan Kain
mengetahui bahwa manusia yang lain pastilah saudara kandungnya
sendiri. Tetapi, anehnya, Kain menyebutnya sebagai "orang lain
yang ditemuinya di perjalanan" yang menyiratkan keasingan.
Walhasil, cukup sukar untuk menerima kemungkinan bahwa orang yang
dimaksud adalah saudara kandung Kain. Kesulitan yang sama juga berlaku
bagi para keturunan Set dan saudara-saudaranya.
Dengan memperhatikan secara seksama kata-kata Kain ("barangsiapa
yang bertemu dengan aku") dan sabda Tuhan ("barangsiapa
yang membunuh Kain"), mencuat isyarat penunjukan pada
siapa pun manusia yang belum teridentifikasi secara pribadi. Jika
saat itu hanya ada Adam-Hawa-Kain setelah Habel mati, mengapa Kain dan
Tuhan menunjuk pada sosok yang tidak/belum dikenal namun dianggap sudah
eksis sebelum Kain menetap di Nod?
Tanpa kegegapgempitaan, hal ini merupakan sebuah tanda kecil tentang
sudah adanya manusia lain selain keluarga Adam-Hawa.
# Istri Kain
Pada ayat selanjutnya dari kisah Kain dalam Alkitab tercantum:
Kain bersetubuh dengan isterinya dan mengandunglah perempuan itu, lalu
melahirkan Henokh; kemudian Kain mendirikan suatu kota dan dinamainya
kota itu Henokh, menurut nama anaknya.
Kejadian 4:17
Siapakah perempuan yang dikawini Kain saat menetap di tanah Nod setelah
diusir dari kediaman Adam-Hawa? Jika manusia yang ada saat itu hanyalah
Adam-Hawa dan keturunannya saja, maka hanya merekalah kemungkinannya.
Jika Kain mengawini saudara perempuannya sekandung dari Adam-Hawa secara
incest, maka kita akan dihadapkan pada beberapa argumentasi
bantahan sebagai berikut:
-
Saat diusir dari tanah kediaman Adam-Hawa, Kain tidak memiliki saudara
lain. Set baru lahir saat Adam berusia 130 tahun, entah berapa tahun
setelah Kain pergi ke tanah Nod. Entah kapan pula anak-anak perempuan
Adam-Hawa dilahirkan. Bahkan, bukannya tidak mungkin mereka dilahirkan
setelah Kain mati 😞.
-
Jika dirunut berdasarkan urutan ayatnya (yang berarti membaca Alkitab
secara harafiah sebagaimana lazim dilakukan oleh kaum
kreasionis-literalis!), maka perkawinan Kain dengan seorang perempuan
tersebut sudah lebih dulu terjadi dibanding lahirnya Set maupun
anak-anak perempuan Adam lainnya.
-
Tidak ada petunjuk dalam Alkitab yang memberi gambaran tentang
anak-anak perempuan Adam-Hawa maupun keturunannya yang lain yang
menyusul Kain dan kemudian dikawini oleh Kain setelah kepergiannya
dari kediaman Adam-Hawa.
Mungkinkah Kain mengawini anak perempuan Set alias mengawini
keponakannya sendiri yang lahir entah berapa puluh atau ratus tahun
setelah Kain? Jika memang demikian, patut disangsikan bahwa keturunan
Adam-Hawa tidak mengenal Kain. Otomatis, langsung gugur pulalah peluang
mereka sebagai calon pembunuh Kain. Amatlah janggal (dan sekaligus
merendahkan kecerdasan ?? ) jika kita beranggapan bahwa mereka tidak
mengenali paman sekaligus ipar mereka sendiri, konon pula membunuhnya.
Agaknya, tidaklah terlalu berlebihan jika kita mengandaikan sudah ada
manusia lain selain keluarga Adam-Hawa-Kain.
# Lawan Lamekh
Lebih lanjut lagi, Alkitab bertutur:
Bagi Henokh lahirlah Irad, dan Irad itu memperanakkan Mehuyael dan
Mehuyael memperanakkan Metusael, dan Metusael memperanakkan Lamekh.
Lamekh mengambil isteri dua orang; yang satu namanya Ada, yang lain
Zila.
Ada itu melahirkan Yabal; dialah yang menjadi bapa orang yang diam
dalam kemah dan memelihara ternak. Nama adiknya ialah Yubal; dialah
yang menjadi bapa semua orang yang memainkan kecapi dan suling.
Zila juga melahirkan anak, yakni Tubal-Kain, bapa semua tukang tembaga
dan tukang besi. Adik perempuan Tubal-Kain ialah Naama.
Berkatalah Lamekh kepada kedua isterinya itu: "Ada dan Zila,
dengarkanlah suaraku: hai isteri-isteri Lamekh, pasanglah telingamu
kepada perkataanku ini: Aku telah membunuh seorang laki-laki karena ia
melukai aku, membunuh seorang muda karena ia memukul aku sampai
bengkak; sebab jika Kain harus dibalaskan tujuh kali lipat, maka
Lamekh tujuh puluh tujuh kali lipat.
Kejadian 4:18-24
Siapa pulakah seorang laki-laki muda yang dibunuh oleh Lamekh? Apakah
kerabatnya sendiri? Jika benar demikian, mengapa Lamekh tidak memberikan
gambaran yang cukup jelas, bahkan mengesankan bahwa orang itu sama
sekali tidak dikenal? Ataukah orang itu sama sekali tidak ada hubungan
darah dengan Lamekh?
Menurut hemat saya, bukanlah merupakan sebuah kejumawaan jika kita
mencoba mengisi "lubang" yang disisakan oleh Alkitab dengan kemungkinan
telah adanya manusia [jenis] lain selain yang berasal dari jalur
Adam-Hawa-Kain. Dengan membuka diri terhadap kemungkinan-kemungkinan
tersebut, tampaknya pertanyaan awal tentang "orang yang ditakuti Kain
akan membunuhnya jika bertemu" maupun "istri Kain" mulai menemukan titik
terangnya.
Namun persoalan masih jauh dari selesai 😞.
Waiting
source unknown
Berbagai pertanyaan, paparan, dan kemungkinan yang terlontar sepanjang
pembahasan ini kerap menjadi bayang-bayang horor yang menempatkan iman
dan akal-budi di sisi yang berbeda, bahkan bertentangan secara
diametral.
Bagaimanakah pertanggungjawaban iman kita terhadap kebenaran yang
disodorkan ilmu pengetahuan? Bagaimana menyikapi 2 hal yang
[kelihatannya] bertentangan seperti itu sementara berlaku pemeo "truth cannot contradict with truth"? Mana yang harus kita genggam? Atau, lebih lanjut lagi, bagaimana
menyikapi keduanya tanpa harus menjadikan diri kita mendua?
Karena saya tidak memosisikan Alkitab sebagai buku panduan ilmiah
sekaligus beranggapan bahwa iman tidaklah harus bertentangan dengan ilmu
pengetahuan, maka saya patut mempertimbangkan kebenaran yang diajukan
oleh bukti ilmiah. Oleh sebab itu saya harus mencari "ruang" yang
disisakan oleh Alkitab bagi ilmu pengetahuan.
3. Spesies Manusia
Secara genetika, tentunya Adam-Hawa termasuk Homo Sapiens Sapiens juga
seperti kita. Karena usia keberadaan manusia di bumi menurut Alkitab
secara literal tidaklah lebih dari 12.000 tahun, maka terbentanglah
kesenjangan waktu terhadap ilmu pengetahuan sebesar 120.000 - 12.000 =
108.000 tahun. Bukan jarak yang sangat kecil sehingga dapat
diabaikan!
Dari kesenjangan waktu itu, timbul pertanyaan:
-
Fosil Homo Sapiens Sapiens siapakah yang muncul di bumi sekitar
108.000 tahun sebelum Adam itu?
-
Apakah manusia-manusia [purba] selain Homo Sapiens Sapiens itu tidak
dapat dikategorikan sebagai manusia juga? Apakah mereka dianggap
sebagai binatang? Kalau begitu, binatang macam apakah yang cukup
tinggi inteligensia dan citarasanya sehingga ada di antara mereka yang
sudah mengenal peralatan dan peradaban sebagaimana layaknya manusia?
Untuk sementara ini, kita tinggalkan saja dulu pertanyaan nomor 1 untuk
dibahas dalam kesempatan lain ??.
Hasil uji DNA dan perbandingan fosil menunjukkan bahwa jalur geneaologi
manusia bukan berupa garis lurus (tunggal, linier) melainkan
bercabang-cabang. Dalam hal ini, manusia yang lebih purba (lebih dulu
eksis) belum tentu merupakan nenek moyang manusia pada masa berikutnya.
Demikian pula manusia yang hidup pada jaman yang sama (misalnya Homo
Sapiens Neanderthalis dan Homo Sapiens Sapiens yang sama-sama masuk
kelompok "manusia modern") tidaklah menunjukkan bahwa mereka sejenis.
Lalu, siapakah nenek moyang manusia lain yang tidak termasuk golongan
Homo Sapiens Sapiens itu? Siapakah yang menciptakan mereka?
Dengan mempertimbangkan pendakuan Alkitab bahwa seluruh alam semesta ini
tanpa kecuali adalah ciptaan Tuhan, tentulah mereka pun merupakan
ciptaan-Nya.
Jadi, siapakah manusia pertama di bumi ini?
Mengacu pada berbagai hal yang sudah dibahas sebelumnya, maka tindakan
paling masuk akal bagi persoalan ini adalah menerima kenyataan tentang
sudah adanya manusia lain (bahkan jenis lain!) yang hidup di luar
kawasan Taman Eden maupun tempat bermukim keluarga Adam-Hawa setelah
diusir dari Taman Eden.
Jika diasumsikan bahwa Adam-Hawa-Kain adalah spesies tertentu hasil
ciptaan Tuhan di Eden, maka bisa diasumsikan juga bahwa manusia di luar
kawasan itu adalah spesies manusia lain (entah Neanderthal, Cro-Magnon,
atau yang lain) yang salah satunya akhirnya kawin dengan Kain [maupun
yang dibunuh oleh Lamekh].
Pertanyaannya: Mungkinkah terjadi persilangan semacam itu?
Walaupun masih menjadi diskursus yang belum konklusif di kalangan
ilmiawan, hal itu ternyata bukanlah sebuah kemustahilan. Artikel di
bawah ini menguatkan dugaan mengenai kemungkinan pernah terjadinya
persilangan manusia modern Homo Sapiens Sapiens dengan Homo Neanderthal.
September 23, 2003
Jawbone Hints at Europe's Earliest Modern Humans
Scientists have uncovered yet another tiny piece of the puzzle of our
origins. Findings published online this week by the Proceedings of the
National Academy of Sciences describe a lower jawbone that they say is
the earliest evidence of anatomically modern humans in Europe.
Three Romanian spelunkers recovered the mandible in February 2002 at a
site in the southwestern Carpathian Mountains known as Pestera cu
Oase, or the "Cave with Bones." The cave also housed other fossils
including a facial skeleton, a temporal bone and a partial braincase
that are currently undergoing examination. Radiocarbon analysis dates
the jawbone to between 34,000 and 36,000 years ago, report Erik
Trinkaus of Washington University and his colleagues.
"The jawbone is the oldest directly dated modern human fossil,"
Trinkaus remarks. "Taken together, the material is the first that
securely documents what modern humans looked like when they spread
into Europe. Although we call them 'modern humans,' they were not
fully modern in the sense that we think of living people."
According to the researchers, the jawbone provides perspective on the
emergence of anatomically modern humans in the northwestern Old World,
which is a far from simple story. The two most prominent theories are
the Out of Africa model, which states that Homo sapiens arose in
Africa between 150,000 and 200,000 years ago and went on to replace
archaic hominids such as the Neandertals, and the multiregional
evolution model, which holds that modern humans instead emerged from
these archaic populations across the Old World.
The newly characterized jawbone has many features in common with
remains of other early modern humans found at sites in Africa, the
Middle East and later European locales, but the large face size
inferred from the jaw also hints at the retention of some archaic
characteristics. Notes Trinkaus, "the specimens suggest that there
have been clear changes in human anatomy since then."
In 1999, Trinkaus and his colleagues reported on the discovery of a
25,000-year-old skeleton from Portugal said to share a mix of
Neandertal and modern characteristics. The Pestera cu Oase finds, he
adds, "are also fully compatible with the blending of modern human and
Neandertal populations."
Sarah Graham
http://www.sciam.com/article.cfm?articleID=000DAD6B-8816-1E5E-A98A809EC5880105
Hasil penelitian ilmiah tersebut kian mengokohkan kemungkinan adanya
manusia-manusia lain di luar Taman Eden yang [semula] menjadi tempat
mukim Adam-Hawa. Merekalah yang (1) ditakuti Kain akan membunuhnya, (2)
diperistri oleh Kain, maupun (3) dibunuh oleh Lamekh. Dengan demikian,
terjawablah pertanyaan nomor 2 di atas, bahwa mereka pun pantas disebut
manusia. Dus, Adam-Hawa bukanlah satu-satunya pasangan manusia yang
diciptakan oleh Tuhan, dan juga bukan yang pertama ??.
Berdasarkan paparan di atas, saya berpendapat bahwa Alkitab sendiri
tidak menutup, bahkan menyodorkan, peluang terhadap kemungkinan
tersebut. Dan saya pun yakin bahwa Alkitab akan terus memberikan
pengetahuan baru yang menjadikan kita lebih rasional dalam beriman.
Hanya saja, kita kerap tidak/belum siap menghadapinya. Padahal
pengetahuan baru itu tidak membuat iman kita jadi kacau-balau, melainkan
mendekonstruksi belenggu doktrin-doktrin kekanak-kanakan yang menjadikan
kita robot-robot tanpa pengertian.
Lalu, bagaimana menyikapi kisah penciptaan alam semesta dan manusia
sebagaimana dituturkan dalam Alkitab?
Kita bahas lain waktu ??.
4. Iman vs Akal-budi atau Tafsir Alkitab vs Ilmu Pengetahuan?
Kian banyak diskusi yang saya ikuti, kian terkristal pula keyakinan saya
bahwa pemahaman Alkitab secara literal perlu dikembalikan pada Alkitab
dalam bentuk pengkajian kritis. Diskusi-diskusi tersebut justru menuntun
saya menemukan pencerahan bahwa Alkitab terbuka pada berbagai pembuktian
ilmiah yang [menurut sebagian orang] dianggap bertentangan dengan
Alkitab. Lebih jauh lagi, Alkitab tidaklah menampik (untuk tidak
menggunakan kata "mendukung") paham evolusi yang ditopang oleh berbagai
pembuktian ilmiah.
Tuhan meminta kita mengasihi-Nya juga dengan
segenap akal-budi selain dengan hati, jiwa, dan kekuatan (bdk.
Lukas 10:27). Itulah yang seharusnya kita lakukan, bukannya menganiaya
akal-budi pemberian Tuhan dengan mengimani serta mengamini secara
membabi-buta doktrin-doktrin irrasional. Apalagi jika itu hanya
bersandar pada dongeng yang dituturkan di Sekolah Minggu yang
disampaikan seturut tingkat penalaran kanak-kanak 😞.
Namun, hingga kini, kebanyakan gereja [tentu saja] masih enggan
mengajarkan hal-hal yang [dianggap] dapat "mengusik" kepercayaan para
anggota jemaatnya bahwa Tuhan adalah pencipta manusia, dengan Adam-Hawa
sebagai manusia ciptaan-Nya yang pertama. Bisa bubar gereja jika anggota
jemaatnya mulai menyangsikan keabsahan Alkitab tentang penciptaan ??.
Pemikiran semacam ini akan lebih mustahil disampaikan ke hadapan jemaat
jika gereja tersebut (termasuk doktrin, pendeta, teolog, dan sebagainya)
merupakan pendukung aliran kreasionisme.
Sikap pemegang otoritas gereja tentunya bisa dimaklumi jika dikaitkan
dengan kedewasaan dan kesiapan iman para anggota jemaatnya. Jemaat yang
masih muda dan rentan imannya tentu akan mudah terkacaukan jika
diperhadapkan pada pernyataan yang [seakan-akan] bertentangan dengan apa
yang tertera dalam Alkitab. Untuk itulah kita perlu mendewasakan iman
kita dan sesama agar siap menerima sodoran data, fakta, dan argumentasi
ilmiah sebagai suatu kenyataan tanpa harus merongrong iman.
Walau demikian, tidak semua gereja gentar berhadap-hadapan dengan
ketajaman sangkur ilmiah. Paus Yohanes Paulus II melalui pernyataan
tertulis dalam sidang Akademi Ilmu Pengetahuan Kepausan pada tanggal 23
Oktober 1996 di Vatikan menyatakan bahwa Gereja Katolik Roma tidak
menafikan teori evolusi bahkan mengakui bahwa teori itu lebih dari
sekedar teori serta tidak bertentangan dengan iman Kristen.
Sejatinya iman dan akal-budi bukanlah dua seteru yang memaklumkan perang
abadi sebagaimana pernyataan Martin Luther bahwa "reason is the enemy of faith" melainkan sebagai mitra setia yang saling bersekutu guna menghayati
kekuasaan dan kemuliaan Tuhan dalam ketakjuban khusyuk tak terkatakan.
Dan hal itu memang bukanlah pekerjaan yang mudah, melainkan pergumulan
pedih nan kunjung usai namun sekaligus menggairahkan sebagaimana
layaknya sebuah misteri.
Fides quaerens intellectum. Iman mencari/menantang pengetahuan.
Anselmus
Kitab Suci dan dunia alami (kodrati) sama-sama keluar dari Firman
ilahi, yang pertama sebagai yang dititahkan oleh Roh Kudus, yang kedua
sebagai pelaksana sangat setia perintah-perintah Allah.
Galileo Galileii, "Surat pada Romo Benedetto Castelli", 21
Desember 1613
Iman kepercayaan dan akal budi menyerupai dua sayap yang menjadi
sarana roh manusia naik untuk mengkontemplasikan kebenaran; dan Allah
telah menaruhkan dalam hati manusia keinginan untuk mengetahui
kebenaran pendek kata, untuk mengetahui diri-Nya supaya,
dengan mengetahui dan mencintai Allah, manusia pria dan wanita juga
dapat mencapai kepenuhan dan kebenaran tentang diri mereka sendiri
(lih. Keluaran 33:18; Mazmur 27:8-9; 63:2-3; Yohanes 14:8; 1Yohanes
3:2).
Paus Yohanes Paulus II, "Fides et Ratio", Roma, 14 September
1998
Pada akhirnya, Fides et ratio. Iman DAN akal-budi.
📌 Jumat, 12 September 2003 02:46 🌐
[revisi: Selasa, 19 Agustus 2008 06:07]